Anda di halaman 1dari 48

OVERVIEW PENGAWASAN NARKOTIKA,PSIKOTROPIKA,

PREKURSOR FARMASI DAN OBAT-OBAT TERTENTUYANG SERING


DISALAHGUNAKAN DI SARANA PELAYANAN KEFARMASIAN
DI JAWA TIMUR

Disampaikan pada Pertemuan Evaluasi Peredaran, Penyimpanan, Pemusnahan


serta Pelaporan SIPNAP

SURABAYA, 6 APRIL 2021


OUTLINE
PENDAHULUAN

HASIL PENGAWASAN

TINDAK LANJUT PENGAWASAN

PENUTUP

2
1. PENDAHULUAN
You can insert graphs from Google Sheets 4
Peratu •
DASAR HUKUM
Ordonansi Obat Keras (Sterkwekende Geneesmiddlent Ordonnantie, Staatsblad 1949:419)
ran • UU No 5 Tahun 1997 Tentang Psikotropika
• UU No 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika
Payung • UU No 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan
• UU No.36 Tahun 2014 Tentang Tenaga Kesehatan
• PP No 72 Tahun 1998 Tentang Pengamanan Sediaan Farmasi Dan Alat Kesehatan
• PP No 51 Tahun 2009 Tentang Pekerjaan Kefarmasian
• PP Nomor 44 Tahun 2010 Tentang Prekursor
• PP No 40 Tahun 2013 Tentang Pelaksanaan Uu No 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika

Peratu •Permenkes N0 9 Tahun 2014 Tentang Klinik


ran • Permenkes No 75 Tahun 2014 Tentang Puskesmas
Pelaks • Permenkes No 28 Tahun 2017 Tentang Izin & Penyelenggaraan Praktik Bidan
anaan • Permenkes No 9 Tahun 2017 Tentang Apotek
• Permenkes No 72 Tahun 2016 Tentang Standar Yan Far Di Rumah Sakit
• Permenkes No 73 Tahun 2016 Tentang Standar Yan Far Di Apotek
• Permenkes No 74 Tahun 2016 Tentang Standar Yan Far Di Puskesmas
• Permenkes No 3 Tahun 2015 Tentang Peredaran, Penyimpanan, Pemusnahan Dan Pelaporan Narkotika, Psikotropika Dan
Prekursor Farmasi.
• Kepmenkes No 167 Tahun 1972 Tentang Pedagang Eceran Obat dan Kepmenkes No 1331 Tahun 2002
• Kepmenkes No. HK.01.07/MENKES/263/2018 tentang Daftar Obat Keadaan Darurat Medis pada Praktik Mandiri Dokter

Peratu • PERATURAN KEPALA BADAN POM NOMOR 10 Tahun 2019 TENTANG PEDOMAN PENGELOLAAN OBAT-OBAT TERTENTU YANG
ran SERING DISALAHGUNAKAN 🡪 Memasukkan Dextromethorphan Sebagai OOT
Teknis
• Peraturan Badan Pom No 4 Tahun 2018 Tentang Pengawasan Pengelolaan Obat, Bahan Obat, Narkotika, Psikotropika Dan
Prekursor Farmasi Di Fasilitas Pelayanan Kefarmasian 🡪 Teknis Tata Kelola Obat
Pelaks
anaan 5
Wilayah kerja BBPOM di Surabaya
Balai Besar/Loka Jumlah
POM di Jawa Kabupaten/ Kabupaten/Kota
Timur Kota
Balai Besar POM 27 Kota Surabaya, Kab. Bojonegoro, Kab.Malang, Kab. Mojokerto, Kab.
di Surabaya Sidoarjo, Kab. Jombang, Kab. Nganjuk, Kab. Gresik, Kab. Pasuruan,
Kab. Probolinggo, Kab. Tuban, Kab. Ponorogo, Kab. Pacitan, Kab.
Bangkalan,, Kab. Sampang, Kab. Sumenep, Kab. Lamongan, Kab.
Pamekasan, Kab. Madiun, Kab. Ngawi, Kota Pasuruan, Kota Batu,
Kab. Magetan, Kota Mojokerto, Kota Madiun, Kota Probolinggo, Kota
Malang.
Loka POM di 6 Kab. Kediri, Kota Kediri, Kab. Blitar, Kota Blitar, Kab. Trenggalek,
Kabupaten Kediri Kab. Tulungagung
Loka POM di 5 Kab. Jember, Kab. Banyuwangi, Kab. Situbondo, Kab. Bondowoso,
Kabupaten Kab. Lumajang
Jember

