Anda di halaman 1dari 102

PELATIHAN KONVENSI HAK ANAK

BAGI ASN
KABUPATEN JEMBER

FA S I L I TAT O R
ROLE AND CAPACITY
ANALYSIS
IDENTIFIKASI APA YG APA YG KAPASITAS DUKUNGAN
ROLE PLAYER SUDAH BELUM DAN PEMEGANG KAPASITAS
DILAKUKAN HARUS PERAN YANG
DILAKUKAN DIPERLUKAN
Tujuan

• Membangun Pemahaman bersama ASN tentang


ruang lingkup hak anak, perlindungan dan
perlindungan khusus .
• Memahami detaile Implementasi perlundungan
khusus anak .
• Membangun Pemahaman tentang perlindungan
khusus dalam kebijakan Kabupaten/Kota Layak
Anak .
PERLINDUNGAN
ANAK
Fokus Ruang Lingkup Antara:

HAK Anak; Perlindungan Anak; PERLINDUNGAN KHUSUS


HAK-HAK ANAK DAN PERLINDUNGAN ANAK
RuangBAGAIKAN
Lingkup Hak-hakDUA SISI MATA UANG TETAPI
Anak: H ak
MASIH TERLIHAT KAITAN DAN PERBEDAAN KHASNYA
Hidup,Kelangsungan
hidup,
Perkembangan,Pengasuha
n&Periodik Review, Ruang Lingkup Perlindungan Anak
Identitas, (Ps 19) : SEMUA BENTUK
KEKERASAN
Nama,Kebangsaan, FISIK,MENTAL,PELUKAAN atau
PERLAKUAN SALAH atau
kewarganegaraan, penelantaran atau PERLAKUAN
Berpendapat, Berekspresi, MENERLANTARKAN atau
EKSPLOITASI, KEKERASAN SEKSUAL
Berfikir,  KETIKA DLM PENGASUHAN
ORTU/WALI ATAU ORANG YG
Berkeyakinan,Beragama, MENGASUH ANAK.
Berorganisasi,privacy,Infor
masi, Kesehatan, Hak
Khusus ADK, Jaminan
Sosial, Standar Hidup
Yang Layak, Pendidikan,
Budaya
PERLINDUNGAN ANAK DALAM SEMUA SITUASI KEHIDUPAN
PERLINDUNGAN ANAK
DALAM SITUASI :
PENGASUHAN
KELUARGA/ASUH/ PERLINDUNGAN
ANGKAT/WALI/PANTI,ASRA DARI :
MA ANAK, TAHANAN KEKERASAN,
POLISI, TAHANAN IMIGRASI, PERLAKUAN
PENJARA, BANGSAL ANAK SALAH,
DI RUMAH SAKIT, KLINIK EXPLOITASI DAN
KHUSUS/PERAWATAN PENELANTARAN
KHUSUS, LEMBAGA
PENDIDIKAN,
PENGUNGSIAN, SITUASI
KONFLIK
Fokus Ruang Lingkup Antara:
HAK Anak; Perlindungan
Anak; PERLINDUNGAN
KHUSUS
Ruang Lingkup Perlindungan Khusus
A. Situasi Darurat
B. Anak yang Berkonflik dengan Hukum
(BUKAN ABH,krn Anak Korban diatur
secara khusus dalam Ps 39)
Ruang C. Anak dalam situasi eksploitasi
Lingkup Ruang D. Anak Pribumi dan Minoritas.
Hak-Hak Lingkup (TIDAK TERMASUK ANAK
Anak Perlindunga DISABILITAS,KRN DIATUR DLM
KLASTER VI)
n Anak
Rehabilitasi Para Korban, Ps 39
33
19 DI-EKSPLOITASI SBG 34
Child Abuse 32 Eksploitasi EKSPLOITASI
PENGGUNA DAN
Ekonomi SEKSUAL DAN
Dan 9.2 Perceraian PENGEDAR NARKOBA
KEKERASAN
orangtua SEKSUAL

35 37.a
PENJUALAN, PENYIKSAAN/BENTUK
PENCULIKAN 36
KEKEJAMAN LAIN,TDK
EKSPLOI MANUSIAWI/ PERLAKUAN
38
DAN
TASI MERENDAHKAN(MARTABA KONFLIK
TRAFIKING
BENTUK T),HUKUMAN(BADAN) BERSENJATA
LAIN
Rehabilitasi: Pemulihan Fisik,Psikis dan
Reintegrasi Sosial, Berkaitan Dengan Hak-hak :
27
24 Standar Hidup yang Layak : FISIK,
Kesehatan dan Akses SPIRITUAL,MENTAL,MORAL DAN SOSIAL
Layanan Kesehatan

20
Pengasuhan Alternatif ya
ng diatur dalam :
UU PENGASUHAN ANA
28 K BERLANDASKAN
PADA : Klaster V; UN G
uidelines for the Alternatif
Pendidikan Care of Children,2010; H
ague Convention (Adops
i
Antar Negara)
KEWAJIBAN ( OBLIGATION ) NEGARA
TERHADAP RAKYAT MENURUT HAM :

MELINDUNGI MEMAJUKAN
(To Protect) (To Advance)

MEMENUHI
MENGHORMATI (To Fulfill)
(To Respect)
PERLINDUNGAN ANAK

12
UNDANG-UNDANG DASAR 1945
Pasal 28 B ayat 2 “Setiap Anak Mempunyai”

HAK TUMBUH DAN HAK KONSTITUSIONIL


BERKEMBANG ATAS KELANGSUNGAN
(RIGHTS TO HIDUP (RIGHTS TO LIFE
DEVELOPMENT) AND SURVIVAL)

