Anda di halaman 1dari 22

KARAKTERISTIK BOTTOM ASH UNTUK

PEMBUATAN BATU BATA

SKRIPSI

OLEH:
 
JEVERSON A. P SAUDALE
1406100048
 
U N I V E R S I T A S N U S A C E N D A N A
FAK U LTAS SAI N S DAN T E K N I K
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
KUPANG
2020
Latar Belakang
PLTU Bolok resmi beroperasi mulai 1 Oktober 2013. Yang menjadi operatornya adalah PT PJB Services, anak
perusahaan PT Pembangkitan Jawa Bali (PJB), yang merupakan anak perusahaan PT PLN (persero). Dengan
kapasitasnya yaitu 2 x 16,5 MW, PLTU Bolok diharapkan bisa menstabilkan listrik di Pulau Timor. Per tahunnya,
pembangkit di Desa Bolok, Kecamatan Kupang Barat, Kabupaten Kupang, ini butuh batubara sebanyak 19 juta ton.
Dari jumlah tersebut, maka hasil dari pemanasan batubara meningkat, untuk itu perlu dilakuan pemanfaatkan
terhadap abu hasil pemanasan batubara tersebut, abu hasil pembakaran batubara tersebut di bagi menjadi 2 yaitu,
Bottom Ash dan Fly Ash.
Pada pembakaran batubara dalam PLTU, terdapat limbah padat yaitu abu layang (fly ash) dan abu dasar (Bottom
Ash). Partikel abu yang terbawa gas buang disebut fly ash, sedangkan abu yang tertinggal dan dikeluarkan dari
bawah tungku disebut Bottom Ash. Di Indonesia, produksi limbah abu dasar dan abu layang dari tahun ke tahun
meningkat sebanding dengan konsumsi penggunaan batubara sebagai bahan baku pada industri PLTU (Harijono D,
2006, dalam Irwanto, 2010). Abu terbang merupakan limbah padat hasil dari proses pembakaran di dalam furnace
pada PLTU yang kemudian terbawa keluar oleh sisa-sisa pembakaran serta di tangkap dengan mengunakan
elektrostatik precipitator. Fly ash adalah batubara adalah material yang memiliki ukuran butiran yang halus
berwarna keabu-abuan dan diperoleh dari hasil pembakaran batubara .
Fly ash merupakan residu mineral dalam butir halus yang dihasilkan dari pembakaran batu bara yang dihaluskan
pada suatu pusat pembangkit listrik. Fly ash terdiri dari bahan inorganik yang terdapat di dalam batu bara yang
telah mengalami fusi selama pembakarannya.
Bottom Ash adalah limbah hasil pemanasan batubara dimana jumlahnya akan terus bertambah selama industri terus
berproduksi. Penanganan limbah tersebut dilakukan dengan cara menimbunnya di lahan kosong sehingga apabila
volume limbah semakin bertambah maka semakin luas pula area yang diperlukan untuk menimbunnya
Limbah abu terbang (fly ash) dan abu dasar ( Bottom Ash ) pada batubara mengandung oksida logam, salah satunya
adalah silika. Keberadaan silika dalam abu terbang batubara memungkinkan limbah tersebut digunakan secara
langsung sebagai adsorben.
Rumusan Masalah
 Bagaimana karakteristik dari Bottom Ash?
 Bagaimana pengaruh Bottom Ash terhadap kuat tekan batu bata?
 Berapakah presentase campuran Bottom Ash untuk mendapatkan kuat
tekan batu bata yang optimum?

