Anda di halaman 1dari 21

ASUHAN KEPERAWATAN

PERILAKU KEKERASAN DENGAN SKIZOFRENIA


PARANOID DI RSJD dr. ARIF ZAINNUDIN
SURAKARTA

KARTIKA DWI SURYANI


P1337420417011
 
PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN BLORA
POLTEKKES KEMENKES SEMARANG
2019
LATAR
LATAR BELAKANG
BELAKANG

Data Riskesdas 2018


Di Indonesia yang mengalami gangguan jiwa
khususnya skizofrenia sebesar 7‰, artinya setiap
1000 orang penduduk indonesia 7 orang mengalami
gangguan jiwa berat.

Data Rekam Medik RSJD Surakarta 2018


Pada tahun 2017 angka gangguan jiwa tercatat 2.815
jiwa atau 69,31% . Pada periode Januari – Agustus 2017
ditemukan masalah keperawatan pada klien rawat inap
yaitu Perilaku kekerasan 26,1 ribu jiwa . Kasus perilaku
kekerasan menempati urutan kedua kasus terbanyak di
rumah sakit Jiwa Surakarta.
Rumusan Masalah
Bagaimanakah pelaksanaan Asuhan Keperawatan Perilaku
Kekerasan Dengan Skizofrenia Paranoid Di RSJD dr Arif Zainnudin
Surakarta.
TUJUAN
1. Tujuan umum
Mampu menerapkan Asuhan Keperawatan Pada Pasien
Skizofrenia Paranoid dengan Pengelolaan Perilaku Kekerasan.
2. Tujuan Khusus :
Mampu melakukan pengkajian, perumusan diagnosis, Perumusan
rencana tindakan, implementasi, evaluasi.
MANFAAT
1. Bagi Institusi Pendidikan
2. Bagi Rumah Sakit
3. Bagi Penulis
4. Bagi Klien
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

Tindakan mandiri perawat profesional


PENGERTIAN atau ners melalui kerjasama yang
bersifat kolaboratif

1.Pemberian asuhan keperawatan untuk


mencapai mutu dari pelayanan
TUJUAN keperawatan yang optimal.
2. Teridentifikasinya masalah dan
kebutuhan pasien berdasarkan
prioritasnya.

Dapat meningkatkan kemandirian; rasa


MANFAAT percaya diri dalam melaksanakan asuhan
keperawatan.
PENGKAJIAN

EVALUASI DIAGNOSA
KEPERAWATAN KEPERAWATAN

PROSES ASUHAN
PROSES ASUHAN
KEPERAWATAN
KEPERAWATAN

IMPLEMENTASI RENCANA
KEPERAWATAN KEPERAWATAN
Konsep Perilaku Kekerasan
Perilaku kekerasan adalah suatu keadaan dimana seseorang
melakukan tindakan yang dapat membahayakan secara fisik, baik
kepada diri sendiri maupun orang lain

POHON MASALAH

AKIBAT DARI MASALAH UTAMA Effect

PRIORITAS MASALAH DARI MASALAH YANG Core problem


ADA PADA KLIEN BERKAITAN ERAT DENGAN
ALASAN MASALAH/ KELUHAN UTAMA

SALAH SATU DARI MASALAH YANG


MERUPAKAN PENYEBAB DARI MASALAH Causa
UTAMA
Konsep Skizofrenia

Skizofrenia adalah suatu deskripsi sindrom dengan variasi


penyebab, banyak belum diketahui.

Konsep Skizofrenia Paranoid

Skizofrenia paranoid adalah salah satu dari beberapa jenis


skizofrenia, yaitu suatu penyakit mental yang kronis dimana
seseorang kehilangan kontak dengan kenyataan. Gambaran umum
dari skizofrenia paranoid adalah delusi (waham) dan mendengar
hal-hal yang tidak jelas
Rancangan penelitian

Subjek penelitian

Fokus studi

Definisi oprasional
Metode
Penelitian Metode pengumpulan data

Lokasi dan waktu penelitian

Analisis data dan penyajian data

Etika penelitian
HASIL
PENGKAJIAN

KLIEN 1 (Ny. M)
KLIEN 2 (Ny. S)
a. Identitas : Ny. M, umur 54 tahun,
a. Identitas : Ny. S, umur 33 tahun,
beragama islam, tinggal di Tegal
beragama islam, tinggal di Boyolali
b. Alasan masuk : marah-marah,
b. Alasan masuk : marah-marah dan
membanting piring dan gelas, jengkel,
tidak bisa mengontrol emosinya serta klien
membentak-bentak serta berbicara kasar
sering memukul ibunya sendiri
pada semua orang.
c. Faktor predisposisi : sudah 3 kali ini
c. Faktor predisposisi : sudah 2 kali masuk
masuk RSJ, yang pertama pada tahun
RSJ, yang pertama pada tahun 2018 dan
2013.
sekarang ini yang kedua kalinya
d. Faktor presipitasi : Sebelumya klien
d. Faktor presipitasi : Pengobatan
berobat jalan, tetapi tidak rutin kontrol dan
sebelumnya kurang berhasil karena putus
putus obat akhirnya penyakitnya kambuh
obat mengakibatkan klien kambuh lagi.
DIAGNOSA KEPERAWATAN