HAK PERLINDUNGAN
DARI KEKERASAN DAN
DISKRIMINASI (RIGTS
TO PROTECTION)
PERLINDUNGAN ANAK

Segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi


Anak dan hak-haknya agar dapat hidup, tumbuh,
berkembang, dan berpartisipasi secara optimal sesuai
dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta
mendapat perlindungan dari kekerasan dan
diskriminasi
Amanat UU No. 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas
UU No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak

Pemerintah Daerah berkewajiban dan bertanggung jawab


untuk melaksanakan dan mendukung kebijakan
nasional dalam penyelenggaraan perlindungan
anak di daerah. (Pasal 21 ayat 4)

Kebijakan sebagaimana dimaksud pada ayat (4)


diwujudkan melalui komitmen daerah membangun
Kabupaten/Kota Layak Anak. (Pasal 21 ayat 5)

Ketentuan lebih lanjut mengenai kebijakan


Kabupaten/Kota Layak Anak diatur dalam
Peraturan Presiden. (Pasal 21 ayat 6) 15
Anak Indonesia

33,4%

66,6%

Sumber : Profil Anak Indonesia 2013

Pasal 1 (1) UU No. 35/2014 tentang Perubahan Atas


UU No. 23/2002 tentang Perlindungan Anak

Anak: seseorang yang belum berusia 18 tahun, termasuk anak


16
yang
masih dalam kandungan
investasi SDM
ANAK tongkat estafet penerus
masa depan bangsa

Kualitas SDM masa depan


ditentukan masa kini
Masa anak-anak tidak bisa di ulangi
lagi
17
TANTANGAN
DALAM PEMBANGUNAN ANAK

18
KEKERASAN SANGAT DEKAT DENGAN ANAK, SEJAK USIA DINI ANAK SUDAH
DIPERKENALKAN DENGAN BERBAGAI BENTUK TINDAK KEKERASAN, MULAI KEKERASAN
VERBAL, KEKERASAN FISIK SAMPAI KEKERASAN SEKSUAL

DATA KEKERASAN (sumber KPAI)

Tahun
Tahun 2012 Tahun
2011 62% 2013
58% 62%
Tahun
2014
Tahun (Jan-Jun)
2010 32%
42%

• Tahun 2013 terdapat 1620 kasus kekerasan terhadap anak


19
Terdiri : 490 (30%) kekerasan fisik, 313 (19%) kekerasan emosional , 817 (51 %) kekerasan seksual
(Sumber Komnas PA)
FAKTA
Hasil Survei Kekerasan Terhadap Anak Tahun 2013 yang dilakukan oleh
KPP-PA bekerjasama dengan Kemsos dan BPS menemukan :

Kelompok umur 13-17 tahun menunjukkan atau 1 dari 3 anak laki-laki


(38,62%) dan 1 dari 5 anak perempuan (20,48%) mengalami kekerasan
salah satu jenis kekerasan (sexual/fisik/ emosional) pada 12 bulan terakhir.

Survey KTA 2013


FAKTA
Hasil Survei Kekerasan Terhadap Anak Tahun 2013 yang dilakukan
oleh KPP-PA bekerjasama dengan Kemsos dan BPS menemukan :
PEREMPUAN
LAKI-LAKI
15,4

50,08
49,92

83,6
YA TIDAK YA TIDAK

Kelompok umur 18-24 tahun menunjukkan 1 dari 2 anak laki-laki (50,


8) dan1 dari 6 anak perempuan (16,4%) mengalami salah satu jenis
kekerasan (kekerasan seksual/fisik/emosional) sebelum mereka
berumurn 18 tahun.
Survey KTA 2013
Sumber Data Online untuk kasus pornografi dan kejahatan
seksual di media sosial
Kajian yang dilakukan oleh lembaga Katapedia (2015)
Berdasarkan filtering penggunaan kata yang berkaitan dengan
“pornografi” dan “kekerasan seksual dengan menggunakan
kata kunci yang relevan

26 News Online Nasional


Social Media
 Forum Kaskus
 Twitter
 Google+
 Instagram
 Youtube
Hasil Perolehan Data (Twitter Only)
Kategori isu yang Konteks pornografi sangat banyak
dimonitor diakses melalui twitter

• Pornografi Umum
• Pornografi pada Anak
• Prostitusi Online Umum
• Prostitusi Online pada
Anak
• Kejahatan Seksual pada
Anak
Kasus Emon
• Sodomi anak-anak
Sukabumi, Jawa Barat (Mei,
2014)

Fakta mengejutkan:
Anak-anak
mencintainya
KASUS
KEKERASAN
SEKSUAL
Waktu: Juni 2014
Lokus : Jakarta
Modus: Dilecehkan,
Disodomi
Korban: 4 orang
Lemahnya
Kecerdasan
Emosi / Curiga
Qolbu atau
Jiwa Anak
Labil
berdampak Daya
Menyalahkan
Berfikir
Juang
Tersinggung
Putus
Cepat
negative
Asa
Orang
Melemah
lain
pada
kerentanan :
Rentan :
Kerentanan Menggunakan
atau jiwa Narkoba
anak yang
labil
berdampak Daya
Manjadi
Menyalahkan
Pelanggaran
Juang
Putus
korban
Cepat
Asa
Orang
Hukum
eksploitasi
Melemah
lain
pada :
Rentan :
CHILD ABUSE
(kekerasan terhadap anak)