6
TUJUAN PENGAWASAN NPP
dan OOT

Mencegah
terjadinya
penyalahgunaan

Menjamin
ketersediaan
obat yang
aman,
berkhasiat
dan bermutu
Mencegah
kebocoran dan
penyimpangan
(diversi) dari jalur
legal ke jalur ilegal
atau sebaliknya

7
RUANG LINGKUP PENGAWASAN GOLONGAN NPP DAN OBAT-OBAT
TERTENTU

NARKOTIKA • Golongan I, II dan III

PSIKOTROPIKA • Golongan II, III, dan IV

• Ephedrine, Pseudoephedrine, Norephedrine


PREKURSOR (Phenylpropanolamine), Ergometrine, Ergotamine, Potassium
Permanganat.

• Tramadol, Triheksifenidil, Klorpromazin, Amitriptilin,


OOT Haloperidol dan Dekstromethorphan*
Per Badan POM no.10 Tahun
2019
tentang Pedoman Pengelolaan
• Mengandung: Obat-Obat Tertentu yang Sering
• 1. Tramadol; Disalahgunakan

• 2. Triheksifenidil; • Mengandung:
• 3. Klorpromazin; • 1. Tramadol;
• 4. Amitriptilin; dan/atau • 2. Triheksifenidil;
• 5. Haloperidol; • 3. Klorpromazin; OBAT KERAS

• 4. Amitriptilin;
• 5. Haloperidol; dan/atau
Perka Badan POM nomor 28 OBAT BEBAS
• 6. Dekstrometorfan TERBATAS
tahun 2018 tentang Pedoman
Pengelolaan Obat-Obat Tertentu
yang Sering Disalahgunakan

9
1. PENGADAAN
NARKOTIKA, PSIKOTROPIKA & OBAT MENGANDUNG PREKURSOR
PBF
PBF Perhatikan izin dan kewenangan
NARKOTIKA: APOTEK sarana tujuan penyaluran
IZIN KHUSUS PENYALURAN
IF SP
SP –>
–> ttd
ttd APJ/Ka.
APJ/Ka. INST. FARMASI RS
Inst
Inst

• Obat Bebas
Terbatas
INST. FARMASI KLINIK
▪ Fc Surat Izin sarana
• SP -> ttd TTK PJ ▪ Nama & No. SIPA APJ
▪ Spesimen TT APJ & TTK
▪ Cap Sarana

TOKO OBAT No. HP APJ

INST. FARMASI
PEMERINTAH Kualifikasi pelanggan

PUSAT
INST. FARMASI
RSUP/TNI/POLRI
SP –> ttd Ka.SP
Inst
INST. FARMASI
INST. FARMASI RSUD/KLINIK DAERAH
PEMERINTAH
DAERAH
PUSKESMAS
LPLPO
SURAT PESANAN
Format (sesuai Ketentuan per-UU-an)

Asli, min rangkap 3 (NPP), tdk diperkenankan


fax/f.kopi/e-mail

Di-TT APJ, nama jelas dan no. SIPA/SIPTTK

SP Nama, alamat, no. tel/fax, stempel/cap sarana


NAR, PSI,
PRE & Nama , alamat dan Telp IF/PBF pemasok
OOT
nama, bentuk & kekuatan sediaan, isi kemasan & jmlh
dlm bentuk angka & huruf (NPP)

no. urut dan tanggal SP

SP harus terpisah dari obat lain (kecuali OOT)

SP Narkotika hanya berlaku untuk 1 item jenis Narkotika

Catatan: SP yg tdk bisa dilayani/dipenuhi harus: a) dibuat Surat Penolakan Pesanan paling lama 7 hari kerja, b) tetap
diarsipkan dan diberi tanda pembatalan yg jelas
2. PENERIMAAN

▪ Faktur di-TT oleh Apoteker atau TTK yg diberi


YA kewenangan/penugasan, no. SIPA/SIPTTK & dicap
▪ Catat dlm kartu stok
▪ Arsipkan dokumen pengadaan
▪ Simpan

