Anda di halaman 1dari 27

Journal Reading

Divisi Endokrinologi

Presentator : Siti Humairah


Pembimbing : dr. Hj. Melda Deliana, M.Ked(Ped), Sp.A(K)
supervisor : dr. Karina Sugih Arto, M.Ked(Ped), Sp.A(K)
: dr. Melda Deliana, M.Ked(Ped), Sp.A(K)
: Dr. dr. Hj. Siska Mayasari Lubis, M.Ked(Ped), Sp.A(K)
Pendahuluan

o CDGP (Costitutional Delay of Growth and Puberty) lebih sering terjadi


pada anak laki-laki (90%) daripada anak perempuan.
o Sekitar 2% remaja mengalami penundaan pematangan seksual karena
CDGP CDGP pada anak laki-laki di obati dengan testosteron dosis
rendah diberikan melalui berbagai rute, dosis, dan periode waktu.
Meningkatkan tanda-tanda androgenik
pubertas awalnya menekan
mengaktifkan sumbu hipotalamus hipofisis
gonad (HPG) efek pada sekresi
gonadotropin dan untuk pertumbuhan
testis
Testosteron

Meningkatkan IGF-1 serum kecepatan


pertumbuhan serta mendorong
pematangan tulang pada anak laki-laki
dengan CDGP
Menurunkan konsentrasi estrogen dan
menunda pematangan epifisis
meningkatkan TB dewasa pada anak laki-
laki prapubertas dan pubertas dengan
CDGP

Mengaktifkan sekresi gonadotropin


dan testosteron sejak pubertas dini (
Letrozole ketika represi aktivitas sumbu HPG
selama masa kanak-kanak
berkurang)

Mengarah pada aktivitasi aksis


HPG yang segera daripada yang
tertunda pada remaja laki-laki
Obat CDGP pada anak laki-laki mendorong tanda-tanda androgenik pubertas dan
pertumbuhan testis, meningkatkan TB dan massa otot, dan meminimalkan pematangan
epifisis dari hal ini semua akan dipengaruhi Letrozole  penghambat aromatase
peroral menghambat konversi androstenedion menjadi estron dan testosteron
menjadi estradiol

Tujuan dari penelitian ini  menguji hipotesisLetrozole lebih manjur daripada


testosteron dosis rendah dalam mempercepat pubertas pada anak laki-laki dengan
CDGP
METODE
Kriteria inklusi : anak laki-laki usia 14 tahun dengan
CDGP dilakukan intervensi medis dan
Uji coba label terbuka menunjukkan tanda pubertas pertama menerima
secara acak, terkontrol enam suntikan IM testosteron dosis rendah (1
di empat pusat mg/kgBB) setiap minggu atau letrozole peroral 2-5
pediatrik di Finlandia mg 1x/hari (selama 6 bulan).

Kriteria eksklusi : penyakit kronis, hipogonadisme


Sampel:30 anak laki-laki primer atau hipogonadotropik, kelainan kromosom
secara acak menerima yang diketahui, dan penggunaan obat kronis yang
Testosteron (n=15) dan berpotensi mempengaruhi bone mineralisasi secara
Letrozole (n=15) merugikan
Metode
 Data pasien disimpan di sistem informasi RS dan dianonimkan dengan kode
dua digit
 Penilitian dilakukan pada 1 Agustus 2013 hingga 30 januari 2017 oleh tenaga
kesehatan menggunakan alat yang telah distandarisasi

 Penelitian ini telah disetujui oleh Komite Nasional Finlandia untuk Etika
Penelitian Medis dan Badan Obat Finlandia

 Analisa statistic menggunakan SPSS untuk Windows, versi 22.0, dan R versi
3.4.4
Prosedur
Kedua obat yaitu testosteron dan letrozole diberikan oleh apotek di RS Helsinki, letrozole
peroral 2-5 mg (1x/ hari selama 6 bulan ) dan testosteron dosis rendah (Sustanon 250 mg)
(1mg/kgBB) IM setiap 4 minggu selama 6 bulan.

Peserta dan wali pasien diberitahu tentang dosis yang benar, dan testosteron disuntikkan
oleh perawat di sekolah atau di pusat layanan kesehatan.

Tanggal dan dosis yang disuntikkan ditulis harus sesuai dengan tanggal pasien berkunjung

Untuk anak laki-laki yang diobati dengan letrozole, kepatuhan pengobatan dinilai pada
kunjungan 3 dan 6 bulan.
Pada setiap kunjungan, anak laki-laki diperiksa secara fisik yaitu TB
(Stadiometer Harpender) di dinding, BB dengan skala yang distabilkan dan
dikalibrasi, tahap pubertas (Tunner) dan ukuran testis (penggaris)

Volume testis (mL) di hitung dengan rumus: panjang (cm) x lebar2 (cm) x 0,52

Konsentrasi testosteron serum di ukur dengan kromatografi cair API3000-


spektrometer massa tandem
Hipotesis penelitian
Jangka pendek  merangsang
pertumbuhan testis

Memberikan efek pengobatan


Pemberian pada serum hormon : LH, FSH,
letrozole dan Estradiol, LH urin, testosteron,
testosteron inhibin B dan IGF-1

Mempengaruhi perubahan
volume testis, tahapan Tanner,
dan kecepatan pertumbuhan
DISKUSI

Pemberian letrozole dan testosteron jangka pendek merangsang pertumbuhan  menyebabkan


perubahan serupa dalam komposisi tubuh, dan dapat ditoleransi dengan baik, tetapi testosteron
dosis rendah kurang mujarab daripada letrozole  dalam meningkatkan pertumbuhan testis

Temuan ini mungkin disebabkan  oleh efek berlawanan dari kedua obat tersebut pada aktivas
sumbu HPG testosteron dosis rendah menekan gonadotropin sekresi, dan letrozole
mengaktifkannya melalui penipisan estrogen.

