Anda di halaman 1dari 44

ANALISIS

KASUS
PT. WAE
Oleh kelompok 3:

DINA NUR ALFIANTI (1814190022)


MONIC PUTRI AJI (1814190025)
NABILA RAHMA (1814190035)
ADELIA SETYORINI (1814190042)
ALIFIA MAHARANI HAKIM (1814190047)
KASUS PT WAHANA AUTO EKAMARGA
(PT WAE)

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan petinggi PT Wahana Auto Ekamarga


(PT WAE) dan empat orang lainnya dari unsur penyelenggara negara dalam kasus
dugaan suap restitusi (pembayaran kembali) pajak perseroan pada 2015 dan 2016.
Kelima tersangka itu adalah Komisaris PT WAE Darwin Maspolim (DM), Kepala
Kantor Pelayanan Pajak Penanaman Modal Asing Tiga Kanwil Jakarta Khusus sekaligus
Penyidik Pegawai Negeri Sipil Yul Dirga (YD), dan Supervisor Tim Pemeriksa Pajak
PT. WAE di Kantor Pelayanan Pajak Penanaman Modal Asing Tiga Hadi Sutrisno (HS).
Kemudian, dua orang lainnya adalah Ketua Tim Pemeriksa Pajak PT WAE Jumari (JU)
dan Anggota Pemeriksa Pajak PT WAE M. Naif Fahmi (MNF).

Wakil Ketua KPK Saut Situmorang menjelaskan kasus ini bermula pada saat PT WAE
menyampaikan SPT Tahunan Pajak Penghasilan Wajib Pajak Badan tahun 2015 dengan
mengajukan restitusi sebesar Rp5,03 miliar. Kantor Pelayanan Pajak PMA Tiga
melakukan pemeriksaan lapangan terkait pengajuan restitusi tersebut. Dalam tim
tersebut Hadi Sutrisno sebagai supervisor, Jumari sebagai Ketua Tim dan M. Naif Fahmi
sebagai anggota Tim yang ditugaskan untuk melakukan pemeriksaan tersebut. Dari hasil
pemeriksaan itu, Hadi Sutrisno menyampaikan kepada PT WAE bahwa mereka tidak
lebih bayar melainkan kurang bayar. Hadi lantas menawarkan bantuan untuk menyetujui
restitusi dengan imbalan di atas Rp. 1 miliar.
KASUS PT WAHANA AUTO EKAMARGA
(PT WAE)

Darwin Maspolim selaku Komisaris PT WAE menyetujui permintaan tersebut. Saut mengatakan pihak PT WAE pun
mencairkan uang dalam dua tahap dan menukarkannya dengan bentuk valuta asing dollar Amerika Serikat. "Pada April 2017
terbit Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar (SKPLB) Pajak Penghasilan yang menyetujui restitusi sebesar Rp4,59 Milyar.
SKPLB tersebut ditandatangani oleh Tersangka YD sebagai Kepala KPP PMA Tiga," kata Saut. Saut melanjutkan sekitar awal
Mei 2017, salah satu staf PT WAE menyerahkan uang kepada tersangka Hadi di parkiran sebuah pusat perbelanjaan di Jakarta
Barat sebesar US$73,700. Uang itu pun yang dikemas dalam sebuah kantong plastik berwana hitam. "Uang tersebut kemudian
dibagi HS pada YD, Kepala KPP PMA Tiga dan Tim Pemeriksa, yaitu: JU dan MNF sekitar US$18,425 per-orang," kata Saut.

PT WAE pun kembali menyampaikan SPT Tahunan Pajak Penghasilan Wajib Pajak Badan tahun 2016 dengan mengajukan
restitusi sebesar Rp2,7 miliar. Sebagai tindak lanjut, Yul Dirga menandatangani surat pemeriksaan lapangan dengan Hadi
sebagai salah satu tim pemeriksa. Pada saat proses klarifikasi, Hadi memberitahukan pihak PT WAE bahwa terdapat banyak
koreksi. Seperti pada SPT Tahunan PPh WP Badan 2015, PT WAE ternyata masih kurang bayar, bukan lebih bayar. Hadi pun
kembali mengajukan bantuan dengan meminta uang senilai Rp1 miliar kepada PT WAE. Kali ini permintaan Hadi tidak
langsung disetujui pihak PT WAE. Alhasil, Hadi membicarakan negosiasi fee dengan Yul Dirga. Akhirnya disepakati Komitmen
fee sejumlah Rp800 juta. Pihak PT WAE kembali menggunakan sarana money changer untuk menukar uang suap itu menjadi
Dollar Amerika Serikat. "Pada Juni 2018 terbit Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar (SKPLB) Pajak Penghasilan yang
ditandatangani oleh Tersangka YD, menyetujui restitusi sebesar Rp2,77 miliar," kata Saut.
KASUS PT WAHANA AUTO EKAMARGA
(PT WAE)

Dua hari kemudian, pihak PT WAE menyerahkan uang senilai US$57.500 pada Hadi di toilet pusat perbelanjaan di Jakarta
Selatan. Uang tersebut kemudian dibagi Hadi kepada dan Tim Pemeriksa Jumari, dan M. Naif Fahmi selaku anggota
timnya. Masing-masing mendapatkan duit sekitar US$13.700. Sementara itu Yul Dirga, Kepala KPP PMA Tiga
mendapatkan US$14,400. Atas perbuatannya, Darwin sebagai pemberi disangkakan pasal 5 ayat (1) huruf a atau Pasal 5
ayat (1) huruf b Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20
Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 jo Pasal 65 ayat (1) KUHP.
Sementara itu empat orang lainnya selaku penerima disangkakan melanggar pasal, melanggar pasal 12 huruf a atau Pasal
12 huruf b subsider Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang
Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 jo Pasal 65 ayat (1)
KUHP.

