Anda di halaman 1dari 52

KONSEP DASAR

PERENCANAAN JEMBATAN
(sesi 1)
Oleh :

Andi Indianto, Drs. Ir . MT.

DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM


DIREKTORAT JENDRAL BINA MARGA
DIREKTORAT BINA TEKNIK
Jakarta, April 2011
MATERI BAHASAN

1. Survey
2. Pradesain
3. Lantai Jembatan
4. Struktur atas Jembatan
PERANCANGAN JEMBATAN

Perancangan jembatan harus mengacu pada:

1. Teori-teori yang relevan.

2. Kajian dan penelitian yang memadai.

3. Aturan / tata cara yang berlaku.


ACUAN PERANCANGAN
• Peraturan Perencanaan Teknik Jembatan,
BMS, 1992.
• Pembebanan Untuk Jembatan (SK.SNI T-
02-2005),
• Perencanaan Struktur Beton untuk
Jembatan (SK.SNI T-12-2004),
• Perencanaan struktur baja untuk jembatan
(SK.SNI T-03-2005),
• Standar perencanaan ketahan gempa
untuk jembatan (SNI 03-2833-200x)
KRITERIA DESAIN JEMBATAN
• Memenuhi standar fungsi, kapasitas jembatan harus sesuai
dengan fungsi jalan.
• Memenuhi standar kenyamanan: Pengguna lalulintas tidak perlu
merubah kecepatan ketika melalui jembatan, pengguna lalulintas
tidak merasa terganggu perjalanannya dan tidak menimbulkan
kemacetan lalulintas.
• Memenuhi standar Keamanan: lalu lintas aman, tidak terjadi
kecelakaan lalulintas yang disebabkan oleh adanya jembatan.
• Memenuhi standar kekuatan dan kestabilan: Jembatan kuat dan
stabil dalam menahan beban baik beban lalulintas, aksi
lingkungan atau beban khusus
• Memenuhi standar ekonomi: secara ekonomi jembatan
menguntungkan, dapat menumbuhkan ekonomi daerah.
• Mudah dalam pelaksanaan. peralatan konstruksi tidak lebih
mahal dari jembatannya.
DIAGRAM ALIR PERENCANAAN

Survey Pendahuluan

Kompilasi data

Evaluasi data Pradesain

a. Type/model struktur
b Lebar jembatan dan bentang jembatan
c. Pilar jembatan
d. Posisi / letak kepala jembatan
e. Posisi struktur atas terhadap MAB/HWS/ bangunan lain dibawahnya
f. Bahan jembatan
g. Ukuran kepala dan pilar jembatan
h. Penentuan metoda konstruksi

Desain Evaluasi Modifikasi


akhir Pradesaian

investiogasi tanah Perhitungan Gambar kostruksi -


dan Analisa struktur dimensi Dokumen Hitungan -
Tahapan Perencanaan Jembatan.
Untuk menjamin desain jembatan memenuhi kriteria desain, maka desain
jembatan harus mengikuti proses desain sebagai berikut:
• Melakukan survey pendahuluan untuk mengumpulkan data-data dasar
perencanaan dan untuk mengetahui letak jembatan.
• Membuat pradesain/ rancangan awal berdasarkan hasil survey
pendahuluan
• Melalukan pengkajian hasil pradesain , dan jika perlu melukan survey
kembali untuk memastikan:
1. Lebar dan Bentang jembatan.
2. Perlu tidaknya pilar.d. Letak kepala jembatan.
3. posisi struktur atas jembatan terhadap muka air banjir atau permukaan air
laut tertinggi atau bangunan lain yang ada dibawahnya.
4. Bahan – beban lain/khusus yang mungkin bekerja pada jembatan
5. Metoda konstruksi yang akan digunakan
• Menentukan desain akhir dari struktur atas dan bawah jembatan
• Menentukan beban – beban yang bekerja pada jembatan
• Melakukan perhitungan / analisa struktur
• Menentukan dimensi tiap elemen jembatan
• Membuat gambar hasil perencanaan.
Rincian Tahapan Perencanaan Jembatan.
SURVEY PELAPOR
PRADESAIN SURVEY DETAIL DESAIN (PER. TEKNIS)
PENDAHULUAN AN