AWAL MULA KEGAGALAN PENGASUHAN DAN PENDIDIKAN ANAK.

berdampak pada : Anak Sebagai Pelaku,Korban, Saksi


SISTEM PENGASUHAN ANAK

PENGASUHAN PENGASUHAN
DALAM RUMAH DILUAR RUMAH ( ALTERNATIF )

Pengasuh Pengang-
Dukungan Perlindungan
an
Keluarga Perwa- Lembaga
Keluarga Keluarga
katan
Kerabat Asuh lian Pengasuhan
Anak

Informal

Formal
INPRES Nomor 05 Tahun 2014 tentang
Gerakan Nasional Anti Kejahatan Seksual Terhadap Anak (GN-AKSA)

Garis Besar Arahan Presiden RI


tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual terhadap Anak
• Dalam rangka Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual terhadap Anak dipandang perlu
adanya Gerakan Nasional yang bersifat massal, masif dan berkelanjutan.
Gerakan tersebut memuat unsur :
1. Edukasi dan sosialisasi bersifat agresif, massif, dan berkelanjutan
2. Pengawasan sejak dari keluarga
3. Penegakan hukum cepat (responsif) dan transparan
4. Rehabilitasi
5. Mampu menggerakkan komunitas lokal mulai dari RT/RW, lurah/Kepala Desa
6. Revisi UU No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak pemberatan hukuman, pola asuh,
partisipasi anak

• Gerakan Nasional tersebut harus melibatkan/menggerakkan unsur-unsur:


1. Penegak hukum
2. Komisi terkait
3. Organisasi perempuan & anak
4. Komunitas kepakaran
5. Organisasi keguruan (PGRI)
6. Dunia usaha
7. Komunitasi pers
8. Organisasi keagamaan
9. Organisasi profesi
10.Menggerakkan komunitas lokal mulai dari RT/RW, lurah/Kepala Desa
Melibatkan seluruh elemen masyarakat
dan pemerintahan
Anak

Ortu/Pengasuh
Keluarga Luas
Komunitas dan Masy Sipil
Pemerintah Desa

Pem. Kecamatan

Pemkab
Pemprov
Pem Pusat
Komunitas Internasional
PRIORITAS-PRIORITAS
“PERLINDUNGAN ANAK”
PENCEGAHAN
1. Advokasi dan Sosialisasi peraturan perundang-undangan
terkait anak : KHA, UU PA (23/2002 dan 35/2014, UU SPPA,
UU Disabilitas dll
2. Advokasi Pengembangan Kabupaten/Kota Layak Anak di 17
Provinsi : Penguatan GT KLA
3. Memperkuat forum koordinasi
 Perlindungan Anak yang berada dalam situasi darurat  anak
yang jadi pengungsi, anak korban kerusuhan, anak korban bencana
alam dan anak dalam situasi konflik bersenjata
 Perlindungan Anak dari dampak Pornografi
 Perlindungan Anak Yang Berhadapan dengan Hukum : Amanat PP
koordinasi penanganan ABH
32
 Perlindungan Anak Berkebutuhan Khusus
 Perlindungan Anak Minoritas dan terisolasi
 Perlindungan Anak dari Kekerasan
 Perlindungan Anak dari Exsploitasi
4. KIE  Media Cetak, Elektronik, Luar ruang, Media Soaial dll
PRIORITAS-PRIORITAS
“PERLINDUNGAN ANAK”
PENINGKATAN KAPASITAS
1. Pelatihan bagi Aparat Penegak Hukum bekerjasama
dengan Kumham  aparat yang memiliki sertifikasi
dalam penanganan kasus anak
2. Pelatihan Sistem Perlindungan Anak (SPA) Bagi
Perencana di K/L dan SKPD
3. Pelatihan KHA bagi Forum/Gugus
Tugas/Kelompok yang bergerak di bidang
perlindungan anak
4. Pelatihan bagi unit layanan penangan kekerasan
terhadap anak : P2TP2A, 33

5. Pelatihan KHA bekerjasama dengan Deputi


Bidang PM KPPPA bagi Media, Lembaga
Pemerhati Anak
PRIORITAS-PRIORITAS
“PERLINDUNGAN ANAK”
GERAKAN BERSAMA
1. Kampanye Bersama Lindungi Anak
2. Stop kekerasan pada Anak

PENGEMBANGAN MODEL
1. Perlindungan Anak Terpadu Berbasis
Masyarakat (PATBM)
2. LPKA Ramah Anak
34
PERLINDUNGAN ANAK TERPADU
BERBASIS MASYARAKAT
“PATBM”

35
PERLINDUNGAN ANAK TERPADU
BERBASIS MASYARAKAT (PATBM)

Sebuah jaringan atau kelompok


warga pada tingkat masyarakat yang
bekerja secara terpadu untuk mencapai
tujuan perlindungan anak

mencegah dan menanggapi penyalahgunaan,


penelantaran, eksploitasi, dan kekerasan yang dapat
mempengaruhi kehidupan anak-anak
Berbasis Masyarakat

