Anda di halaman 1dari 51

PBL SIKLUS HIDUP

” NUTRISI “
Pembimbing : dr. Hadia Angriani, Sp.A (K),
MARS
Ricky Liaran Ro’Son (4518111026)
Tjessica Gratia Napitupulu (4518111027)
Moh. Akhtar Setia R.E.D (4518111028)
Umi Kalsum Nasir (4518111029)
Nurul Fakhira Azzahrah (4518111030)
Elsya Mayora (4518111031)
Skenario Nutrisi
Seorang anak perempuan umur 2 tahun 3 bulan masuk Rumah
Sakit karena demam dan batuk berulang 6 bulan terakhir.
Sekarang dengan sesak napas. Nafsu makan sangat kurang.
Anak mencret berulang dan berlanjut, kadang tinja disertai darah
dan lendir. Kondisi sosio-ekonomi kurang, Kontak dengan
penderita Tbc Paru tidak jelas.
Pemeriksaan Fisik : BB 7,2 kg, PB 74 cm. Nampak sesak,
pernapasan cuping hidung, takipnu, retraksi, sianosis. Tampak iga
gambang. Paru ronkhi basah halus namun tidak jelas. Jantung
dalam batas normal. Nampak muka, telapak tangan dan kaki
pucat. Hati 3 cm b.a.c. dan limpa SI. Bokong nampak baggy
pants. Skor dehidrasi 13.
Kata Sulit

● Baggy pants : kulit pantat terlihat turun seperti celana kedodoran,


kulit pantat kendur dan berkeriput.
● Iga gambang : tulang iga terlihat jelas
Kata Kunci

● Anak perempuan
● Umur 2 tahun 3 bulan
● Demam dan batuk berulang 6 bulan terakhir
● Sesak napas
● Nafsu makan sangat kurang
● BB 7,2 kg, PB 74 cm
● Mencret berulang dan berlanjut kadang tinja disertai darah dan lendir
● Sosio ekonomi kurang
Kata Kunci

● Kontak dengan penderita Tbc Paru tidak jelas


● Pernapasan cuping hidung, takipnu, retraksi, sianosis
● Muka, telapak tangan dan kaki pucat
● Skor dehidrasi 13
● Paru ronkhi basah halus namun tidak jelas
● Iga gambang
● Baggy pants
● Hati 3 cm b.a.c. dan limpa SI
Pertanyaan :
1. Bagaimana interpretasi status gizi (PB/BB), BB/U, dan PB/U pada anak? WHO
2006
2. Pengertian malnutrisi?
3. Patomekanisme dari malnutrisi?
4. Faktor-faktor resiko malnutrisi?
5. Klasifikasi dari malnutrisi? (DD)
6. Bagaimana pembagian skor dehidrasi pada anak?
7. Bagaimana langkah – langkah diagnosis berdasarkan skenario?
8. Anemia yang dapat terjadi berdasarkan skenario ?
9. Bagaimana penatalaksanaan yang dapat dilakukan berdasarkan skenario?
10. Bagaimana komplikasi yang dapat terjadi pada anak?
11. Edukasi yang dapat diberikan agar kejadian tidak berulang?
12. Bagaimana prognosis berdasarkan skenario?
PEMBAHASAN
PERTANYAAAN
1. Interpretasi status gizi (BB/PB)

- BMI : BB/PB : (kg/cm)


: 7,2kg/74cm
- Interpretasi : Gizi buruk
(dibawah -3)
1. Interpretasi BB/U

- Berat Badan : 7,2 kg


- Umur : 2 tahun 3 bulan
- Interpretasi : BB sangat
kurang (dibawah -3)
1. Interpretasi TB/U

- Panjang Badan : 74 cm
- Umur : 2 tahun 3 bulan
- Interpretasi : sangat pendek
(dibawah -3)
2. Pengertian malnutrisi

