Anda di halaman 1dari 38

Tinjauan Pustaka 2

PERAN ASETILKOLIN PADA PATOGENESIS SINDROM


DELIRIUM
 
 

 
 
 
 
Lingga Ramot Gumelar

PROGRAM PENDIDIKAN DOKTER SPESIALIS I


ILMU PENYAKIT DALAM FK UNSRI/RSMH
PALEMBANG
2020
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN

 
• Delirium didefinisikan sebagai gangguan perhatian akut
dan gangguan fungsi kognitif global
• Sindrom delirium sering dijumpai pada pasien geriatri di
rumah sakit. Sindrom ini sering tidak terdiagnosis dengan
baik
• Gejala dan tanda yang tidak khas merupakan salah satu
penyebabnya.
• Setidaknya 32% - 67% dari sindrom ini tidak dapat
terdiagnosis oleh dokter, padahal kondisi ini dapat
dicegah
PENDAHULUAN

• Prevalensi sindrom delirium di ruang rawat akut geriatri


RSCM adalah 23% (tahun 2004) sedangkan insidensnya
mencapai 17% pada pasien yang sedang dirawat inap
(2004).
• Sindrom delirium mempunyai dampak buruk, tidak saja
karena meningkatkan risiko kematian sampai 10 kali
lipat namun juga karena memperpanjang masa rawat
serta meningkatkan kebutuhan perawatan (bantuan
ADL).
• Meskipun memiliki dampak klinis yang serius,
patofisiologi delirium belum sepenuhmya dipahami.
Untuk saat ini, defisiensi asetilkolin merupakan
hipotesis utama pada sindrom delirium.
• Hipotesis yang lain termasuk kelebihan dopamin,
imflamasi, stres kronis, ensefalopati toksik-metabolik
juga merupakan bagian penting dari delirium.
• Sebuah studi prospektif kecil oleh Cerejeira dkk, di
Amerika Serikat pada tahun 2011 menunjukkan
penurunan kadar kolinesterase sebelum operasi
secara signifikan berkorelasi dengan kejadian
delirium pasca operasi
• Studi prospektif yang dilakukan Tomasi dkk, di Brazil
pada tahun 2015, menyimpulkan aktivitas
asetilkolinesterase serum dan kadar serotonin
berhubungan dengan delirium dan disfungsi otak
akut.
• Berdasarkan hal di atas, tinjauan pustaka ini disusun
untuk membahas peran Asetilkolin pada patogenesis
sindrom delirium.
• Tinjauan pustaka ini diharapkan dapat menambah
wawasan serta pemahaman kita. Semoga dapat
bermanfaat bagi kita semua.
SINDROM DELIRIUM
Definisi
• Delirium merupakan sindrom yang ditandai dengan
gangguan kognitif dan gangguan atensi yang mendadak
dan reversibel.
• Istilah “delirium” pertama kali digunakan pada Diagnostic
and Statistical Manual of Mental Disorder (DSM) edisi III
untuk menggambarkan disfungsi otak akut (sebelumnya
disebut acute confusional state/ACS, ensefalopati, acute
brain failure, ICU psychosis, atau subacute
befuddlement).
Epidemiologi
• Delirium mempengaruhi sebanyak setengah dari jumlah
pasien di atas usia 65 tahun yang dirawat di rumah sakit.
Dengan penuaan populasi di Amerika Serikat
• Delirium telah dianggap penting karena pasien berusia
diatas 65 tahun saat ini memenuhi lebih dari 45% dari
angka perawatan di rumah sakit
• Prevalensi sindrom delirium di ruang rawat akut geriatric
RSCM adalah 23% (tahun 2004) sedangkan insidensnya
mencapai 17% pada pasien yang sedang dirawat inap
(2004)
• Pada pasien lansia pasca operasi, prevalensinya
adalah 30–50%. Sementara itu, sekitar 80% pasien
ICU yang memakai ventilator mengalami delirium.
Hampir 20% pasien yang menjalani perawatan
jangka panjang mengalami delirium. Namun,
prevalensi delirium di luar rumah sakit cukup rendah,
hanya 1–2%.8
ETIOLOGI

latrogenik Pembedahan, kateterisasi urin, physical restraints

Obat-obatan Psikotropika

Gangguan Insufisiensi ginjal, dehidrasi, hipoksia, azotemia,


metabolik/ hiperglikemia, hipernatremia, hipokalemia.
cairan
Penyakit fisik/ demam, infeksi, stres, alkohol, putus obat (tidur),
psikiatri asap rokok, fraktur, malnutrisi, gangguan pola tidur

Overstimulation perawatan di lCU, atau perpindahan


ruang rawat

Tabel 1. Beberapa kondisi yang lazim mencetuskan kondisi


Delirium
Faktor Predisposisi
• Usia sangat lanjut
• MCI (mild cognitive impairment)
• Demensia
• Gangguan ADL
• Usia lanjut yang rapuh (fragile)
• Polifarmasi
Faktor Pencetus
• Pneumonia,
• Infeksi saluran kemih
• Kondisi akut lain seperti hiponatremia,
dehidrasi, hipoglikemia dan CVD,
• Perubahan lingkungan (perpindahan
ruangan misalnya).
Patogenesis Delirium
 

