Anda di halaman 1dari 82

SESI 4

DESAIN
JEMBATAN
Oleh:
ANDI INDIANTO, Drs. Ir. MT.

Disampaikan pada acara desiminasi Jembatan di PALU

KEMENTRIAN PEKERJAAN UMUM


DIREKTORAT JENDRAL BINA MARGA
DIREKTORAT BINA TEKNIK
Jakarta , Oktober 2013
MATERI BAHASAN

1. Lantai Jembatan
2. Struktur atas Jembatan
3. Kepala Jembatan
4. Pilar Jembatan
5. Perletakan
LANTAI JEMBATAN
DIMENSI PELAT LANTAI JEMBATAN
h = tebal pelat
h Tebal pelat pada lantai h > 200 mm
jembatan ditentukan sbb: h > (100 + 40 l ) mm
L dalam m

Cara penulisan tulangan pelat : D 13 – 200


Artinya dipasang tulangan pelat D 13 mm sebanyak 5 buah untuk 100
cm lebar pelat. Jika 1 buah tulangan Ø 13 mempunyai luas = 133 mm2,
maka D 13 -20 mempunyai luas tulangan (As )= 665 mm2.

MACAM MACAM LANTAI JEMBATAN


Beton bertulang, untuk girder BB dan BP
LANTAI
JEMBATAN
Komposit plat baja gelombang dengan beton
Untuk Gider Baja.
PEMBEBANAN PADA PELAT LANTAI JEMBATAN

Beban Lalu lintas Orang : q = 0,5 ton/m2 Bekerja pada Trotoar


Beban roda kendaraan T = 11,25 x k (ton)
K = faktor kejut = 1,3 Bekerja pada Lantai jembatan

Tinjauan geser
Analisa struktur: plat dengan beban terpusat
Tinjauan Momen
LANTAI JEMBATAN BETON BETULANG
TINJAUAN GESER PADA PELAT
TLL=11,25 x1,3 (T)
RODA KENDARAAN Roda kendaraan : a1=20 cm
b1=50 cm

d P = beban roda kendaraan

 fc, 
Vc  2d  b1  d    a1  d    
 6 

TLL .1, 6
Vc 
b1+d

0.7
b1

Vc = kemampuan beton menahan geser


a1 1,8= faktor beban
0.7 = faktor reduksi kekuatan
a1+d Fc’ dalam Mpa, setelah diakar dan
dibagi 6, lalu dirubah dalam kg/cm2
TINJAUAN MOMEN PADA PELAT
Penulangan satu arah.

Penulangan dua arah


MOMEN PELAT AKIBAT BEBAN MERATA qDL dan qLL
TABEL
MOMEN
BEBAN
TERPUSAT
TLL
LANJUTANTABEL MOMEN BEBAN TERPUSAT
TULANGAN PELAT
Penulangan pelat harus memenuhi syarat :  min     mak
Banyak tulangan pelat : As   .B.d B= lebar pelat diambil 1m

1,4
 min 
fy

 max  0, 75.balance
TULANGAN SUSUT dan TUL. BAGI
Untuk menahan susut dan tegangan akibat perubahan
suhu, perlu dipasang tulangan susut/tulangan bagi dalam arah
tegak lurus tulangan utama.

Besarnya tulangan susut/tulangan bagi :

Untuk tul ulir dg fy= 400 MPa, As. Susut = 0,0018.b.h


Untuk tul dg. Fy=240 MPa, As. Susut = 0,0020.b.h

Tulangan susut dipasang maksimum dengan jarak,


smak susut = 450 mm atau 5 x tebal pelat
Tulangan bagi ≥ 20% tulangan pokok.
PENENTUAN BANYAKNYA TULANGAN
PENENTUAN BANYAKNYA TULANGAN
Detail penulangan
plat
LANTAI JEMBATAN KOMPOSIT
PENAMPANG KOMPOSIT BONDEK SLAB
SFESIFIKASI BONDEK SLAB
MATERIAL BAJA
STRUKTUR ATAS JEMBATAN
KRITERIA DESIAN
H = min 5,1 m (jln Primer)
H = min 5,0 m (jln Seukender)
T = min 1 m (jln Primer)
T = min 0,5 m (jln Seukender)
H
B = lebar lantai kendaraan
Lebar lantai kendaraan:
3 s/d 3,5 m / lajur

