Anda di halaman 1dari 19

KEPERAWATAN MATERNITAS 2

“ASUHAN KEPERAWATAN INVESTIGASI INFERTILITAS PRIA”

Fasilitator:
Nanik Handayani, S.Kep., Ns., M.Kes

Disusun Oleh:
Kelompok 26 / Kelas 4C
Rury Silfina SR 1130015088

PRODI S1 KEPERAWATAN
FAKULTAS KEPERAWATAN DAN KEBIDANAN
UNIVERSITAS NAHDLATUL ULAMA SURABAYA
2017
Definisi Infertilitas

Fertilitas barasal dari kata fertil yang berarti


subur. Ketidaksuburan atau infertilitas didefinisikan
sebagai ketidakmampuan pasangan untuk mencapai
kehamilan setelah 1 tahun hubungan seksual tanpa
pelindung. Infertilitas adalah pasangan suami istri yang
telah menikah selama satu tahun dan sudah melakukan
hubungan seksual tanpa menggunakan alat kontrasepsi
tetapi belum memilki anak.
Klasifikasi Infertilitas

1. Infertilitas primer berarti pasangan suami-istri belum mampu


dan belum pernah memiliki anak setelah 1 tahun berhubungan
seksual sebanyak 2-3 kali per minggu tanpa menggunakan alat
kontrasepsi dalam bentuk apapun.

2. Infertilitas sekunder berarti pasangan suami-istri telah atau


pernah memiliki anak sebelumnya, tetapi saat ini belum mampu
memiliki anak lagi setelah 1 tahun berhubungan seksual sebanyak
2-3 kali per minggu tanpa menggunakan alat atau metode
kontrasepsi dala bentuk apapun.
Anatomi
Fisiologi
Patofisiologi

Abnormalitas androgen dan testosteron diawali dengan


disfungsi hipotalamus dan hipofisis yang mengakibatkan
kelainan status fungsional testis. Gaya hidup memberikan
peran yang besar dalam mempengaruhi infertilitas
dinataranya merokok, penggunaan obat-obatan dan zat
adiktif yang berdampak  pada abnormalitas sperma dan
penurunan libido. Konsumsi alkohol mempengaruhi masalah
ereksi yang mengakibatkan berkurangnya pancaran sperma.
Suhu disekitar areal testis juga mempengaruhi
abnormalitas spermatogenesis. Terjadinya ejakulasi
retrograt misalnya akibat pembedahan sehingga
menyebebkan sperma masuk ke vesika urinaria yang
mengakibatkan komposisi sperma terganggu.
Etiologi
1. Faktor Umum
a. Umur
b. Frekuensi sanggama
c. Lama berusaha

2. Faktor Khusus
a. Faktor pre testikular
1) Kelainan hipotalamus
2) Kelainan hipofisis
b. Faktor testicular
1) Kelainan kromosom
2) Varikokel
3) Gonadotoksin (radiasi, obat)
4) Adanya trauma, torsi, peradangan
5) Penyakit sistemik ( gagal ginjal, gagal hati, dan anemia sel sabit)
6) Tumor
7) Kriptorkismus
8) Idiopatik.
c. Faktor post testikular
1) Obstruksi traktus ejakulatorius
2) Gangguan fungsi sperma atau motilitas
3) Gangguan koitus
Manifestasi Klinik

Manifestasi klinik yang terjadi pada pria dengan infertilitas:


1. Riwayat terpajan benda – benda mutan yang membahayakan reproduksi
(panas, radiasi, rokok, narkotik, alkohol, infeksi)
2. Status gizi dan nutrisi terutama kekurangan protein dan vitamin
tertentu
3. Riwayat infeksi genitorurinaria
4. Hipertiroidisme dan hipotiroid
5. Tumor hipofisis atau prolactinoma
6. Disfungsi ereksi berat
7. Ejakulasi retrograt
8. Hypo/epispadia
9. Mikropenis
10.Andesensus testis (testis masih dalam perut/dalam liat paha
11.Gangguan spermatogenesis (kelainan jumla, bentuk dan motilitas sperma)
12.Hernia scrotalis (hernia berat sampai ke kantong testis )
13.Varikhokel (varises pembuluh balik darah testis)
14.Abnormalitas cairan semen
Pemeriksaan Fisik

Abnormalitas fisik pada genital pria dapat segera mengungkapkan


kemungkinan penyebab penurunan jumlah atau motilitas sppera sebagai suatu
penyebab inertilitass. Abnormalitas fisik dapat mencakup:

