Anda di halaman 1dari 53

PERTEMUAN 2

EJAAN YANG DISEMPURNAKAN (EYD) DAN


PEDOMAN UMUM EJAAN
BAHASA INDONESIA (PUEBI)

TIM MKWU BAHASA INDONESIA


Fokus
Pengertian

Seperangkat aturan atau kaidah


perlambangan bunyi bahasa,
pemisahan, penggabungan, dan
penulisannya dalam suatu bahasa.
FONOLOGI
MORFOLOGI
SINTAKSIS
Sejarah Ejaan

Van Pem- Melindo


Republik LBK EYD
Ophuysen baharuan (Melayu-Indo)

PUEBI

?
 Tahun 1901 Hal-hal yang menonjol dalam
 Terbit buku “Kitab Logat Melajoe” Ejaan Van Ophuysen
 Disusun oleh Ch. A. Van Ophuysen,  Sajang Sayang
dibantu oleh Engku Nawawi gelar  Oemoem Umum
Soetan Ma’moer dan Moehammad  Ra’yat Rakyat
Taib Soetan Ibrahim
 Ratjun Racun
 Chawatir Khawatir

1. Huruf oe diganti dengan u pada kata-kata


guru, itu, umur, dsb.
2. Bunyi hamzah dan bunyi sentak ditulis Diresmikan dan ditetapkan
dengan k pada kata-kata tak, pak, rakjat, dsb. berdasarkan Surat
Keputusan Menteri
3. Kata ulang boleh ditulis dengan angka 2 Pendidikan, Pengajaran dan
seperti pada kanak2, ber-jalan2, ke-barat2-an. Kebudayaan Republik
Indonesia, Nomor :
4. Tanda trema (˝) dalam Ejaan Van Ophuysen 264/Bhg.A, tanggal 19 Maret
dihilangkan dalam Ejaan Republik 1947.
Contoh
• Oemoer Umur
• Ta’dir Takdir
• Rata-rata Rata2
c) Ejaan
Pembaharuan
Disusun oleh Priyono dan Katopo berdasarkan Surat
Keputusan Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan
Republik Indonesia, Nomor : 448/S, tanggal 19 Juli 1956

Hal-hal yang menarik dalam Ejaan


Pembaharuan sebagai berikut:
1. Gabungan konsonan dj diubah menjadi j
2. Gabungan konsonan tj diubah menjadi ts
3. Gabungan konsonan ng diubah menjadi n
4. Gabungan konsonan nj diubah menjadi ny
5. Gabungan konsonan sj diubah menjadi sy
6. Gabungan konsonan ai diubah menjadi ay
7. Gabungan konsonan au diubah menjadi aw
8. Gabungan konsonan oi diubah menjadi oy
Disusun oleh Slamet Mulyana (Indonesia) dan
Syed Nasir bin Ismail (Malaysia) pada tahun 1959.
Ejaan ini gagal diresmikan karena terjadi
ketegangan politik antara Indonesia dan Malaysia

Ejaan LBK (Lembaga Bahasa dan


Kesusastraan), sekarang bernama P3B
(Pusat Pembinaan dan Pengembangan
Bahasa), ditetapkan berdasarkan Surat
Keputusan Menteri Pendidikan dan
Kebudayaan, Nomor : 062/67, tanggal 19
September 1967.
Perubahan pada Ejaan Baru sebagai berikut:
 dj --- j --- remadja --- remaja
 tj --- c --- batja --- baca
 nj --- ny --- bunji --- bunyi
 sj --- sy --- sjarat --- syarat
 ch --- Kh --- machluk --- makhluk
 j --- y --- perjaja --- percaya
EYD diresmikan oleh Presiden Indonesia, Soeharto, pada tanggal 16 Agustus 1972.
Peresmian yang diumumkan pada Sidang DPR itu, diperkuat dengan KEPPRES Nomor
57 Tahun 1972, bersamaan dengan Pedoman Umum Pembentukan Istilah, selanjutnya
Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang disempurnakan ditetapkan oleh Menteri
Pendidikan dan Kebudayaan pada tanggal 31 Agustus 1972, dan dinyatakan dengan
resmi berlaku di seluruh Indonesia.
1. Perubahan Huruf EJAAN LAMA EYD
dj – jika j – jika
tj – pertjaja c – percaya
nj – njata ny – nyata
sj – sjukur sy – syukur

