Anda di halaman 1dari 21

KELOMPOK 8/KELAS VI D

Cut Nyak Siti Ulfa Jamila (1801222)


Sulistiani Kembari(1801216)
Indah Irma S Lubis(1801249)
 Infeksi jamur merupakan penyakit yang disebabkan oleh
jamur. Penyakit ini dapat dialami oleh siapa saja. Namun
demikian, individu dengan sistem kekebalan tubuh lemah
lebih berisiko terserang infeksi jamur. Misalnya, penderita
HIV/AIDS, pasien kemoterapi, serta pasien pasca
transplantasi organ.
 Jamur adalah organisme yang dapat hidup secara alami di
tanah atau tumbuhan. Bahkan jamur bisa hidup di kulit
manusia. Meskipun normalnya tidak berbahaya, namun
beberapa jamur dapat mengakibatkan gangguan kesehatan
serius.
 Jamur adalah mikroorganisme yang termasuk golongan
eukariotik dan tidak termasuk golongan tumbuhan. Jamur
bersifat heterotropik yaitu organisme yang tidak mempunyai
klorofil sehingga tidak bisa membuat makanan sendiri
melalui proses fotosintesis seperti tanaman. Jamur
memerlukan zat organik yang berasal dari hewan, tumbuh-
tumbuhan, serangga, dan lain-lain kemudian dicerna menjadi
zat anorganik yang kemudian diserap oleh jamur sebagai
makanannya. Sifat inilah yang dapat menyebabkan kerusakan
pada benda dan makanan, Jamur juga masuk ke dalam tubuh
manusia sehingga dapat menimbulkan penyakit sehingga
menimbulkan kerugian dan diperlukan biaya yang besar
untuk mencegah kerusakan tersebut
 Data dari WHO di Negara berkembang, diperkirakan >40% pasien di Rumah
Sakit terserang infeksi nosokomial dan 8,7% pasien Rumah Sakit menderita
infeksi selama menjalani perawatan di Rumah Sakit. Insiden infeksi
nosokomial tertinggi terjadi didaerah Mediterania Timur 11,8%, Asia Selatan –
Timur 10 %, Eropa 7,7% dan Pasifik Barat 9 %. Di Italia, sekitar 6,7% pasien
rawat inap mengalami infeksi nosokomial pada tahun 2000 (sekitar 450.000
– 700.000 pasien), yang menyebabkan kematian pada 4500 – 7000. Di
Perancis, prevalensi infeksi nosokomial sebesar 6,87% pada tahun 2001 dan
meningkat menjadi 7,5% pada tahun 2006. Di Indonesia, penelitian yang
dilakukan di 11 rumah sakit di DKI Jakarta pada tahun 2004 menunjukkan
bahwa 9,8% pasien rawat inap mendapat infeksi nosokomial. Prevalensi
infeksi nosokomial di Indonesia yang dikeluarkan oleh Dirjen Pelayanan
Medik Depkes RI tahun 2003 adalah angka rata-rata sebesar 8,1% (Nasution,
2011). Menurut data yang didapatkan dari Tim Pengendalian Infeksi
Nosokomial RSUP.Dr.M.Djamil Padang, pada tahun 1996 dan 2002 tercatat
angka prevalensi infeksi nosokomial 9,1% dan 10,6%. Dimana angka tersebut
berada di atas prevalensi rata-rata rumah sakit pemerintah di Indonesia yaitu
6,6%
 Penyebab infeksi jamur tergantung kepada jenis infeksi itu
sendiri. Di bawah ini akan dijelaskan beberapa jenis infeksi
jamur, penyebabnya, serta faktor risiko yang menyertainya.
 Candidiasis
 Candidiasis disebabkan oleh infeksi jamur Candida. Pada kondisi
normal, jamur tersebut hidup secara alami di permukaan kulit.
Namun bila perkembangannya tidak terkendali, jamur tersebut
akan menyebabkan infeksi.
 Perkembangan jamur Candida yang tidak terkendali dapat dipicu
oleh sejumlah hal, antara lain kurangnya kebersihan diri,
mengenakan pakaian ketat, iklim yang hangat, serta kondisi kulit
yang lembap atau tidak dikeringkan dengan benar.
 Infeksi Candida auris
 Seperti namanya, infeksi ini disebabkan oleh jamur Candida auris.
Berbeda dari jamur Candida lain, Candida auris kebal terhadap obat
anti jamur yang biasa digunakan untuk mengobati candidiasis. Di
samping itu, jenis jamur ini juga dapat menyebabkan kematian pada
sebagian besar penderitanya.Candida auris menyebar dari orang ke
orang, melalui pemakaian bersama pada peralatan yang
terkontaminasi.