Sumber : CNN Indonesia


Website :
https://m.cnnindonesia.com/nasional/20190815183643-12-421723/kronologi-suap-restitusi-pajak-yang-menjerat-petinggi-
pt-wae
KAITKAN KASUS PT WAE DENGAN :

ETIKA DALAM UKURAN


01 PERPAJAKAN MORALITAS
03
(Bertens, 2013).
• Tanggung Jawab Akuntan
Pajak • Hati Nurani
• AICPA Statement and For • Kaidah Emas
Tax Services dan Akuntan • Penilaian Umum
Pajak
• Kompleksitas Aturan Pajak
dan Tuntutan Klien

PRINSIP ETIKA
BISNIS (Sony Keraf, PRINSIP DASAR
02 1998). ETIKA AKUNTAN
• Prinsip Otonomi
• Integritas
04
• Prinsip Kejujuran
• Prinsip Keadilan • Objektivitas
• Prinsip Saling • Kompetensi dan Kehati –
Menguntungkan (Mutual hatian Profesional
Benefit Principle) • Kerahasiaan
• Prinsip Integritas Moral • Perilaku Profesional
ETIKA
DALAM
Your Logo
PERPAJAKAN
Tanggung Jawab Akuntan Pajak
Pada kasus ini, Yul Dirga selaku Kepala Kantor Pelayanan Pajak
(KPP) Penanaman Modal Asing (PMA) 3 Kanwil Jakarta Khusus
sekaligus Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PNS), Hadi Sutrisno
selaku Supervisor Tim Pemeriksa Pajak PT WAE, Jumari selaku
Ketua Tim Pemeriksa Pajak PT WAE, dan M. Naif Fahmi selaku
Anggota Pemeriksa Pajak PT WAE atau bisa dibilang pihak KPP
Akuntan pajak mempunyai beberapa PMA 3 Jakarta menerapkan tanggung jawab kepada PT WAE (selaku
tanggung jawab kepada publik, melalui klien) karena mereka telah melakukan kewajiban atas kemampuan,
pemerintah. Tanggung jawab akuntan pajak loyalitas, dan kerahasiaan klien.
adalah bukan untuk suatu kepalsuan dalam
suatu kewajiban pajak. Suatu kewajiban Akan tetapi, pihak KPP PMA 3 Jakarta tidak menerapkan tanggung
pajak adalah suatu pernyataan atau deklarasi jawab kepada sistem pajak karena telah menerbitkan Surat Ketetapan
atas sanksi dari kecurangan yang berkaitan Pajak Lebih Bayar (SKPLB) Pajak Penghasilan (PPh) yang
dengan perpajakan, serta informasi dari hasil menyetujui restitusi (pengembalian pajak) untuk PT WAE. Padahal,
penyajian laporan keuangan adalah benar, pihak KPP PMA 3 Jakarta mengetahui yang sebenarnya bahwa PT
dan lengkap. WAE kurang bayar bukan lebih bayar, hal itu terungkap saat KPP
PMA 3 memeriksa buku, catatan, dan dokumen terkait proses bisnis
PT WAE. Sehingga dapat dikatakan pihak KPP PMA 3 Jakarta
memberikan informasi yang salah kepada pemerintah dan publik.
AICPA Statement and for Tax Services
American Institute of Certified Public Accountants
(AICPA) adalah organisasi Kantor Akuntan Publik Dalam kaitannya dengan etika akuntan pajak, AICPA
yang paling berpengaruh di dunia auditing dan mengeluarkan Statement on Standards in Tax Practice
bertempat di Amerika. AICPA adalah penentu (SSTP) yaitu pertimbangan etika umum yang
persyaratan professional bagi akuntan publik. AICPA mendasari standar yang dibuat oleh Komite Eksekutif
biasanya melakukan penelitian, dan menerbitkan artikel Pajak AICPA yang interpretasinya menggantikan
tentang berbagai subjek yang behubungan dengan Statement on Responbilities in Tax Practice (SRTP)
akuntansi, auditing, jasa asestasi dan assurance, jasa sejak 1 Oktober 2000. Yang menarik dari SSTP ada
konsultasi manajemen serta perpajakan, menjadi juru pada kalimat pembukaannya yaitu “Standar praktik
bicara bagi profesi akuntansi, melakukan kampanye- merupakan lingkup dari penyebutan diri sebagai
kampanye promosi secara nasional, pengembangan seorang profesional. Anggota harus memenuhi
sertifikasi keahlian, serta usaha-usaha dari Komite tanggungjawabnya sebagai profesional dengan
Khusus untuk Jasa Asuransi, dan mempromosikan jasa mendukung dan mempertahankan standar. Maka,
asuransi baru. dengan hal tersebut, kinerja profesional anggota dapat
diukur”. Oleh karena itu, indikasi terbaik dari standar
etika yang bisa dipenuhi oleh akuntan pajak biasanya
ditemukan dalam standar tersebut.
Statement on Standards for Tax Service

1 2 3 4 5 6 7
Start

End
Statement on Standards for Tax Service
Number 1,
Tax Return Positions (Posisi Pengembalian
Pajak)

Statemen ini menetapkan standar yang berlaku bagi


anggota ketika merekomendasikan posisi pengembalian
pajak atau mempersiapkan atau menandatangani
pengembalian pajak (termasuk pengembalian yang
diubah, klaim untuk pengembalian uang, dan informasi
pengembalian) yang diajukan kepada otoritas perpajakan.
Pada kasus ini, pihak KPP PMA 3 Jakarta
tidak menerapkan sesuai dengan Statement
on Standards for Tax Service Number 1, Tax
Return Positions (Posisi Pengembalian Pajak).
Isi Statemen :
Karena pihak KPP PMA 3 Jakarta telah
Seorang anggota harus menentukan dan
menandatangani pengembalian pajak
mematuhi standar yang dikenakan oleh otoritas
(restitusi) PT WAE dengan menerbitkan Surat
perpajakan yang berlaku sehubungan dengan
Ketetapan Pajak Lebih Bayar (SKPLB) Pajak
merekomendasikan posisi pengembalian pajak,
Penghasilan untuk tahun 2015 dan 2016.
atau mempersiapkan atau menandatangani
Namun, Surat Ketetapan tersebut tidak sesuai
pengembalian pajak.
dengan hasil pemeriksaan terhadap buku,
catatan, dan dokumen terkait proses bisnis PT
WAE.
Statement on Standards for Tax Service
Number 2,
Answers to Questions on Returns (Jawaban
Atas Pertanyaan Pengembalian)

