Anda di halaman 1dari 33

Disajikan dalam WEBINAR-2 IKAFH Undip :

“TUJUAN, IMPLEMENTASI DAN PROBLEMATIKA


PENERAPAN RESTORATIVE JUSTICE DALAM
PENEGAKAN HUKUM PIDANA DI INDONESIA

Tgl. 20 Pebruari 2021


PENGANTAR-1
• SALUT : mengangkat tema R-J yg sdh sgt populer di dunia
keilmuan, praktek legislasi & yudikasi, bahkan dlm perkembangan
dokumen global (PBB) yaitu berdsr :
– UU Lalu Lintas dan Angkutan Jalan yang baru (UU No. 22/2009,
diundangkan 22 Juni 2009), kemungkinan adanya mediasi terlihat
dalam Pasal 236
– Surat Kapolri No. Pol: B/3022/XII/2009/ SDOPS tgl. 14 Desember 2009
ttg Penanganan Kasus melalui ADR.
– Diversi dlm Peradln Anak (UU 11/2012)
– Mediasi (penal) bid. Hak Cipta (Psl. 95 ayat (4) UU No. 28/2014
– Mediasi penal di bid. Paten (Psl 154 UU No. 13/2016)
– Peraturan kejaksaaan (PERJA) R.I. No. 15/ 2020 ttg Penghentian
Penuntutan Berdasarkan Keadilan Restoratif”.
– Dirjen Bdn Peradilan Umum Mahkamah Agung tgl. 22-12-2020
mengeluarkan SK No. 1691/DJU/SK/PS.00/12/2020 Pedoman
Penerapan Restorative Justice di lingkungan peradilan umum
– Rule 11 Beijing Rules (Standard Minimum Rules for the Administration
of Juvenile Justice – SMR-JJ). – Resolusi Kongres VII PBB No. 40/33
th 1985
– Publikasi PBB No. E.06.V.15 : “Handbook on RJ Programmes”, 2006
• SARAN : Yad mengangkat mslh Keadilan dlm perspektif Nasional
 “PS/Constitutional/DIVINE Justice”
Di dunia keilmuan/pendidikan
Buku BNA M-P cet-1 : 2008

Cetakan ke-4
Edisi ke-1 : 2008 Cover dalam
PENGANTAR-2
 Dalam TOR, ada 2 pokok materi yg diminta kpd saya :
1. Latar belakang, kedudukan dan penerapan Restorative Justice
dalam penegakan hukum pidana
2. Restorative Justice dalam Rancangan KUH Pidana.

 Saya akan focus pd materi ke-2, krn :


a) Materi ke-1  penerapan R-J dlm penegakan hkm menjadi
materi pembicara lain (dari profesi PH) : Dr. Dharma (hakim),
Dr. Asep (Jaksa) & Brigjen Setiyadi (AKPOL)
b) Apalagi sy bukan “penegak hk” (in concreto).

 Kalau tema (TUJUAN, IMPLEMENTASI DAN PROBLEMATIKA


PENERAPAN RESTORATIVE JUSTICE DALAM PENEGAKAN
HUKUM PIDANA DI INDONESIA) diartikan sempit  topik utk
saya (RJ dlm RKUHP) tidak sinkron/kurang pas.
 Topik utk saya itu akan sinkron dg tema Webinar, kalau PH
diartikan secara luas (in abstracto), yaitu termasuk juga “penal
reform”.
INTI TEMA WEBINAR JUDUL BNA

SINKRON?

In concreto In abstracto

Law Making
Law enforcement
(Law Reform)
PENGERTIAN K-R
• Keadilan Restoratif adalah :
– penyelesaian perkara tindak pidana dengan melibatkan
pelaku, korban, keluarga pelaku/ korban, dan pihak lain yang
terkait
– untuk bersama-sama mencari penyelesaian yang adil
– dengan menekankan pemulihan kembali pada keadaan
semula, dan bukan pembalasan.

• Pengertian K-R spt itu terdpt dalam :


1. Pasal 1 UU No. 11/2012 tentang SPP Anak
2. Psl. 1 PERJA NO. 15/2020 Penghentian Penuntutan
Berdasarkan Keadilan Restoratif.
3. Pedoman MA SK Dirjen Bdn Peradilan Umum No.
1691/DJU/SK/PS.00/12/2020 ttg Pedoman Penerapan
Restorative Justice di lingkungan peradilan umum
• RJ tumbuh sehubungan dgn adanya perubahan sudut pandang
(perubahan lensa). Tidak hanya karena adanya perubahan
reaksi sosial terhadap kejahatan dan terhadap peradilan pidana,
tetapi terutama krn perubahan konsep kejahatan itu sendiri.
A crime is not seen so much in terms of violating abstract rules of
law but rather as a violation of persons and concrete relations.

