Anda di halaman 1dari 15

EKONOMI DAN

KESEJAHTERAAN
UMAT
DEFINISI EKONOMI
ISLAM
Ekonomi Islam merupakan istilah yang sering
digunakan untuk mendeskripsikan sistem
ekonomi yang berbasis pada Al Quran dan
Hadis. Nama lain dari ekonomi Islam adalah
ekonomi syariah. Sebutan ekonomi syariah juga
tak lepas dari sumber sistem ekonomi yang
berbasis syariah, yaitu Al Quran dan As Sunnah.
Keberadaan ekonomi Islam dapat dilihat sebagai seperangkat prinsip ekonomi alternatif
yang menantang sistem ekonomi dominan yang berlaku saat ini. Kita tidak bisa
memahami definisi ekonomi Islam tanpa memahami prinsip-prinsipnya.
Salah satu dimensi penting yang perlu dipahami terlebih dahulu di sini adalah prinsip
ekonomi. Dalam sistem ekonomi konvensional, sebutlah sistem ekonomi yang
kapitalistik, prinsip ekonomi merupakan suatu pengetahuan. Namun dalam ekonomi
Islam, prinsip ekonomi adalah produk dari pengetahuan yang sumbernya Al Quran dan As
Sunnah.
Dalam ekonomi konvensional, sumber pengetahuan ekonomi adalah prinsip-prinsip
ekonomi yang sudah menjadi pengetahuan itu sendiri. Dalam ekonomi Islam, sumber
pengetahuan ekonomi adalah Wahyu.
Prinsip ekonomi dalam ekonomi Islam merupakan produk dari wahyu (dari Allah yang
disampaikan pada Nabi saw). Dengan demikian pengertian ekonomi islam bisa
dideskripsikan sebagai sistem ekonomi yang prinsip-prinsipnya bersumber dari Al Quran
dan Hadis.
Bentuk
Perekonomian
dalam Islam
1. JUAL BELI
Menurut bahasa jual beli artinya tukar menukar sesuatu dengan sesuatu, menurut istilah jual beli adalah
suatu transaksi tukar menukar barang atau harta yang mengakibatkan pemindahan hak milik sesuai
dengan Syarat dan Rukun tertentu. Dasar hukum jual beli bersumber dari Al-Qur’an dan Al-Hadits.
• Rukun jual beli
1) Ada penjual.
2) Ada pembeli.
3) Ada barang atau harta yang diperjual belikan.
4) Ada uang atau alat bayar yang digunakan sebagai penukar barang.
5) Ada lafadz ijab qabul
• Syarat barang yang diperjual belikan
1) Barang itu suci, artinya bukan barang najis.
2) Barang itu bermanfaat.
3) Barang itu milik sendiri atau milik orang lain yang telah mewakilkan untuk menjualnya.
4) Barang itu dapat diserah terimakan kepemilikannya.
5) Barang itu dapat diketahui jenis, ukuran, sifat dan kadarnya.
• Syarat penjual dan pembeli
1) Berakal sehat
2) Atas kemauan sendiri
3) Sudah dewasa (Baligh)
4) Keadaan penjual dan pembeli itu bukan orang pemboros terhadap harta
 Jual beli yang terlarang
 Jual beli yang sah tapi dilarang
1. Jual beli yang harganya diatas/dibawah harga pasar dengan cara menghadang penjual sebelum
tiba di pasar.
2. Membeli barang yang sudah dibeli atau dalam proses tawaran orang lain.
3. Jual beli barang untuk ditimbun supaya dapat dijual dengan harga mahal di kemudian hari.
4. Jual beli alat maksiat.
5. Jual beli dengan cara menipu.

 Jual beli terlarang dan tidak sah


o Jual beli sperma binatang
o Menjual anak ternak yang masih di kandungan induknya
o Menjualbelikan barang yang baru di beli sebelum diserahterimakan kepada pembelinya
o Menjual buah – buahan yang belum nyata buahnya
2. KHIYAR
Khiyar menurut bahasa artinya memilih yang terbaik, sedangkan menurut istilah khiyar ialah :
memilih antara melangsungkan akad jual beli atau membatalkan atas dasar pertimbangan yang
matang dari pihak penjual dan pembeli.