Statemen ini menetapkan standar yang berlaku bagi


anggota saat menandatangani persiapan deklarasi atas
pengembalian pajak, yang mana jika terdapat satu atau
lebih pertanyaan yang belum dijawab mengenai
pengembalian pajak. Syarat pertanyaan mencakup
permintaan informasi tentang pengembalian pajak yang
terdapat dalam instruksi atau dalam peraturan yang
berlaku.
Pada kasus ini, pihak KPP PMA 3 Jakarta
telah menerapkan sesuai dengan
Statement on Standards for Tax Services
Isi Statemen : Number 2, Answers to Questions on
Return (Jawaban Atas Pertanyaan
Seorang anggota harus melakukan upaya yang Pengembalian).
masuk akal untuk memperoleh informasi yang
diperlukan dari wajib pajak untuk memberikan Karena pihak KPP PMA 3 Jakarta telah
jawaban yang sesuai atas semua pertanyaan melakukan upaya mendapatkan informasi
tentang pengembalian pajak sebelum dari PT WAE untuk proses pemeriksaan,
menandatangani persiapan deklarasi. yaitu dengan meminta buku, catatan, dan
dokumen terkait proses bisnis PT WAE.
Statement on Standards for Tax Service Number 3,
Certain Procedural Aspects of Preparing Returns
(Aspek Prosedur Tertentu dalam Menyiapkan Pengembalian)

Statemen ini menetapkan standar yang berlaku bagi


anggota mengenai kewajiban untuk memeriksa atau
memverifikasi data pendukung tertentu atau untuk
mempertimbangkan informasi lain yang terkait dengan
wajib pajak ketika menyiapkan pengembalian pajak.

 
Pada kasus ini, pihak KPP PMA 3 Jakarta
telah menerapkan sesuai dengan
Isi Statemen : Statement on Standards for Tax Services
Number 3, Certain Procedural Aspects of
Dalam mempersiapkan atau menandatangani suatu Preparing Returns (Aspek Prosedur
pengembalian, jika seorang anggota mempunyai itikad baik, Tertentu dalam Menyiapkan
maka dapat langsung mengandalkan tanpa verifikasi Pengembalian).
informasi yang diberikan oleh wajib pajak atau oleh pihak
ketiga. Namun, seorang anggota tidak boleh mengabaikan Karena pihak KPP PMA 3 Jakarta telah
implikasi informasi yang diberikan dan harus mengajukan melakukan pemeriksaan terhadap buku,
pertanyaan wajar jika informasi yang diberikan tampaknya catatan, dan dokumen terkait proses
tidak benar, tidak lengkap, atau tidak konsisten baik di bisnis PT WAE.
bagian depannya atau atas dasar fakta lain yang tidak
diketahui anggota. Selanjutnya, seorang anggota harus
merujuk pada pengembalian wajib pajak untuk satu atau
lebih tahun bilamana memungkinkan.
Statement on Standards for Tax Service Number 4,
Use of Estimates (Penggunaan Estimasi)

Statemen ini menetapkan standar yang berlaku bagi


anggota ketika menggunakan estimasi wajib pajak dalam
mempersiapkan pengembalian pajak. Seorang anggota
dapat memberi saran tentang perkiraan yang digunakan
dalam persiapan laporan pajak, sedangkan wajib pajak
memiliki tanggung jawab untuk menyediakan estimasi
data.

 
Isi Statemen : Pada kasus ini, pihak KPP PMA 3 Jakarta
tidak menerapkan sesuai dengan
Anggota dapat menggunakan estimasi lain yang tidak Statement on Standards for Tax Services
dilarang oleh undang-undang atau peraturan Number 4, Use of Estimates
perpajakan untuk persiapan pengembalian pajak. (Penggunaan Estimasi).
Contohnya jika estimasi yang digunakan tidak efektif,
maka anggota dapat menggunakan estimasi wajib Karena pihak KPP PMA 3 Jakarta telah
pajak untuk persiapan pengembalian pajak. Dan jika menggunakan estimasi yang tidak
ternyata anggota menyatakan bahwa estimasi yang diperbolehkan oleh aturan perpajakan
digunakan sebelumnya masuk akal atau sesuai fakta dalam menandatangani pengembalian
dan keadaan yang diketahui anggota, maka anggota pajak (restitusi) PT WAE.
tidak perlu menggunakan estimasi lain. Jika
menggunakan estimasi wajib pajak, maka anggota
harus menyajikan dengan cara tidak menyiratkan
akurasi (ketelitian) yang lebih besar daripada yang
ada.
Statement on Standards for Tax Service Number 5,
Departure From a Position Previously Concluded in an Administrative Proceeding
or Court Decision
(Penyimpangan dari Suatu Posisi yang Sebelumnya Disampaikan di dalam Suatu
Tindakan Administrasi atau Keputusan Pengadilan)

.Statemen ini menetapkan standar yang berlaku bagi anggota dalam


merekomendasikan posisi pengembalian pajak yang menyimpang dari posisi
yang ditentukan dalam tindakan administrasi atau keputusan pengadilan
yang berkenaan dengan pengembalian wajib pajak sebelumnya.

 
Pada kasus ini, pihak KPP PMA 3 Jakarta tidak
Isi Statemen : menerapkan sesuai dengan Statement on
Standards for Tax Services Number 5, Departure
Posisi pengembalian pajak yang sehubungan dengan From a Position Previously Concluded in an
item yang ditentukan dalam tindakan administrasi atau Administrative Proceeding or Court Decision
keputusan pengadilan tidak membatasi anggota untuk (Penyimpangan dari Suatu Posisi yang
merekomendasikan posisi pajak yang berbeda dalam Sebelumnya Disampaikan di dalam Suatu
pengembalian tahun berikutnya, kecuali wajib pajak Tindakan Administrasi atau Keputusan
terkait dengan perlakuan khusus pada tahun berikutnya, Pengadilan).
seperti dengan perjanjian formal. Oleh karena itu, Karena pada tahun 2016, pihak KPP PMA 3
anggota dapat merekomendasikan posisi pengembalian Jakarta melakukan hal yang sama seperti tahun
pajak atau menyiapkan atau menandatangani 2015 untuk menyetujui restitusi PT WAE, padahal
pengembalian pajak yang menyimpang dari perlakuan hasil pemeriksaan menyatakan bahwa PPh Wajib
terhadap suatu item sebagaimana disimpulkan dalam Pajak Badan PT WAE tidak lebih bayar melainkan
tindakan administrasi atau keputusan pengadilan yang kurang bayar. Tindakan pihak KPP PMA 3 Jakarta
sehubungan dengan pengembalian sebelumnya dari ini sangat menyimpang dari aturan perpajakan.
wajib pajak dengan ketentuan persyaratan yaitu anggota Pihak KPP PMA 3 Jakarta seharusnya
sudah melakukan atau memenuhi sesuai Statement on merekomendasikan hal yang berbeda dalam
Standards for Tax Services (SSTS) Number 1, Tax menyetujui restitusi dan tentunya hal tersebut
Return Positions (Posisi Pengembalian Pajak). harus sesuai dengan aturan perpajakan.
Statement on Standards for Tax Service Number 6,
Knowledge of Error : Return Preparation and Administrative Proceeding
(Kesalahan Pengetahuan : Persiapan Pengembalian dan Tindakan Administrasi)

