Anda di halaman 1dari 55

P O S T N ATA L D E P R E S S I O N

1. ANNISA AYU LESTARI 1. MITHA NOPRIATINA AMIR

2. DEAS NURUL AWALIYAH 2. MUFTIA MAESAROH

3. ELIZABETH LAILY MEYLITA 3. NADIA YUMAN ARDINI

4. FADILLA FATHAN A.N 4. NURISTIANA RIFAIE

5. KHILDA ARSYA 5. NURMANINGSIH

6. LILIS ARTIKA SARI 6. YULIE YANA YASMIN

 
POSTNATAL DEPRESSION

• Depresi pascanatal (PND) adalah kondisi umum, terjadi pada 10-20%


dari semua ibu yang baru melahirkan pada beberapa tahap dalam
tahun pertama pascakelahiran.
• Jauh dari menjadi 'peristiwa bahagia' yang diinginkan semua wanita,
pada ibu-ibu ini melahirkan sering kali merupakan faktor pencetus
untuk periode kesehatan mental yang buruk yang berkepanjangan,
yang mungkin memiliki konsekuensi lebih lanjut dalam hal
ketidakharmonisan pernikahan dan masalah emosional pada anak-
anak.
M A N I F E S TA S I K L I N I S D A R I
P N D ( P O S T N ATA L D E P R E S S I O N )
Tanda-tanda kemunculan PND tidak jauh berbeda dari gejala
depresi yang terjadi di waktu lain, meskipun beberapa gejala
khasnya mungkin disebabkan oleh perubahan fisik dan lingkungan
yang terkait dengan keadaan nifas
Gejalanya antara lain:

suasana hati yang buruk terus-menerus


cemas dan mudah marah
gangguan tidur
kurangnya energi dan antusiasme
pola makan yang buruk
ketidakmampuan menjalani aktivitas sehari-hari
Suasana Hati yang Buruk
Suasana hati yang buruk biasanya disertai dengan tangisan,
keputusasaan, atau bahkan perasaan bahwa hidup ini tidak layak
dijalani. Terkadang ada pemikiran untuk bunuh diri, tetapi
umumnya ditapis dengan tegas dengan pemikiran 'demi bayi'.
Meskipun demikian, banyak wanita yang ingin 'melarikan diri'
dari rumah dan keluarga mereka.

Melarikan diri kadang-kadang bisa sama dengan bunuh diri pada


saat masa kanak-kanak atau remaja, dan itu mungkin memiliki
arti yang sama dalam PND, seperti salah satu ungkapan:
'Kadang-kadang saya berharap saya bisa pergi ke suatu
tempat sendiri selama seminggu, dan hanya menangis dan
menangis dan menangis dan mengeluarkan apa yang ada di
benak saya. '
Tidak seperti bentuk-bentuk depresi lainnya, PND seringkali sangat bervariasi
dari hari ke hari. Maka dari itu, terkadang ibu yang sudah membuat janji untuk
bertemu dengan tenaga kesehatan karena ia merasa sangat sedih. Namun pada
hari konsultasi dengan tenaga kesehatan tersebut, ia sudah merasa lebih baik
dan tidak ingin mengungkapkan kesedihan yang ia alami sebelumnya.

Depresi klasik ditandai dengan menjadi perasaan yang berubah-ubah, di pagi


hari merasa lebih buruk dan membaik seiring berjalannya hari. Suasana hati
yang rendah biasanya disertai dengan hilangnya semangat untuk menjalani
aktivitas. Para wanita dengan PND sering menghindari kontak sosial, menolak
untuk sekedar menjawab bel pintu atau telepon.
'Saya bersyukur bahwa beberapa orang dapat berteman dengan saya, tetapi
saya tidak dapat menanggapinya karena saya begitu terlarut dengan
kesengsaraan yang saya alami. Seorang tetangga mengundang saya ke
pesta ulang tahun putranya tetapi saya panik dan tidak bisa
menghadapinya.‘

Depresi sering disertai dengan rasa bersalah dan menyalahkan diri sendiri.
Wanita yang mengalami depresi merasa tidak mampu dan malu merasakan apa
yang mereka lakukan, seolah-olah mereka gagal dalam berperan feminin.
Cemas dan Mudah Marah
Ibu yang mengalami depresi akan merasa cemas tentang masalah
pemberian makanan pada bayinya atau kesehatan maupun berat
bayinya, atau mungkin tidak dapat meninggalkan bayinya bersama
orang lain. Dia tidak bisa mentolerir bayinya yang menangis. Dia
mungkin terlalu khawatir tentang masalah keuangan, dan tidak dapat
mengungkapkan perasaannya kepada keluarga atau teman-temannya
karena takut membebani mereka, sehingga dapat menambah rasa
keterasingan dan kesepiannya.