2. Huruf F, V, dan Z, yang merupakan unsur serapan dari bahasa asing,


diresmikan pemakaiannya. Contoh : khilaf, fisik, zakat, valuta.
3. Huruf Q dan X, yang lazim digunakan dalam bidang ilmu pengetahuan
tetap digunakan. Contoh : furqan, xenon.
4. Penulisan di – sebagai awalan dibedakan dengan di yang merupakan kata
depan. Contoh : sebagai awalan di - : dicuci; dikerjakan. Sebagai kata depan
di : di kantor; di sekolah.
5. Kata ulang ditulis penuh dengan mengulang unsur-unsurnya. Contoh :
anak-anak bukan anak2; bermain-main bukan bermain2.
EJAAN YANG BERLAKU
Ruang lingkup
PUEBI

Pemakaian Penulisan
Huruf Kata

Penulisan
Pemakaian
Unsur
Tanda Baca
Serapan
A.PEMAKAIAN HURUF 1. HURUF ABJAD
H
Huruf abjad adalah huruf yang U
dipakai dalan ejaan bahasa R
Indonesia yang terdiri dari 26 U
huruf F
A
B
J
A
D

Huruf Huruf Nama Pengucapan


kapital nonkapital
A a a a
B b be bĕ
C c ce cĕ
D d de dĕ
E e e ĕ
F f ef ĕf
G g ge gĕ
2. HURUF VOKAL
Huruf Contoh Pemakaian dalam Kata Huruf vocal adalah huruf yang
Vocal melambangkan vocal dalam
Posisi Posisi Posisi Akhir bahasa Indonesia yang terdiri
Awal Tengah atas lima huruf yaitu, a, u, i, e, o.
a api padi Lusa
u ulang Bumi Ibu
i itu simpan murni
e* enak petak sore
ember pendek tipe
emas kena - Contoh Pemakaian dalam
o oleh kota Radio Huruf Kata
Konson Posisi Posisi Posisi
an Awal Tengah Akhir
3. HURUF KONSONAN
B Bahasa Sebut Adab
C Cakap Kaca
Huruf konsonan adalah huruf D Dua Ada Abad
yang melambangkan konsonan
F Fakir Kafan Maaf
dalam bahasa Indonesia yang
terdiri dari 21 huruf yaitu, b, c, d, f, G Guna Tiga Gudeg
g, h, j, k, l, m, n, p, q, r, s, t, v, w, H Hari Saham Tuah
x, y, z. J Jalan Manja Mikraj
K Kami Paksa Politik
4. HURUF DIFTONG
Huruf Contoh Pemakaian dalam Kata
Diftong Posisi Awal Posisi Tengah Posisi Akhir
Dalam bahasa Indonesia
terdapat 4 diftong yang
dilambangkan dengan ai ain syaitan pandai
gabungan huruf vocal ai, au aula saudara harimau
au, ei, dan oi.
ei eigendom geiser servei
oi - boikot amboi
Gabungan huruf konsonan kh, ng, ny, dan sy
4. GABUNGAN masing-masing melambangkan satu bunyi
HURUF KONSONAN konsonan

