Anda di halaman 1dari 14

Fraktur Kompresi Vertebra

ec Osteoporosis

I Komang Yudhistira, A. Md. Ft, S. Ft


Pengantar Osteporosis
• Osteoporosis adalah suatu kelainan tulang yang ditandai dengan
penurunan kekuatan tulang sehingga meningkatkan predisposisi
seseorang terhadap resiko fraktur.
• Klasifikasi nilai BMD (Bone Mass Density) & BMC (Bone Mineral Content)
berdasarkan kriteria WHO:
– Normal: nilai BMD atau BMC > -1 SD.
– Massa tulang rendah (osteopeni): BMD atau BMC -1 s/d -2.5 SD.
– Osteoporosis: BMD atau BMC ≥ -2.5 SD.
– Osteoporosis berat: BMD atau BMC > -2.5 SD dengan adanya satu atau
lebih fraktur.
Anatomi
Epidemiologi
• Di Amerika Serikat, 700.000 dari 1.5 juta kasus fraktur
akibat osteoporosis adalah fraktur pada regio vertebra.
• Lebih banyak menyerang etnis Kaukasian/Eropa daripada
Afro-America.
• Laju peningkatan terjadinya fraktur vertebra:
– Wanita usia 50 – 60 tahun: insidensi 0.9% & prevalensi
5% - 10%.
– Usia > 80 tahun: insidensi 1.7% & prevalensi > 30%.
Faktor Resiko
• Modified:
– Konsumsi alcohol & tembakau.
– Defisiensi estrogen.
– Gangguan penglihatan mata.
– Kurangnya aktifitas fisik.
– Defisiensi kalsium & vit. D.
• Unmodified:
– Usia.
– Wanita.
– Ras Kaukasian & Asia.
– Dementia.
– Riwayat fraktur sebelumnya.
Patofisiologi
• Fraktur akut terjadi ketika vertebra tidak mampu menyangga berat tubuh bagian
atas.
• Lansia dengan Riwayat osteoporosis akan dengan mudah mengalami fraktur
vertebra ketika batuk atau mengejan.
• Tekanan besar dari cedera mengakibatkan retak pada bagian anterior korpus
vertebra.
• Sehingga mengakibatkan berkurangnya tinggi pada sisi anterior tubuh dan sisi
posterior tubuh seolah memanjang > kyphotic posture.
• Postur kifosis dapat mengakibatkan costa menekan pelvis sehingga rongga
thoracoabdominal menyempit. Dalam kasus yang berat, dapat mengakibatkan
gangguan fungsi paru.
Gejala
• Nyeri punggung/upper back pain.
• Loss of height.
• Kifosis progresif.
Sindroma 14 I
1. Immobility (kurang bergerak)
2. Instability (mudah jatuh)
3. Incontinence (beser BAB/BAK)
4. Intellectual impairment (gangguan intelektual/demensia)
5. Infection (infeksi)
6. Impairement of hearing, vision and smell (gangguan
pendengaran, penglihatan dan penciuman)
Sindroma 14 I
7. Isolation (Depression)
8. Inanition (malnutrisi)
9. Impecunity (kemiskinan)
10. Iatrogenic (menderita penyakit pengaruh obat-obatan)
11. Insomnia(sulit tidur)
12. Immuno-defficiency (penurunan sistem kekebalan tubuh)
13. Impotence(Gangguan seksual)
14. Impaction (sulit buang air besar)
Pemeriksaan Fisik
• Pemeriksaan daerah yang sebelumnya
mengalami fraktur.
• Pengukuran TB.
Keterbatasan Fungsional
• Nyeri punggung akut & kronis.
• Kesulitan mobilisasi.
• Berkurangnya tinggi badan.
• Distensi perut.
• Sesak nafas.
Pemeriksaan Penunjang
• Bone Mass Densitometry (BMD).
• X-Ray.
• Pemeriksaan lab.
Tujuan Tatalaksana
• Mencegah terjadinya fraktur berulang.
• Stabilitas massa tulang/peningkatan
massa tulang.
• Mengurangi gejala dari fraktur dan
deformitas.
• Mengoptimalkan fungsi fisik.