Kecemasan yang meningkat dapat menimbulkan panik yang seringkali


terjadi ketika sendirian dengan bayi. Ibu mengalami perasaan takut,
jantung berdebar, kesulitan bernafas, gemetar. Manifestasi lain dari
kecemasan termasuk perasaan bahwa dirinya terlepas dari kenyataan,
dan hanya menjalani alur hidup, atau bahwa dunia di sekitarnya 'tidak
nyata'
Gangguan Tidur
Ini sulit untuk dinilai, karena ibu mungkin memang menyusui
sepanjang malam. Gangguan tidur khas depresi adalah bangun di pagi
hari, jam 2 atau jam 3 pagi, dan tidak bisa tidur lagi. Sekalipun bayi
tidur sepanjang malam, ibu akan sering bangun beberapa kali. Ibu
mungkin merasa ingin tidur sepanjang hari, namun tidak ada jumlah
jam tidur yang dapat membantunya merasa segar kembali. Ini adalah
reaksi 'hibernasi', baik pelambatan fisik dan penghindaran perasaan
tidak menyenangkan yang berhubungan dengan hari itu:
'Ketika saya menyapih bayi itu pada usia delapan bulan, saya
mulai menyadari bahwa saya tidak lagi merasa sehat. Saya
memiliki perasaan tidak mampu, saya menangis tanpa alasan, saya
pemarah, saya tidak bisa menemukan energi untuk tugas-tugas
yang telah saya lakukan dengan kompeten selama beberapa bulan.’
Seorang ibu yang sering datang ke dokter dengan masalah tidur,
kadang-kadang diberikan obat penenang seperti diazepam. Ini hanya
menambah depresi, kelesuan di pagi hari, dan perasaan 'tidak
terkendali'.
Pola Makan yang Buruk
Hal ini sulit untuk diukur pada seorang ibu baru yang menyadari bahwa
merawat anak terkadang dapat menjadi sebuah rutinitas. Banyak yang
mengatakan bahwa mereka tidak menemukan waktu untuk makan
dengan benar, tetapi terkadang terus-menerus mengonsumsi makanan
ringan seperti biskuit ataupun makanan cepat saji. Mereka kemudian
bertambah berat badan, merasa gemuk dan merasa dirinya tidak
menarik ketika mereka berharap untuk kembali seperti sebelum hamil.

Beberapa wanita merasa sulit untuk menyajikan makan kepada


keluarganya. Seolah-olah, begitu mereka memberi makan bayi sesering
mungkin, maka tidak bisa menyajikan makanan untuk anggota keluarga
yang lain. Ibu yang lain mungkin akan memasak untuk keluarga, tetapi
tidak dapat duduk dan menikmati makanan sendiri.
'Saya sepertinya tidak pernah punya waktu untuk makan atau
bersantai. Saya mulai membenci bayi itu karena dia tidak pernah
membiarkan saya punya waktu untuk diri saya sendiri. Mungkin
butuh waktu berhari-hari bagi saya hanya untuk membaca sebuah
koran’
Ketidakmampuan untuk Mengatasi
Depresi disertai dengan perasaan tidak mampu mengatasi aktivitas
sehari-hari. Pada kasus wanita karir, hal ini mungkin bisa merusak
harga dirinya. Keragu-raguan adalah penyerta yang umum dari
depresi, dan wanita-wanita ini menemukan kesulitan besar bahkan
dalam memutuskan apa yang akan ia dikenakan setiap hari, atau
seperti keputusan yang tentang cara memberi makan bayi atau dalam
menentukan rutinitas pekerjaan rumah tangga.

Jauh dari ekspektasinya tentang kehidupan rumah tangga dengan bayi


yang tidur dengan tenang, rumah yang rapi, dan makan malam yang
siap, mungkin pada realitasnya terkadang suami pulang dengan
keadaan istri yang tidak rapi, bayinya menangis, rumah kacau, dan
makan malam belum disiapkan. Perbandingan antara ekspektasi ibu
dan realitas dan dengan pemikiran tentang ibu-ibu lain dapat
mengatasi hal tersebut dengan bahagia dan baik, membuatnya merasa
gagal sebagai seorang wanita, seorang istri, dan seorang ibu.
Kurang Energi dan Antusiasme
Banyak ibu merasakan perilaku aneh karena kurangnya energi.
Mereka mungkin mengatakan mereka sadar bahwa bayi itu perlu
diberi makan, atau bahwa pekerjaan rumah tangga sedang
menumpuk. Meskipun secara mental mereka akan membiarkan diri
mereka melakukan tugas-tugas itu, namun anggota badan mereka
tampaknya enggan untuk patuh.