Pernyataan ini menetapkan standar yang berlaku untuk anggota yang mengetahui :

● Kesalahan dalam pengembalian pajak wajib pajak yang diajukan sebelumnya

● Kesalahan dalam pengembalian yang merupakan subjek dari tindakan administrasi, seperti pemeriksaan oleh
otoritas pajak atau konferensi banding; atau

● Kegagalan wajib pajak untuk mengajukan pengembalian pajak yang diperlukan.

Syarat kesalahan mencakup posisi, kelalaian, atau metode akuntansi pada saat pengembalian diajukan; gagal
memenuhi standar yang ditetapkan dalam Statement on Standards for Tax Services (SSTS) Number 1, Tax Return
Positions (Posisi Pengembalian Pajak)..

 
Pada kasus ini, pihak KPP PMA 3 Jakarta belum
menerapkan sesuai dengan Statement on
Standards for Tax Services Number 6,
Isi Statemen : Knowledge of Error : Return Preparation and
Administrative Proceeding (Kesalahan
Seorang anggota harus segera memberitahu wajib Pengetahuan : Persiapan Pengembalian dan
pajak setelah mengetahui adanya kesalahan dalam Tindakan Administrasi).
pengembalian yang diajukan sebelumnya, atau
kesalahan dalam pengembalian yang merupakan Karena pihak KPP PMA 3 Jakarta tidak
subjek dari tindakan administrasi, atau kegagalan mengevaluasi dari kesalahan yang mereka
wajib pajak untuk mengajukan pengembalian yang lakukan pada saat tahun 2015 yaitu menyetujui
diperlukan. Seorang anggota juga harus memberi restitusi PT WAE yang tidak sesuai dengan hasil
tahu wajib pajak tentang kemungkinan pemeriksaan, sehingga pada tahun 2016
konsekuensi kesalahan dan merekomendasikan mereka melakukan hal yang sama, yang
langkah-langkah korektif yang harus diambil. mengakibatkan pihak KPK harus turun tangan
Saran dan rekomendasi tersebut dapat diberikan untuk menyelidiki kasus ini.
secara lisan. Anggota tidak diperbolehkan memberi
tahu otoritas perpajakan tanpa izin dari wajib
pajak, kecuali jika diharuskan oleh hukum.
Statement on Standards for Tax Service Number 7,
Form and Contents of Advice to Taxpayers
(Bentuk dan Isi Nasihat Kepada Wajib Pajak)

Statemen ini menetapkan standar yang berlaku untuk


anggota mengenai aspek-aspek tertentu dalam
memberikan saran kepada wajib pajak dan
mempertimbangkan keadaan dimana anggota memiliki
tanggung jawab untuk berkomunikasi dengan wajib pajak
ketika perkembangan selanjutnya memengaruhi saran
yang sebelumnya diberikan.
Pada kasus ini, pihak KPP PMA 3 Jakarta
tidak menerapkan sesuai dengan Statement
on Standards for Tax Services Number 7,
Isi Statemen : Form and Contents of Advice to Taxpayers
(Bentuk dan Isi Nasihat Kepada Wajib Pajak).
Seorang anggota harus menggunakan pertimbangan
profesional untuk memastikan bahwa saran pajak Karena pihak KPP PMA 3 Jakarta tidak
yang diberikan kepada wajib pajak mencerminkan mempertimbangkan atau memberikan saran
kompetensi dan memenuhi kebutuhan wajib pajak profesional yang mencerminkan kompetensi
dengan tepat. Jika anggot menyampaikan saran dan tidak sesuai dengan standar otoritas
pajak kepada wajib pajak secara tertulis, maka perpajakan yang relevan atau aturan
anggota harus mematuhi standar otoritas perpajakan perpajakan kepada PT WAE.
yang relevan.
AKUNTAN PAJAK

Menurut KBBI, akuntan merupakan ahli akuntansi yang


bertugas menyusun, membimbing, mengawasi,
menginspeksi, dan memperbaiki tata buku serta administrasi
perusahaan atau instansi pemerintah.

Akuntan pajak adalah akuntan yang berfokus pada


pencatatan dan pembukuan pajak. Seorang akuntan pajak
akan mengatur keuangan yang akan dilaporkan kepada
Direktorat Jenderal Pajak. Profesi akuntan pajak
berkesinambungan dengan akuntan pemeriksaan dan
keuangan.
AKUNTAN PAJAK
Pada kasus ini, yang menjadi akuntan pajak adalah pihak dari Direktorat Jenderal Pajak Kementerian
Keuangan yaitu KPP PMA 3 Jakarta, alasannya karena KPP PMA 3 Jakarta bertugas memeriksa
dokumen terkait proses bisnis PT WAE untuk membuktikan apakah PT WAE benar memiliki pajak
lebih bayar untuk mendapatkan restitusi atau tidak. Namun ternyata, pihak KPP PMA 3 Jakarta justru
terlibat dalam kasus suap restitusi bersama dengan Darwin Maspolim selaku Komisaris PT WAE,
sehingga KPK pun terlibat untuk menyelidiki kasus tersebut. Setelah menyelidiki kasus tersebut, KPK
memutuskan bahwa Darwin Maspolim dan 4 orang pihak KPP PMA 3 Jakarta menjadi tersangka
dalam kasus suap restitusi. Atas perbuatannya, Darwin Maspolim sebagai pemberi disangkakan
melanggar pasal 5 ayat (1) huruf a atau Pasal 5 ayat (1) huruf b Undang-Undang Nomor 31 Tahun
1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang
Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 jo Pasal 65 ayat (1) KUHP.
Sedangkan 4 orang lainnya (pihak KPP PMA 3 Jakarta) selaku penerima disangkakan melanggar
pasal, melanggar pasal 12 huruf a atau Pasal 12 huruf b subsider Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31
Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang
Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 jo Pasal 65 ayat (1) KUHP
Kompleksitas Aturan Perpajakan dan Tuntutan Klien
• Kompleksitas Aturan Perpajakan
Kompleksitas aturan perpajakan dapat muncul karena berbagai alasan contohnya, adanya
keinginan untuk mencapai keadilan dan upaya untuk mendorong kegiatan tertentu yang
dianggap menguntungkan secara sosial atau ekonomi. Penting untuk memahami
bagaimana aturan perpajakan yang diterapkan dapat mempengaruhi perekonomian dan
bagaimana cara mengevaluasi dampaknya. Seringkali, perubahan aturan pajak justru
dapat meningkatkan kinerja ekonomi negara.

