Anda di halaman 1dari 10

INVERSIO UTERI

KELOMPOK 8
DECSTY MULIYANI NIM 2019.A.10.0796
DERIANTY NIM 2019.A.10.0798
KRISTINA ERNA MAYA YONA NIM 2019.A.10.0808
RANSY APRILIANA NIM 2019.A.10.0818
ROSSANA IRMA WATI NIM 2019.A.10.0822
INVERSIO UTERI

adalah suatu keadaan dimana bagian atas uterus (fundus uteri )


memasuki kavum uteri sehingga fundus uteri sebelah dalam menonjol
ke dalam kavum uteri, bahkan ke dalam vagina atau keluar vagina
dengan dinding endometriumnya sebelah luar.(Ilmu
Kandungan,Sarwono Prawiroharjo)
KLASIFIKASI

1. Inversio uteri ringan


2. Inversio uteri sedang
3. Inversio uteri berat
PENYEBAB

1. Pada grandemultipara karena terjadi atonia


uteri
2. Tali pusat terlalu pendek
3. Tarikan tali pusat terlalu keras , sedangkan
kontraksi uterus belum siap untuk melahirkan
plasenta.
4. Pelaksanaan peraat Crede, saat kontraksi
uterus belum siap untuk mendorong plasenta
lahir.
5. Plasenta terlalu erat melekat pada tempat
implantasinya (Manuaba. 2003)
FATOFISIOLOGI

Uterus dikatakan mengalami inversi jika bagian dalam menjadi di luar


saat melahirkan plasenta. Reposisi sebaiknya segera dilakukan. Dengan
berjalannya waktu, lingkaran konstriksi sekitar uterus yang terinversi
akan mengecil dan uterus akan terisi darah. Dengan adanya persalinan
yang sulit, menyebabkan kelemahan pada ligamentum-ligamentum, fasia
endopelvik, otot-otot dan fasia dasar panggul karena peningkatan
tekanan intra abdominaldan faktor usia. Karena serviks terletak diluar
vagina akan menggeser celana dalam dan menjadi ulkus dekubiltus
(borok). Dapat menjadi SISTOKEL karena kendornya fasia dinding depan
vagina (mis : trauma obstetrik) sehingga kandung kemih terdorong ke
belakang dan dinding depan vagian terdorong kebelakang. Dapat terjadi
URETROKEL, karena uretra ikut dalam penurunan tersebut
GEJALA

1. Pada pemeriksaan luar pada palpasi abdomen, fundus uteri sama


sekali tidak teraba atau teraba tekukan pada fundus.
2. Perdarahan yang berasal dari bekas implantasi plasenta.
3. Tarikan peritoneum perietalis, menyebabkan rasa nyeri sehingga
dapat dikatakan sebagai syok neutogenik
4. Tarikan peritonium perietalis menyebabkan dinding abdomen tegang
sehingga sulit melakukan palpasi dengan baik untuk menegakkan
diagnosis inversio uteri. (Manuaba. 2003)
PENANGANAN

1. Atasi syok dengan pemberian infus Ringer


Laktat dan bila perlu transfusi darah.
2. Reposisi manual dalam anestesi umum,
baiknya plasenta jangan dilepaskan dulu
sebelum uterus di reposisi karena dapat
menimbulkan perdarahan banyak. Setelah
reposisi berhasil, diberi drip oksitosin dan
dapat juga dilakukan kompresi bimanual.
Pemasangan tampon rahim dilakukan
supaya tidak terjadi lagi inversio.
3. Jika reposisi manual tidak berhasil,
dilakukan reposisi operatif.
(Sastrawinata,2003)
KOMPLIKASI
1. Keratinisasi mukosa vagina dan portio uteri
2. Dekubitis
3. Hipertropi serviks uteri dan elongasioa
4. Gangguan miksi dan stress inkontenensia
5. Infeksi saluran kencing
6. Infertilitas
7. Gangguan partus
8. Hemoroid 
9. Inkarserasi usus
KESIMPULAN

 Penanganan inversio uteri ialah yang pertama, atasi syok dengan pemberian infus
Ringer Laktat dan bila perlu transfusi darah, kemudian melakukan reposisi manual
dalam anestesi umum, baiknya plasenta jangan dilepaskan dulu sebelum uterus di
reposisi karena dapat menimbulkan perdarahan banyak. Setelah reposisi berhasil,
diberi drip oksitosin dan dapat juga dilakukan kompresi bimanual. Pemasangan
tampon rahim dilakukan supaya tidak terjadi lagi inversio. Jika reposisi manual tidak
berhasil, dilakukan reposisi operatif
TERIMAKASIH