Anda di halaman 1dari 42

PALINOLOGI

• Istilah – istilah dalam palinologi


• Sampling dan Preparasi
• Deskripsi Polen dan Spora
• Penamaan fosil polen dan spora
• Aplikasi palinologi dalam penentuan umur,
lingkungan pengendapan, dan iklim
Pengertian Palinologi
• Palinologi: studi tentang polen, spora, dan
palinomorf lainnya.
• Polen adalah serbuk berwarna kuning (berasal
dari kata “palunein” yang berarti serbuk,
tepung, debu), dihasilkan oleh tumbuhan
berbiji (Angiospermae dan Gymnospermae).
• Spora adalah serbuk yang dihasilkan oleh
Pteridophyta dan tumbuhan tingkat rendah
(ganggang, lumut, jamur).
Istilah - istilah
• Palinomorf: istilah untuk menyebutkan fosil –
fosil polen, spora, dinoflagellate cyst dan
foraminifera test lining
• Sporomorf: istilah untuk menyebutkan fosil –
fosil polen dan spora
• Palinodebris: istilah untuk menyebutkan fosil –
fosil yang berasal dari material organik asal
tumbuhan baik yang berasal dari tumbuhan
darat maupun fitoplangton laut
Sifat – sifat polen dan spora
• Resisten, sehingga sangat mungkin menjadi fosil
• Ukurannya sangat kecil (<200 mikron), sehingga
mudah tertransport dan terendapkan seperti
partikel sedimen lainnya
• Produksinya besar/banyak, sehingga dapat
memungkinkan dilakukan perhitungan statistik
• Bentuknya khas sehingga mudah dibedakan
dalam tingkat Famili, Genus, ataupun Spesies
Sampling dan Preparasi
Jenis batuan yang mengandung palinomorf
1. Sedimen klastik halus yang berwarna hitam atau karbonan
(lempung, serpih, lanau, pasir lempungan)
2. Sedimen organik (lignit, batubara)
3. Stalagtit/stalagmit
4. Endapan garam
Pengambilan contoh batuan di lapangan
Pilih singkapan yang segar sesuai dengan kriteria jenis batuan yang
mungkin mengandung palinomorf, kupas bagian luar untuk
menghilangkan lumut dan jamur yang menempel di permukaan. Ambil
sampel, beri label, masukkan ke kantong sampel dan tutup rapat
untuk menghindari kontaminasi dari polen aktual.
DIAGRAM ALIR PREPARASI PALINOLOGI
CONTO BATUAN

DIBERSIHKAN/DICUCI

DITUMBUK (1 – 2 mm)
ANALISIS ANALISIS
PENGHILANGAN KARBONAT (40% HCl)
KEROGEN POLLEN
PENGHILANGAN SILIKA (40% HF)

PENGHILANGAN FLUORIDA (40% HCl panas )

OKSIDASI ( HNO3)
PENCUCIAN AKHIR
PERENDAMAN ALKALI (KOH panas)
PENCUCIAN AKHIR
PENYARINGAN ( 5 MIKRON)
PEMBUATAN SLIDE KEROGEN
PEMBUATAN SLIDE
Material organik yang berasal dari tumbuhan

