Anda di halaman 1dari 32

PRINSIP PARTNERSHIP (KEMITRAAN) DALAM

PROMOSI KESEHATAN

Marisa Lia Anggraini, S.ST. M.Keb


OUTLINE
I. Kemitraan
1. Pengertian Kemitraan
2. Unsur-unsur Kemitraan
3. Prinsip Kemitraan
4. Ruang Lingkup Kemitraan
5. Model-model Kemitraan dan Jenis Kemitraan
6. Dasar Kemitraan
7. Tahap-tahap Kemitraan
8. Dasar Pemikiran Kemitraan dalam Kesehatan
9. Tujuan Kemitraan
10. Perilaku Kemitraan
II. Promosi Kesehatan
1. Pengertian Promosi Kesehatan
2. Strategi Promosi Kesehatan
3. Sistem Kemitraan Dalam Pelayanan Kesehatan
KEMITRAAN
1. Pengertian Kemitraan
• Kemitraan pada esensinya adalah dikenal dengan istilah
gotong royong atau kerjasama dari berbagai pihak, baik
secara individual maupun kelompok.
• Menurut Notoatmodjo (2003), kemitraan adalah suatu
kerja sama formal antara individu-individu, kelompok-
kelompok atau organisasi-organisasi untuk mencapai
suatu tugas atau tujuan tertentu.
Ada berbagai pengertian kemitraan secara umum (Promkes Depkes RI) meliputi:

a. kemitraan mengandung pengertian adanya interaksi dan interelasi minimal antara dua pihak
atau lebih dimana masing-masing pihak merupakan ”mitra” atau ”partner”.
b. Kemitraan adalah proses pencarian/perwujudan bentuk-bentuk kebersamaan yang saling
menguntungkan dan saling mendidik secara sukarela untuk mencapai kepentingan bersama.
c. Kemitraan adalah upaya melibatkan berbagai komponen baik sektor, kelompok masyarakat,
lembaga pemerintah atau non-pemerintah untuk bekerja sama mencapai tujuan bersama
berdasarkan atas kesepakatan, prinsip, dan peran masing-masing.
d. Kemitraan adalah suatu kesepakatan dimana seseorang, kelompok atau organisasi untuk
bekerjasama mencapai tujuan, mengambil dan melaksanakan serta membagi tugas,
menanggung bersama baik yang berupa resiko maupun keuntungan, meninjau ulang hubungan
masing-masing secara teratur dan memperbaiki kembali kesepakatan bila diperlukan.
• Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) arti kata mitra adalah
teman, kawan kerja, pasangan kerja, rekan. Kemitraan artinya perihal
hubungan atau jalinan kerjasama sebagai mitra.Kemitraan pada esensinya
adalah dikenal dengan istilah gotong royong atau kerjasama dari berbagai
pihak, baik secara individual maupun kelompok.

• Kemitraan adalah upaya yang melibatkan berbagai sektor, kelompok


masyarakat, lembaga pemerintah maupun bukan pemerintah, untuk
bekerjasama dalam mencapai suatu tujuan bersama berdasarkan
kesepakatan prinsip dan peran masing-masing, dengan demikian untuk
membangun kemitraan harus memenuhi beberapa persyaratan yaitu
persamaan perhatian, saling percaya dan saling menghormati, harus
saling menyadari pentingnya kemitraan, harus ada kesepakatan misi, visi,
tujuan dan nilai yang sama, harus berpijak padalandasan yang sama,
kesediaan untuk berkorban.
2. Unsur-Unsur Kemitraan
Adapun unsur-unsur kemitraan adalah :
1. Adanya hubungan (kerjasama) antara dua pihak atau lebih
2. Adanya kesetaraan antara pihak-pihak tersebut
3. Adanya keterbukaan atau kepercayaan (trust relationship) antara pihak-pihak tersebut
4. Adanya hubungan timbal balik yang saling menguntungkan atau memberi manfaat.

