Anda di halaman 1dari 24

CEDERA KEPALA

Dian Arif Wahyudi, MAN


The main cause of death in trauma at
productive age.
Male : Female = 2 : 1
3
Traumatic Brain Injury

Primary Brain Secondary Brain


Injury Injury
Results from what Physiologic and bio-
has occurred to the chemical events which
brain at the time of follow the primary
the injury. injury.

4
4
Primary injury Inflammatory
Direct cell and mediators
vascular damage

Ischemia Bleeding and Increased Edema


haematoma CBF formation

Increased intracranial
pressure

Cell death
5
5
Pathophysiology of TBI
PRIMARY INJURY
Secondary Injury

ISCHEMIA HYPOTENSION

CMRO2 THIOPENTAL
O2 availability
HYPOTHERMIA
TISSUE HYPOXIA

LACTIC ACIDOSIS AVOID HYPERGLYCEMIA


(H)+
glutamate NMDA ANTAGONIST Mg
o
Leakage of K+ Ca+ HYPOTHERMIA 35 C
+ Ca++ CHANNEL BLOCKER

ARACHIDONIC ACID INHIBITOR


Prostaglandins
Fatty acid & thromboxanes Free radical SCAVENGER

CBF INDUCED HYPERTENSION

GANGLIOSIDES
LIPID ANTIOXIDANT Tirilazad
not useful
LIPID PEROXIDATION
Lam AM.1995
Axonal / Neuronal death
Lesi yg dapat timbul pada trauma kepala :
1. Kulit kepala robek atau mengalami perdarahan
subkutan.
2. Otot-otot dan tendo pd kepala mengalami
kontusio.
3. Perdarahan terjadi dibawah galea aponeurotika.
4. Tulang tengkorak patah
5. Gegar otak.
6. Edema serebri traumatik.
7. Kontusio serebri.
8. Perdarahan subarahnoid.
9. Perdarahan epidural
10. Perdarahan subdural.
KLASIFIKASI
BERDASARKAN PATOFISIOLOGI
1. Komosio serebri : tidak ada jaringan otak yang rusak tp hanya
kehilangan fungsi otak sesaat (pingsan < 10 mnt) atau amnesia pasca
cedera kepala.
2. Kontusio serebri : kerusakan jar. Otak + pingsan > 10 mnt atau
terdapat lesi neurologik yg jelas.
3. Laserasi serebri : kerusakan otak yg luas + robekan duramater +
fraktur tl. Tengkorak terbuka.