T B T

0,1 t/m

Tiang sandaran
1,0 m
Kerb
0,25m Trotoar
Lantai Kendaraan 0,25m
Kerb
Pemilihan bentuk struktur atas
Pemilihan Tipe Main Structure & Jenis Material yang optimum. Ditentukan
bersdasarkan Bentang ekonomis jembatan

Apabila tidak direncanakan secara khusus maka dapat digunakan bangunan atas jembatan
standar Bina Marga sesuai bentang ekonomis dan kondisi lalu lintas air di bawahnya.
Pembebanan
Struktur Atas Jembatan

A. Beban tetap - Berat mati ( DL )


- Beban Mati Tambahan ( SDL)
- Beban Lalu lintas (LL), dengan beban
kejud(DLL) dan beban Rem
( HLL )

B. Aksi Lingkungan - Beban Angin (WL)( Tew)


- Beban Gempa (EL)

C. Beban Khusus - Rangkak dan Susut (CL)


A. BEBAN TETAP

Beban Berat sendiri konstruksi, sesuai dengan


Mati Berat Jenis material pembentuk
(DL) konstruksi:

Beban Beban yang selalu ada yang tidak termasuk


Beban Mati struktur penahan berat kendaraan ( pipa air
Tetap Tambahan minum, kabel, sandaran , tiang lampu,
(SDL) ornamen, trotoar, lapisan aus).

Beban
Beban lalu lintas yang bekerja diatas
Hidup
jembatan: orang dan kendaraan
(LL)
BEBAN LALU LINTAS
Trotoar
Orang : q = 0,5 ton/m2
Pada lantai
Lantai jembatan
Beban Lalu lintas Roda kendaraan : T = 11,25 t

Pada rangka
dan gider
Beban lajur lalu lintas (D)

Beban merata : Beban garis:


Kendaraan kecil Kendaraan besar
Banyak diatas ( Truk Trailler)
Lantai jembatan Diatas lantai
q = 0,9 ton/m2 jembatan
P = 4,9 ton/m
Beban Lajur ( D )
Beban lajur lalu lintas (D) Arus LL 2 arah

Untuk : L  30m : q = 0,9 t/m


P = 4,9 ton/m  15 
Ubtuk : L  30m : q = 0,9  0,5+  t/m
 L
Beban lajur lalu lintas (D) Arus LL 1 arah

Untuk : L  30m : q = 0,9 t/m


P = 4,9 ton/m  15 
Ubtuk : L  30m : q = 0,9  0,5+  t/m
 L
Beban Lalu Lintas Pada Trotoar
Beban Kejut
BMS: - Beban T dinakkan 30%
- Beban D ( P ) dinaikkan sebesar diagram dibawah
Beban Rem
- Bekerja pada permukaan lantai
/lajur lau lintas searah .
- Bekerja arah horizontal pada
permukaan lantai jembatan ,
yang selanjudnya beban
didistribusikan ke struktur
penahan ( pilar dan kepala
jembatan ).
- Peninjauannya harus disertakan
dengan pengaruh beban lalu
lintas.
- Besarnya beban rem tergantung
pada bentang jembatan
SK.SNI T-02-2005 / Lajur (2.75m)  = 0.15

P P
Sendi q Rol Sendi q Rol

Gaya Rem Gaya Rem


Kepala
Pilar
Jembatan

L1 L2 L1
Distribusi gaya rem pada lantai jembatan
Beban q dan P Pada Jembatan Balok menerus
B. Aksi Lingkungan