Menurut Ansarul Fahruda, dkk (2005), untuk membangun sebuah kemitraan, harus didasarkan pada hal-hal berikut :
a. Kesamaan perhatian (common interest) atau kepentingan
b. Saling mempercayai dan saling menghormati
c. Tujuan yang jelas dan terukur
d. Kesediaan untuk berkorban baik, waktu, tenaga, maupun sumber daya yang lain.
3. Prinsip Kemitraan
Terdapat 3 prinsip kunci yang perlu dipahami dalam membangun suatu kemitraan oleh masing-masing anggota
kemitraan yaitu:

a. Prinsip Kesetaraan (Equity)


Individu, organisasi atau institusi yang telah bersedia menjalin kemitraan harus merasa sama atau sejajar
kedudukannya dengan yang lain dalam mencapai tujuan yang disepakati.

b. Prinsip Keterbukaan
Keterbukaan terhadap kekurangan atau kelemahan masing-masing anggota serta berbagai sumber daya yang dimiliki.
Semua itu harus diketahui oleh anggota lain. Keterbukaan ada sejak awal dijalinnya kemitraan sampai berakhirnya
kegiatan. Dengan saling keterbukaan ini akan menimbulkan saling melengkapi dan saling membantu diantara golongan
(mitra).

c. Prinsip Azas manfaat bersama (mutual benefit)


Individu, organisasi atau institusi yang telah menjalin kemitraan memperoleh manfaat dari kemitraan yang terjalin
sesuai dengan kontribusi masing-masing. Kegiatan atau pekerjaan akan menjadi efisien dan efektif bila dilakukan
bersama.
Beberapa prinsip kemitraan yang lainnya yaitu:
1. Saling menguntungkan (mutual benefit)
Saling menguntungkan disini bukan hanya materi tetapi juga non materi, yaitu dilihat dari kebersamaan atau sinergisme dalam mencapai tujuan.

2. Pendekatan berorientasi hasil


Tindakan kemanusiaan yang efektif harus didasari pada realitas dan berorientasi pada tindakan. Hal ini membutuhkan koordinasi yang berorientasi hasil dan
berbasis pada kemampuan efektif dan kapasitas operasional yang konkrit.

3. Keterbukaan (transparansi)
Apa yang menjadi kelebihan dan kekurangan tiapanggota mitra harus diketahhui oleh anggota yang lain Transparansi dicapai melalui dialog (pada tingkat yang
setara) dengan menekankan konsultasi dan pembagian informasi terlebih dahulu. Komunikasi dan transparansi, termasuk transparansi finansial, membantu
meningkatkan kepercayaan antar organisasi.

4. Kesetaraan
Masing-masing pihak yang bermitra harus merasa duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi, tidak boleh satu anggota memaksakan kehendak kepada yang
lain. Kesetaraan membutuhkan rasa saling menghormati antar anggota kemitraan tanpa melihat besaran dan kekuatan. Para peserta harus saling
menghormati mandat kewajiban dan kemandirian dari anggota yang lain serta memahami keterbatasan dan komitmen yang dimiliki satu sama lain. Sikap
saling menghormati tidak menghalangi masing-masing organisasi untuk terlibat dalam pertukaran pendapat yang konstruktif.

5. Tanggung Jawab
Organisasi kemanusiaan memiliki tanggung jawab etis terhadap satu sama lain dalam menempuh tugas-tugasnya secara bertanggung jawab dengan integritas
dan cara yang relevan dan tepat. Organisasi kemanusiaan harus meyakinkan bahwa mereka hanya akan berkomitmen terhadap sesuatu kegiatan ketika
mereka memang memiliki alat, kompetensi, keahlian dan kapasitas untuk mewujudkan komitmen tersebut. Pencegahan yang tegas dan jelas terhadap
penyelewengan yang dilakukan oleh para pekerja kemanusiaan harus menjadi usaha yang berkelanjutan.

