Anda di halaman 1dari 49

KONSEP DASAR

PERENCANAAN JEMBATAN
(sesi 2)
Oleh :

Andi Indianto, Drs. Ir . MT.

DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM


DIREKTORAT JENDRAL BINA MARGA
DIREKTORAT BINA TEKNIK
Jakarta, April 2011
MATERI BAHASAN

1. Bangunan bawah jembatan


2. Pondasi jembatan
BANGUNAN BAWAH JEMBATAN
KONSEP PERANCANGAN
1. Kuat menahan beban berat struktur atas , beban lalu lintas
,beban angin dan beban gempa.
2. Kuat menahan tekanan air mengalir, tumbukan benda hanyutan,
tumbukan kapal, dan tumbukan kendaraan
3. Memiliki dimensi yang ekonomis
4. Terletak pada posisi yang Aman, terhindar dari kerusakan
akibat :Kikisan Arus air, penurunan tanah, longsoran global
dan gempa
5. Memiliki tingkat kelayanan struktural yang tinggi. Tidak
bergetar,dan tidak melendut .
6. Memiliki tingkat keawetan sesuai umur rencana.
7. Mudah dikonstruksi.
LANGKAH – LANGKAH
PERANCANGAN
1. Menentukan letak Kepala jembatan dan pilar, berdasarkan Bentuk
penampang sungai, permukaan air banjir, jenis aliran sungai, dan
statigrafi tanah.
2. Menetukan bentuk dan dimensi awal kepala dan pilar jembatan yang
sesuai dengan ketinggian dan kondisi sungai.
3. Menentukan bentuk pondasi yang sesuai dengan kondisi tanah
dibawah kepala dan pilar jembatan
4. Menentukan beban-beban yang bekerja pada kepala dan pilar
jembatan.
5. Melakukan perhitungan mekanika teknik untuk mendapatkan gaya-
gaya dalam.
6. Menentukan dimensi akhir dan penulangan berdasarkan gaya-gaya
dalam tersebut.
Diagram SURVEY

alir disain PENGUMPULAN DATA


Bangunan a.
b.
Penampang sungai
Permukaan air banjir dan normal
Bawah c. Data sondir, boring dan NSPT

Jembatan EVALUASI DATA

PRADESAIN
a. Type/model struktur
b Lebar jembatan
c. Bentang jembatan
d. Posisi / letak Pilar/pylon dan kepala jembatan
e. Bentuk Pilar/Pylon dan kepala jembatan
f. Posisi struktur atas terhadap MAB/HWS/bangunan lain yang ada dibawahnya
g. Bahan Pilar/Pylon dan dan kepala jembatan
h. Ukuran pilar/Pylon dan kepala jembatan

PENENTUAN BEBAN-BEBAN YANG BEKERJA


a. Beban mati dan bean lalu lintas pada struktur atas
b. Beban angin dan beban gempa pada struktur atas
c. Beban air dan tumbukan pada Pilar jemabatan

Desain Perhitunga Modifikasi


akhir n struktur

Gambar kostruksi
KEPALA JEMBATAN
Kepala jembatan adalah struktur penghubung antara jalan dengan
jembatan dan sekaligus sebagai penopang struktur atas jembatan.

Penentuan Letak Kepala Jembatan


Kepala jembatan sedapat mungkin diletakkan pada :
a. Pada lereng/dinding sungai yang stabil
b. Pada alur sungai yang lurus
c. Pada bentang yang pendek
Penentuan Bentang/jarak antar Kepala Jembatan
Penentuan jarak antara dua kepala jembatan (L) didasarkan kepada jenis sungainya.

L ab Untuk Kondisi:


l • Bukan sungai limpasan banjir
2 • Air banjir tidak membawa
Kepala hanyutan
MAB Kepala
Jembatan Jembatan
MAN
Untuk Kondisi:
l b • sungai limpasan banjir
a • Air banjir membawa hanyutan
b
Kriteria Desain Kepala Jembatan