Malnutrisi merupakan suatu kondisi yang disebabkan oleh


kekurangan atau kelebihan secara relatif atau absolut (gizi buruk dan
obesitas), satu atau beberapa zat gizi essensial misalnya def. vitamin A
dalam waktu yang cukup lama sehingga menimbulkan keadaan
patologik
3. Patogenesis Malnutrisi
Asupan makanan yang tidak
adekuat

Primer Cadangan dalam tubuh


dipakai
Nutrisi
Kelainan pada jaringan
inadekuat

Perubahan biokimia
Sekunder

Perubahan fungsi
1. Asupan makanan kurang optimal
2. Gangguan penyerapan Perubahan anatomi
3. Keadaan stress
4. Faktor resiko malnutrisi

1. Status sosial ekonomi


2. Pengetahuan ibu
3. Adanya penyakit penyerta
4. Berat badan lahir rendah
5. Riwayat pemberian ASI
6. Kelengkapan imunisasi
5. Klasifikasi Malnutrinisi

- Marasmus

- Kwashiorkor

- Marasmik
Kwashiorkor

Sumber : National Center for Biotechnology Information


Marasmik –
Kelainan Marasmus Kwashiorkor
Kwashiorkor
1. Etiologi Defisiensi Kalori Defisiensi Protein
2. Umur Terbanyak 0-2 th Terbanyak 1-3 th

3. Gejala Essensial
Tidak ada Selalu Ada
a. Edema
Sangat hebat Ringan Campuran dari beberapa
b. Wasting
Jelas Atrofi Otot Bisa ada, namun gejala klinik Kwashiorkor
c. Muscle wasting
tersembunyi dan marasmus dengan
Jelas Growth Retardation Growth retradation BB/TB-PB <-3 SD
d. Berat badan
tersembunyi oleh edema disertai edema yang tidak
Biasanya apatis/pendiam Biasanya Irritable, mencolok
e. Perubahan mental
Baggy Pants cengeng, dan apatis.
4. Gejala lainnya

a. Nafsu Makan Biasanya baik Biasanya jelek


b. Diare Relatif lebih baik Sering (sebelum dan
selama di rawat)
Kelainan Marasmus Kwashiorkor Marasmik –
Kwashiorkor
c. Kelainan Kulit Jarang dan ringan Sering, bervariasi, bisa
berat
d. Kelainan Rambut Jarang Sering (rambut jagung)
e. Wajah Muka Old man’s face Moon face
f. Hepatomegali Tidak ada ( bila ada oleh Selalu
kausa lain)
5. Laboratorium / PA

a. Albumin serum Biasanya normal Rendah


b. Anemia Tidak atau ringan saja Umumnya ada, rgn-brt
c. Biopsi hati Normal atau sedikit Fatty infiltration, necrosis,
atrofis fibrosis
d. Enzim-enzim Normal Berkurang

Diagnosis sementara berdasarkan skenario : pada skenario umur penderita 2 tahun 3 bulan, tidak terdapat
edema yang dimana merupakan gejala esensial dari kwashiorkor melainkan kelainan baggy pants gejala
esensial dari marasmus. Kemudian adanya diare yang berulang dan tanda-tanda anemia, yang merupakan
gejala dari Kwashiorkor. Dari penjelasan tersebut kami simpulkan anak pada skenario mengalami
Marasmik-Kwashiorkor
6. PEMBAGIAN SKOR DEHIDRASI
Bagian Tubuh NILAI

Yang Diperiksa 0 1 2

Keadaan Umum Sehat Gelisah. Cengeng, Mengigau,


apatis. ngantuk koma/syok
Turgor Normal Sedikit, kurang Sangat kurang

Mata Normal Sedikit cekung Sangat cekung

UUB Normal Sedikit cekung Sangat cekung

Mulut Normal Kering Kering, sianosis

Denyut Nadi Kuat < 120 Sedang (120 – 140) Lemah >149

Skor Dehidrasi menurut Maurice King


6. PEMBAGIAN SKOR DEHIDRASI
KETERANGAN :
Skor :
- (0-2) dehidrasi ringan
- (3-6) dehidrasi sedang
- (7-12) dehidrasi berat

