Anda di halaman 1dari 50

•Astie F

•Burhandiah G S
•Eca Mardi S
•Grace T
•Nini S
•Rita Y
•Tatang S
Eksor 2009
Penglihatan
Dimulai dengan terjadinya presbiopi
Penurunan kemampuan untuk melakukan akomodasi
karena otot-otot siliaris menjadi lebih
lemah dan lebih kendur, dan lensa kristalin
mengalami sklerosis dgn kehilangan elastisitas dan
kemampuan untuk memusatkan pada penglihatan
jarak dekat.
konstriksi pupil sfinkter pupil mengalami
sklerosis
perubahan warna serta kekeruhan lensa mata
(katarak)
Mata atau penglihatan
• Kornea, lensa, iris, aquous humorakan mengalami
perubahan seiring bertambahnya usia., karena bagian
yang mengalami perubahan / penurunan sensifitas yang
bisa menyebabkan lensa pada mata, produksi aquous
humor juga mengalami penurunan tetapi tidak terlalu
terpengaruh terhadap keseimbangan dan tekanan intra
okuler lensa umum.
• fungsi kerja pupil akan mengalami penurunan 2/3 dari
pupil orang dewasa atau muda, penurunan tersebut
meliputi ukuran-ukuran pupil dan kemampuan melihat
dari jarak jauh.
• Akomodasi merupakan hasil koordianasi atas ciliary body
dan otot-otot ins, apabial sesorang mengalami penurunan
daya akomodasi maka orang tersebut disebut presbiopi.
perubahan yang terjadi pada penglihatan akibat
proses menua
no Perubahan Penyebab hasil
1. Terjadinya awitan Kerusakan ini terjadi kehilangan
presbiopi dengan karena otot-otot siliaris elastisitas dan
kehilangan kemampuan menjadi lebih lemah dan kemampuan
akomodasi kendur, dan lensa kristalin untuk
mengalami sklerosis memusatkan
penglihatan jarak
dekat. Implikasi
dari hal ini yaitu
kesulitan dalam
membaca huruf-
huruf yang kecil
dan kesukaran
dalam melihat
dengan jarak
pandang dekat
Lanjutan………..
No Perubahan Penyebab Hasil
2. Penurunan karena Implikasi dari hal ini yaitu
ukuran pupil sfingkter pupil penyempitan lapang pandang dan
atau miosis mengalami mempengaruhi penglihatan perifer
pupil sklerosis pada tingkat tertentu

3. Perubahan Perubahan . Implikasi dari hal ini adalah


warna dan warna dan penglihatan menjadi kabur yang
meningkatnya meningkatnya mengakibatkan kesukaran dalam
kekeruhan kekeruhan membaca dan memfokuskan
lensa kristal lensa kristal penglihatan, peningkatan sensitivitas
yang terhadap cahaya, berkurangnya
terakumulasi penglihatan pada malam hari,
dapat gangguan dalam persepsi kedalaman
menimbulkan atau stereopsis (masalah dalam
katarak. penilaian ketinggian), perubahan
dalam persepsi warna
Lanjutan……….
No Perubahan Penyebab Hasil