 Kurap
 Kurap disebabkan oleh jenis jamur yang hidup di tanah,
yaitu epidermophyton, microsporum, dan trichophyton. Seseorang
bisa terinfeksi bila menyentuh tanah yang terkontaminasi jamur
tersebut. Penyebaran dapat terjadi antara hewan ke manusia, atau
dari manusia ke manusia.
 Infeksi jamur kuku
 Infeksi jamur kuku terjadi ketika terdapat jamur di kuku yang
tumbuh tidak terkendali. Jenis jamur penyebab infeksi jamur
kuku sama dengan jamur penyebab kurap.
 Meskipun dapat terjadi pada siapa saja, risiko infeksi jamur
kuku lebih tinggi pada penderita diabetes, lansia di atas 65
tahun, pengguna kuku palsu, orang yang mengalami cedera
kuku, dan individu dengan kekebalan tubuh lemah.
 Aspergillosis
 Aspergillosis disebabkan oleh perpaduan antara sistem
kekebalan tubuh yang lemah dan paparan jamur Aspergillus.
Jamur ini dapat ditemukan di tumpukan kompos, tumpukan
gandum, dan sayuran yang membusuk.
 Selain pada individu dengan sistem kekebalan tubuh lemah (misalnya
kondisi sel darah putih rendah atau sedang mengonsumsi obat 
kortikosteroid), risiko aspergillosis lebih tinggi pada penderita asma
atau cystic fibrosis.
 Infeksi jamur mata
 Infeksi jamur mata adalah kondisi yang jarang, namun tergolong serius.
Infeksi jamur mata paling sering disebabkan oleh jamur  Fusarium yang
hidup di pohon atau tanaman. Jamur  Fusarium bisa masuk ke mata bila
mata tidak sengaja tergores bagian tanaman tersebut.
 Selain akibat cedera mata, infeksi jamur mata dapat terjadi pada pasien
yang menjalani operasi katarak atau transplantasi kornea. Pada kasus
yang jarang, infeksi jamur mata juga terjadi akibat penggunaan obat
tetes mata atau cairan pembersih lensa kontak yang sudah
terkontaminasi, serta pengobatan dengan suntikan kortikosteroid pada
mata.
 Pneumocystis pneumonia (PCP)
 PCP disebabkan oleh jamur Pneumocystis jirovecii, yang
menyebar melalui udara. PCP menyerang individu dengan
sistem kekebalan tubuh lemah, seperti penderita HIV/AIDS,
atau pada pasien pasca menjalani transplantasi organ
dan obat imunosupresif.
 Cryptococcus neoformans
 Infeksi ini disebabkan oleh jamur Cryptococcus neoformans.
Spora jamur tersebut dapat terhirup secara tidak sengaja,
namun tidak menyebabkan infeksi. Hanya saja, individu
dengan kekebalan tubuh lemah berisiko tinggi terinfeksi
jamur ini.
 Histoplasmosis
 Histoplasmosis disebabkan oleh jamur Histoplasma. Jamur ini dapat
ditemukan di tanah yang terpapar kotoran burung atau kelelawar.
Infeksi terjadi ketika spora jamur di tanah terhirup dan masuk ke
saluran pernapasan.
 Setiap orang dapat terjangkit histoplasmosis. Akan tetapi, infeksi ini
lebih rentan terjadi pada petani, peternak, penjelajah gua, pekerja
konstruksi, dan petugas pengendali hama.
 Mucormycosis
 Mucormycosis terjadi akibat menghirup spora jamur
golongan Mucorales secara tidak sengaja. Infeksi juga dapat terjadi
bila luka terbuka di kulit terpapar jamur ini.
 Jamur Mucorales bisa ditemukan di daun, kayu, tanah, atau di
tumpukan kompos. Namun walaupun jamur ini terdapat di alam,
bukan berarti infeksi pasti terjadi pada setiap orang yang terpapar
spora jamur. Infeksi lebih berisiko terjadi pada orang dengan sistem
kekebalan tubuh lemah, seperti penderita kanker dan diabetes.
 Sporotrichosis
 Sporotrichosis disebabkan oleh jamur Sporothrix yang banyak
ditemukan di tanah atau tanaman. Infeksi terjadi ketika spora
jamur masuk ke tubuh melalui sentuhan, terutama melalui
luka terbuka di kulit. Meskipun sangat jarang, infeksi juga
dapat terjadi bila menghirup spora jamur secara tidak
sengaja.
 Beberapa orang dengan jenis pekerjaan tertentu lebih
berisiko terserang infeksi sporotrichosis, misalnya tukang
kebun, petani, dan pasien yang sedang menjalani terapi
imunosupresif.
 Talaromycosis
 Talaromycosis disebabkan oleh jamur Talaromyces marneffei.
Sama seperti beberapa jenis infeksi jamur
lain, talaromycosis umumnya menyerang orang dengan
sistem kekebalan tubuh lemah.
Gejala infeksi jamur sangat beragam, tergantung bagian tubuh yang
terinfeksi, yang meliputi:
Bintik merah atau ungu di kulit

