Anda di halaman 1dari 13

RANAH PENGEMBANGAN

KEPROFESIAN GURU
Disusun Oleh :
Kelompok 1

Wina Rosalita (185039)


Amalia Ilmi Rosidi (185040)
Dita Pristiyaningsih (185041)
RANAH PENGEMBANGAN
KEPROFESIAN GURU
lanjutan
Induksi Guru
Pemula
Profesional Guru Berbasis
Lembaga

Prakarsa penting karena secara umum guru pemula


masih memiliki keterbatasan, baik finansial, jaringan,
waktu, akses, dan sebagainya. Namun, yang tidak kalah
pentingnya adalah prakarsa personal guru untuk
menjalani profesionalisasi.
lanjutan

pembinaan dan pengembangan tenaga kependidikan terutama tenaga


guru sebagai berikut :

 Berbasis pada program penelitian


 Menyiapkan guru untuk menguji dan mengakses kemampuan praktis dirinya
 Diorganisasikan dengan pendekatan kolegialitas
 Fokus pada partisipasi guru dalam proses pembuatan keputusan mengenai
isu-isu esensial dilingkungan sekolah , dan
 Membantu guru-guru yang dipandang masih lemah pada beberapa aspek
tertentu dari kompensasinya.
Realitas membuktikan, hanya sebagian kecil Guru professional adalah mereka yang
guru memiliki peluang menjalani memiliki kemanadirian tinggi ketika
profesionalisasi atas prakarsa institusi atau
lembaga. Untuk Indonesia, data statistik
berhadapan birokrasi pendidikan dan
menunjukkan bahwa setiap tahunnya hanya pusat-pusat kekuasaan lainnya. Mereka
sekitar 5 persen guru yang berpeluang memiliki ruang gerak yang bebas sebagai
mengikuti aneka program pengembangan wahana bagi keterlibatannya di bidang
yang dilembagakan sejenisnya, ini berarti pendidikan dan pembelajaran,
dalam waktu sekitar 20 tahun, masing-masing
guru hanya berpeluang menikuti 1 kali
pengembangan profesi, pengabdian kepada
program pengembangan profesi yang masyarakat, dan kegiatan penunjang
dilembagakan, bukan atas inisiatif sendiri lainnya.
lanjutan Guru profesional bercirikan sebagai berikut:

• Mumpuni kemampuan profesionalnya dan siap diuji atas


kemampuannya itu.
• Emmiliki kemampuan berintregrasi antarguru dan kelompok lain yang
“seprofesi” dengan mereka melalui kontrak dan aliansi sosial.
• Melepaskan diri dari belenggu kekuasaan birokrasi, tanpa
menghilangkan makna etika kerja dan tata santun berhubungan
dengan atasannya.
• Memiliki rencana dan program pribadi untuk meningkatkan
kompetensi dan gemar melibatkan diri secara individual atau
kelompok seminat untuk merangsang pertumbuhan diri
• Berani dan mampu memberikan masukan kepada semua pohak
dalam rangka perbaikanmutu pendidikan pembelajaran, termasuk
dalam penyusunan kebijakan bidang pendidikan bidang pendidikan.
• Siap bekerja secara tanpa diatur, karena sudah bisa mengatur dan
mendisiplinkan dirinya.
• Siap bekerja tanpa di seru atau diancam, karena sudah bisa
memotivasi dan mengatur dirinya.
• Secara rutin melakukan evaluasi-diri untuk mendapatkan umpan balik
demi perbaikan diri.
• Memiliki empati yang kuat
• Mampu berkomunikasi secar efektif dengan siswa, kolega, komunitas,
sekolah, dan masyarakat
• menjunjung tinggi etika kerja dan kaidah-kaidah hubungan kerja.
• menjunjung tinggi kode etik organisasi tempatnya bernaung.
• Memiliki kesetiaan (loyalty) dan kepercayaan (trust) dalam makna
tersebu mengakui keterkaitannya dengan orang lain dan tidak
mementingkan diri sendiri.
• Adanya kebebasan diri dalam beraktualisasi melalui kegiatan
lembagasosial dengan berbagai ragam perspektif.
THANK YOU

ANY QUESTION?