Anda di halaman 1dari 20

ASURANSI DAN

PERPAJAKAN

Mata Kuliah : Hukum Bisnis(F)


Dosen Pengampu : Dr. Handriyono., M.Si
Anggota Kelompok 3 :

1
S Aisyah Vika Aulia (200810201182)

2.
S Eka Navaila Widya Arisanti (200810201237)

3.
S Shofiatul Maulidiyah Dzuhuratut Taufiq (200810201123)

4.
S Viona Eka Saputri (200810201014)
Pengertian Asuransi
Secara Umum

Asuransi adalah sebuah perjanjian antara dua orang atau


lebih di mana pihak tertanggung membayarkan
iuran/kontribusi/premi untuk mendapat penggantian atas
risiko kerugian, kerusakan, atau kehilangan, yang dapat
terjadi akibat peristiwa yang tidak terduga
Pengertian Asuransi
enurut Para Ahli

Subekti (2001) mengemukakan ada dua pihak Wirjono Prodjodikoro dalam


01 yang terlibat dalam asuransi, yaitu 02 bukunya aturan asuransi pada
penanggung sebagai pihak yang sanggup Indonesia : “suatu persetujuan
menjamin serta menanggung pihak lain yang dimana pihak yang mengklaim
akan mendapat suatu penggantian kerugian berjanji pada pihak yang dijamin,
yang mungkin akan dideritanya sebagai suatu buat mendapatkan sejumlah uang
akibat dari suatu peristiwa yang belum tentu asuransi sebagai pengganti
terjadi dan pihak tertanggung akan menerima kerugian, yang mungkin akan
ganti kerugian, yang mana pihak tertanggung diderita sang yg dijamin, sebab
diwajibkan membayar sejumlah uang kepada dampak dari suatu insiden yg
pihak penanggung. belum jelas.
Dasar Hukum Asuransi

Undang-Undang KUHP (Kitab KUHD (Kitab Peraturan Peraturan


Nomor 2 Tahun Undang-Undang Undang-Undang Pemerintah Pemerintah
1992 tentang Hukum Pidana) Hukum Dagang) Nomor 73 Tahun Nomor 63 Tahun
Usaha Pasal 1320 dan Bab 9 Pasal 246 1992 1999
Perasuransian Pasal 1774
Manfaat Asuransi

● Memberikan jaminan perlindungan dari risiko-risiko kerugian


yang diderita satu pihak.
● Meningkatkan efisiensi, karena tidak perlu secara khusus
mengadakan pengamanan dan pengawasan untuk memberikan
perlindungan yang memakan banyak tenaga, waktu dan biaya.
● Transfer Resiko
● Pemerataan Biaya
● Dasar bagi pihak bank untuk memberikan kredit karena bank
memerlukan jaminan perlindungan atas bagunan yang diberikan
oleh peminjam uang.
● Sebagai tabungan,
Contoh Perusahaan Asuransi

1. Perusahaan Asuransi Umum Resmi di Indonesia 3. Perusahaan Reasuransi Resmi di Indonesia

a. PT Asuransi Kredit Indonesia – Persero a. PT Reasuransi Indonesia Utama


b. PT Asuransi Astra Buana b. PT Reasuransi Nasional Indonesia
c. PT Asuransi Jasa Indonesia c. PT Tugu Reasuransi Indonesia
d. PT Asuransi Bina Dana Arta Tbk d. PT Maskapai Reasuransi Indonesia Tbk

4. Perusahaan Asuransi Wajib di Indonesia


2. Perusahaan Asuransi Jiwa Resmi di Indonesia
a. PT ASABRI (Persero)
a. PT Prudential Life Assurance b. PT Jasa Raharja (Persero)
b. PT Asuransi Jiwa Manulife Indonesia c. PT TASPEN (PERSERO)
c. PT AIA Financial
d. PT Jiwasraya (Persero) 5. Perusahaan Asuransi Sosial Resmi di Indonesia
e. PT Asuransi Allianz Life Indonesia a. BPJS Kesehatan
f. PT Axa Mandiri Financial Services b. BPJS Ketenagakerjaan
Prosedur Pembuatan
Kontrak Asuransi

1. Calon nasabah asuransi mengisi data pemegang polis,surat polis dan surat
permintaan asuransi ,dilampiri fotocopy KTP tertanggung dan diserahkan kea gen lalu
dari agen diserahkan ke supervisor.Jika tertanggung memenuhi syarat maka di beri
kwitansi sementara untuk pembayaran premi pertama sebanyak 3 rangkap:lembar 1
untuk pemegang polis,lembar 2 untuk arsip kantor cabang,lembar 3 untuk kantor pusat
pada Departemen pertanggungan

2. Selanjutnya data–data tersebut diproses,apabila sudah disetujui kantor pusat,maka


akan dibuatkan polis asli yang akan dikirikan ke tertanggung.Pemrosesan
membutuhkan waktu sekitar 2 minggu.
Jenis - Jenis Asuransi

a. Asuransi kebakaran
b. Asuransi pengangkutan
c. Asuransi jiwa
d. Asuransi kredit
e. Asuransi kecurian
f. Asuransi perusahaan
g. Asuransi mobil/kendaraan
h. Asuransi terhadap tanggung jawab
i. Asuransi tenaga kerja (Astek)
Pengertian Pajak

Pajak dalam istilah asing disebut tax


(Inggris); import contribution, taxe, droit
(Prancis); steuer, abgabe, gebuhr (Jerman);
impuesto contribution, tributo, gravamen,
tasa (Spanyol), dan belasting (Belanda).
Dalam literatur Amerika, 12 selain istilah
tax, dikenal pula istilah tarif
Pengertian Pajak
Menurut Para Ahli

