Anda di halaman 1dari 20

Chronic Myeloid

Leukemia
(BUKU AJAR IPD PAPDI Ed VI)
Sub Divisi HOM
Definisi

• Gangguan mieloproliferatif dari primitive hematopoietic stem cell yang


dikarakteristikkan dengan produksi berlebihan sel seri myeloid
Definisi (lanj.)

• Tahun 1960 Nowell dan Hungerford menemukan kelainan kromosom 22q


atau hilangnya sebagian lengan panjang dari kromosom 22,yang saat ini
dikenal sebagai kromosom Philadelphia (Ph)
• Tahun 1980 diketahui bahwa pada kromosom 22 tadi, ternyata didapatkan
adanya gabungan antara gen yang ada di lengan Panjang kromosom 9
(9q3a), yakni ABL (Abelson) dengan gen BCR (break cLuster region) yang
terletak di lengan Panjang kromosom 22 (22q1,7)
• Gen BCR-ABL, diduga kuat sebagai penyebab utama terjadinya kelainan
proliferasi pada CML.
Diagnosis

Fase Kronis

Fase Akselerasi

Fase Krisis Blast


(NCCN, 2020)
Diagnosis (lanj.)
Tanda dan Gejala Klinis
• Seringkali ditemukan secara kebetulan (misal persiapan operasi -> leukositosis
hebat)
• Pada fase kronis dapat ditemukan pembesaran limpa, cepat kenyang, kadang nyeri
perut kanan atas
Diagnosis (lanj.)
Tanda dan Gejala Klinis
• Ciri khas fase akselerasi adalah: leukositosis yang sulit dikontrol oleh obat-obat
mielosupresif, mieloblas di perifer mencapai 15-30%, promielosit >30%, dan
trombosit <100.000/mm3
• Secara klinis, fase ini dapat diduga bila limpa yang tadinya sudah mengecil dengan
terapi kembali membesar, keluhan anemia bertambah berat, timbul petekie, ekimosis.
Bila disertai demam, biasanya ada infeksi.
Diagnosis (lanj.)
Pemeriksaan Penunjang
• Hematologi rutin. Pada fase kronis, Hb umumnya normal atau sedikit menurun,
leukosit antara 20-60.000/mm3. Persentasi eosinofil dan/atau basofil meningkat.
Trombosit biasanya meningkat antara 500-600.000/mm
• Apus Darah Tepi. Eritrosit sebagian besar normokrom normositer, sering ditemukan
polikromasi eritroblas asidofil atau polikromatofil. Tampak seluruh tingkatan
diferensiasi dan maturasi seri granulosit, persentasi sel mielosil dan metamielosit
meningkat, demikian juga persentas eosinofil dan atau basofil
Diagnosis (lanj.)
Pemeriksaan Penunjang
• Apus Sumsum Tulang. Selularitas meningkat (hiperselular) akibat proliferasi sel-sel
leukemia, sehingga rasio myeloid : eritroid meningkat. Megakariosit juga tampak
lebih banyak. Dengan pewarnaan retikulin, tampak bahwa stroma sumsum tulang
mengalami fibrosis.
Tata Laksana
• Tujuan terapi : mencapai remisi lengkap: hematologi, sitogenetik, biomolekular.
Digunakan obat-obat mielosupresif. Lanjut terapi interferon dan/atau cangkok
sumsum tulang. Obat-obat yang digunakan:
• Hydroxyurea. Merupakan terapi terpilih untuk induksi remisi hematologic. Dosis
30mg/kgBB/hari diberikan sebagai dosis tunggal maupun dibagi 2-3 dosis. Apabila
leukosit >300.000/mm3, dosis boleh ditinggikan sampai maksimal 2.5 gram/hari.
Selama penggunaan, harus dipantau Hb, AL, AT, fungsi ginjal, fungsi hati.
Penggunaan dihentikan dulu bila AL <8.000/mm3 atau AT <100.000/mm3. Interaksi
obat dengan 5-FU, menyebabkan neurotoksisitas.
Tata Laksana (lanj.)