Angin bekerja pada jembatan tanpa kendaraan


Angin bekerja pada jembatan dan pada kendaraan
Beban Angin Pada Jembatan Girder

Keadaan Tanpa
Beban Hidup

Keadaan Dengan
Beban Hidup
Beban Angin Pada Jembatan Rangka

Ab = Luas bidang yang dibentuk oleh rangka


n = jumlah nodal dari rangka

Keadaan Tanpa Beban Hidup Keadaan Dengan Beban Hidup


b
100 %

d
2m

30 % 15 % 15 % 7,5 %
Besaran Beban Angin

CW untuk kendaraan = 1,2


CW untuk jembatan tergantung perbandingan antara b dan d
b/d = 1,0 : Cw = 2,10
b/d = 2,0 : Cw = 1,50
b/d ≥ 6,0 : Cw = 1,25
Jika tidak dilakukan pengukuran Kecepatan angin (Vw)
Maka Vw dapat diambil:
• V= 30 m/dt ; dekat dengan laut ≤ 5 km Batas daya layan
• V= 25 m/dt ; jauh dari laut > 5 km.

• V= 35 m/dt ; dekat dengan laut ≤ 5 km Batas Ultimate


• V= 30 m/dt ; jauh dari laut > 5 km.
TAHAPAN PERENCANAAN
STRUKTUR ATAS JEMBATAN
a. Data – Data yang diperlukan
- Fungsi jembatan ; berhubungan dengan syarat kenyamanan

- Umur rencana ; berhubungan dengan material yang akan digunakan


dan bahan pengawetnya

- Lebar jalan dan klas jalan ; lebar jembatan dan pembebanan

- Jenis jembatan ( viaduk, aquaduk); penentuan Clearance ( sungai :


tergantung jenis sungainya, jalan : 5 m, laut 15 m )

- Bahan yang akan digunakan ; berhubungan dengan kesedianaan


material

- Kecepatan angin ; gaya pada struktur atas dan bawah


b. Pembuatan bentuk / arsitek jembatan

- Penempatan letak jembatan terhadap sungai/rintangan


dibawahnya; tegak lurus , terpendek, perlu analisa antara
memindahkan sungai, melengkungkan jalan, atau jembatan
serong )

- Penentuan bentang jembatan; perlu analisa mahal mana


pembuatan kepala jembatan atau struktur atas

- Penentuan perlu tidaknya pilar; mahal mana antara pembuatan


pilar dengan struktur atas bentang panjang .

- Penentuan type struktur atas ( girder, box, rangka, kabel,


kombinasi rangka atau girder dengan kabel )
c. Pemodelan struktur
- Penentuan type hubungan struktur atas dan bawah ; kaku, sendi, rol
- Pemodelan hubungan antar elemen pembentuk jembatan ; jepit, sendi
- Pembuatan model analisa; model mekanika.

d. Preliminary design
- Penentuan ukuran struktur atas
- Penentuan / perkiraan dimensi bagian –bagian struktur atas
STRUKTUR BAWAH JEMBATAN
KONSEP PERANCANGAN
1. Kuat menahan beban berat struktur atas , beban lalu lintas
,beban angin dan beban gempa.
2. Kuat menahan tekanan air mengalir, tumbukan benda hanyutan,
tumbukan kapal, dan tumbukan kendaraan
3. Memiliki dimensi yang ekonomis
4. Terletak pada posisi yang Aman, terhindar dari kerusakan
akibat :Kikisan Arus air, penurunan tanah, longsoran global
dan gempa
5. Memiliki tingkat kelayanan struktural yang tinggi. Tidak
bergetar,dan tidak melendut .
6. Memiliki tingkat keawetan sesuai umur rencana.
7. Mudah dikonstruksi.
LANGKAH – LANGKAH
PERANCANGAN
1. Menentukan letak Kepala jembatan dan pilar, berdasarkan Bentuk
penampang sungai, permukaan air banjir, jenis aliran sungai, dan
statigrafi tanah.
2. Menetukan bentuk dan dimensi awal kepala dan pilar jembatan yang
sesuai dengan ketinggian dan kondisi sungai.
3. Menentukan bentuk pondasi yang sesuai dengan kondisi tanah
dibawah kepala dan pilar jembatan
4. Menentukan beban-beban yang bekerja pada kepala dan pilar
jembatan.
5. Melakukan perhitungan mekanika teknik untuk mendapatkan gaya-
gaya dalam.
6. Menentukan dimensi akhir dan penulangan berdasarkan gaya-gaya
dalam tersebut.
Diagram SURVEY

