Anda di halaman 1dari 101

TEKNIK SEDIAAN STERIL

CPOB DALAM SEDIAAN STERIL

Prodi DIII Farmasi


Poltekkes Kemenkes Pangkalpinang
1. PRINSIP

Produk steril hendaklah dibuat dengan persyaratan khusus


dengan tujuan memperkecil risiko pencemaran mikroba,
partikulat dan pirogen, yang sangat tergantung dari
ketrampilan, pelatihan dan sikap personil yang terlibat.
Pemastian Mutu sangatlah penting dan pembuatan produk steril
harus sepenuhnya mengikuti secara ketat metode pembuatan dan
prosedur yang ditetapkan dengan seksama dan tervalidasi.
Pelaksanaan proses akhir atau pengujian produk jadi tidak
dapat dijadikan sebagai satu-satunya andalan untuk menjamin
sterilitas atau aspek mutu lain.
Spesifikasi ruang bersih

Ruang bersih adalah ruangan dengan keadaan terkontrol yang diperbolehkan untuk
digunakan sebagai ruang pembuatan sediaan obat steril (Badan POM RI, 2013). Untuk
pembuatan sediaan steril, dilakukan pada ruang kelas A, B, C, dan D (white area). Untuk
pembuatan sediaan obat non steril dilakukan pada kelas E (grey area) yang spesifikasi
kebersihan ruangannya tidak seketat ruang bersih untuk pembuatan sediaan obat steril.

Kelas bersih, secara umum dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu daerah putih (white area) atau
kelas A, B, C dan D; daerah abu (grey area) atau kelas E; dan daerah hitam (black area) atau
kelas F. Semakin ke arah daerah putih, maka daerah tersebut semakin terkontrol atau semakin
tinggi tingkat kebersihannya. Produksi sediaan obat steril dilakukan pada white area,
sementara grey area digunakan untuk perlakuan terhadap sediaan yang telah berada dalam
wadah primer sehingga tidak ada kontak langsung sediaan dengan lingkungan luar.
Ruang bersih adalah ruangan dengan keadaan terkontrol yang diperbolehkan untuk
digunakan sebagai ruang pembuatan sediaan obat steril (Badan POM RI, 2013). Untuk
pembuatan sediaan steril, dilakukan pada ruang kelas A, B, C, dan D (white area). Untuk
pembuatan sediaan obat non steril dilakukan pada kelas E (grey area) yang spesifikasi
kebersihan ruangannya tidak seketat ruang bersih untuk pembuatan sediaan obat steril.

Kelas bersih, secara umum dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu daerah putih (white
area) atau kelas A, B, C dan D; daerah abu (grey area) atau kelas E; dan daerah hitam
(black area) atau kelas F. Semakin ke arah daerah putih, maka daerah tersebut semakin
terkontrol atau semakin tinggi tingkat kebersihannya. Produksi sediaan obat steril
dilakukan pada white area, sementara grey area digunakan untuk perlakuan terhadap
sediaan yang telah berada dalam wadah primer sehingga tidak ada kontak langsung
sediaan dengan lingkungan luar.
Cara mencuci tangan

Sebelum menggunakan baju kerja, prosedur pertama yang harus dilakukan adalah mencuci tangan. Bahkan ada
beberapa perusahaan farmasi yang mewajibkan personel di ruang produksi steril untuk mandi terlebih dahulu.
Berkaitan dengan hal itu, Anda akan dipandu untuk mempraktekkan langkah demi langkah cara mencuci tangan
sehingga Anda siap menggunakan baju kerja steril.
Kelengkapan Baju
Cara menggunakan Bio Safety Cabinet (BSC)

SEBELUM MENGGUNAKAN BSC

1. Matikan lampu UV (bila menyala) 


2. Hidupkan BSC dengan menekan tombol ON hingga terdengar bunyi dari alat (tekan terus
hingga terdengar bunyi)
3. Hidupkan lampu fluorescent dan blower
4. Biarkan kabinet selama 5 menit tanpa aktivitas
5. Buka kaca hingga tanda (alarm akan berbunyi bila setting kaca belum sesuai)
6. Bersihkan permukaan tempat kerja dengan cairan desinfektan yang sesuai
seperti 70% isopropil alkohol
7. Bersihkan semua item dengan cairan desinfektan sebelum memasukkannya ke
dalam kabinet
8. Letakkan semua alat dalam kabinet minimal 10 cm dari kaca
 9. Jangan meletakkan alat diatas grill (penyedot udara) karena akan mengganggu
aliran udara dalam kabinet
2. UMUM

• Pembuatan produk steril dilakukan di area bersih, memasuki


area ini melalui ruang penyangga udara untuk personil
dan/atau peralatan dan bahan. Area bersih dijaga tingkat
kebersihannya sesuai standard kebersihan.
• Berbagai kegiatan persiapan komponen, pembuatan produk dan
pengisian dilakukan di ruang terpisah di dalam area bersih.
Kegiatan pembuatan produk steril dapat digolongkan dalam dua
kategori; pertama produk yang disterilkan dalam wadah
akhir dan disebut juga sterilisasi akhir, kedua produk yang
diproses secara aseptis pada sebagian atau semua tahap.
• Area bersih untuk pembuatan produk steril digolongkan
berdasarkan karakteristik lingkungan yang dipersyaratkan.
Tiap kegiatan pembuatan membutuhkan tingkat kebersihan
ruangan yang sesuai dalam keadaan operasional untuk
meminimalkan risiko pencemaran oleh partikulat dan/atau
mikroba pada produk dan/atau bahan yang ditangani.
• Kondisi “operasional” dan “nonoperasional” hendaklah
ditetapkan untuk tiap ruang bersih. Agar tercapai
kondisi“operasional” maka area tersebut didesain untuk
mencapai tingkat kebersihan udara tertentu pada
kondisi“nonoperasional”.
• Pada pembuatan produk steril dibedakan 4 Kelas kebersihan:
- Kelas A: Zona untuk kegiatan yang berisiko tinggi, misal zona
pengisian, wadah tutup karet, ampul dan vial terbuka,
penyambungan secara aseptis. Umumnya kondisi ini dicapai dengan
memasang unit aliran udara laminar (laminar air flow) di tempat
kerja.
- Kelas B: Untuk pembuatan dan pengisian secara aseptis, Kelas
ini adalah lingkungan latar belakang untuk zona Kelas A.
- Kelas C dan D: Area bersih untuk melakukan tahap proses
pembuatan yang mengandung risiko lebih rendah.
3. KLASIFIKASI RUANG BERSIH DAN SARANA UDARA
BERSIH

• Klasifikasi ruangan adalah bagian dari kualifikasi awal


fasilitas dan biasanya juga dilakukan pada saat
rekualifikasi rutin; artinya baik aktivitas klasifikasi maupun
status klasifikasi akhir yang harus dicapai untuk ruang
bersih dan sarana udara bersih. Aneks 1 ini berkaitan
langsung dengan klasifikasi ruang bersih dan sarana udara
bersih sesuai ISO 14644. Untuk kualifikasi dan validasi
serta rekualifikasi, lihat juga Pedoman CPOB Bab 12.
KLASIFIKASI RUANG BERSIH DAN SARANA UDARA BERSIH

Ruang bersih dan sarana udara bersih


dinyatakan terkualifikasi setelah diperoleh
hasil yang stabil dan memenuhi persyaratan
selama 5 hari berturut-turut pada kondisi
nonoperasional. ISO 14644-1 Annex f
mempunyai bagian informatif mengenai
penggunaan teknik sampling sekuensial
untuk pemantauan partikel nonviabel. Teknik
ini mungkin bermanfaat untuk mengurangi
waktu pengambilan sampel pada area ruang
bersih yang sangat besar pada kondisi
nonoperasional. Metode ini tidak cocok
untuk dipakai saat melakukan klasifikasi
operasional.
PEMANTAUAN RUANG BERSIH DAN SARANA UDARA
BERSIH

• Ruang bersih dan sarana udara bersih hendaklah


dipantau secara rutin pada saat kegiatan
berlangsung
• Untuk zona Kelas A, pemantauan partikel hendaklah
dilakukan selama proses kritis berlangsung,
termasuk perakitan alat,
• Frekuensi pengambilan sampel dan ukuran sampel
dalam pemantauan zona Kelas A hendaklah
ditetapkan sedemikian rupasehingga mudah
diintervensi. Kejadian yang bersifat sementara dan
kegagalan sistem apa pun dapat terdeteksi dan
memicu alarm bila batas waspada terlampaui.
• Pemantauan Kelas B hendaklah dilakukan pada
frekuensi dan jumlah sampel yang memadai sehingga
perubahan pola kontaminasi dan kegagalan sistem
dapat terdeteksi dan memicu alarm bila batas
waspada terlampaui.
Sistem pemantauan partikel udara dapat terdiri dari
beberapa alat penghitung partikel yang independen; suatu
jaringan dari serangkaian titik pengambilan sampel yang
dihubungkan dengan manifold pada satu penghitung
partikel; atau kombinasi dari kedua sistem tersebut.