Berdasarkan skenario derajat dehidrasi pada penderita adalah 13 (dehidrasi berat)


Beberapa yang dapat diidentifikasi sesuai dengan skor dehidrasi menurut Maurice
King yaitu :
- Keadaan umum tidak disebutkan dalam skenario tetapi berdasarkan differential
diagnosis penderita mengalami Marasmus yang dimana biasanya keadaan
umumnya Apatis
- Mulut penderita mengalami Sianosis
7. Langkah diagnosis berdasarkan scenario (Gizi
Buruk)
Anamnesis:
 Diet (pola makan)/kebiasaan makan sebelum sakit
 Asupan makanan dan minuman yang dikonsumsi beberapa hari terakhir
 Hilangnya nafsu makan
 Kontak dengan pasien campak atau tuberkulosis paru
 Pernah sakit campak dalam 3 bulan terakhir
 Riwayat tumbuh kembang: duduk, berdiri, bicara dan lain-lain
 Riwayat imunisasi
 Riwayat penyakit infeksi
 Riwayat pemberian ASI
 Pekerjaan dan pendapatan orang tua
7. Langkah diagnosis berdasarkan scenario (Gizi
Buruk)
Pemeriksaan Fisik:
• Tampak sangat kurus, hanya tulang berbungkus kulit.
• Pertumbuhan terhenti.
• Rambut mudah dicabut, kusam, kemerahan namun tidak seberat kwashiorkor.
• Wajah seperti orang tua (old man face)..
• Kulit keriput, jaringan lemak subkutis sangat sedikit sampai tidak ada, pada bagian bokong “baggy
pants”.
• Perut cekung, iga gambang.
• Sering disertai penyakit infeksi kronis berulang, diare kronik, atau susah buang air besar.
• Tidak ada edema.
7. Langkah diagnosis berdasarkan scenario (Gizi
Buruk)
Pemeriksaan Penunjang :
Pemeriksaan Antropometri
Pemeriksaan Laboratorium
 BB/PB = <-3SD
 Serum albumin : biasanya normal pada marasmus
 LILA <11,5 cm
 Anemia : tidak ada atau ringan
 Biopsy hati/ pancreas: tidak ada kelainan

Sumber; Departemen Kesehatan Ri, Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat,Direktorat Bina Gizi. 2011.
Bagan Tata Laksana Anak Gizi Buruk Buku I.Jakarta:Departemen Kesehatan
7. Langkah diagnosis berdasarkan scenario (Diare
dengan dehidrasi berat)

● Anamnesis
- Diare :
 frekuensi buang air besar (BAB) anak
 lamanya diare terjadi (berapa hari)
 apakah ada darah dalam tinja
 apakah ada muntah
- Laporan setempat mengenai Kejadian Luar Biasa (KLB) kolera
- Pengobatan antibiotic yang baru diminum anak atau pengobatan lainnya
- Gejala invaginasi (tangisan keras dan kepucatan pada bayi)

Buku ”Pelayanan Kesehatan Anak Di Rumah Sakit”


7. Langkah diagnosis berdasarkan scenario (Diare
dengan dehidrasi berat)

● Pemeriksaan Fisik
- Tanda-tanda dehidrasi ringan atau dehidrasi berat
 rewel atau gelisah
 letargis/kesadaran berkurang
 mata cekung
 cubitan kulit perut kembalinya lambat atau sangat lambat
 haus/minum dengan lahap, atau malas minum atau tidak bisa minum
- Darah dalam tinja
- Tanda – tanda gizi buruk
- Tanda invaginasi (marssa intra-abdominal, tinja hanya lender dan darah)
- Perut kembung
Tidak perlu dilakukan kultur tinja rutin pada anak dengan diare

Buku ”Pelayanan Kesehatan Anak Di Rumah Sakit”


