Anda di halaman 1dari 26

Disfagia

Pembimbing :
dr. Hastuti Rahmi, Sp. THT-KL
Disusun oleh:
Ahmed Reza 1102019248
Raditya Prasidya 1102014217

KEPANITERAAN TELINGA HIDUNG DAN MULUT


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS YARSI
Definisi

 Keluhan kesulitan menelan (disfagia) merupakan


salah satu gejala kelainan atau penyakit di
orofaring dan esophagus. Keluhan ini timbul bila
terdapat gangguan gerakan otot-otot menelan dan
gangguan transportasi makanan dari rongga mulut
ke lambung.
Epidemiologi

 Sejumlah laporan epidemiologi menunjukkan bahwa prevalensi disfagia lebih


sering terjadi pada orang yang lebih tua.
 Perkiraan konservatif menunjukkan bahwa disfagia mungkin setinggi 22% pada
orang dewasa di atas 50 tahun; setinggi 30% pada populasi lansia dengan
perawatan inap; 68% untuk pasien lansia perawatan inap jangka panjang; dan
13%-38% di antara lansia yang hidup mandiri.
 Studi tambahan menunjukkan bahwa populasi lansia memiliki peningkatan
risiko untuk pengembangan komplikasi terkait disfagia seperti aspirasi paru.
Diperkirakan sekitar sepertiga dari pasien dengan disfagia mengembangkan
pneumonia dan 60.000 orang meninggal setiap tahun akibat komplikasi
tersebut.
Faktor Risiko

 Faktor risiko disfagia meliputi:


 Penuaan - orang tua lebih berisiko. Hal ini disebabkan keadaan umum pada tubuh
seiring waktu terjadi degenerasi. Selain itu, penyakit tertentu pada usia tua dapat
menyebabkan disfagia, seperti penyakit Parkinson.
 Kondisi neurologis - gangguan sistem saraf tertentu membuat disfagia lebih
mungkin terjadi.
Klasifikasi

Berdasarkan penyebabnya, disfagia dibagi atas:


 Disfagia Mekanik

Disfagia mekanik timbul bila terjadi penyempitan lumen esophagus. Penyebab utama disfagia
mekanik adalah sumbatan lumen esophagus oleh massa tumor dan benda asing.
 Disfagia Motorik

Keluhan disfagia motorik disebabkan oleh kelainan neuromuscular yang berperan dalam proses
menelan.
 Disfagia oleh Gangguan Emosi

Keluhan disfagia dapat juga timbul bila terdapat gangguan emosi atau tekanan jiwa yang berat.
Klasifikasi

Berdasarkan Lokasinya, Disfagia di bagi atas:

 Disfagia Orofaringeal

Disfagia orofaringeal adalah kesulitan mengosongkan bahan dari orofaring ke


dalam kerongkongan, hal ini diakibatkan oleh fungsi abnormal dari proksimal ke
kerongkongan.

 Disfagia Esopgangeal

Disfagia esophagus adalah kesulitan transportasi makanan ke kerongkongan. Hal


ini diakibatkan oleh gangguan motilitas baik atau obstruksi mekanis.
Disfagia Skor

 0  Tanpa disfagia: mampu makan makanan normal.


 1  Bisa makan beberapa makanan padat
 2  Bisa makan makanan setengah padat.
 3  Hanya bisa menelan cairan.
 4  Tidak dapat menelan apa pun
Patofisiologi

Keberhasilan mekanisme menelan ini tergantung dari beberapa faktor, yaitu:


 Ukuran bolus makanan

 Diameter lumen esophagus yang dilalui bolus

 Kontraksi peristaltik esophagus

 Fungsi sfingter esophagus bagian atas dan bagian bawah


 Kerja otot-otot rongga mulut dan lidah

Jika ditemukan adanya kelainan dari proses diatas, di sebut Disfagia.


Patofisiologi Disfagia Orofaringeal

 Aspirasi pneumonia, malnutrisi, dan kualitas hidup berkurang dapat terjadi akibat
OPD.
 Kejadian serebrovaskular merupakan penyebab kasus terbanyak, dan pneumonia
aspirasi merupakan penyebab umum kematian pada pasien ini.
 Penyakit Parkinson bertanggung jawab atas sejumlah kasus OPD, dengan gangguan
miopati dan lesi struktural yang menjadi sebagian besar penyebab lainnya.
 Dampak yang timbul akibat ketidaknormalan fase oral antara lain : keluar air liur
berlebihan; ketidaksanggupan membersihkan residu makanan di mulut; karies gigi,
hilangnya rasa pengecapan dan penciuman; gangguan proses mengunyah; gangguan
mendorong bolus ke faring.
 Sedangkan dampak ketidaknormalan pada fase faringeal adalah chocking, coughing
dan aspirasi.
Patofisiologi Disfagia Esofageal

