Anda di halaman 1dari 27

FARMAKOTERAPI I

PROSTATITIS

KELOMPOK 8/KELAS VI D
Cut Nyak Siti Ulfa Jamila (1801222)
Sulistiani Kembari(1801216)
Indah Irma S Lubis(1801249)
Definisi
Prostatitis adalah reaksi inflamasi pada kelenjar prostat yang
dapat disebabkan oleh bakteri maupun nonbakteri. Inflamasi ini akan
menyebabkan terjadinya pembesaran kelenjar prostat sehingga menekan
uretra dan menyebabkan gangguan berkemih. Patofisiologi prostatitis non
bakteri berhubungan dengan terjadinya disfungsi neuromuskular atau
refluks urin ke saluran prostat. Selain itu, prostatitis non bakteri juga
dapat disebabkan oleh infeksi HIV. Pada orang dengan HIV, prostatitis
viral umum terjadi dengan penyebab utama adalah cytomegalovirus.
Pada prostatitis bakterial, infeksi dapat berasal dari transmisi
seksual, tetapi dapat pula berasal dari penyebaran hematogen, limfatik,
atau dari lokasi yang berdekatan. Sumber patogen pada prostatitis
bakterial dapat berasal dari refluks urin intraprostatik, infeksi asenden
uretral, penyebaran limfatik dari rektum, atau penyebaran langsung dari
hematogen. Refluks urin merupakan penyebab utama terjadinya
prostatitis.
Prostatitis adalah peradangan (inflamasi) yang terjadi pada
kelenjar prostat, yaitu kelenjar yang memproduksi cairan mani
yang berfungsi untuk memberi makan dan membawa sperma.
Prostatitis bisa terjadi pada semua laki-laki dari segala usia, namun
umumnya terjadi di bawah usia 50 tahun, berbeda dengan kanker
prostat atau pembesaran kelenjar prostat yang cenderung dialami
oleh pria lanjut usia.
Prostatitis dibagi menjadi empat jenis, yaitu prostatitis
bakteri akut, prostatitis bakteri kronis, chronic prostatitis/chronic
pelvic pain syndrome (CP/CPPS), dan asymptomatic inflammatory
prostatitis. Penting untuk mengetahui jenis-jenis prostatitis ini
karena penyebab dan gejalanya berbeda-beda, sehingga
pengobatannya pun akan berbeda.
Klasifikasi
Kategori I: Prostatitis Bakterial Akut
Prostatitis kategori ini merupakan hasil infeksi bakteri pada kelenjar
prostat yang membutuhkan perawatan medis segera.

Kategori II: Prostatitis Bakterial Kronis


Prostatitis bakterial kronis adalah kondisi yang relatif jarang terjadi
dan biasanya muncul sebagai infeksi saluran kemih intermiten.
Prostatitis bakteri kronis umumnya tidak menimbulkan gejala klinis
atau memiliki gejala yang lebih ringan dibandingkan prostatitis
bakterial akut.
Kategori III: Prostatitis Nonbakterial Kronis atau Sindroma Pelvik
Kronis (Chronic Pelvic Pain Syndrome / CPPS)
Pada kategori ini, terdapat keluhan nyeri dan perasaan tidak
nyaman pada pelvis yang terlah berlangsung paling sedikit 3 bulan.
Kategori ini dibedakan dalam 2 subkategori, yaitu subkategori IIIA
adalah sindroma pelvik kronis dengan inflamasi dan IIIB adalah
sindroma pelvik non inflamasi.