Tujuan
Adapun tujuan dari penelitian ini, antara lain:
• Mengetahui karakteristik dari Bottom Ash
• Mengetahui pengaruh penambahan Bottom Ash terhadap kuat tekan batu
bata
• Mengetahui presantase campuran Bottom Ash untuk mendapatkan kuat
tekan batu bata yang optimum.
Batasan Masalah
 Tidak Membahas Genesa Batuan
 Tidak membahas proses pengujian XRD
 Tidak membahas tentang uji bunyi dari batu bata
 Tidak membahas tentang kandungan garam
Dasar Teori
PLTU (Pembangkit Listrik Tenaga Uap)
Sejak abad ke 18, mesin uap reciprocoating sudah digunakan untuk sumber tenaga mekanik, dengan
perbaikan penting yang dilakukan oleh james watt. Pusat pembangkit listrik komersial pertama di New York
dan London. Pada tahun 1882, juga menggunakan mesin uap reciprocating. Sebagai ukuran generator
meningkat, akhirnya turbin mengambil alih karena efisiensi yang lebih tinggi dan biaya konstruksi yang
lebih rendah.
Pembangkit listrik tenaga uap berbahan bakar batubara ini menggunakan batubara berjenis bituminus dan
sub-bituminus. Selain dari pada itu, beberapa perusaan pembangkit listrik tenaga uap juga menggunkan
batubara berjenis lignit sebagai energi pembangkit tenaganya.
BatuBara
Batubara adalah bahan bakar fosil yang terbentuk dari tumbuh-tumbuhan yang hidup dan telah mati sejak
100-400 juta tahun yang lalu. Batubara merupakan salah satu bahan bakar disamping minyak bumi dan
gas bumi serta panas bumi. Batu bara terbentuk dari jaringan tumbuhan yang telah menjadi fosil dan
mengalami proses pembatubaraan (coalification), bersifat padat, berwarna gelap dan dapat dibakar. Pada
kondisi normal, tumbuhan yang mati akan terurai dan hancur di dalam tanah. Namun pada pembentukan
batubara ratusan juta tahun silam hal ini tidak terjadi. Cara terbentuknya Batubara melalui proses yang
sangat panjang dan lama, disamping itu dipengaruhi faktor alamiah yang tidak mengenal batas waktu
terutama ditinjau dari segi fisika, kimia dan biologi. Selama jutaan tahun, lapisan tanah di atas tanaman-
tanaman hutan tadi akan terus meningkat dan menciptakan tekanan yang sangat besar. Ditambah dengan
panas yang berasal dari dalam bumi, secara perlahan tanaman-tanaman tadi akan membentuk batubara.
Faktor-faktor yang mempengaruhi (hutton and jones,1995) antara lain posisi geoteknik, keadaan
topografi daerah, iklim daerah, penurunan cekungan sedimentasi, umur geologi, jenis tumbuh-tumbuhan
proses dekomposisi, struktur geologi cekungan dan metamorfosa organik.
Klasifikasi BatuBara
Proses pembentukan batubara sangat mempengaruhi kualitas dari batubara itu sendiri. Semakin padat
batubara tersebut akibat tekanan alami yang dialaminya, akan semakin tinggi kualitasnya. Berdasarkan
kualitas inilah batubara lebih lanjut diklasifikasikan menjadi beberapa jenis yaitu:
 Lignite atau juga dikenal dengan sebutan batubara coklat, adalah jenis batubara yang paling rendah
kualitasnya.Lignit adalah batubara yang berwarna hitam dan memiliki tekstur seperti kayu.
 Sub-bituminous adalah jenis batubara sedang di antara jenis lignite dan jenis bituminous. Batubara jenis ini
merupakan peralihan antara jenis lignit dan bituminus. Batubara jenis ini memiliki warna hitam yang
mempunyai kandungan air, zat terbang, dan oksigen yang tinggi serta memiliki kandungan karbon yang
rendah. Sifat-sifat tersebut menunjukkan bahwa batubara jenis sub-bituminus ini merupakan batubara
tingkat rendah.
 Bituminous, adalah jenis batubara yang lebih tinggi tingkatan kualitasnya. Batubara jenis ini merupakan
batubara yang berwarna hitam dengan tekstur ikatan yang baik
 Anthracite merupakan batubara paling tinggi tingkatan yang mempunyai kandungan karbon lebih dari 93%
dan kandungan zat terbang kurang dari 10%. Antrasit umumnya lebih keras
Fly ash
Fly ash merupakan bagian dari sisa abu pembakaran yang berupa bubuk halus dan ringan yang diambil dari
campuran gas tungku pembakaran menggunakan bahan batubara pada boiler Pembangkit Listrik Tenaga Uap
(PLTU). Fly ash diambil secara mekanik dengan system pengendapan elektrostatik (Hidayat,1986). Fly ash
adalah mineral admixture yang berasal dari sisa pembakaran batubara yang tidak terpakai. Material ini
mempunyai kadar bahan semen yang tinggi dan mempunyai sifat pozzolanik. Fly ash bila digunakan sebagai
bahan tambah atau pengganti sebagian semen maka tidak sekedar menambah kekuatan mortar, tetapi secara
mekanik fly ash ini akan mengisi ruang kosong (rongga) di antara butiran-butiran dan secara kimiawi akan
memberikan sifat hidrolik pada kapur mati yang dihasilkan dari proses hidrasi, dimana mortar hidrolik ini
akan lebih kuat daripada mortar udara. Fly ash dapat dimanfaatkan sebagai bahan pengganti pemakaian
sebagian semen, baik untuk adukan (mortar) maupun untuk campuran beton. Keuntungan lain dari
pemakaian fly ash adalah dapat meningkatkan ketahanan/keawetan mortar terhadap ion sulfat.

