Anda di halaman 1dari 52

PRESENTASI KASUS

KEJANG DEMAM SEDERHANA

Oleh :
dr. Billie Sancho Thea

Pembimbing:
dr. Aprizal, MARS
IDENTITAS PENDERITA
Nama : An. A
Tgl. Lahir : 14 Maret 2013
Umur : 2 tahun 0 bulan
Jenis kelamin : laki-laki
Tanggal masuk : 14 Maret 2015
Tanggal diperiksa : 14 Maret 2015
ANAMNESIS
Dilakukan secara Heteroanamnesis  ibu pasien tanggal 14
Maret 2015
Keluhan utama : Kejang
Keluhan tambahan : demam dan batuk berdahak
ANAMNESIS
Riwayat penyakit :
 Pasien anak laki-laki, usia 2 tahun dibawa ke IGD
RSUD Cileungsi dengan keluhan kejang yang terjadi ± 30
menit SMRS. Kejang dialami pasien saat sedang di rumah
dan hanya berlangsung satu kali, yaitu kaku pada seluruh
tubuh, tangan dan kaki serta mata melirik ke atas.
Kejang berlangsung selama ± 10 menit, dan setelah
kejang pasien langsung menangis. Pada saat kejang,
orang tua pasien tidak menahan tubuh pasien dan
tidak memasukkan apapun ke dalam mulutnya.
 Sejak 2 hari SMRS, pasien mengalami demam tinggi
dan batuk bedahak.

Untuk keluhan lainnya seperti mimisan, gusi berdarah,


maupun berak berwarna hitam disangkal. BAB dan BAK
tidak didapatkan keluhan.

Riwayat alergi disangkal.


Riwayat Penyakit Dahulu :
kejang demam 1 tahun yang lalu

Riwayat Penyakit Keluarga :


Ayah pasien dan saudara kembarnya memiliki riwayat
kejang demam.

Usaha berobat :
sudah diberi obat penurun panas dan obat batuk
dari warung tapi belum ada perbaikan.
Riwayat Kehamilan dan Persalinan
Anak ke-2 dari 2 bersaudara
Lahir hidup :2
Lahir mati :- Abortus : -
Lahir : aterm, spontan oleh
Bidan
Berat badan lahir :-
Panjang badan lahir :-
Imunisasi
No Nama Dasar Ulangan No Nama Anjuran
1. BCG 1x (Scar +) - 6. HiB -

2. DPT 3x - 7. MMR -

3. POLIO 3x - 8. HEPATITIS A -

4. HEPATITIS B 3x - 9. CACAR AIR -

5. CAMPAK 9 bulan - 10. TYPHI -


Penyakit keluarga
Batuk dan pilek : tidak ada
Asma : tidak ada
TBC : tidak ada
Kejang : ayah pasien dan saudar kembar
pasien pernah mengalami kejang ketika demam
Pemeriksaan Fisik
1. Keadaan umum
 Kesadaran : Compos mentis
 Keadaan sakit : Sakit sedang

2. Tanda-tanda vital
 Nadi : 112x/ menit, regular, ekual, isi cukup
 Suhu tubuh : 38,5˚C
 Pernafasan : 28x/menit, tipe abdominotorakal
3. Pengukuran
 Umur : 2 tahun 0 bulan
 Berat badan : 14 Kg
 Panjang/tinggi badan : 90 cm
(105,2% standar BB/TB)
 Status gizi : Baik

4. Pemeriksaan sistematik
 Rambut : hitam, lebat, tidak mudah dicabut
 Kulit : tidak pucat, tidak sianosis, tidak ada edema,
turgor kembali cepat
 Kuku : capillary refill <2 detik
 Kelenjar getah bening : tidak teraba membesar
Kepala : bentuk dan ukuran simetris
Rambut : hitam, lebat, tidak mudah dicabut
Mata : konjungtiva anemis -/-, sklera
ikterik -/-, tidak cekung, air mata +
THT : PCH -/-, sekret hidung –/- sekret
telinga -/-
Mulut : bibir lembab, mukosa basah, faring
hiperemis, T1/T1
Leher : KGB t.t.m
Dinding Dada : B/P Simetris
Paru-Paru :
Inspeksi : Bentuk dan pergerakan simetris kanan = kiri,

retraksi -
Palpasi : Vokal fremitus simetris kanan = kiri
Perkusi : sonor
Auskultasi : VBS + / + kanan = kiri, ronchi +/+,
wheezing - / -