Bila dipakai cara pengambilan sampel jarak jauh, panjang pipa


dan radius dari tiap tekukan dalam pipa hendaklah
diperhitungkan terhadap risiko kehilangan partikel di
sepanjang pipa.
Pada zona Kelas A dan B,
pemantauan jumlah
partikel ukuran > 5,0
μmmenjadi penting

karena merupakan sarana untuk


deteksi dini kegagalan.
Pemantauan area Kelas C dan D pada saat kegiatan rutin hendaklah dilakukan
sesuai dengan prinsip manajemen risiko mutu. Persyaratan batas waspada
ataupun batas bertindak tergantung pada jenis proses yang dilakukan, tetapi
“waktu pemulihan” yang direkomendasikan hendaklah tercapai.
Batas mikroba yang disarankan untuk pemantauan area bersih selama kegiatan berlangsung
5. TEKNOLOGI ISOLATOR

• Definisi Isolator

Suatu alat yang menyediakan kondisi tertutup terkendali atau


lingkungan bersih dimana dilakukan suatu proses atau aktivitas yang
dapat menjamin bahwa pemisahan secara efektif dapat dipertahankan
antara lingkungan tertutup, lingkungan sekitar dan setiap personalia
yang terlibat dalam proses atau manipulasi.
1. Secara tertutup atau
terbuka;
2. Dapat
Desain mempertahankan
Isolator tekanan positif atau
negatif
terhadap lingkungan
sekitar.
• Dinding isolator (envelop) dapat bersifat fleksibel, material utama
adalah besi tahan karat (stainless steel), gelas, dan lembaran fleksibel
polovinil khlorida (PVP) yang disolder (welded) untuk membentuk suatu
ruangan tertutup.

• Secara internal, isolator diberi tekanan dengan udara atau gas inert
untuk membantu pencapaian pemisahan yang dipersyaratkan antara bagian
dalam dan bagian luar. Tekanan ini dapat bersifat positif atau negatif,
penyaringan udara dilakukan melalui penyaring (filter) HEPA atau ULPA
(Ultra Low Particulat Air) yang digunakan untuk mengendalikan kualitas
udara yang masuk, keluar dan resirkulasi.
Penggunaan isolator terutama bertujuan untuk meningkatkan
integritas proses secara menyeluruh. Penggunaan teknologi
isolator dimaksudkan untuk memperkecil intervensi manusia pada
area proses yang mungkin dapat mengakibatkan penurunan risiko
kontaminasi mikroba dari lingkungan secara signifikan terhadap
produk yang dibuat secara aseptis.
Isolator hendaklah digunakan hanya setelah dilakukan validasi
yang sesuai. Validasi hendaklah mempertimbangkan semua faktor
krisis dari teknologi isolator. Misal mutu udara di dalam dan di luar
(latar belakang) isolator, sanitasi isolator, proses transfer dan
kekedapan isolator.
6. TEKNOLOGI PENIUPAN/PENGISIAN/PENYEGELAN
(BLOW/FILL/SEAL TECHNOLOGY)

Mesin peniup/pengisi/penyegel merupakan suatu


rangkaian mesin dimana dalam suatu operasi yang
kontinu, wadah produk dibentuk dari granulat
termoplastis, diisi dan kemudian disegel, semua ini
dilakukan oleh satu unit mesin otomatis.
Mesin peniup/pengisi/ penyegel yang digunakan untuk produksi
aseptis yang dilengkapi dengan air shower yang efektivitasnya
sama dengan kelas A dapat dipasang dalam lingkungan minimal
kelas C, dengan syarat mengenakan pakaian kerja kelas A/B.
mesin yang digunakan untuk pembuatan produk dengan
sterilisasi akhir hendaklah dipasang dalam lingkungan minimal
kelas D. lingkungan kerja hendaklah memenuhi persyaratan
jumlah partikel dan mikroba pada kondisi nonoperasional dan
persyaratan jumlah mikroba hanya pada saat beroperasi.
• Disebabkan teknologi khusus ini, perhatikan khusus hendaklah diberikan minimal
pada hal-hal berikut:
1. Desain dan kualifikasi peralatan
2. Validasi dan reprodusibilitas dari pembersihan di
tempat dan sterilisasi di tempat
3. Tingkat kebersihan lingkungan latar belakang dimana
peralatan tersebut ditempatkan
4. Pelatihan dan pakaian kerja operator
5. Intervensi terhadap zona kritis mesin termasuk proses
perakitan aseptis sebelum memulai proses pengisian.
7. PRODUK YANG DISTERILISASI AKHIR
(TERMINAL STERILIZATION)

Sterilisasi

• “Proses menghancurkan atau menghilangkan semua


mikroorganisme yang dapat mencemari obat-obatan
atau bahan lain dan membahayakan kesehatan”
Sterilisasi akhir

Metode sterilisasi akhir merupakan proses sterilisasi yang dilakukan


setelah sediaan selesai dikemas, untuk selanjutnya dilakukan sterilisasi,
jenis metode sterilisasi yang sering digunakan adalah metode sterilisasi
panas lembab menggunakan autoklaf, namun sterilisasi akhir dapat
dilakukan dengan berbagai metode (panas kering, filterisasi, EM, pengion,
gas, dsb), pertimbangan untuk memilih metode sterilisasi yang sesuai
adalah dengan mempertimbangkan kestabilan bahan dan zat yang
terhadap panas atau kelembaban (Stabilitas, Kompatibilitas dan Efektifitas
serta Efisiensi).
Metode sterilisasi akhir

OVERKILL BIOBURDEN
METHOD STERILIZATION
Skema sterilisasi akhir (terminal sterilization)
8. PEMBUATAN SECARA ASEPTIS

• Pengertian Metode Aseptis


Metode ini biasanya digunakan untuk zat aktif yang sensitif terhadap suhu tinggi
yang dapat mengakibatkan penguraian dan penurunan kerja farmakologinya.

• Tujuan metode aseptis


Dari proses aseptis adalah untuk mempertahankan sterilitas produk yang dibuat dari
komponen-komponen yang masing-masing telah disterilisasi sebelumnya dengan
menggunakan salah satu cara dari metode yang ada.
Kondisi operasional hendaklah dapat mencegah kontaminasi mikroba.
Untuk menjaga sterilitas komponen dan produk selama-proses
aseptis, perhatian perlu diberikan pada :
 lingkungan;
 personil;
 permukaan yang kritis;
 sterilisasi wadah / tutup dan prosedur pemindahannya;
 waktu tunggu maksimum bagi produk sebelum pengisian ke
dalam wadah akhir; dan
 filter untuk sterilisasi.
Langkah dalam pengerjaan sediaan steril dengan metode aseptis

Komponen, setelah dicuci, hendaklah ditangani di lingkungan minimal Kelas D. Penanganan bahan awal dan
komponen steril, kecuali pada proses selanjutnya untuk disterilisasi atau disaring dengan menggunakan filter mikroba,
hendaklah dilakukan di lingkungan Kelas A dengan latar belakang Kelas B.

