Anda di halaman 1dari 14

PSIKOLOGI DALAM PRAKTIK

KEBIDANAN

DOSEN PENGAMPU :
FEBBY HERAYONO, S.SiT, M.Keb
PERTEMUAN 6
KEBIJAKAN ASUHAN PADA
PEREMPUAN DENGAN GANGGUAN
KESEHATAN MENTAL BAIK LOKAL,
NASIONAL, DAN INTERNASIONAL
GANGGUAN KESEHATAN MENTAL MENURUT WHO

• World Health Organization (WHO) memperkirakan


prevalensi gangguan kesehatan mental akan mencapai
15% - 20% pada tahun 2020 (Campos, Dias, dan Palha,
2014)
• Berdasarkan survei oleh the World Mental Health (WMH)
yang dilakukan pada 14 negara, sebanyak 50% dari kasus
gangguan mental berat terjadi di Negara berkembang
(Ganasen, Parker, Hugo, Stein, Emsley, dan Seedat, 2008)
GANGGUAN KESEHATAN MENTAL MENURUT WHO

• Pentingnya meningkatkan literasi kesehatan mental,


sesuai dengan rencana World Health Organization
(WHO), dimana Kesehatan mental adalah komponen
esensial dari ikatan (kohesi) sosial, produktivitas,
kedamaian dan stabilitas lingkungan, berkontribusi
pada perkembangan sosial dan ekonomi di
masyarakat.
GANGGUAN KESEHATAN MENTAL MENURUT WHO

• WHO menetapkan promosi kesehatan mental sebagai prioritas


kesehatan publik (Campos, Dias, dan Palha, 2014).
• Tujuan utama bagi masyarakat adalah agar pasien gangguan
mental segera mengambil tindakan untuk mencari bantuan
profesional. Sehingga pasien memperoleh dan patuh pada
proses penanganan yang berdasarkan evidence-based yang
tepat, penderita juga mendapatkan dukungan dari keluarga
dan orang lain di lingkungan sosial.
• Promosi kesehatan mental bertujuan untuk mempromosikan kesehatan
mental yang positif. Cara yang dapat dilakukan adalah dengan meningkatan
kesejahteraan psikologis, kompetensi, ketahanan manusia, serta
menciptakan kondisi dan lingkungan hidup yang mendukung (WHO, 2002).

• Promosi kesehatan mental dapat dilakukan dengan mengumpulkan data


terkait insidensi gangguan tersebut supaya masyarakat meningkat
kesadarannya dan mendapat pengetahuan terkait permasalahan. Selain itu,
tindakan pemeliharaan lingkungan hidup seperti pemeliharaan kesehatan
dan kebugaran badan, pemeliharaan masa kehamilan khususnya pada
masa prenatal dan pascanatal serta gizi makanan penting dilakukan.
Perubahan gaya hidup seperti nutrisi yang baik, olahraga dan tidur yang
cukup dapat mendukung kesehatan mental (Herrman, et al., 2005)
• Prevensi kesehatan mental berfokus pada mengurangi risk factor
dan meningkatkan protective factor yang terkait dengan
kesehatan mental (WHO, 2004).
• Deteksi dini dan mengenalkan bagaimana penanganan perilaku
maladaptif dalam keluarga dan komunitas menjadi fokus yang
sering dilakukan dalam tindakan prevensi.
• Prevensi dan promosi seringkali hadir dalam program dan
strategi yang sama. Walaupun begitu, hasil yang didapat
berbeda namun saling melengkapi. Untuk itu, promosi dan
prevensi harus dipahami sebagai pendekatan konseptual yang
berbeda tetapi saling terkait.
Intervensi yang Umum Digunakan Untuk
Meningkatkan Penyesuaian Diri.

• Intervensi individual, biasanya berupa konseling atau


psikoterapi
• Intervensi berbasis keluarga (family-based
intervention)
• Intervensi sekolah (school-based intervention)
• Intervensi pada komunitas (community-based
interventions)
GANGGUAN KESEHATAN MENTAL DI INDONESIA
• Berdasarkan data Riskesdas tahun 2013, prevalensi
penduduk Indonesia yang mengalami gangguan mental
emosional secara nasional adalah 6%.
• Prevalensi kasus gangguan psikosis yang paling tinggi
ada di Yogyakarta dan Aceh yaitu 2,7 permil.
• Jawa Tengah memiliki 2,3% penderita gangguan mental
berat sedangkan penderita gangguan mental emosional di
Jawa Tengah memiliki sekitar 4,7% dari populasi
(Riskesdas, 2013).
KEBIJAKAN NASIONAL TERKAIT KESEHATAN
MENTAL
• Kebijakan nasional yang berhubungan dengan kesehatan
mental di Indonesia di atur Dalam Undang-Undang Nomor 18
Tahun 2014 tentang Kesehatan Jiwa
• Secara umum disebutkan bahwa Undang-Undang Dasar
Negara Republik Indonesia Tahun 1945 menjamin setiap orang
dapat hidup sejahtera lahir dan batin serta memperoleh
pelayanan kesehatan dengan penyelenggaraan pembangunan
kesehatan.
• Tujuan pembangunan kesehatan yang hendak dicapai
yaitu terwujudnya derajat kesehatan yang setinggi-
tingginya. Untuk mencapai tujuan tersebut, perlu
dilakukan berbagai upaya kesehatan termasuk Upaya
Kesehatan Jiwa dengan pendekatan promotif, preventif,
kuratif, dan rehabilitatif.
• Upaya Kesehatan Jiwa harus diselenggarakan secara
terintegrasi, komprehensif, dan berkesinambungan oleh
Pemerintah, Pemerintah Daerah, dan/atau masyarakat.
Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2014 tentang Kesehatan
Jiwa dimaksudkan untuk :
• Menjamin setiap orang dapat mencapai • Memberikan pelayanan kesehatan secara
kualitas hidup yang baik, terintegrasi, komprehensif, dan
• Menikmati kehidupan kejiwaan yang berkesinambungan melalui upaya promotif,
sehat, bebas dari ketakutan, tekanan, dan preventif, kuratif, dan rehabilitatif;
gangguan lain yang dapat mengganggu • Menjamin ketersediaan dan keterjangkauan
Kesehatan Jiwa; sumber daya dalam Upaya Kesehatan Jiwa;
• Menjamin setiap orang dapat • Meningkatkan mutu Upaya Kesehatan Jiwa
mengembangkan potensi kecerdasan; sesuai dengan perkembangan ilmu
• Memberikan pelindungan dan menjamin pengetahuan dan teknologi;
pelayanan Kesehatan Jiwa bagi ODMK • Memberikan kesempatan kepada ODMK dan
dan ODGJ berdasarkan hak asasi ODGJ untuk dapat melaksanakan hak dan
manusia; kewajibannya sebagai Warga Negara
Indonesia.
TERIMA KASIH
catt :
• Literasi merupakan kemampuan yang penting untuk dimiliki seseorang karena
dengan memiliki kemampuan literasi paling dasar pun seseorang dapat lebih
meningkatkan pengetahuan dan potensi untuk mencapai tujuan mereka sehingga
dapat berpartisipasi lebih di masyarakat, baik secara ekonomi maupun sosial
(Public Health in the 21st Century: Health Literacy in Context: International
Perspectives, 2012).
• Literasi kesehatan adalah derajat kemampuan seseorang untuk mendapat,
memproses. serta memahami informasi kesehatan dasar dan pelayanan yang
dibutuhkan untuk membuat keputusan terkait kesehatan yang sesuai

Anda mungkin juga menyukai