Anda di halaman 1dari 30

IDENTITAS PASIEN

• Nama : An. IIT


• Usia : 12 tahun 4 bulan
• Jenis Kelamin : Perempuan
• Tempat, Tanggal Lahir : Jakarta, 30 Juli 2008
• Alamat : Kembangan Selatan
• Agama : Islam
• No. RM : 3359xx
ANAMNESIS

• Anamnesis dilakukan secara autoanamnesis dengan pasien pada tanggal 21


Desember 2020 jam 13.00 di Poli PKPR Puskesmas Kecamatan Kembangan

• Keluhan Utama

Nyeri saat buang air kecil sejak 2 minggu yang lalu


RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG

• Pasien datang dengan keluhan nyeri pada saat BAK sejak 2 minggu
yang lalu. BAK sedikit dan kesan seperti tidak lampias, dan terasa
panas. Pasien juga mengeluhkan nyeri perut bawah, terutama setelah
BAK. Warna urin normal kuning bening tidak ada darah. Demam, mual,
muntah disangkal. BAB normal. Sehari-hari pasien minum sedikit, suka
menahan BAK, ganti pakaian dalam 1-2 kali per hari.
• Riwayat Penyakit Dahulu
Riwayat sakit seperti saat ini sebelumnya disangkal. Pasien memiliki riwayat TB
Paru, tuntas berobat, terakhir minum obat tahun 2018.

• Riwayat Pengobatan
Pasien sudah beli obat sendiri di apotik 1 minggu yang lalu yang dibelikan oleh
ibu pasien. Setelah minum obat keluhan belum membaik.

• Riwayat Penyakit Keluarga


Tidak ada keluarga pasien yang mengalami sakit serupa
PEMERIKSAAN FISIK
• Tanda – tanda Vital
– Keadaan umum : Tampak sakit sedang
– Kesadaran : Compos mentis
– Tekanan Darah : tidak dilakukan
– Nadi : 84 kali/menit
– Peranapasan : 20 kali/menit
– Suhu : 36,5
• Status gizi :
– Berat badan : 55 kg
– Tinggi badan : 155 cm
– Kesan : gizi baik
Sistem Deskripsi
Warna sawo matang, jaundice (-), petekie (-), hiperpigmentasi (-),
Kulit
hipopigmentasi (-), turgor kembali cepat
Normosefali, rambut hitam, tersebar merata
Kepala

Wajah Normofascies, pucat (-), ikterus (-), sianosis (-)


Konjungtiva anemis (-/-)
Mata
Sklera ikterik (-/-)
Pupil bulat, isokor,  3mm / 3mm, RCL (+/+), RCTL (+/+), Gerakan bola
mata normal
Mata cekung (-), air mata (+)
Hidung Napas cuping hidung (-), sekret (-), epistaksis (-)

Telinga Daun telinga simetris, sekret (-/-)


Mulut & Bibir kemerahan, lembab, sianosis (-), pucat (-), angular chelitis (-)
tenggorokan Lidah hiperemis (-), lidah kotor (-), Mukosa lembab, Perdarahan gusi (-),
T1/T1, detritus (-), arkus faring simetris (+), uvula di tengah
Pembesaran KGB tidak teraba
Leher
Kaku kuduk (-)
Pemeriksaan JVP tidak dilakukan
Bentuk normal, retraksi (-)
Thoraks
Inspeksi: perkembangan rongga dada saat statis dan dinamis simetris
Paru
Palpasi: pengembangan dada simetris
Perkusi: sonor di semua lapang paru
Auskultasi: vesikuler +/+, ronchi -/-, wheezing -/-
Inspeksi: Iktus kordis tidak terlihat
Jantung
Palpasi: iktus kordis tidak teraba
Perkusi: tidak dilakukan
Auskultasi: Bunyi jantung S1 & S2 reguler, murmur (-), gallop (-)
Inspeksi: rata, lesi (-), skar (-)
Abdomen
Auskultasi: BU (+) dalam batas normal
Perkusi: timpani pada seluruh kuadran abdomen
Palpasi: supel, hepatosplenomegali (-), nyeri tekan suprapubik (+), CVA (-/-)
Massa (-), lesi (-), deformitas (-)
Punggung
Akral hangat, CRT <2 detik
Ekstremitas
Edema (-/-)
PEMERIKSAAN PENUNJANG

• Dilakukan pemeriksaan penunjang pada tanggal 21 Desember 2020


Urin Lengkap
Pemeriksaan Hasil Nilai rujukan
Warna Kuning Kuning
Kejernihan Keruh Jernih
Berat Jenis 1015
Nitrit Negatif Negatif
Ph 5.5 Negatif
Protein Negatif Negatif
Reduksi Negatif Negatif
Keton Negatif Negatif
Urobilinogen Negatif Negatif
Bilirubin Negatif Negatif
Darah +/Positif 1 Negtif
Leukosit Protein +++/Positif 3 Negatif
Epitel Positif Positif
Bakteri Negatif Negatif
Eritrosit 3-5 bh/LPB 0-3 bh/LPB
Leukosit >100 bh/LPB 0-1 bh/LPB
Silinder Negatif Negatif
Kristal Negatif Negatif
Jamur Negatif Negatif
Trichomonas Negatif Negatif
Sprematozoa Negatif Negatif
DIAGNOSIS

• Diagnosis Kerja
– Cystitis

• Diagnosis banding
– Pyelonefritis
RENCANA TERAPI

M E D IK AM E NTO S A N O N M E D IK A M E N TO S A

• Kotrimoxazol 480mg 2x2 tab • Kontrol setelah obat habis


– 5 hari • Perbanyakan minum air putih 2L
per hari
• Paracetamol 500 mg 3x1 tab
• Tidak menahan BAK
• Personal hygine
PROGNOSIS