Kategori IV: Prostatitis Inflamasi Asimtomatik


Secara klinis, pasien tidak menunjukkan adanya keluhan maupun
tanda dari suatu prostatitis. Prostatitis kategori ini umumnya
ditemukan dari analisis cairan semen untuk pemeriksaan infertilitas
atau dari jaringan prostat yang didapatkan pada biopsi maupun
pada saat operasi prostat. Sebagian besar prostatitis kategori ini
tidak memerlukan terapi
Epidemiologi
 Global
 Prevalensi prostatitis secara global adalah sekitar 5%, 90% di antaranya adalah
prostatitis kronis. Prostatitis dapat mengenai semua umur namun lebih sering
mengenai usia di bawah 50 tahun. Prostatitis bakterial akut lebih sering mengenai
usia di bawah 35 tahun. Walau demikian, prostatitis non bakterial kebanyakan
mengenai pasien di atas 50 tahun.
 Data di Amerika Serikat menunjukkan bahwa lebih dari 2 juta pria di Amerika
Serikat mencari pengobatan untuk prostatitis dengan biaya pengobatan mencapai
4000 dolar per pasien setiap tahunnya. Ras Afrika-Amerika memiliki risiko terkena
prostatitis 2 kali lipat dibandingkan ras kulit putih.
 Prevalensi prostatitis di negara lain sangat bervariasi: 4% di Belanda, 14% di
Finlandia, 8% di Malaysia, 6,6% di Kanada, dan 2,7% di Singapura.
 Indonesia
 Prostatitis kronis merupakan prostatitis yang paling sering dijumpai, 65% di
antaranya berupa prostatitis nonbakterial. Sebagian besar penderita prostatitis
berusia di bawah usia 35 tahun yang aktif secara seksual sehingga diduga
penularan agen infeksi melalui hubungan seksual meningkatkan kejadian
prostatitis.
Etiologi
 Berikut ini adalah sejumlah penyebab prostatitis yang
dikelompokkan berdasarkan jenis-jenisnya:
 Prostatitis bakteri akut. Kondisi ini disebabkan oleh infeksi
bakteri yang menyebar naik. Beberapa jenis bakteri yang dapat
memicu terjadinya prostatitis akut antara lain E.
coli dan Pseudomonas. Bakteri penyebab infeksi menular
seksual seperti Neisseria gonorrhoeae yang menjadi penyebab
penyakit gonore, dan Chlamydia trachomatis juga dapat menjadi
penyebab infeksi. Prostatitis bakteri akut biasanya terjadi pada
usia di bawah 35 tahun.
 Prostatitis bakteri kronis. Berbeda dengan prostatitis bakteri
akut, prostatitis bakteri kronis Penyebabnya juga merupakan
penyebaran infeksi dari saluran kemih, sehingga jenis bakterinya
sama dengan penyebab prostatitis bakteri akut. Prostatitis bakteri
kronis juga dapat dipicu oleh penyakit lain seperti tuberkulosis
ginjal, HIV, dan sarkoidosis.
 Chronic prostatitis/chronic pelvic pain
syndrome (CP/CPPS). Merupakan jenis prostatitis yang paling
sering terjadi dan belum diketahui secara pasti penyebabnya.
Gejala yang muncul mirip dengan prostatitis bakteri kronis,
namun yang berbeda adalah pada saat pemeriksaan tidak
ditemukan bakteri yang tumbuh.
 Asymptomatic inflammatory prostatitis. Merupakan kondisi
ketika prostat meradang, namun tidak menimbulkan
gejala. Asymptomatic inflammatory prostatitis dapat diketahui
ketika dokter melakukan pemeriksaan kesehatan kelenjar
prostat. Penyebab dari jenis prostatitis ini sama dengan
prostatitis bakteri kronis.
Gejala
 Prostatitis bakteri akut. 
Gejala prostatitis bakteri akut biasanya muncul dengan cepat,
seperti:
◦ Demam, menggigil, nyeri sendi, dan pegal-pegal.
◦ Aliran urine lemah dan nyeri saat berkemih.
◦ Nyeri punggung bawah dan nyeri di pangkal penis atau di
bagian belakang skrotum.
◦ Selalu terasa ingin buang air besar.
 Prostatitis bakteri kronis. 
Gejalanya yang dialami antara lain adalah:
◦ Selalu ingin buang air kecil (terutama pada malam hari) atau
tidak dapat buang air kecil.
◦ Nyeri punggung bawah, daerah dubur, dan nyeri pada saat
berkemih.
◦ Rasa berat di belakang skrotum.
◦ Nyeri setelah ejakulasi dan terdapat darah pada cairan semen.
 Chronic prostatitis/chronic pelvic pain
syndrome (CP/CPPS). Gejala utama dari CP/CPPS adalah nyeri
yang dirasakan lebih dari tiga bulan pada salah satu bagian
tubuh, seperti penis (terutama di daerah kepala penis), bagian
perut bawah atau punggung bawah, serta skrotum atau di antara
skrotum dan dubur. Sedangkan untuk Gejala lainnya sama
dengan gejala pada prostatitis bakteri kronis.
 Asymptomatic inflammatory prostatitis. Tidak ada gejala
yang dirasakan, seringkali ditemukan saat pemeriksaan
kesehatan pada prostat.
Patofisiologi
Patofisiologi Prostatitis Kronis
Prostatitis kronis diperkirakan disebabkan oleh kelainan pada
sumbu hipotalamus-hipofisis-adrenal dan gangguan hormon yang
melibatkan hormon adrenokorteks yang dapat berasal dari respons
variabel terhadap stres, peradangan neurogenik, dan sindrom nyeri
miofasial. Pada pemeriksaan mikroskopik, neutrofil atau limfosit
dapat terlihat di dalam kelenjar prostat, di antara sel-sel epitel atau
di dalam komponen stroma.