• Polysaccharide
Selulosa, oksiselulosa
• Lignine (kayu)
Sifat rapuh terhadap oksidasi
• Cutine (cutocellulose)
Sifat tahan terhadap pengrusakan biologi dan kimia
• Exine (Sporonine, Sporopollenine)
Sifat tahan terhadap suasana asam maupun basa,
komposisi rata-rata: 65%C, 8%H, dan 27%O.
• Material penyusun butir polen:
Outer layer (exine)  Sporopollenin
Inner layer  Selulosa
Morfologi polen dan spora
• Ukuran
• Bentuk
• Aperture
• Hiasan/sculpture
• Ukuran
1. < 10 µm = sangat kecil
2. 10 - 25 µm = kecil
3. 25 - 50 µm = sedang
4. 50 - 100 µm = besar
5. 100 - 200 µm = sangat besar
6. 200 µm = raksasa
Bentuk polen
Indeks P/E Bentuk
> 2,0 Perprolate
1,33-2,0 Prolate
0,75-1,33 Subspheroidal
0,5-0,75 Oblate
<0,5 Peroblate
Aperture
• Aperture adalah suatu area tipis pada exine yang
berhubungan dengan perkecambahan serbuk sari.
• Ada dua macam bentuk aperture yaitu colpus dan
porus.
• Colpus berbentuk celah memanjang dengan ratio
panjang dan lebar >2. polen dengan aperture
berbentuk colpus disebut colpate.
• Porus berbentuk lubang bulat atau sedikit elips. Polen
dengan aperture berbentuk pori disebut porate.
• Polen yang mempunyai colpus dan porus disebut
colporate.
• Aperture untuk spora disebut laesurae, ada dua
macam bentuk yaitu monollete dan trilete.
(monolete)

Furrow
Pore (porus)
(colpus) laesurae

pori

colpi
(trilete)
Sculpture/Ornamentasi
echinate verrucate
striate

rugulose
foveolate reticulate
Penamaan fosil polen
• Identik dengan nama tumbuhan sekarang
Contoh: Acrosticum aureum
• Berdasarkan kemiripan dengan tumbuhan sekarang
Contoh: Pinuspollennites (mirip dengan Genus Pinus)
Chenopodipollis (mirip famili Chenopodiaceae)
• Berdasarkan deskripsi/ciri – ciri pada sporomorf
Striatricolpites, Verrucatosporites
• Nama fosil
Florschuetzia levipoli = Sonneratia caseolaris
Acrostichum aureum
Ipomoea trichocarpa (Convolvulaceae)
Pinus sp.
Pinus sp.
Podocarpus
Monoporites annulatus (Gramineae)
Aplikasi palinologi
• Kematangan batuan induk hidrokarbon
• Umur relatif batuan
• Lingkungan pengendapan
• Paleoklimatologi
• Arkeologi
• Paleoekologi
• Palinofasies
• Paleobotani, dll
PALINOLOGI DALAM GEOLOGI
Penentuan umur relatif
a. Pemunculan awal/akhir suatu takson
b. Takson diagnostik
c. Takson indeks
Penentuan lingkungan pengendapan
 Analisis kuantitatif takson penciri lingkungan
(rawa air tawar, rawa gambut, backmangrove,
mangrove dsb)
• Penentuan iklim purba
a. Arboreal/Non Arboreal Pollen
b. Analisis kuantitatif takson basah & takson kering, takson
hangat & takson dingin
• Kematangan batuan induk
Perbandingan warna pollen & spora dalam kerogen
• Analisis fasies (Palynofacies)
Studi fasies dengan mengamati seluruh material organik asal
tumbuhan yang terdapat dalam kerogen
• Sequence stratigrafi
Low stand, high stand dsb. dengan mengamati takson
mangrove, savana dll.
POLLEN/SPORES COLOR “STANDARD” MUNSELL COLOR STANDARDS (MATTE FINISH)