7. Langkah diagnosis berdasarkan scenario (Diare
dengan dehidrasi berat)

● Diagnosis “Diare dengan Dehidrasi Berat”


- Berdasarkan skenario dengan skor dehidrasi 13 maka di kategorikan dehidrasi
berat (skor dehidrasi Maurice King) atau dengan :
Jika terdapat dua atau lebih tanda berikut, berarti anak menderita dehidrasi berat :
 letargis atau tidak sadar
 mata cekung
 cubitan kulit perut kembali sangat lambat (lebih sama dengan 2 detik)
 malas minum atau tidak bisa minum

Buku ”Pelayanan Kesehatan Anak Di Rumah Sakit”


7. Langkah diagnosis berdasarkan scenario
(Pneumonia berat)

World Health Organization (2014) mengklasifikasikan derajat pnemonia


pada anak berdasarkan gambaran klinisnya menjadi :

1. Pneumonia : bila terdapat takipne dan retraksi dinding dada


2. Pneumonia berat : bila terdapat gambaran klinis pneumonia disertai tanda
bahaya seperti napas cuping hidung, grunting, anggukan kepala saat bernafas
, sianosis, tidak bisa minum, muntah frekuen, kejang, letargi, dan kesadarah
menurun.
7. Langkah diagnosis berdasarkan scenario
(Pneumonia berat)
Anamnesis
• Demam, dapat disertai mengigil atau berjeringat dan takikardi
• Riwayat batuk beberapa hari sebelumnya
• Riwayat infeksi berat menyebabkan letargi dan sianosis
• Sesak napass
• Apakah anak tampak lemah
• Riwayat gizi buruk
• Riwayat imunisasi
• Riwayat pemberian ASI
• Berat badan lahir rendah
7. Langkah diagnosis berdasarkan scenario
(Pneumonia berat)

Pemeriksaan fisik
1. Batuk dan atau kesulitan bernafas ditambah minimal salah satu hal berikut :
● Kepala terangguk-angguk
● Pernapasan cuping hidung
● Tarikan dinding dada bagian bawah ke dalam
● Foto dada menunjukkan pneumonia( infiltrat luas, konsolidasi, dll)
2. Napas cepat, pada nak 1-5 tahun : ≥ 40x/menit
3. Suara merintih (grunting) pada bayi muda

Buku” Kegawatdaruratan Pada Anak ”


7. Langkah diagnosis berdasarkan scenario
(Pneumonia berat)

4. Pada auskultasi terdengar


● Crackles (ronki)
● Suara pernapasan menurun
● Suara pernapasan bronkial
5. Dalam keadaan yang sangat berat dapat dijumpai :
● Tidak dapat menyusu atau minum/makan, atau memuntahkan
semuanya
● Kejang, letargis atau tidak sadar
● Sianosis
6. Distres pernapasan berat

Buku” Kegawatdaruratan Pada Anak ”


7. Langkah diagnosis berdasarkan
scenario (Pneumonia berat)

Pemeriksaan penunjang
1. Darah : pada bakteri dapat terjadi leukositosis dengan dominasi PMN atau
leukopenia
2. Mikrobiologis : usap tenngorok, sekresi nasofaring, bilasan bronkus, sputum,
aspirasi trakea, pungsi pleura (bila terdapat efusi pleura)
3. Foto dada PA atau AP : terdapat infiltrat atau konsolidasi. Gambaran umum
pneumonia karena bakteri adalah infiltrat/konsolidasi lobar, segmental atau
patchy. Sedangkan pada virus, umunya memberikan gambaran infiltrat
interatitial atau patchy.
7. Langkah diagnosis berdasarkan
scenario (Anemia berat)

Anamnesis

1. Disfagi
2. Sering terlihat lemah atau lelah
3. Kurang mau bermain atau berinteraksi dengan sekitarnya
4. Mata menguning
5. Sering mengeluh sakit kepala
7. Langkah diagnosis berdasarkan
scenario (Anemia berat)