Bottom ash
Bottom Ash merupakan abu yang dihasilkan pada proses pemanasan batubara sebagai sumber energi pada unit
pembangkit uap (boiler) pada Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU). Bottom Ash berbentuk partikel halus
dan bersifat pozzolan. Terdapat tiga tipe metode pemanasan pada proses penghasilan energi, yaitu dry-bottom
boilers, wet-bottom boilers dan cyclon furnace. Apabila batubara dipanaskan dengan tipe dry-bottom boiler,
maka kurang lebih 80% dari abu meninggalkan pemanasan sebagai fly ash dan masuk dalam corong gas. Lalu,
batubara yang dipanaskan dengan tipe wet-bottom boiler maka sebanyak 50% dari abu tertinggal di
pemanasan dan 50% lainnya masuk dalam corong gas. Selanjutnya, pada tipe cyclon furnace, dimana
potongan batubara digunakan sebagai bahan bakar, 70-80 % dari abu tertahan sebagai boiler slag dan hanya
20-30% meninggalkan pemanasan sebagai dry ash pada corong gas. Setelah dikaji lebih jauh ternyata abu
batubara dapat dimanfaatkan karena berbentuk partikel halus, bersifat Pozzolan, dapat bereaksi dengan kapur
dan membentuk senyawa yang bersifat mengikat. Sehingga dapat disimpulkan bahwa salah satu solusi yang
dapat diterapkan dalam menangani limbah abu batubara adalah memanfaatkan limbah tersebut untuk
keperluan bangunan konstruksi. Karakteristik fisik Bottom Ash, yaitu memiliki butiran partikel sangat
berpori pada permukaannya. Butiran partikel Bottom Ash mempunyai batasan dari kerikil sampai pasir
Sifat Mekanis Dan Fisik Dari Bottom Ash
BatuBata
Batu bata adalah sebuah gumpalan batu yang dibuat dari campuran tanah liat dan tanah abu yang dipanaskan dan dibentuk seperti
balok sebagai bahan pokok membuat suatu bangunan ataupun konstruksi.( Evendi, Z. 2015). Menurut NI-10, SII-0021-78 : “Batu
bata adalah bahan bangunan yang diperuntukkan untuk kontruksi, dibuat dari tanah liat atau tanpa campuran bahan lain,
dipanaskan dengan suhu yang tinggi, sehingga tidak mudah hancur bila direndam”. Batu bata merupakan salah satu bahan
material sebagai bahan pembuat dinding. Batu bata terbuat dari tanah liat yang dipanaskan sampai berwarna kemerah merahan.
Persyaratan batu bata atau bata merah menurut SII-0021-78 dan PUBI 1982 adalah sebagai berikut:
 Bentuk standar bata ialah prisma segi empat panjang, bersudut siku-siku dan tajam, permukaan rata dan tidak retak-retak
 Ukuran standar
Menurut SII-0021-78
Modul M-5a : 190 x 90 x 65 mm
Modul M-5b : 190 x 140 x 65 mm
Modul M-6 : 230 x 110 x 55 mm
Menurut NI-10-1978
Panjang : 240 mm
Lebar : 115 mm
Tebal : 52 mm
Penyimpangan ukuran yang diperbolehkan menurut NI-10-1978
Panjang maximal :3%
Lebar maximal :4%
Tebal maximal :5%