Jantung :
Inspeksi : ictus cordis tidak tampak
Palpasi : ictus cordis teraba di ICS IV MCL (S), thrill -
Perkusi : Batas jantung dalam batas normal
Auskultasi : bunyi jantung I & II, regular, murmur - 
Perut :
Inspeksi : datar
Palpasi : soepel, hepar tidak teraba, lien tidak
teraba.
Perkusi : timpani
Auskultasi : bising usus + normal

Alat kelamin : tidak diperiksa


Anus dan rektum : tidak diperiksa
Ekstremitas : akral hangat, CRT < 2 s
Status Neurologis
Kesadaran : Compos Mentis
Tanda meningeal : kaku kuduk (-), Kernig (-), Brudzinski
I (-), Brudzinski II (-)
Motorik : kekuatan Baik, Tonus otot baik.
Paralisis : (-)
Sensibilitas : Tidak dilakukan
Reflek fisiologis : reflek bisep (+)|(+),reflek trisep
(+)|(+)
Reflek patologis : babinsky (-/-), openheim (-/-), hoffman
(-/-)
Pemeriksaan Penunjang
 Darah :14/03/2015
 Hb : 11.3 gr/dl
 Ht : 37%
 Leukosit : 13.300
 Trombosit : 454.000 /mm3.
DIAGNOSIS KERJA
Kejang demam sederhana e.c ISPA
TATALAKSANA
Medikamentosa
O2 2lpm
- IVFD RL 10 tpm
- Paracetamol inf

Konsul SpA
Diazepam 5mg iv (bila kejang)
Stesolid syr 3x1 cth
Sanmol drop 150mg/ 4jam
Ambroxol syr 3x1/2 cth
Proris (bila perlu)
Rawat inap  APS
Pencegahan
Umum :
Bila Panas Kompres dan beri antipiretik

Khusus :
Edukasi kepada Orang Tua tentang kejang
Prognosis
Quo ad vitam : ad bonam
Quo ad functionam : ad bonam
Qua ad sanationam : dubia
PEMBAHASAN

KEJANG DEMAM
Kejang Demam
 Adalah bangkitan kejang yang terjadi pada
kenaikan suhu tubuh (suhu rektal di atas 38°C)
yang disebabkan oleh suatu proses ekstrakranium
Penjelasan Definisi KD
 Kejang demam terjadi pada 2-4% anak berumur 6
bulan – 5 tahun.
AAP, Provisional Committee on Quality Improvement.
Pediatrics 1996; 97:769-74.

 Anak yang pernah mengalami kejang tanpa demam,


kemudian kejang demam kembali tidak termasuk
dalam kejang demam.
ILAE, Commission on Epidemiology and Prognosis.
Epilepsia 1993; 34:592-8.
Penjelasan Definisi KD…
 Kejang disertai demam pada bayi berumur kurang dari 1 bulan
tidak termasuk dalam kejang demam.
ILAE, Commission on Epidemiology and Prognosis.

 Bila anak berumur kurang dari 6 bulan atau lebih dari 5 tahun
mengalami kejang didahului demam, pikirkan kemungkinan
lain misalnya infeksi SSP, atau epilepsi yang kebetulan terjadi
bersama demam.
Kesepakatan Saraf Anak, 2005.
KLASIFIKASI

Konsensus Penatalaksanaan
Kejang Demam
Klasifikasi Kejang Demam
Macam Kejang Demam (KD)
1. Kejang Demam Sederhana (Simple Febrile Seizure),
atau KDS
2. Kejang Demam Kompleks (Complex febrile seizure),
atau KDK

ILAE, Commission on Epidemiology and Prognosis.