Patofisiologi Prostatitis Bakterial


Prostat adalah kelenjar sistem reproduksi laki-laki yang
terletak di depan rektum dan tepat di bawah kandung kemih. Prostat
berukuran kecil dan beratnya sekitar 15 sampai 25 gram. Kelenjar
prostat mengelilingi saluran kencing yang disebut uretra, yang
membawa air kencing dari kandung kemih keluar melalui ujung
penis.
Prostat dibagi menjadi 3 zona, yaitu zona transisional,
sentral, dan periferal. Zona transisional merupakan zona prostat
yang dilewati oleh uretra prostatik, mulai dari leher buli sampai ke
uretra membranosa. Epitelium zona ini terdiri dari sel transisional,
serupa dengan epitelium kandung kemih, sehingga zona ini disebut
sebagai zona transisional. Pada zona transisional, saluran ejakulatori
bermuara ke uretra. Zona sentral merupakan area yang berada di
sekitar saluran ejakulatori. Zona periferal merupakan zona yang
terletak pada bagian posterior dan lateral prostat. Zona periferal
inilah yang akan teraba secara palpasi pada pemeriksaan digital
rektal.
Implikasi Anatomis Prostat
Zona periferal pada prostat memiliki posisi saluran prostat
yang lebih mendatar dengan drainase yang buruk. Hal ini
menyebabkan zona ini menjadi zona yang paling sering mengalami
infeksi. Refluks urin yang terinfeksi atau infeksi asenden dari uretra
akan memasuki prostat. Bila terjebak dalam saluran prostat
(terutama pada zona periferal, patogen dapat berkembang sehingga
terjadi prostatitis bakterial.
Diagnosa
Dokter akan menanyakan gejala, riwayat penyakit, dan
pemeriksaan fisik sebelum menentukan diagnosis yang tepat
termasuk jenis dari prostatitis. Pemeriksaan fisik yang dilakukan
termasuk pemeriksaan colok dubur karena kelenjar prostat dapat
diraba melalui pemeriksaan colok dubur.