DAAT UTAMA .TOPOGRAFI


-Peta topografi Kontur sekiatar
-Peta geologi rencana jembatan PERHIT. STRUKTUR
-Perta tata guna lahan pada radius 100 m. Lantai jembatan.
-Hidrologi/Curah hujan Struktur atas jembatan.
-Penampang sungai. Kepala jembatan
Characteristic sungai- .GEOTEKNIK Pilar jembatan
-MAB dan MAN Sondir. Pondasi
(visual dan N SPT Bang. Pelengkap jembatan
informasi dari Borring
.masyarakat) Penentuan B. atas.
Penentuan B bawah. Gambar
Elevasi permukaan desain.
lantai jembatan. Laporan
Posisi kep jemb dan .GAMBAR teknis.
pilar Lay out lokasi jembatan.
DATA PENDUKUNG Tampak atas.
Jaringan jalan. .LINGKUNGAN Potongan memanjang
LHR. Aspek Lingkungan. Potongan melintang.
Lokasi material. Pengumpulan doc Detail lantai dan struktur atas.
Harga satuan bahan amdal Detail kepala dan pilar jemb.
dan upah. Detail bangunan pelngkap
(sandaran, Exp joint, tumpuan,
jalan pendekat dll)
SURVEY PENDAHULUAN
DATA UTAMA : KEGUNAAN
 Peta topografi : letak/posisi jembatan
 Peta geologi : longsoran dan gempa
 Peta tata guna lahan : Rencana pengembangan
 Hidrologi dan Curah hujan : Perkiraan debit banjir
 Characteristic sungai : Posisi dan perlindungan pilar & kep. jemb
 MAB dan MAN : Penentuan clearance awal
(visual dan informasi dari masyarakat).
 Penampang sungai : bentuk dan bentang jembatan

DATA PENDUKUNG : KEGUNAAN


 Jaringan jalan. : Metoda konstruksi
 LHR. : Lebar jembatan
 Lokasi material. : Mobilisasi Bahan
 Harga sat bahan &upah. : Anggaran
PRADESAIN
Data – Data yang diperlukan
- Peta situasi/topograffi; penentuan posisi jembatan terhadap jalan dan sungai
- Peta geologi; berhubungan dengan peninjauan gempa dan longsoran
- Penampang sungai ; penentuan bentang , perlu tidaknya pilar, penentuan letak
pilar, penentuan letak kepala jembatan.
- Jenis sungai ; penentuan letak kepala jembatan, Clearance, perlu tidaknya pilar
- Muka air banjir ; posisi struktur atas
- Kecepatan arus air banjir ; gaya pada pilar

Setelah data-data diperoleh dan dianalisa, lalu ditentukan:


a. Letak / posisi jembatan
b. Tinggi jembatan dari muka air banjir/Elevasi permukaan lantai jembatan.
c. Letak / posisi kepala jembatan dan pilar (jika diperlukan )
d. Bentang jembatan
e. Bentuk struktur atas dan bawah jembatan
f. Penampang jembatan
PRADESAIN JEMBATAN
Parameter Perancangan

Tanjakan / Turunan
Perbandingan 1:30 untuk kecepatan kendaraan > 90 km/jam
Perbandingan 1:20 untuk kecepatan kendaraan 60 s/d 90 km/jam
Perbandingan 1:10 untuk kecepatan kendaraan < 60 km/jam

C = 0,5 m ; untuk jembatan di atas sungai pengairan


C = 1,0 m ; untuk sungai alam yang tidak membawa hanyutan .
C = 1,5 m ; untuk sungai alam yang membawa hanyutan ketika banjir
C = 2,5 m ; untuk sungai alam yang tidak diketahui kondisinya.
C = 5,1 m ; untuk jembatan jalan layang.
C  15 m; untuk jembatan di atas laut dan di atas sungai yang digunakan
untuk alur pelayaran. jenis sungainya, jalan : 5 m, laut 15 m ).
BIDANG AMAN DIBAWAH JEMBATAN
SURVEY DETAIL
PARAMETER SURVEY KEGUNAAN