• Tidak ditempatkan pada belokan luar sungai


• Tidak ditempatkan pada aliran air sungai
• Tidak ditempatkan diatas bidang gelincir lereng
sungai.
• Tidak ditempatkan pada lereng sungai jika
digunakan pondasi dangkal
• Pondasai kepala jembatan diupayakan untuk
ditanam sampai kedalaman pengaruh
penggerusan aliran air sungai
Dimensi Kepala Jembatan
Bahan Kepala Jembatan
Pasangan batu kali :  Type Gravitasi
Beton bertulang: Type T dan Type T dengan penopang
Gaya –gaya yang bekerja
pada kepala jembatan
PILAR JEMBATAN
• Fungsi : - Penopang struktur atas
- menyalurkan berat struktur atas ke tanah
• Jenis : - Pilar tunggal
- Pilar masif
- Pilar Portal / Perancah

Bahan : Pasangan batu kali, Beton dan Baja

Pilar tunggal Pilar masif Pilar Perancah / Portal


Pemakaian
h : 5 ~ 15m h : 5 s/d 25 m h : 5 s/d 15 m h : 15 s/d 25 m
Kriteria Desain pilar Jembatan

• Tidak ditempatkan ditengah aliran air sungai


• Jika pilar ditempatkan pada aliran sungai maka
pilar dibuat sepipih mungkin dan sejajar dengan
arah aliran air
• Bentuk disarankan bulat atau lancip
• Untuk daerah rawan gempa diupayakan untuk tidak
menggunaka pilar tunggal.
• Jika menggunakan pondasi dangkal, pondasi
ditanam dibawah dasar sungai sampai batas
pengaruh gerusan aliran air sungai.
Pilar Jembatan Pasangan Batu Kali

d = 0,8 ( 0,8 + 0,12 h + 0,025 w )

0,5m
d = tebal dinding bagian atas pilar
Permukaan air banjir

Dinding semakin kebawah semakin


tebal dengan kemiringan 1:20

h = tinggi pilar dari dasar sungai


sampai tumpuan girder.
Lebar Jembatan
w = jarak dua tumpuan antara pilar
dengan kepal jembatan atau
antara pilar dengan pilar.
d
Pilar Jembatan Beton Bertulang

Pilar Perancah Pilar Tunggal


Pilar Jembatan Baja
Pilar dari baja digunakan dengan
pertimbangan:
-Aliran air sungai cukup deras
-Mengurangi hambatan aliran air
-Mudah dikerjakan
PEMBEBANAN
Pada Kepala dan pilar Jembatan
Kepala dan Pilar Jembatan harus diperhitungkan terhadap semua
beban yang mungkin terjadi pada jembatan tersebut, termasuk
tumbukan kapal pada pilar jembatan bila jembatan tersebut
berada diatas selat atau laut.

A. Beban tetap
- Berat mati dan beban mati tambahan
- Beban hidup atau beban Lalu lintas termasuk beban Rem

B. Aksi Lingkungan
- Beban Angin
- Beban Tumbukan Kendaraan
- Beban Tumbukan Kapal
- Beban Air Mengalir
- Beban Tumbukan Benda Hanyutan
- Beban Gempa

C. Beban Khusus
- Beban Sentripugal
Peninjauan Beban P dan q
Pada Kepala dan Pilar Jembatan
0,5(L1+L2)
P
q

Kepala Jembatan
Pilar

L1 L2 L1

Beban P dan q pada Pilar


0,5. L1
P
q

Kepala Jembatan
Pilar

L1 L2 L1

Beban P dan q pada Kepala Jembatan


Beban Rem
- Bekerja pada permukaan lantai
/lajur lau lintas searah .
- Bekerja arah horizontal pada
permukaan lantai jembatan ,
yang selanjudnya beban
didistribusikan ke struktur
penahan ( pilar dan kepala
jembatan ).
- Peninjauannya harus disertakan
dengan pengaruh beban lalu
lintas.
- Besarnya beban rem tergantung
pada bentang jembatan
SK.SNI T-02-2005 / Lajur (2.75m)  = 0.15

P P
Sendi q Rol Sendi q Rol

Gaya Rem Gaya Rem


Kepala
Pilar
Jembatan

L1 L2 L1
Beban Tumbukan benda hanyutan (TEF):

TEF Permukaan air banjir

M .(Va ) 2
TEF  (KN)
d

M = massa batang kayu = 2 ton


Va = Kecep air permukaan
Va = 1,4 Vs
Jika tidak diketahui ; Va = 3 m/dt
d = lendutan statis : pilar beton masif = 0,075 m
pilar beton perancah = 0,150 m
pilar baja/kayu perancah = 0,300 m
Beban Tumbukan Kendraan (P):
Pada Jalan Layang

