Anda di halaman 1dari 12

ETIKA BISNIS ISLAM

“Etika Konsumsi Dalam Islam”


kelompok 3
Nur Awaliah
(18.2300.072)
Pengertian Konsumsi
Konsumsi merupakan bagian aktifitas ekonomi yang
sangat vital bagi kehidupan manusia. Konsumsi adalah
fitrah manusia untuk mempertahankan hidupnya. Jika
manusia masih berada dalam fitrah yang suci, maka
manusia sadar bahwa konsumsi memiliki keterbatasan
baik dari segi kemampuan harta maupun apa yang
akan dikonsumsi sesuai dengan kebutuhannya.
Menurut Chaney,konsumsi adalah seluruh tipe aktifitas sosial
yang orang lakukan sehingga dapat di pakai untuk mencirikan
dan mengenal mereka,selain(sebagai tambahan) apa yang
mungkin mereka lakukan untuk hidup.
Menurut Braudrillard, konsumsi adalah sistem yang
menjalankan urutan tanda-tanda dan penyatuan kelompok.Jadi
konsumsi itu sekaligus sebagai moral (sebuah sistemideologi)
dan sistem komunikasi,struktur pertukaran.
Teori Etika Islam di Bidang Konsumsi
Dibidang ekonomi, etika Islam berarti ketika seseorang
mengkonsumsi barang-barang atau harus dengan cara yang
halal dan baik. Artinya, perbuatan yang baik dalam mencari
barang-barang atau rezeki baik untuk dikonsumsi maupun
diproduksi adalah bentuk ketaatan terhadap Allah SWT,
sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an: “wahai umat
manusia, makanlah apa yang ada di bumi dengan cara yang
sah dan baik.”
Teori konsumsi islam membatasi konsumsi berdasarkan
konsep harta dan berbagai jenis konsumsi sesuai dengan
prinsip-prinsip syariah islam demi keberlangsungan dan
kesejahteraan manusia itu sendiri. Dalam islam aktifitas
konsumsi telah diatur dalam bingkai syariah, sehingga dapat
menuntun seorang muslim agar tidak terjerumus dalam
keharaman dan apa yang dikonsumsinya menjadi berkah.
Tujuan Konsumsi Islami
Tujuan utama konsumsi seoarang muslim adalah sebagai
sarana penolong untuk beribadah kepada Allah. Sesungguhnya
mengkonsusmsi sesuatu dengan niat untuk meningkatkan
stamina dalam ketaatan pengabdian kepada Allah akan
menjadikan konsusmsi itu bernilai ibadah yang dengannya
manusia mendapatkan pahala.
Dasar Hukum Prilaku Konsumsi / Konsumen
 1.Sumber yang Berasal dari al-Qur’an dan Sunnah Rasul
Sumber yang ada dalam al-Qur’an
Artinya : Makan dan minumlah, namun janganlah berlebih-
lebihan. Sesungguhnya Allah itu tidak menyukai orang-orang
yang berlebih-lebihan.
2. Ijtihad Para Ahli Fiqh
Ijitihad berarti meneruskan setiap usaha untuk menentukan
sedikit banyaknya kemungkinan suatu persoalan syari’at.
Mannan menyatakan bahwa sumber hukum ekonomi islam
(termasuk di dalamnya terdapat dasar hukum tentang prilaku
konsumen yakni konsumsi) yaitu; al-Qur’an, as-Sunnah,
ijma’, serta qiyas dan ijtihad.
Tujuan konsumsi dalam ajaran Islam antara lain:
1. Untuk mengharap Ridha Allah SWT. Tercapainya kebaikan
dan tuntutan jiwa yang mulia harus direalisasikan untuk
mendapatkan pahala dari Allah SWT.
2.Untuk mewujudkan kerjasama antar anggota masyarakat dan
tersedianya jaminan sosial.
3.Untuk menumbuhkan rasa tanggung jawab individu terhadap
kemakmuran diri, keluarga dan masyarakat sebagai bagian
aktivitas dan dinamisasi ekonomi.
Etika Konsumsi dalam Islam
Adapun etika konsumsi islam harus memperhatikan beberapa
hal, di antaranya adalah:
1. Jenis barang yang dikonsumsi adalah barang yang baik dan
halal (halalan thoyyiban)
2.Kemanfaatan atau kegunaan barang yang dikonsumsi,
artinya lebih memberikan manfaat dan jauh dari merugikan
baik dirinya maupun orang lain.
3.Kuantitas barang yang dikonsumsi tidak berlebihan dan
tidak terlalu sedikit atau kikir atau bakhil, tapi pertengahan
(Al-Furqon: 67).
Etika komsumsi dalam Islam mengutamakan
mashlahah/manfaat dan  menghindari  israf
(pemborosan) ataupun tabzir  (menghambur-
hamburkan) uang/harta tanpa guna.
Etika konsumsi menurut Naqvi adalah sebagai berikut:
a. Tauhid (Unity/ Kesatuan)
b. Adil (Equilibrium/ Keadilan)
c. Free Will (Kehendak Bebas)
d. Amanah (Responsibility/ Pertanggungjawaban)
e. Halal
f.  Sederhana
TERIMA KASIH