.TOPOGRAFI •
 Kontur pada radius 100 m dari jembatan : Site plan

GEOTEKNIK./ INVESTIGASI TANAH •


 Sondir. : Pondasi
 N SPT : Pondasi
 Borring : Pondasi

.LINGKUNGAN •
 Aspek Lingkungan. : Sosiologi pelaksanaan
 Pengumpulan doc amdal : Penyusunan RKL&RPL, UKL&UPL
URUTAN PERANCANGAN JEMBATAN
1. KRITERIA DESAIN
2. PRADESAIN 5. PERHITUNGAN KEPALA JEMB.
a. Potongan panjang dan lintang a. Pembebanan.
b. Denah/tampak atas b. Perhitungan dimensi dan
penulangan
c. Bentuk dan ukuran girder/rangka
c. Penentuan dan perhitungan
d. Kepala dan pilar jembatan Pondasi

3. PERHITUNGAN LANTAI JEMB. 6. PILAR JEMBATAN


a. Pembebanan.
4. PERHITUNGAN b. Perhitungan dimnesi dan
penulangan
GELAGAR/RANGKA
c. Penentuan dan perhitungan
a. Pembebanan Pondasi
b. Penentuan Gaya Dalam
c. Penentuan Dimensi/tulangan 7. GAMBAR BESTEK
d. Sambungan a. Peta lokasi
e. Kontrol Lendutan b. Denah bangunan
f. Perhitungan perletakan c. Tampak dan potongan
d. Detail
DESAIN (PER. TEKNIS)
PERHIT. STRUKTUR •
 Lantai jembatan.
 Struktur atas jembatan.
 Kepala jembatan
 Pilar jembatan
 Pondasi
 Bang. Pelengkap jembatan

.GAMBAR •
 Lay out lokasi jembatan.
 Tampak atas.
 Potongan memanjang
 Potongan melintang.
 Detail lantai dan struktur atas.
 Detail kepala dan pilar jemb.
 Detail bangunan pelngkap (sandaran, Exp joint, tumpuan,
jalan pendekat dll)
Perencanaan dengan Batas Daya Layan ( ASD )
Perencanaan untuk perhitungan kekuatan struktur didasarkan kepada
tegangan kerja atau yang di ijinkan dari meterial pembentuk struktur
tersebut.
  Tegangan yang di ijinkan

 M
W
  y dimana :  y  Tegangan leleh
n
n = Angka keamanan
 Untuk Baja : n = 1,5
Untuk beton Uji kubus :
y n = 3 ( pembebanan tetap; D+L )
n = 1,8 (pemb. sementara; D+L+W(E))
Untuk beton Uji Silinder :
n = 2,5 ( pembebanan tetap; D+L )
 n = 1,5 (pemb. sementara; D+L+W(E))
Diagram Tegangan - Regangan .M  Momen beban yang bekerja
( tanpa faktor reduksi )
.W  Momen lawan
f c  0,83K
'
Perencanaan dengan Faktor Reduksi Kekuatan (LRFD)
Perencanaan untuk perhitungan kekuatan struktur didasarkan kepada
tegangan leleh pertama dari meterial pembentuk struktur tersebut.
 y  Tegangan leleh pertama
y  Mu
W
M u  Momen Ultimate ( Momen beban berfaktor )
W  Momen lawan ( S )

Faktor Reduksi Beban


Untuk Konstruksi Beton Bertulang
 1. U = 1.2 D + 1.2 C + 1.6 L
2. U = 0.9 D + 1.2 C + 1.2 L±1.2 W
3. U = 0.9 D + 1.2 C ± 1.3 W
y 4. U = 0.9 D + 1.2 C ± 1.0 E
5. U = 1.2 D + 1,0 T + 1.6 L

1. D = Beban mati
2. C = Arus dan tumbukan benda hanyutan
 3. L = Beban hidup
Diagram Tegangan - Regangan 4. W = Beban angin
5. E = Beban gempa
6. T = Tumbukan kendaraan
Umur rencana Jembatan
• Umur rencana jembatan min 50 tahun. Umur rencana
dipengaruhi oleh material/bahan jembatan dan aksi
lingkungan yang mempengaruhi jembatan. Jembatan
dengan umur rencana lebih panjang harus direncanakan
untuk aksi yang mempunyai periode ulang lebih panjang.