Kehilangan Libido
Ini adalah kejadian normal selama masa nifas. Ketidaknyamanan
perineum dan kelelahan fisik juga dapat mempengaruhinya.
Namun, kehilangan libido adalah gejala umum dari depresi, sering
kali yang pertama muncul dan yang terakhir kali timbul. Ini dapat
menyebabkan timbulnya rasa bersalah ibu tentang menjadi tidak
pantas menjadi seorang istri, dan jika suaminya tidak sabar atau
tidak dapat memahami situasi ini mungkin dapat menyebabkan
konflik dan kehilangan dukungan darinya.
M E N G A PA D I A G N O S A P N D
( P O S T N A TA L D E P R E S S I O N )
D A P A T T E R L E WA T ?
PND (Post Natal Depression) terkadang sering diabaikan atau tidak dirawat
dengan baik, dan ada berbagai alasan mengapa ini dapat terjadi

Ibu tidak Mengenali Adanya Sindrom pada Dirinya


Banyak ibu yang berjuang melalui tahun pertama dengan bayinya
dengan perasaan yang kuat bahwa semuanya tidak berjalan dengan
baik, namun mereka tidak dapat mengidentifikasi apa yang salah. Ibu
hanya dapat mengenali adanya masalah ini secara retrospeksi, ketika
ibu tiba-tiba kembali menemukan semangat untuk merawat bayinya,
mampu melakukan kegiatan dengan positif, dan menerima bayinya
dengan sikap yang positif. Kemudian ibu menyadari bahwa
terkadang ia mengalami sakit, seperti berpikir bahwa “sama sekali
tidak cocok menjadi seorang ibu” namun terkadang tidak.

Gejala-gejalanya mungkin terlewatkan karena ibu biasanya memiliki persepsi


yang bertahap. Pada tahap awal, ibu mungkin bingung dengan kelelahan
seperti orang pada umumnya dan kelelahan pada ibu postpartum seperti
ketika bayinya menangis di malam hari atau ketika harus menyusui bayinya
pada malam hari. Selain itu, kondisinya sering berfluktuasi dari hari ke hari.
Penolakan Ibu untuk Mengidentifikasi Sindrom

Banyak ibu yang sebenarnya mengenali gejala-gejala dalam diri


mereka, namun merasa malu karena merasa seperti itu Mereka
menganggap ibu-ibu lain bahagia dan bisa mengatasinya dengan baik,
dan merasa bahwa hanya mereka sendiri yang gagal menikmati
menjadi seorang ibu. Mereka menyalahkan diri sendiri karena ‘tidak
kompeten’ atau ‘tidak bisa’, dan takut jika mereka mengakui perasaan
mereka yang sebenarnya maka mereka akan mendapat perkataan
supaya mereka ‘menyadari diri mereka sendiri’ atau dikritik. Yang lebih
buruk lagi jika ibu percaya bahwa kemungkinan bayinya akan dirawat
jika ibu gagal mengasuh bayinya sendiri.

Ketika seseorang merasa murung, terutama jika ini adalah perasaan


asing bagi mereka, itu adalah reaksi alami untuk menemukan
alasannya. Dalam kehidupan seseorang, pasti ada sesuatu yang dapat
menimbulkan kesedihan atau kekecewaan. Ini kemudian dapat menjadi
alasan dan dapat mendorong seseorang dapat mengalami depresi yang
bahkan mungkin berakibat lebih buruk.
Kegagalan Tenaga Kesehatan untuk Mengenali Sindrom
Ibu yang mengalami PND sering berusaha untuk mendapatkan
bantuan dengan melaporkan gejala fisik, baik pada diri mereka
sendiri atau bayi mereka, dimana ibu merasa bahwa ini dapat
dimengerti oleh keluarga atau petugas kesehatan. Ini merupakan
suatu proses perlawanan dari dirinya agar mereka tidak terlihat
ketakutan menderita penyakit serius atau menganggap tidak perlu
dilakukan suatu tindakan perawatan.

Oleh karena itu, situasi ini dapat memperkecil kemungkinan bagi


ibu untuk mendapatkan bantuan yang sebenarnya ia perlukan.
Banyak kejadian ibu mengikuti tindakan perawatan pada berbagai
kesempatan untuk keluhan yang ringan. Pada salah satu kunjungan
perawatan ini, ibu mungkin enggan untuk pergi, atau mungkin
meluapkan perasaannya dengan menangis di akhir konsultasi.
Terkadang di tengah proses perawatan ini, petugas kesehatan tidak
memberikan banyak waktu yang ibu butuhkan untuk mengatakan
bagaimana perasaannya.
Ada seorang ibu setelah tujuh minggu bersalin mengatakan bahwa:
“Saya masih merasa lelah terus menerus dan bahkan setelah tidur saya merasa
lelah secara fisik. Pada siang hari anggota tubuh saya merasa lemas dan
gemetar, dan saya sering mengalami pusing. Dokter menganjurkan saya untuk
tes diabetes dan ketidakseimbangan tiroid, tetapi hasilnya negatif. Dokter
mengakui bahwa kasus saya ini masih sebuah pertanyaan untuknya, kemudian
dokter mengatakan bahwa saya hanya perlu untuk bertahan hingga apa yang
terjadi pada saya saya akan mungkin akan berlalu.”