alir disain PENGUMPULAN DATA


Bangunan a.
b.
Penampang sungai
Permukaan air banjir dan normal
Bawah c. Data sondir, boring dan NSPT

Jembatan EVALUASI DATA

PRADESAIN
a. Type/model struktur
b Lebar jembatan
c. Bentang jembatan
d. Posisi / letak Pilar/pylon dan kepala jembatan
e. Bentuk Pilar/Pylon dan kepala jembatan
f. Posisi struktur atas terhadap MAB/HWS/bangunan lain yang ada dibawahnya
g. Bahan Pilar/Pylon dan dan kepala jembatan
h. Ukuran pilar/Pylon dan kepala jembatan

PENENTUAN BEBAN-BEBAN YANG BEKERJA


a. Beban mati dan bean lalu lintas pada struktur atas
b. Beban angin dan beban gempa pada struktur atas
c. Beban air dan tumbukan pada Pilar jemabatan

Desain akhir Perhitunga Modifikasi


n struktur

Gambar kostruksi
KEPALA JEMBATAN
KEPALA JEMBATAN
Bahan Kepala Jembatan : Pasangan batu kali :  Type Gravitasi
: Beton bertulang:Type T dan Type T dengan
penopang
PANJANG PERLETAKAN MINIMUM
KATEGORI KINERJA SEISMIK
Kriteria Desain Kepala Jembatan
Kepala jembatan adalah struktur penghubung antara jalan
dengan jembatan dan sekaligus sebagai penopang
struktur atas jembatan.

• Tidak ditempatkan pada belokan luar sungai


• Tidak ditempatkan pada aliran air sungai
• Tidak ditempatkan diatas bidang gelincir lereng
sungai.
• Tidak ditempatkan pada lereng sungai jika
digunakan pondasi dangkal
• Pondasai kepala jembatan diupayakan untuk
ditanam sampai kedalaman pengaruh
penggerusan aliran air sungai
Gaya –gaya yang bekerja
pada kepala jembatan
PILAR JEMBATAN
• Fungsi : - Penopang struktur atas
- menyalurkan berat struktur atas ke tanah
• Jenis : - Pilar tunggal
- Pilar masif
- Pilar Portal / Perancah

Bahan : Pasangan batu kali, Beton dan Baja


Kriteria Desain Pilar Jembatan

• Tidak ditempatkan ditengah aliran air sungai


• Jika pilar ditempatkan pada aliran sungai maka
pilar dibuat sepipih mungkin dan sejajar dengan
arah aliran air
• Bentuk disarankan bulat atau lancip
• Untuk daerah rawan gempa diupayakan untuk tidak
menggunaka pilar tunggal.
• Jika menggunakan pondasi dangkal, pondasi
ditanam dibawah dasar sungai sampai batas
pengaruh gerusan aliran air sungai.
Pilar Jembatan Pasangan Batu Kali

d = 0,8 ( 0,8 + 0,12 h + 0,025 w )

0,5m
d = tebal dinding bagian atas pilar
Permukaan air banjir

Dinding semakin kebawah semakin


tebal dengan kemiringan 1:20

h = tinggi pilar dari dasar sungai


sampai tumpuan girder.
Lebar Jembatan
w = jarak dua tumpuan antara pilar
dengan kepal jembatan atau
antara pilar dengan pilar.
d
Pilar Jembatan Beton Bertulang
Pilar Jembatan Beton Bertulang

Pilar PORTAL Pilar Tunggal


Pilar Jembatan Baja
Pilar dari baja digunakan dengan
pertimbangan:
-Aliran air sungai cukup deras
-Mengurangi hambatan aliran air
-Mudah dikerjakan
PEMBEBANAN
Pada Kepala dan pilar Jembatan
Kepala dan Pilar Jembatan harus diperhitungkan terhadap semua
beban yang mungkin terjadi pada jembatan tersebut, termasuk
tumbukan kapal pada pilar jembatan bila jembatan tersebut
berada diatas selat atau laut.

