Anda di halaman 1dari 28

ANALISA PASAL KODE ETIK 73-80

MATA KULIAH KODE ETIK

Mattsania Ayu Sarah M 20.E3.0056


Rezkha Tiara 20.E3.0059
 
PASAL 73
INFORMED CONSENT DALAM KONSELING DAN
TERAPI
PENJELASAN
• Kewajiban menyampaikan infomed consent
• Kondisi yang harus dipenuhi bagi klien yang akan
mengisi Informed consent
• Hal yang perlu diinformasikan sebelum menjalani
konseling
• Penjelasan mengenai sifat dari konseling atau
terapi
• Memberikan informasi dalam informed consent
jika konselor masih dalam pelatihan
CONTOH KASUS
ANALISA KASUS
Informed Consent dalam Konseling dan Solusi yang disarankan untuk kasus ini adalah
Terapi
• Melaporkannya kepada HIMPSI
• Konselor/Psikoterapis wajib menghargai • Melaporkannya kepada pihak yang berwajib dengan
hak pengguna layanan psikologi untuk membawa hasil tes anak yang didiagnosa autis.
melibatkan diri atau tidak melibatkan diri • Melakukan tes ulang pada psikolog yang berbeda.
dalam proses konseling, • Ketika mengunjungi psikolog atau suatu biro
psikologi/psikoterapi perlu mendapatkan psikologi, harap memperhatikan SIP dan No Praktek
dari psikolog atau biro psikologi yang bersangkutan
persetujuan tertulis (Informed Consent) dari
yang dikeluarkan oleh HIMPSI pusat
orang yang menjalani layanan psikologis.
• Harus meminta adanya informed consent jika klien
• Dalam kasus, tidak ada draft kontrak antara harus melakukan terapi agar memudahkan antara
ibu anak tersebut dengan psikolog sehingga psikolog dan kLien.
ibu kesulitan untuk melaporkan kepada
pihak yang berwajib tentang persoalan ini.
• Selain melanggar pasal-pasal dalam kode
etik tersebut, kasus diatas juga tidak
memiliki izin praktek dari HIMPSI. 
PASAL 74
KONSELING PSIKOLOGI/
PSIKOTERAPI YANG
MELIBATKAN PASANGAN
ATAU KELUARGA
PENJELASAN
Ketika psikolog memberikan jasa konseling psiko-logi/psikoterapi pada beberapa orang yang
memiliki hubungan keluarga atau pasangan (misal: suami istri, significant others, atau orangtua
dan anak) maka perlu diperhatikan beberapa prinsip dan klarifikasi mengenai hal-hal sebagai
berikut:
• Menetukan peran yang jelas dari awal
• Siapa yang menjadi pengguna layanan psikologi tersebut, peran dan hubungan psikolog bagi
masing-masing orang yang terlibat dan/atau dilibatkan dalam proses terapi.
• Ketentuan penggunaan dan informasi yang diperoleh bagi setiap orang yang terlibat
• Kemungkinan penggunaan layanan dan informasi yang diperoleh dari masing-masing orang
atau keluarga yang terlibat dalam proses terapi dengan memperhatikan azas kerahasiaan. (lihat
Bab V buku kode etik ini tentang Kerahasiaan).
• Menghindari hubungan yang majemuk jika memberikan dampak buruk
• Jika secara jelas psikolog harus bertindak dalam peran yang bertentangan (misal sebagai
terapis keluarga dan kemudian menjadi saksi untuk salah satu pihak dalam kasus perceraian),
psikolog perlu mengambil langkah dalam menjelaskan atau memodifikasi, atau menarik diri
dari peran-peran yang ada secara tepat. (lihat pasal 16 tentang Hubungan Majemuk dan pasal
60 tentang Peran Majemuk dalam Forensik buku Kode Etik ini).