6. Saling Melengkapi
Keragaman dari komunitas kemanusiaan adalah sebuah aset bila dibangun atas kelebihan-kelebihan komparatif dan saling melengkapi kontribusi yang satu
dengan yang lain. Kapasitas lokal adalah salah satu aset penting untuk ditingkatkan dan menjadi dasar pengembangang. Ketika memungkinkan, organisasi-
organisasi kemanusiaan harus berjuang untuk menjadikan aset lokal sebagai bagian integral dari tindakan tanggap darurat dimana hambatan budaya dan
bahasa harus diatasi.
Prinsip-prinsip kemitraan menurut WHO untuk membangun
kemitraan kesehatan
         Policy-makers (pengambil kebijakan)
         Health managers
         Health professionals
         Academic institutions
         Communities institutions
4. Ruang Lingkup Kemitraan
Adapun ruang lingkup kemitraan secara garis besar
adalah :
a) Persiapan;
b) Inisiasi Kemitraan;
c) Pelaksanaan kerjasama;
d) Pelaporan;
e) Publikasi hasil pelaksanaan
5. Model-Model Kemitraan dan Jenis Kemitraan
Secara umum, model kemitraan dalam sektor kesehatan dikelompokkan menjadi dua
(Notoadmodjo, 2003) yaitu:
a. Model I
Model kemitraan yang paling sederhana adalah dalam bentuk jaring kerja (networking) atau
building linkages. Kemitraan ini berbentuk jaringan kerja saja. Masing-masing mitra memiliki
program tersendiri mulai dari perencanaannya, pelaksanaannya hingga evalusi. Jaringan
tersebut terbentuk karena adanya persamaan pelayanan atau sasaran pelayanan atau
karakteristik lainnya.
b. Model II
Kemitraan model II ini lebih baik dan solid dibandingkan model I. Hal ini karena setiap mitra
memiliki tanggung jawab yang lebih besar terhadap program bersama. Visi, misi, dan kegiatan-
kegiatan dalam mencapai tujuan kemitraan direncanakan, dilaksanakan, dan dievaluasi
bersama.
Menurut Beryl Levinger dan Jean Mulroy (2004), ada empat jenis atau tipe
kemitraan yaitu:

a. Potential Partnership
Pada jenis kemitraan ini pelaku kemitraan saling peduli satu sama lain tetapi belum bekerja bersama
secara lebih dekat.

b. Nascent Partnership
Kemitraan ini pelaku kemitraan adalah partner tetapi efisiensi kemitraan tidak maksimal

c. Complementary Partnership
Pada kemitraan ini, partner/mitra mendapat keuntungan dan pertambahan pengaruh melalui perhatian
yang besar pada ruang lingkup aktivitas yang tetap dan relatif terbatas seperti program delivery dan
resource mobilization.

d. Synergistic Partnership
Kemitraan jenis ini memberikan mitra keuntungan dan pengaruh dengan masalah pengembangan sistemik
melalui penambahan ruang lingkup aktivitas baru seperti advokasi dan penelitian.
Bentuk-bentuk/tipe kemitraan menurut Pusat Promosi Kesehatan
Departemen Kesehatan RI yaitu terdiri dari aliansi, koalisi, jejaring,
konsorsium, kooperasi dan sponsorship.

Bentuk-bentuk kemitraan tersebut dapat tertuang dalam:


a. SK bersama
b. MOU (Memorantum of understanding)
c. Pokja
d. Forum Komunikasi
e. Kontrak Kerja/perjanjian kerja
6. Dasar Kemitraan

