Anda di halaman 1dari 15

SKALA INTELEGENSI Oleh

kelompok 5
PENGERTIAN INTELEGENSI

 intelegensi yaitu suatu kemampuan mental yang melibatkan


proses berpikir secara rasional, sehingga intelegensi tidak
dapat diamati secara langsung, melainkan harus disimpulkan
dari berbagai tindakan nyata yang merupakan manifestasi
dari proses berpikir rasional tersebut. Dari berbagai
perbedaan sudut pandang mengenai definisi intelegensi
tersebut, terdapat dua tema yang selalu muncul dalam
definisi tersebut, para ahli sepakat menyatakan bahwa
intelegensi merupakan kapasitas untuk belajar dari
pengalaman dan kapasitas seseorang untuk beradaptasi
dengan lingkungan.
ISTILAH INTELEGENSI DAPAT DIARTIKAN
DENGAN DUA CARA, YAITU:
 a. Arti luas: kemampuan untuk mencapai prestasi yang di
dalamnya berpikir memegang peranan. Prestasi itu dapat
diberikan dalam berbagai bidang kehidupan, seperti
pergaulan, sosial, tekhnis, perdagangan, pengaturan rumah
tangga dan belajar di sekolah.

 b. Arti sempit: kemampuan untuk mencapai prestasi di


sekolah yang di dalamnya berpikir memegang peranan pokok.
Intelegensi dalam arti ini, kerap disebut “kemampuan
intelektual” atau ”kemampuan akademik”.
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI
INTELEGENSI

Faktor Bawaan atau Keturunan

Faktor Lingkungan
JENIS-JENIS TES INTELIGENSI

1.    Tes Inteligensi Individual

a.    Skala Stanford-Binet


Tes Stanford-Binet merupakan tes inteligensi yang paling
populer di dunia dan seringkali digunakan sebagai standar
untuk menguji validitas tes inteligensi lain yang dikembangkan
setelahnya. Tes Stanford-Binet edisi tahun 1916 memiliki
banyak kelemahan sehingga dilakukan revisi pada tahun 1937,
yang menghasilkan dua format yang paralel (L dan M). Revisi
berikutnya dilakukan pada tahun 1960 dan kemudian
distandardisasi pada tahun 1972 sehingga mencakup norma-
norma yang memadai bagi populasi masyarakat Amerika saat
itu.
 b.   Skala Wechsler
Tes Wechsler edisi terakhir terdiri dari tiga jenis, yaitu: WPPSI-R
untuk umur 3-7 tahun, WISC-R untuk umur 6-16 tahun, dan WAIS-R
untuk umur 16-74 tahun. WPPSI-R merupakan hasil revisi pada
tahun 1989. Modifikasi dan restandardisasi berikutnya yang
dilakukan pada tahun 1990an menghasilkan tes baru yang
dinamakan WISC III (pengganti WISC-R). Namun dalam subbab ini
hanya akan dibahas mengenai WPPSI dam WISC-R karena edisi
penggantinya tersebut masih belum beredar saat buku ini naik cetak.
Tiga tes tersebut memiliki kesamaan pola, dengan lima atau enam
subtes yang menghasilkan skor Verbal (selanjutnya disingkat V) dan
skor Performansi (selanjutnya disingkat P). Kedua skor tersebut
kemudian menghasilkan skor skala total. Subtes-subtes itu hampir
mirip namun tidak identik antara satu sama lain (untuk masing-
masing tingkat usia).
 2.    Tes Int eligensi Kelompok
a.    Tes Henmon-N elson
Tes Kecakap an Mental Henmon- Nelson t erdiri dari empat level yang didesain
untuk memenuh i kebut uhan taman kanak- kanak hingga kelas XII, di m ana
set iap levelnya dapat d igunakan unt uk t iga at au em pat t ingkat . Tes berisikan
item jenis verbal dan numerikal, dan kemudian menghasilkan r aw scor e yang
akan dikonversikan ke dalam IQ deviasi dan persent il.

b.   Tes Kecakapan Kognitif ( Cogn itive A bilities Tests )


Tes Kecakap an Kognit if merupakan versi modern dari Tes Inteligensi Lorge-
Th orndike. Tes ini t erdiri dari t iga perunt ukan yang berbeda, yait u: (1) unt uk
TK dan kelas 1, (2) unt uk kelas 2 dan kelas 3, se rt a (3) untuk mult ilevel yang
dapat d igunakan d i kelas 3 hingga kelas 12. Tes K ecakapan K ognitif t erdiri
dari tiga bagian yang masing-masing mengukur hal yang berbeda: verbal,
kuant it atif, d an nonverbal. B agian nonverbal mengukur t idak menggunakan
bahas a at aupun angka, namun menggunakan gambar-gambar geo metrik yang
h arus diklasif ikasikan, d ianalogikan, dan disint esakan.
c.   Tes Kuhlmann-Anderson