Ibu ini akhirnya mengalami overdosis yang serius, dan dirawat selama satu
minggu di rumah sakit jiwa diikuti dengan perawatan rawat jalan. Dia dapat pulih
sepenuhnya ketika bayinya sudah berusia satu tahun.

Tenaga kesehatan hanya berorientasi pada anak dan pemberian nasihat. Selama
kunjungannya rumah, ibu melakukan upaya khusus untuk tampak bahagia dan
kompeten. Oleh karenanya, dibutuhkan persepsi dan informasi sebelumnya
tentang ibu untuk mengenali sosok sebenarnya ibu yang berusaha ia
sembunyikan, dan perlu waktu dan perhatian pada kebutuhan ibu untuk
membujuknya sehingga ia dapat mengungkapkan bagaimana perasaannya yang
sebenarnya.
Keengganan Tenaga Kesehatan untuk Mengenali Sindrom
Bidan dan petugas kesehatan lain mungkin belum terlatih dalam
masalah kesehatan mental, dan mungkin merasa bingung untuk
mengetahui bagaimana cara mengatasinya. Perasaan ketidaktahuan
dan ketidakmampuan mereka sendiri bahkan dapat mengarahkan
mereka untuk mengabaikan ibu yang depresi, sehingga dapat
mengacu masalah depresi ini menjadi lebih buruk.

Bahkan jika dokter mengetahui bahwa ibu mengalami gangguan


yang berat, mereka mungkin hanya memiliki sedikit pelatihan atau
pengalaman dalam pengobatan PND. Dokter mungkin khawatir
tentang pemberian obat jika ibu menyusui, atau memiliki sedikit
pengetahuan tentang pentingnya dukungan dari lingkungan sekitar
ibu atau fasilitas konseling untuk ibu. Dokter mungin menganggap
bahwa penyakit ibu relatif ringan, dan mungkin hanya terjadi
sementara. Karena itu, dokter mungkin enggan merujuk ibu ke
psikiater, terutama karena jarang ada konsultan medis yang memiliki
minat khusus pada masalah postpartum.
Kegagalan Pelayanan Psikiatri untuk Mengenali Sindrom
Hanya 19% dari pelayanan psikiatri yang memiliki fasilitas khusus
untuk penerimaan ibu dan bayi, dan hanya 40% yang memiliki
konsultan dengan minat khusus pada gangguan postpartum.
Bahkan konsultan ini mungkin mengutamakan pelayanan dengan
penyakit kejiwaan, seperti gangguan jiwa dan gangguan
kepribadian, dan mungkin pada temuan ringan mengenai penyakit
neurotik yang terjadi pada masa postpartum. Sangat sedikit
spesialis yang mencurahkan seluruh waktu mereka untuk masalah
kejiwaan perinatal.

Para ibu yang mengalami depresi ini mungkin tidak mendapatkan


perhatian yang layak mereka dapatkan, baik dari sistem pelayanan
perawatan primer atau sekunder. Ini adalah sebuah tragedi dalam
hal menyumbangkan morbiditas sebagai dampak jangka panjang,
dengan konsekuensi implikasinya terjadi pada anak dan intergritas
dalam sebuah keluarga.
PENEGAKAN DIAGNOSA

Faktor yang terpenting adalah tenaga kesehatan professional harus sadar dan
peka terhadap perasaan seorang ibu yang baru saja melahirkan. Keterampilan
mendengarkan yang baik sangat penting, dan komunikasi non-verbal sama
pentingnya. Pertanyaan terbuka akan menghasilkan informasi yang bermanfaat,
dan respons yang profesional harus bersikap empatik dan tidak terarah.
ASUHAN YANG DIBUTUHKAN OLEH IBU POSTPARTUM
Mendengarkan
Terdengar memperdulikan
Tidak Menghakimi
Bersedia memberikan waktu
Mampu mendeteksi perasaan yang tidak
diungkapkan dengan kata-kata
Menerima perasaan baik dan buruk
Memberi semangat, memuji yang sudah dilakukan
Menunjukkan kepercayaan diri
EDINBURGH POSTNATAL DEPRESSION SCALE (EPDS)

Suatu alat yang dikembangkan untuk menskrining PND dengan


menggunakan kuesioner. memiliki sensitivitas tinggi (95%) dan spesifisitas
(93%); yaitu, dapat mengidentifikasi dengan benar mayoritas ibu dengan
PND, dan tidak memasukkan nilai yang besar karena dapat terjadi nilai
'positif palsu'. Keuntungan lainnya adalah, karena ini adalah skala
penilaian-diri, tidak tergantung pada penilaian atau pengamatan observer.
POINT PENTING SAAT MENGGUNAKAN EPDS