• Masyarakat: komunitas (kelompok orang yang


saling berinteraksi) yang tinggal di suatu wilayah
tertentu (geografis atau batas-batas adminstrasi
pemerintahan – desa/kalurahan)
• Intervensi berbasis masyarakat: upaya
pemberdayaan kapasitas masyarakat untuk dapat
mengenali, menalaah dan mengambil inisiatif
untuk memecahkan permasalahan yang ada
secara mandiri.
Peran Masyarakat dalam PA
Pasal 72 (3) UU 35 tahun 2014 : Peran Masyarakat dalam
penyelenggaraan Perlindungan Anak :
a) memberikan informasi melalui sosialisasi dan edukasi mengenai Hak
Anak dan peraturan perundang-undangan tentang Anak;
b) memberikan masukan dalam perumusan kebijakan yang terkait
Perlindungan Anak;
c) melaporkan kepada pihak berwenang jika terjadi pelanggaran Hak
Anak;
d) berperan aktif dalam proses rehabilitasi dan reintegrasi sosial bagi Anak;
Peran Masyarakat
d) melakukan pemantauan, pengawasan dan ikut
bertanggungjawab terhadap penyelenggaraan
Perlindungan Anak;
e) menyediakan sarana dan prasarana serta menciptakan
suasana kondusif untuk tumbuh kembang Anak;
f) berperan aktif dengan menghilangkan pelabelan
negatif terhadap Anak korban sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 59; dan
g) memberikan ruang kepada Anak untuk dapat
berpartisipasi dan menyampaikan pendapat
Terpadu
• Semua aspek dan komponen dipahami dalam
hubungannya antara satu dengan yang
lain, dan harus - dalam konteks yang luas - sebagai bagian
dari upaya mempromosikan hak-hak anak - serta dianggap
sebagai sebuah kontinum, yang berperan sebagai kerangka
berpikir utama

Pencegahan Penangan
Pencegahan
Korban Rehabilitasi Reintegrasi
Primer Sekunder
Kekerasan
Tujuan PATBM
Mencegah kekerasan terhadap anak - termasuk segala
tindakan yang dilakukan untuk mencegah kekerasan
terhadap anak
 Mengubah norma sosial dan praktik budaya yang menerima,
membenarkan atau mengabaikan kekerasan
 Membangun sistem pada tingkat komunitas dan keluarga untuk
pengasuhan yang mendukung relasi yang aman untuk mencegah
kekerasan (peer to peer approach)
 Meningkatkan keterampilan hidup dan ketahanan diri anak dalam
mencegah kekerasan
Tujuan PATBM
Menanggapi kekerasan - yang mengacu pada langkah-langkah
yang dilakukan untuk mengidentifikasi, menolong, dan
melindungi anak-anak yang menjadi korban kekerasan termasuk
akses terhadap keadilan bagi korban dan pelaku
• Melakukan jejaring (termasuk advokasi)
dengan layanan pendukung yang terjangkau
dan berkualitas untuk korban, pelaku, dan
anak dalam risiko
Prinsip
• Kepentingan terbaik untuk anak, Partisipasi Anak, Perlindungan
Hak untuk hidup, kelangsungan hidup dan perkembangan, Non-
diskriminasi
• Memperkuat struktur perlindungan anak lokal yang telah ada
• Membangun sinergitas dengan lembaga desa - perangkat desa,
posyandu, PKK, kader KB, PATBM desa lain, LSM (jaringan
horisontal) dan SKPD, rujukan layanan primer (jaringan vertikal)
TATA KELOLA
• Tingkat Kabupaten/Kota, Prov, Pusat
• Pasal 12 (2) UU 23 Tahun 2014 tentang Urusan Pemerintahan Wajib
yang tidak berkaitan dengan pelayanan dasar (butir b).
• Tingkat Desa (UU 6 Tahun 2014)
• Pasal 8 Kewenangan desa
• Pasal 94 Lembaga kemasyarakatan  partisipasi masyarakat
• Tingkat PATBM:
• Pedoman PATBM
Pengelolaan Informasi

• Informasi:
• Pesan tentang perlindungan anak
• Media untuk membawa pesan
• Informasi Strategis:
• Mengenali masalah/potensi
• Menggunakan untuk membuat kegiatan
• Menggunakan untuk menilai kegiatan
Pengelolaan SDM

• Pengelola (anak, tokoh masyarakat, tokoh agama


atau tokoh yang terlibat dalam kelembagaan desa
lainnya – RT/RW/Dusun)
• Mekanisme pengembangan kapasitas bagi
pengelola
• Penggerakan dan bimbingan teknis PATBM
Mobilisasi

• Partisipasi
• Inisiasi, merencanakan, menggerakkan sumber daya,
melaksanakan, memantau, mengevaluasi

• Pemanfaatan
• Menggunakan layanan atau terlibat dalam kegiatan
tersedia
• Pola-pola hubungan antar
Struktur
komponen yang dibangun
(pembagian peran kelembagaan  horisontal - vertikal)

LSM

Pos Yandu P2TP2A

Lembaga PATBM
Kemasyarakat Anak-anak
lain
Orang
(Desa)
Tua/Keluarga Babinsa

BPPA

DLL
Puskesmas
Mengukur Efektivitas PATBM
Ukuran Cara Mengukur
Efektivitas
• Keluaran/Kinerja  tingkat PABM
• jumlah anak/orang tua/keluarga yang memanfaatkan Laporan
layanan (kegiatan) Kegiatan/program
• Jumlah dusun/RW/RT yang ada kegiatan PATBM
• kepuasan penduduk terhadap PATBM
• keberlangsungan PATBM (dana dan operasional)
• Hasil/Perubahan Perilaku  tingat Kabupaten Survey
• Munculnya norma anti kekerasan dalam masyarakat
• Ketrampilan pengasuhan orang tua meningkat
• Kecakapan hidup dari anak untuk menghindari kekerasan
• Terbangunnya mekanisme untuk merespon kekerasan
• Dampak  tingkat Prov/Nasional
• Turunnya angka kekerasan terhadap anak Survey
Anak adalah bagian dari masa kini dan pemilik masa
depan …
Lindungi mereka dan penuhi hak-haknya…