• Tuntutan Klien
Tuntutan klien adalah keinginan klien untuk mendapatkan sesuatu dari orang/pihak lain
berdasarkan kesepakatan tertentu. Biasanya tuntutan klien muncul dalam kaitannya
dengan hak dan kkewajiban Tuntutan klien akan muncul ketika klien sudah
melaksanakan kewajibannya tetapi belum mendapatkan haknya.
Pada kasus ini, meskipun KPP PMA 3 Jakarta telah melakukan pemeriksaan sesuai aturan perpajakan, sehingga dapat
mengetahui apa yang terjadi sebenarnya pada PT WAE berdasarkan hasil pemeriksaan terhadap buku, catatan, dan
dokumen terkait proses bisnis PT WAE. Namun, pihak KPP PMA 3 Jakarta masih dianggap tidak mengikuti aturan
pajak sepenuhnya karena telah menerbitkan Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar (SKPLB) Pajak Penghasilan yang
menyetujui restitusi kepada PT WAE, yang pada realitanya surat tersebut tidak sesuai dengan hasil pemeriksaan yang
dilakukan oleh mereka. KPP PMA 3 Jakarta justru memenuhi tuntutan dari Darwin Maspolim (Komisaris PT WAE)
selaku kliennya untuk mendapatkan restitusi atas PPh Wajib Pajak Badan PT WAE tahun 2015 dan 2016.
PRINSIP-PRINSIP
ETIKA BISNIS
Your Logo
Prinsip Otonomi
Pada kasus ini, Darwin Maspolim selaku Komisaris PT WAE
tidak menerapkan prinsip otonomi karena telah mengambil
keputusan dengan memberikan imbalan kepada pihak KPP
PMA 3 Jakarta agar menyetujui restitusi atas SPT Tahunan
Pajak Penghasilan Wajib Pajak Badan tahun 2015 dan 2016.
Prinsip otonomi adalah prinsip kemandirian,
Padahal, Darwin Maspolim mengetahui dari hasil
kebebasan, dan tanggung jawab. Ini berkaitan
pemeriksaan yang dilakukan oleh pihak KPP PMA 3 Jakarta
dengan kemampuan untuk mengambil
menyatakan bahwa PPh Wajib Pajak Badan PT WAE tidak
keputusan mandiri, melakukan tindakan sesuai
lebih bayar melainkan kurang bayar. Sedangkan, Hadi
dengan apa yang diyakini, bebas dari tekanan,
Sutrisno selaku Supervisor Tim Pemeriksa Pajak PT WAE,
hasutan, ataupun ketergantungan kepada pihak
Jumari selaku Ketua Tim Pemeriksa Pajak PT WAE, dan M.
lain. Singkatnya, prinsip otonomi merupakan
Naif Fahmi selaku Anggota Pemeriksa Pajak PT WAE juga
sikap dan kemampuan manusia untuk
tidak menerapkan prinsip otonomi karena telah mengambil
mengambil keputusan dan bertindak
keputusan dengan meminta imbalan kepada Darwin
berdasarkan kesadarannya tentang apa yang
Maspolim sebagai penawaran untuk menyetujui restitusi
dianggapnya baik untuk dilakukan.
SPT Tahunan Pajak Penghasilan Wajib Pajak Badan tahun
2015 dan 2016. Padahal, mereka telah memeriksa buku,
catatan, dan dokumen terkait proses bisnis PT WAE, yang
ternyata ditemukan bahwa PPh Wajib Pajak Badan PT WAE
tidak lebih bayar melainkan kurang bayar.
Prinsip Kejujuran