Pereode ulang (tahun)


Umur rencana
No Keadaan Batas Keadaan Batas
(tahun)
Layan Ultimate
1 50 20 1000
2 100 20 2000
Bahan Jembatan
• Bahan utama jembatan ditentukan berdasarkan bentuk dan bentang jembatan,
lokasi jembatan, dan umur rencana jembatan. Penggunaan bahan khusus
harus melalui uji material untuk mengetahui karakteristik dan sifat-sifat
fisiknya. Secara umum jembatan dapat menggunakan bahan:
• Beton bertulang dan Beton Prategang
• Baja dan Baja mutu tinggi

Mutu Beton ( fc’ ) ( Mpa) 30 40 50 60


Kuat Tekan (kg/cm2) 300 400 500 600

Jenis Baja Tegangan putus Tegangan leleh


minimum, fu minimum, fy
[MPa] [MPa]
BJ 34 340 210
BJ 37 370 240
BJ 41 410 250
BJ 50 500 290
BJ 55 550 410
Bagian – Bagian Jembatan
Truss / Rangka

Kepala Girder Tumpuan Tumpuan


Jembatan
Pilar
(Pier)
Muka Air Banjir

Pondasi

Atas Rangka, Girder, Tumpuan, Sandaran, Lantai


Struktur
Bawah Kepala jembatan, Pilar, Pondasi
LANTAI JEMBATAN
DIMENSI PELAT LANTAI JEMBATAN
h = tebal pelat
h Tebal pelat pada lantai h > 200 mm
jembatan ditentukan sbb: h > (100 + 40 l ) mm
L dalam m

Cara penulisan tulangan pelat : Ø 10 – 20


Artinya dipasang tulangan pelat Ø 10mm sebanyak 5 buah untuk 100 cm lebar
pelat. Jika 1 buah tulangan Ø 10 mempunyai luas = 79 mm2, maka Ø 10 -20
mempunyai besar tulangan As = 390 mm2.

PEMBEBANAN PADA PELAT LANTAI JEMBATAN


Orang : q = 0,5 ton/m2
Beban Lalu lintas Bekerja pada Trotoar

Beban roda kendaraan T = 11,25 ton


Bekerja pada Lantai jembatan
PEMBEBANAN
PADA PELAT LANTAI JEMBATAN

Tinjauan geser
Analisa struktur: plat dengan beban terpusat
Tinjauan Momen
GESER PONDS PADA PELAT

TLL=11,25T
RODA KENDARAAN Roda kendaraan : a1=20 cm
b1=50 cm

d Tll= beban roda kendaraan

 fc , 
Vc  2d  b1  d    a1  d    
 6 

P.1, 6
Vc 
b1+d
0.7
b1

Vc = kemampuan beton menahan geser


a1 1,8 = faktor beban
0.7 = faktor reduksi kekuatan
a1+d Fc’ dalam Mpa, setelah diakar dan
dibagi 6, lalu dirubah dalam kg/cm2
MOMEN PELAT AKIBAT BEBAN MERATA qDL dan qLL
TABEL
MOMEN
BEBAN
TERPUSAT
TLL
LANJUTANTABEL MOMEN BEBAN TERPUSAT
TULANGAN PELAT
Penulangan pelat harus memenuhi syarat :  min     mak
Banyak tulangan pelat : As   .B.d B= lebar pelat diambil 1m

1,4
 min 
fy

 max  0, 75.balance
TULANGAN SUSUT dan TUL. BAGI
Untuk menahan susut dan tegangan akibat perubahan
suhu, perlu dipasang tulangan susut/tulangan bagi dalam
arah tegak lurus tulangan utama.

