Anda di halaman 1dari 20

Pencegahan primer,sekunder,tersier

hiv aids dan penyalahgunaan NAPZA


RINA RAHMADANI SIDABUTAR
Cara Penularan HIV/AIDS

 1)      Lewat cairan darah


 Melalui transfusi darah/produk darah yang sudah tercemar HIV. Lewat
pemakaian jarum suntik yang sudah tercemar HIV, yang dipakai bergantian
tanpa disterilkan, melalui pemakaian jarum suntik yang berulangkali dalam
kegiatan lain, misalnya: penyuntikan obat, imunisasi, pemakaian alat tusuk
yang menembus kulit, misalnya alat tindik, tato, dan alat facial wajah.
 2)      Lewat cairan sperma dan cairan vagina
 Melalui hubungan seks penetratif (penis masuk kedalam Vagina/Anus), tanpa
menggunakan kondom, sehingga memungkinkan tercampurnya cairan sperma
dengan cairan vagina (untuk hubungan seks lewat vagina) atau tercampurnya
cairan sperma dengan darah, yang mungkin terjadi dalam hubungan seks
lewat anus.
 3)      Lewat air susu ibu
 Penularan ini dimungkinkan dari seorang ibu hamil yang HIV positif, dan
melahirkan lewat vagina kemudian menyusui bayinya dengan ASI.
Pencegahan HIV/AIDS

 1)        Primer
 Pencegahan primer dilakukan sebelum seseorang terinfeksi HIV. Hal ini
diberikan pada seseorang yang sehat secara fisik dan mental. Pencegahan ini
tidak bersifat terapeutik, tidak menggunakan tindakan yang terapeutik dan
tidak menggunakan identifikasi gejala penyakit. Pencegahan ini meliputi dua
hal, yaitu:
 Peningkatan kesehatan, misalnya: dengan pendidikan kesehatan reproduksi
tentang HIV/AIDS, standarisasi nutrisi, menghindari seks bebas screening, dan
sebagainya.
 Perlindungan khusus, misalnya: imunisasi, kebersihan pribadi, atau pemakaian
kondom.
 2)        Sekunder
 Pencegahan sekunder berfokus pada Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) agar
tidak mengalami komplikasi atau kondisi yang lebih buruk. Pencegahan ini
dilakukan melalui pembuatan diagnosa dan pemberian intervensi yang tepat
sehingga dapat mengurangi keparahan kondisi dan memungkinkan ODHA tetap
bertahan melawan penyakitnya. Pencegahan sekunder terdiri dari teknik
skrining dan pengobatan penyakit pada tahap dini. Hal ini dilakukan dengan
menghindarkan atau menunda keparahan akibat yang ditimbulkan dari
perkembangan penyakit atau meminimalkan potensi tertularnya penyakit lain.
 3)        Tersier
 Pencegahan tersier dilakukan ketika seseorang teridentifikasi terinfeksi HIV/AIDS dan mengalami
ketidakmampuan permanen yang tidak dapat disembuhkan. Pencegahan ini terdiri dari cara
meminimalkan akibat penyakit atau ketidakmampuan melalui intervensi yang bertujuan
mencegah komplikasi dan penurunan kesehatan. Kegiatan pencegahan tersier ditujukan untuk
melaksanakan rehabilitasi, dari pada pembuatan diagnosa dan tindakan penyakit. Perawatan
pada tingkat ini ditujukan untuk membantu ODHA mencapai tingkat fungsi setinggi mungkin,
sesuai dengan keterbatasan yang ada akibat HIV/AIDS. Tingkat perawatan ini bisa disebut juga
perawatan preventive, karena di dalamnya terdapat tindak pencegahan terhadap kerusakan
atau penurunan fungsi lebih jauh. Misalnya, dalam merawat seseorang yang terkena HIV/AIDS,
disamping memaksimalkan aktivitas ODHA dalam aktivitas sehari-hari di masyarakat, juga
mencegah terjadinya penularan penyakit lain ke dalam penderita HIV/AIDS. Mengingat seseorang
yang terkena HIV/AIDS mengalami penurunan imunitas dan sangat rentan tertular penyakit lain.
 Selain hal-hal tersebut, pendekatan yang dapat digunakan dalam upaya pencegahan penularan
infeksi HIV/AIDS adalah penyuluhan untuk mempertahankan perilaku tidak beresiko. Hal ini bisa
dengan menggunakan prinsip ABCDE yang telah dibakukan secara internasional sebagai cara
efektif mencegah infeksi HIV/AIDS lewat hubungan seksual. ABCDE ini meliputi:
 A = abstinensia, tidak melakukan hubungan seks terutama seks berisiko tinggi dan seks
pranikah.
 B = be faithful, bersikap saling setia dalam hubungan perkawinan atau hubungan tetap.
 C = condom, cegah penularan HIV dengan memakai kondom secara benar dan konsisten untuk
para penjaja seksual.
 D = drugs, hindari pemakaian narkoba suntik.
 E = equipment , jangan memakai alat suntik bergantian.
 Upaya penanggulangan penyakit HIV/AIDS dapat dilakukan dengan
menyediakan Rumah Sakit atau tempat perawatan khusus bagi pasien
penderita HIV/AIDS dan dijaga sedemikian rupa sehingga penularan kepada
yang sehat dapat dicegah serta melakukan pemantauan secara terus menerus
untuk melihat perkembangan masalah AIDS agar masalah AIDS ini dapat
ditangani dengan baik.
PENCEGAHAN PADA NAPZA