4. Penurunan Implikasi dari hal ini adalah mata


produksi air mata berpotensi terjadi sindrom mata
kering
5 masalah penglihatan yang
muncul pada lansia :
1. Penurunan kemampuan penglihatan
2. ARMD ( agp- relaed macular degeneration )
3. glaucoma
4. Katarak
5. Entropion dan ekstropion
Telinga atau
pendengaran
• Telinga berfungsi untuk
mendengarkan suara dan alat
keseimbangan tubuh, telinga
dibagi 3 bagian : telinga luar,
telinga tengah dan telinga dalam.
Bagian luar terdiri dari telinga luar
sampai dengan membran tympani,
telinga tengah terdiri dari kavum
tympani (Maleus, innkus, stapes)
antrum tympani, tuba auditiva
eustachi sedang telinga dalam
terdiri dari : labirintus osseous,
labririntus membranous.
Gangguan pendengaran terjadi
pada usia 65 tahun (55%) > 80
tahun mencapai 66% ,
Perubahan yang terjadi pada pendengaran akibat proses menua
No Perubahan Implikasi
1. Pada telinga bagian dalam terdapat penurunan Implikasi dari hal ini adalah kehilangan
fungsi sensorineural, hal ini terjadi karena pendengaran secara bertahap. Ketidak
telinga bagian dalam dan komponen saraf tidak mampuan untuk mendeteksi volume suara
berfungsi dengan baik sehingga terjadi dan ketidakmampuan dalam mendeteksi
perubahan konduksi suara dengan frekuensi tinggi seperti
beberapa konsonan (misal f, s, sk, sh, l)
2. Pada telinga bagian tengah terjadi pengecilan Implikasi dari hal ini adalah gangguan
daya tangkap membran timpani, pengapuran konduksi suara
dari tulang pendengaran, otot dan ligamen
menjadi lemah dan kaku
3. Pada telingan bagian luar, rambut menjadi Implikasi dari hal ini adalah potensial
panjang dan tebal, kulit menjadi lebih tipis dan terbentuk serumen sehingga berdampak
kering, dan peningkatan keratin. pada gangguan konduksi suara
GANGGUAN PENDENGARAN PADA
LANSIA
Gangguan pendengaran merupakan suatu keadaan yang
menyertai lanjut usia, ini diakibatkan
Degenerasi primer di organ corti berupa hilangnya sel
efitel syaraf yang dimulai pada usia pertengahan
Degenerasi primer dari serabut aferen dan eferen sel
sensorik dari kokhlea
Terjadi perubahan pada sel ganglion spiralis di basal
kokhlea dan membran timpani
Pasokan darah dari reseptor neurosensorik mengalami
gangguan
Kelainan Pendengaran
1. Gangguan pendengaran tife konduktif
Gangguan bersifat mekanik, sebagai akibat dari
kerusakan kanalis auditorius, membran tympani atau
tulang-tulang pendengaran
Adanya serumen obturans
2. Gangguan peendengaran sensori-neural
Kerusakan neuron akibat bising, presbiakusis
(ketulian sensori neural) obat yang oto toksik,
hereditas, reaksi pasca radang dan komplikasi
arterosklerosis
3. Presbiakusis
4. Tinitus yaitu bising yang bersifat mendengung, bisa
bernada tinggi atau rendah bisa terus menerus atau
intermiten.
5. Persepsi pendengaran abnormal terjadi pada lansia
presbiakusis
6. Gangguan terhadap lokalisasi suara
Kemampuan membedakan arah suara terutama
dalam lingkungan yang agak bising
7. Ketidakmampuan utk mendeteksi volume suara
8. Ketidakmampuan utk mendeteksi suara dengan
nada frekuensi yang tinggi spt beberapa konsonan
(misalf f, s, sk, sh, dan l)
TANDA DAN GEJALA
1. Berkurangnya pendengaran secara perlahan dan
progresif perlahan pada kedua telinga dantidak disadari
oleh penderita
2. Suara-suara terdengar seperti bergumam, sehingga
mereka sulit untuk mengerti pembicaraan
3. Sulit mendengar pembicaraan di sekitarnya, terutama
jika berada di tempat dengan latar belakang suara yang
ramai
4. Suara berfrekuensi rendah, seperti suara laki-laki, lebih
mudah didengar daripada suaraberfrekuensi tinggi
5. Bila intensitas suara ditingikan akan timbul rasa nyeri di
telinga
6. Telinga terdengar berdenging (tinitus)
Faktor-faktor yang memperberat
gangguan pendengaran
Komplikasi penyakit
Usia
Alat bantu dengar
Digunakan untuk membantu pendeengaran yang
disesuaikan dengan kebutuhan
Apabila kedua telinga mengalami gangguan
sebaiknya memakai 2 alat bantu dengar kiri dan
kanan untuk hasil yg lebih baik..
Masalah fungsional yg terjadi pd lansia,
yaitu :
 Ketidakmampuan utk mendeteksi volume suara
 Ketidakmampuan utk mendeteksi suara dengan nada
frekuensi yang tinggi spt beberapa konsonan (misalf f,
s, sk, sh, dan l)
Perabaan
Lansia lebih tertarik dlm sentuhan dan sensasi taktil
karena…
Pengecap
• Organ pengecap yang paling
berperan adalah pada bagian depan,
tepi dan belakang, rasa manis dan
asin berada pada bagian ujung lidah,
asam dibagian tepi sedang pahit
dipangkal lidah.
• Fungsi pengecap akan berubah
seiring bertambahnya usia.
Kerusakan fungsi pengecap akan
menyebabkan makan kurang
bergairah terkadang seorang lansia
perlu menambah jumlah garam
karena dia merasa bahwa maskannya
kurang asin (padahal sudah asin).
Pengecapan…
Jumlah total kuncup2 perasa pd lidah mengalami
penurunan dan kerusakan yg menurunkan sensitifitas
terhadap rasa.
Faktor lain yg menumpulkan sensasi terhadap rasa,
yaitu :
Merokok, defisiensi vitamin D, penurunan produksi
saliva, gigi palsu, dll
Pembau/penciuman
Sensasi penciuman bekerja akibat stimulasi reseptor
olfaktorius oleh zat kimia yang mudah menguap.
 Perubahan yang terjadi pada penciuman akibat
proses menua yaitu penurunan atau kehilangan
sensasi penciuman kerena penuaan dan usia.
Penyebab lain yang juga dianggap sebagai pendukung
terjadinya kehilangan sensasi penciuman termasuk
pilek, influenza, merokok, obstruksi hidung, dan
faktor lingkungan
Implikasi dari hal ini adalah penurunan sensitivitas
terhadap bau.
STROKE
SEBAGAI SUATU MANISFESTASI KLINIK
GANGGUAN PEREDARAN DARAH OTAK YANG
MENYEBABKAN DEFISIT NEUROLOGIK ( WHO,
1971)
JENIS STROKE
Stroke Non Haemorrhagik->>> trombosis akibat plak
Aterosklerosisdari arteri otah atau yang memberi
vaskularisasi pada otah atau suatu embolus dari
pembuluh luar otak yahng tersangkut diarteri otak.
80 % dari semua stroke
Stroke Haemorrhagik → pecahnya dari suatu mikro-
aneurisma dari Charcot atau etat crible di otak.
Tergantung dari tempat terjadinya, dibedakan antara
perdarahan intra serebral, subdural dan subarachnoid. 20
% dari semua stroke.
Perbedaan stroke hemisfer kiri dan
kanan
Patifisiologi Stroke