▪ Nama, btk sediaan, kekuatan


▪ Jumlah
CEK ▪ No. Bets, ED, Produsen
▪ Kondisi: kemasan, label, segel
TIDAK

DIKEMBALIKAN ▪ bukti retur


▪ tanda terima

Catatan: Narkotika & Psikotropika dapat diterima oleh Tenaga Teknis Kefarmasian dengan Surat Pendelegasian dari APJ ( Juklak CDOB)
3. PENYIMPANAN (1)
❑ Tempat penyimpanan Narkotika, Psikotropika, Prekursor dan Obat-obat Tertentu harus
mampu menjaga keamanan, khasiat dan mutu
❑ Penyimpanan Narkotika, Psikotropika dan Prekursor Farmasi Wajib memenuhi Standar
Pelayanan Kefarmasian
❑ Tempat penyimpanan Narkotika atau Psikotropika dilarang digunakan untuk menyimpan
barang selain Narkotika atau Psikotropika
❑ Pekursor Obat Jadi dan Obat-Obat Tertentu disimpan di tempat yang aman berdasarkan
analisis risiko masing masing sarana, antara lain akses personil, mudah diawasi secara
langsung oleh Penanggung Jawab
❑ Apotek, Instalasi Farmasi Rumah Sakit, Puskesmas, Instalasi Farmasi Klinik dan Lembaga
Ilmu Pengetahuan harus memiliki tempat penyimpanan Narkotika dan Psikotropika berupa
Lemari Khusus
❑ Lemari Khusus berada dalam penguasaan Apoteker Penanggung Jawab
3. PENYIMPANAN (2)
❑ Obat rusak, ED, TMS, obat kembalian, diduga palsu, disimpan terpisah dan aman, diberi
penandaan yang jelas, dan dicatat pada kartu stok

❑ Melakukan stock opname secara berkala, sekurang-kurangnya 1 (satu) bulan


sekali (untuk Narkotika dan Psikotropika) dan 6 (enam) bulan sekali untuk Obat
Non-Narkotika; Non-Psikotropika, selisih stok harus diinvestigasi (BA Investigasi) dan
dilaporkan ke Badan POM

❑ Suhu penyimpanan sesuai persyaratan pada kemasan/label (dipersyaratkan oleh IF)

❑ Suhu dimonitor secara berkala (pagi, siang, sore) dan dicatat pd kartu kendali

❑ Alat pencatat suhu Harus dikalibrasi

❑ APJ dapat memberi kuasa penggunaan kunci Gudang/ Ruang khusus penyimpanan Narkotika,
Psikotropika, Prekursor kepada pegawai lain, bila berhalangan (minimal TTK)
LEMARI KHUSUS
Terbuat dari bahan yang kuat

Tidak mudah dipindahkan dan mempunyai 2(dua) buah


kunci yang berbeda

Kunci Lemari Khusus dikuasai oleh APJ/ Apoteker yang


ditunjuk dan Pegawai lain yang dikuasakan

Instalasi Farmasi Pemerintah Apotek, IFRS, PKM, IFK, LIP

• Diletakkan dalam ruang khusus disudut • Diletakkan ditempat yang aman dan tidak
gudang terlihat oleh umum
4. PENYERAHAN NPP

APOTEK
Permintaan tertulis (untuk
mencukupkan kebutuhan
resep) Skrining resep R/

R/ APOTEK Lainnya
PUSKESMAS
Inst. Farmasi RS
Inst. Farmasi Klinik

DOKTER

DOKTER di daerah terpencil dan/atau NP dlm btk suntikan


Penyimpanan NP oleh dokter harus di tempat yang aman, kunci dikuasai oleh dokter.
4. PENYERAHAN

Apoteker/ TTK Penanggung Jawab wajib bertanggung jawab terhadap penyerahan ONPP

Inst Farmasi RS hanya dapat melayani resep obat berdasarkan resep dari RS tersebut

Inst Farmasi Klinik selain melayani resep dari klinik yang bersangkutan, dapat melayani resep
dari dokter praktik perorangan atau resep dari klinik lain.

