Anda di halaman 1dari 21

Akuntansi Perpajakan Ekuitas

Prepared by : Yopie Chandra, SE.,M.Akt


Pendahuluan
Menurut SAK ETAP yang diatur IAI (2209:103-105) Ekuitas sebagai bagian hak pemilik
dalam entitas, yaitu selisih antara asset dan kewajiban yang ada. Bentuk modal
tergantung dari bentuk badan hukum entitas. Contoh modal Perseroaan Terbatas
(PT) terdiri atas saham dan secara hukum terpisah dari kekayaan pemiliknya, modal
entitas perorangan dan firma terbagi atas saham sehingga secara hukum tidak
terpisah dari kekayaan pemilik pribadinya.
Akuntasi untuk entitas badan usaha bukan PT dilaporkan sesuai dengan peraturan
perundangan yang berlaku untuk badan usaha tersebut dan SAK yang relevan.
Sedangkan untuk ekuitas Badan usaha berbentuk PT meliputi saham preferen, saham
biasa dan akun tambahan modal saham seta Saldo laba.
Modal Saham
Modal saham merupakan bagian dari ekuitas suatu perseroan
terbatas yang dikontribusikan pemilik. Ekuitas merupakan
bagian hak dari pemilik perusahaan sebesar selisih antara
aktiva dan kewajiban yang ada yang terdiri dari setoran
pemilik, saldo laba, selisih penilaian kembali aktiva,
sumbangan dan unsur lainnya.
Modal Saham
Jenis saham meliputi saham biasa dan saham preferen. Saham preferen memberikan hak
preferensi kepada pemegang saham, berupa:
a.Pembagian aktiva lebih dulu pada saat likuidasi
b.pembagian deviden
c.convertible

d.dapat ditebus kembali   


Agio merupakan selisih lebih antara nilai nominal dan harga pasar sedangkan Disagio
adalah selisish kurang antara nilai nominal dan harga pasar. Untuk pembayaran harga saham
dapat dilakukan secara tunai, angsuran, penukaran dengan saham perusahaan lain (share swap)
atau harta yang lain (asset swap).
Modal Saham
Treasury Stock  Pembelian kembali saham oleh perusahaaan penerbit saham tersebut
Pencatatan treasury stock:
-Cost method : sebesar jumlah yang semula diterima apabila saham itu akan dikeluarkan
lagi
-Par value method : apabila saham dianggap ditarik dari peredaran
Penerimaan dari treasury stock dapat dianggap sebagai deviden apabila:
a.Dalam tahun lampau diperoleh laba
b.Kelebihan penerimaan diatas harga perolehannya
Untuk membantu likuiditas perusahaan atau pengakuan penilaian aktiva terlalu tinggi,
pemegang saham dapat menyerahkan kembali sahamnya (sebagai hibah, donasi atau
bantuan) kepada perusahaan. Dalam ketentuan perpajakan pemberian hibah saham oleh
persero kepada badan penerbit saham mempunyai dua dimensi pemajakan yaitu
mendatangkan keuntungan bagi penghibah dan secara implisit merupakan penghasilan bagi
badan penerima hibah.
Modal Saham
Saham preferen dapat ditukar dengan saham biasa, maka selisih Nilai Buku saham preferen
(nominal + agio) dengan Nilai Nominal saham biasa merupakan agio saham biasa (kalau lebih besar)
atau dibebankan ke laba yang ditahan (kalau lebih rendah).
 
Contoh:
PT Iwan mempunyai 1000 lembar saham prioritas convertible dengan harga nominal
@Rp.10.000.000. Agio saham Rp. 2.500.000. Pada 2 Januari 2000 diumumkan saham itu
dapatditukarkan dengan saham biasa dengan nilai nominal @ 5.000.000, dengan proporsi 1 lb saham
prioritas mendapat 3 lb saham biasa.
Pencatatan oleh PT Iwan
Modal saham prioritas 10.000.000
Agio saham prioritas 2.500.000
Laba ditahan 2.500.000
Saham biasa (3.000 x 5.000) 15.000.000
 
Untuk tujuan pajak pembebanan kepada laba ditahan 2.500.000 dianggap sebagai pembagian
deviden kepadapemegang saham prioritas. PT Iwan harus memotong PPh pasal 23 sebesar 15%, kecuali
pemegang saham itu sebuah badan dan penerima saham memperhitungkan dividen 2.500.000 dan
mengkreditkan PPh pasal 23.
Modal Perusahaan selain Badan Hukum

