Anda di halaman 1dari 58

FARMAKOTERAPI 2

DIABETES MELITUS

Linda Nur Azizah (180105059)


Maghfira Nur ‘Is Hakiki (180105060)
Meliyana(180105063)
Nofnain Nurino Pandah (180105071)
Pariyem (180105078)
Syarief Ahmad Khorurroji (180105096)
 
ETIOLOGI
1. Diabetes Melitus
Pada penderita diabetes mellitus pangaturan sistem kadar
gula darar terganggu, insulin tidak cukup mengatasi dan
akibatnya kadar gula dalam darah bertambah tinggi. peningkatan
kadar glukosa darah akan menyumbat seluruh sistem energi dan
tubuh berusaha kuat mengeluarkannya melalui ginjal. Kelebihan
gula dikeluarkan didalam air kemih ketika makan makanan yang
banyak kadar gulanya. Peningkatan kadar gula dalam darah
sangat cepat pula karena insulin tidak mencukupi jika ini terjadi
maka terjadilah diabetes mellitus. Penyebab diabetes melitus
sampai sekarang belum diketahui dengan pasti tetapi umumnya
diketahui karena kekurangan insulin adalah penyebab utama dan
faktor herediter memiliki peran penting. (Tjokroprawiro, 2006 ).
2. Cluster Headache
Etiologi dan mekanisme patofisiologi cluster headache tidak
sepenuhnya dipahami. Sama seperti migrain, nyeri kepala
serangan cluster diperkirakan melibatkan aktivitas saraf
trigeminovaskular yang melepaskan neuropeptida vasoaktif dan
mengakibatkan inflamasi neurogenik steril. Adanya ciri khas
lokasi nyeri kepala adalah implikasi sinus kavernosa sebagai
tempat proses inflamasi. Triger serangan cluster headache
menyebabkan sistem trigeminovaskular mengeluarkan mediator-
mediator yang mengakibatkan rasa nyeri. Walau demikian
mekanisme yang mengaktivasi sistem trigeminovaskular masih
belum dipahami. Periodisitas dan regularitas serangan bisa
merupakan implikasi disfungsi hipotalamik dan menyebabkan
perubahan ritem sirkadian pada patogenesis cluster headache
(May A., 2005)
3. Haemoptoe
Ada banyak masalah potensial yang menjadi penyebab hemoptisis.
Berikut adalah etiologi hemoptisis berdasarkan frekuensinya: a.
Sangat sering (> 5%) : Bronkitis (akut atau kronis) merupakan
penyebab utama tersering dari hemoptisis, biasanya tidak mengancam
jiwa (Pneumonia dan Tuberkulosis); b. Sering (1 sampai 4%) :
Bronkiektasis, Kanker paru atau tumor paru non-maligna terutama
karsinoma bronkus, Emboli paru, Hemoptisis palsu (mimisan,
penyakit mulut, hematemesis). Perdarahan hidung yang berat atau
muntahan darah dari lambung dapat menyebabkan masuknya darah ke
trakea. Darah kemudian dibatukkan dan muncul sebagai hemoptisis;
c. Jarang (< 1%) : Gagal jantung kongestif terutama karena stenosis
mitral, arteriovenosus pulmonary malformation, penggunaan
antikoagulan, kondisi inflamasi atau autoimun (Lupus, Wegener’s
granulomatosis, microscopic polyangitis, 6 Churg-Strauss syndrome),
Trauma seperti pada luka tembakan atau kecelakaan (Bidwell JL,
Pachner RW, 2005; Web MD, 2013).
4. Susp. TB
Agen infeksius utama, M. tuberculosis adalah batang aerobic tahan
asam yang tumbuh dengan lambat dan sensitive terhadap panas dan sinar
matahari. M. bovis dan M. avium adalah kejadian yang jarang yang
berkaitan dengan terjadinya infeksi tuberkulosis (Wijaya & Putri, 2013).
M. tuberculosistermasuk famili Mycobacteriaceace yang mempunyai
berbagai genus, salah satunya adalah Mycobaterium dan salah satu
speciesnya adalah M. tuberculosis. Bakteri ini berbahaya bagi manusia
dan mempunyai dinding sel lipoid sehingga tahan asam. Bakteri ini
memerlukan waktu untuk mitosis 12 – 24 jam. M. tuberculosis sangat
rentan terhadap sinar matahari dan sinar ultraviolet sehingga dalam
beberapa menit akan mati. Bakteri ini juga rentan terhadap panas – basah
sehingga dalam waktu 2 menit yang berada dalam lingkungan basah
sudah mati bila terkena air bersuhu 1000 C. Bakteri ini juga akan mati
dalam beberapa menit bila terkena alkhohol 70% atau Lysol 5%
(Danusantoso, 2012).
MANIFESTASI KLINIK
1. Diabetes Melitus
Tanda dan gejala diabetes melitus menurut Smeltzer et al, (2013) dan Kowalak (2011),
yaitu :
a. Poliuria (air kencing keluar banyak) dan polydipsia (rasa haus yang berlebih) yang
disebabkan karena osmolalitas serum yang tinggi akibat kadar glukosa serum yang
meningkat.
b. Anoreksia dan polifagia (rasa lapar yang berlebih) yang terjadi karena glukosuria
yang menyebabkan keseimbangan kalori negatif.
c. Keletihan (rasa cepat lelah) dan kelemahan yang disebabkan penggunaan glukosa oleh
sel menurun.
d. Kulit kering, lesi kulit atau luka yang lambat sembuhnya, dan rasa gatal pada kulit.
e. Sakit kepala, mengantuk, dan gangguan pada aktifitas disebabkan oleh kadar glukosa
intrasel yang rendah.
f. Kram pada otot, iritabilitas, serta emosi yang labil akibat ketidakseimbangan
elektrolit.
g. Gangguan penglihatan seperti pandangan kabur yang disebabkan karusakan jaringan
syaraf.
h. Gangguan rasa nyaman dan nyeri pada abdomen yang disebabkan karena neuropati
otonom yang menimbulkan konstipasi.
i. Mual, diare, dan konstipasi yang disebabkan karena dehidrasi dan ketidakseimbangan
elektrolit serta neuropati otonom.
2. Cluster Headache
Masa serangan terjadi berkelompok-kelompok selama 2 minggu sampai 3
bulan pada sebagian besra pasien, diikuti interval bebas nyeri yang panjang. Periode
remisi kira-kira 2 tahun tetapi terapi waktu yang pernah dilaporkan antara 2 bulan
sampai 20 tahun. Sekitar 10% pasien memiliki gejala-gejala kronis tanpa periode
remisi. Serangan cluster headache terjadi pada malam hari pada lebih dari 50%
pasien. Serangan terjadi secara mendadak, dan mencapai puncak dengan sangat
cepat yang berlangsung selama 15-180 menit. Aura tidak terdapat pada cluster
headache. Nyeri yang terjadi sangat menyakitkan dan menusuk akan tetapi tidak
berdenyut dan sering terjadi unilateral pada orbita, supraorbital, dan temporal. Nyeri
kepala ini berhubungan sistem otonom konsisten dengan peresis sistem simpati dan
parasimpatik yang overdrive. Pola ini diketahui dari sisi nyeri dan termasuk injeksi
konjungtiva, lakrimasi, dan hidung tersumbat atau rinorhea. Selama periode sakit,
serangan yang terjadi bisa sekali sehari sampai delapan kali sehari. Jika pasien
migrain berusaha mencari tempat yang sunyi dan gelap, pasien cluster headache
umumnya bergerak kesana kemari saat serangan terjadi dan dapat membenturkan
kepala mereka ke benda-benda untuk menghilangkan rasa sakit. Pasien pria
biasanya memiliki riwayat perokok berat dan peminum alkohol. Kriteria diagnostik
untuk cluster headache terdapat pada sistem klasifikasi IHS (May A., 2005)
HAEMOPTOE
1 Prodomal Darah yang dibatukkan dengan rasa panas ditenggorokan