Fasyanfar hanya dapat menyerahkan obat kepada pasien

Resep obat dengan permintaan iter dilarang diserahkan sekaligus

Dilarang mengulangi penyerahan obat atas dasar resep yang diulang (iter) apabila resep aslinya
mengandung Narkotika

Dilarang menyerahkan narkotikaberdasarkan salinan resep yang baru dilayani sebagian atau belum
dilayani sama sekali apabila tidak menyimpan resep asli.
17
Penyerahan (lanjutan)

Penyerahan Prekursor Farmasi Gol. Obat Bebas Terbatas harus memperhatikan kewajaran dan
kerasionalan jumlah yang diserahkan sesuai kebutuhan terapi

Apotek hanya dapat menyerahkan narkotika berdasarkan resep yang ditulis oleh dokter yang
berpraktek di Provinsi yang sama dengan Apotek tersebut, kecuali resep tersebut telah mendapat
persetujuan dari Dinas Kesehatan

Pelayanan resep elektronik hanya dapat diselenggarakan oleh sarana yang mengeluarkan
resep elektronik tersebut.

Salinan resep dibuat dan ditandatangani oleh apoteker menggunakan blanko Salinan resep dan
bukan berupa fotokopi dari resep asli.

Resep dan/ atau surat permintaan tertulis disimpan minimal selama 5 tahun, urutkan tanggal dan
nomor urutan penerimaan resep
18
5. PEMUSNAHAN

▪ hari, tgl, bln, thn


▪ tempat pemusnahan
▪ nama PJ
BERITA ACARA ▪ nama saksi
▪ nama, jumlah, btk sediaan, ED,
PEMUSNAHAN no.bets kekuatan Psi, Pre & OOT
▪ cara & alasan pemusnahan
▪ TT PJ, saksi & pihak ke-3

Saksi pemusnahan:
▪ Balai POM setempat atau
▪ Dinkes Provinsi/Kota/Kab setempat

▪ produk rusak/TMS/TIE/ED/TP BA rangkap 4 (empat):


✔ Ka. Badan POM
✔ Dirjen Binfar dan Alkes
▪ tdk mencemari lingkungan ✔ Ka. Dinas Kesehatan Provinsi (form-10, PMK No. 3/2015)
▪ tdk membahayakan kesehatan ✔ Pertinggal
6. DOKUMENTASI

DOK. PENGADAAN
SP/Faktur/Surat Penolakan digabung dan diarsipkan
berdasarkan no. urut & tgl

DOK. PENYERAHAN
Resep diarsipkan berdasarkan no. urut dan tanggal penyerahan
obat

Laporan Pemusnahan & BA Pemusnahan

▪ Masing2 dok. di-file tersendiri


(terpisah dari dok. lain)
Dok. Laporan Hasil Investigasi & BA Hasil Investigasi selisih stok
▪ Disimpan paling singkat 5 (lima)
thn
▪ Harus dapat ditunjukkan pd saat
Dok. Laporan Hasil Investigasi & BA Hasil Investigasi kehilangan pemeriksaan

Dok. Laporan bulanan


Peraturan Badan POM No 4 Tahun 2018 tentang Pedoman
Pengawasan Pengelolaan Obat, Narkotika, Psikotropika dan
Prekursor di Fasilitas Pelayanan Kefarmasian

Bab III. Pengawasan (Pasal 10-11)


Kewenangan petugas pengawas :
Pengawasan dilaksanakan melalui pemeriksaan oleh petugas
- Memasuki setiap tempat yang diduga digunakan dalam kegiatan Pengelolaan
Obat, Bahan Obat dan NPP untuk memeriksa, meneliti dan mengambil contoh
segala sesuatu yang digunakan dalam kegiatan pengelolaan Obat, Bahan Obat,
dan NPP
- Membuka dan meneliti kemasan obat, bahan Obat Narkotika, Psikotropika dan
Prekursor Farmasi
- Memeriksa dokumen dan catatan lain dalam kegiatan pengelolaan obat
termasuk menggandakan atau mengutip keterangan tersebut
- Mengambil gambar dan/atau foto seluruh atau sebagian fasilitas dan peralatan
yang digunakan dalam pengelolaan Obat, Bahan Obat dan NPP
Peraturan Badan POM No 4 Tahun 2018 tentang Pedoman
Pengawasan Pengelolaan Obat, Narkotika, Psikotropika dan
Prekursor di Fasilitas Pelayanan Kefarmasian

Bab III. Pengawasan (Pasal 10-11)


