Anda di halaman 1dari 47

1.

KEKERASAN
SEKSUAL
SENGGAMA
DEFINISI SENGGAMA
Penetrasi penis ke dalam vagina baik sebagian maupun
total ke dalam vagina, yang disertai maupun tidak disertai
dengan ejakulasi
senggama dapat terjadi apabila laki – laki dalam keadaan
aktif → penis berereksi

wanita dapat disetubuhi baik dalam :

• keadaan aktif : ereksi klitoris dan lubrikasi ( keluarnya


cairan mukosa pada vagina ) guna membasahi dinding
vagina agar tidak mengalami iritasi.

• pasif (keadaan tidak sadar maupun meninggal)


Prinsip agar senggama atau persetubuhan
dianggap legal atau tidak melanggar hukum
1. Ada izin ( Consent ) dari yang disetubuhi
• Izin sah → sadar (concious), wajar (naturally), tanpa keragu – raguan
(unequivocal), kemauan sendiri (voluntary).

• Izin tidak sah → dengan cara paksaan (force), tipudaya (fraud) atau dengan
menciptakan ketakutan (fear).

2. Wanita tesebut sudah cukup umur


• Batas umur termuda bagi seorang wanita untuk melangsungkan perkawinan
adalah 15 tahun

3. Sehat Akalnya
• Bersenggama dengan wanita idiot atau embecil = Perkosaan.
• Pada kondisi mental tersebut korban tidak mungkin mampu (berkompeten)
memberikan konten atau persetujuan yang ditanggung jawabkan secara yuridis.
Kategori Kejahatan Seksual
Non
Senggam
Senggam
a
a
Perselingkuha
Pencabulan
n

Perkosaan

Persetubuhan
dengan wanita
dibawah umur

Persetubuhan
dengan wanita
yang tidak
berdaya

Incest
1. Perselingkuhan
merupakan sebuah kasus penyelewengan dan ketidak setiaan suami atau istri
dengan melibatkan pihak ketiga sebagai teman selingkuhannya

Dasar hukum :
• Pasal 284 KUHP tentang perzinahan
(seorang laki – laki telah beristri yang bersetubuh dengan seseorang
perempuan padahal patut diketahui BW ( Burgerlijk Wetboek ) masih
berlaku baginya pidana penjara sembilan bulan.

• Pasal 287 KUHP


Barangsiapa bersetubuh dengan seorang wanita di luar perkawinan, padahal
diketahuinya atau sepatutnya harus diduganya bahwa umurnya belum lima belas
tahun, atau kalau umurnya tidak jelas bahwa belum waktunya untuk dikawin,
diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun

Penuntutan hanya dilakukan atas pengaduan, kecuali jika umur wanita belum
sampai dua belas tahun atau jika ada salah satu hal berdasarkan pasal 291 dan
pasal 294
2. Perkosaan
Tindak pidana perkosaan di Indonesia harus memenuhi unsur – unsur
sebagai berikut :

1. Unsur Pelaku
a. Harus orang laki – laki
b. Mampu melakukan persetubuhan

2. Unsur korban
c. Harus orang perempuan
d. Bukan istri dari pelaku

3. Unsur perbuatan terdiri atas :


e. Persetubuhan dengan paksa ( Againts her will )
f. Pemaksaan tersebut harus dilakukan dengan menggunakan kekerasan
fisik atau ancaman kekerasan
Dasar Hukum Perkosaan :

• Pasal 285 KUHP


barang siapa dengan kekerasan atau dengan ancaman kekerasan
memaksa seorang wanita yang bukan istrinya bersetubuh dengannya,
dihukum karena memperkosa, dengan pidana penjara selama –
lamanya 12 tahun

• Pasal 289 KUHP


hubungan seksual yang dilakukan secara oral maupun anal yang
disertai dengan kekerasan maupun ancaman kekerasan tidak dapat
diklasifikasikan sebagai perkosaan melainkan sebagai perbuatan yang
menyerang kehormatan kesusilaan.
3. Persetubuhan dengan wanita dibawah umur
Perbuatan yang merupakan pemaksaan kehendak dari orang dewasa
terhadap anak dibawah umur yang dilakukan tanpa atau dengan kekerasan

Dasar Hukum :
• Pasal 287 ayat 1 KUHP
barang siapa bersetubuh dengan seorang wanita yang bukan istrinya,
padahal diketahuinya atau sepatuhnya harus diduga, bahwa umur wanita
itu belum lima belas tahun atau kalau umurnya tidak jelas, bahwa belum
waktu nya untuk dikawinkan, diancam pidana penjara paling lama 9 tahun