Gabungan Contoh Pemakaian Dalam Kata


Huruf Posisi Posisi Posisi
Konsonan Awal Tengah Akhir

kh khusus akhir tarikh


ng ngarai bangun senang
ny nyata banyak -
sy syarat musyawarah Arasy
5.
P

I
2. Huruf miring dipakai untuk
menegaskan atau mengkhususkan
huruf, bagian kata, kata, atau
kelompok kata dalam kalimat,
misalnya :
- huruf terakhir kata abad adalah d
- Dia tidak diantar,tetapi mengantar.
6. HURUF MIRING
3. Huruf miring dipakai untuk
1. Huruf miring dipakai untuk menuliskan judul menuliskan kata atau ungjapan dalam
buku, nama majalah, atau nama surat kabar bahasa daerah atau bahasa asing,
yang dikutip dalam lisan, termasuk dalam misalnya:
daftar pustaka, misalnya: - Upacara peusijuek (tepung tawar)
- Berita itu muncul dalam surat kabar menarik perhatian wisatawan asing
Cakrawala yang berkunjung ke Aceh.
- Majalah Poejangga Baroe menggelorakan - Ungkapan Bhinneka Tunggal Ika
semangat kebangsaan . dijadikan semboyan negara
Indonesia
7. HURUF MIRING

1. Huruf tebal dipakai untuk menegaskan bagian tulisan


yang sudah ditulis miring, misalnya:
- huruf dh, seperti pada kata Ramadhan, tidak terdapat
dalam EYD
- Kata et dalam ungkapan ora et labora ‘berarti dan’
2. Huruf tebal dapat dipakai untuk menegaskan bagian-
bagian karangan, seperti judul buku, bab, atau subbab.
Misalnya :
- penulisan Latar Belakang dan Masalah
- penulisan Latar Belakang
- penulisan Masalah
- penulisan Tujuan
B. PENULISAN KATA

1. Kata Dasar
Kata dasar ditulis sebagai suatu kesatuan, misalnya :
* Kantor pajak penuh sesak
* Saya pergi kesekolah

2. Kata Berimbuhan
a. Imbuhan (awalan, sisipan, akhiran, serta gabungan awalan dan
akhiran) ditulis serangkai dengan bentuk dasarnya, misalnya:
• Berjalan
• Berkelanjutan
• Mempermudah
• Gemetar
b. Bentuk terikat ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya,
Misalnya:
* adibusana * aerodinamika
* infrastuktur * purnawirawan
* proaktif * inkonvensional
3. Bentuk Ulang
Bentuk ulang ditulis dengan menggunakan tanda hubung (-) di antara unsur-unsurnya
Misalnya :
* Anak-anak * biri-biri * buku-buku *cumi-cumi
* hati-hati * kupu-kupu * kuda-kuda * kura- kura , dll.

4. Gabungan Kata
a. Unsur gabungan kata yang lazimdisebut kata majemuk, termasuk istilah khusus, ditulis
terpisah. Misalnya :
* Duta besar * kambing hitam * Orang tua
* Simpang empat * Mata acara * Rumah sakit jiwa
b. Gabungan kata yang dapat menimbulkan salah pengertian ditulis dengan
membubuhkan tanda hubung (-) di antara unsur-unsurnya. Misalnya :
* Anak-istri pejabat anak istri-pejabat
* Ibu-bapak kami Ibu bapak-kami
* Buku-sejarah baru Buku sejarah-baru
c. Gabungan kata yang penulisannya terpisah tetap ditulis terpisah jika mendapat awalan
atau akhiran, misalnya :
* Bertepuk tangan * Menganak sungai * Garis bawahi *sebar luaskan
d. Gabungan kata yang mendapatkan awalan dan akhiran sekaligus ditulis serangkai
Misalnya:
* Dilipatgandakan * menggarisbawahi * menyebarluaskan
e. Gabungan kata yang sudah padu ditulis serangkai
Misalnya :
* acapkali * hulubalang *radioaktif *adakalanya
* kacamata * apalagi * bagaimana * saripati, dll.

