Anda di halaman 1dari 44

PENGENDALIAN INFEKSI

Oleh :
Dhita Kris P
DEFINISI INFEKSI
• Infeksi adalah invasi tubuh oleh patogen
atau mikroorganisme yang mampu
menyebabkan sakit
• Jika mikroorganisme gagal menyebabkan
cedera yang serius terhadap sel atau
jaringan, infeksi disebut asimptomatik.
RANTAI INFEKSI

• Perkembangan infeksi tergantung dari elemen-


elemen berikut :
1. Agen infeksius atau pertumbuhan patogen
2. Tempat atau sumber pertumbuhan patogen
3. Portal keluar dari tempat tumbuh tersebut
4. Cara penularan
5. Portal masuk ke pejamu
6. Pejamu yang rentan
AGEN INFEKSIUS

• Merupakan agen yang dapat menyebabkan penyakit


dapat meliputi :
1. Agen biologi : organisme hidup yang menginvasi
host (pejamu) seperti bakteri, virus, jamur, protozoa
dan riketsia
2. Agen kimia : Substansi yang berinteraksi dengan
tubuh Ex: pestisida, pewarna makanan, obat-obatan
dan kimia industri
3. Agen fisik : Faktor-faktor dalam lingkungan yang
mampu menyebabkan penyakit seperti : panas, cahaya,
suara, radiasi dan mesin
Con’t

• Kemungkinan bagi organisme atau parasit


menyebabkan penyakit bergantung pada
faktor-faktor berikut:
1. Jumlah organisme
2. Virulensi
3. Kemampuan sistem kekebalan seseorang
4. Lamanyadan seberapa sering kontak
dengan mikroorganisme
RESERVOAR

• Reservoar adalah tempat patogen mampu


bertahan hidup tetapi dapat atau tidak dapat
berkembang biak.
• Ex :
Pseudomonas dapat bertahan hidupdi nebulizer
yang digunakan dalam perawatan klien dengan
gangguan pernafasan
Reservoar yang paling umum adalah tubuh manusia
Binatang,makanan,air,Feses, benda mati dapat juga
sebagai reservoar bagimikroorganisme infeksius
Con’t

• Untuk dapat berkembang biak dengan cepat


organisme memerlukan lingkungan yang sesuai
seperti :
1.Makanan
2.Oksigen
3. Air
4. Suhu
5. Ph
6. Cahaya
PORTAL KELUAR

• Setelah mikroorganisme menemukan tempat


untuk tumbuh dan berkembang biak mereka
harus menemukan jalan keluar,jika mau masuk
ke pejamu lain dan menyebabkan penyakit.
• Mikroorganisme dapat keluar melalui berbagai
tempat seperti : kulit danmembran mukosa,
traktus respiratorius, traktus urinarius, traktus
gastrointestinal, traktus reproduktif dan darah.
Cara Penyebaran

Ada 4 macam penyebaran :


1. Penularan dengan kontak tubuh
 Kontak langsung : transfer fisik dari orang yang
terinfeksi ke pejamu,ex : PMS
 Kontak tidak langsung : kontak dengan benda
yang terkontaminasi, Ex : Hepatitis
2. Penularan melalui udara
Berhubungan dengan droplet nuklei/partikel
debu yang ada diudara, Ex : influensa,
tuberkulosis
Con’t

3. Penularan melalui sarana


Agen ditularkan melalui ke pejamu rentan
melalui benda yang terkontaminasi seperti
air (terkontaminasi feses,ex : tifoid,kolera),
darah (hepatitis B, HIV)
4. Penularan melalui vektor :
Hewan yang menularkan M.O dari reservoir
ke pejamu, Ex : nyamuk, lalat dll
PORTAL MASUK

• Organisme dapat masuk ke dalam tubuh melaui


rute yang sama dengan yang digunakan untuk
keluar.
• Ex : Jarum yang terkontaminasi mengenai kulit
klien,organisme masuk ke dalam tubuh.
Kesalahan pemakaian balutan steril pada luka
terbuka memungkinkan patogen memasuki
jaringan yang tidak terlindung
• Daya tahan tubuh yang turun memperbesar
kesempatan patogen masuk ke dalam tubuh
HOSPES RENTAN

