Anda di halaman 1dari 13

FISIOLOGI TUMBUHAN

ANALISIS PERTUMBUHAN
 Analisis pertumbuhan dimaksudkan untuk mengukur pertumbuhan
tanaman melalui pengukuran proses-proses fisiologi yang terjadi
pada tanaman.
 Pengukuran melalui analisis pertumbuhan terutama didasarkan pada
berat kering tanaman, karena pengukuran menggunakan berat basah
sering memberikan hasil yang bias.
 Melalui analisis pertumbuhan dapat dijadikan rujukan untuk
memprediksi hasil yang kemungkinan dapat dicapai.
 Analisis pertumbuhan sesungguhnya tidak membutuhkan alat yang
canggih dan metode yang sulit, akan tetapi hasil yang diperoleh lebih
dapat dipercaya dibandingkan dengan mengukur pertumbuhan
tanaman melalui morfologi: tinggi tanaman, diameter batang, jumlah
daun dll.
LAJU TUMBUH RELATIF (LTR)
 Laju pertumbuhan tanaman (C) biasanya hanya didasarkan pada
berat kering tanaman secara keseluruhan. Laju pertumbuhan tanaman
dapat dinyatakan atas dasar satu tanaman, yaitu pertambahan berat
kering tanaman dalam satu hari (g tanaman-1 hari-1), akan tetapi lebih
umum dan lebih baik adalah dinyatakan atas dasar satuan luas
tanaman (g m-2 hari-1) hal tersebut dapat dinyatakan sebagai
dw/dr
w = berat kering tanaman
r = waktu pengamatan

  Pertumbuhan tanaman tidak dapat diukur secara langsung. Akan
tetapi dapat dihitung dari berat kering yang ditentukan pada waktu
tertentu. Pendekatan yang lebih klasik adalah menghitung
pertumbuhan tanaman secara rata-rata untuk periode waktu dua
waktu pengambilan sampel. Rumusnya adalah :

Pertumbuhan rata-rata (P) = W2-W1/T2-T1

 Sedangkan laju tumbuhan relatif dapat diukur dengan rumus


LTR (Gardner, dkk. 1991)
T2 – T1 = waktu pengambilan sampel yang berurutan
W2-W1 = berat kering sampel pada pengambilan pertama (T1) dan
pengambilan sampel kedua (T2)
LAJU ASIMILASI BERSIH (LAB)
 LAB dapat dipandang sebagai ukuran efisiensi dari setiap satuan luas
daun melalukan fotosintesis untuk menambah berat kering tanaman.
LAB merupakan gambaran hasil asimilasi bersih dari suatu tanaman.
Walaupun di dalam LAB juga terdapat bahan mineral, tetapi ini
bukan merupakan bagian yang besar karena mineral hanya menyusun
maksimal 5% dari berat tanaman.
 Ada anggapan bahwa terdapat hubungan yang linear antara luas daun
dengan berat tanaman. Anggapan ini ada benarnya pada fase
ontogeni awal, akan tetapi kurang tepat pada fase-fase berikutnya,
karena laju pertumbuhan luas daun dapat melampauhi laju
pertambahan berat kering tanaman atau sebaliknya

  LAB juga pada dasarnya tidak konstan untuk setiap waktu akan
tetapi menunjukkan suatu kecenderungan penurunan ontogeni
seiring dengan umur tanaman. LAB dapat menurun dengan
pertambahan daun baru yang cenderung saling menaungi, atau
meningkatnya persaingan tanaman dalam memperoleh nutrisi
bahkan faktor lingkungan yang lain dapat berpengaruh. Laju
Asimilasi Bersih dapat dihitung dengan rumus
LAB (Gardner, dkk. 1991)

Dimana = berat kering tanaman pada saat pengamatan 1


= berat kering tanaman pada saat pengamatan 2
= luas daun total pada saat pengamatan 1
= luas daun total pada saat pengamatan 2
INDEKS LUAS DAUN (ILD)
 Produksi tanaman pada dasarnya adalah hasil konversi energi
matahari menjadi energi kimia tersimpan yang pada akhirnya
menjadi bahan yang dibutuhkan dalam kehidupan manusia dan
hewan.
 Usaha memaksilkan produksi tanaman dengan meningkatkan
efisiensi konversi energi matahari menjadi energi kimia senantiasa
dilakukan.
 Pengtauran jarak tanam, pemangkasan dan pemilihan idiotipe
tanaman yang efektif menjadi alternatif dalam usaha meningkatkan
efisiensi konversi energi matahari menjadi energi kimia.