5. Pemenggalan Kata
a. Pemenggalan kata pada kata dasar dilakukan, jika ditengah kata terdapat huruf vocal
yang beruntun, pemenggalannya dapat dilakukan di antara dua huruf vokal itu.
Misalnya:
* bu-ah * ma-in *ni-at * sa-at
b. Pemenggalan kata turunan sedapat-dapatnya dilakukan diantara bentuk dasar dan unsur
pembentukannya. Misalnya :
ber-jalan mem-pertanggungjawabkan
mem-bantu memeper-tanggungjawabkan
di-ambil mempertanggung-jawabkan
c. Jika sebuah kata terdiri atas dua unsur atau lebih dan salah satu unsurnya itu dapat
bergabung dengan unsur yang lain, penggalannya dilakukan di antara unsur-unsur itu.
Tiap unsur gabungan itu dipenggal seperti pada kata dasar. Misalnya :
* biografi bio-grafi bi-o-gra-fi
* biodata bio-data bi-o-da-ta
d. Nama orang yang terdiri atas dua unsur atau lebih pada akhir baris dipenggal di antara
unsur-unsurnya. Misalnya :
* lagu “Indonesia Raya” digubah oleh Wage Rudolf Supratman
e. Singkatan nama diri dan gelar yanng terdiri atas dua huruf atau lebih tidak dipenggal.
Misalnya :
* Ia bekerja di DLLAJR
6. Kata depan
Kata depan seperti, di, ke, dan dari ditulis terpisah dari kata yang
mengikutinya, misalnya:
* Di mana dia sekarang? * Mari kita berangkat ke kantor
7. Partikel
a. Partikel –lah, -kah, dan –tah ditulis serangkai dengan kata yang
mendahuluinya.Misalnya :
* bacalah buku itu baik-baik!
b. Partikel pun ditulis terpisah dari kata yang mendahuluinya,misalnya:
* Apa pun permasalahan yang muncul, dia dapat mengatasinya
dengan bijaksana.
c. Partikel per yang berarti ‘demi’,, ‘tiap’, atau ‘mulai’ ditulis terpisah dari
kata yang mengikutinya, misalnya:
* Mereka masuk ke dalam ruangan rapat satu per satu
8. Singkatan dan Akronim
a. Singkatan nama orang, gelar, sapaan, jabatan, atau pangkat diikuti dengan tanda
titik pada setiap unsur singkatan itu. Misalnya :
* A.H. Nasution Abdul Haris Nasution
b. 1) Singkatan Yang terdiri atas huruf awal setiap kata nama lembaga, ditulis
dengan huruf kapital tanpa tanda titik,misalnya :
* NKRI : Negara Kesatuan Republik Indonesia
2). Singkatan yang terdiri atas huruf awal setiap kata yang bukan nama diri ditulis
dengan huruf kapital tanpa tanda titik, misalnya :
* PT : Perseroan Terbatas
3) Singkatan yang terdiri atas tiga huruf atau lebih diikuti dengan tanda titik. Misalnya :
* hlm. :halaman
* dll. : dan lain-lain
4) Singkatann yang terdiri atas dua huruf yang lazim dipakai dalam surat- menyurat masing-
masing diikuti oleh tanda titik, misalnya :
* a.n : atas nama
* s.d : sampai dengan
5) Lambang kimia, singkatan satuan ukuran, takaran, timbangan, dan mata uang tidak diikuti
tanda titik, Misalnya :
* Cu :kuprum
* RP : Rupiah
6) Akronim nama diri yang terdiri atas huruf awal setiap kata ditulis huruf kapital tanpa tanda
titik. Misalnya :
* BIG : Badan Informasi Geospasial
* LAN : Lembaga Administrasi Negara
7) Akronim nama diri berupa gabungan suku kata atau gabungan huruf dan suku kata dari deret
kata ditulis dengan huruf awal kapital.
Misalnya :
* Bulog : Badan Usaha Logistik
* Suramadu : Surabaya-Madura
8) Akronim bukan nama diri yang berupa gabungan huruf awal dan suku kata atau
gabungan suka kata ditulis dengan huruf kecil, misalnya :
* iptek :ilmu pengetahuan dan teknologi
* pemilu :pemilihan umum
I. Angka dan Bilangan
Angka Arab atau angka Romawi lazim dipakai sebagai lambang bilangan atau
nomor, misalnya :
*Angka Arab : 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9,
* Angka Romawi : I, II, III, IV, V, VI, VII, VIII, IX, X,
L (50), C (100), D (500), dll