Oklusi

Iskemik

Hipoxia cerebral

Metabolisme an aerob

Ggn keseimbangan asam basa

Edema

TIK

Devisit neurologis
Patifisiologi lanjutan
Hipoperfusi TIA

Area Broca Frontal


-Gangguan -Penurunan daya penglihatan , gangguan
komunikasi motorik, ggn fungsi intelektual kortikal
↓ ↓
-Disatria, disfungsi -Kesulitan dalam pemahaman, krang
afasia motivasi, labilitas emosional, krang
↓ kerjasama, penurunan gairah seksual
-Gangguan ↓
komunikasi verbal -Koping individu tidak efektif
-Perubahan proses berfikir
-Penurunan gairah seksual
-Resiko ketidak patuhan terhadap regimen
pengobatan
Parieta Tempora Oksipitali
l l s
Penurunan Gangguan Gangguan
kepekaan pendengaran lapangan
dan dan pandang
sensorik keseimbangan

•Gangguan mobilitas
•Intoleransi aktivitas
•Resiko cedera
GANGGUAN BICARA
Fisiologi Proses Bicara
Di dalam otak terdapat 3 pusat yang mengatur
mekanisme berbahasa.
pusat bahasa reseptif tersebut adalah area 41 dan 42
disebut area wernick, merupakan pusat persepsi
auditoro-leksik yaitu mengurus pengenalan dan
pengertian segala sesuatu yang berkaitan dengan
bahasa lisan (verbal).
Area 39 broadman adalah pusat persepsi visuo-leksik
yang mengurus pengenalan dan pengertian segala
sesuatu yang bersangkutan dengan bahasa tulis.
Sedangkan area Broca adalah pusat bahasa ekspresif
Definisi Dari Dysarthria
Dysharthia atau gangguan bicara terdiri dari masalah-
masalah artikulasi, masalah suara, masalah
kelancaran bicara,(gagap), afasia( kesulitan dalam
menggunakan kata-kata, biasanya akibat cedera otak)
serta keterlambatan dalam bicara
Dysarthria adalah ganguan bicara yang mencakup
artikulasi yang tidak sempurna yang disebabkan oleh
kehilangan control otot setelah cedera system saraf
pusat maupun saraf tepi (kamus dortland)
Biasanya saraf yang mengalami kerusakan adalah : N.
V, N. VII, N. IX, N. X, dan N. XII
Macam – macam Dysarthria
Dyarthria spastic ( akibat kerusakan bilateral pada UMN)
Flaccid ( akibat bilateral atau unilateral kerusakan LMN)
Ataxic ( akibat rusaknya cerebellum )
Unilateral upper motor neuron ( menimbulkan gejala
yang lebih ringan dibandingkan dengan kerusakan UMN
bilateral )
Hyperkinetik dan hypokinetik ( akibat rusaknya bagian
pada basal ganglia, seperti parkinsonism )
Dan dysarthria campuran ( dimana lebih dari satu tipe
dysarthria yang muncul sebagai manifestasi )
etiologi dysarthria
Alcohol intoxication
Dementia
Facial trauma
Head cancer surgery
Head trauma
Multiple sclerosis (MS)
Myasthenia gravis
dysarthria
Neck cancer surgery
Nervous system (neurological)
disorders affecting the brain
Neuromuscular disease
Parkinson's disease
Stroke
Dll…
Gejala Dan Tanda-Tanda Dari
Dysarthria
FAKTOR RESIKO YANG MEMPERBERAT
MASALAH DISATHRIA
Depresi
Rendah diri
Tidak ada latihan bicara
Penyakit penyerta yang makin memperberat
Kurangnya pengetahuan yang merawat lansia
Tidak ada support keluarga
Kasus sensori
Opa T berumur 83 tahun, saat ini merasa sedih,
kesepian dan kesal karena sulit berkomunikasi
dengan orang lain. Tiga tahun yang lalu Opa T