Proses pembuatan larutan yang akan disterilisasi secara filtrasi hendaklah dilakukan di lingkungan Kelas C; bila
tidak dilakukan filtrasi, penyiapan bahan dan produk hendaklah dilakukan di lingkungan Kelas A dengan latar
belakang Kelas B.

Penanganan dan pengisian produk yang dibuat secara aseptis hendaklah dilakukan di lingkungan Kelas A dengan
latar belakang Kelas B.

Transfer wadah setengah-tertutup, yang akan digunakan dalam proses beku-kering (freeze drying) hendaklah,
sebelum proses penutupan dengan stopper selesai, dilakukan di lingkungan Kelas A dengan latar belakang Kelas B
atau dalam nampan transfer yang tertutup di lingkungan Kelas B.

Pembuatan dan pengisian salep, krim, suspensi dan emulsi hendaklah dilakukan di lingkungan Kelas A dengan latar
belakang Kelas B, apabila produk terpapar dan tidak akan disaring
Contoh Prosedur pembuatan steril secara aseptis

• Larutan (metode aseptis)

Semua pengerjaan pembuatan sediaan dilakukan di bawah LAF, ruangan kelas 2 (jika zat sensitif terhadap cahaya, maka pengerjaan dilakukan pada ruang

terlindung cahaya, di bawah lampu natrium)

a.     Semua bahan baku (zat aktif + eksipien) yang telah ditimbang disterilisasi dengan metode yang sesuai

b.     Zat aktif dilarutkan dalam sejumlah tertentu aqua pro injeksi

c.     Larutan yang telah disaring, dituang ke dalam kolom reservoir melalui membran filter bakteri yang diletakkan di atas filter glass G3 (ukuran pori-pori 0,22

µm)

d.    Larutan dituang ke dalam buret steril kemudian ujungnya ditutup dengan alumunium foil

e.     Sebelum diisikan ke dalam wadah, jarum buret dibersihkan dengan kapas yang telah dibasahi alkohol 70 %. Setiap wadah diisi dengan larutan C mL sesuai

persyaratan volume FI IV

f. .  Larutan yang telah disaring dituang ke dalam kolom reservoir melalui membran filter bakteri yang diletakkan di atas glass filter G5 (ukuran pori-pori 0,45

µm)

g.     Ampul/vial yang telah berisi zat aktif, bila diperlukan dialiri dengan gas nitrogen

h.     Dilakukan evaluasi sediaan

i.      Sediaan dikemas dalam dus yang sudah diberi etiket dan disertakan brosur informasi obat
• Injeksi Suspensi dengan Pembawa Minyak (Metode Aseptik)
a.     Suspending agent dicampur bersama minyak kemudian disterilkan di dalam oven (170 ºC, 30 menit)
b.     Timbang zat aktif, sterilisasi, gerus dalam mortar yang steril kemudian dicampurkan dengan pembawa
yang telah disterilkan tadi (dalam keadaan dingin) sedikit demi sedikit sambil digerus
c.     Suspensi tersebut dituang ke dalam gelas ukur yang dilengkapi batang pengaduk dan volume akhir
dicapai dengan penambahan minyak steril (tanpa suspending agent)
d.    Setelah diaduk homogen, suspensi dituang ke dalam vial steril yang telah dikalibrasi

• Injeksi Larutan Minyak (Metode Aseptik)


a.     Timbang zat aktif, campurkan ke dalam minyak, kemudian sterilisasi dalam oven (170 C, 30 menit)
b.     Campuran tersebut dituang ke dalam gelas ukur yang dilengkapi batang pengaduk, genapkan volume
dengan penambahan minyak steril
c.     Setelah diaduk homogen, suspensi dituang ke dalam vial steril yang telah dikalibrasi
• Injeksi Emulsi M/A (Metode Aseptik)
a.     Zat-zat larut minyak dicampur dalam minyak dan emulgator minyak, sterilisasi
dalam oven (170 ºC, 30 menit)
b.     Zat-zat larut air dicampur dalam aqua pro injeksi dan emulgator air, sterilisasi dalam
autoklaf (121 ºC, 15 menit)
c.     Campur dan gerus kedua campuran tersebut pada suhu yang sama (60-70 ºC) dalam
mortar steril
d.    Campuran tersebut dituang ke dalam gelas ukur yang dilengkapi batang pengaduk,
genapkan volume dengan penambahan aqua pro injeksi
e.     Setelah diaduk homogen, suspensi dituang ke dalam vial steril yang telah dikalibrasi
9. PERSONALIA
Pembuatan obat yang
mengandalkan sumber daya
manusia yang memahami
prinsip CPOB menyangkut
tugasnya masing-masing serta
memperoleh pelatihan awal
dan berkesinambungan
termasuk instruksi higiene
yang berkaitan dengan
pekerjaannya.
• Industri Farmasi memiliki personel dalam jumlah memadai
yang terkualifikasi dan berpengalaman praktis
• Industri Farmasi memiliki struktur organisasi yang saling
berkaitan antarpersonel ditunjukkan di tingkat manageral.
• Tugas spesifik dan kewenangan dari personel pada posisi
penganggungjawab tercantum dalam uraian tugas
• Managemen puncak memiliki tanggungjawab tertinggi untuk
memastikan efektifitas penerapan sistem mutu Industri
Farmasi di seluruh organisasi.
Personal Kunci
• Kepala bagian Produksi
• Kepala bagian Pengawasan Mutu
• Kepala bagian Penjaminan Mutu
Pelatihan

• Melakukan pelatihan sesuai dengan tugas.


• Pelatihan spesifik dilakukan di area dengan tingkat
kontaminasi yang menimbulkan bahaya.
• Tindakan yang tepat selama pelatihan supaya memiliki
pemahaman dan penerapan yang mendalam.
• Pelatihan diberikan kepada personal yang terkualifikasi
Higiene Personal

• Disesuaikan dan disiapkan dengan kebutuhan pabrik


• Menjalani pemeriksaan kesehatan saat perekrutan.
• Memastikan tidak memiki penyakit menular.
• Mengenakan pakaian pelindung sesuai dengan kegiatan yang akan
dilakukan sebelum memasuki area.
• Dilarang makan, minum, atau merokok(termasuk meyimpan atau
mengunyah) di area pabrik dan gedung.
• Hindarkan persentuhan langsung antara operator dengan produk
terbuka.
Konsultan

• Memiliki pendidikan , pelatihan , dan pengalaman


yang memadai atau kombinasinya untuk memberi
saran aras subjek yang dikuasai
10. BANGUNAN DAN FASILITAS

• Agenda Style
01
PENJELASAN TENTANG BANGUNAN

02 PENJELASAN TENTANG LETAK BANGUNAN

03
PENJELASAN TENTANG FASILITAS

04 PENJABARAN AREA BANGUNAN DAN FASILITAS


BANGUNAN LETAK BANGUNAN
Letak bangunan harus dapat SISTEM TATA UDARA
terhindar dari pencemaran SISTEM TEKANAN UDARA
Tata letak dan desain ruangan SISTEM PENGOLAHAN AIR GAMBARAN
lingkungan serta harus dirawat
harus dibuat sedemikian rupa KONTAK LISTRIK DAN LAMPU BANGUNAN-FASILITAS
untuk memperkecil risiko terjadi
dengan tepat agar memperoleh PIPA SALURAN UDARA INDUSTRI FARMASI
VENTILASI DAN PINTU AREA
perlindungan maksimal terhadap
kekeliruan,. SARANA PENDUKUNG
personil dan bahan-bahan
pembuat obat.
AREA PENIMBANGAN AREA PRODUKSI
Untuk memperkecil resiko bahaya medis yang
Penimbangan bahan awal dan perkiraan hasil nyata
serius  akibat terjadinya pencemaran silang, suatu
hendaklah dilakukan diarea penimbangan terpisah
sarana khusus dan self-container hendaklah
yang didesain khusus untuk kegiatan tersebut. Area ini
disediakan untuk produksi obat tertentu seperti
dapat menjadi bagian dari area penyimpanan atau
B produk yang dapat menimbulkan sensitif tinggi,
area produksi. A produk lainya seperti antibiotik tertentu (misal
penisilin).
AREA PENYIMPANAN
Area penyimpanan hendaklah memiliki kapasitas D AREA PENGAWASAN MUTU
yang memadai untuk menyimpan dengan rapi dan C Laboratorium Pengawasan Mutu hendaklah terpisah dari area
teratur berbagai macam bahan dan produk produksi, area pengujian biologis, mikrobiologi dan
radio isotop hendaklah dipisahkan satu dengan yang lain. Luas
ruangan hendaklah memadai untuk mencegah campur baur
dan pencemaran silang.