EPDS dikembangkan sebagai instrumen skrining, bukan alat


diagnostik
Jika terdapat skor yang tinggi pada EPDS klien harus
mengulangi test 1-2 minggu
Klien mungkin tidak menjawab kuesioner dengan jujur

Gunakan cara impersonal dan rutin


Petugas kesehatan mungkin melihat penggunaan kuesioner
sebagai pengganti, bukan sebagai fasilitator untuk
mendengarkan dan mengamati secara empatik.
Memberi label pada ibbu yang mngalami depresi akan
mencegah penurunan depresi.
Kecemasan tenaga kesehatan professional dimunculkan oleh
jawaban positif atas pertanyaan tentang melukai diri sendiri.
Tidak ada gunanya melakukan skrining untuk
mengidentifikasi suatu kondisi jika tidak ada bantuan yang
tersedia.
PERJALANAN DAN AKIBAT PND

Laporan anekdotal dari wanita yang menderita PND menunjukkan bahwa,


jika tidak diobati, penyakit tersebut dapat bertahan selama setidaknya satu
atau dua tahun. Ada juga saran bahwa, pada pemulihan, wanita mungkin
menderita 'kambuh mini' di setiap periode pramenstruasi

Dalam studi prospektif, lebih dari 50% ibu mengalami depresi terbukti
memiliki penyakit yang berlangsung tiga bulan atau lebih, dan 30%
memiliki penyakit yang berlangsung enam bulan atau lebih; 40-50%
dari ibu yang didiagnosis depresi pada enam minggu pascapersalinan
masih merasa tertekan pada enam bulan pascapersalinan.
PERJALANAN DAN AKIBAT PND

Satu studi tindak lanjut menunjukkan bahwa 43% ibu yang mengalami depresi
telah mengalami sedikit pemulihan pada satu tahun pascapersalinan, dan satu lagi
bahwa 63% wanita yang mengalami gangguan postpartum adalah penyakit
psikiatrik pertama dan gangguan tersebut masih dialami pada usia 14 bulan
postpartum.

Dalam studi prospektif, prognosis yang buruk ini dapat terjadi pada
wanita yang tidak dalam pengobatan. Diharapkan bahwa, dengan
peningkatan tingkat identifikasi dan perawatan baik dalam perawatan
primer dan psikiatris, saat ini prospek penanganan klien pada kasus ini
dapat dilakukan dengan baik.
TINGKAT PERULANGAN
PND dapat kambuh/terulang di kehamilan selanjutnya. Seorang penulis mengutip 68%
dalam sampel yang tidak diobati, dan dapat terulang kembali dengan nilai yang lebih
tinggi yaitu 75%. Yang ketiga juga menunjukkan bahwa itu mungkin muncul kembali
dalam bentuk yang lebih parah dan berkepanjangan dalam waktu selanjutnya.

Leverton dan Elliott mengidentifikasi kelompok wanita hamil 'berisiko tinggi'