1. Kesaamaan perhatian 2. Saling mempercayai dan


(common interest) atau saling menghormati
kpentingan

Dasar
Kemitraan

4. Kesediaan untuk
3. Tujuan yang jelas dan berkorban baik waktu,
terukur tenaga, maupun sumber
daya yang lain
7. Tahap-Tahap Kemitraan
Untuk mengembangkan kemitraan di bidang kesehatan secara konsep terdiri
atas 3 tahap yaitu:
1. Kemitraan lintas program di lingkungan sektor kesehatan sendiri
2. Kemitraan lintas sektor di lingkungan institusi pemerintah
3. Membangun kemitraan yang lebih luas, lintas program, lintas sektor
lintas bidang dan lintas organisasi yang mencakup:
a) Unsur pemerintah
b) Unsur swasta atau dunnia usaha
c) Unsur LSM da organisasi massa
d) Unsur organisasi profesi
8. Dasar Pemikiran Kemitraan dalam Kesehatan
1. Kesehatan adalah hak azasi manusia, merupakan investasi, dan sekaligus merupakan
kewajiban bagi semua pihak.
2. Masalah kesehatan saling berkaitan dan saling mempengaruhi dengan masalah lain, seperti
masalah pendidikan, ekonomi, sosial, agama, politik, keamanan, ketenagakerjaan,
pemerintahan, dll.
3. Karenanya masalah kesehatan tidak dapat diatasi oleh sektor kesehatan sendiri, melainkan
semua pihak juga perlu peduli terhadap masalah kesehatan tersebut, khususnya kalangan

swasta.
4. Dengan peduli pada masalah kesehatan tersebut, berbagai pihak khususnya pihak swasta
diharapkan juga memperoleh manfaat, karena kesehatan meningkatan kualitas SDM dan
meningkatkan produktivitas.
5. Pentingnya kemitraan (partnership) ini mulai digencarkan oleh WHO pada konfrensi
internasional promosi kesehatan yang keempat di Jakarta pada tahun 1997.
6. Sehubungan dengan itu perlu dikembangkan upaya kerjsama yang saling memberikan
manfaat. Hubungan kerjasama tersebut akan lebih efektif dan efisien apabila juga didasari
9. Tujuan Kemitraan
Tujuan umum :
         Meningkatkan percepatan, efektivitas dan efisiensi upaya kesehatan dan upaya
pembangunan pada umumnya.

Tujuan khusus :
         Meningkatkan saling pengertian
         Meningkatkan saling percaya
         Meningkatkan saling memerlukan
         Meningkatkan rasa kedekatan
         Membuka peluang untuk saling membantu
         Meningkatkan daya, kemampuan, dan kekuatan
         Meningkatkan rasa saling menghargai

Hasil yang diharapkan :


         Adanya percepatan, efektivitas dan efisiensi berbagai upaya termasuk kesehatan.
10. Perilaku Kemitraan
Adalah semua pihak, semua komponen masyarakat dan unsur pemerintah, Lembaga
Perwakilan Rakyat, perguruan tinggi, media massa, penyandang dana, dan lain-lain,
khususnya swasta.

6 langkah pengembangan kemitraan :


1. penjajagan/persiapan,
2. penyamaan persepsi,
3. pengaturan peran,
4. komunikasi intensif,
5. melakukan kegiatan, dan
6. melakukan pemantauan & penilaian.
   Beberapa alternatif peran yang dapat dilakukan, sesuai keadaan, masalah
dan potensi setempat adalah :
1. Initiator : memprakarsai kemitraan dalam rangka sosialisasi dan
operasionalisasi Indonesia Sehat.
2. Motor/dinamisator : sebagai penggerak kemitraan, melalui pertemuan,
kegiatan bersama, dll.
3. Fasilitator : memfasiltasi, memberi kemudahan sehingga kegiatan kemitraan

dapat berjalan lancar.


4. Anggota aktif : berperan sebagai anggota kemitraan yang aktif.
5. Peserta kreatif : sebagai peserta kegiatan kemitraan yang kreatif.
6. Pemasok input teknis : memberi masukan teknis (program kesehatan).
7. Dukungan sumber daya : memberi dukungan sumber daya sesuai keadaan,
masalah dan potensi yang ada.
Indikator keberhasilan dalam kemitraan
1. Indikator input : Jumlah mitra yang menjadi anggota.
2. Indikator proses :Kontribusi mitra dalam jaringan kemitraan, jumlah pertemuan yang
diselenggarakan, jumlah dan jenis kegiatan bersama yang dilakukan, keberlangsungan
kemitraan yang dijalankan.
3. Indikator output : Jumlah produk yang dihasilkan, percepatan upaya yang dilakukan,
efektivitas dan efisiensi upaya yang diselenggarakan.