• Jenis – jenis khiyar


a) Khiyar Majlis, artinya memilih untuk melangsungkan atau mmembatalkan akad jual beli
sebelum keduannya berpisah dari tempat akad.
b) Khiyar Syarat, yaitu khiyar yang dijadikan syarat waktu akad jual beli, artinya si pembeli
atau si penjual boleh memilih antara meneruskan atau mengurungkan jual belinya selama
persyaratan itu belum dibatalkan setelah mempertimbangkan dalam dua atau tiga hari.
c) Khiyar Aibi, yaitu memilih melangsungkan akad jual beli atau mengurungkannya bilamana
terdapat bukti cacat pada barang.
3. MUSAQAH
Menurut bahasa, Musaqah berasal dari kata “As-Saqyu” yang artinya penyiraman.
Sedangkan menurut istilah musaqah adalah kerjasama antara pemilik kebun (tanah) dengan
petani penggarap, yang hasilnya dibagi berdasarkan perjanjian. Musaqah hukumnya jaiz
(boleh).

 Rukun musaqah
a) Pemilik dan penggarap kebun
b) Pekerjaan dengan ketentuan yang jelas
c) Hail yang diperoleh berupa buah, daun, kayu, atau yang lainnya
d) Akad
4. MUZARA’AH dan MUKHABARAH
Menurut bahasa muzara’ah artinya penanaman lahan. Menurut istilah muzara’ah adalah suatu usaha
kerjasama antara pemilik sawah atau ladang dengan petani penggarap yang hasilnya dibagi
menurut kesepakatan, dimana benih tanaman dari si Pemilik tanah. Adapun zakat dari hasil kerja
sama ditanggung oleh pemilik sawah atau ladang. Sedangkan mukhabarah adalah kerjasama antara
pemilik sawah atau ladang dengan petani penggarap yang hasilnya akan dibagi menurut
kesepakatan kedua belah pihak, dimana benih tanaman dari petani penggarap.

 Rukun muzara’ah dan mukhabarah


1) Pemilik dan penggarap sawah.
2) Sawah atau lading.
3) Jenis pekerjaan yang harus dilakukan.
4) Kesepakatan dalam pembagian hasil (upah).
5) Akad (sighat)
5. SYIRKAH
Menurut bahasa syirkah artinya : persekutuan, kerjasama atau bersama-sama. Menurut istilah syirkah adalah
suatu akad dalam bentuk kerjasama antara dua orang atau lebih dalam bidang modal atau jasa, untuk
mendapatkan keuntungan. Syirkah atau kerjasama ini sangat baik kita lakukan karena sangat banyak manfaatnya,
terutama dalam meningkatkan kesejahteraan bersama. Kerjasama itu ada yang sifatnya antar pribadi, antar group
bahkan antar Negara.
Dalam kehidupan masyarakat, senantiasa terjadi kerjasama, didorong oleh keinginan untuk saling tolong
menolong dalam hal kebaikan dan keuntungan bersama.

 Macam – macam syirkah


a) Syirkah amlak (Syirkah kepemilikan) Syirkah amlak ini terwujud karena wasiat atau kondisi lain yang
menyebabkan kepemilikan suatu asset oleh dua orang atau lebih.
b) Syirkah uqud (Syirkah kontrak atau kesepakatan), Syirkah uqud ini terjadi karena kesepakatan dua orang atau
lebih kerjasama dalam syarikat modal untuk usaha, keuntungan dan kerugian ditanggung bersama. Syirkah uqud
dibedakan menjadi empat macam :
1) Syirkah ‘inan (harta).
Syirkah harta adalah akad kerjasama dalam bidang permodalan sehingga terkumpul sejumlah modal yang
memadai untuk diniagakan supaya mendapat keuntungan.
2) Syirkah a’mal (serikat kerja/ syirkah ‘abdan)
Syirkah a’mal adalah suatu bentuk kerjasama dua orang atau lebih yang bergerak dalam bidang jasa atau
pelayanan pekerjaan dan keuntungan dibagi menurut kesepakatan.
Contoh : CV, NP, Firma, Koperasi dan lain-lain.
3) Syirkah Muwafadah
Syirkah Muwafadah adalah kontrak kerjasama dua orang atau lebih, dengan syarat kesamaan modal,
kerja, tanggung jawab, beban hutang dan kesamaan laba yang didapat.
4) Syirkah Wujuh (Syirkah keahlian)
Syirkah wujuh adalah kontrak antara dua orang atau lebih yang memiliki reputasi baik serta ahli dalam
bisnis.

