Anda di halaman 1dari 15

RAWAT LUKA

Yeni Lufiana N.A S.Kep.Ns


Fakultas Ilmu Kesehatan
Universitas Kadiri
Sistem integumen
• Kulit mempunyai 2 lapisan utama yang
terkait dengan penyembuhan luka
– Epidermis, terdiri dari:
• Stratum korneum
• Stratum basalis
– Dermis, tersusun atas :
• Kolagen
• Pembuluh darah
• syaraf
LUKA
• Pengertian
– Rusaknya struktur dan fungsi anatomis
normal akibat proses psikologis yang berasal
dari internal maupun eksternal dan mengenai
organ tertentu
Proses penyembuhan luka
• Penyembuhan luka melibatkan integrasi
proses fisiologis
• Sifat penyembuhan pada semua luka
sama dengan variasinya bergantung pada
lokasi, keparahan dan luasnya cedera
• Kemampuan sel dan jaringan melakukan
regenerasi atau kembali ke struktur normal
melalui pertumbuhan sel juga
mempengaruhi penyembuhan luka
Macam penyembuhan luka
• Penyembuhan primer
– Tepi – tepi kulit merapat atau saling berdekatan saling
berdekatan sehingga mempunyai resiko infeksi yang
rendah
– Penyembuhan terjadi dengan cepat
• Penyembuhan sekunder
– Tepi luka tidak saling berdekatan
– Luka akan tetap terbuka hingga terisi oleh jaringan
parut
– Memerlukan waktu yang relatif lama
Tahap penyembuhan luka primer
• Penyembuhan luka primer terdiri dari beberapa
tahap
• Doughty (1992)
– Inflamasi
– Proliferasi
– Maturasi
• Krasner (1995)
– Reaksi
– Regenerasi
– remodelling
Fase inflamasi (reaksi)
• Reaksi tubuh terhadap luka yg dimulai beberapa
menit dan berlangsung selama sekitar 3 hari
setelah cedera
• homeostasisepitelisasi(± 48 jam) fibrin
(kerangka untuk perbaikan sel)
• Leukosit (terutama neutrofil dan monosit) 
menjadi makrofag  mencapai luka dlm
beberapa jam memakan bakteri dan debris yg
kecil  fibroblast(sel yg mensintesis kolagen)
perbaikan jaringan
Fase proliferasi (regenerasi)
• Terjadi dalam waktu 3 – 24 hari
• Aktifitas utama mengisi luka dg jaringan
granulasi(penyambung) epitelisasi
• Fibroblast adl sel2 yg mensintesis kolagen yg
menutup defek luka, memerlukan vit. B dan C,
oksigen, asam amino
• Luka mulai tertutup jaringan baru
• Daya elastisitas meningkat
• Tingkat tekanan pada luka mempengaruhi
jumlah jaringan parut yg terbentuk
Maturasi (remodelling)
• Tahap akhir penyembuhan luka
• Dapat Memerlukan waktu > 1 tahun
(tergantung pada kedalaman dan luas
luka)
• Elastisitas jaringan baru menurun
• Jaringan parut mengandung sedikit sel-sel
pigmentasi (melanosit)
Penyembuhan sekunder
• Bila luka mengalami banyak kehilangan jaringan
waktu penyembuhan lebih lama
• Luka terbuka yg lebih besar biasanya lebih
banyak mengeluarkan cairan drpada luka
tertutup inflamasi bersifat kronik jaringan
granulasi rapuh
• Bila sel epitel dan jaringan granulasi tdk bisa
menutup defek luka kontraksi pd hr ke 4
(meliputi pergerakan dermis dan epidermis pada
sisi luka) jaringan disekitar luka menipis
Komplikasi penyembuhan luka
• Hemoragi setelah homeostasis
– Internal : pembengkakan disekitar luka (hematoma),
syok hipovolemik
– Eksternal
• Infeksi
• Dehisens
– Terpisahnya kulit secara parsial atau total dlm proses
penyembuhan luka
• Eviserasi
– Keluarnya organ viseral melalui luka yg terbuka)
• Fistula
Faktor-faktor yang mempengaruhi
penyembuhan luka
• Nutrisi
• Penuaan
• Dampak psikososial luka