Anda di halaman 1dari 14

HIDROLOGI TEKNIK

DASAR

HUJAN
1. Pengertian Umum

2. Jenis-jenis Hujan

3. Pengukuran Hujan

Dr. Ery Suhartanto, ST. MT.


1. Pengertian Umum
 Hujan (presipitasi), dinyatakan sebagai
kedalaman cairan yang berakumulasi di
atas permukaan bumi bila seandainya
tidak terdapat kehilangan. Semua air yang
bergerak di dalam bagian lahan dari daur
hidrologi secara langsung maupun tidak
langsung berasal dari presipitasi/hujan.

Dr. Ery Suhartanto, ST. MT.


2. Jenis-jenis Hujan
 Tipe hujan/presipitasi dapat ditentukan
atas dasar dua sudut pandangan yang
berlainan. Suatu klasifikasi dapat
dilakukan baik atas dasar genesis (asal
mulanya) maupun atas dasar bentuk
presipitasi.

Dr. Ery Suhartanto, ST. MT.


2.1. Klasifikasi genetik
Klasifikasi ini didasarkan atas timbulnya
hujan/presipitasi. Agar terjadi hujan,
terdapat tiga faktor utama yang penting :
1. Kondisi udara yang lembab
2. Inti kondensasi (partikel debu, kristal
garam, dll)
3. Suatu sarana untuk menaikkan udara
yang lembab.
Dr. Ery Suhartanto, ST. MT.
2.1. Klasifikasi genetik
1. Pendinginan siklonik terjadi dalam dua
bentuk. Pendinginan siklonik non-frontal
terjadi bila udara bergerak dari kawasan di
sekitarnya ke kawasan bertekanan rendah.
Pendinginan siklonik frontal terjadi bila
massa udara yang panas naik di atas
frontal yang dingin. Laju hujan/presipitasi
yang terjadi adalah sedang dan sering kali
berlangsung lama.
Dr. Ery Suhartanto, ST. MT.
2.1. Klasifikasi genetik
2. Pendinginan orografik terjadi oleh aliran
udara samudera yang lewat di atas
tanah dan dibelokkan ke atas oleh
gunung-gunung di pantai. Sebagian
besar hujan/presipitasi jatuh pada sisi
lereng arah datangnya angin. Jumlah
hujan/presipitasi yang lebih sedikit,
disebut bayangan hujan.

Dr. Ery Suhartanto, ST. MT.


2.1. Klasifikasi genetik
3. Pendinginan konvektif terjadi apabila
udara panas oleh pemanasan permukaan,
naik dan mendingin untuk membentuk
awan dan seteleh itu terjadi
hujan/presipitasi. Hujan konvektif
merupakan hujan yang berlangsung
sangat singkat (jarang melebihi 1 jam)
namun berintensitas sangat tinggi. Hujan
total dapat berjumlah hingga 8-10 cm.
Dr. Ery Suhartanto, ST. MT.
2.2. Klasifikasi bentuk
Suatu perbedaan yang sederhana tetapi
mendasar dapat dilihat antara presipitasi
vertikal dan horizontal. Presipitasi vertikal
jatuh di atas permukaan bumi dan diukur
oleh penakar hujan. Presipitasi horizontal
dibentuk di atas permukaan bumi dan tidak
diukur oleh penakar hujan.

Dr. Ery Suhartanto, ST. MT.


2.2. Klasifikasi bentuk
Presipitasi vertikal :
 Hujan, air yang jatuh dalam bentuk tetesan yang
dikondensasikan dari uap air di atmosfer.
 Hujan gerimis, hujan dengan tetesan yang sangat
kecil.
 Salju, kristal-kristal kecil air yang membeku yang
secara langsung dibentuk dari uap air di udara bila
suhunya pada saat kondensasi kurang dari 0oC.
 Hujan batu es, gumpalan es yang kecil, kebulat-
bulatan yang dipresipitasikan selama hujan badai.
 Sleet, campuran hujan dan salju. Hujan ini disebut
juga glaze (salju basah).
Dr. Ery Suhartanto, ST. MT.
2.2. Klasifikasi bentuk
Presipitasi horizontal :
 Es, salju yang sangat dipadatkan.
 Kabut, uap air yang dikondensasikan menjadi partikel-
partikel air halus di dekat permukaan tanah.
 Embun beku, bentuk kabut yang membeku di atas
permukaan tanah dan vegetasi. Disebut juga embun
beku putih atau embun beku saja.
 Embun, air yang dikondensasikan sebagai air di atas
permukaan yang dingin (permukaan tanah dan
vegetasi) terutama pada malam hari. Embun ini
menguap di pagi hari.
 Kondensasi pada es dan dalam tanah.
Dr. Ery Suhartanto, ST. MT.
3. Pengukuran Hujan
Untuk memperoleh besaran hujan yang dapat dianggap
sebagai kedalaman hujan yang sebenarnya terjadi di
seluruh DAS, maka diperlukan sejumlah stasiun hujan
yang dipasang sedemikian rupa sehingga dapat
mewakili besaran hujan di DAS tersebut.
Untuk kepentingan praktis, pengukuran kedalaman
hujan banyak dilakukan selama 24 jam. Berarti
kedalaman hujan yang diketahui adalah kedalaman
hujan total yang terjadi selama satu hari (24 jam).

Dr. Ery Suhartanto, ST. MT.


3.1. Alat dan Perlengkapan
Untuk melakukan pengukuran hujan tersebut diperlukan
alat pengukur hujan (raingauge). Dalam pemakaian
terdapat dua jenis alat ukur hujan, yaitu :
1. Penakar hujan biasa (manual raingauge)
2. Penakar hujan otomatik (automatic raingauge)
Alat-alat tersebut harus dipasang sesuai dengan aturan
yang ditetapkan oleh WMO (World Meteorological
Organisation), atau aturan yang disepakati secara nasional
di suatu negara.

Dr. Ery Suhartanto, ST. MT.


3.2. Cara pengukuran
1. Alat ukur hujan biasa, dioperasikan
sebagai berikut, pengukuran dapat
dilakukan dengan dua cara, yaitu dengan
bejana ukur atau dengan bilah ukur.
2. Alat ukur hujan otomatik, digunakan
dalam pengukuran hujan otomatik
dengan dua cara, yaitu dengan kertas
dan logger.
Dr. Ery Suhartanto, ST. MT.
TUGAS
1. Cari dari internet makalah tentang alat
pengukur hujan manual dan otomatis
2. Cari peta dan jumlah stasiun hujan
(klimatologi) yang ada di kota Malang dan
sekitarnya.
3. Cari data hujan mulai bulan Januari 2000
sampai dengan Desember 2008.

Dr. Ery Suhartanto, ST. MT.