mengalami stroke yang menyebabkan dirinya
mengalami disarthria. Anggota keluarga mengatakan
sulit memahami apa yang dikatakan oleh Opa T,
selain itu pendengaran Opa T juga sudah mulai
berkurang. Bahasa isyarat yang digunakan sangat
terbatas, sehingga kadang kali Opa T tidak bisa
menyampaikan apa yang diinginkannya.
PENGKAJIAN
1. identitas pasien
2. Riwayat penyakit
Riwayat keluarga glaukoma, DM, gangguan sistem vaskuler.
Riwayat stres, alergi, gangguan vasomotor (contoh: peningkatan tekanan vena),
ketidakseimbangan endokrin. Terpajan pada radiasi, steroid/toksisitas fenotiazin
3. Aktiv.itas / Istirahat :
Perubahan aktivitas biasanya / hobi sehubungan dengan gangguan penglihatan.
4. Makanan / Cairan :
Mual, muntah
5. Neurosensori :
Gangguan penglihatan (kabur/tidak jelas), sinar terang menyebabkan silau dengan kehilangan
bertahap penglihatan perifer, kesulitan memfokuskan kerja dengan dekat/merasa di ruang gelap
(katarak). Penglihatan berawan/kabur, tampak lingkaran cahaya/pelangi sekitar sinar,
kehilangan penglihatan perifer, fotofobia(glaukoma akut). Perubahan kacamata/pengobatan
tidak memperbaiki penglihatan.
Tanda :
Pupil menyempit dan merah/mata keras dengan kornea berawan.
Peningkatan penyebab katarak mata.
6. Nyeri / Kenyamanan :
Ketidaknyamanan ringan/mata berair, nyeri tiba-tiba/berat menetap atau tekanan pada dan
sekitar mata, sakit kepala.
PENGKAJIAN: Pengkajian pada lansia yang mengalami gangguan
pada sistem pendengaran meliputi hal-hal sebagai berikut ini:
Pengkajian FISIK sistem sensoris: pendengaran
Meminta untuk mengulang pembicaraan
Jawaban tidak sesuai dengan pertanyaan
Memalingkan kepala terhadap pembicraan
Kesulitan membedakan pembicaraan serta bunyi
suara orang lainyang parau atau bergumam.
Masalah pendengaran pada kumpulan yang besar,
terutama dengan latar belakang yang bisisng,
berdering / berdesis yang konstan.
Masalah pendengaran pada kumpulan yang besar,
terutama dengan latar belakang yang bisisng,
berdering / berdesis yang konstan.
Volume bicara meningkat
Sering merasa sedih, di tolak lingkungan, malu,
menarik diri, bosan, depresi, dan frustasi.
Ketergantungan dalam melakukan aktivitas
pemenuhan kebutuhan sehari-hari (mandi,
berpakaian, ke kamar kecil, makan, BAB/BAK, serta
berpindah) .
• Nyeri pada telinga, akumulasi
serumen
• Perubahan persepsi kata
• Respon yang tidak sesuai dalam
percakapan
• Tinitus atau vertigo
• Anxietas
Pengkajian
2. Perabaan
 Perubahan warna kulit, teksttur, kekeringan.
Bersisik, keratosis, turgor
 Respon terhadap dingin dan panas
 Respon terhadap ketajaman dan ketumpulan
 Kemampuan untuk memegang objek yang
dikenal seperti: koin
Pengkajian
3. Pengecapan
Penurunan terhadap sensitivitas rasa
Kelembaban bibir, warna lidah, lidah kotor, lidah pecah-pecah,
gigi ompong, kondisi gusi : perdarahan dan warna
Penurunan saliva
Mulut bau
4. Penciuman
Iritasi pada mukosa hidung
Tidak mampu mencium aroma yang harum
Bau badan yang mengakibatkan isolasi sosial
PENGKAJIAN

