Anda di halaman 1dari 31

KELUHAN HIDUNG

TERSUMBAT DUA SISI


 Endya Maharani P 22010120210005

 Hafidh Bagus A.P 22010119220137

 Mahardika Budjana S.I 22010119220061

 Nurazmi Fauzi 22010120210021

 Putri Nurwidayaningtyas 22010119220192

 Sandro Ruberto 22010117130123

 Salma Yasmine A 22010117140107


RHINITIS
ALERGI
DEFINISI
Kelainan pada hidung dengan gejala bersin-bersin, rinorea,
rasa gatal dan tersumbat setelah mukosa hidung terpapar
alergen yang diperantarai Ig E
ETIOLOGI
 Penyebab berbeda-beda tergantung klasifikasinya, disebabkan adanya reaksi imun terhadap
suatu alergen, pada orang dewasa terbanyak allergen inhalan dan pada anak-anak allergen
ingestan.
1) Alergen inhalan, yaitu alergen yang masuk bersama dengan udara pernafasan, misalnya debu
rumah, tungau, serpihan epitel dari bulu binatang, serta jamur.
2) Alergen ingestan, yaitu alergen yang masuk ke saluran cerna, berupa makanan misalnya susu,
telur, coklat, ikan, dan udang.
3) Alergen injektan, yaitu alergen yang masuk melalui suntikan atau tusukan, misalnya penisilin
atau sengatan lebah
4) Alergen kontaktan, yang masuk melalui kontak dengan kulit atau jaringan mukosa, misalnya
bahan kosmetik atau perhiasan
ETIOLOGI
Jenis alergennya, penyebab rinitis alergi dapat digolongkan menjadi dua kelompok, yakni
penyebab spesifik dan non spesifik.
Spesifik: tungau, debu rumah, kecoa serpihan kulit binatang, jamur dll
Non spesifik: psikis, hormonal, infeksi dan iritasi, perubahan iklim
Patofisiologi RA dimulai dengan tahap sensitisasi, saat allergen yang masuk ke mukosa hidung
ditangkap oleh makrofag/monosit (antigen presenting cells, APC), yang kemudian dipresentasikan ke
sel limfosit T helper (Th). Sel Th akan menyekresi sitokin (interleukin, IFN dan TNF) yang
mengaktifkan Th0 untuk berproliferasi menjadi Th1 dan Th2. Th2 akan melepaskan sitokin IL-3, IL-
4, IL-5 dan IL-13 yang akan diikat oleh reseptornya di permukaan sel limfosit B, sehingga limfosit B
menjadi aktif dan memproduksi immunoglobulin E (IgE). IgE kemudian akan berikatan dengan
reseptor yang ada di dinding sel mast/basophil.
Pada pajanan allergen berikutnya, allergen yang masuk akan diikat oleh 2 molekul IgE yang berada pada
dinding sel mast, dan memicu proses degranulasi, yaitu runtuhnya dinding sel mast/basophil.
Degranulasi sel mast diikuti dengan pelepasan mediator kimia preformed (histamin, kinin, tryptase) dan
newly formed (prostaglandin, leukotriene, bradykinin, GM-CSF/granulocyte macrophage colony
stimulating factor)

Histamin terutama akan memicu reaksi alergi fase cepat, yang menimbulkan respons simtomatik dalam
beberapa menit setelah penderita terpajan allergen. Histamin akan merangsang reseptor H1 pada
pembuluh darah sehingga terjadi peningkatan permeabilitas dan vasodilatasi sinusoid, serta hipersekresi
kelenjar. Rangsangan juga terjadi pada ujung saraf vidianus sehingga timbul rasa gatal dan bersin-bersin

Mediator yang dilepas pada fase cepat juga bersifat kemo-atraktan, yang mengundang sel-sel inflamasi
seperti eosinophil, neutrophil, basophil dan mastosit berkumpul dimukosa hidung. Aktivasi sel-sel ini
menandai terjadinya reaksi alergi fase lambat yang dapat berlangsung 6-24 jam pasca-pajanan
ANAMNESIS
 riwayat penyakit secara umum (lama, frekuensi, waktu timbulnya dan beratnya
penyakit, persisten atau intermiten)
 pertanyaan yang lebih spesifik meliputi gejala di hidung termasuk keterangan
mengenai tempat tinggal, tempat kerja dan pekerjaan pasien.