Besarnya tulangan susut/tulangan bagi menurut SNI 03-


2847-2002 pasal 9.12 adalah :
Untuk tul ulir dg fy= 400 MPa, As. Susut = 0,0018.b.h
Untuk tul dg. Fy=240 MPa, As. Susut = 0,0020.b.h

Tulangan susut dipasang maksimum dengan jarak,


smak susut = 450 mm atau 5 x tebal pelat
Tulangan bagi ≥ 20% tulangan pokok.
PENENTUAN BANYAKNYA TULANGAN
PENENTUAN BANYAKNYA TULANGAN
DIAGRAM
BANYAK
TULANGAN
UNTUK
TULANGAN
POLOS
DIAGRAM
BANYAK
TULANGAN
UNTUK
TULANGAN
D FORM
STRUKTUR ATAS JEMBATAN
KRITERIA DESIAN H = min 5,0 m (jembt jln daerah)
H= min 5,1m (jembt jln nas dan tol)
T = min 0,5 m (jeb jln daerah)
T = min 1 m (jeb jln nas)
H B = lebar lantai kendaraan
Lebar lantai kendaraan:
3m/lajur ( jemt jln daerah)
3,5 m / lajur (jembt jln nas)
3,5~3,75 /lajur (jembt jln tol)
T B T Sandaran min 0,9 (jembt jln derah)
Min 1 m (jembt jln nas)
Barier min 1,2 m (jemb jln tol)
0,1 t/m

Tiang sandaran
0,9 m
Kerb
0,25m Trotoar
Lantai Kendaraan 0,25m
Kerb
Pemilihan bentuk struktur atas
Pemilihan Tipe Main Structure & Jenis Material yang optimum. Ditentukan
bersdasarkan Bentang ekonomis jembatan

Apabila tidak direncanakan secara khusus maka dapat digunakan bangunan atas jembatan
standar Bina Marga sesuai bentang ekonomis dan kondisi lalu lintas air di bawahnya.
Pembebanan
Struktur Atas Jembatan

A. Beban tetap - Berat mati ( DL )


- Beban Lalu lintas (LL), dengan beban
kejud(DLL) dan beban Rem
( HLL )

B. Aksi Lingkungan - Beban Angin (WL)( Tew)


- Beban Gempa (EL)

C. Beban Khusus - Rangkak dan Susut (CL)


- Beban Sentripugal (SL)
A. Beban Tetap

Beban tetap Beban mati

Beban mati tambahan

Beban hidup

Berat sendiri konstruksi, sesuai dengan BJ material


pembentuk konstruksi: plat, balok, rangka, pilar

Beban yang selalu ada yang tidak termasuk struktur penahan beban
lalu lintas , pipa drainasi, sandaran , tiang lampu lalu lintas , ornamen

Beban lalu lintas yang bekerja diatas jembatan: kendaraan


A.1 Beban Lalu lintas

Beban Lalu lintas


Kendaraan

Beban lajur lalu lintas (D)

Beban merata : Beban garis:


Kendaraan kecil Kendaraan besar
Banyak diatas ( Truk Trailler)
Lantai jembatan Diatas lantai
q = 0,9 ton/m2 jembatan
P = 4,9 ton/m
A.2 Beban lajur lalu lintas (D)

Untuk : L  30m : q = 0,9 t/m


P = 4,9 ton/m  15 
Ubtuk : L  30m : q = 0,9  0,5+  t/m
 L
A.3 Beban Lajur ( D )
A.4 Beban Kejut
BMS: - Beban T dinakkan 30%
- Beban D ( P ) dinaikkan sebesar diagram dibawah
A.6 Beban q dan P Pada Jembatan Balok menerus
B. Aksi Lingkungan
Beban Angin (WL):

v2 Dimana : v = kecepatan angin = m/dt


P  (kg / m 2 )
16
TEW
TEW

Keadaan Dengan Beban Hidup


Jembatan girder
Keadaan Tanpa Beban Hidup
Jembatan Rangka
Keadaan Tanpa Beban Hidup Keadaan Dengan Beban Hidup
b
100 %

