Anda di halaman 1dari 28

HEADACHE DISORDER

Di susun
Oleh:
KELOMPOK 8
Sulistiani Kembari (1801216)
Indah Irma Suryani L (1801249)
Cut Nyak Siti Ulfa Jamila (1801222)
DEFINSI
Nyeri kepala adalah rasa nyeri atau rasa tidak
mengenakkan pada seluruh daerah kepala dengan batas
bawah dari dagu sampai kedaerah belakang kepala
( daerah oksipital dan sebahagian daerah tengkuk)
(Sjahrir, 2008).
EPIDEMIOLOGI
Berdasarkan hasil penelitian multisenter berbasis rumah
sakit pada 5 rumah sakit di Indonesia, didapatkan prevalensi
penderita nyeri kepala sebagai berikut : Migren tanpa aura 10%,
Migren dengan aura 1,8%, Episodik Tension type Headache 31%,
Chronic Tension type Headache (CTTH) 24%, Cluster Headache
0.5%, Mixed Headache 14% (Sjahrir, 2004).
Penelitian berbasis populasi menggunakan kriteria
Internasional Headache Society untuk Migrain dan Tension Type
Headache (TTH), juga penelitian Headache in General dimana
Chronic Daily Headache juga disertakan . Secara global,
persentase populasi orang dewasa dengan gangguan nyeri
kepala 46% , 11% Migren, 42% Tension Type Headache dan 3%
untuk Chronic daily headache (Stovner dkk 2007).
KLASSIFIKASI NYERI KEPALA
Berdasarkan klassifikasi Internasional Nyeri Kepala Edisi 2 dari Internasional Headache
Society (IHS) Untuk nyeri kepala primer secara garis besar klasifikasinya adalah:
1. Migren:
1.1. Migren tanpa aura
1.2. Migren dengan aura
1.3. Sindroma periodik pada anak yang sering menjadi prekursor migren
1.4. Migren Retinal
1.5. Komplikasi migren
1.6. Probable migren

2. Tension-type Headache:
2.1. Tension-type headache episodik yang infreguent
2.2. Tension-type headache episodik yang frequent
2.3. Tension-type headache kronik
2.4. Probable tension-type headache
3.Nyeri kepala klaster dan sefalgia trigeminal-otonomik yang lainnya:

3.1. Nyeri kepala Klaster


3. 2. Hemikrania paroksismal
3.3. Short-lasting unilateral neuralgi form headache with conjunctival injection and tearing
3. 4. Probable sefalgia trigeminalotonomik

4.Nyeri kepala primer lainnya:

4 1.Pimary stabbing headache


4. 2. Primary cough headache
4 3. Primary exertional headache
4.4. Nyeri kepala primer sehubungan dengan aktifitas seksual
4 5. Hypnic headache
4.6. Primary thunderclap headache
4.7. Hemikrania kontinua
4.8. New daily-persistent headache
NYERI KEPALA SEKUNDER
1. Nyeri kepala karena trauma kepala
2. Nyeri keplala karena kelainan vaskular
3. Nyeri kepala karena kelainan intrakranial nonvaskular
4. Nyeri kepala karena penggunaan suatu zat
5. Nyeri kepala karena infeksi
6. Nyeri kepala karena kelainan metabolik
7. Nyeri kepala atau nyeri wajah karena kelainan wajah
atau struktur kranial
8. Nyeri kepala atau wajah karena kelainan syaraf
FAKTOR PEMICU
1. Stress
2. Usia
3. Kebisingan
4. Masa kerja
5. Cahaya matahari
6. Lapar
Patofisiologi Nyeri Kepala Primer
Ada 3 hipotesa dalam hal patofisiologi migren yaitu: (Sjahrir 2004)
1.Pada migren yang tidak disertai Cutaneus Allodynia (CA), berarti
sensitisasi neuron ganglion trigeminal sensoris yang menginervasi
duramater.
2.Pada migren yang menunjukkan adanya CA hanya pada daerah
referred pain, berarti terjadi sensitisasi perifer dari reseptor
meninggeal (first order) dan sensitisasi sentral dari neuron komu
dorsalis medula spinalis (second order) dengan daerah reseptif
periorbital.
3.Pada migren yang disertai CA yang meluas keluar dari area referred
pain, terdiri atas penumpukan dan pertambahan sensitisasi neuron
talamik (third order) yang meliputi daerah reseptif seluruh tubuh.
Kemungkinan sumber nyeri pada TTH adalah adanya keterlibatan otot yang melekat
pada tulang tengkorak , patofisiologinya sebagian besar tidak diketahui.(Jan 2007).
Asal nyeri pada TTH dikaitkan dengan meningkatnya kontraksi dan iskemia otot
kepala dan leher. Penelitian berbasis elektromiografi (EMG), telah melaporkan normal atau
hanya sedikit meningkatnya aktivitas otot pada TTH, dan telah menunjukkan bahwa level
laktat otot normal selama latihan otot statis pada pasien dengan Cronic TTH. Banyak
penelitian menunjukkan bahwa Pericranial Myofascial Tissue jauh lebih tender pada pasien
TTH dari pada subyek sehat. Hal ini juga telah menunjukkan bahwa konsistensi otot
perikranium meningkat, pada pasien TTH lebih rentan untuk nyeri bahu dan nyeri leher
pada respon latihan statis dari subjek yang sehat. Studi terbaru yang dilaporkan
peningkatan jumlah trigger point aktif dalam otot perikranium pada pasien TTH episodik
lebih sering dan pada pasien yang memiliki TTH kronis (Bendtsen 2009).
Penyebab pasti Cluster Headache (CH) saat ini belum diketahui. Hipotesis pertama
pada CH, terinspirasi oleh efek zat vasoaktif. Disfungsi awal atau inflamasi pembuluh darah
di daerah sinus parasellar atau area sinus cavernosus akan mengaktivasi pathway nyeri
orbital trigeminus. Adanya aktivasi sistem trigeminal-vaskular, sebagai penyebab atau akibat
dari CH belum jelas. (Leroux dkk 2008).
PENATALAKSANAAN
Terapi non farmakologis
Pada nyeri kepala migrain hal yang dapat dilakukan adalah
dengan :
 Menempelkan es di kepala dan beristirahat atau tidur sejenak
biasanya dalam ruangan yang gelap dan tenang.
 Mengidentifikasi dan menghindari faktor-faktor yang memicu
serangan migrain: Pasien patuh terhadap program kesehatan
seperti istirahat teratur, olahraga, dan pola makan, berhenti
merokok, dan mengurangi mengkonsumsi kafein.
 Perubahan perilaku, seperti terapi relaksasi, biofeedback (sering
digunakan dalam kombinasi dengan terapi relaksasi), dan terapi
kognitif.
Hal ini seebagai pilihan pengobatan pencegahan untuk pasien
yang lebih memilih terapi tanpa obat atau ketika terapi
simtomatik yang kurang ditoleransi, kontraindikasi atau tidak
efektif (Dipiro, et al, 2008:1009).
Terapi farmakologi
Obat-obatan yang digunakan dalam pengobatan migrain dapat dibagi

menjadi dua kelompok: pengobatan migrain akut (obat antimigren akut,

misalnya ergotamin, sumatriptan) dan pengobatan yang bertujuan untuk

pencegahan (profilaksis obat, misalnya methysergide). Kedua kelompok

termasuk obat-obatan spesifik dan obat non-spesifik, tapi tinjauan ini akan

secara eksklusif berfokus pada pengembangan obat antimigren akut (Dipiro,

et al, 2008:1009).

Obat non spesifik


Obat ini digunakan untuk mengobati gejala yang menyertai nyeri kepala,

seperti antiemetik (metoklopramid), obat anti-inflamasi non-steroid

(NSAID, misalnya aspirin) dan sedatif (klorpromazin). NSAID adalah obat


Obat Spesifik
Obat ini dapat menghilangkan nyeri kepala sakit dengan
memproduksi vasokonstriksi selektif pembuluh darah
ekstrakranial.Contohnya termasuk alkaloid ergot, ergotamine dan
dihydroergotamine. Meskipun sangat efektif, pengguna ergotamine
harus dibatasi untuk pasien yang jarang terserang migrain parah,
dapat menyebabkan: vasokonstriksi perifer gejala berkepanjangan
ergotisme (mati rasa dan kesemutan pada jari tangan dan kaki);
nyeri jantung sugestif angina pectoris dan palpitasi sebagai akibat
dari vasospasme koroner, dan mual dan muntah dengan efek
langsung pada pusat muntah CNS (efek samping bermasalah karena
ini adalah bagian dari simtomatologi dari sakit kepala migrain).
Ergotamin merupakan kontraindikasi pada pasien dengan penyakit
pembuluh darah perifer, penyakit jantung koroner dan hipertensi.
STRATEGI TERAPI

