Anda di halaman 1dari 11

Peran Lingkungan sebagai Penyebar Ulat Bulu di

Ekosistem Tanaman Perkebunan Kakao

Kelmpok ulat bulu (lymantridae)


 Asdianti D1F118003
 A.Annisa Amalya Azzahra D1F118015
 Serliana D1F118017
 Nurmiati D1F118027
 Ld.Muh.Gidhan Djabal Qubaisy D1F118047
RUMUSAN MASALAH

1. Bagaiamana fenomena ulat bulu sebagai dampak 2. Bagaimana peranan lingkungan sebagai penyebar ulat
perubahan iklim global bulu

3. Bagaimana cara pengandalian ulat bulu


pada tanaman kakao
1. Bagaiamana fenomena ulat bulu sebagai dampak perubahan iklim
global

Fenomena ulat bulu sebagai dampak perubahan iklim global dari aspek lingkungan
abiotik:
1.Fenomena perubahan iklim global yang terjadi beberapa tahun terakhir yang sulit
diprediksi seperti terjadinya hujan terus menerus selama dua tahun terakhir ini akan
menyebabkan meningkatnya kelembaban lingkungan. Apalagi setelah hujan terus
menerus diselingi oleh kondisi panas beberapa hari, hal ini akan sangat disukai oleh
berbagai serangga hama termasuk ulat bulu dan beberapa hama ordo Lepidoptera (ulat-
ulatan) lainnya.
2.Faktor lingkungan biotik seperti musuh alami hama sudah mulai berkurang,
misalnya burung, parasitoid, dan predator akan berdampak terhadap pertumbuhan dan
perkembangan hama yang tidak terkendali. Keberadaan burung burung pemakan ulat
sudah mulai agak jarang yang disebabkan bukan saja karena perburuan, tetapi juga
karena sudah terjadi gangguan keseimbangan ekosistem yang menyebabkan
burungburung tersebut sudah tidak nyaman lagi hidup pada tempat tempat tertentu.
3. Hujan yang terus menerus mengakibatkan musuh alami ulat bulu, yakni dari
golongan parasitoid seperti braconid dan apanteles tidak mampu bertahan hidup.
Sehingga, musuh alami itu tidak bisa mengontrol populasi ulat bulu yang semakin
banyak dan berkembangbiak dengan cepat. Sebagai contoh kalau parasitoid telur ulat
bulu bekerja maksimal, maka dari ribuan telur ulat, hanya beberapa telur saja yang
berhasil jadi ulat. Ketika musuh alami itu hilang karena hujan, jumlah telur yang
menetas semakin banyak. Hal inilah kemungkinan salah satu penyebab terjadinya
ledakan populasi.

4. Aspek inang juga berpengaruh terhadap perilaku ulat bulu. Karena ulat bulu tersebut
dengan spesies yang beragam bersifat polyphagus (mamakan banyak jenis tanaman),
hal ini juga akan sangat mempengaruhi cepat berkembangnya populasi dengan
ketersediaan tanaman inang, baik inang pokok atau inang alternatif. mengungkapkan
bahwa inang pokok dari ulat bulu tersebut adalah tanaman mangga, namun bisa saja
menyerang tanaman lain apabila inang pokok tidak tersedia secara cukup.
5. Penanaman suatu jenis tanaman secara terus menerus dengan periode yang tidak
serempak menyebabkan ketersediaan inang bagi berbagai jenis hama berlimpah. Perlu
diingat bahwa walaupun yang menjadi hama adalah stadia larva atau ulat, tapi petani
juga harus dilatih untuk memahami siklus hidup serangga mulai dari telur, larva,
kepompong sampai dewasa (kupu kupu atau ngengat).

6. Kesalahan kontrol, dimana pengamatan yang kita lakukan hanya terfokus pada
pengamatan ulat saja, tanpa mengamati keberadaan telur, larva, kepompong dan
dewasa. Karena kalau hanya mengamati ulat saja atau menganggap hanya ulat saja
yang perlu diperhatikan berarti kita sudah terlambat mengantsipasi terjadinya
perkembangan populasi serangga hama tersebut. Sebab kita sudah kehilangan
informasi mengenai tiga tahapan perkembangan serangga yaitu telur, kepompong dan
dewasa.

