Anda di halaman 1dari 15

Imam Abu Hanifah dan Imam Malik

Nama Kelompok :
1. Ahmad Riyadh
2. Akhmad Ridho
3. Aris Winanto
4. Dwi Nanda Saputra
Biografi Imam Abu Hanifah
Imam Abu Hanifah adalah seorang imam Mazhab
yang besar dalam dunia Islam. Di antara pembuat empat
mazhab yang terkenal Mazhab Hanafi, Mazhab Maliki,
Mazhab Syafi'i dan Mazhab Hambali, hanya Imam
Hanafi yang bukan orang Arab. Beliau keturunan Persia
atau disebut juga dengan bangsa Ajam.
Abu Hanifah juga merupakan seorang Tabi'in,
generasi setelah Sahabat nabi, karena dia pernah
bertemu dengan salah seorang sahabat Rasulullah SAW
bernama Anas bin Malik dan beberapa peserta Perang
Badar yang dimuliakan Allah SWT yang merupakan
generasi terbaik islam, dan meriwayatkan hadits darinya
serta sahabat Rasulullah SAW lainnya.
Menuntut Ilmu
Abu Hanifah kecil sering mendampingi ayahnya
berdagang sutra. Namun, tidak seperti pedagang
lainnya, Abu Hanifah memiliki kebiasaan pergi ke
Masjid Kufah. Karena kecerdasannya yang gemilang, ia
mampu menghafal Al-Qur'an serta ribuan hadits.
Pada masa Abu Hanifah menuntut ilmu, Iraq
termasuk Kufah disibukkan dengan tiga halaqah
keilmuan. Pertama, halaqah yang membahas pokok-
pokok aqidah. Kedua, halaqah yang membahas tentang
Hadits Rasulullah metode dan proses pengumpulannya
dari berbagai negara, serta pembahasan dari perawi dan
kemungkinan diterima atau tidaknya pribadi dan
riwayat mereka. Ketiga, halaqah yang membahas
masalah fikih dari Al-Qur'an dan Hadits, termasuk
membahas fatawa untuk menjawab masalah-masalah
baru yang muncul saat itu, yang belum pernah muncul
sebelumnya.
Setelah Abu Hanifah menjelajahi bidang-bidang keilmuan secara
mendalam, ia memilih bidang fikih sebagai konsentrasi kajian. Ia mulai
mempelajari berbagai permasalahan fikih dengan cara berguru kepada
salah satu Syaikh ternama di Kufah, ia terus menimba ilmu darinya hingga
selesai. Sementara Kufah saat itu menjadi tempat domisili bagi ulama fikih
Iraq.
Abu Hanifah sangat antusias dalam menghadiri dan menyertai gurunya,
hanya saja ia terkenal sebagai murid yang banyak bertanya dan berdebat,
serta bersikeras mempertahankan pendapatnya, terkadang menjadikan
syaikh kesal padanya, namun karena kecintaannya pada sang murid, ia
selalu mencari tahu tentang kondisi perkembangannya. Dari informasi
yang ia peroleh, akhirnya sang syaikh tahu bahwa ia selalu bangun malam,
menghidupkannya dengan salat dan tilawah Al-Qur'an. Karena banyaknya
informasi yang ia dengar maka syaikh menamakannya Al-Watad.
Selama 18 tahun, Abu Hanifah berguru kepada Syaikh Hammad bin
Abu Sulaiman, saat itu ia masih 22 tahun. Karena dianggap telah cukup, ia
mencari waktu yang tepat untuk bisa mandiri, namun setiap kali mencoba
lepas dari gurunya, ia merasakan bahwa ia masih membutuhkannya.
Menjadi Ulama
Saat Abu Hanifah mengantikan posisi Syaikh Hammad, ia
dihujani oleh pertanyaan yang sangat banyak, sebagian belum
pernah ia dengar sebelumnya, maka sebagian ia jawab dan
sebagian yang lain ia tangguhkan. Ketika Syaikh Hammad datang
dari Basrah ia segera mengajukan pertanyaan-pertanyaan tersebut,
yang tidak kurang dari 60 pertanyaan, 40 diantaranya sama dengan
jawaban Abu Hanifah, dan berbeda pendapat dalam 20 jawaban.
Abu Hanifah tak hanya mengambil ilmu dari Syaikh Hammad,
tetapi juga banyak ulama selama perjalanan ke Makkah
dan Madinah, diantaranya Malik bin Anas, Zaid bin Ali dan Ja'far
ash-Shadiq yang mempunyai konsen besar terhadap
masalah fikih dan hadits. Imam Abu Hanifah diketahui telah
menyelesaikan 600.000 perkara dalam bidang ilmu fiqih dan
dijuluki Imam Al-A'dzhom oleh masyarakat karena keluasan
ilmunya.Beliau juga menjadi rujukan para ulama pada masa itu
dan merupakan guru dari para ulama besar pada masa itu dan masa
selanjutnya.