KLIEN 1 (Ny. M) KLIEN 2 (Ny. S)


Diagnosa : skizofrenia paranoid (F
Diagnosa : skizofrenia paranoid (F
20 0)
20 0)
DS : klien mengatakan usaha
suaminya mengalami DS : klien mengatakan sering
kebangkrutan dan klien merasa memukul ibunya sendiri yang
disebabkan perceraian dengan
frustasi karena tidak memiliki
suaminya dan kurang mendapat
penghasilan lain.
perhatian dari keluarga.
DO : Klien sering marah-marah,
membanting piring dan gelas serta DO : Klien sering sering memukul
berbicara kasar dengan nada tinggi ibunya sendiri, marah-marah dan
tidak bisa mengontrol emosinya.
pada semua orang
RENCANA KEPERAWATAN

TUJUAN DAN KRITERIA IN


HASIL
Setelah dilakukan empat kali
pertemuan selama empat hari INTERVENSI
diharapkan klien dapat a. BHSP
mengontrol peilaku kekerasannya b. SP 1 melatih fisik (tarik nafas
dengan kriteria hasil klien dapat dan pukul kasur/ bantal)
membina hubungan saling
c. SP 2 melatih minum obat
percaya, latihan fisik, mampu
minum obat dengan benar dan d. SP 3 melatih verbal (meminta,
teratur, mampu meminta, menerima, mengungkapkan
menerima, mengungkapkan perasaan)
perasaan dengan baik (verbal), e. SP 4 melatih kegiatan spiritual
mampu melakukan kegiatan
spiritual.
IMPLEMENTASI DAN EVALUASI

• KLIEN 1 (Ny. M)
Hari Pertama (7 mei 2019)
Membina hubungan saling percaya, mengajarkan cara fisik.
Respons yang didapatkan klien dapat mengontrol perilaku
kekerasan dengan cara fisik (tarik nafas nafas dan pukul
bantal atau kasur) dan akan memasukan ke jadwal harian.

Hari Kedua (8 mei 2019)


Mengevaluasi latihan fisik dan mengajarkan latihan minum
obat. Respons perilaku kekerasan berkurang dan didapatkan
klien sudah mengerti cara menggunakan obat dengan 5 benar
(benar obat, benar klien, benar cara, benar waktu, benar
dosis) dan akan memasukan ke jadwal harian.
Hari Ketiga (9 mei 2019)
Mengevaluasi latihan fisik, minum obat serta mengajarkan
latihan verbal. Respons yang di dapatkan perilaku kekerasan
berkurang, klien sudah memahami maanfaat berbicara dengan
temannya dan akan memasukan ke jadwal harian.

Hari Keempat (10 mei 2019)


Mengevaluasi latihan fisik, minum obat, latihan verbal dan
cara spiritual (mengajarkan melakukan sholat 5 waktu dan
mengaji). Respons yang didapatkan sudah tidak tampak
perilaku kekerasan, klien memahami apa yang di ajarkan dan
manfaat melakukan kegiatan. Klien akan memasukan latihan
ini ke dalam jadwal harian dan akan selalu melakukan latihan
bila rasa marah atau perilaku kekerasan muncul kembali.
• KLIEN 2 (Ny. S)

Hari Pertama (13 mei 2019)


Membina hubungan saling percaya, mengajarkan cara fisik.
Respons perilaku kekerasan masih dan klien dapat melakukan
latihan fisik (tarik nafas nadal dan pukul bantal atau kasur)
dan akan memasukan ke jadwal harian.

Hari kedua (14 mei 2019)


Mengevaluasi latihan fisik dan mengajarkan latihan minum
obat. Respons perilaku kekerasan berkurang dan didapatkan
klien sudah mengerti cara menggunakan obat dengan 5 benar
(benar obat, benar klien, benar cara, benar waktu, benar
dosis) dan akan memasukan ke jadwal harian.
Hari Ketiga (15 mei 2019)
Mengevaluasi latihan fisik, minum obat serta mengajarkan
latihan verbal. Respons yang di dapatkan perilaku kekerasan
berkurang, klien sudah memahami maanfaat berbicara dengan
temannya dan akan memasukan ke jadwal harian.