Beban akibat tumbukan kendaraan pada pilar jembatan jalan layang


Searah jalan : 100 ton ( tertubruk kendaraan )
Tegak luruas jalan : 50 ton ( kendaraan terguling kesamping )
Keduanya bekerja pada tinggi 1,8 m dari permukaan jalan
Beban Tekanan air mengalir (TEFW):

TEFW = 0,5 CD (Vs)2 AD (kN)


Permukaan air banjir
TEFW
h
0,6h

CD = Koefisien seret : - pilar dinding lancip = 0,8


- Pilar dinding segi empat = 1,4
- Pilar dinding bulat = 0,7
- pilar bulat = 0,7

VS = kecepatan rata-rata = Va :1,4


jika tidak diketahui Va dapat diambil 3 m/dt

AD = Luas bagian yang tertekan air


Proyeksi tegak lurus terhadap aliran air.
Nilai Cd dab Cl

Luas Area Cd dan Cl


Beban tumbukan kapal
• Jembatan yang menyeberangi laut, selat atau sungai yang besar
yang dilewati kapal, pilar dan pylon jembatan harus diperhitungkan
terhadap tumbukan kapal dari depan dan dari arah samping pilar dan
pylon

tumbukan kapal dari arah samping

Untuk menahan dan meruduksi energi tumbuk kapal, maka pada pilar
dan Pylon dipasang vender. Vender dapat dipasang terpisah dengan
pilar/pylon atau menyatu dengan pilar/pylon.
Tumbukan kapal dari depan diperhitungkan ekuivalen dengan gaya
tumbukan statis pada obyek yang kaku dengan rumus berikut :

TS  ( DWT ) (12,5 xV )
1/ 2

Keterangan :
TS = gaya tumbukan kapal sebagai gaya statis ekuivalen (t)
DWT = tonase berat mati muatan kapal (t) = berat kargo, bahan
bakar, air dan persediaan
V = kecepatan tumbukan kapal (m/s)

Untuk menahan
tumbukan ini diperlukan
fender terpisah yang
dipasang didepan pilar
atau pylon jembatan.
Untuk kapal yang membentur pilar atau pylon dari arah
samping dapat digunakan rumus sebagai berikut :
CH x0,5W (V ) 2 1
Wa   d 2 L pp . a
E
g 4

w  DWT  Wa  a  1.03 t 3 , g = 9.81 m 2


m dt
E = energi kinetik Tumbuk Kapal (tm)
CH = koefisien hidrodinamis masa air yang bergerak bersama kapal,
d = Tinggi bagian yang terendam dalam air (Sarat kapal)
W = tonase perpindahan kapal (t), berat total kapal pada beban penuh
Lpp = Panjang bagian yang terendam dalam air
0.8

0.7

0.6

0.5

0.4

0.3

0.2

0.1

0
1 1.05 1.1 1.15 1.2 1.25 1.3

CH
Untuk meredam tumbukan kapal yang membentur pilar/pylon
dari arah samping dapat dipergunakan fender dari karet yang
terpasang pada pilar.pylon.

CH x0,5W (V ) 2
E
g

Keterangan:
E sin  = Energi kenitik yang diterima oleh fender
R = Gaya statis yang didustribusikan oleh fender ke pilar atau pylon
TEBEL FENDER KARET TYPE V
Beban Gempa (TEQ):
TEQ

TEQ  K h .I .WT (kN)


TEQ  C.S .I .WT (kN)

C = Koefisien geser dasar, yang dipengaruhi oleh :


- Wilayah gempa dimana bangunan didirikan
- Waktu getar struktur yang ditinjau
- Jenis tanah dimana bangunan didirikan
I = Faktor kepentingan
S = Faktor tipe bangunan
WT  Beban mati di tambah beban mati tambahan (kN)
Menghitung waktu getar
WTP  DL + DL tambahan + setengah berat pilar ( kN)
WTP
T  2 g  percepatan gravitasi bumi = 9,81 (m/dt 2 )
g .K p
K P = Kekakuan gabungan (kN/m)
12 EI
KP   n
h3
h h  n = Jumlah kolom dalam satu pilar
12 EI
KP  3
h3