Pada kasus ini, Darwin Maspolim selaku Komisaris PT WAE


dan pihak KPP PMA 3 Jakarta tidak menerapkan prinsip
kejujuran karena mereka bekerjasama agar pihak KPP PMA 3
Jakarta menerbitkan Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar
Prinsip kejujuran menanamkan sikap
(SKPLB) Pajak Penghasilan untuk menyetujui restitusi PT
bahwa apa yang dilakukan harus
WAE. Padahal, ketika KPP PMA 3 Jakarta melakukan
sesuai dengan apa yang dijanjikan
pemeriksaan terhadap PT WAE, mereka menemukan suatu
atau dikatakan dan mendorong
kesalahan yang ada dalam buku, catatan, dan dokumen
kepatuhan dalam melaksanakan
terkait proses bisnis PT WAE , sehingga membuktikan bahwa
berbagai komitmen, kontrak,
PPh Wajib Pajak Badan PT WAE tidak lebih bayar melainkan
ataupun perjanjian yang telah
kurang bayar. Jadi, bisa dikatakan bahwa Darwin Maspolim
disepakati.
dan KPP PMA 3 Jakarta membohongi pemerintah dan publik
karena mereka telah melakukan hal yang seharusnya tidak
mereka lakukan.
Prinsip Keadilan
Pada kasus ini, Darwin Maspolim dan pihak KPP PMA 3
Jakarta menerapkan prinsip keadilan karena mereka
bekerjasama agar pihak KPP PMA 3 Jakarta menerbitkan
Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar (SKPLB) Pajak
Prinsip keadilan menanamkan sikap untuk
Penghasilan untuk menyetujui restitusi PT WAE. Oleh karena
selalu berlaku adil kepada semua pihak
itu, kerjasama yang dilakukan oleh kedua belah pihak sama-
tanpa membeda-bedakan, baik itu terkait
sama mendapatkan keuntungan. Namun, prinsip keadilan
masalah ekonomi, hukum, sosial, ataupun
disini dinilai buruk karena apa yang dilakukan oleh mereka
masalah lainnya.
sama saja dengan membohongi pemerintah dan publik.
Alasannya adalah KPP PMA 3 Jakarta telah menerbitkan
Singkatnya, prinsip keadilan menuntut agar
Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar (SKPLB) Pajak
setiap orang diperlakukan secara sama
Penghasilan untuk menyetujui restitusi PT WAE, yang
sesuai dengan aturan yang adil dan sesuai
seharusnya KPP PMA 3 Jakarta tidak boleh menerbitkan
kriteria yang rasional obyektif, serta dapat
Surat Ketetapan tersebut karena tidak sesuai dengan hasil
dipertanggung jawabkan.
pemeriksaan berdasarkan buku, catatan, dan dokumen yang
terkait proses bisnis PT WAE. Jadi, bisa dikatakan bahwa
Darwin Maspolim dan pihak KPP PMA 3 Jakarta tidak
menerapkan keadilan kepada pihak pemerintah, karena
mereka melakukan hal yang merugikan pemerintah.
Prinsip Saling Menguntungkan (Mutual Benefit Principle)
Pada kasus ini, Darwin Maspolim dan pihak KPP PMA 3
Jakarta menerapkan prinsip saling menguntungkan, karena
mereka sama-sama mendapatkan keuntungan, Darwin
Maspolim mendapatkan restitusi untuk perusahaannya,
Prinsip saling menguntungkan menuntut
sedangkan pihak KPP PMA 3 Jakarta mendapatkan imbalan
agar bisnis dijalankan sedemikian rupa
atas apa yang sudah dilakukan oleh mereka.
sehingga menguntungkan semua pihak.
Namun, Darwin Maspolim dan pihak KPP PMA 3 Jakarta
Oleh karena itu, dalam berbisnis perlu
tidak menerapkan prinsip saling menguntungkan kepada
ditanamkan prinsip saling menguntungkan
pemerintah, karena merugikan pemerintah. Alasannya adalah
atau win-win solution, atau dengan kata lain,
KPP PMA 3 Jakarta menerbitkan Surat Ketetapan Pajak
setiap keputusan atau tindakan yang diambil
Lebih Bayar (SKPLB) Pajak Penghasilan untuk menyetujui
harus bisa membuat semua pihak merasa
restitusi PT WAE, yang seharusnya surat itu tidak boleh
diuntungkan.
diterbitkan karena tidak sesuai dengan buku, catatan, dan
dokumen yang terkait proses bisnis PT WAE, sehingga
pemerintah mengeluarkan restitusi kepada PT WAE sesuai
dengan Surat ketetapan yang dikeluarkan oleh KPP PMA 3
Jakarta.
Prinsip Integritas Moral

Pada kasus ini, Darwin Maspolim selaku Komisaris PT WAE


telah melakukan penyimpangan prinsip integritas moral,
Prinsip integritas moral digunakan sebagai karena menganggap dengan memberikan imbalan kepada
tuntutan internal dalam diri pelaku bisnis pihak KPP PMA 3 Jakarta untuk menyetujui restitusi
atau perusahaan, agar perlu menjalankan perusahaannya akan menghasilkan keuntungan yang besar.
bisnis dengan tetap menjaga nama baik Namun, Darwin mengabaikan konsekuensi yang akan terjadi.
pimpinan, karyawan, maupun Pada akhirnya, Darwin Maspolim harus menerima kenyataan
perusahaannya. pahit yaitu perbuatannya yang dilakukan bersama dengan
pihak KPP PMA 3 Jakarta diketahui oleh KPK. Atas
Oleh karena itu, prinsip integritas moral perbuatannya, Darwin Maspolim sebagai pemberi manjadi
menekankan untuk tidak merugikan orang tersangka karena melanggar pasal 5 ayat (1) huruf a atau
lain dalam segala tindakan bisnis yang Pasal 5 ayat (1) huruf b Undang-Undang Nomor 31 Tahun
diambil dan menekankan bahwa setiap 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang
orang memiliki harkat dan martabat yang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana
harus dihormati. Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 jo Pasal 65 ayat (1)
  KUHP.
UKURAN
MORALITAS
Your Logo
DALAM BISNIS
Pada kasus ini, baik Darwin Maspolim selaku Komisaris PT WAE
yang memberikan imbalan kepada pihak KPP PMA 3 Jakarta agar
menyetujui restitusi atas SPT Tahunan Pajak Penghasilan Wajib
Pajak Badan tahun 2015 dan 2016; Hadi Sutrisno selaku
Hati Nurani Supervisor Tim Pemeriksa Pajak PT WAE, Jumari selaku Ketua
Tim Pemeriksa Pajak PT WAE, dan M. Naif Fahmi selaku Anggota
Pemeriksa Pajak PT WAE yang meminta imbalan kepada Darwin
Hati nurani merupakan norma moral
Maspolim sebagai penawaran untuk menyetujui restitusi SPT
yang penting, tetapi sifatnya subyektif,
Tahunan Pajak Penghasilan Wajib Pajak Badan tahun 2015 dan
sehingga tidak terbuka untuk orang lain.
2016; maupun Yul Dirga selaku Kepala Kantor Pelayanan Pajak
Pertanyaan apakah hati nurani
(KPP) Penanaman Modal Asing (PMA) 3 Kanwil Jakarta Khusus
mengizinkan atau tidak, hanya bisa
sekaligus Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang menyetujui
dijawab oleh orang bersangkutan.
penawaran bantuan yang dilakukan oleh 3 pegawainya untuk
diberikan kepada PT WAE sebagai persetujuan restitusi atas SPT
Tahunan PPh Wajib Pajak Badan tahun 2015 dan 2016 dengan
syarat PT WAE memberikan imbalan kepadanya dinilai perbuatan
yang buruk menurut hati nurani. Alasannya adalah mereka telah
mengambil keputusan yang bertentangan dengan hati nurani karena
mereka terlalu tamak dalam kepentingannya masing – masing
untuk memperoleh keuntungan. Maka, secara tidak sadar mereka
telah menghancurkan integritas mereka sendiri dari sifat tamak
tersebut.
Kaidah Emas
Cara lebih obyektif untuk menilai baik buruknya perilaku moral adalah mengukurnya dengan Kaidah
Emas yang berbunyi:

"Hendaklah memperlakukan orang lain sebagaimana Anda sendiri ingin diperlakukan".