Hari keempat (16 mei 2019)


Mengevaluasi latihan fisik, minum obat, latihan verbal dan
cara spiritual (mengajarkan melakukan sholat 5 waktu dan
mengaji). Respons yang didapatkan sudah tidak tampak
perilaku kekerasan, klien memahami apa yang di ajarkan dan
manfaat melakukan kegiatan. Klien akan memasukan latihan
ini ke dalam jadwal harian dan akan selalu melakukan latihan
bila rasa marah atau perilaku kekerasan muncul kembali.
PEMBAHASAN
1. Pengkajian
Saat mengkaji data yang didapatkan pada klien 1 dan klien 2
memiliki kesamaan :
• Alasan masuk sama-sama karena marah-marah. Klien 1
marah-marah, membanting piring dan gelas, jengkel,
membentak-bentak serta berbicara kasar pada semua orang.
Klien 2 marah-marah dan tidak bisa mengontrol emosinya
serta klien sering memukul ibunya sendiri .
• Faktor predisposisi pada klien 1 dan klien 2 sama-sama
sudah sering keluar masuk RSJ, yang membedakan kalau
klien 1 masuk RSJ yang kedua kali sedangkan klien 2 masuk
RSJ yang ketiga kali.
• Faktor presipitasi pada klien 1 dan klien 2 juga sama-sama
karena putus obat.
2. Diagnosa keperawatan
Diagnosa atau masalah yang dialami klien 1 dan klien 2 yaitu
sama-sama mengalami gangguan perilaku kekerasan dengan
berdasarkan data yang didapatkan.
• Data subjektif yang didapatkan dari Ny. M (klien 1) yaitu
klien mengatakan sering marah-marah, membanting piring
dan gelas serta berbicara kasar, sedangkan data subjektif yang
didapatkan dari Ny. S (klien 2) yaitu klien mengatakan
marah-marah, tidak bisa mengontrol emosinya dan sering
memukul ibunya sendiri.
• Didukung data objektif Ny. M (klien 1) yang telah
didapatkan klien tampak tegang, sering melotot saat
berbicara, dan bernada tinggi saat berbicara, sedangkan data
objektif Ny. S (klien 2) klien tampak kesal, tegang, mata
merah dan bernada tinggi saat berbicara.
3. Rencana keperawatan
Penulis akan melakukan rencana keperawatan pada klien 1
dan klien 2 dengan melaksanakan latihan SP 1 sampai SP 4
yaitu yang terdiri dari latihan fisik 1 ( tarik nafas dalam dan
pukul kasur atau bantal) , mampu minum obat dengan benar,
verbal, mampu melakukan kegiatan spiritual.

4. Implementasi
Tindakan yang dilakukan pada kedua klien yaitu sesuai
dengan rencana keperawatan yang telah dibuat. Respon yang
didapatkan pada kedua klien sama-sama kooperatif dan
mampu melaksanakan latihan SP 1 sampai SP 4.
5. Evaluasi
Evaluasi kedua klien pada hari keempat atau setelah
melakukan latihan SP 1 sampai SP 4 yaitu kedua klien sama-
sama sudah dapat mengontrol perilaku kekerasan/masalah
yang dialami klien teratasi, dengan pemberian RTL oleh
perawat agar selalu rutin melakukan latihan SP 1 sampai SP 4
bila perilaku kekerasan muncul kembali.

6. Keterbatasan
Selama melakukan asuhan keperawatan Ny. M (klien 1) dan
Ny. S (klien 2) penulis belum pernah bertemu dengan keluarga
klien padahal ketika klien kembali kerumah, peran dari
keluarga sebagai support system sangat berpengaruh bagi
kesembuhan klien.
SIMPULAN

1. Pelaksanaan berlangsung pada tanggal 7


mei sampai 16 mei 2019.
2. Pengkajian kedua klien sangat
kooperatif. SARAN
3. Kedua klien sama-sama pernah
mengalami gangguan jiwa, hal yang 1. Bagi Klien dan keluarga
menyebabkan klien kambuh lagi
dikarenakan putus obat. 2. Bagi Tenaga Kesehatan

4. Masalah keperawatan yang muncul pada 3. Bagi Tempat Pelayanan


kedua klien adalah perilaku kekerasan Kesehatan
5. Rencana keperawatan yang diberikan
4. Bagi Institusi
pada kedua klien yaitu SP 1 sampai SP 4
Pendidikan
6. Evaluasi keperawatan kedua klien
didapatkan hasil sama-sama sudah
teratasi sesuai dengan kriteria hasil.
TERIMA KASIH