Anda di halaman 1dari 16

PATOFISIOLOGI

“SKHIZOPHRENIA”
Oleh:
Muthia Rizqy Fadhilah (62020050101)
Wahyu Agung Fitria Warda (62020050110)
Devi endah safitri (6202005117)
Eva Maria Suci Purwasih (62020050133)

KELAS JATIM-UMLA_S1 FARMASI UMKU


Skhizophrenia

■ Berasal dari bahasa Jerman yaitu schizo ( perpecahan/split) dan phrenos( pikiran/mind)
■ Pada skizofrenia terjadi suatu perpecahan pikiran,perilaku dan perasaan
■ Definisi : Sekelompok gangguan jiwa berat yang umumnya ditandai oleh distorsi proses pikir
dan persepsi yang mendasar,afek yang tidak wajar (inappropriate) atau tumpul ( blunted), tetapi
kesadarannya tetap jernih dan kemampuan intelektual biasanya tetap terpelihara.
Epidemiologi

■ Jarang terjadi pada penderita berusia kurang 10 tahun atau lebih dari 50 tahun
■ Pengobatan skizofrenia pada penderita yang berusia antara 15-55 tahun kira-kira hanya
sebanyak 90%.
■ Individu yang didiagnosis dengan skizofrenia 60-70% tidak pernah menikah.
■ Penderita skizofrenia 25-50% berusaha utuk bunuh diri dan 10 % berhasil melakukan bunuh
diri.
■ Umumnya penderita skizofrenia akan menggunakan zat untuk menurunkan depresi dan
kecemasan serta untuk mendapatkan keenangan. Penderita skizofrenia sekitar 80%
ketergantungan dengan nikotin.
Lanjutan

■ Prevalensi sebesar 1 % dari populasi di dunia ( rata-rata 0,85%)


■ Angka insidens : 1 per 10.000 orang pertahun.
■ Prevalensi skizofrenia berdasarkan jenis kelamin, ras dan budaya adalah sama. Wanita cenderung
mengalami gejala yang lebih ringan, lebih sedikit rawat inap dan fungsi sosial yang lebih baik di
komunitas di bandingkan laki-laki.
■ Onset skizofrenia pada laki-laki terjadi lebih awal dibandingkan pada wanita.
■ Onset puncak pada laki-laki terjadi pada usia 15-25 tahun sedangkan pada wanita terjadi pada
usia 25-35 tahun.
Klasifikasi
Kraeplin (dalam Maramis, 2009) membagi skizofrenia menjadi beberapa jenis sebagai
berikut:
1. Skizofrenia paranoid
Jenis skizofrenia ini sering mulai sesudah mulai 30 tahun.Permulaanya mungkin
subakut, tetapi mungkin juga akut. Kepribadian penderita sebelum sakit sering dapat
digolongkan schizoid. Mereka mudah tersinggung, suka menyendiri, agak congkak dan
kurang percaya pada orang lain.
Lanjutan

2. Skizofrenia hebefrenik
Permulaanya perlahan-lahan atau subakut dan sering timbul
pada masa remaja atau antara 15-25 tahun. Gejala yang
mencolok adalah gangguan proses berpikir, gangguan
kemauan dan adanya depersonalisasi atau double personality.
Gangguan psikomotor seperti mannerism, neologisme atau
perilaku kekanak-kanakan sering terdapat pada skizofrenia
heberfrenik, waham dan halusinasinya banyak sekali.

3. Skizofrenia katatonik
Timbulnya pertama kali antara usia 15-30 tahun, dan biasanya
akut serta sering didahului oleh stress emosional. Mungkin
terjadi gaduh gelisah katatonik atau stupor katatonik.
Lanjutan

4. Skizofrenia Simplex
Sering timbul pertama kali pada masa pubertas. Gejala utama pada
jenis simplex adalah kedangkalan emosi dan kemunduran kemauan.
Gangguan proses berpikir biasanya sukar ditemukan. Waham dan
halusinasi jarang sekali ditemukan.