D
SARANA PENDUKUNG
Sarana untuk mengganti pakaian kerja, membersihkan diri dan toilet
hendaklah disediakan dalam jumlah yang cukup dan mudah diakses.
Toilet tidak boleh berhubungan langsung dengan area produksi atau
area penyimpanan. Ruangan ganti pakaian hendaklah berhubungan
langsung dengan  area produksi namun  letaknya terpisah.
11. PERALATAN
Peralatan

Peralatan untuk pembuatan obat hendaklah memiliki


desain dan konstruksi yang tepat, ukuran yang memadai
serta ditempatkan dan dikualifikasi dengan tepat agar
mutu obat terjamin sesuai dengan desain serta seragam
dari bets ke bets dan untuk memudahkan pembersihan
serta perawatan
Desain dan konstruksi

Desain dan konstruksi peralatan hendaklah memenuhi persyaratan-persyaratan berikut:


 Peralatan hendaklah didesain dan dikonstruksikan sesuai dengan tujuannya.
 Permukaan peralatan yang bersentuhan langsung dengan bahan awal, produk antara
atau pun produk jadi tidak boleh menimbulkan reaksi
 pelumas atau pendingin tidak boleh bersentuhan dengan bahan yang sedang diolah
sehingga tidak dipengaruhi identitas, mutu atau kemurnian bahan awal, produk
antara ataupun produk jadi.
 Peralatan tidak boleh merusak produk
 Peralatan hendaknya didesain sedimikian rupa agar mudah dibersihkan.
 Peralatan yang digunakan hendaklah tidak berakibat buruk pada produk.
 Semua peralatan khusus untuk pengolahan bahan mudah terbakar atau
bahan.
 Hendaklah tersedia alat timbang dan alat ukur dengan rentang dan ketelitian
yang tepat untuk proses produksi dan pengawasan.
 Fiter cairan yang digunakan untuk proses produksi hendaklah tidak
melepaskan serat kedalam produk.
 Pipa air suling, air de-ionisasi dan bila perlu pipa air lain untuk produksi
hendaklah di sanitasi sesuai prosedur tertulis. Prosedur tersebut hendaklah
berisi rincian batas cemaran mikroba dan tindakan yang harus dilakukan.
Penempatan dan Dikualifikasi dengan tepat

• Peralatan hendaklah ditempatkan dengan jarak yang cukup renggang dari


peralatan lain untuk memberikan keleluasaan kerja dan memastikan tidak
terjadinya campur-baur atau kekeliruan.
• Semua ban mekanis terbuka dan kerekan hendaklah dilengkapi dengan
pengaman.
• Saluran air, uap, uadara bertekanan atau hampa udara hendaklah dipasang
sedemikian rupa sehingga mudah dicapai selama kegiatan berlangsung dan
diberi label atau tanda yang jelas agar mudah dikenali.
Penempatan dan Dikualifikasi dengan tepat

• Peralatan hendaklah ditempatkan dengan jarak yang cukup renggang dari


peralatan lain untuk memberikan keleluasaan kerja dan memastikan tidak
terjadinya campur-baur atau kekeliruan.
• Semua ban mekanis terbuka dan kerekan hendaklah dilengkapi dengan
pengaman.
• Saluran air, uap, udara bertekanan atau hampa udara hendaklah dipasang
sedemikian rupa sehingga mudah dicapai selama kegiatan berlangsung dan
diberi label atau tanda yang jelas agar mudah dikenali.
Pemeliharaan Peralatan
• Peralatan hendaklah dirawat dengan benar dan tepat agar tetap berfungsi
dengan baik dan mencegah terjadinya pencemaran yang dapat merubah
identitas, mutu atau kemurnian produk.
• Prosedur yang ada dalam perawatan peralatan hendaklah dibuat dan
dipatuhi.
• Catatan mengenai pelaksanaan dan pemeliharaan dan pemakaian suatu
peralatan utama hendaklah dicakup dalam buku catatan harian yang
menunjukkan tanggal, waktu, produk, kekuatan dan nomor setiap bets atau
lot yang diolah dengan perlatan yang bersangkutan.
12. SANITASI

Sanitasi adalah cara pengawasan masyarakat yang


menitikberatkan kepada pengawasan terhadap
berbagai factor lingkungan yang mungkin
mempengaruhi derajat kesehatan masyarakat
(azwar,1998;Prescott,2002)
Prinsip Sanitasi

• Tingkat sanitasi dan higiene yang tinggi hendaklah


diterapkan pada setiap aspek pembuatan obat. Ruang
lingkupnya meliputi personil,bangunan,peralatan dan
perlengkapan,bahan produksi serta wadahnya,bahan
pembersih dan desinfektan dan segala sesuatu yang
dapat merupakan sumber pencernaan produk.
Sanitasi dan Higiene perorangan
Meliputi:
1. Tiap personil yang masuk ke area pembuatan hendaklah mengenakan pakaian
pelindung yang sesuai dengan kegiatan yang dilaksanakannya.
2. Prosedur higiene perorangan termasuk persyaratan untuk mengenakan pakaian
pelindung hendaklah diberlakukan bagi semua personil yang memasuki area
produksi, baik karyawan purnawaktu,paruhwaktu atau bukan karyawan yang berada
di area pabrik,missal karyawan kontraktor,pengunjung,anggota menajemen senior
dan inspektur.
3. menjamin perlindungan produk dari pencemaran dan untuk keselamatan personil,
hendaklah personil mengenakan pakaian pelindung yang bersih dan sesuai dengan
tugasnya termasuk penutup rambut. Pakaian kerja kotor dan lap pembersih kotor
(yang dapat dipakai ulang) hendaklah disimpan dalam wadah tertutup hingga saat
pencucian, dan bila perlu, didisinfeksi atau disterilisasi.
4. Program higiene yang rinci hendaklah dibuat dan
diadaptasikan terhadap berbagai kebutuhan di dalam area
pembuatan. Program tersebut hendaklah mencakup prosedur
yang berkaitan dengan kesehatan, praktik higiene dan pakaian
pelindung personil. Prosedur hendaklah dipahami dan dipatuhi
secara ketat oleh setiap personil yang bertugas di area produksi
dan pengawasan. Program higiene hendaklah dipromosikan
oleh manajemen dan dibahas secara luas selama sesi pelatihan.
Sanitasi bangunan dan fasilitas
• Sanitasi bangunan dan fasilitas sediaan steril meliputi:
1. Bangunan yang digunakan untuk pembuatan obat hendaklah didesain dan
dikonstruksi dengan tepat untuk memudahkan sanitasi yang baik.
2. Hendaklah tersedia dalam jumlah yang cukup sarana toilet dengan ventilasi
yang baik dan tempat cuci bagi personil yang letaknya mudah diakses dari area
pembuatan.
3. Hendaklah disediakan sarana yang memadai untuk penyimpanan pakaian
personil dan milik pribadinya di tempat yang tepat.
4. Penyiapan, penyimpanan dan konsumsi makanan dan minuman hendaklah
dibatasi di area khusus, misalnya kantin. Sarana ini hendaklah memenuhi
standar saniter.
Pembersihan dan sanitasi peralatan
• 1. Setelah digunakan, peralatan hendaklah dibersihkan baik bagian luar maupun
bagian dalam sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan, serta dijaga dan
disimpan dalam kondisi yang bersih. Tiap kali sebelum dipakai, kebersihannya
diperiksa untuk memastikan bahwa semua produk atau bahan dari bets
sebelumnya telah dihilangkan.
• 2. Metode pembersihan dengan cara vakum atau cara basah lebih dianjurkan.
Udara bertekanan dan sikat hendaklah digunakan dengan hati-hati dan bila
mungkin dihindarkan karena menambah risiko pencemaran produk.
• 3. Pembersihan dan penyimpanan peralatan yang dapat dipindahpindahkan dan
penyimpanan bahan pembersih hendaklah dilaksanakan dalam ruangan yang
terpisah dari ruangan pengolahan.
Validasi prosedur pembersihan dan sanitasi
• Prosedur hendaklah mencantumkan:

a) Penanggung jawab untuk pembersihan alat;


b) Jadwal pembersihan, termasuk sanitasi, bila perlu;
c) Deskripsi lengkap dari metode pembersihan dan bahan pembersih yang digunakan termasuk
pengenceran bahan pembersih yang digunakan;
d) Instruksi pembongkaran dan pemasangan kembali tiap bagian alat, bila perlu, untuk
memastikan pembersihan yang benar;
e) Instruksi untuk menghilangkan atau meniadakan identitas bets sebelumnya;
f) Instruksi untuk melindungi alat yang sudah bersih terhadap kontaminasi sebelum digunakan;
g) Inspeksi kebersihan alat segera sebelum digunakan; dan
h) Menetapkan jangka waktu maksimum yang sesuai untuk pelaksanaan pembersihan alat setelah
selesai digunakan produksi.
13. AIR

Pendahuluan
• Air dalam Industri Farmasi Untuk kebutuhan pencucian alat-alat, sebagai
pelarut bahan dan sumber pembuatan steam
 untuk proses sterilisasi
• Parameter untuk mengukur kualitas air adalah:
1. Konduktivitas;
2. pH;
3. Total Organic Carbon (TOC);
4. bioburden;
5. endotoksin.
• Sistem Pengolahan Air (SPA)

Pengertian


SPA adalah sistem yang mengolah air dari air mentah (raw water) menjadi air
murni sesuai dengan syarat farmakope.

3 hal yang diatur di dalam Sistem Pengolahan Air


Spesifikasi Mutu Air

Sistem Pemurnian Air

Sistem Penyimpanan dan Distribusi Air
• Jenis-jenis air yang digunakan pada industri farmasi
adalah sebagai berikut:
Jenis-jenis AIR

Drinking
Water/Potable
Water

Purified Water
(PW)/Bulk Purified
Water(BPW)
14. PENGOLAHAN
• 83. Hendaklah dilakukan tindakan pencegahan untuk mengurangi
pencemaran pada seluruh tahap pengolahan termasuk tahap sebelum
proses sterilisasi.

• 84. Pembuatan produk yang berasal dari sumber mikrobiologis hendaklah


tidak di proses atau di isi di area yang digunakan untuk pembuatan obat
lain; namun, vaksin yang mengandung organism mati atau ekstrak
bacterial dapat diisikan kedalam wadah-wadah, di dalam bangunan dan
fasilitas yang sama dengan obat steril lain, setelah proses inaktivasi yang
tervalidasi dan pembersihan menurut prosedur yang tervalidasi.
• 85. Validasi proses aseptis hendaklah mencakup uji simulasi proses
menggunakan media pertumbuhan (media fill). Pemilihan media
pertumbuhan hendaklah dilakukan berdasarkan bentuk sediaan dan
selektivitas, kejernihan, konsentrasi dan cara sterilisasi yang sesuai untuk
media tersebut.

• 86. Uji simulasi proses hendaklah dilakukan semirip mungkin dengan proses
rutin pembuatan aseptis dan mencakup semua langkah kritis pada tahap
pembuatan berikut. Perlu juga dipertimbangkan berbagai intervensi yang
diperkirakan akan terjadi saat produksi normal termasuk kasus terburuk.
• 87. Uji simulasi proses sebagai validasi awal hendaklah dilakukan dengan
tiga uji simulasi berturut-turut yang berhasil per shift, dan diulangi
dengan interval yang ditetapkan dan bila ada perubahan signifikan pada
sistem tata udara, peralatan, proses dan jumlah shift. Biasanya uji
simulasi proses dilakukan dua kali setahun untuk tiap shift dan proses.
•  
• 88. Jumlah wadah yang digunakan untuk media fill hendaklah cukup
memungkinkan evaluasi absah. Untuk bets ukuran kecil, jumlah wadah
untuk media fill hendaklah minimal sama dengan
• ukuran bets produk. Target hendaklah dengan pertumbuhan nol dan ketentuan berikut
hendaklah diterapkan: a) Bila mengisi kurang dari 5.000 unit, tidak boleh ditemukan
unit tercemar; b) Bila mengisi 5.000 sampai dengan 10.000 unit:  Satu (1) unit
tercemar hendaklah diikuti dengan investigasi dan pertimbangan untuk mengulang
media fill;  Dua (2) unit tercemar merupakan pertimbangan untuk dilakukan validasi
ulang setelah investigasi; c) Bila mengisikan lebih dari 10.000 unit:  Satu (1) unit
tercemar hendaklah dinvestigasi;  Dua (2) unit tercemar merupakan pertimbangan
untuk dilakukan validasi ulang setelah investigasi.
• 89. Pencemaran yang terjadi sesekali pada pengisian dengan jumlah berapapun,
mungkin merupakan indikasi pencemaran dalam konsentrasi rendah dan hendaklah
dianggap mempunyai dampak pada pemastian sterilitas (sterility assurance) dari bets
yang diproduksi setelahmedia fill terakhir yang dinyatakan sukses.
• 90. Perhatian hendaklah diberikan bahwa dengan melaksanakan validasi tidak berarti dapat
melakukan kompromi terhadap proses.
• 91. Untuk menghindarkan penyebaran partikel dan mikroba secara berlebihan, kegiatan
dalam area bersih, terutama saat berlangsung proses aseptis, hendaklah dibatasi dan gerakan
personil hendaklah terkendali, hati-hati dan sistematis. Suhu dan kelembaban lingkungan
hendaklah tidak tinggi sehingga mengganggu kenyamanan akibat sifat pakaian yang
dikenakan.
• 92. Cemaran mikroba bahan awal hendaklah minimal. Spesifikasi bahan awal hendaklah
mencakup persyaratan kandungan mikroba bila kebutuhan untuk itu telah ditunjukan melalui
hasil pemantauan.
• 93. Wadah dan bahan yang dapat membentuk partikel hendaklah dibatasi jumlahnya di
dalam area bersih dan disingkirkan saat proses aseptis sedang berlangsung.
• 94. Di mana dapat dilakukan hendaklah diambil tindakan untuk mengurangi kontaminasi partikulat terhadap
produk akhir.

• 95. Komponen, wadah dan peralatan, setelah proses pembersihan/pencucian akhir, hendaklah ditangani
sedemikian rupa sehingga tidak terjadi rekontaminasi.

• 96. Interval antara pencucian dan pengeringan serta sterilisasi komponen, wadah dan peralatan maupun antara
sterilisasi dan penggunaannya hendaklah sesingkat mungkin dan diberi batas waktu yang sesuai dengan kondisi
penyimpanan tervalidasi.

• 97. Jarak waktu antara awal pembuatan larutan dan sterilisasi atau filtrasi melalui filter mikroba hendaklah
sesingkat mungkin. Batas waktu maksimum hendaklah ditentukan dengan mempertimbangkan komposisinya dan
metode penyimpanan yang ditentukan. Kecuali dilakukan tindakan khusus, volume larutan ruahan hendaklah
tidak lebih besar daripada jumlah yang dapat diisi dalam satu hari dan hendaklah diisi ke dalam wadah akhir serta
disterilisasi dalam satu hari kerja.
• 98. Tahap pengolahan komponen, wadah produk ruahan dan peralatan hendaklah diberi identitas yang benar.

• 99. Semua gas yang dialirkan ke dalam larutan atau digunakan untuk menyelimuti produk hendaklah dilewatkan
melalui filter penyaring mikroba.