BERDASARKAN GCS:
1. GCS 13-15 : Cedera kepala ringan  CT scan dilakukan bl ada lucid
interval/ riw. kesdran menurun.  evaluasi kesadaran, pupil, gejala
fokal serebral + tanda-tanda vital.
2. GCS 9-12 : Cedera kepala sedang  prks dan atasi gangg. Nafas,
pernafasan dan sirkulasi, pem. Ksdran, pupil, td. Fokal serebral, leher,
cedera orga lain, CT scan kepala, obsevasi.
3. GCS 3-8 : Cedera kepala berat : Cedera multipel. + perdarahan
intrakranial dg GCS ringan /sedang.
Pemeriksaan fisik
 Pemeriksaan kepala, mata, hidung, ekstremitas
 bila tdpt luka diberikan penanganan, ukuran
luka dicatat..
 Pemeriksaan neurologis : GCS, tanda tekanan
intrakranial meningkat (pusing/sakit kepala,
mntah, kedran menurun, kdg kejang). Pupil,
defisit neurologis lain (lateralisasi, paresis
saraf kranialis ).
 Rontgen kepala, CT scan otak
EPIDURAL HEMATOM
 Pengumpulan darah diantara tengkorak dg
duramater. Biasanya berasal dari arteri yg
pecah oleh karena ada fraktur atau robekan
langsung.
 Gejala (trias klasik) :
1. Interval lusid.
2. Hemiparesis/plegia.
3. Pupil anisokor.
 Diagnosis akurat dg CT scan kepala : perdarahan
bikonveks atau lentikulerdi daerah epidural.
Hematom Intraserebral
 Terkumpulnya darah secara fokal yg
diakibatkan oleh regangan atau rotasional thd
pemb. Drh intraparenkim otak/ cedera
penetrans.
 Gamb. Khas  lesi pdrh diantara neuron otak
yg relatif normal. Tepi bisa tegas/ tidak
tergantung apakah ada oedem otak/tidak.
 Perdrhan intraserebral bs timbul bbrp hr kmd
ssdh trauma  monitor dg pem. Tanda vital,
pem. Neurologis, bila perlu CT scan ulang.
SUBDURAL HEMATOM
 Perdrhan yg mengumpul diantra korteks serebri dan
duramater  regangan dan robekan vena-vena drainase
yg tdpt di rongga subdural ant. Permk. Otak dg sinus
duramater.
 Gjl klinik biasany tdk terlalu hebat kecuali bila terdapat
efek massa.
 Berdsrkan kronologis SDH dibagi mjd :
1. SDH akut : 1- 3 hr pasca trauma.
2. SDH subakut : 4-21 hr pasca trauma.
3. SDH khronis : > 21 hari.
 gamb. CT scan kepala tdp lesi hiperdens bbtk bulan sabit
yg srg tjd pada daerah yg berseberangan dg trauma
(Counter Coup)
 Tindakan op. dilakukan bila pdrh > 40 cc.
 Bila komplikasi akut : gangg. Parenkim otak,
gangg. Pemb. Drh arteri.
 Bila tidak ada komplikasi disebabkan : atrofi otak
mybbkan perdrhan dan putusnya vena jembatam,
gangg. Pembekuan.
 Tindakan operasi dilakukan bila :
1. Perdarahan berulang.
2. Kapsulisasi.
3. Lobulat (multilobulat)
4. Kalsifikasi.
Subarachnoid Hematom
 Perdrhan fokal di daerah subarahnoid. CT
scan terdpt lesi hiperdens yg mengikuti arah
girus-girus serebri daerah yg berdktan dg
hematom.
 Gjl klinik = kontusio serebri.
 Penatalaks : perwatan dg medikamentosa dan
tidak dilakukan op.
EDEMA SEREBRI
 Tertimbunnya cairan yg berlebihan baik pd
ruang inti atau ekstra sel otak. (berbeda dg
pembengkaan otak krn tumor, abses)
 Pybb scr umum krn meningkatnya kdr air di jar.
Otak disbbkan oleh meningkatnya permeabilitas
pemb. Drh otak/ kerusakan sawar darah otak.
 Pembagian edema serebri :
1. Edema vasogenik : permeabilitas pemb. Drh ↑.
2. Edema sitotoksik : disbbkan krn jaringan saraf
mengalami hipoksia.
FRAKTUR IMPRESI
 Ada 2 macam fraktur impresi :
1. Impresi fraktur tertutup : akibat pukulan benda
keras yg mengakibatkan tulang kepala melesak
kedlm dg membrkan tekanan/tdk thdp parenkim
otak tanpa mengakibatkan robeknya kulit kepala
dan hub. Dg dunia luar.
2. Impresi fraktur terbuka : impresi tulang kepala +
robekan kulit kepala dan tjd hub. Dg dunia luar,
bila impresi hebat dpt tjd ribekan pada
duramater.
 pem. Fisik dilakukan cermat utk menentukan op.
segera/ terencana atau konservatif.
PENATALAKSANAAN
 Airway, Breathing, Circulation.
• Membersihkan hidung dan mulut dari darah dan muntahan
• Melonggarkan pakaian yang ketat.
• Menghisap lendir dari mulut, tenggorok dan hidung.
• Bila ada gigi palsu sebaiknya dikeluarkan.
• Bila perlu pasang pipa endotrakhea atau lakukan trakheostomi
• O diberikan bila tidak ada hiperventilasi.
 Posisi tidur  sebaiknya miring kecuali bl ada kecurigaan fraktur servikal.
 Pd CKB  kepala ditinggikan 20-30º dg kepala dan dada dlm 1 bidang.
Jgn fleksi/ laterofleksi.
 Cairan : 1500-2000 cc/hr. pd awal dpt dibrkan cairan RL atau KaEn 3B. Bl
tdp td edema serebri hati2 dg jmlh cairan  Balans cairan !
OPERATIF
 tergantung K.U pasien.
 Pd trauma tertutup :
1. Fraktur impresi.
2. EDH.
3. SDH akut
4. ICH

 Pd trauma terbuka :
1. Perlukaan kranioserebral, fraktur multipel, dura yg
robek, + laserasi otak.
2. Liquorhoe (keluar cairan otak)
3. Pneumocephali (terisi udara).
4. Corpus alienum (benda asing).
5. Luka tembak pada kepala
Resusitasi Cairan
 Hipotensi post-trauma (secundary brain injury).
 Koreksi hipotensi (sistolik < 90 mmHg)
 MAP dipertahankan > 90
Resusitasi Cairan
 Koloid atau kristaloid?
 Hipertonik atau isotonik?
 Pilihlah cairan hipertonik (NS 3%, 7,5%)
 Lebih umum dipakai NaCl 0.9%

 Hindari RL, NS 0.45%

 Hindari Dextrose.

 Apakah hipertensi perlu koreksi?


 Respon kompensasi
 Ya. Jika MAP diatas limit autoregulasi.

 Idealnya alpa-blocker (pentolamine)

 Esmolol, propanolol, labetalol.


Manajemen Kenaikan TIK
 CPP = MAP – ICP
 Trias Cushing: bradikardi, hipertensi, bradipnea.
Manajemen Kenaikan TIK
 Posisi kepala  head-up – 30 derajad
 Hiperventilasi (kontroversi)
 Prinsip: normokapnia, jangan PaCO2 < 35 mmHg.
 Osmotik diuretik
 Manitol 20% 0.25-1 mg/kgBB 15-25 menit.
 Atasi hipovolemia sebelumnya
 Bolus lebih baik daripada infus kontinyu
 Infusnya harus ada filternya
 Loop diuretik
 Furosemid 0.7 mg/kg iv 15 mnt setelah manitol

 Barbiturat
 Konsep Lund
KESIMPULAN :
Neurointensive Care Management :
1. Intracranial pressure – target treatment.
2. Cerebral perfusion pressure treatment.
3. Monitoring techniques.
4. Specific medical treatment.
5. Neurosurgical intervention.
6. Management of recognized complication.
7. General-multiorgan symptom measures.
 TERIMA KASIH

 WASSALAMUALAIKUM …….