1. Kriptokidisme (testis tidak turun)


2. Testis hipoplastik (akibat gangguan genetic XXY)
3. Atrofi testis (akibat gondongan pada pascapubertas)
4. Varikokel (varises vena skrotum)
5. Riwayat herniorafi (dan menghasilkan jaringan parut)
6. Anomali structural lain
Pemeriksaan Analisis Sperma

Beberapa syarat yang harus diperatikan agar menjamin hasil analisis sperma
yang baik adalah sebagai berikut:

1. Lakukan abstinensia (pantang senggama) selama 2-3 hari


2. Keluarkan sperma dengan cara masturbasi dan hindari dengan cara
sangggama terputus
3. Hindari penggunaan pelumas pada saat masturbasi
4. Hindari penggunaan kondom untuk menanmpung sperma
5. Gunakan tabung dengan mulut yang lebar sebagai tepat penampungan sperma
6. Tabung sperma harus dilengkapi dengan nama jelas, tanggal, dan waktu
pengumpulan sperma, metode pengeluaran sperma yang dilakukan (masturbasi
atau sanggama terputus)
7. Kirimkan sampel secepat mungkin ke leaboratorium sperma
8. Hindari paparan temperature yang terlampau tinggi (>38 oC) atau terlalu
rendah (<15oC) atau menempelkannya ke tubuh sehingga sesuai dengan sushu
tubuh
Pemeriksaan Analisis Sperma
Kriteria yang digunakan untuk menilai normalitas analisis sperma adalah
criteria normal berdasarkan criteria WHO.
Kriteria Nilai Rujukan Normal
Volume 2 ml atau lebih
Waktu likuefaksi Dalam 60 menit
pH 7,2 atau lebih
Konsentrasi sperma 20 juta per milliliter atau lebih

Jumlah sperma total 40 juta per ejakulat atau lebih


Lurus cepat (gerakan yang progesif 25% atau lebih
dalam 60 menit setelah ejakulasi (1))
Jumlah antara lurus lambat (2) dan 50% atau lebih
lurus cepat (1)
Morfologi normal 30% atau lebih
Vitalitas 75% atau lebih yang hidup
Lekosit Kurang dari 1 juta per milliliter
Pemeriksaan Analisis Sperma

Hasil dari analisis sperma tersebut menggunakan terminology khusus yang


diharapkan dapat menjelaskan kualitas sperma berdasarkan konsentrasi,
mortalitas dan morfologi sperma.

Terminologi Definisi

Normozoospermia Ejakulasi normal sesuai dengan nilai rujukan WHO


Oligozooapermia Konsentrasi sperma lebih rendah daripada nilai rujukan WHO
Astenospermia Konsentrasi sel sperma dengan motilitas lebih rendah daripada
nilai rujukan WHO
Teratozospermia Konsentrasi sel sperma dengan morfologi lebih rendah daripada
nilai rujukan WHO
Azospermia Tidak didapatkan sel sperma di dalam ejakulat
Aspermia Tidak terdapat ejakulat
Kritospermia Jumlah sperma sangat sedikit yang dijumpai setelah sentrifugasi
Penatalaksanaan
Hal-hal yang paling penting dalam berhasilnya atau tidaknya
pengobatan infertilitas antara lain:

1. Ketepatan diagnosis penyebab infertilitas


2. Kondisi penyakit yang menjadi penyebab infertilitas
3. Usia pasien
4. Ketepatan metode pengobatan
5. Keteppatan pasien dalam berobat

Tidak ada terapi untuk memperbaiki kualitas sperma akan tetapi


terdapat sejumlah cara untuk meningkatkan kemungkinan terjadinya
kehamilan dengan kualitas sperma yang ada. Berbagai upaya yang
diberikan tergantung penyebabnya, antara lain:

1.Terapi hormon
2.Inseminasi
3.ICSI (Intra Cytoplasmic Sperm Injection)
Asuhan Keperawatan
Pengkajian
1. Identitas klien
Meliputi nama lengkap, tempat tinggal, jenis kelamin, tanggal lahir, umur, tempat lahir, asal suku bangsa,
pekerjaan, penghasilan.
2. Riwayat Kesehatan Dahulu
a. Riwayat terpajan benda – benda mutan yang membahayakan reproduksi (panas, radiasi, rokok,
narkotik, alkohol, infeksi)
b. Status gizi dan nutrisi terutama kekurangan protein dan vitamin tertentu
c. Riwayat infeksi genitorurinaria
d. Hipertiroidisme dan hipotiroid
e. Tumor hipofisis atau prolactinoma
f. Trauma, kecelakan sehinga testis rusak
g. Konsumsi obat-obatan yang mengganggu spermatogenesis
h. Pernah menjalani operasi yang berefek menganggu organ reproduksi contoh : operasi prostat,
operasi tumor saluran kemih
i. Riwayat vasektomi
3. Riwayat Kesehatan Sekarang
a. Disfungsi ereksi berat
b. Ejakulasi retrograt
c. Hypo/epispadia
d. Mikropenis
e. Andesensus testis (testis masih dalam perut/dalam liat paha
f. Gangguan spermatogenesis (kelainan jumla, bentuk dan motilitas sperma)
g. Saluran sperma yang tersumbat
h. Hernia scrotalis (hernia berat sampai ke kantong testis )
i. Varikhokel (varises pembuluh balik darah testis)
j. Abnormalitas cairan semen
Asuhan Keperawatan
Pengkajian
4. Riwayat Kesehatan Keluarga
Memiliki riwayat saudara/keluarga dengan aberasi genetic
5. Pemeriksaan Fisik
Terdapat berbagai kelainan pada organ genital pria
6. emeriksaan Penunjang
a. Analisa Semen
1) Parameter
2) Warna Putih keruh
3) Bau Bunga akasia
4) PH 7,2 - 7,8
5) Volume 2 - 5 ml
6) Viskositas 1,6 – 6,6 centipose
7) Jumlah sperma 20 juta / ml
8) Sperma motil > 50%
9) Bentuk normal > 60%
10) Kecepatan gerak sperma 0,18-1,2 detik
11) Persentase gerak sperma motil > 60%
12) Aglutasi Tidak ada
13) Sel – sel Sedikit,tidak ada
14) Uji fruktosa 150-650 mg/dl
b. Pemeriksaan endokrin
c. USG
d. Biopsi testis
e. Uji penetrasi sperma
f. Uji hemizona
Asuhan Keperawatan

Diagnosa Keperawatan

Masalah yang terjadi pada laki-laki dengan


infertilitas:

1. Ansietas
2. Gangguan rasa nyaman
3. Resiko ketidakberdayaan
Asuhan Keperawatan
Intervensi
1 Domain 9, Koping/Toleransi Stres; Kelas 2, NOC: NIC:
Respons koping 1. Pengendalian diri terhadap Penurunan Kecemasan
Ansietas ansietas 1. Gunakan pendekatan yang
(1973, 1982, 1998) 2. Tingkat ansietas menenangkan
Definisi: perasaan tidak nyaman atau kekhawatiran 3. Koping 2. Natakan dengan jelas harapan
yang samar disertai respon autonom; perasaan Kriteria Hasil: terhadap pelaku pasien
takut yang disebabkan oleh antisipasi terhadap 4. Klien mampu mengidentifikasi 3. Pahami prespektif pasien
bahaya. dan mengungkapkan gejala cemas terhadap situasi stress
Batasan Karakteristik: 5. Mengidentifikasi, 4. Identifikasi tingkat kecemasan
1. Penurunan produktivitas mengungkapkan dan 5. Bantu pasien mengenai situasi
2. Gelisah, distres menunjukkan tekhnik untuk yang menimbukan kecemasan
3. Insomnia mengontrol cemas 6. Instruksikan pasien
4. Ketakutan 6. Vital sign dalam batas normal menggunakan teknik relaksasi
5. Anoreksia 7. Postur tubuh, ekspresi wajah, 7. Berikan obat untuk mengurangi
6. Gangguan perhatian bahasa tubuh dan tingkat aktivitas kecemasan
7. Menyadari gejala fisiologis menunjukkan berkurangnya
8. Ragu atau tidak percaya diri kecemasan
Faktor yang Berhubungan:
9. Infeksi/kontaminan interpersonal
10. Perubahan dalam status kesehatan
11. Stres
12. Penyalahgunaan zat
13. Konflik tidak disadari mengenai nilai yang
esensial
14. Ancaman pada status peran
15. Kebutuhan yang tidak dipenuhi
Asuhan Keperawatan
Intervensi
2 Domain 12, Kenyamanan; Kelas 1, NOC: NIC:
Kenyamanan fisik 1. Ansietas Penurunan Kecemasan
Gangguan rasa nyaman 2. Status Kenyamanan 1. Gunakan pendekatan
(2008, 2010) 3. Kepuasan klien: yang menenangkan
Definisi: Merasa kurang kesenangan, Lingkungan fisik 2. Nyatakan dengan jelas
kelegaan, dan kesemurnaan dalam 4. Pengendalian gejala harapan terhadap pelaku
dimensi fisik. Psikospiritual, lingkunga. Kriteria Hasil: paisen
Batasan Karakteristik: 5. Mampu mengontrol 3. Jelaskan semua prosedur
1. Ansietas kecemasan dan apa yang dirasakan
2. Melaporkan perasaan tidak nyaman 6. Kualitas tidur dan istirahat selama proseudur
3. Melaporkan kurang puas dengan adekuat 4. Identifikasi tingkat
keadaan 7. Respon terhadap kecemasan
4. Melaporkan kurang senang dengan pengobatan 5. Dorong pasien untuk
situasi tersebut 8. Kontrol gejala mengungkapkan
5. Gelisah 9. Status kenyamanan perasaan, ketakutan,
6. Ketidakmampuan untuk rileks meningkat persepsi
7. Berkeluh kesah
Faktor yang Berhubungan:
8. Gejala terkait penyakit
9. Sumber yang tidak adekuat
10. Kurang control situasional
11. Efek samping terkait terapi
Asuhan Keperawatan
Intervensi