berdasarkan berbagai faktor termasuk PND sebelumnya. kelas 'persiapan
untuk menjadi orang tua', bersama-sama dengan dukungan individu dan
pelatihan dalam memanajemen stres dapat mengurangi resiko terjadinya
PND berulang, yaitu 19% dari 40% pada kasus sebelumnya.
PENYEBAB POSNATAL
DEPRESI
• Faktor Sosial demografis
1. Usia
Beberapa penelitian menemukan bahwa kejadian PND lebih tinggi terjadi
pada ibu yang berusia diatas 30 tahun dan juga ada pada ibu yang berusia
lebih muda.
2. Kelas Sosial
PND tidak di bedakan dari tingkat kelas sosial seorang perempuan. Pada ibu
yang berkelas sosial tinggi tidak bisa diasumsikan bahwa. Pada seorang
perempuan yang mengalami PND sangat membutuhkan dukungan sosial dari
lingkungan sekitar, baik keluarga, orang tua, dan orang terdekat.
3. Status Pernikahan
Status pernikahan memiliki sedikit kepentingan, kemungkinan dikarenakan oleh
banyaknya pelajaran mengenai pernikahan di sebagian besar studi, dan
penerimaan sebagai ibu tunggal di masyarakat meningkat. Tidak semua ibu
tunggal tidak mendapat dukungan; seperti banyaknya hubungan yang dijalin
lama, dan hal ini lebih penting daripada legalitas dari sebuah hubungan.
4. Ketidakharmonisan dalam hubungan
Pada perempuan yang mengalami depresi dengan keadaan pasanganya yang tidak
mampu dalam memberikan dukungan lebih maka akan menimbulkan terjadinya
PND. jadi seorang ibu sudah tertekan oleh keadaan depresi ditambah dengan
tidak adanya dukungan dan support dari pasangan. Kehamilan bertujuan untuk
memperbaiki hubungan yang lebih baik atau memberikan objek cinta kepada
wanita.
5. Peristiwa kehidupan dan dukungan sosial
hal yang dibutuhkan tidak hanya pada keadaan sebuah hubungan yang baik,
tetapi dalam keadaan kondisi keuangan juga sangat penting bagi keluarga.
Hadirnya nanti seorang bayi akan terganggu jika kebutuhan finansial dalam
keluarga juga memiliki kekurangan. Hal ini dapat terkait dengan PND pada
empat bulan pertama ibu posnatal.
6. Hubungan saling percaya
Survei sosiologis telah mengungkapkan tingkat depresi yang lebih tinggi terjadi
pada perempuan yang selalu memendam masalahnya sendiri dan tidak ada yang
dapat di ajak berkomunikasi lebih dekat baik itu pasangan, teman atau saudara.
7. Hubungan dengan ibu sendiri
Pengalaman wanita itu sendiri tentang menjadi ibu mungkin juga
demikian relevan. Seorang wanita yang ibunya sendiri mungkin tidak
menunjukkan gejala, tidak konsisten, atau sibuk dengan pekerjaan atau
perawatan keluarga besar, tidak akan memiliki panutan yang
memuaskan ketika wanita tersebut menjadi seorang ibu.
• Faktor kebidanan atau kandungan terkait dengan PND
1. Masalah menstruasi
Dysmenorrhoea dan menstruasi yang tidak teratur, ini merupakan salah
satu faktor predisposisi untuk terjadinya PND. Psikoanalitik
menafsirkan bahwa pada wanita yang oernah mengalami dismenore,
akan memberikan sinyal ke otak yang membuat ibu merasa sakit saat
melahirkan
2. Infertilitas sebelumnya
Kegagalan dalam kehamilan mengakibatkan kekecewaan pada ibu yang
harus menerima kenyataan yang sudah terjadi, , jika tidak bisa menerima
keadaan dari bayi maka akan mengalami PND.
3. Menghentikan kehamilan sebelumnya, keguguran atau kehilangan
neonatal
Kematian neonatal sebelumnya, terutama cot death, dapat mengakibatkan
kecemasan postpartum yang parah dan menimbulkan trauma, dan lebih
meningkatkan kesedihan untuk anak yang hilang. PND terjadi pada wanita
yang mengalami hal tersebut
4. Kehamilan yang tidak direncanakan atau tidak diinginkan
yang lebih relevan adalah apakah kehamilan itu diterima atau tidak. Tentunya
satu studi penelitian memiliki PND terkait telah mempertimbangkan
penghentian di awal kehamilan. Faktor-faktor yang mungkin merugikan
lingkungan sosial dapat mengarah pada kehamilan yang tidak diinginkan dan
menyebabkan terjadinya PND
5. Paritas
Sebagian besar penelitian tidak menemukan korelasi antara PND dan paritas.
Peningkatan tingkat depresi pada primipara atau multipara lebih tinggi pada
wanita muda yang memiliki anak ketiga atau selanjutnya, hal ini berkaitan
dengan stres pada wanita muda yang memiliki anak-anak kecil yang tinggal
di rumah yang dapat mengakibatkan depresi pada wanita .
6. Kesulitan dalam kehamilan
Penelitian di Amerika menemukan bahwa yang paling kuat prediktor PND
adalah status perkawinan, depresi antepartum dan kesulitan dalam
kehamilan. Salah satu hal negatif yang sighnifikan dialami ibu dengan
mual dan muntah pada kehamilan dan PND.
7. Kesulitan dalam persalinan
Penelitian menunjukkan bahwa ketidakpuasan dengan aktualitas atau
Persepsi ibu tentang persalinan tidak ada hubungannya dengan
terlambatnya onset depresi pascanatal. Masalah-masalah ini mungkin
terkait dengan perasaan hati di masa nifas awal, tetapi tidak di kemudian
hari.
8. Menyusui
Salah satu studi menunjukkan bahwa pemberian ASI yang tidak
didukung sampai tiga bulan pascapersalinan dapat mengakibatkan
depresi.
FAKTOR-FAKTOR BAYI
TERKAIT DENGAN PND
Tidak semua bayi tenang dan mudah dirawat, dan sulit bayi bisa menjadi
sumber stres utama pada periode postpartum. Dalam beberapa kasus,
ada kesulitan yang jelas seperti prematuritas, ikterus, atau kelainan
bawaan, tetapi seringkali, temperamen bayi tampaknya sama
pentingnya.
FAKTOR
KEPRIBADIAN DAN
PSIKIATRI YANG
TERKAIT DENGAN
PND
KARAKTERISTIK
KEPRIBADIAN
kuisioner diciptakan untuk menebak suatu kepribadian seseorang
dandigunakan untuk menentukan kerentanan seorang individu terhadap
depresi sebelum timbulnya PND.
Berdasarkan survei yang telah dilakukan ditemukan hubungan antara
kepribadian neurotic dalam kehamilan dan PND. Oleh sebab itu, kita
dapat mengetahui banyak wanita dengan PND yang sudah menderita
gejala deprsi sejak masa kehamilan.
Berdasarkan keadaan itu dapat disimpulkan bahwa sensitivitas
seseorang yang tingg dapat meningkatkan resiko depresi pascanatal pada
bulan ketiga pada factor ke 11.
GEJALA PSIKIATRI SELAMA
KEHAMILAN
• Beberapa penelitian menghubungkan tingkat kecemasan yang tinggi
dengan kejadian PND, tapi secara signifikan sesuatu yang
berhubungan dengan tingkat pra-kehamilan selalu menjadi hal yang
menghawatirkan.
• Mayorias peneliti mendapatkan hasil bahwa wanita yang depresi sejak
masa kehamilan akan berlanjut hingga masa nifas. Namun ada dua
peneliti lain yang mengatakn bahwa tidak adanya hubungan antara
depresi antenatal dengan depresi postnatal.
RIWAYAT PENYAKIT PSIKIS DIRI DAN
KELUARGA.