3EI
KP 
h3
12EI
h2 K2   n
h23 1
1 1 
Kp    
12EI
K
 1 K 2
h1 K1   n
h13
Menentukan wilayah gempa dimana bangunan didirikan
Menentukan Nilai C
( Koefesien Dasar Gempa )
Menentukan Jenis Tanah dimana bangunan didirikan

JENIS TANAH KEDALAM SIDIMEN TERHADAP TANAH KERAS ( SPT≥40)


(a) Tanah Teguh 0~3M
(b) Tanah Sedang 3,4 ~ 24,4 M
(c) Tanah Lunak ≥ 25 M
Menentukan Nilai I ( Faktor Kepentingan )
Menentukan Nilai S ( Faktor Tipe Bangunan )
Beban Gempa Pada Pilar Jembantan Yang Tinggi
Untuk pilar jembatan yang lebih tinggi dari 10 m, nilai Kh atau nilai C.S
Dikalikan dengan faktor seperti diagram dibawah

Untuk Pilar jembatan yang lebih tinggi dari 30 m diperlukan perhitungan


gempa cara dinamis
GAYA SENTRIFUGAL ( TTR)
Jembatan yang dibangun melengkung arah
horizontal harus diperhitungkan adanya gaya
sentrifugal kearah luar lengkung jembatan
dan bekerja di permukaan lantai jembatan
tanpa faktor beban dinamis. Beban ini bekerja
bersam-sama dengan beban D atau T

TTR bekerja kearah luar lingkaran

0, 006.V 2
TTR  TR ( KN )
r
dimana : TR  D . jarak antara pilar ( KN )

V = Kecepatan kendaraan diatas jembatan (Km /jam)


= 0,75 kecepatan rencana pada jalan.
r = jari-jari lengkung horizontal jembatan.(m)
KOMBINASI BEBAN
Batas Daya Layan (ASD)
Perhitungan berdasarkan ASD Tegangan berlebih diperbolehkan

Tegangan berlebihan yang diberikan dalam Tabel dibawah adalah


sebagai prosentase dari tegangan kerja yang diizinkan.
Beban Berfaktor (LRFD)
• Untuk perhitungan cara LRFD tegangan yang digunakan
adalah tegangan leleh pertama dan bebannya dikalikan
dengan faktor beban.
• Besarnya faktor beban disesuaikan dengan peraturan beton
dan baja yang digunakan

1. U = 1.2 D + 1.2 C + 1.6 L


2. U = 0.9 D + 1.2 C + 1.2 L±1.2 W
3. U = 0.9 D + 1.2 C ± 1.3 W
4. U = 0.9 D + 1.2 C ± 1.0 E
5. U = 1.2 D + 1,0 T + 1.6 L

1. D = Beban mati
2. C = Arus dan tumbukan benda hanyutan
3. L = Beban hidup
4. W = Beban angin
5. E = Beban gempa
6. T = Tumbukan kendaraan
PONDASI JEMBATAN

• struktur paling bawah dari jembatan yang meneruskan


beban dari struktur atas dan bawah jembatan ke tanah
dibawahnya.

• Pondasi memegang peranan yang utama terhadap


kestabilan jembatan .

• pondasi tidak boleh turun, tergeser atau terguling.