Pemeriksaan Fisis
1. Rambut: alopesia
2. Mata: Konjungtiva anemis
3. Mulut: mukosa pucat, kelitis angularis, atrofi papil lidah, glositis
4. Kulit: rinofima, eritema, telangiectasia, papul, pustul, dermatitis seboroik, dan pucat
5. JVP: meningkat (pada komplikasi gagal jantung)
6. Esophageal web
7. Toraks : Murmur (bila terjadi komplikasi gagal jantung)
8. Abdomen : Splenomegali
9. Ekstremitas : Koilonikia, pucat
7. Langkah diagnosis berdasarkan
scenario (Anemia berat)

Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan HB
2. Hitung eritrosit
3. Studi besi darah
8. Anemia yang dapat terjadi berdasarkan skenario

● Anemia defisiensi Besi -> dapat terjadi karena kekurangan konsumsi zat
besi atau karena gangguan absorpsi
● Anemia defisiensi vitamin C -> kurangnya asupan vitamin C dalam
makanan sehari-hari, salah satu fungsi vitamin C adalah membantu
penyerapan zat besi, sehingga jika terjadi kekurangan vitamin C, maka jumlah
zat besi yang diserap akan berkurang
● Anemia makrositik -> disebabkan karena kekurangan vitamin B12 atau asam
folat dapat terjadi karena berbagai hal, salah satunya adalah karena
kegagalan usus untuk menyerap vitamin B12 dengan optimal
(Buku I : Buku Bagan Tata Laksana Gizi Buruk, tahun 2011
hal. 3)

9. TATA LAKSANA GIZI BURUK


Fase Stabilisasi Fase Transisi Fase Rehabilitasi Fase Tindak Lanjut
Tindakan
No
Pelayanan Hari 1-2 Hari 3-7 Mingu 2-6 Minggu 7-26

1 Hipoglikemia

2 Hipotermia

3 Dehidrasi

4 Elektrolit

5 Infeksi

6 Mikronutrien

7 Makanan Awal

8 Tumbuh Kembang

9 Simulasi Sensoris

10 Persiapan pulang
9. Tatalaksana Gizi Buruk

A. Fase Stabilisasi
Hari 1 – 2
● F-75/ modifikasi/ modisco ½  12 x pemberian
ASI  bebas
● F-75/ modifikasi/ modisco ½  8 x pemberian
● ASI  bebas
● F-75/ modifikasi/ modisco ½  6 x pemberian
ASI  bebas
Jumlah cairan yang diberikan sesuai dengan tabel Pedoman F-75
9. Tatalaksana Gizi Buruk

B. Fase Transisi
Hari 3 – 7
● F-100/ modifikasi/ modisco I/II  6 x pemberian
ASI  bebas
Jumlah cairan yang diberikan sesuai dengan tabel Pedoman F-75
9. Tatalaksana Gizi Buruk

C. Fase Rehabilitasi (Minggu 2 – 6)


Berat badan <7 kg
● F-100/ modifikasi/ modisco III  3 x pemberian
ASI  bebas
Ditambah
Makanan lunak/ lembik  3 x 1 porsi
Sari buah  1 x pemberian
9. Tatalaksana Gizi Buruk

C. Fase Rehabilitasi (Minggu 2 – 6)


Berat badan >= 7 kg
● F-100/ modifikasi/ modisco III  3 x pemberian
ASI  bebas
Ditambah
Makanan lunak/ biasa  3 x 1 porsi
Sari buah  1 – 2 x 1 buah
9. Tatalaksana Gizi Buruk

D. Fase Tindak Lanjut (Minggu 7 – 26)


●Tingkat Rumah Tangga

• Makanan beraneka ragam, porsi kecil, frekuensi sering

• Suapi anak dengan sabar dan tekun

• ASI diberikan sampai usia 2 tahun


9. Tatalaksana Gizi Buruk

D. Fase Tindak Lanjut (Minggu 7 – 26)


●Tingkat Posyandu
• Pemberian Makanan Tambahan Pemulihan (PMT-P) dengan komposisi energi
350 Kkal, protein 15 g