• 100. Bioburden hendaklah dipantau sebelum proses sterilisasi. Hendaklah ditetapkan batas bioburden segera
sebelum proses sterilisasi yang dikaitkan dengan efisiensi metode sterilisasi yang digunakan. Penentuan bioburden
hendaklah dilakukan terhadap tiap bets produk, baik yang diproses dengan sterilisasi akhir maupun secara aseptis.
Bila parameter sterilisasi overkill ditetapkan untuk produk dengan sterilisasi akhir, pemantauan bioburden boleh
hanya secara berkala dengan interval menurut jadwal yang sesuai. Untuk sistem pelulusan parametris, penentuan
bioburden hendaklah dilakukan terhadap tiap bets dan dikategorikan sebagai pengujian selama-proses. Bila
dipersyaratkan, hendaklah dilakukan pemantauan terhadap cemaran endotoksin. Semua sediaan cair, khususnya
larutan infus volume besar, hendaklah dilewatkan melalui filter mikroba yang, jika mungkin, dipasang dekat
sebelum proses pengisian.

• 101. Bilamana larutan dalam air disimpan dalam tangki tertutup rapat, semua katup pelepas tekanan hendaklah
dilindungi misal dengan filter udara mikroba hidrofobik.
• 102. Semua komponen, wadah, peralatan dan barang lain yang diperlukan
dalam area bersih, di mana proses aseptis berlangsung, hendaklah
disterilkan dan dimasukkan ke area bersih melalui alat sterilisasi berpintu-
ganda yang dipasang menyatu pada dinding, atau melalui suatu prosedur
yang dapat mencapai tujuan yang sama yaitu tidak menimbulkan
kontaminasi.

• 103. Efikasi dari suatu prosedur baru hendaklah divalidasi. Validasi ini
hendaklah diverifikasi pada interval yang dijadwalkan berdasarkan riwayat
kinerja atau bila ada perubahan signifikan pada proses atau peralatan.
15. STERILISASI
Sterilisasi berawal dari kata steril yg berarti bersih dari
kuman atau mikroorganisme lain. Menurut KBBI
sterilisasi adalah perlakuan untuk menjadikan suatu bahan
atau benda bebas dari mikroorganisme dengan cara
pemanasan, penyinaran, atau dengan zat kimia untuk
mematikan mikroorganisme hidup maupun sporanya.
Lima metode yang umum digunakan untuk mensterilkan
produk farmasi:

1. Sterilisasi uap (lembap panas)


2. Sterilisasi panas kering
3. Sterilisasi dengan penyaringan
4. Sterilisasi gas
5. Sterilisasi dengan radiasi pengionan
Produk Steril
a) Produk steril hendaklah dibuat dengan pengawasan khusus dan memperhatikan hal-hal
terinci dengan tujuan untuk menghilangkan pencemaran mikroba dan partikel lain.
b) Menurut cara produksi, produk steril dapat digolongkan dalam dua kategori utama yaitu
yang harus diproses dengan cara aseptik pada semua tahap, dan yang disterilkan dalam
wadah akhir yang disebut juga sterilisasi akhir.
c) Semua produk steril hendaklah dibuat pada kondisi yang terkendali dan dipantau
dengan teliti. Pelaksanaan proses akhir atau pengujian akhir tidak dapat dijadikan
sebagai satu-satunya andalan untuk menjamin mutu produk akhir dalam hal kandungan
mikroba dan partikel.
d) Untuk mendapat keyakinan terhadap sterilisasi produk steril yang dibuat secara aseptik
tanpa sterilisasi akhir diperlukan tindakan khusus.
• Untuk membuat produk steril diperlukan suatu ruangan terpisah yang khusus
dirancang. Memasuki ruangan ini hendaklah melalui suatu ruang penyangga
udara atau jalan terusan lain yang sesuai. Ruangan hendaklah selalu bebas debu
dan dialiri udara yang melewati saringan bakteri. Tekanan udara dalam ruangan
hendaklah lebih tinggi dari ruangan di sebelah. Saringan yang digunakan ini
hendaklah diperiksa pada waktu pemasangan dan secara berkala. Semua
permukaan dalam daerah pengolahan hendaklah dirancang dengan tepat
sehingga memudahkan kebersihan dan pembasmihamaan. Penghitungan rutin
mikroba dalam ruangan hendaklah dilakukan sebelum dan selama proses
pengolahan. Hasil perhitungan hendaklah dibandingkan dengan standar yang
telah ditetapkan. Data perhitungan mikroba hendaklah didokumentasikan.
f) Pembuatan produk steril memerlukan tiga kualitas ruangan yang berbeda:
i. Ruang ganti pakaian dimana di satu daerah pakaian kerja pabrik ditanggalkan
dan di daerah sebelahnya yang bersih pakaian pelindung steril dikenakan.
ii. Ruang bersih yang digunakan untuk kegiatan bersih namun tidak harus kegiatan
steril.
iii. Ruang steril digunakan untuk kegiatan steril. Petugas masuk ke ruang ini melalui
suatu ruang penyangga udara atau cara lain yang sesuai.
iv. Penting diperhatikan bahwa kontaminasi mikroba di ruangan bersih dan ruangan
steril tidak melebihi nilai batas yang ditentukan. Daerah ini hendaklah dipantau
terhadap kontaminasi mikroba.
Sterilisasi Cara Panas
a) Semua siklus sterilisasi cara panas hendaklah dicatat pada suatu grafik
suhu-waktu atau dengan cara otomatik lain yang sesuai. Catatan suhu-
waktu hendaklah merupakan bagian dari catatan bets. Indikator kimia
dan biologi dapat digunakan sebagai tambahan tetapi tidak
menggantikan peran pengawasan fisik.

b) Pada periode pendinginan setelah mencapai fase suhu tertinggi


hendaklah dicegah kemungkinan kontaminasi terhadap muatan yang
sudah steril oleh udara tidak steril yang masuk ke otoklaf pada saat
pendinginan tersebut berlangsung.
Sterilisasi Panas Basah
• Cara ini cocok untuk larutan air dan bahan yang dapat dibasahi air. Bahan jenis
lain hendaklah disterilkan dengan cara lain.
• Sterilisasi panas basah dicapai dengan menggunakan uap airjenuh yang
bertekanan dalam rongga sterilisasi yang sesuai.
• Barang yang akan disterilkan. selain dari produk berair dalam wadah tertutup
rapat. hendaklah dibungkus dalam suatu bahan yang memungkinkan
penghilangan udara danpenetrasi uap air. dan yang dalam keadaan normal tidak
akan mengakibatkan pencemaran balik oleh mikroba setelah sterilisasi.
• Hendaklah diperhatikan agar uap air yang digunakan pada sterilisasi mempunyai
mutu yang tepat dan tida mengandung bahan tambahan dalam kadar yang dapat
mencemari produk atau peralatan.
Sterilisasi Panas Kering