 Rukun dan syarat syirkah


Rukun dan syarat syirkah dapat dikemukakan sebagai berikut :
Anggota yang berserikat, dengan syarat : baligh, berakal sehat, atas kehendak sendiri dan baligh,
berakal sehat, atas kehendak sendiri dan mengetahui pokok-pokok perjanjian. Pokok-pokok perjanjian
syaratnya :
a. Modal pokok yang dioperasikan harus jelas.
b. Anggaran dasar dan anggaran rumah tangga harus jelas.
c. Yang disyarikat kerjakan (obyeknya) tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip syari’at Islam.
d. Sighat, dengan Syarat : Akad kerjasama harus jelas sesuai dengan perjanjian.
6. MURABAHAH
Akar kata dari murabahah adalah ‘ribh’ yang artinya profit atau laba. Transaksi al-murabahah adalah
transaksi jual beli dengan harta pokok yag ditambah dengan keuntungan (laba) di mana harta pokok dan
laba dari pihak penjual diketahui oleh pihak pembelinya.

 Syarat dan ketentuan murabahah


a) Keinginan bertransaksi dilakukan dengan kemauan sendiri.
b) Bank dan nasabah harus melakukan akad murabahah yang bebas riba.
c) Bank harus menyampaikan semua hal yang berkaitan dengan pembelian, contohnya apabila pembelian
dilakukan secara hutang.
d) Bank kemudian menjual barang tersebut kepada nasabah (pemesan) dengan harga jual senilai harga beli
plus keuntungannya. Dalam kaitan ini Bank harus memberitahu secara jujur harga pokok barang kepada
nasabah beserta biaya tambahan yang diperlukan, misal ongkos angkut barang.
e) Nasabah membayar harga barang yang telah disepakati tersebut pada jangka waktu tertentu.
f) Untuk mencegah terjadinya penyalahgunaan atau kerusakan akad tersebut, pihak bank dapat mengadakan
perjanjian khusus dengan nasabah.
g) Jika bank hendak mewakilkan kepada nasabah untuk membeli barang.
h) Adanya ijab dan kabul
7. MUDHARABAH
Mudharabah adalah bentuk kerja sama antara dua atau lebih pihak di mana pemilik modal (shahibul
amal) mempercayakan sejumlah modal kepada pengelola(mudharib) dengan suatu perjanjian di awal.
Bentuk ini menegaskan kerja sama dengan kontribusi 100% modal dari pemilik modal dan keahlian
dari pengelola.
Transaksi jenis ini tidak mewajibkan adanya wakil dari shahibul maal dalam manajemen proyek.
Sebagai orang kepercayaan, mudharib harus bertindak hati-hati dan bertanggung jawab atas kerugian
yang terjadi akibat kelalaian dan tujuan penggunaan modal untuk usaha halal. Sedangkan, shahibul
maal diharapkan untuk mengelola modal dengan cara tertentu untuk menciptakan laba yang optimal.

 Tipe Mudharabah
a) Mudharabah mutlaqah, dimana shahibul maal memberikan keleluasaan penuh kepada pengelola
(mudharib) untuk mempergunakan dana tersebut dalam usaha
b) Yang dianggapnya baik dan menguntungkan. Namun pengelola tetap bertanggung jawab untuk
melakukan pengelolaan sesuai dengan praktik kebiasaan usaha normal yang sehat (uruf).
c) Mudharabah muqayyadah, dimana praktik dana menentukan syarat dan pembatasan kepada pengelola
dalam penggunaan dana tersebut dengan jangka waktu, tempat, jenis usaha, dan sebagainya.
8. SALAM
As-Salam dinamai juga As-salaf ialah suatu akad jual beli antara dua orang atau lebih dan barang yang
akan dijual belum ada wujudnya tetapi ciri-ciri atau kriterianya, baik kualitas dan kuantitasnya, besar
dan kecilnya, timbangannya, dan lain sebagainya telah disepakati. Sedang pembayarannya dilakukan
pada saat terjadi transaksi.

 Rukun salam
a. Penjual (muslam ‘alaih)
b. Pembeli (muslam atau rabbus salam)
c. Barang (muslam fih) dan harga atau modal (ra’sul mal)
d. Sigat (akad)

 Syarat salam
a. Uang hendaknya dibayar pada saat terjadi transaksi atau di majlis akad, berarti pembayaran
dilakukan terlebih dahulu.
b. Barang menjadi utang atau tanggungan penjual dan diberikan kepada pembeli sesuai dengan
kesepakatan, baik mengenai waktunya maupun tempatnya.
c. Barang itu hendaknya jelas kriterianya, baik ukuran, kualitas, jenis, timbangan dan lain
sebagainya sesuai dengan jenis barang yang dijual. Dengan kriteria tersebut dapat dibedakan
antara satu barang dengan barang lain, sehingga tidak terdapat keraguan yang dapat menyebabkan
perselisihan antara keduanya (penjual dan pembeli).
TERIMA
KASIH

Anda mungkin juga menyukai