Perilaku saya bisa dianggap secara moral baik, bila saya memperlakukan orang tertentu sebagaimana
saya sendiri ingin diperlakukan. Mengapa begitu? Karena saya (dan setiap orang) tentu menginginkan
agar saya diperlakukan dengan baik. Nah, saya harus memperlakukan orang lain dengan cara demikian
pula. Kalau begitu, saya berperilaku dengan baik (dari sudut pandang moral). Kaidah Emas dapat
dirumuskan dengan cara positif maupun negatif. Tadi diberikan perumusan positif. Bila dirumuskan
secara negatif, Kaidah Emas berbunyi: "Janganlah melakukan terhadap orang lain, apa yang Anda sendiri
tidak ingin akan dilakukan terhadap diri Anda". Saya kurang konsisten dalam tingkah laku saya, bila saya
melakukan sesuatu terhadap orang lain, yang saya tidak mau akan dilakukan terhadap saya sendiri. Kalau
begitu, saya berperilaku dengan cara tidak baik (dari sudut pandang moral).
Kaidah Emas
Pada kasus ini, Darwin Maspolim telah memberikan imbalan kepada pihak KPP PMA 3 Jakarta agar
menyetujui restitusi atas SPT Tahunan Pajak Penghasilan Wajib Pajak Badan tahun 2015 dan 2016 dinilai
perbuatan yang baik (secara positif) menurut kaidah emas. Alasannya adalah karena Darwin Maspolim
ingin diperlakukan dengan baik oleh pihak KPP PMA 3 Jakarta yaitu pihak KPP PMA 3 Jakarta
memberikan persetujuan pengeluaran restitusi untuk PT WAE. Oleh karena itu, Darwin Maspolim
memperlakukan pihak KPP PMA 3 Jakarta dengan baik.