CONTOH KASUS
Alfa, C. (2012). Contoh
• Kudus-Belakangan ini muncul seorang psikolog yang melakukan praktik kepada keluarganya Menterapis di Kalangan
sendiri. A adalah seorang psikolog ternama dan terhandal. Dia mempunyai seorang bapak yang Keluarga. Retrieved 10 04,
2020, from
bermasalah dengan kejiwaan (szikofernia). lalu bapak tersebut di bawa oleh ibu ke biro psikologi
https://choirulalfa.blogspot.co
si A karena ibunya percaya dan ia berharap di tangani sendiri oleh anaknya yang terhandal m/2019/03/contoh-
tersebut bisa pulih kembali. Setelah di bawa ke si A, untuk menenangkan hati seorang ibu dia menterapis-dikalangan-
mengatakan bahwa bapaknya tidak sampai ke tahap sakit jiwa. Si bapak diberi terapis dan keluarga.html
layanan dari pengalaman yang dia dapat serta memberi obat-obatan untuk mengatasi penyakit
yang di derita dengan sekuat tenaga tanpa meminta bantuan atau alih psikolog lainya demi
menyembuhkan orang tuanya sendiri. Tetapi setelah lama menjalankan pengobatan sampai
sembuh kembali ternyata hasil yang di lakukan A tidak valid. Karena dia melakukan pelayanan
hanya berdasarkan hubungan dan pengalaman. Sebagai seorang psikolog kita harus bisa bekerja
secara profesional dan tetap menjaga peraturan yang berlaku dalam kode etik,dalam melakukan
konseling, psikolog harus memiliki kompetensi dan kualifikasi untuk menjalankan terapis,
bagaimanpun juga kita sebagai orang yang dipercayai untuk dapat membantu menyelesaikan
masalah klien dan sebagai seorang psikolog maka kita pun mempunyai keharusan untuk berhati-
hati. Kalau belum berkompeten di bidang tersebut seharusya jangan melakukannya, karena kita
sudah di beri kepercayaan dari si klien, dan kita sebaiknya menjaga kepercayaan tersebut, dan
dalam melayani konseling seorang konselor harus profesional dan tidak berat sebelah (subyektif)
tapi harus apa adanya (objektif) dalam memberikan pelayanan meskipun dengan keluarga sendiri.
• Jika kasus di atas si A di katakan seorang psikolog maka bisa dipastikan bahwa A bersalah dan
bisa dikatakan pelanggaran kode etik, dimana A yang seorang psikolog telah memberikan
informasi kepada klien dengan informasi yang subyektif karena hanya suatu hubungan
kekeluargaan dan dalam penanganannya si A ini telah melenceng dari ranahnya sebagai seorang
psikolog yang seharusnya seharusnya si klien sudah di layani oleh dokter jiwa, dari kasus itu
banyak akibat yang di timbulkan jika pelanggaran kode etik itu terus di lakukan, akan membuat
si klien mendapat dampak yang buruk dan akan membuat nama psikologi menjadi kotor di mata
banyak pihak.
ANALISA KASUS
• Psikolog dan atau Ilmuwan Psikologi wajib memperhatikan prinsip-prinsip
yang ada dalam kode etik. Pemberian informasi mengenai pengguna layanan
psikologi atau orang yang menjalani pemeriksaan psikologi yang diperoleh
Psikolog dan atau Ilmuwan Psikologi dalam rangka pemberian layanan
Psikologi, hendaknya mematuhi hal-hal sebagai berikut; (a) dapat memberi
layanan kepada seseorang yang mempunyai hubungan dengan mematuhi
prinsip-prinsip yang ada, (b) memberi informasi kepada klien secara objektive
walaupun dengan klien yang mempunyai hubungan (c) jika mendapat kien yang
sudah tidak dalam ranah psikologi seharusnya tidak di layani.
• Memberikan informasi yang subyektif hanya karena ada hubungan
kekeluargaan dan memberikan pelayanan yang seharusnya tidak di berikan,
sehingga menimbulkan pelanggaran Kode Etik Psikologi pada
Bab XIV Pasal 72 dan 74, mengenai kualifikasi konselor psikoterapis dan
konseling yang melibatkan keluarga.