Kewenangan petugas pengawas :
Pengawasan dilaksanakan melalui pemeriksaan oleh petugas
- Memasuki setiap tempat yang diduga digunakan dalam kegiatan Pengelolaan
Obat, Bahan Obat dan NPP untuk memeriksa, meneliti dan mengambil contoh
segala sesuatu yang digunakan dalam kegiatan pengelolaan Obat, Bahan Obat,
dan NPP
- Membuka dan meneliti kemasan obat, bahan Obat Narkotika, Psikotropika dan
Prekursor Farmasi
- Memeriksa dokumen dan catatan lain dalam kegiatan pengelolaan obat
termasuk menggandakan atau mengutip keterangan tersebut
- Mengambil gambar dan/atau foto seluruh atau sebagian fasilitas dan peralatan
yang digunakan dalam pengelolaan Obat, Bahan Obat dan NPP
Peraturan Badan POM No 4 Tahun 2018 tentang Pedoman
Pengawasan Pengelolaan Obat, Narkotika, Psikotropika dan
Prekursor di Fasilitas Pelayanan Kefarmasian

Bab IV. Sanksi


Pemberian sanksi administratif bila terjadi pelanggaran berupa :
- Peringatan Tertulis 🡪 peringatan dan peringatan keras
- Penghentian Sementara Kegiatan
- Pencabutan izin 🡪 rekomendasi pencabutan izin kepada Dinas Kesehatan Provinsi, Dinas
Kesehatan Kabupaten Kota atau Perangkat Daerah Penerbit Izin

BAB VI. Ketentuan Peralihan


Puskesmas yang belum memilikiApoteker sebagai penanggung jawab maka
penyelenggaraan pengelolaan Obat dilakukan oleh tenaga teknis Kefarmasian atau tenaga
kesehatan lain yang ditugaskan oleh Kepala dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dan berada
dibawah pembinaan Apoteker yang ditunjuk oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota.

BAB VII. Ketentuan Penutup


2. HASIL PENGAWASAN
Data Sarana Pelayanan Kefarmasian di Jawa Timur
(BBPOM DI SURABAYA)

Jumlah Sarana

RS PKM Apotek Toko Obat Klinik TOTAL

313 675 3154 216 996 5354


Hasil pemeriksaan TAHUN 2020
No JENIS SARANA Jumlah MK TMK
1 RUMAH SAKIT 23 10 13
2 APOTEK 121 40 81
3 KLINIK/BP 27 15 12
4 PUSKESMAS 46 27 19
5 TOKO OBAT 23 8 15
  TOTAL 240 100 140
  Persentase   41,67% 58,33%
Hasil pemeriksaan TAHUN 2021
(s.d bulan PEB 2021)
TELAH
NO JENIS SARANA MK TMK
DIPERIKSA

1 RS 3 0 3
2 Apotek 15 9 6
3 Klinik/BP 3 0 3
4 PKM 9 7 2
5 Toko Obat 0 0 0
Jumlah 30 16 14

Note : PEMERIKSAAN KE SARYANFAR TDK KHUSUS NPP, TETAPI SECARA


KESELURUHAN ASPEK
ASPEK YANG DIPERIKSA

PENGADAAN

2. PENERIMAAN

3.PENYIMPANAN

4.PENYERAHAN

5.DOKUMENTASI

6.PEMUSNAHAN

7.PELAPORAN
28
TEMUAN/PELANGGARAN NPP &OOT

❑ Dok. pengadaan tdk dapat ditunjukkan pd saat


pemeriksaan
❑ SP dan faktur tidak dijadikan satu
PENGADAAN
❑ Pengadaan psikotropika bukan dari sarana resmi
(freelance) 🡪 Obat palsu !!!