A. Beban tetap
- Berat mati dan beban mati tambahan dari struktur atas
- Beban hidup atau beban Lalu lintas termasuk beban Rem str. atas

B. Aksi Lingkungan
- Beban Angin yang bekerja di str. atas
- Beban Tumbukan Kendaraan
- Beban Tumbukan Kapal
- Beban Air Mengalir
- Beban Tumbukan Benda Hanyutan
- Beban Gempa pada str. atas

C. Beban Khusus
- Beban Sentripugal
Peninjauan Beban P dan q
Pada Kepala dan Pilar Jembatan
0,5(L1+L2)
P
q

Kepala Jembatan
Pilar

L1 L2 L1

Beban P dan q pada Pilar


0,5. L1
P
q

Kepala Jembatan
Pilar

L1 L2 L1

Beban P dan q pada Kepala Jembatan


Beban Tumbukan benda hanyutan (TEF):

TEF Permukaan air banjir

M .(Va ) 2
TEF  (KN)
d

M = massa batang kayu = 2 ton


Va = Kecep air permukaan
Va = 1,4 Vs
Jika tidak diketahui ; Va = 3 m/dt
d = lendutan statis : pilar beton masif = 0,075 m
pilar beton perancah = 0,150 m
pilar baja/kayu perancah = 0,300 m
Beban Tumbukan Kendraan (P):
Pada Jalan Layang

Beban akibat tumbukan kendaraan pada pilar jembatan jalan layang


Searah jalan : 100 ton ( tertubruk kendaraan )
Tegak luruas jalan : 50 ton ( kendaraan terguling kesamping )
Keduanya bekerja pada tinggi 1,8 m dari permukaan jalan
Beban Tekanan air mengalir (TEFW):

TEFW = 0,5 CD (Vs)2 AD (kN)


Permukaan air banjir
TEFW
h
0,6h

CD = Koefisien seret : - pilar dinding lancip = 0,8


- Pilar dinding segi empat = 1,4
- Pilar dinding bulat = 0,7
- pilar bulat = 0,7

VS = kecepatan rata-rata = Va :1,4


jika tidak diketahui Va dapat diambil 3 m/dt

AD = Luas bagian yang tertekan air


Proyeksi tegak lurus terhadap aliran air.
Nilai Cd dab Cl

Luas Area Cd dan Cl


Beban tumbukan kapal
• Jembatan yang menyeberangi laut, selat atau sungai yang besar
yang dilewati kapal, pilar dan pylon jembatan harus diperhitungkan
terhadap tumbukan kapal dari depan dan dari arah samping pilar dan
pylon

tumbukan kapal dari arah samping

Untuk menahan dan meruduksi energi tumbuk kapal, maka pada pilar
dan Pylon dipasang vender. Vender dapat dipasang terpisah dengan
pilar/pylon atau menyatu dengan pilar/pylon.
Tumbukan kapal dari depan diperhitungkan ekuivalen dengan gaya
tumbukan statis pada obyek yang kaku dengan rumus berikut :

TS  R  ( DWT ) (12,5 xV )
1/ 2

Keterangan :
TS = gaya tumbukan kapal sebagai gaya statis ekuivalen (t)
DWT = tonase berat mati muatan kapal (t) = berat kargo, bahan
bakar, air dan persediaan
V = kecepatan tumbukan kapal (m/s)

Untuk menahan
tumbukan ini diperlukan
fender terpisah yang
dipasang didepan pilar
atau pylon jembatan.
Untuk kapal yang membentur pilar atau pylon dari arah
samping dapat digunakan rumus sebagai berikut :