 Bata dibagi menjadi 6 kelas kekuatan yang diketahui dari besar kekuatan tekan yaitu kelas 25, kelas 50, kelas 150, kelas 200 dan
kelas 250. Kelas kekuatan ini menunjukan kekutan tekan rata-rata minimal dari 30 buah bata yang diuji.
 Bata merah tidak mengandung garam yang dapat larut sedemikian banyaknya sehingga pengkristalanya (yang berupa bercak-
bercak putih) menutup lebih dari 50% permukaan batanya.
Cara Menguji Kualitas BatuBata
Untuk mengetahui baik buruk dan mutu bata harus dilakukan pengujian sebagai berikut :
 Uji serap air
Pengujian ini dilakukan dengan cara bata diambil acak dalam keadaan kering mutlak kemudian direndam dalam air sampai
semua porinya terisi dengan air. Maka persentase berat air yang terserap dalam bata dibandingkan berat bata adalah indeks
angka serap air pada bata. Bata merah atau batu bata diangap baik jika penyerapan airnya kurang dari 20%.
 Uji kekerasan
Uji kekerasan bata dilakukan dengan menggoreskan kuku pada permukaan bata, jika goresan dengan kuku itu menimbulkan
bekas goresan maka kekerasan bata anda kurang baik.
 Uji bentuk dan ukuran
a. Kerataan
b. Keretakan
c. Kesikuan
d. ketajaman
 Uji bunyi
Uji bunyi dilakukan dengan memegang dua bata kemudian memukulkanya satu dengan yang lainya dengan pukulan tidak
terlalu keras. Bata yang baik akan mengeluarkan bunyi yang nyaring. Uji bunyi ini merupakan salah satu parameter
kekeringan dari batu bata anda. Tentu saja bata akan berbeda jika dalam keadaan basah, walaupun bata yang baik dia tidak
akan mengeluarkan bunyi yang nyaring.
 Uji kandungan garam
Uji kandungan garam dilakukan dengan cara merendam sebagian tubuh bata kedalam air, air akan terserap bata sampai ke
bagian bata yang tidak direndam. Selama proses penyerapan air inilah garam-garam yang terkandung bata akan terlarut ke
atas ke bagian yang tidak direndam air. Nah garam-garam pada bata ini berupa bercak-bercak putih. Bata dikatakan baik jika
bercak-bercak putih yang menutup permukaan bata kurang dari 50%. Bata dengan kandungan garam yang tinggi secara
langsung akan berpengaruh pada lekatan antara bata dengan mortar pengisi, dimana dengan terganggunya lekatan antara bata
dan mortar pengisi akan menurunkan kualitas bata anda
Tanah Liat
Tanah liat alias lempung merupakan tanah dengan kadar mineral lempung yang tinggi, Tanah liat terbentuk akibat melapuknya batuan
silika karena terpengaruh asam karbonat. Ciri khas tanah ini adalah kering,lengket, menggumpal dan melunak jika terkena air
Ciri- ciri tanah Liat:
Tanah liat mempunyai beberapa ciri khusu yang membedakannya dengan jenis tanah lainnya. Ciri- ciri dari tanah liat antara lain sebagai
berikut:

 Mempunyai sifat liat atau lengket


Ciri yang paling khas yang menandai tanah liat ini dilihat dari sifat tanah liat ini. Tanah liat umumnya berbentuk sebagai gumpalan yang
keras ketika tanah tersebut kering. Namun ketika tanah tersebut terkena basah oleh air, maka akan terasa lengket. Hal bisa terjadi karena
kandungan jenis mineral lempung yang banyak terkandung dalam tanah tersebut. Sifat lengket inilah yang membuat tanah liat mudah
dijadikan bentuk- bentuk tertentu.

  Mempunyai sifat yang sulit menyerap air


Satu sifat yang dimiliki oleh tanah liat atau lempung, yakni sulit untuk menyerap air. Karena jenis tanah ini sulit untuk menyerap air, maka
daerah yang memiliki tanah liat ini tidak cocok digunakan sebagai lahan pertanian. Hal ini karena lahan pertanian sendiri
membutuhkan lapisan tanah yang memiliki sifat mudah menyerap air.

 Tanah dapat terpecah menjadi butiran- butiran sangat halus saat keadaan kering
Tanah liat meskipun ketika basah bersifat lengket dan butiran tanah satu dengan lainnya bersifat menyatu, namun ketika dalam keadaan
kering tanah ini dapat terpecah- pecah menjadi butiran- butiran yang halus, bahkan sangat halus menyerupai pasir atau kumpulan debu.

 Tanahnya berwarna hitam terang atau hitam keabu- abuan


Tanah liat mempunyai warna tanah yang tidak gelap dan tidak tidak terlalu terang. Dengan kata lain, tanah liat ini mempunyai warna yang
hitam cenderung keabu- abuan

 Merupakan bahan baku untuk membuat kerajinan tangan berupa gerabah atau tembikar
Karena tanah liat ini memiliki sifat yang lengket, maka tanah liat ini dijadikan sebagai bahan baku untuk membuat berbagai kerajinan
tangan seperti gerabah dan juga tembikar. Untuk membuat kerajinan seperti ini, tanah liat harus dibakan dalam suhu di atas 10000 ºC agar
dapat mengeras dengan baik.

 Hubungan antara Lempung dan Silika: Lempung atau tanah liat adalah partikel mineral berkerangka dasar silika yang berdiameter < 4
mikrometer. Lempung terbentuk dari proses pelapukan silika yang terbentuk oleh asam karbonat dan sebagian dihasilkan oleh aktivitas
panas bumi.
Kuat Tekan
Untuk menghitung kuat tekan sampel diperlukan parameter terukur yaitu beban tekan (gaya
tekan F) dan luas bidang sampel batu bata, A. Penentuan kuat tekan batu bata dapat digunakan
dengan persamaan.

Keterangan:

P = Kuat tekan bahan ( N/m2) atau (Kg/cm2)


F = Beban tekan maksimum ( Kg atau N )
A = Luas bidang bahan (m2)
Daya Serap Air
• Penentuan daya serap air pada batu bata dapat diperoleh dari hasil pengukuran massa
kering dan massa basah sampel yang masing-masing diukur menggunakan alat
timbangan analog.
• Penentuan daya serap air pada sampel batu bata dapat dihitung seperti persamaan
penyerapan air:

• Keterangan: mk = Massa kering (Kg)