 1. Pencegahan Primer
         Pencegahan Primer merupakan tindakan pencegahan yang dilakukan
sejak dini supaya orang tidak menyalahgunakan narkoba. Sasaran utamanya
adalah anak atau remaja, keluarga dan kesatuan masyarakat yang belum
terkena masalah penyalahgunaan NARKOBA.
Kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam upaya pencegahan ini antara lain :
- Penyuluhan tentang bahaya narkoba dan upaya-upaya pencegahan yang bisa
di lakukan.
- Penerangan melalui berbagai media tentang bahaya narkoba.
- Pendidikan tentang pengetahuan narkoba dan bahayanya.
 Bisa juga di lakukan dengan metode yang sudah di rekomendasikan oleh
UNODC (United Nation Office on Drugs and Crime)  yaitu pencegahan
penyalahgunaan narkoba dengan melalui berbasis ilmu pengetahuan.
    UNODC menunjukkan bahwa metode pencegahan penyalahgunaan narkoba
yang selama ini dilakukan seperti pencetakan booklet, buku, poster maupun
leaflet malah terkesan menyeramkan sehingga tidak menarik perhatian
masyarakat untuk tahu lebih banyak tentang narkoba dan bahayanya. Ini
karena materi, isi maupun testimony yang ada di dalamnya kurang atau
bahkan tidak tepat sebagai sarana untuk menyadarkan ataupun mengingatkan
masyarakat tentang bahaya penyalahgunaan narkoba.
 Berbagai sarana tersebut sangat kurang memberi dampak positif bahkan tidak
mempengaruhi perubahan perilaku masyarakat sama sekali. Oleh karena
itulah UNODC merekomendasikan strategi pencegahan penyalahgunaan
narkoba berbasis ilmu pengetahuan. Metode kali ini mengutamakan kerjasama
dengan keluarga, sekolah, masyarakat ataupun komunitas tertentu untuk
mengembangkan program pencegahan yang menekankan pada aspek
pendidikan (edukasi).
 2. Pencegahan  Sekunder
         Pencegahan Sekunder adalah untuk menginisiasi penyalahguna narkoba yang
baru saja menggunakan atau mencoba-coba. Mereka perlu disadarkan supaya
nantinya tidak berkembang menjadi pecandu karena efek adiktif dari narkoba yang
dikonsumsi. Pecegahan ini menitik beratkan pada mengarahkan si penyalahguna
narkoba untuk melalukan pola hidup sehat dalam keseharian mereka (healthy
lifestyle). Selain itu juga dibantu agar mereka menjalani terapi maupun rehabilitasi.
 Kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam upaya pencegahan ini antara lain :
- Deteksi dini anak yang menyalahgunaan narkoba
- Konseling
- Bimbingan sosial melalui kunjungan rumah
- Penerangan dan Pendidikan pengembangan individu
- (life skills) antara lain tentang ketrampilan berkomunikasi, ketrampilan menolak
tekanan orang lain dan ketrampilan mengambil keputusan dengan baik.
 Kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam upaya pencegahan ini antara lain :
1. Layananan informasi dan konsultasi
2. Konseling
3. Rujukan
4. Fasilitas dan penguatan kelompok
5. Pembinaan olahraga dan kesenian
6. Penerangan dan Pendidikan pengembangan individu