29
TEMUAN/PELANGGARAN NPP &OOT

❑ Obat tdk diterima oleh APJ atau Aping/TTK yg diberi penugasan


PENERIMAAN ❑ Tidak ada bukti/penandaan yang jelas bahwa NPP dan OOT
yang diterima telah dilakukan pencatatan nomor bets dan
Expired date

❑ Tidak dilakukan pencatatan (tidak ada kartu stok


manual/elektronik terutama Prekursor dan OOT)
❑ Pencatatan pemasukan dan pengeluaran/penyaluran tdk tertib
PENCATATAN dan tidak akurat 🡪 selisih stok
❑ Tanggal pemasukan dan/atau penyaluran/penyerahan tdk dicatat
❑ No. bets, ED & sumber pengadaan tidak dicatat
❑ Paraf petugas tidak ada

30
TEMUAN/PELANGGARAN NPP &OOT

❑ Tempat penyimpanan tidak menjamin keamanan (tidak terkunci,


kunci tergantung di pintu lemari, tdk ada surat pendelegasian
pemegang kunci kepada Aping , TTK atau petugas lain)
❑ Lemari NAPZA terbuat dari aluminium dengan dinding kaca;
❑ Tidak mempunyai 2 (dua) kunci yang berbeda
❑ Kartu stok tidak diisi real time (penundaan pencatatan)
PEYIMPANAN ❑ Obat rusak/ED tdk disimpan terpisah, tdk diberi penandaan yang
jelas
❑ Penyimpanan narkotika dan psikotropika bercampur dengan obat
/ barang lain
❑ Penyimpanan Prekursor dan Obat-Obat Tertentu tidak dipisahkan
dengan obat reguer lain berdasarkan analisis resiko
❑ Tidak melakukan stock opname secara berkala

31
TEMUAN/PELANGGARAN NPP &OOT
❑ Tidak dilakukan skrining thd resep yg masuk:
▪ Tidak ada tanggal/tanda tangan dokter/no. SIP
▪ Tdk ada nama, umur pasien
▪ Tdk rasional, poli farmasi
❑ Resep palsu, resep ditulis PSA (bukan dokter)
❑ Menyerahkan narkotika, psikotropika, precursor, OOT tanpa resep
dokter/jual bebas
PENYERAHAN ❑ Melayani resep UP dari dokter (jumlah besar)
❑ Melakukan penjualan ke tenaga kesehatan (dokter, bidan dan perawat)
❑ Dokter menuliskan banyak resep utk ditukarkan dengan psikotropika
❑ Salesman/Medrep menulis resep dlm jumlah banyak, obat diambil oleh
Salesman/Medrep
❑ Disversi Obat ke sarana Illegal
❑ Menyerahkan psikotropika, OOT (dlm jumlah besar) kepada oknum tdk
berwenang
❑ Dokumen resep narkotika atau psikotropika tdk di-file tersendiri
❑ Resep tdk dapat ditunjukkan pd saat pemeriksaan
32
TEMUAN/PELANGGARAN NPP &OOT

▪ Tidak dapat ditunjukkan pada saat pemeriksaan


DOKUMENTASI ▪ Pendokumentasian tidak tertib

33
TEMUAN/PELANGGARAN NPP &OOT

▪ Tidak menyampaikan:
✔ laporan bulanan (paling lambat tgl 10 bulan
berikutnya)
PELAPORAN ✔ laporan kehilangan
✔ laporan hasil investigasi kehilangan/selisih stok
▪ Laporan tidak rutin
▪ Dok. pelaporan tidak dapat ditunjukkan pd saat
pemeriksaan
▪ Tidak ada dokumen pencatatan Prekursor dan OOT

34
HASIL UJI NARKOTIKA, PSIKOTROPIKA & OOT PALSU

BTK. SEDIAAN
NO NAMA OBAT HASIL UJI

1 CODEIN Tablet 10 mg Codein (-), CTM (+), GG (+)

Tablet 20 mg Codein (-), GG (+)

2 PETIDIN Injeksi Petidin (-), Lidokain (+)

3 DIAZEPAM Tablet 2 mg Diazepam (-), CTM (+), THP (+)

Tablet 5 mg Diazepam (-)

4 ALPRAZOLAM Tablet 1 mg Alprazolam (-)

5 PHENOBARBITAL Tablet 30 mg Phenobarbital (-)


Kafein(+), Paracetamol (+)

6 TRAMADOL Kapsul 50 mg Tramadol 130%


3. TINDAK LANJUT HASIL
PENGAWASAN
BERDASARKAN

Peraturan Badan POM No 4 Tahun 2018 tentang Pedoman


Pengawasan Pengelolaan Obat, Narkotika, Psikotropika dan
Prekursor di Fasilitas Pelayanan Kefarmasian
Bab IV. Sanksi
Pemberian sanksi administratif bila terjadi pelanggaran berupa :
- Peringatan Tertulis 🡪 peringatan dan peringatan keras
- Penghentian Sementara Kegiatan
- Pencabutan izin 🡪 rekomendasi pencabutan izin kepada Dinas
Kesehatan Provinsi, Dinas Kesehatan Kabupaten Kota atau Perangkat
Daerah Penerbit Izin
TINDAK LANJUT HASIL PENGAWASAN