Epilepsia 1993l 34:592-8.
Kejang Demam Sederhana
Atau Simple Febrile Seizure atau KDS adalah:
 Kejang demam yang berlangsung singkat, kurang dari
15 menit, dan umumnya akan berhenti sendiri
 Kejang berbentuk umum tonik dan atau klonik, tanpa
gerakan fokal
 Kejang tidak berulang dalam waktu 24 jam
 Kejang demam sederhana merupakan 80% di antara
seluruh kejang demam
Kejang Demam Kompleks
Atau Complex Febrile Seizure atau KDK adalah kejang
demam dengan ciri sbb:
1. Kejang lama > 15 menit
2. Kejang fokal atau parsial satu sisi, atau kejang umum
didahului kejang parsial
3. Berulang atau lebih dari 1 kali dalam 24 jam
Penjelasan KDK
 Kejang lama adalah kejang yang berlangsung lebih dari 15 menit
atau kejang berulang lebih dari 2 kali dan di antara bangkitan kejang
anak tidak sadar. Kejang lama terjadi pada 8% kejang demam.
Nelson KB, Ellenberg JH. Prognosis in Febrile seizure.

 Kejang fokal adalah kejang parsial satu sisi, atau kejang umum yang
didahului kejang parsial.
Annegers JF, Hauser W, Shirts SB, Kurtland LT. Factors
prognostic of unprovoked seizures after febrile convulsions.
.
Penjelasan KDK…
 Kejang berulang adalah kejang 2 kali atau lebih
dalam 1 hari, di antara 2 bangkitan kejang anak sadar.
Kejang berulang terjadi pada 16% di antara anak yang
mengalami kejang demam.

Shinnar S. Febrile seizures Dalam: Swaiman KS, Ashwal S,


eds. Pediatric Neurology principles and practice.
.
Pemeriksaan Penunjang KD
 Laboratorium
 Pungsi lumbal
 Elektroensefalografi (EEG)
 Radiologis
Laboratorium
 Tidak dikerjakan secara rutin
 Untuk mengevaluasi sumber infeksi
 Pemeriksaan yang dapat dikerjakan misalnya darah
perifer, elektrolit dan gula darah

Gerber dan Berliner. The child with a simple febrile seizure.


Appropriate diagnostic evaluation.
AAP, The neurodiagnostic evaluation of the child with a first
simple febrile seizures.
Pungsi Lumbal
 Untuk menegakkan atau menyingkirkan kemungkinan
meningitis (Risiko meningitis bakterialis 0,6%-6,7%)
 Rekomendasi untuk melakukan Pungsi Lumbal:
 SANGAT DIANJURKAN: Bayi < 12 bulan
 DIANJURKAN: Bayi 12 - 18 bulan
 TIDAK RUTIN: Bayi > 18 bulan
 Klinis: Yakin bukan meningitis  Tidak perlu pungsi lumbal
Elektroensefalografi (EEG)
 EEG tidak dapat memprediksi berulangnya kejang, atau
memperkirakan kemungkinan kejadian epilepsi pada pasien
KD  Tidak direkomendasikan (level II-2, rekomendasi E)

 Pemeriksaan EEG masih dapat dilakukan pada keadaan KD


yang tidak khas. Misalnya: KDK pada anak usia > 6 tahun, atau
KD fokal.
Radiologis
 Foto X-ray kepala, CT-scan atau MRI jarang sekali
dikerjakan, tidak rutin dan hanya atas indikasi:
 Kelainan neurologik fokal yang menetap
(hemiparesis)
 Paresis N. VI
 Papiledema
Wong V, dkk. Clinical Guideline on
Management of Febrile Convulsion.
HK J Paediatr 2002; 7:143-151.
PENATALAKSANAAN

Konsensus Penatalaksanaan
Kejang Demam
Penatalaksanaan
Meliputi:
 Pemberian obat pada saat demam:
 Antipiretik
 Antikonvulsan

 Penatalaksanaan saat kejang:


 Di rumah / tempat praktek
 Di rumah sakit
 Pemberian obat rumatan:
 Indikasi
 Jenis antikonvulsan
 Lama pengobatan

 Edukasi orang tua


Pemberian obat saat demam
Antipiretik
Parasetamol 10-15mg/kg/kali  3-4x sehari
Ibuprofen 5-10mg/kg/kali 3-4x sehari
Bila kejang telah teratasi:
 Pemberian obat selanjutnya tgt:
1. Jenis kejang demam
2. Faktor resiko
Pemberian Obat Rumatan
1. I N D I K A S I
 Obat rumatan DIINDIKASIKAN diberikan pada KD
dengan ciri-ciri sbb:
1. Kejang lama > 15 menit
2. Kelainan neurologis sebelum dan sesudah kejang
(hemiparesis, paresis Todd, cerebral palsy, retardasi
mental dan hidrosefalus)
3. Kejang fokal
Pemberian Obat Rumatan…
 Obat rumatan DIPERTIMBANGKAN diberikan
pada KD bila:
1. Kejang berulang 2 kali dalam 24 jam
2. Pada bayi < 12 bulan
3. 4 kali per tahun