Ditinjau dari bentuk hukum perusahaan WP dapat membentuk perusahaan perorangan


(WP OP yang menjalankan usaha atau melakukan pekerjaan bebas), persekutuan, firma,
kongsi, koperasi, perkumpulan, yayasan, organisasi masa, organisasi sosial lainnya, serta
BUT. Sama halnya dengan modal saham, setoran modal pemilik usaha, sekutu dan anggota
firma, kongsi, anggota koperasi dan sumbangan harta yang disisihkan untuk yayasan untuk
tujuan pajak dicatat menurut nilai pasarnya dan selisih nilai pasar diatas nilai buku dihitung
sebagai keuntungan pengalihan dan menjadi pajak. Berbeda dengan dividen, pembagian laba
setelah pajak dari persekutuan, kongsi dan firma serta perkumpulan bukan merupakan obyek
pajak.
Jika saham dapat dijualbelikan tanpa membubarkan badan hukum, penjualan
kepemilikan pada persekutuan, firma dan kongsi menyebabkan bubarnyapersekutuan dan
lainnya tersebut secara hukum. Pembayaran kepada sekutu yang mengundurkan diri dapat
dilakukan oleh sekutu lama atau sekutu baru.
Tambahan Modal Saham
Menurut SAK ETAP yang diatur oleh IAI (2009:105-108)akun tambahan modal saham
terdiri dari berbagai unsur penambah modal seperti agio saham, tambahan modal
dari perolehan Kembali saham dengan harga yang lebih rendah dari jumlah yang
diterima pada saat pengeluaran, tambahan modah dari penjualan saham yang
diperoleh Kembali dengan harga diatas jumlah yang dibayarkan pada saat
perolehannya, tambahan modal dari perbedaan kurs modal saham dan lain
sebagainya.
Contoh:
PT Calvin menjual saham biasa dengan harga Rp.12,000 per lembar dengan nilai
nominal Rp.10,000 sebanyak 1,000 lembar pada tanggal 10 Januari 2012. Berikut
pembukuan yang dilakukan oleh PT Calvin.
Tanggal Keterangan Debit Kredit

10-Jan-12 Kas/Bak 12,000,000 -

  Saham Biasa - 10,000,000

  Tambahan Modal Saham - 2,000,000


Tambahan Modal Saham
Apabila transaksi diatas dilakukan melalui bursa efek, artinya transaksi
tersebut dikenakan PPh Final sebesar (0,1% + 0,5%) X Rp.12,000,000 =
Rp.72,000 sehingga perusahaan membukukan sebagai berikut:

Tanggal Keterangan Debit Kredit


10-Jan-12 Kas/Bak 11,928,000 -
  PPh Pasal 4 (ayat 2) 72,000  
-
  Saham Biasa 10,000,000
-
  Tambahan Modal Saham 2,000,000
PT Calvin akan mendapatkan bukti pemotongan PPh final Pasal 4(ayat2) atas penghasilan
dari transaksi penjualan saham yang diperdagangkan di bursa efek.
Perusahaan terkadang membeli Kembali sahamnya untuk tujuan tertentu dan hal ini sering
disebut dengan saham perbendaharaan (treasury stock). Treasury saham diperlukan sebagai
pengurang jumlah saham yang beredar. Untuk tujuan pajak, penerimaan dan pembelian
Kembali saham oleh perusahaan penerbit dapat dianggap sebagai dividen apabila dalam
tahun lampau diperoleh laba atau kelebihan penerimaan di atas harga perolehannya.
Tambahan Modal Saham
Saham preferen memiliki kemungkinan untuk dikonversi menjadi saham biasa.
Apabila terjadi pertukaran, maka selisih nilai buku saham preferen (nominal dan
agio), dengan nominal saham biasa dapat merupakan agio saham biasa (apabila lebih
besar) atau dibebankan kepada saldo laba (kalau lebih rendah), tetapi apabila
sebelumnya pernah dilakukan transaksi pembelian treasury stock yang sudah dijual
Kembali dan memperoleh agio atas saham perbendaharaan tersebut maka dapat
dibebankan terlebih dahulu pada agio saham perbendaharaan dan apabila tidak cukup
baru dibebankan ke saldo laba.
Contoh:
PT Dede mempunyai 2,000 lembar saham preferen convertible dengan nilai nominal .
Rp.10,000. Agio saham tersebut Rp.1,000,000. Pada tanggal 31 Desember 2011
diumumkan saham tersebut dapat ditukarkan dengan saham biasa dengan nilai
nominal Rp.5,500 di mana proporsi setiap 1 lembar saham preferen mendapat 2
lembar saham biasa. Pembukuan yang dilakukan oleh PT Dede adalah Sbb:
Tanggalm Keterangan Debit Kredit
31-Des-2011 Kas/Bak 150,000 -
  Saham Preferen 20,000,000  
  Tambahan Modal Saham 1,000,000  
  Saldo Laba 1,000,000  
  Saham Biasa - 22,000,000
  Utang PPh 23 - 150,000
(mencatat konversi saham dan pemotongan PPh 23 atas dividen sebesar Rp.1,000,000
Tambahan Modal Saham
Tanggal Keterangan Debit Kredit
-
10-Jan-12 Utang PPh 23 150,000
-
  Kas 150,000
(mencatat penyetoran PPh 23 ke Kas Negara)