 Yang tidak kalah penting adalah kebijakan untuk mendukung agar para
pecandu narkoba di kirim ke pusat rehabilitasi, bukan dihukum dan
mengirimnya ke dalam penjara.
 3. Pencegahan Tersier
         Pencegahan Tersier ditujukan bagi para pecandu yang sudah lama
mengonsumsi narkoba dan bergaul dengan barang haram  ini. Dalam tahap
pencegahan ini para pecandu akan direhabilitasi. Ini karena para pecandu
tersebut pada dasarnya adalah seseorang yang sakit sehingga perlu
disembuhkan. Dalam masa rehabilitasi para pecandu akan dipulihkan dari
ketergantungan sehingga mereka bisa hidup normal serta kembali
bersosialisasi dengan keluarga dan masyarakat.
 Adapun tahap-tahap dalam  pencegahan tersier ini,yaitu :
1. Tahap Menjauhkan diri
Bisa berlangsung selama 2 tahun sejak tanggal penggunaan terakhir.
2. Tahap Konfrontasi
Berlangsung mulai akhir tahap 1 sampai selama 5 tahun tidak menggunakan
secara konsisten.
3. Tahap Pertumbuhan
Berlangsung selama 5 tahun atau lebih.
4. Tahap transformasi
Sudah melanjutkan gaya hidup yang baru yang di temukan pada tahap
pertumbuhan.
 Kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam upaya pencegahan ini antara lain :
- Konseling dan bimbingan sosial kepada pengguna dan keluarga serta
kelompok lingkungannya
- Menciptakan lingkungan yang kondusif bagi bekas pengguna agar mereka
tidak terjerat untuk kembali sebagai pengguna narkoba.
 strategi sederhana yang dapat dilakukan orang tua dalam upaya pencegahan  narkoba
diantaranya yaitu:
1. Orang tua harus memiliki pengetahuan secara jelas tentang narkoba , agar dapat memberikan
pengetahuan dan pembekalan pada anak tentang ganasnya narkoba dan bagaimana cara
menghindarinya.
2. Hindari kepercayaan diri yang berlebihan bahwa anaknya adalah anak yang sempurna dan  tidak
punya masalah, ini perlu dilakukan agar secepatnya dapat mendeteksi dini bila ada perubahan yang
tidak lazim pada anaknya.
3. Jangan segan mengawasi dan mencari penyebab terjadinya perubahan tingkah dan perilaku pada
anaknya.
4. Cek secara berkala kondisi kamar ( bila anak memiliki kamar pribadi ), pakaian yang habis
dipakai (isi kantong, aroma pakaian, dls) tas sekolah dan atribut lainnya. (dalam melakukannya
perlu strategi yang baik agar tidak menimbulkan konflik dengan anaknya).
5. Orang tua sebaiknya dapat menjadi model dan contoh yang baik bagi anaknya serta sekaligus
juga dapat berperan sebagai sahabatnya. ( agar anaknya tidak segan mencurahkan segala isi hati,
pendapat dan permasalahan yang dihadapinya).
6. Menerapkan dan membudayakan delapan fungsi keluarga di dalam kehidupan sehari-hari
keluarga. Agar muncul rasa nyaman pada anak ketika berada di lingkungan keluarganya.
8 FUNGSI KELUARGA

 Fungsi Agama
  Fungsi Kasih Sayang
 Fungsi Perlindungan
 Fungsi Sosial Budaya
 Fungsi Reproduksi
 Fungsi Sosialisasi dan Pendidikan
 Fungsi Ekonomi
 Fungsi Pembinaan Lingkungan

Anda mungkin juga menyukai