SANKSI TERHADAP
SARYANFAR 2020 2021(s.d Peb)
WILAYAH BBPOM
SURABAYA

PERINGATAN=100 PERINGATAN= 16
SARANA SARANA

PERINGATAN PERINGATAN
KERAS= 140 KERAS=14
SARANA SARANA

SARANA WAJIB
PSK=2 SARANA PSK=2 SARANA
MELAPORKAN
CAPA KE BBPOM
SBY
3. PENUTUP
PRAKTEK APOTEKER YANG BERTANGGUNG
JAWAB

Science Law

Ethic
PRAKTEK APOTEKER YANG BERTANGGUNG
JAWAB
Membekali diri
dengan pengetahuan Melakukan pekerjaan
yang cukup mengenai kefarmasian sesuai
peraturan perundang- dengan ketentuan,
undangan yang ilmu pengetahuan dan
berlaku. etika profesi.

Supervisi yang
Melakukan memadai kepada
dokumentasi karyawan/rekan kerja
operasional kegiatan yang membantu
dengan tertib. pelaksanaan
pengadaan dan
penyerahan obat.
Contoh Format Surat Pendelegasian Tugas

Yang bertanda tangan di bawah ini :

Nama :
Jabatan :
No. SIPA/SIKA :

Menyatakan dalam hal saya tidak dapat menjalankan tugas sebagai Apoteker Penanggung Jawab dalam menerima pengadaan
Narkotika dan Psikotropika, maka demi kelancaran penerimaan pengadaan obat di ............., saya mendelegasikan pelaksanaan
tugas penerimaan dan pengadaan obat kepada:

Nama :
Jabatan : Apoteker Pendamping/Tenaga Teknis Kefarmasian
No. SIPA/SIKA/SIPTTK :

Demikian surat pendelegasian ini saya buat dengan sebenarnya.

Nama kota, tanggal surat pendelegasian

Penerima delegasi Yang mendelegasikan tugas,

Materai Rp. 6000

(.............................) (..........................)
Contoh Laporan Berita Acara Kehilangan Narkotika/Psikotropika/Prekursor/Obat-obat Tertentu

Kota, Tanggal

Nomor :
Lampiran :
Perihal : Laporan Kehilangan Narkotika/Psikotropika/Prekursor Farmasi/Obat-obat Tertentu *)

Kepada Yth.
Direktur Pengawasan Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif
Jl. Percetakan Negara No. 23
Jakarta Pusat

Dengan Hormat
Bersama ini kami melaporkan bahwa kami telah kehilangan Narkotika/Psikotropika/Prekursor/Obat-obat Tertentu *) sebagai berikut :

No. Nama Produk Jumlah No. bets ED Keterangan

Narkotika/ Psikotropika/Prekursor Farmasi/Obat mengandung prekursor farmasi *) sejumlah tersebut di atas diketahui telah hilang di ……..
pada tanggal……
Contoh Laporan Berita Acara Kehilangan Narkotika/Psikotropika/Prekursor/Obat-obat Tertentu (lanj.)

[…]

Demikian laporan ini kami buat, atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih.

Apoteker Penanggung Jawab IF/PBF/IFSP/APT/RS/KLINIK *)


Nama Lengkap
No SIKA/SIPA

Tembusan Yth.:
1. Dirjen Binfar dan Alkes, Kemenkes RI
2. Direktur Pengawasan Distribusi PT dan PKRT
2. Kepala Dinas Kesehatan Propinsi/Kab/Kota………..(setempat)
3. Kepala Balai Besar/Balai POM di…………..(setempat)

Catatan :
* Coret yang tidak perlu
SURAT PESANAN NARKOTIKA
Nomor : ............................

Yang bertanda tangan di bawah ini :


Nama : ........
Jabatan : ........