• Kemungkinan indicator terpenting adalah riwayat penyakit depresi


sebelumnya, apakah ada atau tidak.
• Resiko kambuhnya gejala depresi pasca natal bervariasi pada angka
25%-75%. sebuah studi mengatakan bahwa wanita tanpa PND
sebelumnya memiliki resiko yang lebih kecil terkena PND, sedangkan
wanita dengan PND sebelmnya memiliki resiko tinggi , terutama pada
ibu yang memiliki tiga anak atau lebih.
FAKTOR BIOLOGIS TERKAIT DENGAN PND

JELAS B A H WA PERUBAHAN HORMONE DAN


B I O K I M I AW I YA N G C E P A T T E R J A D I P A D A S E M U A WA N I T A
P O S T PA RT U M , S E M E N TA R A H A N YA B E B E R A PA YA N G
M E N G A L A M I G A N G G U A N M O O D . D A N S E P E R T I N YA PA R A
WA N I TA MEMILIKI REAKSI YA N G ABNORMAL PA D A
PERUBAHAN INI.
KARENA PERUBAHAN HORMONE MAKSIMUM TERJADI
PA D A M A S A N I FA S , D A N D E P R E S I PA S C A N ATA L U M U M N YA
T I M B U L S E C A R A B E R TA H A P D I K E M U D I A N H A R I , A D A
SEDIKIT ALASAN YA N G MENDUGA B A H WA SYSTEM
ENDOKRIN T E R L I B AT. SEPERI YA N G TELAH
DITUNJUKKAN B A H WA T E R D A P A T PERBEDAAN BESAR
D A L A M K E R E N TA N A N I N D I V I D U D A N P E R U B A H A N YA N G
MENDALAM DALAM DINAMIKA PERNIKAHAN DAN
K E L U A R G A S E L A M A TA H U N P E R TA M A PA S C A K E L A H I R A N .
INI MUNGKIN LEBIH R E L E VA A N D A R I PA D A FA C T O R
H O M O N A L U N T U K T I M B U L N YA D E P R E S I .
• Esterogen
sebuah laporan mengatakan bahwa hubungan antara menyusui dan depresi menunjukkan
bahwa mereka yang memiliki kadar endrogen yang normal jarang mengalami depresi.

• Progesteron
penggunaan progesterone dengan injeksi telah dianjurkan baik untuk pengobatan
maupun pencegahan depresi pascanatal pada wanita. ini disebabkan karena progesterone
adalah obat penenang dosis ringan .

• Androgen
semua wanita menghasilkan tingkat androgen yang signifikan dari kelenjar ovarium dan
adrenal.aspek suasana hati nifas, suasana hati yang rendah, kesedihan dan kelelahan tela
dikaitkan dengan kadar androgen yang rendah pada empat bulan pasca persalinan.
• Tiramin
diperkirakan terlibat dalam perubahan biokimia yang terkait dengan
migraine. pada pasien depresi tampak lebih banyak menyerap tiramin dan
mengeluarkan sedikit tiramin, daripada pasien tanpa riwayat deprsi.

• Tryptophan dan Asam Lemak Non-esterifikasi


merupakan substrat untuk memproduksi serotonin. kekurangan serotonin
telah dikaitkan dengan depresi. sebuah studi menunjukkan bahwa ada
hubungan antara kadar tryptophan dengan depresi
PSIKOTROPIKA
DALAM ASI
FAKTOR-FAKTOR YANG PERLU
DIPERHATIKAN SAAT PEMBERIAN OBAT