• Pasal 288 ayat 1 KUHP


barang siapa bersetubuh dengan seseorang wanita didalam pernikahan,
yang diketahui atau sepatutnya harus diduga bahwa sebelum mampu
kawin, diancam apabila perbuatan mengakibatkan luka – luka, dengan
pidana penjara paling lama empat tahun.
4. INCEST
hubungan seksual yang dilakukan oleh orang yang masih
memiliki kedekatan keluarga

Dasar Hukum :

• Pasal 294 ayat 1 KUHP


Barang siapa melakukan perbuatan cabul dengan anaknya, anak
tirinya, anak angkatnya, anak dibawah pengawasannya yang belum
cukup umur, atau dengan orang yang belum cukup umur yang
memeliharanya, pendidikan atau penjagaannya diserahkan kepadanya
ataupun dengan bujangan atau bawahannya yang belum cukup umur,
diancam dengan pidana paling lama tujuh tahun
5. Persetubuhan dengan wanita tidak berdaya
• Tidak berdaya adalah keadaan dimana korban harus terbukti berada
dalam keadaan pingsan atau tidak berdaya.

Dasar Hukum :
• Pasal 286 KUHP
Barangsiapa bersetubuh dengan seorang wanita di luar perkawinan
padahal diketahuinya bahwa wanita itu dalam keadaan pingsan atau
tidak berdaya, diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan
tahun
Kejahatan Seksual Non Senggama
(Pencabulan)
• Perbuatan cabul adalah perbuatan yang dilakukan oleh orang dewasa
terhadap anak di bawah umur untuk melakukan perbuatan yang bertentangan
dengan kehormatan korban.

Dasar Hukum :
• Pasal 289 KUHP
Barang siapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa seorang
untuk melakukan atau membiarkan dilakukan perbuatan cabul, diancam karena
melakukan perbuatan yang menyerang kehormatan kesusilaan, dengan pidana
penjara paling lama sembilan tahun.

• Pasal 290 ayat 2 KUHP


Barang siapa melakukan perbuatan cabul dengan seorang padahal diketahuinya
atau sepatutnya harus diduganya, bahwa umumnya belum lima belas tahun atau
kalau umumnya tidak jelas, yang bersangkutan belum waktunya untuk dikawin
dapat diancam dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun
• Pasal 290 ayat 3 KUHP
barang siapa membujuk seseorang yang diketahuinya atau sepatutnya
harus diduganya bahwa umurnya belum lima belas tahun atau kalau
umumnya tidak jelas yang bersangkutan atau bersangkutan belum
waktunya untuk dikawin, untuk melakukan atau membiarkan dilakukan
perbuatan cabul, atau bersetubuh di luar perkawinan dengan orang
lain dapat diancam dengan hukuman pidana penjara paling lama tujuh
tahun

• Pasal 292 KUHP


Orang dewasa yang melakukan perbuatan cabul dengan orang lain
sesama kelamin, yang diketahuinya atau sepatutnya harus diduganya
belum dewasa, diancam dengan pidana penjara paling lama lima
tahun.
PEMBUKTIAN
PERKOSAAN
Dokter hanya dapat diminta bantuannya untuk melakukan
pemeriksaan terhadap:
• Korban, dengan tujuan untuk:
• Mengungkap apakah betul korban seorang perempuan.
• Mengungkap apakah betul telah terjadi senggama.
• Mengungkap identitas laki-laki yang menyetubuhi.
• Mengungkap apakah betul telah terjadi kekerasan fisik.
• Tersangka, dengan tujuan untuk:
• Mengungkap apakah tersangka benar-benar laki-laki.
• Mengungkap apakah tersangka dapat melakukan senggama (tidak
impoten).
Tanda Persetubuhan

Tanda langsung:
• robeknya selaput dara akibat
penetrasi penis.
• Lecet atau memar akibat gesekan-
gesekan penis
• Adanya sperma akibat ejakulasi