d
2m

30 % 15 % 15 % 7,5 %

TEW TEW

Gaya Angin Bekerja Pada Pilar Jembatan


Beban Angin (WL): menurut BMS
TEW  0, 0006.CW .(VW ) 2 . Ab (KN) ( bekerja pada jembatan )
TEW  0, 0012.CW .(VW ) 2 . (KN/m) ( bekerja pada kendaraan)
CW untuk kendaraan dan rangka = 1,2
CW untuk jembatan tergantung perbandingan antara b dan d
b/d = 1,0 : Cw = 2,10
b/d = 2,0 : Cw = 1,50
b/d ≥ 6,0 : Cw = 1,25
Jika tidak dilakukan pengukuran Kecepatan angin (Vw)
Maka Vw dapat diambil:
• V= 30 m/dt ; dekat dengan laut ≤ 5 km
• V= 25 m/dt ; jauh dari laut > 5 km. Batas daya layan
• V= 35 m/dt ; dekat dengan laut ≤ 5 km
• V= 30 m/dt ; jauh dari laut > 5 km. Batas Ultimate
TAHAPAN PERENCANAAN
STRUKTUR ATAS JEMBATAN
a. Data – Data yang diperlukan
- Fungsi jembatan ; berhubungan dengan syarat kenyamanan

- Umur rencana ; berhubungan dengan material yang akan digunakan


dan bahan pengawetnya

- Lebar jalan dan klas jalan ; lebar jembatan dan pembebanan

- Jenis jembatan ( viaduk, aquaduk); penentuan Clearance ( sungai :


tergantung jenis sungainya, jalan : 5 m, laut 15 m )

- Bahan yang akan digunakan ; berhubungan dengan kesedianaan


material

- Kecepatan angin ; gaya pada struktur atas dan bawah


b. Pembuatan bentuk / arsitek jembatan

- Penempatan letak jembatan terhadap sungai/rintangan


dibawahnya; tegak lurus , terpendek, perlu analisa antara
memindahkan sungai, melengkungkan jalan, atau jembatan
serong )

- Penentuan bentang jembatan; perlu analisa mahal mana


pembuatan kepala jembatan atau struktur atas

- Penentuan perlu tidaknya pilar; mahal mana antara pembuatan


pilar dengan struktur atas bentang panjang .

- Penentuan type struktur atas ( girder, box, rangka, kabel,


kombinasi rangka atau girder dengan kabel )
c. Pemodelan struktur
- Penentuan type hubungan struktur atas dan bawah ; kaku, sendi, rol
- Pemodelan hubungan antar elemen pembentuk jembatan ; jepit, sendi
- Pembuatan model analisa; model mekanika.

d. Preliminary design
- Penentuan ukuran struktur atas
- Penentuan / perkiraan dimensi bagian –bagian struktur atas
e. Perhitungan mekenika teknik
( Analisa Struktur )
Struktur 2 Dimensi
• Rangka : Cremona , Ritter, KTS, SAP
• Balok tunggal : Kesetimbangan
• Balok menerus : Clapeyron, SAP
• Portal : Cross, Kani, Takabeya

Struktur 3 Dimensi
• Rangka, balok, portal : SAP
• Jembatan gantung : SAP
• Jembatan Cable Stayed : SAP
Cara kekuatan batas (UD)
• Untuk perhitungan cara kekeutaan batas tegangan yang digunakan adalah
tegangan ultimate dan bebannya dikalikan dengan faktor beban.
• Besarnya faktor beban disesuaikan dengan peraturan beton dan baja yang
digunakan

NO JENIS BEBAN SIMBUL FAKTOR BEBAN


1 Beban mati (berat sendiri) DL Baja 1,1
      Beton pracetak 1,2
      Beton cor ditempat 1,3
      Kayu 1,4
2 Beban mati tambahan DL+   2
3 Gaya prategang Pr   1,15
Beban hidup lalu lintas (P,q,T,Rem,
4
Sentrifugal) LL   1,8
5 Beban tumbukan (kendaraan, kapal) Tef   1
6 Beban tumbukan (benda hanyutan ) Tef Jemb. (khusus) 2
      Jemb. Perm & semn. 1,5
7 Tekanan air mengalir Teu   1
8 Beban angin Tew   1,2
9 Beban gempa Teq   1