Salah satu jenis Disfagia adalah Disfagia Esofagea, penyebab esofageal ada
berbagai macam dan patofisiologisnya pun berbeda-beda.
 Akalasia. Hal ini terjadi ketika otot esophagus bawah (sfingter) tidak benar-
benar rileks untuk membiarkan makanan masuk ke lambung. Otot-otot di
dinding esofagus sering lemah juga.
 Proses penuaan. Dengan usia, kerongkongan cenderung kehilangan beberapa
kekuatan otot dan koordinasi yang diperlukan untuk mendorong makanan ke
dalam perut.
 Tumor. Kesulitan menelan cenderung untuk mendapatkan semakin buruk
ketika terdapat tumor esofagus.
Komplikasi

 Kesulitan menelan dapat menyebabkan:


 Malnutrisi, penurunan berat badan, dan dehidrasi. Disfagia dapat menyulitkan
untuk mengonsumsi makanan dan cairan yang cukup.
 Pneumonia aspirasi. Makanan atau cairan yang memasuki saluran napas saat Anda
mencoba menelan dapat menyebabkan pneumonia aspirasi, karena makanan
tersebut dapat menyebabkan bakteri masuk ke paru-paru.
 Tersedak. Saat makanan tersangkut di tenggorokan, bisa terjadi tersedak. Jika
makanan benar-benar menghalangi jalan napas, dan tidak ada yang melakukan
intervensi dengan manuver Heimlich yang berhasil, kematian dapat terjadi.
Anamnesis

 Langkah pertama dalam penilaian adalah anamnesis, yang meliputi:


 Data generik pasien (usia);
 Kemunculan disfagia (sudden, progressive, intermitten);
 Batuk, serta kapan batuknya saat menelan;
 Penurunan berat badan;
 Sakit saat menelan;
 Konsistensi makanan yang sulit ditelan;
 Muntah dan/atau bau mulut;
 Apakah berulangnya menelan dapat mengurangi disfagia.
Algoritma Disfagia
Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan fisik untuk disfagia meliputi:

 Pengujian n.V tengkorak dan n.VII-XII sangat penting untuk menentukan


apakah bukti fisik disfagia orofaringeal ada

 Pengamatan langsung penutupan bibir, penutupan rahang, mengunyah dan


pengunyahan, mobilitas lidah dan kekuatan, elevasi palatal dan laring, air liur.

 Disfonia dan disartria adalah tanda-tanda disfungsi motor struktur yang


terlibat dalam mulut dan faring menelan.

 Periksa rongga mulut dan faring untuk integritas mukosa dan gigi.
Pemeriksaan Penunjang

 Manometry esofagus, tabung dimasukkan ke dalam perut untuk mengukur


perbedaan tekanan di berbagai daerah.
 X-ray leher, dada, atau perut dapat diambil.
 Videofluoroskopi Swallow Assesment (VFSS). Pemeriksaan ini menggambarkan
struktur dan fisiologi menelan rongga mulut, faring, laring dan esofagus
bagian atas. Pemeriksaan dilakukan dengan menggunakan bolus kecil dengan
berbagai konsistensi yang dicampur dengan barium.
 Flexible Endoscopy Evaluation of Swallowing (FEES). Pemeriksaan evaluasi
fungsi menelan dengan menggunakan nasofaringoskop serat optik lentur.
Pasien diberikan berbagai jenis konsistensi makanan dari jenis makanan cair
sampai padat dan dinilai kemampuan pasien dalam proses menelan.
Tes Manometri
X-Ray
X-Ray
X-Ray
Endoscopy
Endoscopy
Tatalaksana
Terdapat pengobatan yang berbeda untuk berbagai jenis
dysphagia. Pertama dokter menggunakan berbagai
pengujian yang memungkinkan untuk melihat bergagai fungsi
menelan.
Setelah penyebab disfagia ditemukan, pembedahan atau
obat-obatan dapat diberikan. Jika dengan mengobati
penyebab dysphagia tidak membantu, dokter mungkin akan
mengirim pasien kepada ahli patologi hologist yang terlatih
dalam mengatasi dan mengobati masalah gangguan menelan.
Tatalaksana (lanjutan)
Pengobatan dapat melibatkan latihan otot untuk
memperkuat otot-otot facial atau untuk meninkatkan
koordinasi. Untuk lainnya, pengobatan dapat melibatkan
pelatihan menelan dengan cara khusus. Sebagai contoh,
beberapa orang harus makan dengan posisi kepala menengok
ke salah satu sisi atau melihat lurus ke depan.
Tatalaksana (lanjutan)
Menyiapkan makanan sedemikian rupa atau menghindari
makanan tertentu dapat menolong orang lain. Namun
demikian, untuk beberapa orang mengkonsumsi makanan dan
minuman lewat mulut sudah tidak mungkin lagi. Mereka
harus menggunakan metode lain untuk memenuhi kebutuhan
nutrisi. Biasanya ini memerlukan suatu system pemberian
makanan, seperti NGT.
Daftar Pustaka

 Slamet Suyono, dkk. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid II Edisi Ketiga. 2014.
Balai Penerbit FKUI : Jakarta..
 William F. Ganong. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi 20. 2013. Penerbit
Buku Kedokteran EGC: Jakarta
 Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Edisi Kelima Jilid I. 2009. Interna Publishing:
Jakarta
 Soepardi, dkk. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala
Leher Edisi 6. 2011. Balai Penerbit FKUI : Jakarta.