• Seseorang yang beresiko terkena infeksi


• Kerentanan bergantung pada derajat
ketahanan individu terhadap patogen.
PROSES INFEKSI

Proses infeksi berdasarkan tahap:


1. Periode Inkubasi
Interval antara masuknya patogen ke
dalam tubuh dan munculnya gejala
pertama
2. Tahap Prodormal
Interval dari awitan tanda dan gejala non
spesifik (malaise, demam ringan dan
keletihan) sampai gejala yang spesifik.
Con’t

3. Tahap Sakit
Interval saat klien memanifestasikan tanda dan gejala
yang spesifik terhadap jenis infeksi (mis. Mumps
dimanifestasikan dengan sakit telinga,demam
tinggi,pembengkakan kel.parotid dan saliva).
4. Convalescence
Interval saat munculnya gejala akut infeksi (lamanya
penyembuhan bergantung pada beratnya infeksi dan
keadaan umum kesehatan klien;penyembuhan dapat
memakan waktu beberapa hari sampai bulan).
Faktor-faktor yang
mempengaruhi Infeksi
• Infeksi terjadi bergantung pada beberapa faktor.
Salah satu faktor terpenting adalah kerentanan host
1. Usia
2. Keturunan
3. Stres
4. Status nutrisi
5. Prosedur diagnostik
6. Pengobatan
7. Penyakit
PERTAHANAN NORMAL
TUBUH

1. Pertahanan Tubuh Non Spesifik

Membran mukosa dan kulit merupakan barier efektif terhadap


bakteri.
Saluran hidung mempunyai membran mukosa dan rambut silia
sebagai barier
Sistem syaraf pusat dilindungi oleh tengkorak dan tulang belakang
Paru memiliki makrofag alveolar
Saluran gastrointestinal adanya flora normal pada kolon membantu
mencegah timbulnya mikroorganisme penyebab penyakit
Con’t

• Inflamasi merupakan respon pertahanan


non spesifik dan lokal dari jaringan tubuh
terhadap cedera atau infeksi
• Berfungsi untuk menghancurkan agen
penyebab cedera mencegah penyebaran
lebih lanjut dan meningkatkan perbaikan
jaringan yang rusak
Con’t

• Respon inflamasi ada 3 tahap:


1. Respon seluler dan vaskular
2. Pembentukan eksudat inflamasi
3. Perbaikan jaringan
Con’t

2.Pertahanan tubuh Spesifik


Pertahanan ini melibatkan sistem imun yang
berespon terhadap protein asing (bakteria
atau transplantasi jaringan)
Ada 2 komponen :
1. Pertahanan media antibodi (kekebalan
humoral)
2. Pertahanan media sel (kekebalan seluler)
Con’t

1. Imunitas humoral
Stimulasi sel B memicu respon imun humoral
menyebabkan sintesis imunoglobulin/antibodi
yang membunuh antigen(Ig G,A,M,D,E)
2. Imunitas seluler
Sel T berfungsi melawan infeksi
virus,jamur,bakteri dan sel keganasan
(maligna)
INFEKSI NOSOKOMIAL

Adalah infeksi yang didapat di RS atau fasilitas


kesehatan lain yang tidak muncul atau
terinkubasi pada waktu klien masuk. Atau
disebut juga hospital – acquired infection
Infeksi nosokomial merupakan beban tinggi
bagi klien di Rs karena :
1. Menambah penderitaan dan masa rawat
2. Pemborosan waktu,biaya dan sumber daya
Con’t

• Suatu infeksi dikatakan nosokomial jika :


1. Pada saat klien mulai dirawat tidak didapatkan
tanda dan gejala pada penyakit tersebut
2. Tanda-tanda klinis infeksi tersebut baru timbul
sekurang-kurangnya setelah 3 x 24 jam setelah
mendapatkan perawatan
3. Infeksi tersebut bukan merupakan sisa dari
infeksi sebelumnya
4. Adanya bukti infeksi dari Rumah sakit (nilai lab)
MACAM-MACAM INFEKSI
NOSOKOMIAL