Anak laki-laki yang menggunakan letrozole memiliki testis lebih besar daripada menggunakan
testosteron 6 bulan setelah penghentian pengobatan.
DISKUSI

Kepastian dan konseling psikososial cara pertama untuk menangani anak laki-laki dengan
pubertas tertunda yang sembuh sendiri jika mereka menunjukkan tanda-tanda klinis awal pubertas

Berdasarkan tahap pubertas, anak laki-laki dalam penelitian ini indikator klinis konservatif onset
pubertas adalah volume testis 4 mL, 29-87% anak laki-laki ini akan diklasifikasikan sebagai
prapubertas pada awal pengobatan

Studi ini dirancang untuk membandingkan perubahan hormonal dan fisiologis pubertas yang
disebabkan oleh testosteron dosis rendah atau letrozole, daripada membandingkan anak laki-laki
yang menerima pengobatan dengan anak laki-laki yang tidak diobati.
DISKUSI

Selama pengobatan, anak laki-laki yang diobati dengan testosteron memiliki konsentrasi IGF-1
yang lebih tinggi dan bertambah tinggi rata-rata 0,8 cm lebih tinggi daripada anak laki-laki yang
diobati dengan letrozole

Perbedaan ini diharapkan karena estrogen diketahui merangsang hormon pertumbuhan - sumbu
IGF-1, dan deplesi estrogen dengan penghambatan aromatase mencegah peningkatan pubertas
dalam konsentrasi IGF-1 dan menunda perkembangan usia tulang

Untuk tujuan ini, letrozole dapat meningkatkan tinggi badan orang dewasa dengan menekan laju
pematangan tulang pada anak laki-laki dengan CDGP, meskipun data yang tersedia tidak valid
DISKUSI

Pada anak laki-laki, persentase massa lemak menurun dan massa tanpa lemak serta massa tulang
meningkat selama masa pubertas

Ukuran kepadatan tulang meningkat lebih sedikit pada anak laki-laki yang diobati dengan letrozole
dibandingkan dengan testosteron

Testosteron mempercepat penambahan mineral tulang daripada Letrozole, tetapi perbedaan ini
mungkin dihasilkan dari stimulasi kuat pertumbuhan tulang atau ekspansi oleh testosteron
daripada penurunan kepadatan mineral tulang volumetrik yang sebenarnya oleh letrozole
Pada penelitian ini hanya menggunakan desain label terbuka,
yang tidak dapat dihindari karena preparat testosteron peroral
tidak digunakan untuk anak-anak di Finlandia

Data anak laki-laki dengan hipogonadisme hipogonadotropik


kongenital tidak terdeteksi karena tidak ada metode yang dapat
dipakai untuk membedakan antara CDGP dan hipogonadisme
Keterbatasan hipogonadotropik kongenital.
penelitian

Diagnosis ini didasarkan pada kurangnya pertumbuhan testis


spontan selama penelitian; konsentrasi testosteron, gonadotropin,
dan inhibin B yang rendah; dan deteksi mutasi missense heterozigot
di FGFR1
Efek jangka panjang dari obat-obatan untuk pubertas tidak
diketahui dengan baikakhirnya akan mengejar keterlambatan
dalam hal perubahan somatik

Perbedaan pertumbuhan testis pada penelitian mungkin disebabkan


oleh perbedaan konsentrasi testosteron serum
Keterbatasan
penelitian
Penelitian berikutnya dirancang untuk:
a. menilai peran relatif keseimbangan steroid seks dan
gonadotropin dalam hasil pengobatan
b. menilai ketidaktepatan dosis testosteron pada anak laki-laki
dan kemampuan terbatas dalam memastikan kepatuhan
terhadap letrozole

Studi penemuan dosis yang benar dari letrozole pada anak-anak belum dilakukan. Akhirnya, efek pengobatan
inhibitor aromatase pada fungsi sosial, kesejahteraan psikososial, arsitektur tulang, dan tinggi badan orang
dewasa masih belum jelas dan perlu ditangani dalam penelitian selanjutnya
KESIMPULAN
o Secara keseluruhan, data penelitian menunjukkan bahwa letrozole mungkin bisa menjadi obat
alternatif untuk anak laki-laki CDGP dengan klinis pertama pubertas, intervensi medis tertentu,
menolak obat suntikan, dan mengharapkan perubahan fisiologis pubertas yang komprehensif,
termasuk pertumbuhan testis. Sebaliknya, testosteron dosis rendah mungkin menjadi pilihan utama
bagi anak laki-laki yang memprioritaskan penambahan tinggi badan secara cepat selama
pengobatan.
o Kedua obat ini secara signifikan meningkatkan kecepatan pertumbuhan (testosteron sedikit lebih
banyak daripada letrozole), tidak ada efek merugikan pada mineralisasi tulang, perubahan pubertas
yang diinduksi dalam komposisi tubuh, dan dapat ditoleransi dengan baik.