a) Pemanasan kering cocok untuk sterilisasi peralatan,


larutan bukan air dan bahan lain yang tahan terhadap
suhu sterilisasi yang dikehendaki.
b) Pemanasan hendaklah dilakukan di dalam suatu lemari
sterilisasi atau peralatan lain yang dapat mencapai kondisi
sterilisasi pada seluruh muatan. Sistem penyalur udara
dan penghisap udara pada lemari sterilisasi hendaklah
dilengkapi saringan yang tepat.
Sterilisasi Cara Saring
a) Cara sterilisasi dengan penyaringan sebaiknya tidak dipakai bila sterilisasi carapanas masih
memungkinkan.
b) Larutan atau cairan dapat disterilkan dengan penyaringan dengan ukuran nominal pori 0,22 mikron
atau yang sama kemampuannya menahan mikroba.
c) Keutuhan perangkat saringan hendaklah diperiksa dengan metode yang tepat misalnya uji tekanan
titik-gelembung atau uji tekanan aliran-maju yang dilakukan segera sebelum dan sesudah
pemakaian saringan. Hasil pemeriksaan dicatatpada catatan bets.
d) Saringan tidakboleh menimbulkan akibat yang merugikan pada larutan, misalnya menyerap bahan
berkhasiat dari larutan atau melepas zat ke dalam larutan.
e) Karena sterilisasi cara saring mengandung risiko yang lebih besar dibandingkan cara sterilisasi lain
dianjurkan melakukan penyaringan ulang melalui saringan bakteri steril segera sebelum pengisian.
f) Masa pakai saringan steril hendaklah dibatasi untuk memastikan tidak terjadinya pertumbuhan
mikroba di dalam saringan tersebut.
Sterilisasi dengan Gas Etilen Oksida
a) Efektifitas gas etilen oksida sebagai bahan sterilisasi tergantung pada konsentrasi, suhu,
kelembaban, lamanya persentuhan dengan bahan dan tingkat kontaminasi mikroba.
b) Seluruh siklus sterilisasi hendaklah dipantau dengan indikator biologi yang tepat yang
ditempatkan pada seluruh muatan Catatan hasil pemantauan merupakan bagian dari catatan
bets.
c) Setelah sterilisasi selesai bahan hendaklah diletakkan dalam ruangan yang berventilasi baik untuk
menghilangkan sisa etilen oksida serta produk hasil reaksinya. Hendaklah diambil langkah untuk
mencegah pencemaran balik bahan yang sudah steril.
d) Selama siklus sterilisasi hendaklah dicatat waktu untuk menyelesaikan satu siklus, tekanan, suhu,
konsentrasi gas dan kelembaban dalam rongga sterilisasi.
e) Tekanan, suhu dan kelembaban nisbi selama satu siklus hendaklah diawasi dan dicatat dalam
suatu grafik atau dengan cara otomatik lain yang sesuai. Catatan ini merupakan bagian dari
catatan bets
Sterilisasi Cara Radiasi
a) Sterilisasi dengan cara radiasi dipakai terutama untuk mensterilkan bahan dan produk yang peka
terhadap panas. Cara ini hanya dipakai bila telah terbukti bahwa tidak ada efek yang merugikan
produk.
b) Radiasi yang digunakan dapat berupa sinar gamma dari radio isotop (misalnya Cobalt-60) atau
elektron berenergi tinggi yang berasal dari suatu akselerator elektron.
c) Radiasi dapat dilakukan oleh pabrik pembuat produk atau oleh seorang petugas di perusahaan
penerima kontrak yang memiliki fasilitas radiasi. Dalam hal ini kedua belah pihak harus
memiliki otorisasi yang diperlukan untuk pekerjaan tersebut.
d) Pabrik pembuat produk bertanggungjawab atas kualitas produk termasuk pencapaian tujuan dari
produk yang diradiasikan.
e) Selama sterilisasi dosis radiasi hendaklahrdipantau. Untuk tujuan ini hendaklah ada prosedur
pengukuran dosis yang menentukan jumlah atau ukuran dosis yang diterimaoleh produk.
Indikator biologi hendaklah dipakai hanya sebagai tambahan. Catatan hasil pemantauan
merupakan bagian dari catatan bets.
f) Hendaklah diberikan penandaan yang jelas untuk membedakan bahan yang sudah dan yang belum
diradiasi. Rancang bangun sarana radiasi dan penggunaan pelat peka radiasi dapat membantu
memberikan kepastian hal ini.
g) Jumlah wadah yang diterima, diradiasi dan dikirim keluar hendaklah direkonsiliasi satu dengan
yang lain dan didokumentasikan. Setiap penyimpangan hendaklah dilaporkan dan dituntaskan.
h) Rentang dosis sterilisasi yang diperoleh setiap wadah dalam satu bets atau satu pengiriman
hendaklah dinyatakan secara tertulis oleh petugas radiasi. Dosis minimum sterilisasi yang biasa
adalah 2,5 megarad.
i) Catatan proses dan pengawasan masing-masing bets yang diradiasi hendaklah diteliti dan ditanda-
tangani oleh petugas yang ditunjuk dan kemudian disimpan. Metode dan tempat penyimpanan
catatan hendaklah disetujui bersama oleh pihak perusahaan radiasi dan pabrik pembuat produk
yang diradiasi.
j) Pabrik pembuat produk bertanggung jawab atas pemantauan mikrobiologi. Kegiatan ini mencakup
pemantauan lingkungan dimana produk dibuat dan pemantauan produk segera sebelum diradiasi
sesuai yang ditetapkan dalam registrasi produk.
16. FILTRASI PRODUK YANG TIDAK DAPAT DISTERILKAN DALAM WADAH AKHIRNYA

Filtrasi adalah proses atau


kegiatan yang membebaskan
suatu bahan atau benda dari
semua bentuk kehidupan dengan
menggunakan suatu saringan
yang berpori sangat kecil (0,22
mikron atau 0,45 mikron)
sehingga mikroba tertahan pada
Filtrasi Merupakan proses penghilangan
saringan tersebut.
mikroorganisme, bukan menghancurkan
mikroorganisme.
Filtrasi Produk Yang Tidak Dapat Disterilkan Dalam
Wadah Akhirnya
Bila produk tidak dapat disterilkan dalam
wadah akhirnya, larutan atau cairan dapat
difiltrasi ke dalam wadah yang telah
disterilkan sebelumnya melalui filter steril
dengan ukuran pori nominal 0,22 mikron
(atau lebih kecil).
Filter tertentu dapat menghilangkan bakteri
dan kapang, tapi tidak menghilangkan semua
virus atau mikoplasma.
Filtrasi

• Metode filtrasi memiliki potensi risiko tambahan


dibandingkan dengan proses sterilisasi lain.
• Setelah filtrasi pertama dianjurkan untuk melakukan
filtrasi kedua dengan filter yang sudah disterilkan,
yang mampu menahan mikroba, segera sebelum
pengisian.
– INTEGRITAS FILTER
 Integritas filter yang telah disterilisasi
hendaklah diverifikasi sebelum digunakan
dan dikonfirmasikan Dengan
menggunakan metode yang sesuai, seperti
uji bubble point, diffusive flow atau
pressure hold.
• Waktu yang dibutuhkan untuk memfiltrasi
larutan ruahan dengan volume tertentu dan
perbedaan tekanan yang digunakan untuk
INTEGRITAS FILTER

• Integritas filter ventilasi udara dan gas yang kritis hendaklah


dikonfirmasi sesudah digunakan. Integritas filter lain
hendaklah dikonfirmasi pada interval waktu yang sesuai.
Hendaklah dipertimbangkan untuk meningkatkan
pemantauan integritas filter pada proses yang melibatkan
kondisi berat, misal sirkulasi udara bersuhu tinggi.
17. INDIKATOR BIOLOGIS DAN
KIMIAWI

Indikator adalah variabel yang dapat digunakan untuk mengevaluasi


keadaan atau status dan memungkinkan dilakukannya pengukuran
terhadap perubahan-perubahan yang terjadi dari waktu ke waktu.
Indikator dalam CPOB yaitu indikator biologis dan kimiawi.
Indiktor ini digunakan dalam proses sterilisasi, tetapi penggunaan
indikator ini tidak dapat diterima sebagai bukti bahwa proses
sterilisasi telah efektif, karena hanya menunjukkan kegagalan
proses sterilisasi bukan berhasil dengan sempurna.
INDIKATOR BIOLOGIS

Merupakan indikator yang berasal dari makhluk hidup atau mikroorganisme yang ada di dalam media. Contohnya, cacing tanah, lumut
kerak, fitoplankton, zooplankton, diatom dan dinofalgellata. Indikator biologis dipakai dalam sterilisasi radiasi (Bacillus Pumillus), dan
sterilisasi dengan gas etilen oksida (Bacillus atrophaeus).

Penggunaan indikator biologi kurang dapat diandalkan dibandingkan dengan pamantauan cara fisik. Tindakan pengamanan ketat
hendaklah dilakukan dalam penanganan indikator biologis karena adanya potensi bahaya untuk mencemari area bersih secara
mikrobiologis.