1. Bakteremia nosokomial
Terjadi setelah dilakukan prosedur tindakan invasif
di RS, Ex: pemasangan infus, kateter, transfusi dll
Bakteremia yang baru terjadi sesudah klien
dirawat di RS selama 3x24 jam atau lebih khusus
untuk neonatus (1-28 hari)
a. Bila lebih dari 3 hari pada partus pertama
b. Bila lebih dari 5 hari pada partus patologis
c. Bila didapatkan port’de entry yang jelas berupa
data klinis laboratorium mikrobiologi
Con’t

2. Infeksi nosokomial pada luka operasi


Dikatakan infeksi nosokomial apabila pada
waktu preoperasi atau selama pembedahan
bersih atau tidak ada infeksi dan pada
waktu pasca operasi ditemukan infeksi pada
luka operasi 3x24 jam. Ex : abses pada luka
jahitan, bila jahitan dilepas dalam 3x24 jam
tidak sembuh
Con’t

3. Hepatitis virus akut nosokomial


Timbul setelah 2 minggu dirawat inap diRS sampai 6
bulan setelah keluar dari RS. Diketahui melalui
pemeriksaan serologis : HbsAg
4. Infeksi saluran cerna nosokomial
Terjadi selama rawat inap di RS. Pada neonatus : BAB
lebih dari > 4 kali per 24 jam, diare setelah berumur >
2 hari, dalam waktu 3 hari setelah pulang diare
5. Infeksi saluran kemih nosokomial
Tanda-tanda infeksi muncul setelah tindakan invasiif
pada saluran genitourinaria
PROSES KEPERAWATAN

• PENGKAJIAN
Perawat mengkaji mekanisme
pertahanan,kerentanan dan pengetahuan klien
mengenai infeksi.
Tinjauan ulang riwayat penyakit pada klien dan
keluarga dapat mengungkapkan paparan
terhadap penyakit menular.
Analisis terhadap hasil laboratorium memberikan
informasi tentang pertahanan klien melawan
infeksi
TES LABORATORIUM UNTUK
MEMERIKSA INFEKSI
NILAI LAB NILAI NORMAL PETUNJUK
INFEKSI
Jumlah SDP 5000-10.000/mm³ Peningkatan
infeksi akut
Laju endap Lk2 : >15mm/jam Meningkat pada
darah Pr : >20mm/jam proses inflamasi

Kultur Kemungkinan flora Adamikroorganism


luka,sputum normal e infeksius
dan tenggorok
NILAI LAB NILAI NORMAL PETUNJUK
INFEKSI
Kultur Urin dan Normalnya steril Ada mikroorganisme
darah infeksius
DIAGNOSA KEPERAWATAN

1. Resiko infeksi yang b.d gangguan


imunitas,kerusakan jaringan, malnutrisi
2. Resiko cedera yang b.d gangguan imunitas
3. Kerusakan integritas kulit yang b.d
gangguan sirkulasi,paparan terhadap iritan
4. Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan
tubuh b.d kebiasaan diet yang
buruk,gangguan fungsi gastrointestinal
PLANNING

Tujuan umum dari perawatan dapat termasuk :


1. Pencegahan paparan terhadap organisme
infeksius
2. Memantau atau menurunkan penyebaran
infeksi
3. Mempertahankan resistensi terhadap infeksi
4. Klien dan keluarga belajar tentang teknik
kontrol infeksi
IMPLEMENTASI

Pemutusan Rantai Infeksi


1. Kontrol atau eliminasi agens infeksius
2. Kontrol atau eliminasi reservoar
3. Kontrol terhadap portal keluar
4. Pengendalian penularan
5. Kontrol terhadap portal masuk
6. Perlindungan terhadap pejamu rentan
KONTROL AGENS INFEKSIUS

1. Cleanning
adalah membuang semua material asing
seperti kotoran dan materi organik dari
suatu obyek (Rutala).
 Menggunakan air dan kerja mekanis
dengan atau tanpa deterjen
 Jika obyek sekali pakai,maka dibuang
 Jika obyek dapat digunakan kembali bisa
didisinfeksi / disterilisasi.
Con’t