TINGKAT
JUMLAH
USIA BAYI BERAT BAYI PENYERAPAN
ASUPAN ASI
DETOKSIFIKASI

MEKANISME KEKURANGAN
IKTERUS
PEMBERSIHAN PREMATURITAS ENZIN
NEONATAL
GINJAL BAWAAN
TINDAKAN PENCEGAHAN PADA BAYI

Menunda terapi sampai pemerian ASI selesai

Menghindari obat-obatan yang tidak ada hubungannya dengan penularan ASI

Memilihh obat yang memiliki konsentari rendah

Menghindari menyusui saat kontrasi obat memuncak

Pemberian ASI perah


OBAT PENENANG UTAMA YANG BIASA
DIGUNAKAN

Kloropromazin Holoperidol
• Hasil studi menunjukkan • Satu kasus menyatakan bahwa
bahwa dengan pemberian seorang ibu yang
dosis tunggal tidak ada efek mengonsumsi holoperidol
apapun yang diterima bayi. setiap hari mengalami
Namun harus tetap penurunan pada produksi
diperhatikan dosis dan ASInya. Diperlukan
konsentari obat ada ASI penanganan yang lebih lanjut
tentang kondisi mental.
– Secara umum, obat-obatan yang dapat yang mudah larut dalam ASI merupakan
obat-obatan yang sebagian besar larut dalam air dan tidak mudah mengikat
protein. Obat-obatan tersebut dapat larut dengan mudah berdasarkan
perbandingan kandungan lemak yang tinggi dengan plasma.
– Obat neuroleptik digunakan dalam pengobatan psikotik di masa nifas. Dalam
kasus seperti itu, menyusui sering tidak praktis, tetapi, jika ingin dilanjutkan,
obat harus dijaga pada tingkat serendah yang kompatibel dengan kontrol
kondisi mental ibu. Obat-obatan harus memperhatikan informasi terkait kadar
ASI dan serum dari obat tersebut.
PERAN AYAH
PERAN PARA AYAH
PASCAPERSALINAN
• Membantu/ berbagi pekerjaan dalam perawatan anak. Seperti
menggantikan popok bayi, memandikan bayi hal ini dogunakan untuk
mengubahnya setelah kelahiran dan menjadi seorang ayah.

• Jika ayah mengalami perasaaan yang tidak adekuat untuk menjadi


orang tua, dia mungkin takut menjadi orangtua yang tidak pantas, dan
perasaannya terhadap anaknya sendiri dapat menyoroti kekurangan
dalam pengalaman pengasuhannya sendiri, yang mengarah pada
ambivalensi terhadap keluarga asalnya.
PENYAKIT MENTAL PADA
AYAH
• Sekitar sepertiga dari ayah mengalami beberapa gangguan mood pada bulan-bulan
pascapersalinan awal, yang menghubungkan hal ini dengan perubahan di dalam
pernikahan.

• Pada tiga bulan awal, pria-pria ini kurang terlibat dengan bayi, baik secara emosional
maupun praktis, tetapi pada 12 bulan, mereka lebih terlibat. Perubahan suasana hati
tampak ringan, relatif berumur pendek, dan tidak memerlukan perawatan.
• Sebuah studi baru-baru ini telah mengidentifikasi 9% ayah sebagai 'kasus' depresi
pada enam minggu pascapersalinan, dan 5,4% pada enam bulan. Insiden pada ibu
adalah 27,5% dan 25,7% pada interval yang sama.
• Ayah jauh lebih mungkin mengalami depresi jika pasangannya terlalu tua. Ada
beberapa laporan terisolasi dari penyakit mental parah yang terjadi pada ayah pada
saat kehamilan pasangannya atau segera setelah melahirkan.
Ayah Dan Depresi
Pascanatal

• D
­ epresi pascanatal pada ibu umumnya memiliki efek mendalam pada
pasangannya dan pada hubungan mereka.
• Depresi pada ayah adalah 9,0% pada 6 minggu setelah kelahiran dan
5,4% pada 6 bulan. Seperti yang diharapkan, ibu memiliki prevalensi
kasinitas yang secara signifikan lebih tinggi pada 6 minggu dan 6 bulan
postpartum daripada ayah, tetapi ayah secara signifikan lebih mungkin
menjadi kasus jika pasangannya mengalami depresi.
• Dalam sebuah studi longitudinal di Portugal, Areias et al (1996a) menemukan bahwa
dalam 3 bulan pertama pascapersalinan, hampir seperempat dari wanita yang terbukti
berisiko dalam kehamilan menjadi depresi, berbeda dengan kurang dari 5% dari
pasangan mereka. Namun, dalam 9 bulan berikutnya, pria lebih rentan mengalami
depresi daripada sebelumnya dan depresi mereka cenderung mengikuti awal
timbulnya depresi pada pasangan mereka. Matthey et al (2001), yang memvalidasi
EPDS untuk digunakan dengan ayah, menemukan tingkat depresi yang relatif rendah
pada pria dibandingkan dengan tingkat untuk pasangan postnatal mereka. Namun,
kesedihan lebih mungkin terjadi pada ayah ketika sang ibu juga tertekan.