Akhir Hayat
Selang beberapa hari setelah mendapatkan tahanan rumah, ia terkena
penyakit, semakin lama semakin parah. Akhirnya ia wafat pada usia 68 tahun.
Berita kematiannya segera menyebar, ketika Khalifah mendengar berita itu, ia
berkata, "Siapa yang bisa memaafkanku darimu hidup maupun mati?" Salah
seorang ulama Kufah berkata, "Cahaya keilmuan telah dimatikan dari kota
Kufah, sungguh mereka tidak pernah melihat ulama sekaiber dia selamanya."
Yang lain berkata, "Kini mufti dan fakih Irak telah tiada."
Jasadnya dikeluarkan dipanggul di atas punggung kelima muridnya, hingga
sampai tempat pemandian, ia dimandikan oleh Al-Hasan bin Imarah, sementara
Al-Harawi yang menyiramkan air ke tubuhnya. Ia disalatkan lebih dari 50.000
orang. Dalam enam kali putaran yang ditutup dengan salat oleh anaknya,
Hammad. Ia tak dapat dikuburkan kecuali setelah salat Ashar karena sesak, dan
banyak tangisan. Ia berwasiat agar jasadnya dikuburkan di Kuburan Al-
Khairazan, karena merupakan tanah kubur yang baik dan bukan tanah curian.
Kisah Imam Abu Hanifah Yang Perlu Di
Teladani
 Saling memuji dan berbaik sangka Ketika Imam Malik berkata,
“Saya merasa tidak punya apa-apa ketika bersama Abu Hanifah,
sesungguhnya ia benar-benar ahli fikih wahai orang Mesir, wahai al-
Laits”Kemudian al-Laits pun menceritakan ucapan pujian Imam Malik
kepada Imam Abu Hanifah. Lalu beliau menjawab, “Bagus sekali
ucapan Imam Malik terhadap anda”. Dan beliau menambahkan, “Demi
Allah, saya belum pernah melihat orang yang lebih cepat memberikan
jawaban yang benar dan zuhud serta sempurna melebihi Imam Malik”.
 Bersikap terbuka dan mau menerima kritikan Imam
Abu Hanifah merupakan seorang yang tidak
menganggap bahwa pendapat-pendapat selain dirinya
adalah salah. Bahkan beliau sering mengatakan: ‫ولنا هذا‬FF‫ق‬
‫وأولى‬FFF‫ف‬F‫ولنا ه‬FF‫أحسنمن ق‬ FFF‫ ب‬F‫اءنا‬F‫من ج‬
FFF‫ ف‬،F‫درنا عليه‬FF‫حسنما ق‬F‫ي وهو أ‬
، F‫رأ‬
‫بمنا‬F‫صوا‬FFF‫ب‬
FF‫لا‬ ‘’Apa yang aku
sampaikan ini adalah sekedar pendapat. Ini yang dapat
aku usahakan semampuku. Jika ada pendapat yang
lebih baik dari ini, ia lebih patut diambil.”Beliau juga
pernah ditanya, “Tuan Abu Hanifah, apakah fatwa
yang anda sampaikan telah sungguh-sungguh benar,
tak ada keraguan lagi?”. Beliau pun menjawab:‫وا ل أدري‬
F‫ه‬FFF‫ك يف‬F‫ذيل ش‬FF‫باطل لا‬FF‫ لا‬F‫عله‬F‫’‘ “ ل‬Demi Allah, aku tidak tahu,
barangkali keliru sama sekali”Kedua pernyataan Imam
Abu Hanifah ini membuktikan bahwa beliau
merupakan orang yang terbuka dan toleransi. Beliau
pun bersedia mencabut atau meralat pendapatnya jika
Biografi Imam Malik
Malik bin Anas bin Malik bin `Amr, al-Imam,
Abu `Abd Allah al-Humyari al- Asbahi al-Madani
lahir di Madinah pada tahun 93 H / 714 M dan
meninggal pada tahun 179 H / 800 M. Beliau
adalah pendiri Maẓhab Maliki yang ahli di bidang
fikih dan hadis. Beliau juga merupakan penyusun
kitab al-Muwaththa’ yang menghabiskan waktu 40
tahun dan kitabnya telah diperlihatkan kepada 70
ahli fikih di Madinah.Anas, ayah beliau
merupakan periwayat hadis dan Malik bin ‘Amr,
kakek beliau adalah ulama dari kalangan tabi’in.
Kakeknya banyak meriwayatkan hadis dari tokoh-
tokoh besar sahabat, seperti Umar bin Khattab,
Utsman bin ‘Affan, Thalhah bin ‘Ubaidillah,
Ummul Mukminin ‘Aisyah, Abu Hurairah, Hasan
bin Tsabit dan ‘Uqail bin Abi Thalib.Imam Malik
merupakan pribadi yang tekun.