mb = Massa setelah direndan 24 jam (Kg)
PA = Porositas
Alat Dan Bahan
PROSEDUR PENELITIAN
Prosedur penelitian harus dilakukan sesuai standar SNI. Berikut prosedur penelitian:
PembuatanKuat
Pengujian
Preparasi Sampel
BatuTekan
Bata Bata
Setelah
Sampel Bottomsampel
Setelah proses Bottom
Ash yangpembuatan AshPLTU
diambil dari dipreparasi,
batu akan kemudian
bata selesai,
Bolok dilanjutkan
maka terlebih
dipreparasi dilanjutkan untuk
dahulu, dengan
yaitu
proses
proses
dengan pembuatan
pengujian
melakukan batu
kuat
proses sizing bata dengan
tekan.
(penyaringan) tahap-tahap
Proses
dengan pengujian
menggunakan sebagai berikut:
dilakukan
saringan secara
berukuran 8
mesh.
terpisah, yaitu untuk batu bata dengan campuran Bottom Ash 0,6 kg
Melakukan
Proses
(2 sampel pembakaran
penimbangan
batu bata),batu
batu bata
sampel
bata yang Bottom
dengan dilakukan
Ash di
campuran menggunakan
desa tanah
Bottom Ash 1,2 kg
timbangan
merah, kecamatan
digital dengan
kupang berat
tengah,yangkabupaten
bervariasi,
kupang.
(2 sampel batu bata), serta batu bata dengan tidak menggunakan yaitu Dengan
0,6 Kg
dan
suhu 1,2
campuranpembakaran
Kg.Bottom Ash ±350⁰ dengan
(2 sampel batulama pembakaran 15 jam.
bata).
Proses pembakaran ini dilakukan untuk mendapatkan hasil batu
bata yang baik
Melakukan penakaran untuk bahan campuran pembuatan batu
bata lainnya, yaitu air (900 ml), dan tanah liat (1,2 Kg).
Kemudian akan dilanjutkan dengan proses perendaman pada
air dingin (±15ºC)
Melakukan proses dengan durasi 28
pencampuran hari (setiap
sampel Bottom7 Ash hari dengan
sekali
batu bata
bahan diambil dan
pembuatan batuditimbang
bata lainnyalalu(air,
direndam
dan tanahkembali).
liat).

Hasil campuran
Setelah tersebut
itu, batu bata dimasukkan
yang telah ke dipanaskan
direndam lalu dalam cetakanpada
(Ukuran
suhu 100ºCcetakan
selama yang
24 jamdipakai
denganmemiliki panjang
menggunakan tanur25 cm, Batu
listrik. lebar
14 cm,
bata dansudah
yang ketebalan 8 cm). kemudian dilakukan pengujian kuat
dipanaskan
tekan.
Hasil cetakan batu bata lalu dijemur di area terbuka untuk
mendapatkan pancaran sinar matahari langsung, dan proses
penjemuran dilakukan selama ±20 jam.
Hipotesis ANOVA
Secara umum, ada 2 jenis hipotesis:
 Hipotesis nol (H0) merupakan hipotesis awal yang umumnya berisi kepercayaan, asumsi, atau pendapat
yang masih perlu dibuktikan kebenarannya.
 Hipotesis alternatif (Ha) merupakan Hipotesis alternatif merupakan hipotesis yang menyatakan pendapat
atau yang berlawanan dengan hipotesis nol.
Hasil analisis hipotesis dalam peneitian ini, yaitu
 Bila hipotesis alternatif tidak sama dengan nilai hipotesis nol. Artinya, kita berasumsi bahwa nilai kuat tekan dengan
mutu yang baik berada pada campuran 1,2 kg bottom ash.
 Bila hipotesis alternatif lebih besar dari hipotesis nol. Artinya, kita berasumsi bahwa nilai kuat tekan hipotesis
bottom ash bisa lebih dari 1,2 kg
Perhitungan Hipotesis:
Formula Hipotesis

H0 = 20
Ha ≠ 20
Taraf nyata dan nilai

α = 5%
Z = 1,96 (uji dua arah)
Kriteria Pengujian

H0 di terima jika: -1,96 < Z < 1,96


H0 ditolak jika: Z0 >1,96 atau Z0 < -1,96 ( 1,96 hasil tabel Z)
= 20 (Nilai Rata- Rata Populasi)
n = 6 (Jumlah Sampel)
= 5 ( Standar Deviasi)
= 16,835 (Nilai Rata-Rata Sampel)
Hitung:
Z =