JENIS PELANGGARAN
• Kasus ini termasuk pelanggaran berat,
tindakan yang dilakukan oleh seorang
Psikolog dan/ atau Ilmuan Psikologi yang
secara sengaja memberikan inforrmasi PENYELESAIAN MASLAH
yang subjektiv dan memberikan Jika seseorang sudah di katakan
pelayanan yang salah,proses maupun
hasil yang mengakibatkan kerugian bagi sebagai psikolog, dia harus bisa
salah satu antara lain; (a) ilmu psikologi, mentaati peraturan yang ada pada
(b) profesi psikologi, (c) pengguna jasa profesi yang di geutinya,dalam hal ini
layanan psikologi, (d) individu yang yaitu  KODE ETIK,walaupun niatnya
menjalani pemeriksaan psikologi, dan (e)
pihak-pihak yang terkait dan masyarakat baik dalam kasus di atas tapi efek yang
umumnya. Pelanggaran tentang jenis di timbulkan akan lebih menambah
pelanggaran dan sanksi akan diatur dalam masalah,jadi jika ada kasus yang seperti
aturan tersendiri. di atas sebaiknya seorang psikolog
• Didalam kasus ini psikolog memberikan
harus menjalankan apa yang ada dalam
inforrmasi yang subjektiv dan
memberikan pelayanan yang tidak kode etik, walaupun pelanggarannya di
seharusnya dia berikan. lakukan dengan tujuan untuk kebaikan.
PASAL 75
KONSELING KELOMPOK DAN TERAPI
KELOMPOK
PENJELASAN
• Psikolog memberikan konseling psikologi/psikoterapi pada beberapa orang
dalam satu kelompok, psikolog harus mempertimbangkan beberapa hal:
• Kondisi klien dalam kaitannya dengan konseling/
• Jenis terapi kelompok yang akan dilaksanakan
• Menjelaskan peran dan tanggungjawab semua pihak serta batas
kerahasiaannya.
PASAL 76
PEMBERIAN KONSELING
PSIKOLOGI/ PSIKOTERAPI
BAGI YANG MENJALANI
KONSELING PSIKOLOGI/
PSIKOTERAPI
SEBELUMNYA
PENJELASAN
• Psikolog saat memutuskan untuk menawarkan atau memberikan layanan kepada orang yang
akan menjalani konseling psikologi/psikoterapi yang sudah pernah mendapatkan konseling
psikologi/psikoterapi dari sejawat psikolog lain, harus mempertimbangkan hal-hal sebagai
berikut:
• Menghindari potensi adanya konflik dengan terapi terdahulu
• Psikolog tersebut perlu berhati-hati dalam mempertimbangkan keberpihakan kepada
kesejahteraan orang yang menjalani proses konseling/psikoterapi serta menghindari potensi
konflik dengan psikolog yang sebelumnya telah memberikan layanan yang sama.
• Mendiskusikan konseling yang dijalani dengan orang lain yang mewakili klien untuk
menghindari kebingungan
• Psikolog perlu mendiskusikan isu perawatan atau konseling psikologi /psikoterapi dan
kesejahteraan orang yang menjalani kon-seling psikologi/psikoterapi dengan pihak lain yang
mewakili orang yang menjalani konseling psikologi/psikoterapi tersebut dalam rangka
meminimalkan risiko kebi-ngungan dan konflik.
• Mendiskusikan dengan psikolog yang memberikan terapi sebelumnya
• Jika memungkinkan, psikolog mengkomu-nikasikan kepada psikolog pemberi layanan praktik
sebelumnya kemudian melanjutkan secara hati-hati serta peka pada isu-isu terapeutik. 
PASAL 77
PEMBERIAN KONSELING PSIKOLOGI/ PSIKOTERAPI KEPADA MEREKA
YANG PERNAH TERLIBAT KEINTIMAN/ KEAKRABAN SEKSUAL
PENJELASAN
• Psikolog tidak terlibat keintiman/keakraban seksual dengan
orang yang sedang menjalani pelayanan konseling
psikologi/psikoterapi.