50
Sistem
Perlindungan Anak

51
Perkembangan Pendekatan Dalam
Perlindungan Anak

Pendekatan Berbasis Isu

Pendekatan Pengembangan /Pembangunan


lingkungan yang Protektif Bagi Anak

Pendekatan Berbasis Sistem

Modul 1. Pengantar Hak Anak, 52


Perlindungan Anak dan Sistem
Perlindungan Anak
Pendekatan Berbasis Isu (1)

 Adalah penanganan perlindungan anak yang


didasarkan
pada isu-isu yang muncul, seperti:
 Pekerja anak
 Anak yang diperdagangkan
 Anak jalanan
 Anak yang dilacurkan
 Anak terlantar
 dll.
Modul 1. Pengantar Hak Anak,
53
Perlindungan Anak dan Sistem
Perlindungan Anak
Memperkerjakan anak di bawah
umur
PERISTIWA STPDN
PELEDAKAN BOM DI BALI
PELEDAKAN BOM DI PAPUA
KASUS DAYAK - SAMPIT
KASUS MARSINAH
KASUS SEMANGGI
KASUS TRI SAKTI
KASUS TANJUNG PRIOK
Pendekatan Berbasis Isu (2)
Kelemahan :
 Gagal melihat akar penyebab umum yang
memerlukan penanganan bersama;
 Gagal membangun tautan antara penanganan dan
kebijakan
 Program dirancang dengan berkutat pada:
kepentingan sektor/profesi/keahlian/departemen
dari pada ‘anak’!
 Pembaruan sering terjadi tetapi terisolasi dari
sistem yang lebih luas atau ’berdiri sendiri ’.
Modul 1. Pengantar Hak Anak, Perlindungan Anak dan Sistem Perlindungan Anak 71
Pendekatan Pengembangan Lingkungan
Lingkungan yang Protektif bagi Anak(3)

Untuk mengembangkan lingkungan protektif yg efektif :


 Harus ada hubungan antara berbagai faktor, tindakan, dan
kegiatan;
 Harus ada koordinasi antara para pelaku yang terlibat;
 Kembangkan suatu sistem di mana peran dan mandat harus
jelas, dan sistem dapat memberikan pelayanan yang
komprehensif untuk menjawab kebutuhan anak;
 Hanya melalui pendekatan komprehensif maka pelayanan
dapat
dibangun.

Belum menjelaskan tentang ‘bagaimana’ mencapainya


Modul 1. Pengantar Hak Anak, Perlindungan Anak dan Sistem Perlindungan Anak 72
Menciptakan Lingkungan Protektif bagi
Anak

Modul 1. Pengantar Hak Anak, Perlindungan Anak dan Sistem Perlindungan Anak 73
Perkembangan Pendekatan Dalam
Pembangunan Sistem Perlindungan Anak

Dari menangani gejala/masalah/ kategori masalah;

Menuju
Pencegahan dan penanganan kekerasan,
eksploitasi,
perlakuan salah, dan penelantaran, melalui
sistem perlindungan anak yang komprehensif.
Modul 1. Pengantar Hak Anak, Perlindungan Anak dan Sistem Perlindungan
74
Anak

13
Pendekatan Pengembangan Sistem

Pendekatan Pengembangan Sistem bertujuan


mempromosikan suatu Sistem Perlindungan Anak yang
komprehensif, dengan menangani faktor risiko yang
menghambat anak untuk menikmati haknya guna
meminimalisasikan kerentanan anak dan merespons semua
bentuk kekerasan, eksploitasi, perlakuan salah, dan
penelantaran.

Bagaimana membangun suatu Sistem Perlindungan Anak?


Dengan melihat apa yang hendaknya ada dalam Sistem
Perlindungan Anak dan dibandingkan dengan kondisi saati ini.
Selanjutnya intervensi dikembangkan berdasarkan kesenjangan
yang ada.
75
Modul 1. Pengantar Hak Anak, Perlindungan Anak
dan Sistem Perlindungan Anak
SISTEM PERLINDUNGAN ANAK
Sistem Hukum dan Kebijakan

Sistem
kesejateraan
Sosial bagi anak
dan keluarga

Dukungan Parenting, Pengasuhan Anak,


pengasuhan anak, Pengadilan Anak,
konseling dll.,pelayanan Perawatan, Adopsi,
dasar lain, yaitu saksi anak dan korban
Kesehatan dan Pendidikan
Perubahan Sistem
anak

Perilaku Peradilan
Sosial

Sistem Data dan Informasi Perlindungan Anak


Modul 1. Pengantar Hak Anak, Perlindungan Anak dan Sistem Perlindungan Anak 76

Diadaptasi dari CP SBA Training yang dikembangkan oleh UNICEF EAPRO – Child Frontiers – The Children’s Legal Centre
Pedoman Pelatihan Modul 1
Komponen Sistem Perlindungan Anak
Suatu sistem yang berfungsi dengan baik hendaknya memiliki:

NORMA

STRUKTUR PROSES

Modul 1. Pengantar Hak Anak, Perlindungan Anak dan Sistem Perlindungan Anak 77

77 Diadaptasi dari CP SBA Training yang dikembangkan oleh UNICEF EAPRO – Child Frontiers – The Children’s Legal
Centre
Modul 1. Pengantar Hak Anak, Perlindungan Anak dan Sistem Perlindungan Anak 78
Menetapkan Sistem Perlindungan Anak

 Bertujuan memperkuat lingkungan protektif guna


melindungi anak dari segala bentuk penyalahgunaan,
eksploitasi, penelantaran dan kekerasan;
 Terdiri dari elemen-elemen yang saling berkait.
 Memberikan pelayanan yang mencegah dan merespons
semua permasalahan perlindungan anak secara terpadu;
 Mempromosikan sikap, keyakinan, nilai-nilai, dan perilaku
yang menjamin kesejahteraan dan perlindungan anak.

79

Modul 1. Pengantar Hak Anak,


25
Perlindungan Anak dan Sistem
Perlindungan Anak
FILM SHOWING

PERLINDUNGAN
KHUSUS ANAK
KONVENSI HAK-HAK ANAK (KHA)
KLASTER
VIII. Langkah-langkah Perlindungan Khusus :
I. Langkah-Langkah
1.Anak dalam situasi darurat
Umum Implementasi
2.Anak yang berkonflik dengan hukum
3.Anak dalam situasi eksploitasi :
• Eksploitasi ekonomi; II. Definisi Anak
• Dieksploitasi sebagai Pengguna dan atau
Pengedar Narkoba
• Ekspl Seksual & Kekerasan Seksual III. Prinsip-Prinsip
(perkosaan, Incest, pelecehan seksual, Umum KHA
sodomi)
• Penculikan, perdagangan dan trafiking KHA
• Eks. Bentuk lain
IV. Hak Sipil dan
4. Kelompok minoritas & suku terasing
Kebebasan

V. Lingkungan keluarga
dan pengasuhan
VII. Pendidikan, Waktu VI. Kesehatan & alternatif
Luang & Kegiatan Kesejahteraan Dasar
Budaya
SPECIAL PROTECTION MEASURES
LANGKAH-LANGKAH PERLINDUNGAN KHUSUS
KHA : klaster VIII
(C) Anak dalam situasi
Exploitasi :
(A) Anak2 dalam situasi darurat
( Children in Situation of Emergency ) 32: Exploitasi Ekonomi
33: Drug Abuse
(22) Pengungsi:Refugee and IDPs: 34: Exp. Sexsual,sexsual abuse
(Internally Displaced Peoples) 35: Penculikan, Perdagangan
(38) Anak dlm situasi konflik bersenjata dan Trafficking
(Children in Situation of Armed 36: Exploitasi Bentuk lain.
Conflict)

(B) Anak yang berkonflik (D)Anak masyarakat Adat


dengan Hukum & Kelompok Minoritas (30)
(40; 37. a) : 37. b,c,d ;
(39) Recovery & Rehabilitasi
Pasal 22 KHA . Pengungsi anak

1. Negara wajib mengambil langkah-langkah untuk


menjamin anak yang mencari status pengungsi
mendapat perlindungan yang layak dan bantuan
kemanusiaan
2. Kerjasama dengan PBB dan lembaga internasional
yang kompeten atau LSM untuk melindungi dan
membantu anak dalam mencari orangtuanya atau
anggota keluarga lainnya
3. Melakukan perlindungan terhadap anak yang
terpisah dari orangtuanya seperti yang diperoleh oleh
anak yang masih bersama orangtuanya
Pasal 38. Perlindungan bagi anak dari pengaruh konflik
bersenjata

 Negara menghargai dan menjamin penghormatan atas


hukum humaniter internasional
 Menjamin anak di bawah 15 tahun tidak terlibat dalam
permusuhan
 Tidak merekrut anak di bawah 15 tahun dalam angkatan
perang
 Memprioritaskan anak yang lebih tua (antara 15 – 18 tahun)
ke dalam dinas militer
 Mengambil langkah untuk menjamin perlindungan dan
perawatan bagi anak-anak yang diakibatkan oleh konflik
bersenjata
Pasal 39 kha.
Rehabilitasi anak korban
 Pasal 39 menuntut Negara mengambil langkah-langkah untuk
membantu anak-anak yang menjadi korban
 Segala bentuk :
 Kekerasan
 Penelantaran
 Eksploitasi
 Perlakuan salah
(Pasal-pasal : 19, 32, 33, 34, 35, 36)
 Penyiksaan atau bentuk perlakuan atau hukuman lainnya
:
 Yang kejam
 Tidak manusiawi
 Merendahkan martabat
(Pasal 37)
 Konflik bersenjata (Pasal 38)
Pasal KHA 37.
Penyiksaan, perlakuan yang merendahkan dan pencabutan kebebasan

 Pasal 37 memberikan hak perlindungan kepada anak


dari :
 Siksaan
 Perlakuan lain maupun hukuman yang kejam,
tidak manusiawi atau merendahkan martabatnya
 Hukuman mati
 Hukuman seumur hidup tanpa kemungkinan
untuk bebas
 Perampasan atas hak secara tidak sah ataupun
sewenang-wenang
Pasal 39 KHA.
Rehabilitasi anak korban