Muncul ruam kulit

Kulit pecah-pecah

Luka melepuh atau bernanah

Gatal-gatal

Rasa sakit di bagian yang terinfeksi

Pembengkakan di area yang terinfeksi

Batuk disertai darah atau lendir

Sesak napas

Demam

Penglihatan kabur

Mata merah dan sensitif pada cahaya

Air mata keluar berlebihan

Sakit kepala

Hidung tersumbat & Mual dan muntah


Infeksi jamur biasanya terjadi setelah kontak dengan individu yang
terinfeksi maupun paparan dari lingkungan yang memiliki suhu
lembab. Penyebaran juga mungkin terjadi melalui benda misalnya
pakaian, perabotan, dan sebagainya. Infeksi ini melibatkan tiga langkah
utama : perlekatan ke keratinosit, penetrasi melalui dan diantara sel,
dan perkembangan respon tubuh.

Perlekatan jamur superfisial harus melewati berbagai rintangan untuk


bisa melekat pada jaringan keratin diantaranya sinar UV, suhu,
kelembaban, kompetisi dengan flora normal dan sphingosin yang
diproduksi oleh keratinosit. Asam lemak yang di produksi oleh kelenjar
sebasea juga bersifat fungistatik4.
 Penetrasi. Setelah terjadi perlekatan, spora harus berkembang dan
menembus stratum korneum dengan kecepatan yang lebih cepat daripada
proses desquamasi. Penetrasi juga dibantu oleh sekresi proteinase, lipase
dan enzim mucinolitik, yang juga menyediakan nutrisi untuk jamur. Trauma
dan maserasi juga membantu penetrasi jamur ke keratinosit. Pertahanan
baru muncul ketika jamur mencapai lapisan terdalam epidermis.