2. Desinfeksi
Proses memusnahkan banyak / semua
mikroorganisme,kecuali spora
bakteri.Dilakukan dengan menggunakan
desinfektan kimia atau pasteurisasi
basah,seperti alkohol,klorin,
glutaraldehid, fenol. Zat-zat ini dapat
membakar dan toksik terhadap jaringan
Con’t
3. Sterilisasi
adalah penghancuran atau pemusnahan
seluruh mikroorganisme,termasuk spora.
Dilakukan dengan penguapan dengan
tekanan, gas
KONTROL RESERVOAR

 Mengontrol atau menghancurkan reservoar infeksi


Adanya pedoman pembuangan materi sampah
infeksius menurut kebijakan
Ex :
Mengganti balutan yang telah basah dan/ kotor
Buang spuit dan jarum dalam wadah yang tidak tembus
tusukan
Pertahankan saluran drainage dan kantung penampung
tetap paten untuk mencegah akumulasi cairan dibawah
permukaan kulit
Con’t
• Ganti linen yang lembab dan kotor
• Buang urin dan feses pada tempat yang
tersedia
• Tutup semua tempat cairan klien seperti
botol dra9nase dan suction
KONTROL PORTAL KELUAR

• Perawat mengikuti praktek pencegahan dan


kontrol untuk mencegah organisme infeksius
meninggalkan tubuh.
Ex : Untuk mengontrol organisme keluar melalui
saluran pernafasan perawat harus
menghindari bersin atau batuk diatas luka
bedah atau area steril.
Perawat harus menggunakan sarung tangan
bila menangani eksudat (urin, feses, darah)
PENGENDALIAN PENULARAN

• Pengendalian efektif terhadap infeksi


mengharuskan perawat untuk tetap waspada
tentang jenis penularan dan cara untuk
mengontrolnya.
• Yang perlu diperhatikan adalah reduksi
transmisi mikroorganisme, yang ditekankan
pada pengendalian atau pengentasan sumber
infeksi dilembaga atau tempat perawatan
kesehatan.
Con’t

• Perawat menggunakan teknik asepsis untuk


menghambat penyebaran mikroorganisme dan
meminimalkan bahaya infeksi.

• Teknik asepsis dibagi 2 jenis yaitu :


1. Medical asepsis (teknik bersih) merupakan prosedur
untuk mengurangi jumlah dan penyebaran patogen
2. Surgical asepsis (tekniksteril) mrp tindakan untuk
menghilangkan dan tetap menjaga benda dan area
bebas dari mikroorganisme
Con’t

• Cuci tangan sebelum kontak dengan klien


setelah memegang benda infeksius dan
sebelum melakukan prosedur invasif atau
memegang luka terbuka
• Minta klien dan keluarga untuk cuci tangan
sebelum makan atau setelah eliminasi dan
setelah memegang benda infeksius.
• Lakukan tindakan kewaspadaan aseptik
untuk klien infeksi
Con’t
• Pakai masker ketika kontak dekat dengan
klien infeksi yang penularannya melalui
droplet
• Gunakan sarung tangan ketika menangani
sekresi dan eksresi infeksius
• Gunakan gown apabila ada kontak yang
mengotori pakaian dll
TEKNIK ISOLASI

Adalah suatu tindakan keperawatan yang


dilakukan dengan cara memisahkan klien,
tujuannya :
1. Mencegah penyebaran kuman patogen
2. Memudahkan perawatan
3. Memberi ketenangan pada klien/ klien lain
4. Menghindari infeksi silang
PERLINDUNGAN HOST
RENTAN

 Mandi secara teratur membersihkan


mikroorganisme
 Higiene oral yang teratur
 Pastikan klien mendapatkan diet yang seimbang
dan asupan cairan yang adekuat
 Pada klien yang tergantung secara fisik/imobilisasi
perawat mendorong batuk dan nafas dalam secara
rutin untuk menjaga jalan nafas bagian bawah
 Memberikan penyuluhan pentingnya imunisasi