Negara wajib mengambil langkah untuk


pemulihan fisik dan psikis serta reintegrasi
sosial anak yang menjadi korban :
 Penelantaran
 Eksploitasi
 Perlakuan salah
 Penyiksaan
 Hukuman yang kejam tidak manusiawi
 Merendahkan martabat atau
 Konflik bersenjata
Pasal 40 KHA .
pelaksanaan peradilan anak

 Negara mengakui hak anak yang disangka, dituduh atau diakui telah
melanggar hukum diperlakukan dengan cara yang sesuai dengan
peningkatan martabat dan nilai anak yang memperkuat penghargaan
anak pada hak-hak asasi manusia
 Negara menjamin setiap anak yang disangka atau dituduh telah
melakukan pidana setidaknya mendapat jaminan sebagai berikut :
 Dianggap tidak bersalah sampai terbukti bersalah menurut hukum
 Diberitahu segera atas tuduhannya termasuk kepada orangtua atau
walinya
 Mendapat bantuan hukum dan bantuan lainnya ditangani oleh
pihak yang berkompeten dan independen
 Tidak dipaksa memberi kesaksian atau mengakui bersalah ; untuk
memeriksa saksi yang memberatkan serta mendapatkan partisipasi
dan pemeriksaan saksi atas namanya dengan memakai prinsip
persamaan
 Berhak atas kasasi
 Mendapat bantuan interpreter gratis
 Privasinya sepenuhnya dihormati
pAsal 32. Buruh anak  Negara wajib mengambil langkah:
 Legislatif
 Administratif
 Sosial dan pendidikan
 Negara wajib melindungi
anak dari eksploitasi Untuk menjamin pelaksanaan,
ekonomi dan dari dan secara khusus memberikan:
pekerjaan yang :  Batas usia atau
serangkaian batas usia
 Berbahaya minimum yang
 Mengganggu memberikan ketentuan
pendidikan anak, atau perijinan untuk bekerja
 Merugikan kesehatan  Peraturan yang sesuai
anak maupun mengenai jam kerja dan
perkembangan : kondisi pekerjaan
o Fisik  Hukuman atau sangsi
o Mental yang sesuai untuk
o Spiritual menjamin keberhasilan
pelaksanaan pasal ini
o Moral atau
o Sosial
Pasal 33 kha .
Anak dan penyalahgunaan narkoba  Perjanjian-perjanjian Internasional
telah mengidentifikasi sekuruh obat
bius dan zat-zat yang
membutuhkan pengawasan, dalam
pengelompokan yang masih luas
berikut ini :
 Negara wajib mengambil  Opium, morfin dan alkaloid
semua langkah untuk : opium serta morfin sintetis
 Melindungi anak dari (misalnya heroin)
 Daun koka serta kokain
penggunaan obat-  Produk Cannabis (mariyuana)
obatan jenis Narkotika  Obat-obatan psikotropika/
dan Zat-zat psikotropika psikoaktif yang biasa
menimbul-kan
 Mencegah penggunaan ketergantungan atau
anak-anak dalam penyalahgunaan yang biasa
produksi dan pengiriman menciptakan masalah-
masalah sosial dan kesehatan
illegal dari zat-zat ini masyarakat yang
membutuhkan kontrol
Internasional (obat penenang
seperti barbiturat, stimulan
seperti amfetamin dan
halusinogen seperti LSD
Pasal 34 KHA . Eksploitasi seksual anak

 Mewajibkan Negara
melaku-kan perlindungan  Untuk melindungi anak dari
tiga bentuk khusus (dan
bagi anak dari “segala
sering berkaitan), yakni :
bentuk eksploi-tasi
maupun penyalahgunaan a) Bujukan (inducement)
seksual”, yang atau paksaan (coercion)
membutuhkan langkah- terhadap anak untuk
melakukan kegiatan
langkah :
seksual yang tidak sah
 Nasional b) Eksploitasi anak dalam
 Bilateral pelacuran atau praktek
 Multilateral seksual lainnya yang
tidak sah
c) Eksploitasi anak dalam
pertunjukan serta segala
bentuk pornografi
35. Pencegahan dari penculikan, penjualan dan trafiking

Pasal 35 bertindak sebagai


perlindungan sempurna bagi
anak-anak yang beresiko
terhadap penculikan, penjualan,
dan trafficking anak untuk
tujuan apapun dan dalam
bentuk apapun
36. Protection from Other Form of Exploitation

Negara melindungi anak dari segala


bentuk eksploitasi lainnya, seperti :
 Eksploitasi Media
 Eksploitasi oleh para peneliti
 Eksploitasi Sosial
30. anak-anak dari kelompok minoritas dan
anak KAT (komunitas adat terpencil)

39. Rehabilitasi ank korban

Negara menjamin hak


anak Negara wajib mengambil langkah
anak dari kelompo untuk pemulihan fisik dan psikis serta
minoritas reintegrasi sosial anak yang menjadi
dan terasing atas : korban :
 Penelantaran
 Budaya sendiri  Eksploitasi
 Keyakinannya  Perlakuan salah
 Bahasanya  Penyiksaan
 Hukuman yang kejam tidak
manusiawi
 Merendahkan martabat atau
 Konflik bersenjata
Salah Satu elemen dalam sistem perlindungan anak yang memberikan pandangan independen terhadap setiap
masalah hukum yang berkaitan dengan anak terutama ketika keputusan formal perlu diambil demi kepentingan
terbaik anak dalam perkara pidana, perdata, dan administrasi dalam peradilan formal maupun informal