Menurut Prof. Dr. Rochmat Menurut Prof. Dr. P.J.A. Andriani

01 Soemitro, SH.
Pajak ialah iuran rakyat kepada
02 Pajak adalah iuran kepada negara (yang
kas negara berdasarkan undang- dapat dipaksakan) yang terutang oleh yang
undang (yang dapat dipaksakan) wajib membayarnya menurut peraturan-
dengan tiada mendapat jasa peraturan dengan tidak mendapat prestasi
imbalan (kontraprestasi) yang kembali yang langsung dapat ditunjuk dan
langsung dapat ditujukan dan yang gunanya untuk membiayai
yang digunakan untuk membayar pengeluaranpengeluaran umum yang
pengeluaran umum. berhubung dengan tugas negara untuk
menyelenggarakan pemerintahan.
Unsur-Unsur Pajak

Berdasarkan pengertian di atas yang telah


dijelaskan, pajak memiliki unsur-unsur sebagai berikut.

● Iuran dari rakyat kepada negara


● Bersifat memaksa
● Berdasarkan Undang-Undang
● Tanpa jasa timbal atau kontraprestasi dari negara
yang secara langsung dapat ditunjuk
● Digunakan untuk membiayai rumah tangga
negara
Fungsi Pajak

Fungsi pajak adalah untuk mengumpulkan


dana yang diperlukan pemerintah membiayai
pengeluaran belanja negara guna kepentingan dan
keperluan seluruh masyarakat. Adapun beberapa
fungsi lain dari pajak sebagai berikut
 Fungsi Finansial (Budgeter)
 Fungsi Mengatur (Regulerend)
 Fungsi Alat Penjaga Stabilitas
 Fungsi Alat Penjaga Stabilitas
Manfaat Pajak

1. Membiayai pengeluaran-pengeluaran negara


2. Membiayai pengeluaran reproduktif
3. Membiayai pengeluaran yang bersifat tidak self
liquiditing dan tidak reproduktif
4. Fasilitas umum dan infrastruktur
5. Pertahanan dan keamanan
6. Subsidi pangan dan Bahan Bakar Minyak
7. Kelestarian Lingkungan hidup dan Budaya
8. Kelestarian Lingkungan hidup dan Budaya
Jenis-Jenis Pajak

Menurut
Menurut Menurut
Lembaga
Golongannya Sifatnya
Pemungutnya

• Pajak Langsung • Pajak Subjektif • Pajak Pusat


• Pajak Tidak • Pajak Objektif • Pajak Daerah
Langsung
Cara
Pemungutan Pajak

Stelsel Nyata(riil stelsel) Stelsel anggapan (fictive Stelsel Campuran


stelsel)

Pemungutan pajak Pengenaan pajak yang Stelsel ini merupakan


didasarkan pada objek didasarkan pada suatu kombinasi antara stelsel nyata
(penghasilan yang nyata), aggapan yang diatur oleh dengan stelsel anggapan. Yakni
sehingga pemungutan suatu Undang Undang pada awal tahun besarnya
yang baru dapat pajak dihitung berdasarkan
dilakukan pada akhir suatu anggapan kemudian pada
tahun pajak, yakni setelah akhir tahun besarnya pajak
penghasilan yang disesuaikan dengan keadaan
sesungguhnya diketahui yang sebenarnya
Asas Pemungutan Pajak

1. Asas Domisili (Asas Tempat Tinggal)


Asas ini menyatakan bahwa negara berhak
mengenakan pajak atas seluruh penghasilan wajib pajak
yang bertempat tinggal di wilayahnya, baik penghasilan yang
berasal dari dalam maupun luar negeri.

2. Asas Sumber
Asas ini menyatakan bahwa negara berhak
mengenakan pajak atas penghasilan yang bersumber di
wilayahnya, tanpa memperhatikan tempat tinggal wajib pajak.

3. Asas Kebangsaan
Asas ini menyatakan bahwa pengenaan pajak
dihubungkan dengan kebangsaan suatu negara.
Sistem Pemungutan
Pajak

1. Official Assesment System, adalah suatu system pemungutan pajak yang memberikan wewenang
kepada pemerintah (fiskus) untuk menentukan besarnya pajak yang terutang oleh wajib pajak.
Adapun ciri-ciri system ini adalah:
a. Wewenang untuk menentukan besarnya pajak terutang
ada pada fiskus
b. Wajib pajak bersifat pasif
c. Utang pajak timbul setelah dikeluarkan Surat Ketetapan
Pajak (SKP) oleh fiskus.
2. Self Assesment System adalah suatu system pemungutan pajak yang memberikan wewenang kepada
wajib pajak untuk menentukan besarnya pajak terutang. Adapun ciri-ciri system ini adalah:

a. Wewenang untuk menentukan besarnya pajak terutang ada pada wajib


pajak yang terutang.
b. Fiskus tidak ikut campur tetapi hanya mengawasi
Sistem Pemungutan
Pajak

3. With Holding Assesment System dalah suatu system pemungutan pajak yang memberikan wewenang
kepada pihak ketiga (bukan fiskus dan bukan wajib pajak) untuk meentukan besarnya pajak terutang.
Adapun ciri-ciri system ini adalah wewenang untuk menentukan besarnya pajak yang terutang ada
pada pihak ketiga selain fiskus dan wajib pajak.
Thank
you
Any question??