KEMBALI
2. Bagaimana peranan lingkungan sebagai penyebar ulat bulu

Berbagai narasumber telah membahas peningkatan populasi dan migrasi yang


tidak lazim ini. Salah satunya yang paling representatif mengatakan kasus ini
diakibatkan oleh meningkatnya suhu di Bumi akibat pemanasan global (Global
Warming). Dimana akibat peningkatan gas CO2 terjadi penurunan kandungan nitrogen
di daun-batang tanaman. Sementara serangga sangat membutuhkan nitrogen dalam
pertumbuhannya. Akibatnya serangga memakan daun dan tanaman dalam jumlah yang
banyak. Selain penyebab utama diatas, penyebab yang tidak kalah pentingnya adalah
keseimbangan ekosistem. Meningkatnya populasi ulat bulu dapat ditilik dari konsep
rantai makanan. Dimana dalam rantai makanan ini terjadi interaksi memakan atau
dimakan yang berproses secara alami. Dalam suatu ekosistem, semakin besar
keanekaragaman hayati, maka kemungkinan ekosistem itu untuk bertahan akan
semakin besar. Ekosistem yang memiliki kenaekaragaman hayati yang kaya cenderung
lebih seimbang dan tahan terhadap perubahan dibandingkan ekosistem yang memiliki
keanekaragaman hayati miskin.
Pada kasus ulat bulu ini, kemungkinan besar telah terjadi ketidakseimbangan
ekosistem. Dimana predator utama dari ulat bulu mengalami penurunan populasi akibat
ulah manusia. Salah satu predator ulat bulu adalah semut rang-rang. Semut ini
memangsa telur dari ulat bulu. Namun karena semut rang-rang sering diburu untuk
dijadikan pakan burung, maka jumlah populasinya semakin menyusut. Begitu juga
halnya dengan Kelelawar pemakan serangga. Kerusakan goa kapur, sebagai habitat
kelelawar jenis ini menyebabkan kelelawar kehilangan habitat dan populasinya
menyusut. Padahal kelelawar adalah predator dari ulat bulu dewasa. Dua predator
utama ulat bulu mengalami penyusutan populasi, keanekaragaman hayati rusak,
akibatnya terjadi ketidakseimbangan di ekosistem. Hasilnya populasi ulat bulu
meningkat tajam.
Solusi yang bisa dijalankan untuk jangka panjang adalah mengembalikan
keanekaragaman hayati tersebut. Dimana proses ekosistem kembali seimbang dan
rantai makanan alami kembali berjalan normal. Pemusnahan terhadap spesies ulat bulu
(Lymantriidae) mungkin saja dilakukan, tetapi akan memakan biaya yang mahal dan
waktu yang lama. Jadi, solusi yang paling bijak adalah mengembalikan keseimbangan
alam sesuai peruntukannya.

KEMBALI
3. Bagaimana cara pengandalian ulat bulu pada tanaman kakao

Pengendalian ulat bulu pada tanaman kakao dapat dilakukan dengan cara:
1. Pengendalian di Pembibitan.

a. Pengendalian ulat bulu pada pembibitan dilakukan seawal mungkin saat populasi
masih rendah yang dapat dilakukan secara mekanis (diambil dan dikumpulkan),
fisik (pembakaran gerombolan ulat awal biasanya pada batang tanaman lamtoro),
atau cara kimia dengan insektisida.
b. Penyemprotan diarahkan ke tanaman penaung dan bibit kakao. Dilakukan pada
pagi hari sebelum sebagian besar ulat turun ke pembibitan.
c. Evaluasi hasil penyemprotan dilakukan hari itu juga untuk memastikan
efektifitasnya.
d. Pengendalian di Areal TM
2. Pengendalian dilakukan secara terpadu dengan menggabungkan teknik-teknik
pengendalian yang kompatibel.

a. Secara mekanis: dilakukan dengan mencari dan mengumpulkan secara bertahap


imago, telur, larva dan baru pupa sesuai dengan urutanstadia hama yang sedang
berlangsung.
b. Secara fisik: dilakukan pembakaran telur-telur pada batanf tanaman dengan
menggunakan obor.
c. Secara kimia: penyemprotan dilakukan seawal mungkin setelah ditemukan larva
instar awal.

SELESAI
SEKIAN DAN TERIMA KASIH