• Bentuk PMT-P: kudapan dari bahan makanan


● setempat

• Lama pemberian: 3 bulan (90 hari)

• Cara penyelenggaraan: setiap hari di pusat pemulihan gizi, demonstrasi pembuatan


makanan seminggu sekali di posyandu, penimbangan dan pemantauan
peningkatan berat badan dengan KMS
9. TATALAKSANA DIARE DENGAN
DEHIDRASI BERAT

Anak dengan dehidrasi berat harus diberi rehidrasi intravena secara cepat yang
diikuti dengan terapi rehidasi oral.
 Mulai berikan cairan intravena segera. Pada saat infus disiapkan, beri larutan
oralit jika anak bisa minum

Catatan : larutan intravena terbaik adalah larutan Ringer Laktat (disebut pula
larutan Hartman uniuk penyuntikan). Tersedia juga larutan Ringer Asetat. Jika
larutan Ringer Laktat tidak tersedia, larutan garam normal (NaCI 0.9%) dapat
digunakan.Larutan glukosa 5% (dextrosa) tunggal tidak efektif dan jangan
digunakan.

Buku ”Pelayanan Kesehatan Anak Di Rumah Sakit”


9. TATALAKSANA DIARE DENGAN
DEHIDRASI BERAT

Beri 100 ml/kg larutan yang dipilih dan dibagi sesuai Tabel berikut ini.
Pemberian Cairan Intravena bagi anak dengan Dehidrasi Berat

Pertama, berikan 30ml/kg Selanjutnya, berikan


dalam: 70ml/kg dalam:
Umur < 12 bulan 1 jam 5 jam

Umur ≥ 12 bulan 30 menit 21/2 jam

* Ulangi kembali jika denyut nadi radial masih lemah dan tidak teraba

Buku ”Pelayanan Kesehatan Anak Di Rumah Sakit”


9. TATALAKSANA
DIARE DENGAN
DEHIDRASI BERAT
Untuk lebih jelasnya, dilihat dari
Rencana Terapi C. Hal ini
mencakup pedoman pemberian
oralit menggunakan pipa nasogatrik
atau melalui mulut bila pemasangan
infus tidak dapat dilakukan

Buku ”Pelayanan Kesehatan Anak Di Rumah Sakit”


9. TATALAKSANA PNEUMONIA BERAT

TERAPI ANTINIOTIK
1. Beri ampisilin/amoksisilin (25-50 mg/kgBB/kali IV atau IM setiap 6 jam), yang
harus dipantau dalam 24 jam selama 72 jam pertama. Bila anak memberi
respons yang baik maka diberikan selama 5 hari. Selanjutnya terapi
dilanjutkan di rumah atau di rumah sakit dengan amoksisilin oral (15 mg/
kgBB/kali tiga kali sehari) untuk 5 hari berikutnya.
2. Bila keadaan klinis memburuk sebelum 48 jam, atau terdapat keadaan yang
berat (tidak dapat menyusu atau minum/makan, atau memuntahkan
semuanya, kejang, letargis atau tidak sadar, sianosis, distres pernapasan
berat) maka ditambahkan kloramfenikol (25 mg/kgBB/kali IM atau IV setiap 8
jam).
3. Bila pasien datang dalam keadaan klinis berat, segera berikan oksigen dan
pengobatan kombinasi ampilisin-kloramfenikol atau ampisilin-gentamisin.
9. TATALAKSANA PNEUMONIA BERAT

4. Sebagai alternatif, beri seftriakson (80-100 mg/K9BB IM atau IV sekali sehari).


5. Bila anak tidak membaik dalam 48 jam, maka bila memungkinkan buat foto
dada.
6. Apabila diduga pneumonia stafilokokal (dijelaskan di bawah untuk pneumonia
stafilokokal), ganti antibiotik dengan gentamisin (7.5 mg/kgBB IM sekali sehari)
dan kloksasilin (50 mg/kgBB IM atau IV setiap 6 jam) atau klindamisin (15
mg/kgBB/hari - 3 kali pemberian). Bila keadaan anak membaik, lanjutkan
kloksasilin (atau dikloksasilin) secara oral 4 kali sehari sampai secara
keseluruhan mencapai 3 minggu, atau klindamisin secara oral selama 2
minggu

