Anda di halaman 1dari 10

Konsep Apendisitis

1. Triharyanti
2. Witna Hastiti
3. Rita Dian Ratnasari
4. Puri Indah Lestari
5. Farakh Sabila A
6. Louby Ahadiyat R
7. Ika Putri R
Denisi Apendisitis

• Apendisitis adalah peradangan apendiks ( sisa apeks sekum, yang


tidak memiliki fungsi ) yang mengenai semua lapisan dinding
organ. Apendisitis adalah penyakit bedah yang paling sering
ditemukan dan lebih sering terjadi pada remaja dan dewasa
muda. Gejala yang paling awal adalah nyeri paraumbilikalis yang
terletak pada kuadrat kanan bawah abdomen. ( price,2003 ).
Klasifikasi apendisitis

1. Gejala apendisitis akut ialah nyeri samar dan tumpul yang


merupakan nyeri viseral didaerah epigastrium disekitar
umbilikus. Keluhan ini sering disertai mual, muntah dan
umumnya nafsu makan menurun. Dalam beberapa jam nyeri akan
berpindah ke titik Mc.Burney. Nyeri dirasakan lebih tajam dan
lebih jelas letaknya sehingga merupakan nyeri somatik setempat.
2. Apendisitis kronik Diagnosis apendisitis kronik baru dapat
ditegakkan jika ditemukan adanya riwayat nyeri perut kanan
bawah lebih dari 2 minggu, radang kronik apendiks secara
makroskopik dan mikroskopik
Penyebab Apendisitis

• Terjadinya apendisitis akut umumnya disebabkan oleh infeksi


bakteri. Namun terdapat banyak sekali faktor pencetus terjadinya
penyakit ini. Diantaranya obstruksi yang terjadi pada lumen
apendiks yang biasanya disebabkan karena adanya timbunan tinja
yang keras (fekalit), hiperplasia jaringan limfoid, penyakit cacing,
parasit, benda asing dalam tubuh, tumor primer pada dinding
apendiks dan striktur
Patofisiologi Apendisitis

• Apendisitis disebabkan mula-mula oleh sumbatan lumen


• Obstruksi lumen apendiks disebabkan oleh penyempitan lumen akibat
hiperplasia jaringan limfoid submukosa. Feses yang terperangkap dalam
lumen apendiks mengalami penyerapan air dan terbentuklah fekolid yang
akhirnya sebagai kausa sumbatan.
• Sumbatan lumen apendiks menyebabkan keluhan sakit disekitar umbilikus
dan epigastrium, nausea dan muntah.
• Proses selanjutnya ialah infasikuman E-colli dan spesibakteroides dari lumen
kelapisan mukosa, submukosa, lapisan muskularis dan akhirnya keparitoneu
parietalis terjadilah peritonitis lokal kanan bawah. Suhu tubuh mulai naik.
Patofisiologi Apendisitis

• Gangren dinding apendik disebabkan oleh oklusi pembuluh darah


dinding apendiks akibat distensi lumen apendiks. Bila tekanan
intralumen terus meningkat terjadi perforasi dengan ditandai
kenaikan suhu tubuh meningkatan an menetap tinggi
Tahap peradangan apendisitis :
• Apendisitis akuta (sederhana, artinya tanpa perforasi)
• Apendisitis akuta perforata ( termasuk apendisitis gangrenosa,
karena gangren dinding apendiks sebenarnya suda terjadi mikro
perforasi
Tanda dan Gejala Apendisitis

• Pada kasus apendisitis akut klasik, gejala awal adalah nyeri atau
rasa tidak enak disekitar umbilikus. Gejala ini umumnya
berlangsung lebih dari 1 atau 2 hari. Dalam beberapa jam nyeri
bergeser ke kuadran kanan bawah dengan disertai oleh anoreksia,
mual dan muntah. Dapat juga terjadi nyeri tekan disekitar titik
McBurnei
Pemeriksaan pada apendisitis

1. Pemeriksaan Fisik
• Suhu tubuh meninggi dan menetap sekitar 30C atau lebih bila telah
terjadi perforasi 3 dehidrasi ringan sampai berat bergantung pada
derajat sakitnya.
• Abdomen: tanda-tanda rangsangan peritoneal kuadran kanan bawah
pada apendisitis perforasi lebih jelas, seperti defans muskuler, nyei
ketuk, dan nyeri tekan.
2. Pemeriksaan Radiologi
Foto polos abdomen dikerjakan apabila dari hasil pemeriksaan riwayat
sakit dan pemeriksaan fisik meragukan
Anatomi Fisiologi
Terapi atau Pengobatan pada Apendisitis

• Langkah pengobatan utama untuk penyakit usus buntu adalah


melalui prosedur operasi pengangkatan usus buntu, atau yang
dikenal dengan istilah apendektomi. Namun sebelum dilakukan
operasi, penderita biasanya diberi obat antibiotik untuk mencegah
terjadinya infeksi, terutama pada usus buntu yang belum pecah
namun sudah terbentuk abses. Sedangkan pada usus buntu yang
ringan, pemberian antibiotik sebelum operasi dapat memulihkan
kondisi sebagian pasien, sehingga operasi tidak perlu dilakukan