Mengajukan pesanan Narkotika kepada :


Nama Distributor : ........
Alamat : ........
Telp : ........

dengan Narkotika yang dipesan adalah:


(Sebutkan nama obat, bentuk sediaan, kekuatan/potensi, jumlah dalam bentuk angka dan huruf)

Narkotika tersebut akan dipergunakan untuk :


Nama Sarana : ........
(Industri Farmasi/PBF/Apotek/Puskesmas/Instalasi Farmasi Rumah Sakit/Instalasi Farmasi Klinik/Instalasi Farmasi
Pemerintah/Lembaga Ilmu Pengetahuan) *
Alamat Sarana : ........

Nama Kota, Tanggal, Bulan, Tahun


Pemesan

Tanda tangan dan stempel

Nama Apoteker/Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan


No. SIKA /SIPA/NIP
*) coret yang tidak perlu
Catatan:
- Satu surat pesanan hanya berlaku untuk satu jenis Narkotika
- Surat Pesanan dibuat sekurang-kurangnya 3 (tiga) rangkap
SURAT PESANAN PSIKOTROPIKA
Nomor : ............................
01/Ap.B/V/2017
 
Yang bertanda tangan di bawah ini :
Nama : ......................... Gembira, S.Farm.,Apt.
Jabatan : ......................... Apoteker Penanggung Jawab
Mengajukan pesanan Psikotropika kepada:
Nama Distributor : ......................... PBF. PT. Sinar Mulia
Alamat : ......................... Jl. Bungur No. 15, Surabaya
Telp : ......................... 031-1234567
dengan Psikotropika yang dipesan adalah:
(sebutkan nama 0,5
1. Alprazolam obat,
mgbentuk
tablet =sediaan,
5 (lima)kekuatan/potensi,
box jumlah dalam bentuk angka dan huruf)
2. Diazepam 2 mg tablet = 3 (tiga) botol
Psikotropika tersebut akan dipergunakan untuk:
Nama Sarana : ......................... Apotek Berdikari
(Industri Farmasi/PBF/Apotek/Puskesmas/Instalasi Farmasi Rumah
(Industri Farmasi/PBF/Apotek/Puskesmas/Instalasi Farmasi Rumah Sakit/Instalasi Farmasi Klinik/Instalasi Farmasi
Sakit/Instalasi Farmasi Klinik/Instalasi
Pemerintah/Lembaga Ilmu Farmasi Pemerintah/Lembaga
Pengetahuan) * Ilmu
Pengetahuan) *
Alamat Sarana : ......................... Jl. Kancil No. 01, Surabaya
  NamaTelp.Kota,031-7654321
Tanggal, Bulan, Tahun
Pemesan Surabaya, 20 Mei 2017
Pemesan
Tanda tangan dan stempel APOTEK
  BERDIKARI
Nama Apoteker/Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan
No. SIKA /SIPA/NIP Gembira, S. Farm., Apt
*) coret yang tidak perlu 446/3862/DKK.Apt 093.SIPA/XI/2016
Catt:Surat Pesanan dibuat sekurang-kurangnya 3 (tiga) rangkap
SURAT PESANAN OBAT JADI PREKURSOR FARMASI
Nomor : ............................

Yang bertanda tangan di bawah ini :


Nama : ........
Jabatan : ........

Mengajukan pesanan Obat Jadi Prekursor Farmasi kepada:


Nama Distributor : ........
Alamat : ........
Telp : ........

dengan Obat Jadi Prekursor Farmasi yang dipesan adalah:


(Sebutkan nama obat, bentuk sediaan, kekuatan/potensi, jumlah dalam bentuk angka dan huruf)

Obat Jadi Prekursor Farmasi tersebut akan dipergunakan untuk:


Nama Sarana : ........
(Industri Farmasi/PBF/Apotek/Puskesmas/Instalasi Farmasi Rumah Sakit/Instalasi Farmasi Klinik/Toko Obat/Instalasi Farmasi
Pemerintah/ Lembaga Ilmu Pengetahuan)*

Alamat Sarana : ........


Nama Kota, Tanggal, Bulan, Tahun
Pemesan

Tanda tangan dan stempel

Nama Apoteker/Tenaga Teknis Kefarmasian Penanggung Jawab /Kepala Lembaga Ilmu


Pengetahuan
No. SIKA /SIPA/SIKTTK/NIP
*) coret yang tidak perlu
Catt: Surat Pesanan dibuat sekurang-kurangnya 3 (tiga) rangkap