• Ad Vitam : Bonam
• Ad Functionam : Bonam
• Ad Sanationam : Bonam
TINJAUAN
PUSTAKA
DEFINISI

• ISK  tumbuh dan berkembang biaknya bakteri atau mikroba


dalam saluran kemih dalam jumlah bermakna.
• Merupakan penyakit infeksi yang sering ditemukan pada anak selain
infeksi saluran nafas akut dan infeksi saluran cerna.
• Klasifikasi ISK :
– ISK atas  parenkim ginjal / pielonefritis
– ISK bawah  VU (Sistitis) atau uretra
EPIDEMIOLOGI

• ISK : Infeksi tersering pada anak


• 3-5% pada perempuan dan 1% pada laki-laki
• Sering pada anak perempuan, mulai dari usia 5 tahun
• Pada laki-laki, mulai pada usia 1 tahun
• Negara berkembang  infeksi pernapasan, malnutrisi, muntah, demam dan
diare
• 9% dari penderita usia 1-60 bulan terdapat demam suhu >38°C
ETIOLOGI DAN FAKTOR RESIKO
• Escherichia coli penyebab saluran kemih (80%)
• Bakteri gram negative lainnya :
– Klebsiella, Proteus, Enterobacter, dan Pseudomonas
• Bakteri gram positif :
• Streptococcus, Enterococcus, Staphilococcus
• Faktor resiko  higienitas
– Laki – laki : yang belum disirkumsisi
– Perempuan : daerah genitalia
PATOGENESIS

• Stasis urin menyebabkan penempelan dan kolonisasi bakteri pada


dinding mukosa urethra
• E. coli dapat melekat kuat pada dinding mukosa dan dapat bertahan
dari mekanisme flushed out
• Infeksi biasanya terjadi secara ascending  sistitis dan
pyelonephritis
• Infeksi dapat terjadi melalui
– penyebaran hematogen pada neonatus

– secara asending pada anak-anak.

• Sering menahan BAK  melemahkan pertahanan kandung kemih


terhadap infeksi bakteri.
• Ketika inkontinensia dicegah oleh obstruksi uretra  urine yang
mengandung bakteri dari distal uretra akan kembali ke kandung
kemih.
• Terjadi reaksi inflamasi menyebabkan mukosa buli-buli menjadi
eritem, edema dan hipersensitifitas
• Kontraksi buli-buli yang menyebabkan
– rasa nyeri didaerah suprapubik
– eritem mukosa buli-buli mudah berdarah  hematuria
MANIFESTASI KLINIS

• Neonatus
– Gejala yang non spesifik
– asimptomatik
– Poor feeding
– Irritable
– Temperatur tidak stabil
– Penurunan berat badan
• 2 bulan – 2 tahun
– Demam yang tidak diketahui penyebabnya  pemeriksaan urin
– Poor feeding
– Irritable
– Nyeri perut, muntah dan diare
– Anak usia 1-2 tahun menangis saat berkemih atau kencing yang berbau
busuk tanpa adanya demam
• Anak prasekolah dan sekolah
ISK bawah
 Disuria
 Polaksiuria
 Urgency
ISK atas
 Sakit pinggang
 Demam
 Nyeri ketok CVA
• Hematuri makroskopik
DIAGNOSIS ISK
• Diditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan
laboratorium yang dipastikan dengan biakan urin
• Anamnesis  gangguan mengontrol kandung kemih, pola berkemih dan aliran
urin, demam
• PF  pemeriksaan abdomen, kandung kemih, muara uretra. Laki-laki genitalia
eksterna diperiksa  fimosis, hipospadia, epispadia
• Pemeriksaan urinalisis dan biakan urin  pemegang peran penting untuk
mengegakkan diagnosis ISK
PEMERIKSAAN LABORATORIUM
• Uji lab urin
– Kultur : Kultur yang negatif akan menyingkirkan diagnosis.
– Urinalisis : leukosituria, nitrit, leukosit esterase, protein dan darah
• Pemeriksaan darah
– Membedakan ISK atas dan bawah
– Leukositosis, peningkatan nilai absolut neutrophil, LED meningkat, CRP
(+)
• Renal imaging procedures  faktor predisposisi ISK
TATALAKSANA

• Penatalaksanaan Umum : simptomatik


• Penatalaksanaan Khusus  3 hal yang ditujukan untuk
penatalaksanaan ISK
1. Infeksi akut
2. Pengobatan dan pencegahan infeksi berulang
3. Mendeteksi dan melakukan koreksi bedah terhadap kelainan
anatomis,kongenital maupun yang didapat pada traktus urinarius.
NICE merekomendasikan penanganan ISK fase akut, sebagai
berikut :
1. Bayi < 3 bulan  rujuk spesialis anak
2. Bayi ≥ 3 bulan dengan ISK atas
– Pertimbangan rujuk SpA
– AB oral 7-10 hari  sefalosporin atau ko-amoksiklav
3. Bayi ≥ 3 bulan dengan ISK bawah
– AB oral 5-7 hari  trimetroprim, seflosprorin atau amoksisilin
PENCEGAHAN
1. Jangan menunda buang air kecil,
2. Perhatikan kebersihan secara baik
3. Ganti selalu pakaian dalam setiap hari
4. Pakailah bahan katun sebagai bahan pakaian dalam, bahan katun dapat
memperlancar sirkulasi udara.
5. Hindari memakai celana ketat yang dapat mengurangi ventilasi udara, dan
dapat mendorong perkembangbiakan bakteri.
6. Minum air yang banyak.