j. Kata ganti ku-, kau-, -ku, -mu, dan –nya


Kata ganti ku- dan kau- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya,
sedangkan –ku, -mu, dan –nya ditulis serangkai dengan kata yang
mendahuluinya, Misalnya
* Rumah itu telah kujual * Majalah itu boleh kaubaca
*Bukuku, bukumu dan bukunya tersimpan diperpustakaan.
* Rumahnya sedang diperbaiki.

k. Kata sandang si dan sang


kata si dan sang ditulis terpisah daridari kata yang mengikutinya.
Misalnya:
*Surat itu dikembalikan kepada si pengirim
* Toko itu memberikan hadiah kepada si pembeli
* Sang adik mematuhi nasihat sang kakak
* Ibu itu menghadiahi sang suami kemeja batik
C. PEMAKAIAN TANDA BACA
Tanda Titik (.)
1. Tanda titik dipakai pada akhir kalimat yang bukan
pertanyaan atau seruan. Misalnya:
Hari ini tanggal 6 April 1973.
Marilah kita mengheningkan cipta.
Sudilah kiranya Saudara mengabulkan
permohonan ini.
Catatan :
Tanda titik tidak digunakan pada akhir kalimat yang
unsur akhirnya sudah bertanda titik.
Misalnya :
• Buku itu disusun oleh Drs. Sudjatmiko, M.A.
• Dia memerlukan meja, kursi, dsb.
• Dia mengatakan, “kaki saya sakit.”
2. Tanda titik dipakai di belakang angka atau huruf dalam suatu bagan,
ikhtisar, atau daftar. Misalnya:
a. III. Departemen Dalam Negeri
A. Direktorat Jenderal Pembangunan Masyarakat Desa
B. Direktorat Jenderal Agraria
1. Direktorat Pendidikan Anak Usia Dini
2. ...
b. 1. Patokan Umum
1.1 Isi Karangan
1.2 Ilustrasi
1.2.1 Gambar Tangan
1.2.2 Tabel
1.2.3 Grafik
2. Patokan Khusus
2.1 ...

Catatan :
Tanda titik tidak dipakai di belakang angka atau
huruf dalam suatu bagan atau ikhtisar jika angka
atau huruf itu merupakan yang terakhir dalam deretan
angka atau huruf
3. Tanda titik dipakai untuk memisahkan angka jam, menit, dan detik yang
menunjukkan jangka waktu. Misalnya:

Pukul 1.35.20 (pukul 1 lewat 35 menit 20 detik)


0.20.30 jam (20 menit, 30 detik)
0.0.30 jam (30 detik)

4. Tanda titik dipakai dalam daftar pustaka di antara nama penulis, judul
tulisan yang tidak berakhir dengan tanda tanya atau tanda seru, dan
tempat terbit. Misalnya:
Siregar, Merari. 1920. Azab dan Sengsara. Weltevreden: Balai Poestaka.
6. Tanda titik dipakai untuk memisahkan bilangn ribuan atau kelipatannya
yang menunjukkan jumlah. Misalnya :
• Desa itu berpenduduk 24.212 orang.
• Siswa yang lulus masuk perguruan tinggi negeri 12.000 orang.
• Penduduk Jakarta lebih dari 11.000.000 orang.
Catatan :
• Tanda titik tidak dipakai untuk memisahkan bilangn ribuan atau
kelipatannya yang tidak menunjukkan jumlah. Misalnya :
 Dia lahir pada tahun 1989 di Bandung.
 Lihat halaman 2345 dan seterusnya.