• pondasi seharusnya didudukkan pada tanah keras, atau


dijepit pada tanah yang kokoh.
Kriteria Desain
1) Disarankan tidak menngunakan pondasi langsung pada daerah
dengan gerusan/scouring yang besar, jika terpaksa berikan
perlindungan pondasi terhadap scouring.
2) Hindari peletakkan pondasi pada daerah gelincir local atau gelincir
global, jika kepala jembatan harus diletakkan pada lereng sungai.
3) Hindari penyebaran gaya dari pondasi kepala jembatan jatuh ke
lereng/tebing sungai.
4) Gunakan pondasi sesuai dengan kondisi tanah dibawah kepala
atau pilar jembatan
5) Gunakan Faktor keamanan (Safety Factor) yang dapat
memberikan keyakinan terhadap ketahan pondasi.
Bila analisa menggunakan data tanah dari sondir, maka:
a. Untuk fondasi Tiang pancang, SF Point bearing = 3 dan SF Friction
pile = 5
b. Untuk fondasi Sumuran dan pondasi dangkal SF Daya dukung tanah =
1,5~2, SF Geser = 1,5 dan SF Guling = 1,5
Langkah – Langkah Perancangan Pondasi
1. Menentukan letak /posisi pondasi dibawah rencana Kepala
jembatan atau pilar,
2. Melakukan penyelidikan tanah.
3. Menentukan bentuk pondasi yang sesuai dengan kondisi tanah
dibawah kepala dan pilar jembatan
4. Menentukan beban-beban yang bekerja dari kepala dan pilar
jembatan sebagai aksi
5. Melakukan perhitungan mekanika untuk mendapatkan gaya-gaya
dalam ,gaya luar dari tanah sebagai reaksi dan daya dukung
pondasi
6. Menentukan dimensi akhir dan pendetailan penampang
berdasarkan gaya-gaya dalam tersebut.
7. Kontrol ketahanan pondasi terhadap kemungkinan : geser, guling
dan penurunan.
Data – Data Perancangan Pondasi
Data beban struktur bawah
Data Tanah Tempat Dudukan Pondasi.
1. Profil melintang sungai
2. Data geoteknik mektan yang berisi parameter tanah hasil uji laboratorium
yang berisi ,,c, dan jenis tanah pada setiap kedalaman ( Lanau / silt,
lempung / clay, pasir/ sand, kerikil / gravel, berongkal / boulder, hasil uji
sondir yang berisi qs dan qb pada setiap kedalaman, dan hasil uji penetrasi
yang berupa nilai N Spt. Pada setiap kedalaman.
3. Hidrologi dan pengaruh lingkungan yang berisi data permukaan air tanah
dan jenis zat-zat kimia yang ada di air tanah yang dapat menyebabkan
korosi pada pondasi.
Penyelidikan Tanah
1. Sondir ➼ Tahanan lekat dan tahanan ujung. ( qs dan qc )
2. Boring ➼ lapisan tanah dan karakteristiknya. ( h, jenis tanah, ,,c)
3. SPT ➼ Tingkat kepadatan tanah pada kedalamam tertentu
Data – Data Perancangan Pondasi
 Profil memanjang dan melintang sungai
 Data geoteknik yang berisi stratigrafi tanah dan parameter tanah
( ,,c dan qu ) ( qs , qb) ( N Spt)
 Hidrologi dan pengaruh lingkungan
Jenis Pondasi
D 
Dangkal
Plat / Langsung ➱  B  1
D ≤5m
Sumuran
 D 
Dangkal➱ 1   5 
PONDASI B

Sumuran Dalam

Dalam Tiang Kayu /


Tiang Bor cerucuk
D > 5m
Tiang Baja
Tiang
Pancang
Tiang Beton
46
Tiang
Tiang Pancang
Jenislangsung
Pondasi ( lanjutan)
Pondasi Bor
JENIS Sumur
& Beton
PONDASI an Baja Baja Beton Beton
sumuran Dalam Bertula
dangkal profil H Pipa Bertulang Pratekan
ng

Dimensi
100 x 100 300 300 300 300
/Diameter
- 3000 sampai sampai sampai sampai sampai
Nominal
400 x 400 600 600 600 600
(mm)
Kedalaman
Tidak Tidak
Maksimum 5 15 30 60 30
terbatas terbatas
(m)
Kedalaman
Optimum 0,3 ~ 3 7~9 7 ~ 40 7 ~ 40 12 ~ 15 18 ~20 12 ~ 15
(m)
Beban mak
(kN) untuk
20000 20000 3750 3000 1300 1300 1300
keadaan
Batas
Sumber: BMS buku 3 hal 3-3
Persyaratan Pondasi Langsung
1. Kedalaman lap.
Pendukung ( tanah
keras) max 4 m dari
permukaan tanah.
2. Lap. Tanah
pendukung terbebas
dari pengaruh
penggerusan
3. Dasar pondasi di
masukkan kedalam
lapisan tanah
pendukung

Pondasi dangkal yang mendukung kep jembatan harus ditempatkan


kedalam kelandaian tebing sungai untuk memelihara daya dukung.
Persyaratan Pondasi Langsung
• Jika pondasi terpaksa
harus berdiri pada
lapisan batu yang tidak
memungkin kan untuk
digali, maka harus
dipastikan bahwa batu
tersebut cukup besar
dan mampu menahan
pondasi, dan antara
pondasi dengan lapisan
batu dibawahnya harus
dipasang penahan
geser.