5. Skizofrenia residual
Jenis ini adalah keadaan kronis dari skizofrenia dengan riwayat
sedikitnya satu episode psikotik yang jelas dan gejala-gejala
berkembang kea rah gejala negative yang Lebih menonjol. Gejala
negative terdiri dari kelambatan psikomotor, penurunan aktivitas,
penumpukan afek, pasif dan tidak ada inisiatif, kemiskinan
pembicaraan, ekspresi nonverbal yang menurun, serta buruknya
perawatan diri dan fungsi sosial.
Patofisiologi skizofrenia
Adanya ketidakseimbangan neurotransmiter di otak, terutama norepinefrin, serotonin, dan
dopamin (Sadock, 2015). Namun, proses patofisiologi skizofrenia masih belum diketahui secara
pasti. Secara umum, penelitian-penelitian telah menemukan bahwa skizofrenia dikaitkan dengan
penurunan volume otak, terutama bagian temporal (termasuk mediotemporal), bagian frontal,
termasuk substansia alba dan grisea. Dari sejumlah penelitian ini, daerah otak yang secara konsisten
menunjukkan kelainan adalah daerah hipokampus dan parahipokampus (Abrams, Rojas, &
Arciniegas, 2008). Pada penelitian neuroimaging penderita dengan skizofrenia, ditemukan
penurunan volume talamus dan deformitas thalamus, abnormalitas pada nukleus ventrolateral
(Smith, et.al., 2011).
Manifestasi klinis
■ Gejala utama skizofrenia paranoid adalah kemunculan delusi (waham) dan halusinasi, terutama halusinasi
pendengaran. Gejala ini dapat berkembang seiring berjalannya waktu dan terkadang dapat mereda meski tidak
sepenuhnya sembuh.
■ Dari sekian banyak jenis delusi, delusi kejar atau keyakinan akan adanya persekusi adalah gejala yang paling
sering muncul. Kondisi ini terlihat dengan munculnya rasa takut dan kecemasan yang besar pada hal-hal yang
tidak nyata. Delusi kejar merupakan cerminan dari ketidakmampuan membedakan kenyataan dan bukan.
■ Gejala delusi kejar yang dialami oleh penderita skizofrenia paranoid dapat berupa:
1. Merasa seseorang atau pemerintah sedang memata-matai aktivitas sehari-harinya
2. Merasa orang sekitar sedang bersekongkol untuk mencelakai dirinya
3. Merasa teman-teman atau orang terdekat mencoba mencelakai dirinya, salah satunya adalah pemikiran bahwa
ada yang memasukkan racun ke dalam makanannya
4. Merasa pasangannya sedang berselingkuh
Lanjutan

■ Selain delusi dan halusinasi, penderita skizofrenia paranoid juga sering berperilaku tidak terkontrol atau
kacau (disorganized behaviour) dan sulit dimengerti dalam berbicara.
■ Delusi, halusinasi, serta perilaku dan bicara kacau digolongkan menjadi gejala positif pada penderita
skizofrenia paranoid. Saat mengalami skizofrenia paranoid, gejala-gejala positif ini akan lebih dominan
muncul.
■ Walaupun jarang terjadi, beberapa gejala negatif, seperti tidak bisa merasakan emosi, kehilangan
ketertarikan pada aktivitas sehari-hari, atau kehilangan ketertarikan pada hal-hal yang sebelumnya
dirasakan menyenangkan, juga bisa dialami oleh penderita skizofrenia.
■ Gejala negatif perlu diwaspadai karena dapat menimbulkan keinginan untuk bunuh diri. Dorongan
bunuh diri cukup sering ditemukan pada kasus skizofrenia atau skizofrenia paranoid yang tidak
ditangani dengan baik.
■ Semua gejala yang ditimbulkan akibat menderita skizofrenia paranoid dapat menyebabkan gangguan
terhadap pekerjaan, hubungan dengan orang lain, atau bahkan dalam merawat diri sendiri.
Faktor resiko