Contoh Kemitraan dalam Kesehatan


1. AIMI (Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia)
2. Balai Keperawatan
3. Kemitraan antara bidan dengan dukun bayi
4. Paguyuban Penderita Tuberkulosis
11. Syarat Dalam Kemitraan
1. Kesamaan perhatian 4. Kesepatan visi, misi,
(common interest) tujuan dan nilai

2. Saling mempercayai 5. Berpijak pada


dan menghormati landasan yang sama

3. Saling menyadari
6. Kesediaan untuk
pentingnya arti
berkorban
kemitraan
12. Peran Dalam Kemitraan
Beberapa contoh dibawah ini adalah peranan sektor atau ormas dalam
membangun kemitraan :
1. Sektor Kesehatan : sebagai penggerak, perumus standar/pedoman.
2. Sektor diluar kesehatan : pengembang kebijakan lingkungan dan perilaku
sehat.
3. Organisasi profesi : memberi masukan, pengembangan, dukungan
sumberdaya dan peran aktif.
4. Ormas dan LSM : memberi masukan, pengembangan, dukungan
sumberdaya dan peran aktif.
5. Media masa : memberi masukan, penyebarluasan informasi.
6. Swasta : memberi dukungan sumber daya dalam bentuk sarana, dana, dan
tenaga.
PROMOSI KESEHATAN
1. Pengertian Promosi Kesehatan
Suatu proses memberdayakan atau memandirikan
masyarakat untuk memelihara, meningkatkan dan
melindungi kesehatannya melalui peningkatan kesadaran,
kemauan dan kemampuan, serta pengembangan
lingkungan sehat.
2. Strategi Promosi Kesehatan
Strategi Promosi Kesehatan (WHO, 1994) :
1.      Advokasi (Advocacy)
2.      Dukungan sosial (Social Support)
3.      Pemberdayaan Masyarakat (Empowerment)
STRATEGI BARU PROMOSI KESEHATAN (Ottawa
Charter, 1986)

- Kebijakan berwawasan kesehatan (Healthy public policy)


- Lingkungan yang mendukung (Supportive environment)
- Reorientasi pelayanan kesehatan (Reorient health
service)
- Ketrampilan individu (personnel skill)
- Gerakan masyarakat (community action)
3. Sistem Kemitraan Dalam Pelayanan
Kesehatan
  Input
Meliputi Jenis dan jumlah instansi/sektor yang akan diajak
bermitra, mengkaji potensi masing-masing sektor, yang
meliputi :
a.  Sumberdaya manusia
b.  Keuangan
c.  Tugas pokok dan fungsi masing-masing
d.  Prediksi peran masing-masing.
  Proses
- Diadakan pertemuan dengan tahapan :
a. Penjajakan
b. Sosialisasi / advokasi
c. Dibangun kesepakatan
- Pertemuan pendalaman dan penyusunan rencana
kegiatan
  Output
- Tersusunnya rencana kerja yang berisi :
a. Program
b. Kegiatan
c. Penanggung jawab
d. Peran masing-masing
e. Lokasi
f.  Waktu
g. Biaya
- Pelaksanaan Kegiatan
- Monitoring dan Evaluasi
  Outcome
Indikator Kesehatan Membaik :
a) ANGKA KESAKITAN (IR, PR)
b) ANGKA KEMATIAN
c) ANGKA KELAHIRAN
d) UMUR HARAPAN HIDUP
e) PERILAKU KESEHATAN
f)  STATUS GIZI
THANK YOU

Anda mungkin juga menyukai