• Bertolak dari pandangan demikian, maka reaksi mendasar


ditujukan pada perbaikan kerugian: kerugian korban, kerugian
lingkungan, dan kerugian masyarakat luas.

• ‘Restorative justice' merupakan cara/jalan ke-3 ('third way/path‘)


yang dipilih untuk menggantikan (neo) retributive criminal law
dan the rehabilitation model.

• John Braithwaite, mengembangkan dan memodifikasi 'restorative


justice' yang memberi tempat juga bagi pencelaan masyarakat
dan partisipasi luas dari masyarakat.
Tujuan Pemidanaan

Pedoman Pemidanaan
RAMBU-RAMBU
IDE
RESTORATIVE JUSTICE
DALAM
RUU KUHP Jenis Pidana

Gugurnya Penuntutan
RUU KUHP 2012
Tujuan Pemidanaan
Pasal 54
(1) Pemidanaan bertujuan:
a. mencegah dilakukannya tindak pidana dengan
menegakkan norma hukum demi pengayoman
masyarakat;
b. memasyarakatkan terpidana dengan mengadakan
pembinaan sehingga menjadi orang yang baik dan
berguna;
c. menyelesaikan konflik yang ditimbulkan oleh tindak
pidana, memulihkan keseimbangan, dan mendatangkan
rasa damai dalam masyarakat; dan
d. membebaskan rasa bersalah pada terpidana.
(2) Pemidanaan tidak dimaksudkan untuk menderitakan
dan merendah­kan martabat manusia.
Pedoman Pemidanaan
Pasal 55 / 2012
(1) Dalam pemidanaan wajib dipertimbangkan:
a. kesalahan pembuat tindak pidana;
b. motif dan tujuan melakukan tindak pidana;
c. sikap batin pembuat tindak pidana;
d. tindak pidana yang dilakukan apakah direncanakan atau tidak direncanakan;
e. cara melakukan tindak pidana;
f. sikap dan tindakan pembuat sesudah melakukan tindak pidana;
g. riwayat hidup, keadaan sosial, dan keadaan ekonomi pembuat tindak pidana;
h. pengaruh pidana terhadap masa depan pembuat tindak pidana;
i. pengaruh tindak pidana terhadap korban atau keluarga korban;
j. pemaafan dari korban dan/atau keluarganya; dan/atau
k. pandangan masyarakat terhadap tindak pidana yang dilakukan.

(2) Ringannya perbuatan, keadaan pribadi pembuat, atau keadaan pada waktu
dilakukan perbuatan atau yang terjadi kemudian, dapat dijadikan dasar
pertimbangan untuk tidak menjatuhkan pidana atau mengenakan tindakan
dengan mempertimbangkan segi keadilan dan kemanusiaan.
JENIS PIDANA - 2012
Pidana Pokok (Ps. 65) Pidana Tambahan (Ps. 67)
1. pidana penjara; a. pencabutan hak tertentu;
2. pidana tutupan; b. perampasan barang
3. pidana pengawasan; tertentu dan/atau tagihan;
4. pidana denda; dan c. pengumuman putusan
5. pidana kerja sosial hakim;
d. pembayaran ganti
kerugian; dan
Pasal 66 e. pemenuhan kewajiban
• Pidana mati merupakan adat setempat atau
pidana pokok yang kewajiban menurut
bersifat khusus dan hukum yang hidup dalam
selalu diancamkan masyarakat.
secara alternatif.
JENIS TINDAKAN - 2012
Pasal 101
(1) Setiap orang yang memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 40 dan Pasal 41, dapat dikenakan tindakan berupa:
a. perawatan di rumah sakit jiwa;
b. penyerahan kepada pemerintah; atau
c. penyerahan kepada seseorang.

