Anda di halaman 1dari 7

Nama anggota :

- Aliffia Aulalya Ningratna


- Bulan Angraeni
- Muhammad Taufik Hermawan
- Salwa Nada Khoirunnisaa
- Sherly Dwi Agustin
5 kasus pelanggaran kode etik psikologi yang dilakukan oleh masyarakat
psikologi (mahasiswa, sarjana psikolog, ilmuwan psikologi)
Pelanggaran 1.
S seorang Psikolog, membuka praktik psikologi dengan memasang plang didepan rumahnya. Ia melakukan beberapa praktik
MON antara lain mendiagnosis, memberikan konseling dan psikoterapi terhadap kliennya. Namun ketika memberikan hasil diagnosis,
ia justru menggunakan istilah-istilah psikologi yang tidak mudah dimengerti oleh kliennya, sehingga sering terjadi salah paham
terhadap beberapa klien tersebut. Ia juga sering menceritakan masalah yang dialami klien sebelumnya kepada klien barunya
TUE dengan menyebutkan namanya saat memberikan konseling. Psikolog S seorang psikolog namun tidak mematuhi aturan-aturan
yang terdapat di kode etik Psikologi. Ia membuka praktek, ia melayani klien bahkan dia bekerja di perusahaan namun tidak
WED berdasarkan kode etik psikologi. Psikolog S sudah jelas-jelas melakukan pelanggaran kode etik HIMPSI, karena apa yang ia
praktekkan bertentangan dengan HIMPSI. Adapun pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh Psikolog S tersebut yaitu:
Psikolog S sudah melanggar kode etik psikologi HIMPSI pada bab I pedoman umum pasal 1 ayat 3. Dimana disini bahwa pasal
THU 1 ayat 3 psikolog wajib memiliki izin praktik psikologi. Namun Psikolog S tersebut tidak memiliki izin praktek dari HIMPSI. Ia
langsung saja membuka praktek dan melakukan konseling tanpa adanya izin praktek. Oleh karena itu Psikolog S tersebut sudah
FRI sangat melanggar kode etik psikologi. Selain itu psikolog S tersebut juga melanggar kode etik psikologi pasal 2 prinsip
umum,;Prinsip A: Penghormatan pada Harkat Martabat Manusia ayat 1,2,3,4 dan 5. Dan juga Bab V kerahasiaan Pasal 24
(mempertahankan kerahasiaan data) dan Pasal 26 (pengungkapan kerahasiaan data) ayat 1. Dimana psikolog S tersebut tidak
menjaga rahasia klien yang semestinya ia simpan dan ia tidak mengumbar-umbar apa yang menjadi rahasia klien. Bahkan blak-
blakan menyebut nama klien. Tidak seharusnya diumbar-umbar pada klien lain tanpa kepentingan dan alasan yang tepat.
Pelanggaran 2.