Indeks standar warna polen dan spora untuk penentuan tingkat kematangan termal organik
(Traverse, 1988)
Palinofasies
• The term palynofacies was introduced by the French
geologist Combaz in 1964.
• Palinofacies is associations of palynoogical matter in
sediments, considered primarily in terms of the reasons
for the associations, which is usually geological, but may
be connected to the biological origin of the particles.
• Palynofacies studies examine the preservation of
particulate organic matter and palynomorphs to provide
information on the depositional environment of sediments
and depositional paleoenvironments of sedimentary rocks.
• Palynofacies can be used in two ways:
1. Organic palynofacies= all the acid insoluble
particulate organic matter (POM) 
abundance, composistion, and preservation
of Kerogen + palynomorphs, together with
the thermal alteration of the organic matter
2. Palynomorph palynofacies = abundance,
composistion and diversity of palynomorphs
• Leopold et al. (1982) showed that a
palynofacies does not necesarily reflect the
biological environment of the area near the
basin of deposition but instead can be
produced by a variety of geological and
geochemical taphonomic processes associated
with sedimentation. This sort of palynofacies is
a product of the total sedimentary environment
and is unlikely to be a palynobiofacies.
Examples of applications to geological problems:
Environmental Factors
• Palynofacies analysis can be used to indicate the oxygen
content of water in which the palynomorph was deposited.
- Amorphous organic matters (AOM) was found to be a negative
proxy for oxygen content, high assemblage of AOM indicates
relatively low oxygen and high nutrient values in the original
water at the time of deposition.
- Nutrient abundance is also related to abundance of dynocysts.
• Palynofacies characteristics could be used to show the distance
of the deposition site from the sediment source, based not on
counts of particular sorts of palynomorph, but on sophisticated
measurements of the constituent particles as to size, shape and
state of preservation.
Examples of applications to geological problems:
Sequence Stratigraphy
• Lowstand system tracts (LST) are typically
indecated by palynofacies with large
phytoclasts and partly oxidized sporomorphs.
• Transgressive system tracts (TST) contain
palynofacies with more dinocysts, and
• Highstand system tracts (HST) have
palynofacies with much organic matter and
abundant dynocysts.
Hubungan Asosiasi Vegetasi dengan Lingkungan Pengendapan (Haseldonckx, 1974)
METODA ANALISIS
• METODA KUALITATIF
Metoda analisis yang didasarkan atas ada atau tidaknya takson, tanpa
mempedulikan jumlah individunya.
• METODA SEMIKUANTITATIF
Metoda analisis yang didasarkan atas jumlah individu takson relatif terhadap
populasi fosil secara keseluruhan. Dinyatakan dalam jumlah sangat jarang
(VR=very rare), jarang (R=rare), sedikt (F=few), banyak (C=common), melimpah
(A=abundant), sangat melimpah (VA=very abundant).
• METODA KUANTITATIF
Metoda analisis yang didasarkan atas penghitungan individu setiap takson yang
teramati. Penampilan datanya dapat berupa angka yang menunjukkan jumlah
absolut individu atau berupa diagram persentase jumlah setiap takson terhadap
populasi fosil secara keseluruhan.
Penyusunan Diagram Palinologi
• Deskripsi dan hitung jumlah takson
(genus/spesies) yang ada dalam setiap slide.
• Persentasekan jumlah takson dengan
perhitungan :
• % takson =jmlh individu/jml total X 100%
• Kelompokkan takson-takson berdasarkan studi
yang dilakukan
Diagram Palinologi
Grafik Distribusi Palinomorf
Arboreal/Non Arboreal Pollen Diagram
Palinologycal zonation
(Rahardjo et.al, 1994)

Foraminifera zone
(Blow,1969)
Formation

Comment
Thicknes

Lithology

Samples
AP SPORA
Age

% AP NAP % spora
0 50 100 0 50 75
Keberadaan Florschuetzia meridionalis SCP-31

N 20 SCP-29
SCP-28
LAD Sphaeroidinellopsis subdehiscens SCP-27

SCP-24
Early Pliocene

N 19 SCP-22
SCP-21
SCP-20
CP-25
CP-24
Stenochlaenidites papuanus

SCP-18
SCP-17
CP-27
CISUBUH

G SCP-16
SCP-15
362m

SCP-14
N 18
SCP-13

FAD Globorotalia tumida CP-28


CP-29

CP-30
CP-31
Late Miocene

CP-32
CP-33
CP-34
CP-35
N 17 SCP-12
CP-37
CP-38
CP-39
CP-23
Globorotalia plesiotumida CP-22
f Keberadaan Florschuetzia meridionalis
G
CP-19
*1

Diagram Perbandingan AP, NAP dan Spora Formasi Cisubuh di Lintasan Sungai Cipamingkis

Anda mungkin juga menyukai