2 Onset Darah yang dibatukkan, dapat disertai dengan muntah

3 Tampilan Darah berbuih

4 Warna Merah segar

5 Isi Leukosit, mikroorganisme, hemosiderin, makrofag

6 Ph Alkalis

7 Riwayat penyakit dahulu Penyakit paru

8 Anemis Kadang tidak dijumpai

9 Tinja Blood test (-)


Benzidine test (-)
LANJUTAN…

Untuk mengetahui penyebab hemoptisis kita harus


memastikan bahwa pendarahan tersebut memang
berasal dari saluran pernafasan bawah dan bukan
berasal dari nasofaring atau gastrointestinal. Dengan
kata lain bahwa penderita tersebut benar benar batuk
darah dan bukan muntah darah. pada tabel 2
menjelaskan perbedaan antara batuk darah dan muntah
darah. Tabel tersebut mempermudah untuk menegakkan
diagnosis hemoptisis (Amirullah R, 2004).
SUSP. TB
1. Demam 3. Sesak nafas
Suhu tubuh bisa mencapai 40 – 41 0 C, Pada penyakit ringan belum dirasakan
serangan demam hilang dan timbul. sesak nafas namun akan ditemukan pada
Keadaan ini sangat mempengaruhi daya penyakit lebih lanjut yaitu pada
tahan tubuh sehingga banyak kuman TB infiltrasinya sudah meliputi setengah paru.
yang masuk ke dalam tubuh. 4. Nyeri dada
2. Batuk/ batuk darah Nyeri dada ini timbul karena infiltrasi
Batuk terjadi sebab ada iritasi pada radang sudah sampai ke pleura hingga
bronkus. Batuk ini diperlukan untuk menyebabkan pleuritis. Terjadi gesekan
membuang produk- produk radang. Batuk antara dua pleura saat inspirasi atau
baru ada setelah terjadi peradangan paru – aspirasi.
paru setelah batuk berminggu- minggu. 5. Malaise
Sifat batuk dimulai dari batuk kering lalu Gejala ini sering ditemukan berupa
timbul peradangan hingga produktif anoretsia, berat badan menurun, sakit
( menghasilkan sputum). Keadaan lanjut kepala, meriang, nyeri otot, keringat malam
yang terjadi adalah batuk darah karena pada malam hari. Gejala malaise semakin
pembuluh darah pecah pada kalvitas dan lama semakin berat dan terjadi hilang
ulkus dinding bronkus. timbul tidak teratur (Humaira, 2013).
PATOFISIOLOFI
1. Diabetes Melitus
CLUSTER HEADACHE
HAEMOPTOE
SUSP. TB
B.DATA PEMERIKSAAN LABORATORIUM
B. MASALAH KLINIK & DRUG RELATED PROBLEM
TERIMAKASIH 