• Psikolog tidak terlibat dalam keintiman sek-sual dengan orang
yang diketahui memiliki hubungan
• Psikolog tidak menerima dan/atau memberikan konseling
psikologi/psikoterapi bagi orang yang pernah terlibat
keintiman/keakraban seksual dengannya.
• Psikolog tidak terlibat keintiman/keakraban seksual dengan
mantan orang yang pernah diberi konseling
psikologi/psikoterapi
CONTOH KASUS
JG adalah seorang psikologi senior di bidang ketergantungan
obat. Ia mengembangkan terapi penanganan klien ketergantungan
obat di sebuah Rumah Sakit Jiwa. Untuk beberapa waktu
kegiatan terapinya berjalan lancar. Hingga suatu hari JG
mendapatkan klien, seorang wanita cantik yang mengalami
kelainan mental. Karena terpikat oleh kecantikan dan bentuk
tubuh klien yang cantik, JG menerima untuk menangani klien
tersebut. Dalam prakteknya JG memanfaatkan klien untuk
memuaskan Hasrat biologisnya. Akhirnya klien tersebut tidak
mendapatkan penanganan yang tepat bahkan kondisinya semakin
memburuk.
ANALISA KASUS
• Psikolog tidak terlibat keintiman/keakraban seksual dengan mantan orang yang
pernah diberi konseling psikologi/psikoterapi. Setidaknya 2 (dua) tahun dari
penghentian dan atau pengakhiran konseling psikologi/psikoterapi kecuali dalam
situasi yang sangat tidak lazim. Ketidaklaziman tersebut harus dapat
dipertanggungjawabkan sebagai hal yang tidak bersifat eksploitasi terhadap faktor-
faktor yang relevan, termasuk hal-hal sebagai berikut:
• Sejumlah waktu telah berlalu sejak penghentian atau pengakhiran terapi
• Sifat, jangka waktu dan intensitas terapi.
• Situasi kondisi penghentian atau pengakhiran. Riwayat pribadi orang yang menjalani
terapi.
• Status mental klien pada saat ini.
• Kemungkinan yang lebih buruk pada klien.
• Adanya kecerobohan pernyataan atau tindakan psikolog selama berjalannya terapi
yang mengundang kemungkinan terjadinya hubungan romantik atau seksual dengan
orang yang sedang menjalani terapi.
PENYELESAIAN MASALAH

• Ketika psikolog sedang menangani klien seharusnya psikolog dapat membina hubungan
baik antar pribadi (rapport) secara sehat, etos kerja dan komitment professional. Karena
dalam psikologi terdapat kompetensi yang harus dimiliki konselor (Furqon, 2001) yaitu
Kompetensi Pribadi (Personal Competencies) yang merujuk pada kualitas pribadi
konselor yang berkenaan dengan kemampuan untuk membina hubungan baik antar
pribadi (rapport) secara sehat, etos kerja dan komitment profesional, landasan etik dan
moral dalam berperilaku, dorongan dan semangat untuk mengembangkan diri, serta
berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan pemecahan masalah.
• Dalam psikologi terdapat pertimbangan kode etik ketidakpantasan seksual yaitu
melanggar ACA code of Ethics (2005, P.5) ACA / American Counseling Association
code of ethics Secara spesifik mengatakan “ interaksi / hubungan romantis akan
mempengaruhi keputusannya dan kompetensinya untuk membahyakan orang ain / klien,
ACA, 2005, p.9) : “konselor harus siaga terhadap tanda-tanda perusakan atau
pelanggaran yg berasal dari masalah fisik, mental dan emosi dari diri konselor dan
menahan diri dari menawarkan atau menyediakan pelayanan yang sekiranya
membahayakan klien atau orang lain.
PASAL 78
PENJELASAN SINGKAT/DEBRIEFING SETELAH
KONSELING PSIKOLOGI/ PSIKOTERAPI
PENJELASAN
Tujuan Debriefing
• Psikolog memberikan penjelasan singkat segera setelah selesai pemberian konseling/terapi,
da-lam bahasa yang sederhana dan istilah-istilah yang dipahami masyarakat, agar klien mem-
peroleh informasi yang tepat tentang sifat, hasil, dan kesimpulan konseling/terapi.