•Tanda titik tidak dipakai pada akhir judul yang merupakan.


Misalnya kepala karangan atau kepala ilustrasi, tabel, dan
sebagainya. Misalnya :
 Acara kunjungan Menteri Pendidikan Nasional
 Salah Asuhan
Tanda Titik Koma (;)
1. Tanda titik koma dapat dipakai sebagai pengganti kata penghubung untuk
memisahkan kalimat yang setara di dalam kalimat majemuk. Misalnya :
Malam makin larut; pekerjaan belum selesai juga.

2. Tanda titik koma digunakan untuk mengakhiri pernyataan perincian dalam


kalimat yang berupa frasa atau kelompok kata. Misalnya :

Syarat-syarat penerimaan pegawai negeri sipil di lembaga ini:


1) berkewarganegaraan Indonesia;
2) berijazah S1 sekurang-kurangnya;
3) berbadan sehat;
Tanda Titik Dua (:)
1. Tanda titik dua dapat dipakai pada akhir suatu pernyataan lengkap jika
diikuti rangkaian atau pemerian. Misalnya :
Kita sekarang memerlukan perabot rumah tangga: Kursi, meja, dan
lemari.

2. Tanda titik dua dipakai sesudah kata atau ungkapan yang


memerlukanpemerian. Misalnya :

Ketua : Ahmad Wijaya


Sekretaris : Nuri Handayani
Bendahara: Darmawan
Tanda Hubung (-)
1. Tanda hubung menyambung suku-suku kata dasar yang terpisah oleh
pergantian baris. Misalnya :
Di samping cara-cara la-
ma itu ada juga cara yang baru

2. Tanda hubung menyambung awalan dengan bagian kata di


belakangnya atau akhiran dengan bagian kata di depannya pada
pergantian baris. Misalnya :
Senjata ini merupakan sarana pertahan-
an yang canggih.
Tanda Pisah ( )
1. Tanda pisah membatasi penyisipan kata atau kalimat yang memberi
penjelasan di luar bangun kalimat. Misalnya :
Kemerdekaan bangsa itu – saya yakin akan tercapai –
diperjuangkan oleh bangsa itu sendiri.
2. Tanda pisah menegaskan adanya keterangan aposisi atau keterangan
yang lain sehingga kalimat menjadi yang lebih jelas. Misalnya :

Rangkaian temuan – evolusi, teori kenisbian, dan kini juga


pembelahan atom – telah mengubah konsepsi kita tentang alam
semesta.
3. Tanda pisah dipakai di antara dua bilangan atau tanggal dengan
arti ‘sampai’. Misalnya :
1910 – 1945
Tanda Tanya (?)
1. Tanda tanya dipakai pada akhir kalimat tanya. Misalnya :

Kapan ia berangkat?

2. Tanda tanya dipakai di dalam tanda kurung untuk menyatakan bagian


kalimat yang disangsikan atau yang kurang dapat dibuktikan
kebenarannya. Misalnya :

Ia dilahirkan pada tahun 1987 (?).


Tanda Seru (!)

1. Tanda seru dipakai sesudah ungkapan atau pernyataan yang berupa


seruan atau perintah yang menggambarkan kesungguhan,
ketidakpercayaan, ataupun rasa emosi yang kuat.
Misalnya :

 Alangkah seramnya peristiwa itu!


 Bersihkan kamar itu sekarang juga!
 Merdeka!
Tanda Elipsis (...)
1. Tanda elipsis dipakai dalam kalimat yang berputus-putus. Misalnya :
Kalau begitu...,mari kita laksanakan.

2. Tanda elipsis menunjukkan bahwa dalam suatu kalimat atau naskah ada
bagian yang dihilangkan. Misalnya :

Sebab-sebab kemorosotan … akan diteliti lebih lanjut.