MON Harez Posma, seorang psikolog (konsultan) yang berkedudukan di fakultas psikologi tidak
seharusnyamelakukan pelanggaran berupa manipulasi data psikologi dan melakukan pencemaran nama baik.
HarezPosma melanggar Pasal 31, mengenai peryataan melalui media, dia tidak seharusnya
TUE mengumumkansesuatu yang tidak bisa dipertanggungjawabkan ke publik yaitu sejumlah individu (lebih dari
satuorang) mengalami gangguan jiwa akibat ikut dekon-kompatiologi Vincent Liong. Secara terang-terangan
Harez Posma mengakuinya dan mempublikasikan di salah satu mailing list, tanpa rasabersalah. Pada akhirnya
WED terjadi perdebatan saling menjelekkan antara Harez Posma dan Vincent Liong.Pasal 11(1/2), menerangkan
mengenai masalah dan konflik personal tidak seharusnya merugikan pihaklain, psikolog harus menahan diri, bila
THU hal tersebut terjadi segera melakukan konsultasi professional.Selain itu juga melanggar Pasal 2, Prinsip B/3,
mengenai tipuan atau distorsi fakta yang direncanakandengan sengaja memberikan fakta-fakta yang tidak benar
yang seharusnya tidak dilakukan psikolog.Pasal 2 Prinsip C/3, mengenai menjunjung tinggi kode etik, peran dan
FRI kewajiban professional,mengambil tanggung jawab secara tepat atas tindakan mereka, berupaya untuk
mengelola berbagaikonflik kepentingan yang dapat mengarah pada eksploitasi dan dampak buruk.
Pelanggaran 3.
Contoh kasus Pasal 24 Mempertahankan Kerahasian DataSeorang psikolog yang berinisial DW
lulusan S2 Psikologi di Universitas ternama di Jakarta telah melakukan pelanggaran kode etik
MON psikologi. DW ini merupakan seorang psikolog dan sekaligus menjadi dosen di Universitas
ternama di Jakarta. DW mendapat gugatan dari klien bernama Ani Annisa ke Pengadilan Negeri
TUE Jakarta Selatan, Selasa (4/11/2012). Pasalnya, gugatan yang dilayangkan oleh Ani Annisa
tersebut disebabkan oleh DW membocorkan masalah Ani Annisa yang aborsi tanpa
sepengetahuan orang tuanya kepada mahasiswa yang kebetulan sedang diajar oleh DW tanpa
WED menyamarkan identitas kliennya . “Saya tidak ada maksud lain, saya hanya memberi didikan
kepada mahasiwa saya agar mahasiswa saya tidak terjurumus ke hal-hal negatif seperti klien
THU saya” ungkap DW melakukan pembelaan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.Pengacara Ani
Annisa, Yanto, angkat bicara pada media masa yang sedang mewawancarainya. “Seharusnya
jika merujuk kode etik psikolog, pihak DW tidak memberikan informasi hasil konseling klien.
FRI Katanya psikolog profesional? Tapi ternyata tidak menjaga kerahasiaan masalah klien kami”.
Akibatnya, klien kami merasa nama baiknya tercemar karena DW telah membeberkan masalah
tersebut tanpa menyamarkan identitas klien kami, jelas Yanto.
Pelanggaran 4.
B adalah seorang psikolog yang telah dikenal di Indonesia. Suatu hari B mendapatkan seorang klien yang juga seorang pesohor Indonesia,
yaitu D. Agar D merasa nyaman, B berusaha menjalin komunikasi yang intens dengan D. Namun kedekatan antara D dan B terjalin sangat
akrab sampai pada tahap hubungan layaknya seorang pasangan. B menyadari bahwa yang telah dilakukannya telah menyimpang dari yang
MON seharusnya. Namun B sengaja melakukan itu agar D tidak meninggalkannya begitu saja ketika jasa psikologi antara B dan D berakhir. B
mengancam D, untuk membocorkan pada media bila D meninggalkannya atau berhubungan dengan orang lain tanpa
sepengetahuannya.Analisa kasus dengan pasal yang terdapat di kode etik :· Adanya keterlibatan perasaan pada saat proses konseling
TUE (kontrak kerja)Hal ini dapat melanggar pasal 2 prinsip A ayat 5,Yaitu psikolog menghindari keterlibatan baik yang disadari maupun tidak
yang didasari oleh prasangkaDan pada prinsip B ayat 5,si B harusnya mempertimbangkan lebih matang sebelumnya bahwa keterlibatan
WED perasaan dalam proses konseling akan memberikan akibat buruk dalam menganalisa data dan mengintervensinya Pada prinsip C ayat 1, 2
dan 3,si B harusnya memiliki profesionalitas dalam bekerja dan memahami kode etik yang berlaku.·Terlibat masalah dan konflik personalü
Pada bab 3 pasal 11 ayat 1,yaitu menyadari bahwa masalah pribadi dapat mempengaruhi efektifitas kerja. Kemudian ayat 2 nya yaitu
THU waspada terhadap adanya masalah dan konflik pribadi, bila hal ini terjadi segera mungkin mencari bantan atau melakukan konsultasi
professional untuk dapat kembali menjalankan pekerjaannya secara professional. B menyadari bahwa yang dilakukannya sudah melanggar
kode etik, harusnya si B dapat bersikap professional dan mencari bantuan dengan teman sesama profesi agar tetap objektif.· Hubungan
FRI majemukü Pada bab 4 pasal 16 ayat 1 poin A,bahwa B dalam waktu bersamaan memiliki peran sebagai psikolog dan juga sebagai
pasangannya.· Eksploitasiü Pada bab 4 pasal 18 ayat 1 poin A.Memanfaatkan D agar tidak meninggalkannya merupakan pelanggaran
dalam eksploitasi terhadap klien. Pada ayat 2, ekploitasi data. B tidak boleh menyebarkan data kepada pihak lain tanpa persetujuan apapun
dari pihak D.Pada kasus ini B telah melanggar banyak sekali pasal dalam kode etik. Pelanggaran ini sudah termasuk pelanggaran berat
karena secara sengaja si B memanipulasi tujuan, proses maupun hasil yang mengakibatkan kerugian.
Pelanggaran 5.

MON

TUE

WED

THU

FRI
MON

TUE

WED

THU

FRI

Anda mungkin juga menyukai