(2) Tindakan yang dapat dikenakan bersama‑sama dengan pidana


pokok berupa:
a. pencabutan surat izin mengemudi;
b. perampasan keuntungan yang diperoleh dari tindak pidana;
c. perbaikan akibat tindak pidana;
d. latihan kerja;
e. rehabilitasi; dan/atau
f. perawatan di lembaga.
Tujuan Pemidanaan
Pasal 58/2015

(1) Pemidanaan bertujuan:


a. mencegah dilakukannya Tindak Pidana dengan menegakkan
norma hukum demi pelindungan dan pengayoman masyarakat;
b. memasyarakatkan terpidana dengan mengadakan pembinaan dan
pembimbingan agar menjadi orang yang baik dan berguna;
c. menyelesaikan konflik yang ditimbulkan akibat Tindak Pidana,
memulihkan keseimbangan, serta mendatangkan rasa aman dan
damai dalam masyarakat; dan
d. menumbuhkan rasa penyesalan dan membebaskan rasa bersalah
pada terpidana.
(2) Pemidanaan tidak dimaksudkan untuk menderitakan manusia dan
merendahkan martabat manusia.
Pedoman Pemidanaan
Psl. 60 RKUHP 2015
(1) Dalam pemidanaan wajib dipertimbangkan:
a. kesalahan pembuat Tindak Pidana;
b. motif dan tujuan melakukan Tindak Pidana;
c. sikap batin pembuat Tindak Pidana;
d. Tindak Pidana dilakukan dengan direncanakan atau tidak
direncanakan;
e. cara melakukan Tindak Pidana;
f. sikap dan tindakan pembuat sesudah melakukan Tindak Pidana;
g. riwayat hidup, keadaan sosial, dan keadaan ekonomi pembuat
Tindak Pidana;
h. pengaruh pidana terhadap masa depan pembuat Tindak Pidana;
i. pengaruh Tindak Pidana terhadap korban atau keluarga korban;
j. pemaafan dari korban dan/atau keluarganya; dan/atau
k. nilai hukum dan keadilan yang hidup dalam masyarakat
JENIS PIDANA - 2015
• Pidana Pokok (Psl. 66) Pidana Tambahan (Ps. 68)
1. pidana penjara; a. pencabutan hak tertentu;
2. pidana tutupan; b. perampasan barang
3. pidana pengawasan; tertentu dan/atau tagihan;
4. pidana denda; dan c. pengumuman putusan
5. pidana kerja sosial hakim;
d. pembayaran ganti
kerugian; dan
Pasal 67 e. pemenuhan kewajiban
• Pidana mati merupakan adat setempat atau
pidana pokok yang kewajiban menurut
bersifat khusus dan hukum yang hidup dalam
selalu diancamkan masyarakat.
secara alternatif.
Pasal 51 -RKUHP 2019
Pemidanaan bertujuan:
• mencegah dilakukannya Tindak Pidana dengan
menegakkan norma hukum demi pelindungan dan
pengayoman masyarakat;
• memasyarakatkan terpidana dengan mengadakan
pembinaan dan pembimbingan agar menjadi orang
yang baik dan berguna;
• menyelesaikan konflik yang ditimbulkan akibat Tindak
Pidana, memulihkan keseimbangan, serta
mendatangkan rasa aman dan damai dalam
masyarakat; dan
• menumbuhkan rasa penyesalan dan membebaskan
rasa bersalah pada terpidana.
• Tujuan sub c : • Sesuai dg ciri/priinsip
menyelesaikan konflik kerja Mediasi :
yang ditimbulkan akibat – Conflict handling;
Tindak Pidana, memu- – Proces orientation –
lihkan keseimbangan, menyadarkan kesalahan
serta mendatangkan – Proces informal (Informal
rasa aman dan damai Proceeding) : tidak
bersifat birokratis,
dalam masyarakat menghindari prosedur
• Sub d : menumbuhkan hukum yang ketat.
rasa penyesalan dan – Ada partisipasi aktif dan
membebaskan rasa otonom para pihak
bersalah pada terpidana. (Active and Autonomous
Participation)
Psl 51 RKUHP 2019 = Psl 55
RKUHP 2015
Psl 55 RKUHP 2015
(1) Pemidanaan bertujuan:
a. mencegah dilakukannya tindak pidana dengan
menegakkan norma hukum demi pengayoman
masyarakat;
b. memasyarakatkan terpidana dengan mengadakan
pembinaan sehingga menjadi orang yang baik dan
berguna;
c. menyelesaikan konflik yang ditimbulkan oleh tindak
pidana, memulihkan keseimbangan, dan mendatangkan
rasa damai dalam masyarakat; dan
d. membebaskan rasa bersalah pada terpidana.
(2) Pemidanaan tidak dimaksudkan untuk menderitakan
dan merendahkan martabat manusia.
Pedoman Pemidanaan
Pasal 53
(1) Dalam mengadili suatu perkara pidana, hakim
wajib menegakkan hukum dan keadilan.
(2) Jika dalam menegakkan hukum dan keadilan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdapat
pertentangan antara kepastian hukum dan
keadilan, hakim wajib mengutamakan keadilan.
Pasal 54
(1) Dalam pemidanaan wajib dipertimbangkan:
a. bentuk kesalahan pelaku Tindak Pidana;
b. motif dan tujuan melakukan Tindak Pidana;
c. sikap batin pelaku Tindak Pidana;
d. Tindak Pidana dilakukan dengan direncanakan atau tidak
direncanakan;
e. cara melakukan Tindak Pidana;
f. sikap dan tindakan pelaku sesudah melakukan Tindak Pidana;
g. riwayat hidup, keadaan sosial, dan keadaan ekonomi pelaku Tindak
Pidana;
h. pengaruh pidana terhadap masa depan pelaku Tindak Pidana;
i. pengaruh Tindak Pidana terhadap Korban atau keluarga Korban;
j. pemaafan dari Korban dan/atau keluarganya; dan/atau
k. nilai hukum dan keadilan yang hidup dalam masyarakat.