Menghindari Pemicu

Terapi Terapi
Abortif Profilaksis
Terapi
Abortif
Analgesik
opiat

Kortikost Analgesik
eroid ringan

metoklop
NSAIDs
ramid

Ergotami Golongan
n triptan
1. Analgetik
Obat pilihan pertama untuk serangan migren ringan atau sedang adalah analgesik
2. Antiemetika
Penggunaan antiemetik dalam serangan migrain akut
dianjurkan untuk mengobati mual dan potensi emesis
dan karena diasumsikan obat ini meningkatkan resorpsi
dari analgesik. Metoklopramid memiliki khasiat
analgesik ringan ketika diberikan secara oral dan efek
dari obat tinggi bila diberikan secara intravena. Belum
terbukti bahwa kombinasi antiemetik dengan analgesik
lebih efektif daripada analgesik saja. Metockopramid 20
mg direkomendasikan untuk orang dewasa dan remaja,
pada anak-anak domperidon sebaiknya digunankan
pada dosis karena kemungkinan timbul efek samping
ekstrapiramidal dari metoklopramid
3.Alkaloid ergot

Keuntungan dari alkaloid ergot adalah tingkat kekambuhan lebih rendah

pada beberapa pasien. Oleh karena itu, zat ini harus dibatasi untuk pasien

dengan serangan migrain sangat panjang atau dengan kekambuhan yang

sering. Senyawa yang sudah terbukti berhasil menyembuhkan adalah

ergotamin tatrat dan dihydroergotamin 2 mg (oral dan suppositoria).

Alkaloid ergot dapat menyebabkan obat sakit kepala berlebihan sangat

cepat dan dalam dosis yang sangat rendah. Oleh karena itu, penggunaannya

harus dibatasi sampai 10 hari per bulan. Efek samping utama adalah mual,

muntah, parestesia, dan ergotism. Kontraindikasi adalah penyakit jantung

dan serebrovaskular, penyakit Raynaud’s, hipertensi arteri, gagal ginjal, dan

kehamilan dan menyusui .


4.Triptans (5-HT1B/1D-agonists)

Triptans penggunaannnya efektif selama serangan migren.


Namun, terbukti bahwa triptans sebelumnya digunakan
karena baik kemanjurannya. Hal ini masih diperdebatkan
apakah triptans kurang efektif atau bahkan mungkin gagal
jika digunakan setelah timbulnya allodynia selama serangan
migrain. Penggunaan triptans dibatasi untuk maksimum 9
hari per bulan dengan kriteria IHS, dalam studi
epidemiologi, risiko kronifikasi menjadi signifikan pada 12
hari per bulan asupan triptan. Sebaliknya, induksi obat sakit
kepala berlebihan mungkin bagi semua triptans. ika dosis
pertama triptan tidak efektif, dosis kedua tidak berguna.
Maka menggabungkan NSAID dengan triptan (naproxen
dengan sumatriptan) mengurangi sakit kepala kambuh (S.
Evers et al, 2009:970)
5.NSAIDs :
Menghambat sintesis prostaglandin, agregasi platelet,
dan pelepasan 5-HT
Naproksen terbukti lebih baik dari ergotamin
Pilihan lain : ibuprofen, ketorolak
6.Kortikosteroid
Dapat mengurangi inflamasi
7.Analgesik opiat
Contoh : butorphanol
Terapi
Profilaksis
Topirama
t

Verapami Beta
l Blocker

Antidepre
NSAIDs san
trisiklik

Asam / Na Metisergi
valporat d
Obat untuk Terapi Profilaksis
 Beta bloker
Merupakan drug of choice untuk prevensi migrain
Contoh: atenolol, metoprolol, propanolol, nadolol
 Antidepresan trisiklik
Pilihan: amitriptilin, bisa juga: imipramin, doksepin,
nortriptilin
Punya efek antikolinergik, tidak boleh digunakan untuk
pasien
glaukoma atau hiperplasia prostat
 Metisergid
Mrpkn senyawa ergot semisintetik, antagonis 5-HT2
 Asam/Na Valproat
Dapat menurunkan keparahan, frekuensi dan durasi pada
80% penderita migrain.
 NSAIDs
Aspirin dan naproksen terbukti cukup efektif
Tidak disarankan penggunaan jangka panjang karena dpt
menyebabkan gangguan GI
 Verapamil
Merupakan terapi lini kedua atau ketiga
 Topiramat
Sudah diuji klinis, terbukti mengurangi kejadian migrain
Daftar Pustaka
Dipiro, TJ, et al. 2008. Pharmacotherapy Aphatopysiologycal
Approach seventh edition . New York: Mc Graw-Hill
Goadsby,P.J. 2003. Clinical Prespective: Migraine: Diagnosis
and management. Institute of Neurology, The National
Hospital for Neurology and Neurosurgery, London, United
Kingdom