Akan tetapi, Darwin Maspolim dan pihak KPP PMA 3 Jakarta yang bekerjasama agar pihak KPP PMA 3
Jakarta menerbitkan Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar (SKPLB) Pajak Penghasilan untuk menyetujui
restitusi PT WAE, sehingga pemerintah mengeluarkan restitusi kepada PT WAE sesuai dengan surat
ketetapan yang dikeluarkan oleh KPP PMA 3 Jakarta, yang seharusnya pemerintah tidak perlu
mengeluarkan restitusi untuk PT WAE dinilai perbuatan yang tidak baik (secara negatif) menurut kaidah
emas. Alasannya adalah seandainya Darwin Maspolim dan pihak KPP PMA 3 Jakarta diperlakukan yang
sama seperti mereka memperlakukan perbuatan mereka terhadap pemerintah, mereka pasti tidak
menginginkan hal tersebut.
Pada kasus ini, masyarakat umum pasti akan menilai atas apa
Penilaian Umum yang dilakukan oleh Darwin Maspolim dan pihak KPP PMA 3
Jakarta sebagai perbuatan yang buruk. Karena sudah merugikan
banyak pihak termasuk juga membuat mereka menjadi tidak
Cara ketiga dan barangkali paling ampuh untuk percaya lagi terhadap integritas otoritas perpajakan. Sedangkan
menentukan baik buruk-nya suatu perbuatan atau masyarakat perusahaan (karyawan) PT WAE mungkin menilai
perilaku adalah menyerahkannya kepada masyarakat terhadap apa yang dilakukan oleh Darwin Maspolim sebagai
umum untuk dinilai. Cara ini bisa disebut juga "audit perbuatan yang baik.
sosial". Sebagaimana melalui "audit" dalam arti biasa Hal itu disebabkan, karena mereka berfikir bahwa hal tersebut
sehat tidaknya keadaan finansial suatu perusahaan mungkin akan memberikan keuntungan untuk perusahaannya
dipastikan, demikian juga kualitas etis suatu yang akan berimbas kepada mereka juga atau mungkin mereka
perbuatan ditentukan oleh penilaian masyarakat terpaksa menilai hal tersebut sebagai perbuatan baik karena
umum. Di dini perlu digarisbawahi secara khusus unsur kesepakatan atau kekuasaan dan ancaman. Atau bisa saja
pentingnya kata "umum'. Tidak cukup, bila suatu masyarakat perusahaan (karyawan) PT WAE menilai terhadap
masyarakat terbatas menilai kualitas etis suatu apa yang dilakukan oleh Darwin Maspolim sebagai perbuatan
perbuatan atau perilaku. Sebab, mungkin mereka yang buruk. Hal itu disebabkan, karena mereka berfikir bahwa
mempunyai vested interests, sehingga cenderung hal tersebut akan merugikan banyak pihak, termasuk mereka.
membenarkan saja perilaku yang menguntungkan Alasannya adalah karena jika perbuatan Darwin Maspolim
mereka, sambil menipu dirinya sendiri tentang diketahui oleh pihak yang berwenang seperti KPK, maka
kualitas etis-nya. perusahaan dapat diberi sanksi atau bahkan bisa saja usaha
perusahaan diberhentikan, sehingga masyarakat perusahaan
(karyawan) PT WAE akan sulit mencari sumber keuangan
mereka.
PRINSIP DASAR
ETIKA UNTUK
Your Logo
AKUNTAN
Pada kasus ini, pihak KPP PMA 3 Jakarta selaku pihak yang memeriksa
buku, catatan, dan dokumen terkait proses bisnis PT WAE tidak
menerapkan prinsip integritas. Alasannya adalah mereka memberikan
pendapat yang tidak wajar dengan menerbitkan Surat Ketetapan Pajak
Lebih Bayar (SKPLB) Pajak Penghasilan yang menyetujui restitusi untuk
PT WAE. Pada realitanya, mereka mengetahui kondisi PT WAE dari hasil
pemeriksaan yang dilakukan oleh mereka yaitu ternyata PPh Wajib Pajak
Badan PT WAE kurang bayar. Oleh karena itu, dapat dikatakan pihak KPP
PMA 3 Jakarta mempunyai itikad buruk. Dan jika dilihat, apa yang
dilakukan pihak KPP PMA 3 Jakarta merupakan bentuk penawaran untuk
menyetujui restitusi kepada PT WAE, sehingga Darwin Maspolim harus
memberikan imbalan kepada KPP PMA 3 atas apa yang telah mereka
lakukan.
Integritas
Atas perbuatan yang dilakukan oleh KPP PMA 3, KPK menetapkan pihak
Integritas artinya bersikap lugas dan KPP PMA 3 tersebut selaku penerima sebagai tersangka karena melanggar
jujur dalam semua hubungan pasal 12 huruf a atau Pasal 12 huruf b subsider Pasal 11 Undang-Undang
profesional dan bisnis. Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang
Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi
juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 Pasal 65 ayat (1) KUHP.
Pada kasus ini, pihak KPP PMA 3 Jakarta menerapkan
objektivitas karena mereka dapat mengetahui apa yang
Objektivitas terjadi sebenarnya pada PT WAE berdasarkan hasil
pemeriksaan terhadap buku, catatan, dan dokumen terkait
Objektivitas merupakan suatu kualitas yang proses bisnis PT WAE. Akan tetapi, pihak pemerintah
memberikan nilai atas jasa yang diberikan tidak menerapkan objektivitas karena tidak melakukan
anggota. mengharuskan anggota bersikap adil, analisa atas laporan dan informasi lain terkait dengan
tidak memihak, jujur secara intelektual, tidak proses bisnis PT WAE secara tersendiri dan langsung
berprasangka serta bebas dari benturan mempercayai KPP PMA 3 Jakarta selaku tim
kepentingan atau di bawah pengaruh pihak lain. pemeriksaan PT WAE karena reputasi KPP PMA 3
Jakarta baik dan mungkin pemerintah berfikir bahwa
Pada objektivitas, tidak mengompromikan KPP PMA 3 Jakarta tidak melakukan hal yang dapat
pertimbangan professional atau bisnis karena merugikan pemerintah.
adanya bias, benturan kepentingan, atau pengaruh
yang tidak semestinya dari pihak lain.
Pada kasus ini, walaupun KPP PMA 3 Jakarta dapat
mengetahui apa yang terjadi sebenarnya pada PT WAE
berdasarkan hasil pemeriksaan terhadap PT WAE, mereka
Kompetensi dan Kehati-hatian tidak menerapkan prinsip kompetensi dan kehati – hatian
professional karena mereka menerbitkan Surat Ketetapan
Profesional Pajak Lebih Bayar (SKPLB) Pajak Penghasilan yang
menyetujui restitusi untuk PT WAE, yang pada realitanya
Kompetensi dan kehati – hatian professional surat ketetapan tersebut tidak sesuai dengan hasil
artinya mencapai dan mempertahankan pemeriksaan, dengan kata lain mereka mengabaikan
pengetahuan dan keahlian profesional pada level konsekuensi yang terjadi apabila mereka melakukan
yang disyaratkan untuk memastikan bahwa klien perbuatan tersebut.
atau organisasi tempatnya bekerja memperoleh
jasa profesional yang kompenten, berdasarkan Oleh karena itu, hendaknya menjadi pelajaran bagi pihak
standar profesional dan standar teknis terkini serta KPP PMA atau otoritas perpajakan lain yang ingin
ketentuan peraturan perundang-undangan yang melakukan kecurangan harus berpikir dua kali, karena saat
berlaku. ini KPK telah bersikap kritis untuk menyelidiki kasus
Kompetensi dan kehati – hatian professional juga kecurangan khususnya bila terjadi kasus suap - menyuap.
merupakan tindakan dengan sungguh – sungguh KPP PMA atau otoritas perpajakan lain juga harus berhati-
dan sesuai standar profesional dan standar teknis hati dalam memberikan opini, jangan sampai opini tersebut
yang berlaku. tidak sesuai dengan hasil pemeriksaan, sehingga perbuatan
tersebut dapat membohongi pemerintah ataupun publik.
Pada kasus ini, pihak KPP PMA 3 Jakarta merahasiakan
kepada berbagai pihak (kecuali Darwin Maspolim)
bahwa mereka telah mengetahui apa yang terjadi
sebenarnya pada PT WAE berdasarkan hasil pemeriksaan
berdasarkan buku, catatan, dan dokumen terkait proses
bisnis PT WAE. Sehingga, pihak KPP PMA 3 Jakarta
mungkin berfikir hal tersebut berguna sebagai penawaran
bantuan kepada PT WAE agar dapat menyetujui restitusi
perusahaan tersebut dan mereka mendapatkan imbalan
Kerahasiaan yang cukup besar atas apa yang mereka perbuat. Oleh
karena itu, KPP PMA 3 Jakarta meminta imbalan kapada
Artinya menjaga kerahasiaan informasi yang Darwin Maspolim selaku Komisaris PT WAE dan
diperoleh dari hasil hubungan profesional dan mengeluarkan Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar
bisnis. (SKPLB) Pajak Penghasilan yang menyetujui restitusi
. untuk PT WAE agar pemerintah mengeluarkan restitusi
tersebut kepada PT WAE.
Pada kasus ini, meskipun pihak KPP PMA 3 Jakarta telah
melakukan pemeriksaan sesuai aturan perpajakan,
sehingga dapat mengetahui apa yang terjadi sebenarnya
pada PT WAE berdasarkan hasil pemeriksaan terhadap
buku, catatan, dan dokumen terkait proses bisnis PT
WAE. Pihak KPP PMA 3 Jakarta dianggap tidak
menerapkan perilaku profesional. Alasannya adalah
pihak KPP PMA 3 Jakarta menerbitkan Surat Ketetapan
Pajak Lebih Bayar (SKPLB) Pajak Penghasilan yang
menyetujui restitusi kepada PT WAE, yang pada
realitanya surat tersebut tidak sesuai dengan hasil
Perilaku Professional pemeriksaan yang dilakukan oleh mereka. Dan apa yang
telah dilakukan oleh pihak KPP PMA 3 Jakarta telah
Perilaku professional artinya mematuhi menyebabkan pemerintah memberikan restitusi kepada
peraturan perundang - undangan yang berlaku PT WAE, yang pada realitanya hal tersebut bisa saja
dan menghindari perilaku apapun yang merugikan pemerintah dan juga menimbulkan reputasi
diketahui oleh akuntan mungkin akan Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Penanaman Modal Asing
mendiskreditkan profesi akuntan. (PMA) 3 Jakarta yang merupakan salah satu KPP di
Indonesia sekarang menjadi dipertanyakan.
TERIMAKASIH