(2) Ringannya perbuatan, keadaan pribadi pelaku, atau keadaan pada


waktu dilakukan Tindak Pidana serta yang terjadi kemudian dapat
dijadikan dasar pertimbangan untuk tidak menjatuhkan pidana atau
tidak mengenakan tindakan dengan mempertimbangkan segi keadilan
dan kemanusiaan.

(mengandung asas Permaafan hakim)


2012 2015 2019
Pasal 54 Pasal 58 (Psl. 51)

(1) Pemidanaan bertujuan: (1) Pemidanaan bertujuan: Pemidanaan bertujuan:


a. mencegah dilakukannya tindak a. mencegah dilakukannya Tindak a. mencegah dilakukannya Tindak
pidana dengan menegakkan Pidana dengan menegakkan Pidana dengan menegakkan
norma hukum demi norma hukum demi pelindungan norma hukum demi pelindungan
pengayoman masyarakat; dan pengayoman masyarakat; dan pengayoman masyarakat;
b. memasyarakatkan terpidana b. memasyarakatkan terpidana b. memasyarakatkan terpidana
dengan mengadakan dengan mengadakan dengan mengadakan
pembinaan sehingga menjadi pembinaan dan pembimbingan pembinaan dan pembimbingan
orang yang baik dan berguna; agar menjadi orang yang baik agar menjadi orang yang baik
c. menyelesaikan konflik yang dan berguna; dan berguna;
ditimbulkan oleh tindak pidana, c. menyelesaikan konflik yang c. menyelesaikan konflik yang
memulihkan keseimbangan, dan ditimbulkan akibat Tindak ditimbulkan akibat Tindak
mendatangkan rasa damai Pidana, memulihkan Pidana, memulihkan
dalam masyarakat; dan keseimbangan, serta keseimbangan, serta
d. membebaskan rasa bersalah mendatangkan rasa aman dan mendatangkan rasa aman dan
pada terpidana. damai dalam masyarakat; dan damai dalam masyarakat; dan
d. menumbuhkan rasa penyesalan d. menumbuhkan rasa penyesalan
(2) Pemidanaan tidak dimaksudkan dan membebaskan rasa dan membebaskan rasa
bersalah pada terpidana. bersalah pada terpidana.
untuk menderitakan dan
merendah­kan martabat
manusia. (2) Pemidanaan tidak dimaksudkan
untuk menderitakan manusia Masuk Psl 52
dan merendahkan martabat
manusia.
JENIS PIDANA - 2019
Pasal 64
Pidana terdiri atas:
a. pidana pokok;
b. pidana tambahan; dan
c. pidana yang bersifat khusus untuk Tindak
Pidana tertentu yang ditentukan dalam
Undang-Undang.
JENIS PIDANA - 2019
• Pidana Pokok (Psl 65) Pidana Tambahan (Psl. 66)
1. pidana penjara; a. pencabutan hak tertentu;
2. pidana tutupan; b. perampasan barang tertentu
3. pidana pengawasan; dan/atau tagihan;
4. pidana denda; dan c. pengumuman putusan hakim;
5. pidana kerja sosial d. pembayaran ganti kerugian;
dan
e. pemenuhan kewajiban adat
Pasal 67
setempat
• Pidana yang bersifat khusus
sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 64 huruf c
merupakan pidana mati yang
selalu diancamkan secara
alternatif
Pasal 66
(1) Pidana tambahan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 64 huruf b terdiri atas:
a. pencabutan hak tertentu;
b. perampasan Barang tertentu dan/atau tagihan;
c. pengumuman putusan hakim;
d. pembayaran ganti rugi;
e. pencabutan izin tertentu; dan
f. pemenuhan kewajiban adat setempat.
PEDOMAN TIDAK