Indikator kimiawi adalah indikator yang diamati karena adanya reaksi,
reaksi senyawa yang terjadi pada media. Tersedia indikator kimiawi untuk
sterilisasi cara panas, gas etilen oksida dan radiasi, biasanya dalam bentuk
pita atau lembaran adhesif (kertas lakmus) dan kartu bercak-warna (kertas
pH) atau pH meter. Indikator tersebut akan berubah warna akibat reaksi
kimiawi karena proses sterilisasi
A. pH METER
Cara menggunakan pH Meter :
1. Ambil sampel yang mau di ukur kadar pH nya (Letakkan dalam wadah)
2. Nyalakan dengan menekan tombol on pada pH Meter.
3. Masukkan pH meter kedalam wadah yang berisi
sampelyang akan di uji.
4. Pada saat di celupkan kedalam sampel, skala angka
akan bergerak acak
5. Tunggu hingga angka tersebut berhenti dan tidak berubah-ubah
2. KERTAS LAKMUS
Cara menggunakankertaslakmus :
1. Siapkan sampel yang akan di uji, tempatkan kedalam
gelas kimia
2. Setelah sampel siap di uji, celupkanl akmus merah/ biru ke
dalam sampel tersebut
3. Selanjutnya lihat perubahan pada kertas lakmus. Jika
lakmus merah berubah menjadi biru, maka sampel merupakan basa.
Sedangankan jika lakmus biru berubah menjadi merah maka sampel merupakan
asam.
18. Penyelesaian Produk Steril
• Sterilisasi akhir atau penyelesaian
sterilisasi adalah sterilisasi produk
tahap panas dalam wadah akhir
diutamakan dilakukan dengan cara
panas basah . Bahan obat yang tidak
tahan panas strerilisasi
dapat dilakukan dengan
cara filtrasi yang diikuti
dengan pengisian secara
aseptis.
Bahan obat yang tidak
tahan panas strerilisasi • Sistem penutupan wadah untuk
dapat dilakukan dengan vial yang diisikan secara aseptis
cara filtrasi yang diikuti belum sempurna sampai tutup
dengan pengisian secara alumunium dicengkramkan pada
aseptis. vial yang sudah tertutup stopper ,

Restricted access barriers


(RAB) dan isolator dpat
membantu dalam
pencapaian kondisi yang
dipersyaratkan dan
meminimalkan intervensi
langsung oleh manusia pada
proses capping .
Wadah terisi produk
parenteral hendaklah
diinpeksi terhadap
kontaminasi oleh benda
asing atau cacat lain .bila
inpeksi secara visual
dilakukan pencahayaan .
Bila dilakukan metode inpeksi
proses ini hendaklah divalidasi
dan kinerja peralatan
hendaklah diperiksa secara
berkala . Dan hasilnya harus
dicatat.
19. Pengawasan Mutu ( Quality Control )

Definisi
• Pengawasan Mutu / Quality Control
Pengawasan Mutu adalah bagian dari CPOB yang berhubungan dengan pengambilan sampel,
spesifikasi dan pengujian, serta dengan organisasi, dokumentasi dan prosedur pelulusan yang
memastikan bahwa pengujian yang telah diperlukan dan relevan dilakukan dan bahwa bahan
yang belum dilakukan tidak digunakan serta produk yang belum diluluskan tidak dijual atau
dipasok sebelum mutunya di nilai dan dinyatakan memenuhi syarat.
Setiap industri farmasi hendaklah mempunyai fungsi pengawasan mutu. Fungsi ini hendaklah
independen dari bagian lain. Sumber daya yang memadai hendaklah tersedia untuk
memastikan bahwa semua fungsi Pengawasan Mutu dapat dilaksanakan secara efektif dan
dapat diandalkan.
Tujuan pokok

• Tujuan pokok dari pengendaian mutu itu sendiri adaah untuk


mengetahui sampai seberapa jauh proses hasil produk dan
jasa yang dibuat sesuai dengan standar yang ditetapkan
perusahaan, agar standar spesifikasi produk yang telah
ditetapkan sebelumnya tercermin dalam hasil produk akhir dan
agar biaya desin produk, biaya inspeksi, dan biaya proses
produksi dapat berjalan secara efisien, sehingga produk yang
dihasilkan bermutu baik dengan harga jual yang logis dan daya
saing dapat ditingkatkan.
Hal-hal yang harus dipenuhi dari Pengawasan Mutu

a. Sarana dan prasarana yang memadai, personil yang terlatih dan prosedur yang disetujui tersedia untuk
pengambilan sampel, pemeriksaan dan pengujian bahan awal, bahan pengemas, produk antara, produk ruahan dan
produk jadi, dan bila perlu untuk pemantauan lingkungan sesuai dengan tujuan CPOB.
b. Pengambilan sampel bahan awal, bahan pengemas, produk antara, produk ruahan dan produk jadi dilakukan oleh
personil dengan metode yang disetujui oleh Pengawasan Mutu.
c. Metode pengujian disiapkan dan divalidasi.
d. Pencatatan dilakukan secara manual atau dengan alat pencatat selama pembuatan yang menunjukkan bahwa
semua langkah yang di persyaratkan dalam prosedur pengambilan sampel, inspeksi dan pengujian benar-benar
telah dilaksanakan tiap penyimpangan dicatat secara lengkap dan di investigasi.
e. Produk jadi berisi zat aktif dengan komposisi secara kualitatif dan kuantitatif sesuai dengan yang disetujui pada
saat pendaftaran dengan derajat kemurnian yang di persyaratkan serta dikemas dalam wadah yang sesuai dan
diberi label yang benar;
f. Dibuat catatan hasil pemeriksaan dan analisis bahan awal, bahan pengemas, produk antara, produk ruahan, dan
produk jadi secara formal dinilai dan dibandingkan terhadap spesifikasi.
g. Sampel pertinggal bahan awal dan produk jadi disimpan dalam jumlah yang cukupuntuk dilakukan pengujian
ulang bila perlu. Sampel produk jadi disimpan dalam kemasan akhir kecuali untuk kemasan yang besar.
Pengkajian Mutu Produk
a. Kajian terhadap bahan awal dan bahan pengemas yang digunakan untuk produk,terutama yang dipasok dari sumber baru
b. Kajian terhadap pengawasan selama proses yang kritis dan hasil pengujian produk jadi.
c. Kajian terhadap semua bets yang tidak memenuhi spesifikasi yang ditetapkan dan investigasi yang dilakukan
d. Kajian terhadap semua penyimpangan atau ketidaksesuaian yang signifikan, danefektivitas hasil tindakan perbaikan dan
pencegahan
e. Kajian terhadap semua perubahan yang dilakukan terhadap proses atau metode analisis
f. Kajian terhadap variasi yang diajukan, disetujui, ditolak dari dokumen registrasi yangtelah disetujui termasuk dokumen registrasi
untuk produk ekspor
g. Kajian terhadap hasil program pemantauan stabilitas dan segala tren yang tidak diinginkan
h. Kajian terhadap semua produk kembalian, keluhan dan penarikan obat yang terkait dengan mutu produk, termasuk investigasi
yang telah dilakukan
i. Kajian kelayakan terhadap tindakan perbaikan proses produk atau peralatan yangsebelumnya
j. Kajian terhadap komitmen pasca pemasaran dilakukan pada obat yang baru mendapatkan persetujuan pendaftaran dan
variasi persetujuan pendaftaran
k. Status kualifikasi peralatan dan sarana yang relevan misal sistem tata udara (HVAC), air, gas bertekanan, dan lain-lain
l. Kajian terhadap Kesepakatan Teknis untuk memastikannya selalu mutakhir
• Pengawasan Mutu secara menyeluruh juga memunyai tugas
lain, antara lain menetapkan, memvalidasi dan menerapkan
semua prosedur pengawasan mutu, mengevaluasi, mengawasi
dan menyimpan baku pembandingan, memastikan kebenaraan
label wadah bahan dan produk, memastikan bahwa stabilitas
dari zat aktif dan obat jadi dipantau, mengambil bagian
investigasi keluhan yang berkaitan dengan produk dan ikut
mengambil bagian dalam pemantauan lingkungan.
TERIMAKASIH

Anda mungkin juga menyukai