Tanda tidak langsung


• terjadinya kehamilan
• terjadinya penularan penyakit
kelamin
Tanda Kekerasan

Kekerasan adalah tindakan pelaku yang bersifat fisik yang


dilakukan dalam rangka memaksa korban agar dapat
disetubuhi. Termasuk kekerasan di sini adalah penggunaan
obat-obatan yang dapat mengakibatkan korban tidak sadar.
Pertama yang perlu dicatat adalah:
• Waktu dan nama polisi yang mengantarkan
korban/tertuduh ke dokter di rumah sakit dengan
permintaan visum et repertum.
• Nama bidan atau perawat yang membantu dokter.
• Waktu dan tempat dilakukan pemeriksaan.
• Korban/tertuduh harus menandatangani formulir bersedia
diperiksa.
Anamnesis meliputi:
• Nama, umur, tanggal lahir, pekerjaan.
• Status perkawinan: belum kawin, kawin, cerai.
• Tanggal haid terakhir, hamil
• Persetubuhan sebelum kejadian: belum pernah/pernah
• Terakhir tanggal, pukul, pakai kondom.
• Obat kontrasepsi: ya/tidak, macam:
• Obat lain : ya/tidak, macam:
• Minuman keras: macam: , berapa banyak:, waktunya:
• Anamnesis mengenai kejadian:
• Kapan kejahatan terjadi.
• Kapan melapor kepada polisi.
• Di mana terjadi kejahatan ini, lukisan mengenai TKP.
• Apa yang dilakukan tertuduh dari awal sampai terjadi
persetubuhan.
• Adakah tertuduh melakukan kekerasan
• Adakah ancaman kekerasan dari tertuduh. Caranya:
• Apakah korban pingsan. Mengadakan perlawanan.
• Berteriak minta tolong. Apakah terjadi persetubuhan.
• Seluruh penis masuk dalam vagina. Ada mani keluar dari
vulva.
• Waktu penetrasi berasa nyeri. Sudah buang air kecil,
cebok, mandi, ganti pakaian.
Pemeriksaan medik korban kejahatan seksual
Status Umum:
• Perhatikan: keadaan rambut, tampang muka, pakaiannya.
• Keadaan kesadaran, emosi korban, mengantuk, sedih, menangis,
gembira, pengaruh obat penenang, narkotika, minuman keras.
• Cara korban berjalan.
• Ukur tinggi badan, timbang berat badan, perkiraan umur.
• Korban/tertuduh diminta menanggalkan pakaian satu persatu. Dari
ketiga data ini dapat diambil kesimpulan bahwa korban dapat
melakukan perlawanan atau tidak.
• Dari umur yang perlu diperhatikan adalah: belum umur 12 tahun,
belum 15 tahun, belum genap 21 tahun. Kemudian periksa dan
perhatikan tanda-tanda kekerasan.
• Kepala:
Mata : pupil miotik, midriasis
Mulut : bekas pembungkaman.
• Leher : bekas cekikan.
• Dada:
Payudara : bekas gigitan, remasan. Buat foto dengan
meletakkan skala.
• Perut : bekas persentuhan dengan benda tumpul.
• Punggung : bekas landasan yang tidak rata korban
dipaksa berbaring.
• Lengan : bekas tangkisan, bekas suntikan di lekuk siku,
punggung tangan.
• Kuku : kumpulkan kotoran di bawah kuku, simpan dalam
amplop.
• Tungkai bawah : bekas suntikan.
• Status lokalis : alat kelamin

• Paha : ada kekerasan di bagian


medial paha akibat merenggangkan
kedua paha yang diimpitkan korban.

• Pubis : rambut kemaluan disisir dengan sisir


halus, mencari rambut asing. Rambut yang
lepas, noda yang kering, dimasukkan amplop
yang bersih dan diberi keterangan yang cukup.
Ambil contoh rambut kemaluan korban,
masukkan di amplop lain.
Alat kemaluan
• Bibir kemaluan : tanda kekerasan: lecet, memar,
hiperemis.
• Selaput dara : buat sediaan mikroskopik dari lendir
sekitar selaput dara.

Perhatikan robekan baru/hampir sembuh. Sesuaikan


lokasi robekan dengan jarum pendek jam tangan.
Vagina dan serviks
• Vagina diperiksa dengan spekulum. Adakah benda asing
yang tertinggal dalam vagina. Buat sediaan dari lendir di
vagina dan forniks vagina. Semua lendir yang ada di
vagina dan forniks vagina diambil dengan swab,
dikeringkan pada suhu udara kamar dan disimpan,
mungkin di kemudian hari dapat dipakai untuk menunjuk
pelaku kejahatan dengan pemeriksaan DNA-
fingerprinting.
Pakaian:
• Pakaian diperiksa satu persatu. Perhatikan adanya
robekan atau noda. Kelau robek, robekan itu baru atau
sudah lama. Kancing baju yang tanggal, baru atau sudah
lama. Kalau baru, beritahu penyidik untuk mengusahakan
mendapatkan barang bukti itu. Perhatikan punggung
pakaian. Ada bekas landasan korban dipaksa tidur.
Perhatikan tali BH yang putus, baru atau lama. Kalau ada
kelainan pada pakaian, pakaian yang dipakai dianggap
sebagai barang bukti dan dibungkus sesuai berita acara
pembungkusan dan diserahkan pada penyidik.
Pemeriksaan Penunjang
• pengambilan swab dan pemeriksaan cairan sperma
• pemeriksaan darah dan urin
• pemeriksaan kehamilan