Setelah itu, dokter akan melanjutkan pemeriksaan dengan metode-


metode berikut ini:
Tes darah. Tes ini bertujuan untuk mendeteksi tanda infeksi
seperti hitung darah lengkap atau kultur kuman dari
darah. Terkadang karena prostat meradang, prostate-specific
antigen (PSA) yang biasa mendeteksi kanker prostat, juga dapat
meningkat.
Tes urine. Dokter akan mengambil sampel urine pasien untuk
memeriksa tanda-tanda infeksi. Deteksi bakteri dapat dilakukan
melalui kultur urine dengan meletakkan sampel urine pada medium
khusus untuk melihat adanya pertumbuhan kuman dan jenis kuman
yang tumbuh.
Prostatic massage. Prostatic massage atau pijat prostat dilakukan
saat pemeriksaan colok dubur dan bertujuan untuk memperoleh
cairan sekresi dari prostat sebagai sampel untuk dianalisis.
Pemeriksaan ini tidak boleh dilakukan pada pasien yang dicurigai
menderita prostatitis bakteri akut.
Pemindaian. Pemindaian dapat dilakukan dengan USG atau CT
Scan untuk memperoleh gambaran visual prostat, sehingga
memudahkan diagnosis.
Faktor Resiko
 Terdapat beberapa faktor yang bisa meningkatkan risiko
seseorang untuk mengalami prostatitis. Di antaranya adalah:
 Mengalami infeksi saluran kemih.
 Memiliki riwayat prostatitis sebelumnya.
 Mengalami cedera daerah panggul dan lipat paha.
 Menggunakan kateter urine.
 Menderita HIV/AIDS.
 Pernah melakukan biopsi prostat, yaitu pengambilan sampel
jaringan prostat untuk diperiksa di bawah mikroskop.
Komplikasi
Jika tidak segera ditangani, prostatitis dapat menyebabkan
komplikasi berupa:
Epididimitis, yaitu radang pada saluran yang menyalurkan sperma
dari testis.
Infeksi bakteri yang menyebar ke dalam darah (bakteremia).
Abses prostat.
Gangguan pada produksi cairan mani, serta kemandulan akibat
prostatitis kronis
PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan Farmakologi
1.Prostatitis Bakteria Akut

Fluoroquinolones

Digunakan untuk pengobatan


pada pasien prostatitis bakteri
akut, dimana pengobatan awal
diberikan melalui intaravena
 Antibiotik alternatif lain yang dapat diberikan pada
pasien ini antara lain ampicillin/ gentamycin yang
digunakan secara kombinasi, doksisiklin, dan
trimethoprim-sulfat. Pengobatan diberikan selama 4-6
minggu dan pengobatan diselesaikan dengan pemberian
obat secara oral setelah gejala akut berkurang dimana
tujuannya untuk mencegah timbulnya prostatitis bakteri
kronis atau abses prostat
Pilihan penggunaan obat oral dan intravena pada prostatitis bakteri akut

Antibiotik (kelas) Mekanisme Dosis Target Parameter


bakteri monitoring
Gentamisin Bakterisidal, 5 Gram CBC, fungsi ginjal,
(aminoglikosida) dengan mg/kg/hari negatif serum level,
menghambat ototoxicity
sintesis protein
bakteri

Tobramisin Bakterisidal, 3-5 Gram CBC, fungsi ginjal,


(aminoglikosida) dengan mg/kg/hari negatif serum level,
menghambat dibagi 3 ototoxicity
sintesis protein dosis
bakteri
Vancomisin Bakterisidal, 2 g/hari tiap Gram CBC, fungsi ginjal,
(glikopeptida) menghambat 6-12 jam negatif serum level,
sintesis dinding ototoxicity, tek.
sel darah (hipotensi)
Levofloxacin (fluoroquinolone) Bakterisidal, 500-750 mg tiap Gram negatif CBC, fungsi ginjal,
menghambat 24 jam fungsi hepar, GDS,
aktivasi grainase elektrolit, neuro-
DNA toxicity

Ciprofloxacin (fluoroquinolone) Bakterisidal, 400 mg tiap 8- Gram negatif CBC, fungsi ginjal
menghambat 12 jam
aktivasi grainase
DNA

Ampicillin (penicillin) Bakterisidal, 2 g tiap 4-6 jam Gram positif CBC, tanda-tanda
menghambat infeksi, diare, skin
sintesis dinding rash
sel bakteri

Cefazolin (cephalosporin) Bakterisidal, 1 gr tiap 8 jam Gram positif CBC, fungsi ginjal,
menghambat fungsi hepar, skin
sintesis dinding rash
sel bakteri