3 Domain 9, Koping/Toleransi stress; NOC: NIC:


Kelas 2, Respon koping 1. Keyakinan kesehatan: Persepsi Peningkatan Harga Diri
Resiko ketidakberdayan kemampuan 1. Tunjukkan rasa ppercaya
(2000, 2010) 2. Keyakinan kesehatan: Persepsi diri terhadap kemampuan
Definisi: Berisiko mengalami kendali pasien untuk mengatasi
kehilangan kendali terhadap situasi 3. Partisipasi dala keputusan situasi
atau kemampuan seseorang untuk tentang perawatan kesehatan 2. Dorong pasien
member oengaruh secara bermakna 4. Otonomi personal mengidentifikais
terhadap hasil yeng diharapkan 5. Perawatan yang Diarahkan kekuatan dirinya
Batasan Karakteristik: pada Diri 3. Dukung peningkatan
1. Ansietas Kriteria Hasil: tanggung jawab diri
2. Haega diri rendah kronik 6. Menunjukkan penilaian pribadi 4. Buat statement positif
3. Kurang pengetahuan tentnag harga diri terhadap pasien
4. Kurang dukungan sosial 7. Mengungkappkan penerimaan 5. Monitor frekuensi
5. Harga diri rendah situasional diri komunikasi verbal yang
6. Kekurangan secara ekonomi 8. Komunikasi terbuka negative
7. Penyakit 9. Melaporkan mengetahui
8. Pola koping tidak efektif prosedur treatmen kesehatan
10. Mampu mengontrol kecemasan
11. Kesehatan spriritual
Daftar Pustaka
Hartanto, Hanafi. 2004. Keluarga Berencana dan Kontrasepsi. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan

Danny Halim, Harris Herlianto, Wiryawan Permadi, dkk. 2008. Hanya Hari Memahami Infertilitas.
Bandung: PT Refika Aditama

Heffiner, Linda J. 2006. The Reproductive System at a Glance Second Edition. Jakarta: Erlangga

Prajitno Prabowo, Ali Bazaid, Mochamad Anwar. 2011. Ilmu Kandungan Edisi 3. Jakarta: PT Bina
Pustaka Sarwono Prawirohardjo

Syaifuddin, H. 2010. Anatomi Fisiologi: Kurikulum Berbasis Kompetensi untuk Keperawatan dan
Kebidanan Edisi 4. Jakarta: EGC

Elly Nurachmah, RIda, Anne, Allison. 2011. Dasar-Dasar Anatomi dan Fisiologi. Jakarta: Salemba
Medika

Huda Nurarif, Amin, Kusuma, Hardhi. 2015. Aplikasi Asuhan Keperawatan NANDA NIC-NOC Ed: 2
Jilid: 2. Jogjakarta: Mediaction Jogja

Wilkinson, Judith M., dkk. 2016. Diagnosis Keperawatan: Diagnosis NANDA-I, Intervensi NIC, Hasil
NOC Edisi 10. Jakarta: EGC