Z =-1,55
Kesimpulan : - 1,96 < Z0 < 1,96 artinya H0 diterima

Bisa disimpulkan bahwa, berasarkan hasil pengujian rata-rata kuat tekan batu bata adalah 20
Diagram Alir
Tabel Tabel
Karakteristik Hasil
Bottom
Hasil pengujian
Pengujian
Ash PLTU XRD XRD Bottom Ash
Bolok
PLTU Bolok
Material Bottom Ash memiliki beberapa karakteristik dimana sifat
dan susunan senyawa kimia penyusun Bottom Ash dipengaruhi
oleh cara penyimpanan, metode pemanasan dan perbedaan mutu
batubara. Karakteristik tersebut dapat diketahui dengan melakukan
uji laboratorium. Bottom Ash dianggap dapat menjadi pengganti
semen karena mempunyai salah satu nsure kimia semen yang
penting pada proses pengikatan yaitu nsure. Setelah dilakukan
pengujian material Bottom Ash maka dapat diketahui nsure kimia
penyusun Bottom Ash. Sehingga Bottom Ash tersebut diharapkan
dapat bekerja sebagai pengganti sebagian semen dalam campuran
bata. Karakteristik Bottom Ash dipengaruhi oleh cara penyimpanan,
metode pemanasan dan perbedaan mutu batubara sehingga hasil uji
kimia Bottom Ash juga dapat bervariasi.

Dari data hasil pengujian XRD yakni sampel Bottom Ash yang diambil
dari PLTU Bolok tersebut maka didapkan hasil dengan presentase
mineral terbanyak yaitu Quartz(65%), dan clinoenstatite(35%).
Proses
Pembuatan Batu Bata Pemanasan
dengan VariasiBatu Bata Bottom Ash
Campuran
Pemanasan
Campuran
Pencetakan
bata
sampel
dilakukan
batu
(I) yakni
batasetelah
pada
dilakukan
variasi
pengeringan
secara
campuranmanual
selesai.
ini benda
dan cetakannya
Batu
uji dicampurkan
bata terbuat
dipanaskan
(1,2dari
Kg)kayu
dalam
Bottom
dengan
oven
Ash
pemanasan.
, (1,2ukuran
kg) tanah
Pemanasan
panjang
liat dan
25benda
cm,
(900lebar
uji
ml)dilakukan
air
14 pada
cm danvariasi
secara
tinggi
campuran
bersamaan
8 cm.ini dengan
Cetakan
dibuatjumlah
2batu
sampel
bata
benda
(Adilapisi
dan
uji sebanyak
B). dengan 6
pelumas
buah bata agar adukan
dan berlangsung 24batu bata tidak menempel
jam didinginkan selama 48pada
jam.cetakan.
SetelahKemudian,
itu benda masing-masing
uji dilakukan perawatan selama 28
bahan campuran haribata
batu untuk dilakukan
ditimbang pengujian penyerapan
menggunakan timbangan
Campuran
air dandigital, sampel
kuat tekan. (II) yakni pada campuran ini benda uji dicampurkan dengan variasi campuran
setelah ditimbang semua bahan dicampur berdasarkan variasi takaran Bottom Ash,
Bottom Ash (0,6 Kg), tanah liat (1,2 Kg) dan air (900 ml) pada variasi campuran ini dibuat 2
yaitu sampel (I) dengan takaaran Bottom Ash 1,2 kg, sampel (II) dengan takaran Bottom Ash
sampel ( C dan D).
0,6 kg, serta takaran sampel (III) tanpa campuran Bottom Ash. Batu bata yang telah dicetak
kemudian
Campuran sampeldikeringkan
(III) yaknidibawah cahaya
pada variasi matahriini selama
campuran benda uji±20tidak
jamdicampur
setelah Bottom
dikeringkan
Ash
kemudiam sampel direndam selama 28 hari. Setelah direndam selam 28
hanya dicampur dengan tanah liat (1,2 Kg) dan air (900 ml), pada variasi campuran ini dibuat hari sampel batu bata
2
kemudian
sampel ( E dan F). dikeringkan unntuk proses pemanasan Berikut ini adalah sampel batu bata yang
telah dicampurkan Bottom Ash dan telah dikeringkan dibawah sinar matahari
HasilHasil
Uji Kuat
Uji Penyerapan
Tekan Air
Berdasarkan
Menurut SNIgrafik
03-0349,
hasilKualitas/
pengujianmutu
kuat tekan, Kemudian sampel 5 dan 6 menggunakan
suatu bata/
dimana batako,
sampel terdapat
1 dan sampel42standar
tanpa menggunakan campuran sampel Bottom Ash sebanyak
Bottom
mutu, dan
Ashpengujian
dengan nilai
kuatkuat
tekan
tekan
bata9,76 Kg/cm2 dan 1,2 Kg dengan hasil pengujian kuat tekan
10,20
menggunakan
Kg/cm2 kemudian
6 sampel, untuk
dengansampel
hasil uji
3 dan 4, 22,54 Kg/cm2 dan 25,49 Kg/cm2 Maka
tekan bata. campuran Bottom Ash 0,6 Kg, dengan
menggunakan didapatkan kualitas hasil pengujian kuat
hasil pengujian kuat tekan 12,75 Kg/cm2 dan 20,39 tekan berada dimutu ke IV, yaitu sampel
Kg/cm2. ke 6. Dengan nilai kuat tekan sebesar
25,49 Kg/cm2.