CH x0,5W (V ) 2
E
g

w  DWT  Wa

1
Wa   d 2 L pp . a
4
 a  1.03 t 3
m
g = 9.81 m 2
dt

E = energi kinetik Tumbuk Kapal (tm)


CH = koefisien hidrodinamis masa air yang bergerak bersama kapal,
d = Tinggi bagian yang terendam dalam air (Sarat kapal)
W = tonase perpindahan kapal (t), berat total kapal pada beban penuh
Lpp = Panjang bagian yang terendam dalam air
Untuk meredam tumbukan kapal yang membentur pilar/pylon
dari arah samping dapat dipergunakan fender dari karet yang
terpasang pada pilar.pylon.

CH x0,5W (V ) 2
E
g

Keterangan:
E sin  = Energi kenitik yang diterima oleh fender
R = Gaya statis yang didustribusikan oleh fender ke pilar atau pylon
TEBEL FENDER KARET TYPE V
Beban Gempa
(TEQ):

TEQ  K h .I .WT (kN)


TEQ  C.S .I .WT (kN)

C = Koefisien geser dasar, yang dipengaruhi oleh :


- Wilayah gempa dimana bangunan didirikan TEQ
- Waktu getar struktur yang ditinjau
- Jenis tanah dimana bangunan didirikan

I = Faktor kepentingan

S = Faktor tipe bangunan

WT  Beban mati di tambah beban mati tambahan (kN)


Menghitung waktu getar
WTP  DL + DL tambahan + setengah berat pilar ( kN)
WTP
T  2 g  percepatan gravitasi bumi = 9,81 (m/dt 2 )
g .K p
K P = Kekakuan gabungan (kN/m)
12 EI
KP   n
h3
h h  n = Jumlah kolom dalam satu pilar
12 EI
KP  3
h3

3EI
KP 
h3
12EI
h2 K2   n
h23 1
1 1 
Kp    
12EI
K
 1 K 2
h1 K1   n
h13
Nilai
Koefesien
Dasar
Gempa (C)
Menentukan Jenis Tanah dimana bangunan didirikan

JENIS TANAH KEDALAM SIDIMEN TERHADAP TANAH KERAS ( SPT≥40)


(a) Tanah Teguh 0~3M
(b) Tanah Sedang 3,4 ~ 24,4 M
(c) Tanah Lunak ≥ 25 M
Menentukan Nilai I ( Faktor Kepentingan )
Menentukan Nilai S ( Faktor Tipe Bangunan )
Beban Gempa Pada Pilar Jembantan Yang Tinggi
Untuk pilar jembatan yang lebih tinggi dari 10 m, nilai Kh atau nilai C.S
Dikalikan dengan faktor seperti diagram dibawah

Untuk Pilar jembatan yang lebih tinggi dari 30 m diperlukan perhitungan


gempa cara dinamis
GAYA SENTRIFUGAL ( TTR)
Jembatan yang dibangun melengkung arah
horizontal harus diperhitungkan adanya gaya
sentrifugal kearah luar lengkung jembatan
dan bekerja di permukaan lantai jembatan
tanpa faktor beban dinamis. Beban ini bekerja
bersam-sama dengan beban D atau T

TTR bekerja kearah luar lingkaran

0, 006.V 2
TTR  TR ( KN )
r
dimana : TR  D . jarak antara pilar ( KN )

V = Kecepatan kendaraan diatas jembatan (Km /jam)


= 0,75 kecepatan rencana pada jalan.
r = jari-jari lengkung horizontal jembatan.(m)
PERLETAKAN

LANGKAH-LANGKAH PERHITUNGAN:
1.Menentukan reaksi tumpuan dari girder atau
rangka
2.Menghitung deformasi arah horizontal.
3.Menghitung putaran sudut pada tumpuan
berdasarkan lendutan maksimum yang terjadi.
4.Menentukan type perletakan.
5.Menentukan dimensi elastomer
TABEL ELASTOMER
TABEL ELASTOMER