• Busulfan. Dosis 4-8mg/hr per oral, dapat dinaikkan s/d 12mg/hr. Hentikan
bila AL 10-20.000/mm3, mulai kembali setelah AL > 50.000/mm3. Wanita
hamil tidak boleh. Interaksi obat: asetaminofen, siklofosfamid, itrakonazol
(meningkatkan efek busulfan), fenitoin (menurunkan efek). Sebaiknya disertai
dengan alopurinol dan hidrasi yang baik. Dapat menyebabkan fibrosis paru
dan supresi sumsum tulang yang berkepanjangan
• Imatinib mesylate. Tergolong antibodi monoklonal untuk menghambat
aktivitas tirosin kinase dari fusi gen BCR-ABL. Untuk fase kronik, dosis
400mg/hr pc s/d 600mg/hr bila tidak mencapai respons hematologik setelah 3
bulan pemberian. Turunkan dosis bila : netropeni berat (<500/mm3) /
trombositopenia berat (<50.000/mm3)/peningkatan sGOT/sGPT, bilirubin.
Tata Laksana (lanj.)
• Imatinib mesylate
• Fase akselerasi atau krisis blas, dapat langsung 800mg/hr (400mg b.i.d). Tidak boleh
pada wanita hamil. Interaksi obat: ketokonazol, simvastatin, fenitoin. Dapat
menghasilkan remisi sitogenetik -> hilang/berkurangnya kromosom Ph dan remisi
biologis -> berkurangnya ekspresi gen BCR-ABL atau protein yang dihasilkannya.
• Interferon alfa-2a atau Interferon alfa-2b. Dapat mencapai remisi sitogenetik. Dosis
5 juta IU/m2/hr s.c. sampai tercapai remisi sitogenetik. Sediaan pegilasi ->
penyuntikan cukup sekali seminggu. Perlu premedikasi analgetik dan antipiretik.
Interaksi obat: teofilin, simetidin, vinblastine dan zidovudine. Hati-hati pemberian
pada usia lanjut, gangguan faal hati dan ginjal yang berat, pasien epilepsy.
Tata Laksana (lanj.)
Cangkok sumsum tulang
• Merupakan terapi definitive, dapat memperpanjang masa remisi sampai >9 tahun,
terutama pada CST alogenik. Tidak dilakukan pada CML dengan kromosom Ph
negatif atau BCR-ABL negative.
Seorang laki-laki 36 tahun datang dengan keluhan perdarahan gusi disertai bitnik-bitnik
merah di kulitsejak 1 minggu sebelum MRS. Sejak 6 bulan yang lalu, pasien merasa
perutnya bertambah besar, sehingga terasa lebih cepat kenyang dan tidak nafsu makan,
selain itu pasien mengeluh sering demam. Pada pemeriksaan fisik didapatkan
pembesaran hati 3 jari di bawah arkus kosta dan pembesaran limpa S V. Dari hasil darah
rutin : Hb: 8 gr/dl, Ht: 24%, trombosit 58.000/mm3 dan leukosit 586.000/mm3, hitung jenis
(0/0/1/58/14/6), sel blast: 20%, promielosit : 40%, mietamielosit: 3%, mielosit: 2%.
Apa masalah yang paling mungkin pada pasien tersebut?
a. Leukemia mieloblastik
b. Leukemia limfositik kronik
c. Leukemia granulositik kronik fase krisis blast
d. Leukemia granulositik kronik fase akselerasi
e. Leukemia granulositik kronik fase kronik
Seorang wanita 40 tahun masuk rumah sakit dengan keluhan badan terasa
lemas sejak 1 bulan terakhir. Pasien juga mengeluh cepat merasa kenyang
dan terdapat benjolan di perut kiri atas. Pada pemerikaan apusan sumsum
tulang ditemukan Chronic Myeloid Leukemia (CML). Kriteria remisi biologis
pada penyakit ini adalah
a. Wbc< 10.000/μl, plt< 450.000/μl
b. Splenomegali hilang, tidak ada tanda atau gejala penyakit
c. Hilangnya kromosom Philadelphia
d. Berkurangnya ekspresi gen BCR-ABL atau protein yang
dihasilkannya
e. Tidak ditemukannya sel immature
Matur Nuwun