Gambar 1. Beberapa faktor patofisiologis dan kondisi yang


menyebabkan terjadinya delirium14
Patofisiologi delirium
• Asetilkolin
• Dopamin
• Neurotransmiter lainnya:
– Serotonin
– GABA
– Melatonin
• Mekanisme inflamasi
• Mekanisme reaksi stres
• Mekanisme struktural
Diagnosis
DSM V mengklasifikasi delirium menurut etiologi sebagai
berikut:
1. Delirium yang berhubungan dengan kondisi medik umum
2. Delirium intoksikasi substansi (penyalahgunaan obat)
3. Delirium penghentian substansi
4. Delirium diinduksi substansi (pengobatan atau toksin)
5. Delirium yang berhubungan dengan etiologi multipel
6. Delirium tidak terklasifikasi
DIAGNOSIS
Berdasarkan DSM-5 kriteria diagnosis delirium adalah:
• Gangguan atensi
• Perubahan kognitif
• Gangguan biasanya berkembang dalam periode
singkat
• Ditemukan bukti dari anamnesis, pemeriksaan fisik,
dan pemeriksaan penunjang bahwa gejala
disebabkan respons fisiologis akibat kondisi medis,
intoksikasi zat, penggunaan obat-obatan, atau lebih
dari satu penyebab.
DIAGNOSIS
• Diagnosis delirium
– Confusion Assessment Method (CAM): sensitivitas 94–
100% dan spesifisitas 90–95%
– Delirium Symptom Interview (DSI)
• Diagnosis delirium di ICU
– Confusion Assessment Method for Intensive Care
Unit (CAM ICU)
– Intensive Care Delirium Screening Checklist (ICDSC)
• Derajat keparahan delirium
– Delirium Rating Scale-Revised-98 (DRS-98)
– Memorial Delirium Assessment Scale (MDAS)
Confusion Assessment Method (CAM)
Diagnosis Banding
• Demensia
• Status epileptikus non konvulsi
• Depresi
• Skizofrenia
• Bipolar
Algoritma pada pasien dengan dugaan delirium
PERAN ASETILKOLIN PADA
PATOGENESIS SINDROM DELIRIUM

• Asetilkolin adalah neurotransmiter utama sistem


saraf parasimpatis, bagian dari sistem saraf otonom
(cabang sistem saraf tepi) yang mengkontraksikan
otot polos, melebarkan pembuluh darah,
meningkatkan sekresi tubuh, dan memperlambat
detak jantung
Sistem saraf otonom. Organisasi pada sistem saraf
otonom, menunjukkan peran penting asetilkolin dalam
transmisi impuls saraf
Gambar 6. saluran ion ligand-gated: reseptor
asetilkolin nikotinik.
 
• Dalam sistem kardiovaskular, Asetilkolin bertindak
sebagai vasodilator, mengurangi denyut jantung, dan
mengurangi kontraksi otot jantung.
• Dalam sistem pencernaan, bertindak dalam
meningkatkan gerak peristaltik di perut dan amplitudo
kontraksi pada pencernaan.
• Di saluran kemih, aktivitasnya menurunkan kapasitas
kandung kemih dan meningkatkan tekanan berkemih
secara volunter.
• Asetilkolin juga mempengaruhi sistem pernapasan
dan merangsang sekresi oleh semua kelenjar yang
menerima impuls saraf parasimpatis.

• Dalam sistem saraf pusat, asetilkolin tampaknya


memiliki banyak peran. Hal ini diketahui memainkan
peran penting dalam memori dan pembelajaran dan
dalam pasokan pendek abnormal pada otak orang
dengan penyakit Alzheimer
PERAN ASETILKOLIN PADA
PATOGENESIS SINDROM DELIRIUM
• Asetilkolin mempertahankan kesadaran dengan
bertindak sebagai modulator rasio signal-to-noise
dalam input sensorik dan kognitif
• Penyimpangan dalam fungsi otak ini menyebabkan
gejala inti baik delirium hipoaktif maupun delirium
hiperaktif, termasuk berkurangnya atensi, pemikiran
yang tidak teratur, dan gangguan persepsi.
Hipotesis defisiensi kolinergik
• Bukti terbaru datang dari studi epidemiologi dan
tes antikolinergik. Pasien dengan "beban
antikolinergik yang lebih tinggi," berdasarkan
penelitian terhadap penilaian paparan pasien
terkait obat, memiliki kasus delirium yang lebih
parah.
Hipotesis defisiensi kolinergik
• Gangguan sintesis asetilkolin
• Mekanisme sinaptik kolinergik
• Iskemia dan stresor global
• Ketidakseimbangan neurotransmiter
Defisiensi Kolinergik
Gambar 8. Hubungan antara stroke, cedera otak
traumatis, dan beragam stresor pada delirium.
Interaksi antara asetilkolin dan neurotransmiter lain pada
delirium.
SIMPULAN
• Delirium merupakan penyakit kritis dan memiliki
komplikasi serius pada pasien usia lanjut.
• Delirium dikaitkan dengan morbiditas dan mortalitas
yang tinggi.
• Patofisiologi delirium belum sepenuhnya dipahami.
Untuk saat ini, defisiensi asetilkolin merupakan
hipotesis utama pada sindrom delirium
SIMPULAN
• Sintesis asetilkolin telah terbukti rentan terhadap
sejumlah stresor dan defisiensi.
• Obat penginduksi delirium sering berfungsi sebagai
antagonis dari reseptor asetilkolin presinaptik dan
postinaptik.
• Kerusakan metabolisme global, interaksi sitokin, dan
neurotransmiter sering dianggap sebagai mekanisme
terpisah yang berkontribusi terhadap delirium.
• Semua mediator ini memainkan peran penting dan
berinteraksi dalam delirium.
• Banyak dari mediator ini bekerja dengan menginduksi
defisit kolinergik sentral.
SIMPULAN
• Delirium adalah salah satu kondisi yang dapat
dicegah pada pasien rawat inap dengan usia lanjut.
• Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa
setidaknya 30% -40% kasus dapat dicegah.
• Pemahaman yang lebih baik tentang sistem
kolinergik dalam delirium dapat membantu
memperbaiki pendekatan kami untuk diagnosis,
pencegahan, dan pengobatan delirium pada usia
lanjut
TERIMA KASIH