Pembagian laba dalam bentuk saham termasuk dalam Pengertian dividen sehingga merupakan
objek pajak sesuai UU PPh tahun 2008 pasal 4 ayat (1) huruf g. Atas pembayaran penghasilan
tersebut wajib dilakukan pemotongan PPh 23/26 ataupun PPh Final oleh pihak yang wajib
membayarnya.
Saldo Laba dan Distribusi Laba
1. Saldo Laba (laba ditahan)
PSAK No. 21 menyatakan saldo laba menunjukkan akumulasi hasil usaha periodik setelah memperhitungkan
pembagian deviden dan koreksi laba periode lalu.
- sumber  hasil laba-rugi perusahaan
- sumber dari hasil operasi perusahaan : earning & profit (penghasilan & laba)
Contoh:
PT Darma dalam tahun 2000 memperoleh penghasilan kena pajak Rp. 100.000.000. Penghasilanitu diperoleh setelah
eliminasi penghasilan antar badan Rp. 34.000.000 dan pengeluaran untuk karyawan yang berupa fasilitas dan
kenikmatan Rp 20.000.000
Untuk keperluan perpajakan, penghasilan dan laba 2000 PT Darma yang dapat ditransfer ke saldo laba dihitung sbb:
Penghasilan kena pajak                        Rp. 100.000.000
Pajak penghasilan                                          21.250.000
                                                                       78.750.000
Penghasilan bukan objek pajak                   34.000.000 +
                                                                      112.750.000
Pengeluaran bukan pengurang PKP            20.000.000 –
Penghasilan dan laba                                     92.750.000
 Konsep earning and profit ini merupakan pendekatan ekstra komptabel untuk menghitungbesar saldo laba
yang  tersedia untuk pembagian deviden.  
Saldo Laba dan Distribusi Laba
1. Distribusi Laba
Distribusi laba kepada pemegang saham disebut dividen. Distribusi dividen menyebabkan
berkurangnya jumlah saldo laba. Pengecualian terhadap dividen saham dalam bentuk
pemecahan saham, dividen likuidas, pembagian lainnya yang bukan merupakan dividen dalam
pengertian akuntansi komersial,tetapi diperlakukan seperti itu dalam perpajakan.
Pengertian deviden dalam perpajakan:
1. Pencatatan tambahan modal yang dilakukan tanpa penyetoran
2. Penerimaan atau perolehan dari pembelian kembali sebagian atau seluruh saham yang disetor
3. Pembayaran kembali sebagian atau seluruh penyetoran modal, sepanjang terdapat laba
daritahun-tahun lampau, kecuali dalam pengecilan modal statuter
4. Pembayaran kepada atau penerbitan tanda-tanda laba
5. Laba yang dibagikan kepada pemegang obligasi yang berpartisipasi dalam laba
6. Pengeluaran perusahaan untuk keperluan pribadi persero yang dibebankan sebagai
biayaperusahaan
Ada tiga tanggal yang dipertimbangkan dalam pembagian deviden yaitu Tanggal pengumuman,
pendaftaran, dan pembayaran. Deviden secara resmi terhutang saat dilakukan pengumuan
pembagian deviden
Distribusi Laba
Contoh: Tanggal 20 Desember 2000 PT Darma mengumumkan akan membagi deviden sejumlah Rp.10.000.000. Pada
tanggal 5 Januari 2001 dividen dibayar tunai. Pencatatan:
 
a.20 Desember
Saldo laba 10.000.000
Utang deviden 8.500.000
Utang PPh pasal 23 1.500.000
a.5 Januari
Utang dividen 8.500.000
Utang PPh pasal 23 1.500.000
Kas 10.000.000    
 