d.   Tes Keterampilan Kognitif ( Test of Cognitive Skills )

e.    Tes Kesiapan Sekolah Otis-Lennon ( Otis-Lennon School Ability


Test)

f.     Tes Kesiapan Sekolah dan Perguruan Tinggi ( School and


College Ability Tests )

g.    Wonderlic Personnel Test

h.   Multi-Dimensional Aptitude Battery


MENGHITUNG DAN
MENGKLASIFIKASIKAN INTELIGENSI
1.    Intelligence Quotient
Salah satu cara yang sering digunakan untuk menyatakan tinggi rendahnya
inteligensi adalah dengan menerjemahkan hasil tes inteligensi ke dalam
angka yang dapat menjadi petunjuk mengenai kedudukan tingkat
kecerdasan seseorang bila dibandingkan secara relat if terhadap suatu
norma.
Sewaktu pertama kali digunakan secara resmi, angka IQ dihitung dari hasil
tes inteligensi Binet, yaitu dengan membandingkan skor tes yang diperoleh
seorang individu dengan usia individu tersebut. Pada waktu itu, perhitungan
IQ dilakukan dengan menggunakan rumus:
IQ = (MA/CA) x 100

Keterangan:
MA = Mental Age (usia mental)
CA = Chronological Age (usia kronologis)
100 = Angka konstan untuk menghindari bilangan desimal
2.    Batasan Rasio MA/CA
Gagasan pokok dalam perumusan rasio MA/CA adalah
perbandingan relatif antara usia kronologis dengan usia mental
yang telah ditentukan berdasar rata-rata skor pada kelompok
usia tersebut. Seorang yang berinteligensi normal, diharapkan
pada usia lima tahun akan mencapai usia mental lima tahun,
pada usia tujuh tahun akan mencapai usia mental tujuh tahun,
dan seterusnya.
3.    Perumusan IQ-Deviasi
Dengan adanya kelemahan penggunaan rasio MA/CA untuk menghitung IQ,
maka David Wechsler memperkenalkan konsep penghitungan IQ yang disebut
IQ-Deviasi. IQ -Deviasi tidak ditentukan berdasarkan perbandingan MA/CA,
akan tetapi dihitung be rdasarkan norma kelompok ( mean) dan dinyatakan
dalam besarnya penyimpangan (deviasi standar) dari norma kelompok
tersebut. Dalam statistika, angka yang dinyatakan dalam satuan deviasi
standar disebut skor standar dan dirumuskan sebagai:

Skor Standar = m + s {(X-M)/s x }


Keterangan:
m = mean skor standar yang diinginkan
s = deviasi standar yang diinginkan
X = skor mentah yang akan dikonversikan
M = mean distribusi skor mentah yang diperole h
s x = deviasi standar skor mentah yang diperoleh
4.    Distribusi IQ dan Klasifikasi Inteligensi
Sebagaimana karakteristik fisik dan karakteristik psikologis
yang lain, dalam suatu populasi yang besar, distribusi angka IQ
akan mengikuti suatu model sebaran normal yang berbentuk
genta/lonceng simetris, di mana mean terletak di tengah
sumbu, angka-angka yang lebih kecil dari mean terletak di
sebelah kiri, dan angka-angka yang lebih besar dari mean
terletak di sebelah kanan. Hal itu terjadi sesuai dengan
deskripsi matematis Quatelet mengenai kurva lonceng yang
dijadikan landasan oleh Galton, pada tahun 1869, untuk
menyatakan bahwa setiap sifat yang terjadi secara alamiah
akan mempunyai satu mean dan satu distribusi normal
terhadap mean tersebut.
IQ PERSENTASE KLASIFIKASI

Teoretis Sampel Nyata

≥ 130 2,2 2,6 Sangat Superior

120 – 129 6,7 6,9 Superior

110 – 119 16,1 16,6 Di Atas Rata-rata

90 – 109 50,0 49,1 Rata-rata

80 – 89 16,1 16,1 Di Bawah Rata-rata

70 – 79 6,7 6,4 Batas Lemah

≤ 69 2,2 2,3 Lemah Mental


PROSEDUR PELAKSANAAN TES
INTELIGENSI

1.  Menciptakan Suasana Testing


2.  Memberikan Motivasi dan Menciptakan Rapport
dalam Testing
3.  Memberikan Pengarahan kepada Testi
4.  Mengontrol Cara Kerja Testi
5.  Menjawab Pertanyaan-Pertanyaan Testi
6.  Menskor hasil tes dan mentfansformasian ke
dalam norma
7.   Menafsirkan dan melaporkan hasil tes
SILAHKAN BERTANYA MANTEMAN………….
:*