Anamnesa kasus
Klien saat ini merasa sedih, kesepian dan kesal karena
sulit berkomunikasi dengan orang lain.
Tiga tahun lalu klien mengalami stoke yang
menyebabkan dirinya mengalami Disathria.
Anggota keluarganya mengatakan sulit memahami apa
yang dikatakan oleh klien
Pendengaran klien sudah mulai berkurang, bahasa
isyarat yang digunakan sangat terbatas, sehingga
kadang kali klien tidak bisa menyampaikan apa
yang diinginkannya.
DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Perubahan fungsi sensori/persepsi pendengaran
INTERVENSI
 Intervensi Keperawatan pada lansia dengan gangguan sistem pendengaran
adalah sebagai berikut ini :
 Kaji penyebab adanya gangguan pendengaran
 Bersihkan telinga, pertahankan komunikasi
 Berbicara pada telinga yang masih baik dengan suara yang tidak terlalu
keras
 Berbicara secara perlahan-lahan jelas, dan tidak terlalu panjang
 Beri kesempatan klien untuk menjawab pertanyaan
 Gunakan sikap dan gerakan / objek untuk memudahkan persepsi klien
Beri sentuhan untuk menarik perhatian sebelum memulai
pembicaraan
Beri motivasi dan reinforcoment
Kolaborasi untuk menggunakan alat bantu pendengaran
Lakukan pemeriksaan secara berkala
Berbicara dengan nada yang tidak berteriak
Menghadap ke wajah pasien ketika berbicara
Bicara secara perlahan-lahan dan jelas
Gunakan kalimat sederhana
Turunkan intonasi nada suara
Waspadai komunikasi non verbal
Ketika berbicara kerusakan suara (bukan teriak) atau
menyuruh untuk memperhatikan mulut sipembicara.
Ajak klien berkomunikasi dengan santai dengan jarak
yang dekat.
Berbicara yang jelas dan tidak terlalu cepat an saling
bertatap muka.
Hindarkan adanya suara- suara yang mengganggu seperti
suara radio dan TV.
Jika kerusakan komunikasi maka gunakanlah kertas
sebagai komunikasi verbal atau dengan simbol.
Berikan lingkungan yang nyaman bagi klien.
Gunakanlah alat bantu pendengaran apabila diperlukan.
2. Kerusakan komunikasi verbal
Berhubungan dengan kerusakan neuromuskuler
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama
3x24 jam gangguan komunikasi verbal teratasi dg kriteria
hasil: Kebutuhan klien terpenuhi Membuat metode
komunikasi yang sesuai dg kondisi klien
intervensi
 Kaji derajat disfungsi komunikasi
 Menta klien mengikui perintah sederhana
 Beri metode komunikasi alternatif
 Bicara dengan nada normal dan hindari percakapan yang
cepat
 Konsul pada ahli terapi wicara
Penatalaksanaan Dari Dysarthia
Penatalaksanan yaitu dengan mengatasi penyebab utama
dari dysarthria
pengobatan symptomnya disesuaikan dengan gejala yang
muncul
Treatment yang bisa digunakan untuk dysarthia seperti :
1. memelankan kecepatan bicara
2. memperbaiki breath support sehingga seseorang bisa bicara
lebih keras
3. Menguatkan otot-otot bicara
4. Meningkat pergerakan dari mulut, lidah dan bibir
5. Memperjelas atau memperbaiki articulation sehingga
pembicaraan tampak lebih jelas
6. Berlatih bicara dengan keluarga
Sumber data
Mickley Stanly, 2007, Gerontological Nursing: A
health promotion/protection Approach, edition 2, EGC,
Jakarta.
http://www.scribd.com/doc/51205003/ASUHAN-
KEPERAWATAN-GERONTIK-PADA-LANSIA-
DENGAN-GANGGUAN-SISTEM-PENDENGARAN
http://www.righthealth.com/topic/Dysarthria/overvi
ew/adam20?
fdid=Adamv2_007470&section=Full_Article