Berdasarkan grafik di atas, sampel dengan nilai uji penyerapan air 0,804 merupakan sampel tanpa campuran
bottom ash, sedangkan nilai uji penyerapan air 1,289 merupakan smpel dengan campuran bottom ash 0,6 kg,
dan nilai uji penyerapan air dengan nilai 3,045 merupakan sampel dengan campuran bottom ash 1,2 kg.
Uji penyerapan air dilakukan dilakukan untuk mengetahui seberapa banyak air yang diserap. Uji penyerapan
air setelah proses perendaman selama 28 hari. Berdasarkan hasil tersebut, maka sampel ke 3 atau sampel
dengan campuran bottom ash 1,2 kg merupakan sampel yang paling baik untuk penyerapan air.
Kesimpulan
Berdasarkan tujuan penelitian maka dapat disimulkan sebagai berikut :
 Batu bata adalah sebuah gumpalan batu yang dibuat dari campuran tanah liat dan tanah abu yang
dipanaskan dan dibentuk seperti balok sebagai bahan pokok membuat suatu bangunan ataupun
konstruksi.( Evendi, Z. 2015) Menurut NI-10, SII-0021-78 : “Batu bata adalah bahan bangunan yang
diperuntukkan untuk kontruksi, dibuat dari tanah liat atau tanpa campuran bahan lain, dipanaskan dengan
suhu yang tinggi, sehinga tidak mudah hancur bila direndam.”
 Bottom Ash sangat berpengaruh dalam pembuatan batu bata , semakin besar presentasi Bottom Ash maka
semakin besar pula nilai kuat tekan dan akan mendapatkan hasil yang sangat bagus.
 Berdasarkan hasil penelitian maka campuran Bottom Ash untuk mendapatkan hasil yang optimal yaitu
tanah liat 1,2 kg , air 950 ml dan Bottom Ash 1,2 kg dengan lama pemanasan 1 x 24 jam dengan suhu
1000 c, kemudian masa perendaman selama 28 hari dari pengujian tersebut maka didapatkan hasil bata
dengan nilai mutu 25,49 Kg/cm2. 

Saran
• Karena sifat kimia Bottom Ash sangat dipengruhi oleh batubara maka perlu dilakukan pengujian kimia
jika sumber Bottom Ash berbeda. Proses penyimpanan bahan dasar seperti Bottom Ash harus disiapkan
secara baik.