Kalau pada contoh diatas dividen tidak dibayar tunai, tetapi dilunasi dengan penyerahan sekuritas PT Q yang
mempunyai nilai nominal Rp. 10.00.000 dengan kurs 110 (semula diperoleh dengan kurs 105) maka pencatatan
berdasarkan nilai pasar tampak sebagai berikut:
Investasi sekuritas PT Q                      500.000
         Laba atas investasi sekuritas                       500.000
 
Saldo laba                                     11.000.000
         Hutang deviden                                          11.000.000
 
Hutang deviden                             11.000.000
         Investasi sekuritas PT Q                             11.000.000
 
Distribusi Laba

Contoh: PT Darma membagikan deviden yang berupa treasury stock dengan harga
pasar Rp. 11.500.000. Harga perolehan saham itu Rp. 10.500.000. Pencatatan yang
dibuat oleh badan (tanpa memperhatikan PPh pasal 23 dan pasal 26) sebagai
berikut:
Saldo laba                              11.500.000
         Treasury stock                                    10.500.000
          Agio saham transaksi TS                    1.000.000
Right, Warrant, dan Opsi atas Saham
Perusahaan yang berkeinginan melakukan emisi saham dapat
memberikan kesempatan pertama untuk membeli saham kepada
pemegang saham lama (dalam bentuk pre-emptive stock right),
pemegang sekuritas yang lain dan opsi kepada pejabat atau karyawan
perusahaan. Penerbitan right dicatat dalam memorial. Bagi investor,
pengumuman right secara komersial diikuti dengan relokasi biaya
(harga) perolehan saham. Harga perolehan relokasi dipakai sebagai
unsur penambah harga saham baru
Right, Warrant, dan Opsi atas Saham
Contoh: PT Iwan memiliki 100 lembar saham PT Andi (dari total 1000 lembar). Nilai Nominal
saham Rp. 10.000 dan dibeli dengan harga Rp. 18.000 per lembar. PT Andi mengumumkan tiap
4 lembar saham lama dapat membeli 1 lembar saham emisi baru dengan harga Rp. 11.000.
Saham lama dijual di pasar dengan harga sebesar Rp. 14.500 (tanpa right), sedangkan right
dapat dijual dengan harga Rp. Rp. 500. Alokasi harga perolehan yang dilakukan PT Iwan
sebagai berikut:
a.Right = 500/(14.500 + 500) x Rp. 18.000 = Rp. 600 per lembar
b.Saham = Rp. 18.000 - Rp.600 = Rp. 17.400
 
Atas alokasi harga perolehan dicatat:
Hak atas saham PT Andi (600 x 100) Rp. 60.000
Investasi saham PT Andi Rp. 60.000
 Bila hak atas saham itu dimanfaatkan, dicatat:
Investasi saham PT Andi Rp. 335.000
Kas Rp. 275.000
Hak atas saham PT Andi Rp.   60.000
Right, Warrant, dan Opsi atas Saham

Nilai saham baru sebanyak 25 lembar yang dibeli sebesar 25 x Rp. 11.000,
ditambah denganharga right Rp. 60.000 dan jumlah totalnya Rp. 335.000. Kalau
right dijual semua dengan harga Rp. 875 per lembar, dibuat catatan sbb:
Kas (100 x 875) Rp. 87.500
Hak beli saham PT Andi Rp. 60.000
Laba penjualan hak beli saham PT Andi Rp.  27.500
  