  Indeks Luas Daun (ILD) menunjukkan perbandingan luas
permukaan daun (satu sisi saja) dengan luas tanah yang tertutupi
kanopi tanaman.

(Sitompul dkk. 1995)

 Jika ILD = 1 , maka di asumsikan bahwa semua cahaya yang


datang dapat diserap oleh tanaman secara efektif. Namun
demikian, tidak semua cahaya yang datang dapat dapat diserap
secara efektif oleh tanaman karena variasi bentuk daun, ketebalan
daun (cahaya yang dipancarkan), inklinisasi, serta distribusi
vertikal
 Untuk produksi berat kering total yang maksimum biasanya
diperlukan ILD sekitar 3-5. Tanaman pakan ternak, misalnya
rumput-rumputan membutuhkan ILD 8-10 untuk memperoleh
produksi biomass yang lebih tinggi dibandingkan dengan tanaman
yang produksi ekonominya bukan biomass
 ILD dari setiap jenis tanaman sangat bervariasi antara satu dengan
yang lainnya. Demikian juga musim tanam ternyata memberikan
pengaruh yang sangat bervariasi
NISBAH PUPUS AKAR (NPA)
 Nisbah pupus akar menggambarkan pola partisi fotosintat
tanaman berdasarkan fase pertumbuhan sebagai resultan dari
respon tanaman terhadap lingkungan.
 Nisbah Pupus Akar (NPA) selain di tentukan oleh faktor genetik,
akan tetapi juga sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Telah
dilaporkan bahwa hasil penelitian menunjukkan bahwa
pemupukan, khususnya pupuk nitrogen ternyata sangat
mempengaruhi NPA tanaman. Pada daerah dengan kandungan N
yang tinggi memperlihatkan bahwa 90% dari hasil fotosintat
dialokasikan kebagian ujung sedangkan pada daerah dengan
kandungan N hanya 50% fotosintat yang dialokasikan ke ujung

  Nisbah Pupus Akar dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut

NPA (Gardner, dkk. 1991)


INDEKS PANEN (IP)
 Indeks Hasil Panen menunjukkan perbandingan distribusi hasil
fotosintat, antara biomass yang bernilai ekonomi dengan biomass
keseluruhan. Tanaman memiliki mekanisme tersendiri untuk
mendistribusikan fotosintat kebagian tanaman yang membutuhkan
atau yang akan dijadikan sebagai tempat penyimpanan cadangan
makanan.
 Pembagian fotosintat selain dipengaruhi oleh faktor lingkungan, juga
sangat ditentukan oleh faktor genetik. Misalnya daun yang berada
bagian atas cenderung untuk mensuplai kebutuhan bagian tanaman
bagian atas seperti buah, dll. Sedangkan daun yang bagian bawah
cenderung mensuplai kebutuhan bagian tanaman sebelah bawah

  Indeks Panen dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut:

(Sitompul, dkk. 1995)

 Indeks panen sesungguhnya dapat menggambarkan pendistribusian


fotosintat selama pertumbuhan tanaman. Jika indeks panen besar,
maka porsi fotosintat yang dialirkan ke bagian yang bernilai
ekonomi lebih tinggi sehingga pertambahan berat berangkasan
(bagian non ekonomis) relatif lebih kecil.
 Pendistribusian fotosintat sangat dipengaruhi oleh faktor genetik
dan lingkungan dimana tanaman tumbuh