Gejala Rhinitis Alergi

• Rinore • variasi diurnal


• bersin berulang dengan frekuensi lebih dari 5 kali • Frekuensi serangan dan pengaruh terhadap
setiap kali serangan kualitas hidup
• hidung tersumbat baik menetap atau hilang timbul
• Manifestasi penyakit alergi lain sebelum atau
• rasa gatal di hidung, telinga atau daerah langit- bersamaan dengan rinitis
langit
• riwayat atopi di keluarga
• mata gatal, berair atau kemerahan
• faktor pemicu timbulnya gejala
• hiposmia atau anosmia
• batuk kronik • riwayat pengobatan dan hasilnya
KLASIFIKASI RHINITIS ALERGI MENURUT ARIA
KLASIFIKASI RHINITIS ALERGI MENURUT ARIA
Rhinitis alergi berdasarkan lama gejala

 Intermiten: gejala ≤4 hari per minggu atau lamanya ≤4 minggu


 Persisten: gejala >4 hari per minggu dan lamanya >4 minggu

Rhinitis alergi berdasarkan beratnya gejala

Ringan Sedang atau berat


• Tidur normal • Tidur terganggu (tidak normal)
• Aktivitas sehari-hari, saat olahraga dan santai • Aktivitas sehari-hari, saat olahraga dan santai
normal terganggu
• Bekerja dan sekolah normal • Gangguan saat bekerja dan sekolah
• Tidak ada keluhan yang mengganggu • Ada keluhan yang mengganggu
PEMERIKSAAN FISIK
Status Generalis meliputi:
 Keadaan umum, Kesadaran,
 Tanda tanda vital yaitu:

- Pernapasan -Nadi -RR -Suhu


 Wajah : Dalam batas normal, simetris
 Thorak : dalam batas normal
 Abdomen : dalam batas normal
 Ekstrimitas : Dalam batas normal
PEMERIKSAAN FISIK
 Status lokalis:

Maksilofasial: Pada anak sering ditemukan tanda khas bayangan gelap di daerah bawah mata(allergic
shiner), sering menggosok-gosok hidung dengan punggung tangan (allergic salute), dan gambaran garis
melintang di bagian dorsum hidung (allergic crease).
PEMERIKSAAN FISIK
 Hidung:
 Inspeksi: Nasal crease, lihat apakah ada deviasi septum
 Rinoskopi Anterior:

Gambaran mukosa septum dan konka basah pucat


kebiruan dan edema, disertai sekret banyak bening dan
encer, biasanya terdapat hipertrofi pada konka inferior.
PEMERIKSAAN FISIK
 Nasoendoskopi:

Kelainan yang tidak terlihat di rinoskopi anterior, kemungkinan komplikasi polip, sinusitis
 Telinga: Komplikasi yang biasa ditemukan otitis media.

Otoskopi:
 CAE: edema? sekret? hiperemis? granulasi?
 M: intak? perforasi? reflek cahaya? air bubble?
 Komplikasi Lain

-Geograpich tongue
-Penebalan lateral dermatitis band
PEMERIKSAAN FISIK
PEMERIKSAAN PENUNJANG