MENJATUHKAN PENJARA
• Pasal 70
(1) Dengan tetap mempertimbangkan ketentuan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 52 dan Pasal 54, pidana penjara
sedapat mungkin tidak dijatuhkan jika ditemukan keadaan:
a. terdakwa adalah Anak;
b. terdakwa berusia di atas 75 (tujuh puluh) tahun;
c. terdakwa baru pertama kali melakukan Tindak Pidana;
d. kerugian dan penderitaan Korban tidak terlalu besar;
e. terdakwa telah membayar ganti rugi kepada Korban;
f. terdakwa tidak menyadari bahwa Tindak Pidana yang
dilakukan akan menimbulkan kerugian yang besar;
g. tindak pidana terjadi karena hasutan yang sangat kuat dari
orang lain;
Lanjutan Psl. 70
h. Korban tindak pidana mendorong atau menggerakkan
terjadinya Tindak Pidana tersebut;
i. tindak pidana tersebut merupakan akibat dari suatu keadaan
yang tidak mungkin terulang lagi;
j. kepribadian dan perilaku terdakwa meyakinkan bahwa ia
tidak akan melakukan Tindak Pidana yang lain;
k. pidana penjara akan menimbulkan penderitaan yang besar
bagi terdakwa atau keluarganya;
l. pembinaan di luar lembaga pemasyarakatan diperkirakan
akan berhasil untuk diri terdakwa;
m. penjatuhan pidana yang lebih ringan tidak akan mengurangi
sifat berat Tindak Pidana yang dilakukan terdakwa;
n. Tindak Pidana terjadi di kalangan keluarga; dan/atau
o. Tindak Pidana terjadi karena kealpaan.
GUGURNYA PENUNTUTAN
Pasal 152 / 2015 Pasal 132 / 2019
Kewenangan penuntutan gugur, jika: (1) Kewenangan penuntutan dinyatakan gugur jika:
a. telah ada putusan yang memperoleh a. telah ada putusan pengadilan yang memperoleh
kekuatan hukum tetap; kekuatan hukum tetap terhadap seseorang
b. terdakwa meninggal dunia; atas perkara yang sama;
c. daluwarsa; b. tersangka atau terdakwa meninggal dunia;
d. telah ada penyelesaian di luar proses ; c. kedaluwarsa;
e. maksimum pidana denda dibayar dengan d. maksimum pidana denda dibayar dengan
sukarela bagi tindak pidana yang dilakukan sukarela bagi Tindak Pidana yang hanya
hanya diancam dengan pidana denda diancam dengan pidana denda paling banyak
paling banyak kategori II; kategori III;
f. maksimum pidana denda dibayar dengan e. maksimum pidana denda kategori IV dibayar
sukarela bagi tindak pidana yang diancam dengan sukarela bagi Tindak Pidana yang
dengan pidana penjara paling lama 1 diancam dengan pidana penjara paling lama 1
(satu) tahun atau pidana denda paling (satu) tahun;
banyak kategori III; f. ditariknya pengaduan bagi Tindak Pidana aduan;
g. Presiden memberi amnesti atau abolisi; atau
h. penuntutan dihentikan karena penuntutan g. diatur dalam Undang-Undang.
diserahkan kepada negara lain
berdasarkan perjanjian;
i. tidak adanya pengaduan atau
pengaduannya ditarik kembali untuk tindak
pidana pengaduan; atau
j. ada pengenaan asas oportunitas oleh
Jaksa Agung. NB : hapusnya sub d (RKUHP 2015)  tdk
sesuai dg Tujuan dlm Psl 51/2019 & dlm
NB : sub d  ADR/Mediasi sesuai dg tujuan berbagai Hk Positif & praktek PH saat ini.
“conflik opplossing” & “vrede making”