Tanda Petik Berganda (“ “)
1. Tanda petik berganda mengapit petikan langsung yang berasal dari
pembicaraan dan naskah atau bahan tertulis lain. Misalnya :

“Saya belum siap, ” kata Mira, “Tunggu sebentar!”


Pasal 36 UUD 1945 berbunyi, “Bahasa negara ialah bahasa Indonesia.”

2. Tanda petik mengapit judul syair, karangan, atau bab buku yang dipakai
dalam kalimat. Misalnya :
Bacalah “Bola Lampu” dalam buku Dari Suatu Masa, dari Suatu
Tempat.

3. Tanda petik mengapit istilah ilmiah yang kurang dikenal atau kata yang
mempunyai arti khusus.
Misalnya :
Pekerjaan itu dilaksanakan dengan cara “coba dan ralat” saja.
Tanda Petik Tunggal (‘ ‘)
1. Tanda petik tunggal mengapit petikan yang tersusun di dalam petikan
lain. Misalnya :
Tanya Basri, “Kau dengan bunyi ‘kring-kring’ tadi?”

2. Tanda petik tunggal mengapit makna kata atau ungkapan. Misalnya :

Terpandai ‘paling’ pandai’


Tinggi hati ‘sombogn, angkuh’
3. Tanda petik tunggal mengapit makna, terjemahan, atau penjelasan kata
ungkapan asing.
Misalnya :
feed-back ‘balikan’
Tanda Kurung (())
1. Tanda kurung mengapit tambahan keterangan atau penjelasan.
Misalnya :
Bagian Perencanaan sudah selesai menyusun DIK (Daftar Isian
Kegiatan) kantor itu.

2. Tanda kurung dipakai untuk mengapit keterangan atau penjelasan yang


bukan bagian utama kalimat. Misalnya :

Keterangan itu (lihat tabel 19) menunjukkan arus baru pasar


dalam negeri.
Tanda Kurung Siku ([])
1. Tanda kurung siku dipakai untuk mengapit huruf, kata, atau kelompok
kata sebagai koreksi atau tambahan pda kalimat atau bagian kalimat
yang ditulis orang lain. Tanda itu menyatakan bahwa kesalahan atau
kekurangan itu memang terdapat di dalam naskah asli. Misalnya :
 Sang Sapurba men[d]engar bunyi gemericik.
 Ia memberikan uang [kepada] anaknya.

2. Tanda kurung siku dipakai untuk mengapit keterangan dalam kalimat


penjelas yang sudah bertanda kurung. Misalnya :

Persamaan kedua proses ini (perbedaannya dibicarakan di dalam


Bab II [lihat halaman 35-38] perlu dibentangkan disini.)
Tanda Garis Miring (/)
1. Tanda garis miring dipakai di dalam nomor surat dan nomor pada
alamat dan penandaan masa satu tahun yang terbagi dalam dua tahun
takwim. Misalnya :
No. 7/PK/1973
Jalan Kramat III/10

2. Tanda garis miring dipakai sebagai pengganti kata dan, atau, atau tiap.
Misalnya :
Dikirimkan lewat darat/laut
Mereka mahasiswa/mahasiswi
Tanda Penyingkat atau
Apostof (‘)

Tanda penyingkat menunjukkan penghilangan bagian kata atau bagian


angka tahun. Misalnya :
Ali ‘kan kusurati. (‘kan = akan)
Malam ‘lah tiba (‘lah = telah)
1 Januari ‘08 (‘08: 2008)
Analisislah artikel di bawah ini berdasarkan ejaan
yang baik dan benar!

Website
https://www.liputan6.com/news/read/421382
3/psi-minta-jokowi-keluarkan-keppres-untuk-li
batkan-tni-tangani-covid-19

Modul
Nasionalisme di Kalangan Generasi Muda Indonesia