Trimetropim (sulfa) Menghambat 100 mg tiap 12 Gram negatif CBC, fungsi ginjal
enzim jam atau 200 mg dan hepar
dihydrofolate tiap 24 jam
reductase
Amoxicillin Bakterisidal, 500 mg Gram CBC, diare,
(penicillin) menghambat tiap 8 jam positif skin rash
sintesis
dinding sel
bakteri

Cefalexin Bakterisidal, 500 mg Gram CBC,


(cephalosporin) menghambat tiap 6 jam positif gangguan
sintesis GI, pruritis
dinding sel
bakteri

Dicloxacillin Bakterisidal, 500 mg Gram CBC,


(penicillin) menghambat tiap 6 jam positif gangguan
sintesis GI, skin
dinding sel rash
bakteri
2. Prostatitis Bakteri Kronis

Meskipun dengan terapi, dasar pengobatan untuk Prostatitis


Bakteri Kronis masih kurang optimal. Antibiotik yang
diberikan tidak dapat mencapai konsentrasi dan menembus
barier plasma epitelium dan masuk ke dalam sel kelenjar
prostat. Pemberian fluoroquinolones memberikan hasil yang
baik dalam hal tersebut. Antibiotik alternatif lain yang dapat
diberikan carbenicillin, doksisiklin, minoksiklin dan sefaleksin.
Jangka waktu perawatan dapat diberikan minimal 4 minggu
sampai 4 bulan.
Tabel. Pilihan pengobatan oral untuk prostatitis kronik sindroma nyeri pelvis kronik

Obat Dosis Bukti Efek Samping Keterangan


Klinis

Antibiotik
Ciprofloxacin 500 mg + Diare, nausea, nyeri kepala, Meningkatkan skor NIH-
rash, pandangan kabur CPSI. Hentikan terapi
jika gejala tidak
berkurang setelah 4
minggu pemakaian

Levofloxacin 500 mg + Diare, nausea, nyeri kepala, Meningkatkan skor NIH-


rash, pandangan kabur CPSI. Hentikan terapi
jika gejala tidak
berkurang setelah 4
minggu pemakaian
Alpha-adrenergic blocker
Mekanisme kerja :memblok reseptor adrenergik α 1 sehingga mengurangi
faktor dinamis pada Prostatis dan akhirnya berefek relaksasi pada otot polos
prostat.

Tamsulosin 0.4 mg + Nyeri sendi, ejakulasi


abnormal, nyeri perut, nyeri
kepala

Terazosin 1-5 mg + Edema, hipotensi, nyeri kepala


ringan, asthenia, kongestif nasal

Alfazosin 5 mg + Nyeri perut, konstipasi, vertigo,


gejala respiratori, fatig

Doxazosin 4 mg + Edema, nasusea, hipotensi,


nyeri kepala, vertigo, fatig

Glicosaminoglycan
Pentosam 100 mg + Alopesia, nyeri kepala, GI  
polysulfate symptoms
5-alpha-reductase inhibitor
Mekanisme kerja dari obat ini adalah mengurangi volume prostat dengan
menurunkan kadar hormon testosteron.

Finasteride 5 mg + Rash, disfungsi ereksi, libido


menurun

Phynoteraphy

Saw palmetto 325 mg – GI symptoms, nyeri kepala,  


kolesistitis, nyeri oto, disfungsi
ejakulasi dan ereksi

Cernilton 1 tablet TID -/+ Dermatitis, eksema Meningkatkan beberapa


keluhan

Quercetin 500 mg + Dispneu, emesis, nefrotoxic  


Terapi Non Farmakologi

Pembatasan Minuman Berkafein


Tidak mengkonsumsi alkohol
Diet rendah lemak
Meningkatkan asupan buah-buahan
dan sayuran
Latihan fisik secara teratur
Tidak merokok
Daftar Pustaka
Crispo,A.,(2013).Resiko Kanker Prostat dan Hiperplasia Prostat
Jakarta: UI Press

Shetty.A.,(2OO2).Penatalaksanaan Prostatitis.Jakarta:Kompas Gramedia