 Perkembangan respon tubuh. Derajat inflamasi di pengaruhi oleh status


imun penderita dan organisme yang terlibat. Reaksi hipersensitivitas tipe IV,
atau Delayed Type Hipersensitivity (DHT) memainkan peran yang sangat
penting dalam melawan infeksi. Pasien yang belum pernah terinfeksi
dermatofita sebelumnya, Infeksi primer menyebabkan inflamasi dan tes
trichopitin hasilnya negatif. Infeksi menghasilkan sedikit eritema dan skuama
yang dihasilkan oleh peningkatan pergantian keratinosit. Terdapat hipotesis
menyatakan bahwa antigen dermatofita diproses oleh sel langerhans
epidermis dan di presentasikan dalam limfosit T di nodus limfe. Limfosit T
melakukan proliferasi dan bermigrasi ke tempat yang terinfeksi untuk
menyerang jamur. Saat ini, lesi tiba-tiba menjadi inflamasi, dan barier
epidermal menjadi permeable terhadap transferin dan sel-sel yang
bermigrasi.
Faktor-faktor tertentu yang meningkatkan resiko
infeksi jamur  yaitu:
 Hidup di lingkungan yang lembab.
 Kontak dekat dengan orang yang terinfeksi atau
hewan yang sakit.
 Berbagi pakaian, selimut atau handuk pada
penderita infeksi jamur kulit.
 Menggunakan pakaian ketat.
 Sistem kekebalan tubuh yang lemah.
 Mereka terinfeksi jamur mungkin rentan atau
sebelumnya pernah terinfeksi jamur.
:
 Tes KOH
Dalam tes KOH, dokter akan mengambil sampel kerokan kulit
pasien yang terinfeksi, lalu mencampurnya dengan larutan
KOH (kalium hidroksida). KOH akan menghancurkan sel kulit
sehat, dan menyisakan sel kulit yang terinfeksi jamur.

 Kultur jamur
Kultur jamur dilakukan guna mendeteksi apakah terdapat
jamur di area tubuh yang terinfeksi. Dalam prosedur ini,
dokter akan mengambil sampel darah, kulit, kuku, atau
lapisan dalam kulit pasien untuk dibiakkan di laboratorium.
 Tes pewarnaan gram
Tes ini dilakukan untuk mendeteksi
kemungkinan infeksi lain, yaitu bakteri. Tes
pewarnaan gram dilakukan dengan
mengambil sampel dahak, darah, atau urine
pasien untuk diteliti di laboratorium.

 Biopsi
Biopsi adalah pengambilan sampel jaringan
guna dianalisis di bawah mikroskop. Dokter
dapat mengambil sampel kulittergantung
kepada area yang terinfeksi.
Sejumlah komplikasi serius dapat muncul akibat infeksi jamur
yang tidak ditangani. Komplikasi tersebut tergantung kepada
jenis infeksi jamur yang diderita, antara lain:
Perdarahan di paru-paru

Penyebaran infeksi ke otak, jantung atau ginjal

Efusi pleura (penumpukan cairan pada pleura)

Pneumothorax (penumpukan udara pada pleura)

Gagal napas

Perikarditis atau radang pada kantung jantung

Gangguan kelenjar adrenal

Meningitis atau radang selaput otak

Kelumpuhan

Kejang
Nonfarmakologi
Infeksi jamur dapat dicegah dengan melakukan sejumlah langkah
berikut:
Jaga kebersihan kulit dan segera keringkan tubuh bila basah.

Jangan berbagi pakai handuk, pakaian, atau barang-barang pribadi.

Jaga kuku kaki tetap pendek, namun tidak terlalu pendek.

Jangan gunakan gunting kuku yang sama untuk kuku yang terinfeksi

dan yang tidak.


Kenakan alas kaki di tempat umum.

Jangan menggaruk area kulit yang terinfeksi.

Hindari mengenakan pakaian atau sepatu ketat.

Kenakan pakaian yang bersih untuk beraktivitas.

Segera cuci pakaian setelah digunakan.

Ganti pakaian dalam dan kaus kaki tiap selesai beraktivitas.


Farmakologi:
1. Obat anti jamur topikal:
Jenis golongan obat anti jamur yang sering digunakan:
1.Poliene : nystatin

2.Azole-imidazole: klotrimazol

3.Alilamin/benzilamin : Naftifin

4.Obat antijamur lainnya : Haloprogin

2. Obat anti jamur sistemik


Untuk pengobatan superfisial dansistemik:
1.Griseovulvin

2.Ketokonazol

3.Itrakonazol

4.Flukonazol

5.Vorikonazol

6.Terbinafin

7.Amfoterisin

8.Caspofungi

9.Fulsitosin
Jawetz,E.,(1991).Mikrobiologi Kedokteran.Jakarta:EGC Penerbit Buku
Kedokteran.
Kane,J.,(2000).Penyakit Jamur Pada Kulit.Jakarta:Hipokrates.