• Psikolog mengambil langkah-langkah yang tepat untuk mengurangi risiko atau bahaya jika
dilakukan penundaan atau penahanan informasi tersebut.
• Pengecualian Debriefing
• Debriefing dalam konseling psikologi/terapi dapat ditiadakan jika pada saat awal layanan telah
dilakukan penjelasan tentang sifat dan kemungkinan hasil, sehingga Psikolog dapat
mengambil langkah tepat untuk meluruskan persepsi atau konsepsi keliru yang mungkin
dimiliki klien.
• Meminimalkan Dampak Buruk
• Jika Psikolog menemukan bahwa prosedur konseling/terapi telah memberikan dampak yang
negatif pada klien; Psikolog mengambil langkah tepat untuk meminimalkan dampak tersebut 
PASAL 79
PENGHENTIAN SEMENTARA KONSELING
PSIKOLOGI/ PSIKOTERAPI
PENJELASAN
• Psikolog saat menyepakati kontrak terapi dengan orang yang
menjalani pemeriksaan psikologi sehingga terjadi hubungan
profesional yang bersifat terapeutik, maka psikolog tersebut
senantiasa berusaha menyiapkan langkah-langkah demi
kesejahteraan orang yang menjalani terapi termasuk apabila
terjadi hal-hal yang terpaksa mengakibatkan terjadinya
penghentian terapi dan/atau pengalihan kepada sejawat
psikolog lain sebagai rujukan. (lihat pasal 22 buku Kode Etik
ini tentang Pengalihan dan Penghentian Layanan Psikologi).
CONTOH KASUS
Seorang Psikolog bidang perkembangan anak memutuskan untuk menutup
praktek pribadinya dan pindah ke kota lain yang jaraknya cukup jauh. Dia
memberikan pemberitahuan dalam jangka waktu satu minggu sebelum
menutup prakteknya. Psikolog tersebut terkesan terburu-buru untuk
segera memulai hidupnya di tempat yang baru. Dia bahkan tidak sempat
mengatur agar orang tua dari klien-kliennya dapat melanjutkan proses terapi
dengan kolega atau rekan yang lain. Dia berpendapat bahwa orang tua dari
klien-kliennya cukup pintar dan cukup banyak akal untuk menemukan
psikolog lain untuk melanjutkan terapi. Psikolog tersebut hanya memberikan
daftar dan alamat Psikolog-Psikolog yang ada di kota tersebut.
ANALISA KASUS
• Psikolog saat menyepakati kontrak terapi dengan orang yang menjalani
pemeriksaan psikologi sehingga terjadi hubungan profesional yang bersifat
terapeutik, maka psikolog tersebut senantiasa berusaha menyiapkan langkah-
langkah demi kesejahteraan orang yang menjalani terapi termasuk apabila
terjadi hal-hal yang terpaksa mengakibatkan terjadinya penghentian terapi
dan/atau pengalihan kepada sejawat psikolog lain sebagai rujukan.

• Di dalam kasus di atas apabila psikolog tersebut ingin menutup praktek


pribadinya dan pindah ke kota lain, seharusnya psikolog tersebut harus sudah
mempersiapkan untuk mengatur ulang proses terapi klien-kliennya dengan
kolega atau rekan yang lain dan dapat dibahas terlebih dahulu bersama antara
Psikolog dan/atau Ilmuwan Psikologi dengan penerima layanan psikologi
kecuali kondisinya tidak memungkinkan.
PASAL 80
PENGHENTIAN KONSELING PSIKOLOGI/
PSIKOTERAPI
PENJELASAN
• Menghentikan Terapi Bagi Yang Sudah Tidak Memerlukannya
• Mengakhiri Terapi Jika Membahayakan Klien
• Memberikan saran untuk alternative terapi sebelum
mengakhiri terapi
TERIMA KASIH