Pemeriksaan penunjang untuk mendiagnosis rhinitis alergi meliputi,


pemeriksaan eosinophil secret hidung, jumlah eosinophil darah tepi,
kadar IgE spesifik, skin prick test. Diantara pemeriksaan tersebut yang
paling sering digunakan adalah tes kulit, karena sederhana (mudah
pelaksanaannya), murah cepat aman dan cukup sensitif dan spesifik.
Dasar test kulit adalah menguji ekstrak allergen yang terikat pada sel
mast di jaringan kulit. Teknik test kulit ada dua macam yaitu test
epidermal dan intradermal. Diantara kedua test tersebut yang paling
sering dilakukan adalah test epidermal (skin prick test)
1. FARMAKOTERAPI
Obat diberikan berdasarkan dari klasifikasi diagnosis rinitis alergi (sesuai algoritma WHO-ARIA 2008).
Obat diberikan selama 2-4 minggu, kemudian dievaluasi ulang ada/tidak adanya respons. Bila terdapat
perbaikan, obat diteruskan lagi 1 bulan. Obat yang direkomendasikan sbb :
 Antihistamin oral generasi kedua atau terbaru. Pada kondisi tertentu dapat diberikan antihistamin yang
dikombinasi dekongestan, antikoligernik intranasal atau kortikosteroid sistemik.
 Kortikosteroid intranasal
2. PENGHINDARAN ALERGIN
DAN KONTROL LINGKUNGAN
Bersamaan dengan pemberian obat, pasien diedukasi untuk menghindari atau mengurangi jumlah alergen
pemicu di lingkungan sekitar. Membuat kondisi lingkungan senyaman mungkin dengan menghindari
stimulus non spesifik (asap rokok, udara dingin dan kering)
3. IMMUNOTERAPI
Apabila tidak terdapat perbaikan setelah farmakoterapi optimal dan penghindaran alergen yang optimal,
maka dipertimbangkan untuk pemberian imunoterapi secara subkutan atau sublingual (dengan berbagai
pertimbangan khusus). Imunoterapi ini diberikan selama 3-5 tahun untuk mempertahankan efektifitas
terapi jangka panjang.
4. EDUKASI
Kombinasi modalitas di atas hanya dapat terlaksana dengan baik apabila dilakukan edukasi yang baik dan
cermat kepada pasien ataupun keluarga. Menerangkan juga kemungkinan adanya ko-morbid dan tindakan
bedah pada kasus yang memerlukan (hipertrofi konka, septum deviasi atau rinosinusitis kronis).
RHINITIS
MEDIKAMENTO
SA
DEFINISI
Rinitis medikamentosa adalah suatu kelainan hidung berupa gangguan respons normal
vasomotor yang diakibatkan oleh pemakaian vasokonstriktor topikal (tetes hidung atau semprot
hidung) dalam waktu yang lama dan berlebihan, sehingga menyebabkan sumbatan hidung yang
menetap.
ETIOLOGI
 Penggunaan obat vasokonstriktor topikal dari golongan
simpatomimetik akan menyebabkan siklus nasal terganggu
 Penggunaan obat-obatan yang dapat menyebabkan edema mukosa
seperti asam salisilat, kontrasepsi oral, hydantoin, estrogen,
fenotiazin, dan guanetidin. Sedangkan obat-obatan yang
menyebabkan kekeringan pada mukosa hidung adalah atropin,
beladona, kortikosteroid dan derivat katekolamin
 Pemakaian obat sistemis yang bersifat sebagai antagonis adreno-
reseptor alfa seperti anti hipertensi dan psikosedatif
PATOFISIOLOGI
pemakaian topikal vasokonstriktor
fase dilatasi berulang (rebound
yang berulang dan dalam jangka
dilatation) setelah
waktu yang lama
vasokonstriksi

menyebabkan pasien lebih sering timbul gejala


dan lebih banyak lagi memakai obat obstruksi
tersebut

RINITIS MEDIKAMENTOSA
DIAGNOSA
Anamnesis
 Pasien mengeluh hidungnya tersumbat terus menerus
dan berair
 Obstruksi hidung yang berterusan ( kronik ) tanpa
pengeluaran sekret atau bersin.
 Riwayat pemakaian vasokontriktor topikal seperti obat
tetes hidung atau obat semprot hidung dalam waktu
lama dan berlebihan.
Pemeriksaan fisik
 Mukosa hidung kelihatan kemerahan (beefy-red)
dengan area bercak pendarahan dan sekret yang
minimal atau edema
 Mulut kering
 Rhinoskopi anterior : konka edema (hipertrofi), sekret
hidung yang berlebihan
 Tes adrenalin : negatif (edema konka tidak berkurang)
PEMERIKSAAN PENUNJANG
 Skin Prick Test
 Pemeriksaan Histopatologi
 Nasal endoscopy
 CT Scan
TATALAKSANA
Farmakologi
 Pemberian intranasal kortikosteroid bersamaan dengan oral kortikosteroid jangka pendek seperti
prednisone 0.5 mg per kg selama 5 hari
 Pemberian dekongestan sistemik oral sebagai pengganti intranasal dekongestan

Non-farmakologi
 Pemberhentian penggunaan nasal dekongestan secepatnya
 Irigasi nasal dengan cairan saline
EDUKASI
Setiap meresepkan dekongestan intranasal, pasien harus terlebih dahulu menerima edukasi
tentang efek samping penggunaan dekongestan intranasal yang berlebihan, anjuran penggunaan
maksimal selama 5-7 hari dan tidak boleh terlalu sering. Pasien harus diingatkan bahwa
penggunaan dekongestan intranasal berulang dalam jangka pendek, bahkan setelah satu tahun
penghentian dapat menyebabkan kekambuhan.