AAP. Practice parameter: Longterm treatment of the child with simple febrile
seizures.
Pemberian Obat Rumatan…
2. JENIS ANTIKONVULSAN
 Asam valproate atau fenobarbital setiap hari efektif
menurunkan resiko berulangnya KD (Level I)
 Fenobarbital ditinggalkan karena menimbulkan
gangguan prilaku dan kesulitan belajar (40-50%)
 Pilihan saat ini adalah asam valproate (Depakene®)
Pemberian Obat Rumatan…
Asam valproate:
 Dosis asam valproate (Depakene®) adalah 15 – 40
mg/kg/hari dibagi dalam 2 -3 dosis
 Pada sebagian kecil kasus, terutama usia <2 tahun

AAP. Committee on drugs. Behavioral and cognitive effects of anticonvulsant therapy.


AAP. Practice parameter: Longterm treatment of the child with simple febrile seizures.
Knudsen FU. Febrile seizures-treatment and outcome. Epilepsia 2000; 41:2-9.
Pemberian Obat Rumatan…
3. LAMA PENGOBATAN
 Diberikan selama 1 tahun bebas kejang
 Kemudian dihentikan secara bertahap selama 1-2
bulan.
Soetomenggolo TS. Buku Ajar Neurologi Anak.
Knudsen FU. Febrile seizures: treatment and outcome. Brain Dev.
Edukasi Pada Orang Tua
 Kejang SELALU menakutkan bagi orang tua
 Pada saat kejang, mereka beranggapan anaknya meninggal
 Kecemasan dikurangi dengan cara:
1. Meyakinkan bahwa KD mempunyai prognosis baik
2. Memberitahukan cara penanganan kejang
3. Memberikan informasi kemungkinan kejang kembali
4. Pemberian obat untuk mencegah frekuensi memang efektif
tetapi harus diingat adanya efek samping obat
Bila Terjadi Kejang (berulang)
1. Tetap tenang dan tidak panik
2. Kendorkan pakaian, terutama di sekitar leher
3. Bila tidak sadar, posisikan anak terlentang dengan kepala miring.
Bersihkan muntahan atau lendir di mulut atau hidung. Jangan
memasukkan sesuatu ke dalam mulut
4. Ukur suhu, observasi dan catat lama dan bentuk kejang
5. Tetap bersama pasien selama kejang
6. Berikan diazepam rektal. Dan jangan diberikan bila kejang telah
berhenti
7. Bawa ke dokter atau rumah sakit bila kejang berlangsung 5 menit atau
lebih
PROGNOSIS

Konsensus Penatalaksanaan
Kejang Demam
Prognosis…
 Kemungkinan mengalami kematian
 Kematian karena kejang demam tidak pernah
dilaporkan

National Institutes of Health. Febrile seizure: consensus


development conference Summary. Vol. 3, no. 2, Bethesda.
Prognosis…
 Kemungkinan berulangnya kejang demam
 Kejang demam akan berulang kembali pada sebagian kasus. Faktor
risiko berulangnya kejang demam adalah:
 Riwayat kejang demam dalam keluarga
 Usia kurang dari 12 bulan
 Temperatur yang rendah saat kejang
 Cepatnya kejang setelah demam
 Bila seluruh faktor di atas ada, kemungkinan 80%
 bila tidak terdapat faktor tersebut kemungkinan hanya 10%-15%
 Kemungkinan berulangnya kejang demam paling besar pada tahun
pertama.
Prognosis…
 Faktor risiko terjadinya epilepsi:
1. Kelainan neurologis atau perkembangan yang jelas sebelum KD
pertama
2. KDK
3. Riwayat epilepsi pada orang tua atau saudara kandung
 Setiap faktor risiko meningkatkan kemungkinan 4%-6%
 Kombinasi dari faktor risiko tersebut meningkatkan kemungkinan 10%-
49%
 Tidak dapat dicegah dengan pemberian obat rumat pada KD
Terimakasih