Penerbitan saham preferen atau obligasi sering diikuti dengan hak untuk
membeli saham biasa perusahaan. Warrant membutuhkan alokasi harga perolehan
dan pencatatanyang lain oleh penerbit.
Right, Warrant, dan Opsi atas Saham
Contoh :
PT Surya menerbitkan 100 lembar saham preferen dengan nominal Rp. 10.000 dengan harga Rp. 12.000. Pemegang saham
preferen itu dapat memesan saham biasa dengan nominal Rp. 5.000 dengan harga Rp. 6.500. Segera setelah penerbitan
saham preferen warrant terjual dengan harga Rp. 1.000, sedangkan saham preferen tanpa warrant dijual dengan harga Rp.
11.500. Harga perolehan warrant = 1.00/(11.500 + 1.000) x 12.000 = Rp. 960.000 atau sebesar Rp. 960per lembar. Pada
saat penjualan 100 lembar saham preferen oleh PT Surya dibuat catatan sbb:
Kas Rp 12.000.000
Saham preferen Rp 10.000.000
Agio saham preferen 1.040.000
Warrant saham biasa 960.000
 Bila warrant dipakai semua, dicatat:
Kas Rp 6.500.000
Warrant atas saham biasa 960.000
Saham biasa Rp 5.000.000
Agio saham biasa  2.460.000
 Bila warrant dibiarkan kadaluarsa, dicatat:
Warrant atas saham biasa 960.0000
Tambahan setoran modal kadaluarsa-warrant 960.000
Secara komersial, kadaluarsanya warrant dianggap sebagai transaksi modal. Tidak ada keuntungan yang dilaporkan.
Opsi saham merupakan pemberian hak berpartisipasi karyawan dalam pemilikan perusahaan. Nilai yang dicatat dalam
realisasi program sebesar nilai pertukaran yang terjadi
Pembatasan terhadap saldo Laba
Secara komersial pembatasan laba dilakukan dengan pemindahbukuan sejumlah tertentu
dari saldo laba ke suatu apropriasi (penyisihan) untuk tujuan tertentu. Pada saat tujuan
pembatasan sudah tercapai maka jumlah apropriasi itu dikembalikan ke perkiraan semula
(saldo laba). Dari segi perpajakan karena laba itu masih berada dalam kelompok akun saldo
laba (dan hanya untuk “sementara” berpindah tempat)tampaknya tidak ada konsekuensi
fiskalnya.
Penyesuaian Modal karena Kuasi Reorganisasi
 Adakalanya perusahaan melakukan kuasi reorganisasi (restrukturisasi kapital) yang merupakan prosedur
penataan kembali modal yang dilakukan untuk menutup kerugian struktural atau defisit dalam jumlah yang
material.
Untuk menutup jumlah negatif saldo laba, dilakukan kuasi reorganisasi sbb:
1.Peralatan dinilai kembali sebesar harga pasar menjadi Rp 920.000 (semula 1.400.000)
2.Dalam aktiva lancar terdapat persediaan yang overstated Rp 80.000 dan Rp 40.000 merupakan piutang tak
tertagih
3.Nilai nominal saham diturunkan menjadi Rp. 40 per saham (semula Rp. 100)
Selisih Penilaian Kembali Aktiva Tetap
Akuntansi komersial menganut harga historis dan harga pertukaran. Penyimpangan dasar harga
historis dapat diterima apabila:
a.Terdapat perubahan harga yang cukup material dan secararelatif bersifat permanen
b.Memperoleh fasilitas perpajakan
c.Untuk penjualan saham di pasar modal
d.Untuk tujuan penggabungan usaha
  Prinsip penilaian kembali untuk memperoleh fasilitas perpajakan telah empat kali diberikan, yaitu
dr tahun 1971,1979,1986. Prinsip tersebut sama-sama berdasarkan harga indeks, baik harga perolehan
maupun depresiasi tahunan dihitungkembali dengan harga indeks.
Ketentuan revaluasi sejak tahun 1996, Harus dilakukan dengan bantuan lembaga appraisal yang
disahkan Mentri Keuangan berdasarkan harga pasar wajar, hanya boleh dilakukan terhadap aktiva
yang dimiliki lebih dari 5 tahun. Nilai sisa lebih dari penilaian kembali aktiva dikenakan pajak
penghasilan final 10% setelah terlebih dahulu dikompensasikan dengan kerugian yang masih berhak
atas kompensasi kerugian. Bila ada selisih penilaian kembali setelah pajak itu dikapitalisasikan dan
dibagikan dalam bentuk saham bonus, pembagian deviden tidak dikenakan pajak
penghasilanPenyusutan dari aktiva y ang dinilai kembali itu dilakukan bukan berdasarkan sisa manfaat,
tetapiberdasarkan masa manfaat (semula) sesuai dengan ketentuan perpajakan

Anda mungkin juga menyukai