TERAPI OKSIGEN

Buku “Kegawatdaruratan Pada Anak”


9. TATALAKSANA ANEMIA BERAT

Transfusi darah diperlukan jika:


● Hb < 4 g/dl
● Hb 4-6 g/dl dan anak mengalami gangguan pernapasan atau tanda gagal
jantung

Pada anak gizi buruk, tranfusi harus diberikan secara lebih lambat dan dalam
volume lebih kecil dibanding anak sehat. Beri :
1. Dara utuh (Whole blood), 10 ml/kgBB secara lambat selama 3 jam
2. Furosemid, 1 mg/kg IV pada saat transfusi dimulai

Cat : Jika Hb tetap rendah setelah transfusi, jangan ulangi transfusi dalam 4 hari.
10. KOMPLIKASI

1. Diare
2. Dehidrasi
3. Hipoglikemia
4. Hipotermia
5. Gangguan keseimbangan elektrolit
6. Infeksi

Kementerian Kesehatan RI. Pedoman Pelayanan Anak Gizi Buruk. 2011

Koletzko B. Pediatric Nutrition in Practice. Volume 113. World Review Nutrition Dietetics; Basel, Karger: 2015. pp. 139–146
11. Edukasi yang dapat diberikan agar kejadian
tidak berulang
Ibu atau pengasuh seharusnya:
1. Mempunyai waktu untuk mengasuh anak
2. Memperoleh pelatihan mengenai pemberian makan yang tepat (jenis, jumlah dan frekuensi)
3. Mempunyai sumber daya untuk memberi makan anak

Persiapan orang tua dalam hal perawatan di rumah:


4. Pemberian makanan seimbang dengan bahan lokal yang terjangkau
5. Pemberian makanan minimai 5 kali sehari termasuk makanan selingan (snacks) tinggi kalori
di antara waktu makan (misalnya susu, pisang, roti, biskuit). Bila ada, RUTF dapat diberikan
pada anak di atas 6 bulan
6. Bantu dan bujuk anak untuk menghabiskan makanannya
7. Beri anak makanan tersendirifterpisah, sehingga asupan makan anak dapat dicek
8. Beri suplemen mikronutrien dan elektrolit
9. ASI diteruskan sebagai tambahan
12. PROGNOSIS

Prognosis malnutrisi tergantung pada derajat keparahan serta lama


terjadinya.

Pada anak yang mengalami malnutrisi kronik terutama pada 1000 hari
pertama kehidupan, akan mengakibatkan pertumbuhan dan
perkembangan anak tidak mencapai potensi maksimal termasuk
perkembangan kognitif anak.

Pada kondisi malnutrisi akut berat pada anak, ancaman mortalitas


cukup tinggi terutama saat fase stabilisasi. 
Kesimpulan

● Berdasarkan analisis skenario dapat kami diagnosis penderita


mengalami gizi buruk tipe marasmik-kwashiorkor dilihat dari
interpretasi dan gejala kliniknya, disertai dengan diare dengan
dehidrasi hebat, suspek pneumonia dan kemungkinan anemia (yang
dimana perlu dilakukan pemeriksaan lainnya untuk menegakkan
diagnosis).
● Adapun penatalaksanaannya menggunakan tatalaksana umum gizi
buruk disertai pengobatan untuk mengatasi penyakit penyertanya.
● Diberikan juga edukasi untuk mencegah kejadian berulang
Terima Kasih
CREDITS: This presentation template was created

mcksdcksdsdjdk
by Slidesgo, including icons by Flaticon,
infographics & images by Freepik and illustrations
by Stories