■ Riwayat skizofrenia dalam keluarga


Hubungan antara tempat kromosom tertentu dan skizofrenia dilaporkan di dalam literatur sejak adanya
penerapan luas teknik biologi molekular. Kembar identik juga dilaporkan memiliki risiko sebesar 50%.
■ Psikososial
Masalah individu, keluarga, dan sosial harus dimengerti karena hal ini menjadi hal yang memengaruhi
penderita. Ada berbagai teori yang digunakan. Namun hubungan yang buruk dalam keluarga menjadi
salah satu yang ditekankan sebagai risiko skizofrenia.
■ Biologis
Adanya disfungsi di daerah otak tertentu seperti system limbic, korteks frontalis dan ganglia basal.
Adanya aktivitas dopaminergik yang berlebih diyakini menjadi penyebab skizofrenia.
Komplikasi
Skizofrenia yang dibiarkan tidak tertangani, dapat memicu sejumlah komplikasi serius, seperti:
■ Berpikir dan mencoba untuk bunuh diri.
■ Depresi.
■ Fobia
■ Melukai diri sendiri.
■ Penyalahgunaan NAPZA dan kecanduan alkohol.
■ Perilaku agresif dan gaduh gelisah.
Penderita skizofrenia juga dapat bermasalah dalam hubungan dengan keluarga dan lingkungan sekitar, sehingga
memilih untuk mengisolasi diri. Di samping itu, gejala yang dialami dapat membuat penderita kesulitan untuk bekerja,
sehingga berakibat buruk pada kondisi keuangannya.
Terapi pengobatan
■ Untuk menangani halusinasi dan delusi, dokter akan meresepkan obat antipsikotik dalam dosis
seminimal mungkin. Antipsikotik bekerja dengan menghambat efek dopamin dan serotonin dalam
otak. Pasien harus tetap mengonsumsi antispikotik untuk seumur hidupnya, meskipun gejala yang
dialami sudah membaik.
■ Obat antipsikotik dapat diberikan dalam bentuk tablet atau suntik. Bentuk obat yang diberikan
tergantung pada kemauan pasien untuk diobati. Pada pasien yang mudah diatur, dokter akan
memberikan antipsikotik bentuk tablet. Tetapi pada pasien yang sulit diberikan tablet antipsikotik,
dokter akan memberikan antipsikotik jenis suntik.
■ Antipsikotik terbagi dalam jenis tipikal (generasi lama) dan atipikal (generasi baru). Saat ini, dokter
lebih merekomendasikan antipsikotik atipikal, karena memiliki lebih sedikit efek samping dibanding
antipsikotik tipikal. Beberapa jenis antipsikotik tipikal adalah chlorpromazine, fluphenazine, dan
haloperidol. Sedangkan jenis antipsikotik atipikal antara lain aripiprazole, clozapine, olanzapine, dan
risperidone.
Psikoterapi

untuk penderita skizofrenia bertujuan agar penderita dapat mengendalikan gejala yang dialaminya. Terapi ini akan
dikombinasikan dengan pemberian obat-obatan. Beberapa metode psikoterapi, antara lain:
■ Terapi individual.
Pada terapi ini, psikiater akan mengajarkan keluarga dan teman pasien bagaimana berinteraksi dengan pasien. Di antara
caranya adalah dengan memahami pola pikir dan perilaku pasien.
■ Terapi perilaku kognitif.
Terapi ini bertujuan mengubah perilaku dan pola pikir pasien. Kombinasi terapi perilaku kognitif dan obat-obatan, akan
membantu pasien memahami pemicu halusinasi dan delusi, serta mengajarkan pasien cara mengatasinya.
■ Terapi remediasi kognitif.
Terapi ini mengajarkan pasien cara memahami lingkungan sosial, serta meningkatkan kemampuan pasien dalam
memperhatikan atau mengingat sesuatu, dan mengendalikan pola pikirnya.
Terapi elektrokonvulsif

■ Terapi elektrokonvulsif merupakan metode yang paling efektif, untuk meredakan keinginan bunuh
diri, mengatasi gejala depresi berat, dan menangani psikosis. Terapi dilakukan 2-3 kali sepekan,
selama 2-4 minggu, dan dapat dikombinasikan dengan psikoterapi dan pemberian obat.
■ Dalam terapi ini, pasien akan diberikan bius umum, dan obat untuk membuat otot pasien lebih
rileks. Kemudian, dokter akan memasang elektroda di ubun-ubun pasien. Arus listrik rendah akan
mengalir melalui elektroda, dan memicu kejang singkat di otak pasien.