SISTEM
Merupakan bagian dari sistem perlindungan anak dalam pelaksanaannya berinteraksi secara
PERADILAN
holistik dan integratif dengan sistem kesejahteraan sosial anak dan keluarga serta sistem perubahan
perilaku sosial
ANAK

SISTEM
PERADILAN
ANAK

95
Modul 3. 96

Diadaptasi dari CP SBA Training yang dikembangkan oleh UNICEF EAPRO – Child Frontiers – The Children’s Legal Centre
SISTEM PERADILAN DI INDONESIA
PERADILAN
PERADILAN
ADMINISTR
PERDATA
ASI

PERADILAN PERADILAN
PIDANA INFORMAL

SISTEM
PERADILA
N

Modul 3. 97
SISTEM PERADILAN PIDANA ANAK

Sistem Peradilan Pidana Anak adalah keseluruhan


proses penyelesaian perkara Anak yang berhadapan
dengan hukum, mulai tahap penyelidikan sampai
dengan tahap pembimbingan setelah menjalani
pidana. Anak yang berhadapan dengan hokum
termasuk anak yang berkonflik dengan hukum, anak
yang menjadi korban tindak pidana, dan anak yang
menjadi saksi tindak pidana
(UU No. 11/2012 tentang Sistem Peradilan
Pidana Anak)

Modul 3. 98
KHA DAN PASAL TERKAIT SISTEM PERADILAN ANAK

Prinsip-prinsip Umum KHA telah diratifikasi melalui Keppres No. 36 Tahun 1990 dan di
adopsi ke dalam UUPA pada pasal 2
Pasal Substansi
Pasal 37 (a) Negara Wajib memberikan perlindungan anak dari (penyiksaan atau bentuk kekejaman lainnya,
perlakuan merendahkan (martabat) atau tidak manusiawi dan hukuman badan; tidak boleh ada
hukuman mati; tidak boleh ada hukuman seumur hidup tanpa kemungkinan untuk bebas; dan
perampasan atas hak secara tidak sah ataupun sewenang-wenang)

Pasal 37 (b) Semua bentuk penangkapan, penahanan ataupun pemenjaraan terhadap anak; yang harus (sesuai
dengan hukum; digunakan sebagai upaya terakhir serta, untuk masa waktu yang sesingkat mungkin)

Pasal 37 (c) Memberikan ketentuan tentang persyaratan lebih lanjut bagi perlakuan terhadap semua anak yang
terampas kebebasannya
Pasal 37 (d) • Mendapatkan hak untuk mengakses bantuan hukum maupun bantuan lain yang diperlukan ;
• Mendapatkan hak untuk membuktikan keabsahan atas Perampasan kebebasannya dihadapan
pengadilan atau pihak lain yang berkompeten serta independen dan tidak memihak;
• Mendapatkan hak untuk mengambil keputusan atas tindakannya

Pasal 39 Negara wajib mengambil langkah-langkah pemulihan fisik dan psikis serta reintegrasi sosial anak yang
menjadi korban segala bentuk kekerasan, penelantaran, eksploitasi atau perlakuan salah
Modul 3. 99
Pasal 40 Menuntut tiap Negara mengembangkan sistem peradilan Anak yang khusus bagi Anak-anak, sesuai
dengan pasal 1, sampai usia 18 tahun, dengan tujuan yang positif dan bukannya punitive/menghukum
Pendekatan PBB dalam Peradilan Anak

• Tujuan: Untuk memastikan bahwa anak yang berkonflik


dengan hukum, menjadi saksi, atau korban, agar:
 
• Memiliki akses untuk; dan mendapatkan layanan serta perlindungan
yang lebih baik dalam sistem hukum,
• Termasuk terhubung dengan sektor keamanan dan kesejahteraan sosial
• Memberikan kerangka kerja yang sistematis dan terintegrasi bagi
praktisi perlindungan anak dalam melihat berbagai aspek peradilan
anak
• Mendorong program-program tambahan/penunjang untuk
meningkatkan pemenuhan hak-hak anak, dengan fokus khusus pada: 
“upaya berbasis masyarakat untuk penguatan akses dan layanan hukum
bagi kelompok marginal”

Modul 3. 10
0
PERBEDAAN PERADILAN DEWASA
DAN PERADILAN PIDANA ANAK
PERADILAN DEWASA PERADILAN ANAK
APH tidak memerlukan sertifikat khusus APH harus bersertifikat SPPPA

Proses pengadilan bersifat terbuka untuk Proses pengadilan tertutup, kecuali dalam
umum kecuali ditentukan lain dalam pengucapan putusan
peraturan perundang-undangan

Tidak memerlukan pendampingan Anak mendapatkan pendamping (peksos,


LSM, Orang tua, linmas, advokat)

APH menggunakan seragam dan atribut APH tidak menggunakan seragam dan
peradilan atribut yang tidak ramah anak
Tidak diperlukan hasil penelitian Selain dakwaan, maka harus ada pula hasil
kemasyarakatan penelitian kemasyarakatan terhadap anak
sebagai pelaku;

Masa Penahanan
Modul 3. mengacu ke KUHAP Masa penahanan mengacu ke
10 UU No. 11
Tahun 2012 tentang Sistem
1 Peradilan
Pidana Anak
Terimakasih…

Thanks …