Saat masih kecil, Imam Malik sudah hafal al-
Qur’an lalu beliau beralih menghafal hadis
setelahnya. Selain menghafal, Imam Malik juga rajin
belajar ilmu fikih. Beliau belajar ilmu fikih kepada
Rabi’ah bin Abdurrahman. Beliau juga belajar di
halaqah Abdurrahman bin Hurmuz selama 13 tahun
tanpa diselingi belajar kepada guru lain. Beliau juga
tidak pernah mengembara ke negeri lain untuk
mencari ilmu.
Beliau hanya mencukupkan belajar ilmu kepada
tokoh dan ulama dari kalangan tabiin di
Madinah.Dengan ketekunan tersebut menjadikan
beliau pribadi yang berpengetahuan luas. Ulama
besar seperti Imam Abu Hanifah dan Imam Syafi’i
pernah menimba ilmu dan belajar kepada
beliau.Sebelum beliau wafat, beliau meninggalkan
beberapa karya yang dapat dinikmati yaitu kitab Al-
Muwattha` dan Maẓhab Maliki.
KITAB AL-MUWATHTHA
Al-Muwaththa bererti ‘yang disepakati’ atau ‘tunjang’ atau
‘panduan’ yang membahas tentang ilmu dan hukum-hukum agama
Islam. Al-Muwaththa merupakan sebuah kitab yang berisikan hadits-
hadits yang dikumpulkan oleh Imam Malik serta pendapat para
sahabat dan ulama-ulama tabiin. Kitab ini lengkap dengan berbagai
problem agama yang merangkum ilmu hadits, ilmu fiqh dan
sebagainya. Semua hadits yang ditulis adalah sahih kerana Imam
Malik terkenal dengan sifatnya yang tegas dalam penerimaan sebuah
hadits. Dia sangat berhati-hati ketika menapis, mengasingkan, dan
membahas serta menolak riwayat yang meragukan. Dari 100.000
hadits yang dihafal beliau, hanya 10.000 saja diakui sah dan dari
10.000 hadits itu, hanya 5.000 saja yang disahkan sahih olehnya
setelah diteliti dan dibandingkan dengan al-Quran. Menurut sebuah
riwayat, Imam Malik menghabiskan 40 tahun untuk mengumpul dan
menapis hadits-hadits yang diterima dari guru-gurunya. Imam Syafi
pernah berkata, “Tiada sebuah kitab di muka bumi ini yang lebih
banyak mengandungi kebenaran selain dari kitab Al-
Muwaththa karangan Imam Malik.”
Akhir Hayat
Menjelang wafat, Imam Malik ditanya masalah ke mana ia
tak pergi lagi ke Masjid Nabawi selama tujuh tahun, ia
menjawab, "Seandainya bukan karena akhir dari kehidupan
saya di dunia, dan awal kehidupan di akhirat, aku tidak akan
memberitahukan hal ini kepada kalian. Yang menghalangiku
untuk melakukan semua itu adalah penyakit sering buang air
kecil, karena sebab ini aku tak sanggup untuk mendatangi
Masjid Rasulullah. Dan, aku tak suka menyebutkan penyakitku,
karena khawatir aku akan selalu mengadu kepada Allah." Imam
Malik mulai jatuh sakit pada hari Minggu sampai 22 hari lalu
wafat pada hari Minggu, tanggal 10 Rabi'ul Awwal 179 Hijriyah
atau 800 Miladiyyah.
Masyarakat Medinah menjalankan wasiat yang ia
sampaikan, yakni dikafani dengan kain putih, dan disalati diatas
keranda. Imam shalat jenazahnya adalah Abdullah bin
Muhammad bin Ibrahim al-Hasyimi yang merupakan gubernur
Madinah. Gubernur Madinah datang melayat dengan jalan kaki,
bahkan termasuk salah satu yang ikut serta dalam mengangkat
jenazah hingga ke makamnya. Dia dimakamkan di Pemakaman
Baqi', seluruh murid-murid dia turut mengebumikan dia.
Kisah Imam Malik Yang Perlu
Diteladani
Kisah yang dapat diteladani dari Imam Malik ialah:
Berani berkata tidak tahu kepada penanya. Hal ini
penting karena sebagai seorang yang berpengetahuan
terkadang sulit atau bahkan gengsi untuk mengatakan
tidak tahu. Sebuah riwayat dari Ibnu Mahdi
menyatakan bahwa ada seorang lelaki bertanya
kepada Imam Malik tentang sebuah masalah. Imam
Malik menjawab, “Lā uhsinuhā (aku tidak mengerti
masalah itu dengan baik)”. Lalu lelaki itu berkata lagi,
“Aku telah melakukan perjalanan jauh untuk bertanya
kepadamu tentang masalah ini”. Imam Malik lalu
berkata kepadanya, “Ketika kau kembali ke tempat
tinggalmu, kabarkan pada masyarakat di sana bahwa
aku berkata kepadamu bahwa aku tidak mengerti
dengan baik masalah tersebut”.
THANK YOU